Anda di halaman 1dari 14

“KETERAMPILAN KOMUNIKASI

DASAR”
MATA KULIAH
Komunikasi Dalam Keperawatan Gigi

Dosen Pengampuh :
NOVARITA KOCH,SST, M. Kes
NIP. 19751130 199803 2001

POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES MANADO
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan
tugas makalah yang berjudul MAKALAH KETERAMPILAN
KOMUNIKASI DASAR.

Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak


kekurangan, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna penyempurnaan makalah ini.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, kurang dan lebihnya saya


mohon maaf.Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................
1.1 LATAR BELAKANG...........................................................................
1.2 RUMUSAN MASALAH......................................................................
1.3 TUJUAN...............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................
2.1 Ketrampilan Dasar Terapeutik..............................................................
2.2 ketrampilan Lanjut Komunikasi Terapeutik..........................................
2.3 Teori Hubungan Antar Manusia............................................................
BAB III PENUTUP.................................................................................................
3.1 KESIMPULAN.....................................................................................
3.2 SARAN.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi terapeutik adalah Komunikasi yang direncanakan
secara sadar, mempunyai tujuan serta kegiatannya dipusatkan untuk
kesembuhan Pasien.Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan
komunikasi interpersonal dan bersifat profesional dengan titik tolak
memberi pengertian Perawat dan Pasien.Persoalan yang mendasar dari
komunikasi terapeutik adalah adanya saling membutuhkan antara Perawat
& Pasien (Perawat membantu Pasien menerima bantuan).
Dasar – dasar komunikasi terapeutik dapat dibagi menjadi dua
bagian, yaitu keterampilan komunikasi dasar dan keterampilan komunikasi
lanjut. Keterampilan komunikasi dasar adalah pembukaan diri dan
mengekspresikan diri, keterampilan mendengar, keterampilan bertanya,
dan keterampilan memahami bahasa non – verbal, keterampilan memulai
percakapan. Keterampilan komunikasi lanjut adalah keterampilan
melakukan anamnesa dan keterampilan melakukan konseling.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui keterampilan komunikasi
2. Untuk mengetahui keterampilan pembukaan diri
3. Untuk Mengetahui pengekspresikan diri

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan keterampilan komunikasi?
2. Apa yang dimaksud dengan keterampilan pembukaan diri?
3. Bagaimana bentuk dari keterampilan komunikasi, keterampilan
pembukaan diri dan mengekspresikan diri?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KETRAMPILAN DASAR KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Tenaga kesehatan gigi diharapkan mampu memahami peran tenaga


kesehatan gigi dalam komunikasi terapeutik, teknik komunikasi
terapeutik, ketrampilan dasar komunikasi terapeutik dan ketrampilan
lanjut komunikasi terapeutik.
Dasar –dasar komunikasi terapeutik dibagi dua yaitu:
Ketrampilan dasar dalam komunikasi terapeutik yang terdiri dari :
pembukaan diri dan mengekspresikan diri, ketrampilan mendengarkan,
ketrampilan bertanya dan ketrampilan memahami bahasa non verbal dan
memulai percakapan.Ketrampilan lanjut dalam komunikasi terapeutik
yaitu ketrampian anamnesa dan melakukan konseling.

1. Ketrampilan Pembukaan Diri Dan Mengekspresikan Diri

Pembukaan diri berarti adalah mengenali diri sendiri dan


mencoba untuk terbuka dengan orang lain. Beberapa hal yang dapat
dipertimbangkan dalam pembukaan diri adalah adanya informasi,
pikiran, perasaan dan kebutuhan baik masa lalu maupun masa depan,
serta komunikasi di sini dan saat ini. Berikut ini adalah contoh suatu
percakapan yang membandingkan antara yang tidak membuka diri dan
yang membuka diri.
Pemberi layanan kesehatan :saya merasa gembira sekali melihat
kedatangan Ibu disini, sehingga
sayadapat melihat kemajuan kesehatan
Ibu.Bagaimana Bu, ada yang bisa
sayabantu untuk mengusahakan
agartambalan pada gigi Ibu dapat
bertahan lama ?
(lebih membuka diri)
Dengan membuka diri, anda akan mempunyai beberapa keuntungan :
A. Menambah pengetahuan diri atau terhadap diri sendiri
B. Mendekatkan hubungan dengan orang lain
C. Meningkatkan komunikasi
D. Mengurangi perasaan bersalah
E. Menambah energi
2. Keterampilan Mendengarkan
Mendengarkan adalah sesuatu yang sebetulnya sudah dapat dilakukan
sejak manusia dilahirkan di dunia.Hanya saja mendengarkan dengan baik
adalah sesuatu yang sulit-sulit gampang, karena pada kenyataannya banyak
yang merasa belum didengarkan. Menurut Korsch & Hording (1997), keluhan
dokter adalah "pasien saya bertele-tele....ngelantur....", sedangkan keluhan
pasien adalah " wah, dokter tidak mendengarkan saya".
3. Ketrampilan Bertanya
Keterampilan bertanya dalam komunikasi terapeutik adalah mutlak
diperlukan.Agar mendapatkan informasi yang akurat, Andaharus belajar
bertanya secara benar dan efektif, sehingga betul- betul mendapatkan data
yang diperlukan.Pada dasarnya pertanyaan dibedakan atas pertanyaan
tertutup dan pertanyaan terbuka.Selain itu ada pertanyaan yangbersifat
mengeksplorasi dan yang tidak. Bila jawaban yang diinginkan adalah
memahami orang lain serta lebih pada mengapa orang tersebut berpikir
daripada sekedar hobi yang dipikirkan, maka sebaiknya digunakan pertanyaan
terbuka dan bersifat eksploratif. Teknik bertanya ini perlu dipelajari karena
pada kenyataannya mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam dan detail
diperlukan bila kita mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan. Kapan
seseorang memerlukan pertanyaan yang mendalam? Dalam tulisan ini akan
dibahas kriteria untuk mengevaluasi suatu jawaban. Dengan kriteria tersebut
kita dapat memperkirakan informasi yang diberikan tepat atau tidak.
1. Pertanyaan Terbuka dan tertutup
Contoh pertanyaan terbuka :
a. Mengapa Anda mengikuti praktek komunikasi terapeutik ?
b. Apa yang Anda pikirkan mengenai hal tersebut ?
c. Bagaimana pendapat Anda tentang adanya customer service di rumah
sakit ?
Pertanyaan terbuka akan mengundang orang lain untuk mengatakan
dan menyatakan pandangan atau perasaannya. Pertanyaan terbuka akan
memberikan waktu dan kesempatan pada orang lain untuk mengatakan
segala aspek yang relevan.

2. Pertanyaan tertutup
Kebalikan dari pertanyaan terbuka.Pilihan jawabannya terbatas dan
jawabannya biasanya singkat.
Contoh pertanyaan tertutup :
A. Anda mengikuti praktek komunikasi terapeutik ?
B. Anda setuju mengenai hal tersebut ?
C. Anda puas dengan pelayanan customer service di rumah sakit ?
3. Pertanyaan eksplorasi
Yang dimaksud dengan pertanyaan eksplorasi adalah
pertanyaan yang mendalam, sehingga jawaban yang diberikan akan lebih
mendalam. Contoh pertanyaan eksplorasi :
A. Bagaimana pendapat Anda tentang praktek komunikasi terapeutik ?
B. Bagaimana pandangan Anda tentang adanya customer service di rumah
sakit ?
4. Keterampilan Memahami Bahasa Non Verbal
Pemahaman terhadap bahasa non-verbal dalam komunikasi terapeutik akan
mendukung lancarnya komunikasi: Hampir tidak ada manusia di dunia yang
berkomunikasi tanpa menggunakan dukungan bahasa non-verbal. Bila bahasa
menjadikan hambatan, maka komunikasi dengan bahasa non-verbal justru
menjembatani adanya hambatan bahasa tersebut.
5. Keterampilan Memulai Percakapan
Di dalam komunikasi, percakapan adalah inti utama karena pada dasarnya
komunikasi adalah suatu proses yang berkesinambungan antara dua orang lebih,
saling tukar informasi dan beraksi satu sama lain secara kontinyu. Dua orang atau
lebih ini masing-masing bertindak sebagai pengirim (pemberi informasi dan penerima
(yang menerima informasi), sedangkan informasi yang dikirimkan
disebutpesan(Meer&Neijenhof,1994).
2.2 KETRAMPILAN LANJUT KOMUNIKASI TERAPEUTIK
1.Keterampilan Anamnesis

Anamnesis adalah wawancara yang dilakukan terhadap seseorang yang


bertujuan untuk mengumpulkan data dari orang tersebut.Anamnesis biasanya
dilakukan dalam bidang kesehatan dan psikologi.Anamnesis dapat dilakukan oleh
seorang dokter kepada pasiennya, perawat kepada pasiennya atau petugas kesehatan
lainnya kepada pasien atau kliennya, ataupun psikolog terhadap kliennya.Anamnesis
dapat dilakukan pada orang yang bersangkutan (auto anamnesis) ataupun kepada
keluarga/teman dekat/orang yang mengetahui keadaan orang / pasien tersebut (alo
anamnesis / heteroanamnesis).Seperti pada wawancara terdahulu, sambung rasa dan
pendekatan perlu dilakukan pada saat melakukan anamnesis, oleh karena anamnesis
bertujuan mengumpulkan data. Tanpa pendekatan dan sambung rasa yang baik, data
yang dikumpulkan tidak akanlengkap dan akurat, karena tidak
semua pasien/klien dapat mengungkapkan segala penderitaan / sakitnya dengan
lengkap. Merekaperlu diberi kepercayaan, rasaaman,sehingga dapat
memberikan keterangan dengan leluasa,hingga dapat memberikan keterangan
dengan leluasa. Kadang-kadang pasien juga lupa atau malu memberikan
keterangan, sehingga kemampuan untuk menggali keterangan dari pasien
memang diperlukan oleh seorang medis (dokter/perawat).
2. Keterampilan Konseling Kesehatan Gigi Dan Mulut
Konseling adalah salah satu keterampilan komunikasi tingkat
lanjut.Keterampilan ini juga perlu dipelajari oleh para calon tenaga
kesehatan.Tidak hanya dokter, tetapi juga perawat. Konseling adalah
komunikasi tatap muka, seseorang membantu orang lain mengambil keputusan
didasarkan pertimbangan dari beberapa alternatif. Perbedaan dengan
wawancara adalah, bahwa wawancara adalah percakapan antara dua orang atau
lebih digunakan sebagai awal dari proses konseling.
2.3 TEORI HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
Tenaga kesehatan harus bersifat terbuka dalam memberikan
informasi tentang dirinya, ideal diri, perasaan sikap dan nilai yang dianutnya.
Tenaga kesehatan membuka diri tentang pengalaman ini memberi keutungan
pada pasien/klien untuk mendukung kerja sama dan memberi sokongan.
Perawat perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya dan
mengontrolnya agar ia dapat menggunakan dirinya secara terapeutik ( stuart
dan sundeen, 1987 ). Jika perawat terbuka pada perasaannya maka ia
mendapatkan dua informasi penting yaitu bagaimana responnya pada pasien
dan bagaimana penampilannya pada pasien sewaktu berbicara dengan pasien
perawat harus menyadari responnya dan mengontrol penampilannya.
Adapun analisa diri menurut Johari Window meliputi :
A. Kesadaran diri yang dimaksud disini adalah perawat perlu menjawab
pertanyaan “ siapa saya “. Perawat harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan
perilakunya secara pribadi maupun sebagai pemberi perawatan. Kesadaran diri
akan membuat perawat menerima perbedaan dankeunikan pasien. Johari
Window (Stuart dan Sundeen, 1987) menggambarkan perilaku, pikiran,
perasaan seseorang.Kesadaran diri dapat ditingkatkan melalui tiga cara, yaitu :
1).Mempelajari diri sendiriProses eksplorasi diri sendiri tentang pikiran,
perasaan, perilaku, pengalaman yang menyenangkan, hubungan interpersonal
dan kebutuhan pribadi:2). Belajar dari orang lainKesediaan dan keterbukaan
menerima umpan balik dari orang lain.Aspek yang negatif memberi kesadaran
bagi individu
untuk memperbaiknya sehingga individu akan selalu berkembang setiap menerima
umpan balik.3).Membuka diriKeterbukaan merupakan salah satu kriteria
kepribadian sehat. Untuk ini harus ada teman intim yang dapat dipercaya tempat
menceritakan hal yang merupakan rahasia.Proses peningkatan kesadaran diri
sering menyakitkan dan tidak mudah, khususnya jika ditelukan konflik dengan
ideal diri. Tetapi hal ini merupakan tantangan untuk berubah dan tumbuh.
A. Klarifikasi nilai walaupun hubungan perawat dan pasien merupakan hubungan
timbal balik, tetapi kebutuhan pasien selalu diutamakan.Jika perawat mempunyai
konflik, ketidakpuasan, sebaiknya perawat menyadari dan mengklarifikasi agar
tidak mempengaruhi keberhasilan hubungan perawat dan pasien.
B. Eksplorasi perasaan perawat harus terbuka perasaannya.Sewaktu berbicara
dengan pasien, perawat harus menyadari responnya dan mengontrol
penampilannya.
C. Kemampuan menjadi model perawat dapat memenuhi dan memuaskan
kehidupan pribadi serta tidak didominasi oleh konflik, stres. Perawat diharapkan
bertanggungjawab atas perilakunya, sadar akan kelemahan dan kekurangannya.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa komunikasi tidak sekedar


media penyampaian pesan belaka (yang mungkin menguntungkan salah satu pihak
saja) melainkan lebih kepada jalinan antar personal (pribadi) antar pihak-pihak
yang terlibat di dalamnya.
Oleh sebab itu, agar komunikasi berjalan dengan baik dan lancar serta
memberi manfaat baik bagi pihak penyampai pesan maupun bagi pihak penerima
pesan, maka diperlukan adanya keterampilan komunikasi. Menurut Hafied
Changara (2007:85) keterampilan komunikasi adalah, ”Kemampuan seseorang
untuk menyampaikan atau mengirim pesan kepada khalayak (penerima pesan)”.
Selanjutnya menurut Anwar Arifin (2008:58) kemampuan komunikasi adalah,
”Keterampilan seseorang dalam menyampaikan pesan yang jelas dan mudah
dipahami oleh penerima pesan”.

3.2 Saran

1. Meningkatan kemampuan berkomunikasi dapat diraih dengan mengikuti


organisasi
2. Bila kemampuan berkomunikasi sudah baik, maka cobalah
berkomunikasi dengan orang yang kurang baik dalam berkomunikasi
DAFTAR PUSTAKA

AKG Depkes, 1996.Komunikasi Terapeutik. Bandung.


Arwani. 2002. Komunikasi dalam Keperawatan. EGC. Jakarta.
Curtis,J, 1991,Wawancara ketrampilan dan strategi,Jakarta,Bina Aksara.
Effendy, , 1993. Dinamika Komunikasi, PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Effendy, Onong U. 1999.Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek.PT. Remaja
Rosdakarya. Bandung.
Harria T , 1991, Saya Oke–kamu oke, Jakarta,Erlangga.
IB Mantra. 1994. Komunikasi, Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. Depkes RI.
Jakarta.
Juditth. G. John, P.E., Ellizabeth,M.B., 1996, Komunikasi untuk kesehatandan
perubahan perilaku, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Kartiyoso, 1994, Pengantar komunikasi bagi bagi siswa perawat, EGC, Jakarta
Keliat, B.A. 1991. Hubungan Terapeutik Perawat – Klien. EGC.Jakarta.
Kozier, B. 1990, Fundamental of Nursing Concept,Proces
andPractice,California,Addison Wesley Nursing.
Lunandi, A.G., 1994, Komunikasi mengenai meningkatkan efektifitaskomunikasi
antar pribadi.
Prabandari,Y.S., 2003, Komunikasi Terapeutik Menuju Layanan Prima

Kesehatan, FK UGM. Yogyakarta


Prabandari,Y.S, 2003. Ujung Tombak Layanan Kesehatan Menuju IndonesiaSehat
2010, FK UGM. Yogyakarta
Purwanto, H. 1993, Komunikasi untuk perawat, EGC. Jakartya
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep Kes RI, 1992, KomunikasiTerapeutik dalam
asuhan kebidanan, Jakarta
Pusdiknakes 2003, Kurikulum Jurusan Kesehatan Gigi, jakarta.
NAMA : DESSY FITRIYANTI TUHAREA

NIM : 711240219005

KELAS : 1B