Anda di halaman 1dari 7

interaksi obat

1) pengertian interaksi obat


Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat
pemakaian suatu obat dengan obat lain, obat dengan makanan,
obat dengan obat tradisional, atau obat dengan zat lain. hal ini
terjadi jika dua atau lebih obat yang digunakan bersama-sama
saling pengaruh antarobat sehingga terjadi perubahan efek baik
berupa meningkatkan atau menurunkan efek obat, atau
menghasilkan efek baru yang tidak diinginkan atau
direncanakan
Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses
hingga akhirnya obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses
tersebut meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme, dan
eliminasi.
hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai interaksi obat :
a. Tidak semua obat yang berinteraksi signifikan scr klinik
b. Interkasi obat tidak selamanya merugikan
c. Jika 2 obat berinteraksi tidak berarti tak boleh diberikan
d. Interaksi tidak hanya u/ terapi yangg berbeda tetapi kadang
u/mengobati penyakit yang sama
e. Interaksi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengobatan
karna terkadang suatu obat diberikan dengan obat yang lain
dengan sengaja agar berinteraksi untuk meningkatkan efek obat
tersebut atau menurunkan efek yang tidak diinginkan dari obat
tersebut.

selain itu perlu juga diperhatikan pasien yang rentan


terhadap interaksi obat seperti :
a. Pasien lanjut usia
b. Pasien yang mengkonsumsi lebih dari 1 macam obat
c. Pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal
d. Pasien dengan penyakit akut
e. Pasien dengan penyakit yang tidak stabil (kadang kambuh)
f. Pasien degan karakteristik genetik tertentu
g. Pasien yang dirawat oleh lebih dari 1 dokter atau sering berganti
dokter dengan resep obat yang berbeda dalam satu waktu.

2) interaksi obat dengan makan

interaksi obat dengan makanan yaitu interaksi yang


terjadi dikarenakan mengkonsumsi suatu obat dilakukan
bersamaan dengan makanan atau minuman tertentu yang dapat
mengakibatkan perubahan efek terhadap obat sehingga muncul
efek lain baik itu efek yang menguntungkan atau merugikan.

contoh interaksi obat dengan makanan :

a. interaksi obat antihipertensi dengan makanan


seperti interaksi obat Katopril dengan buah pisang, buah
pisang dengan obat kaptopril jika di konsumsi secara bersamaan
dapat menyebabkan meningkatnya kadar kalium dalam darah
dan dapat menimbulkan gejala hipokalemia meliputi
mual,badan lelah, otot lelah, dan kesemutan.

b. interaksi obat antibiotik dengan makanan


seperti Interaksi antara Amoxicillin dengan makanan
yang berserat. Makanan berserat menyebabkan penurunan
absorpsi dari amoxicillin jika obat kurang diabsorpsi, berarti
daya khasiat atau kemanjurannya juga berkurang sehingga
penyembuhan mungkin tidak akan tercapai

c. interaksi obat diabetes dengan makanan


seperti interaksi obat Acarbose dengan Makanan
mengandung Sukrosa (Gula Tebu), Menyebabakan gangguan
abdomen/perut, perut kembung, bahkan diare selama
pengobatan dengan Acarbose akibat meningkatnya fermentasi
karbohidrat.

d. interaksi obat kolesterol dengan makanan


seperti interaksi obat simvastatin dengan jeruk keprok ,
mengkonsumsi jeruk keprok bersamaan dengan simvastatin
dapat meningkatkan kadar statin di dalam tubuh, dan akhirnya
dapat menyebabkan kerusakan hati.

e. interaksi obat antihistamin dengan makanan


seperti interaksi obat cyproheptadine dengan makanan
yang mengandung alkohol. Cyproheptadine dapat membuat
Anda mengantuk, pemberian bersama dengan makanan atau
minuman yang mengandung alkohol dapat memperkuat efek
mengantuk (sedasi).

f. interaksi obat antikovulsan dengan makanan


seperti interaksi Asam Valproat dengan Kedelai, Efek
interaksi yang ditimbulkan yaitu terjadi penurunan konsentrasi
protein plasma dan terjadi penurunan bioavailabilitas obat.
Sehingga efek obat yang ditimbulkan juga berkurang.
g. interaksi obat vitamin dengan makanan
seperti interaksi vitamin D dengan bayam yang
mengandung asam oksalat yang tinggi, Vitamin berperan dalam
metabolisme absorpsi kalsium ke dalam tulang, fungsi otot,
sekaligus meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Asam oksalat
dapat mengikat kalsium sehingga kalsium tidak bisa diserap
dalam jumlah besar oleh tubuh.

interaksi obat juga dapat mempengaruhi asupan makanan,


obat-obatan tertentu ini dapat menyebabkan anoreksia,
mengubah rasa dan bau, menyebabkan mual dan muntah, dan
pada akhirnya mempengaruhi asupan makanan secara
keseluruhan.

3) jenis interaksi obat


interaksi farmasetika atau interaksi inkompatibilitas adalah
interaksi yang terjadi diluar tubuh (sebelum obat diberikan)
antara obat yang tdak dapat dicampur (inkompatibel).
Pencampuran obat demikian menyebabkan terjadinya interaksi
langsung secara fisik atau kimiawi, yang hasilnya mungkin
terlihat sebagai pembentukan endapan, perubahan warna dan
lain-lain, atau mungkin juga tidak terlihat perubahannya.
Interaksi ini biasanya berakibat obat menjadi tidak aktif.
a. interaksi obat secara farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat-
obat yang mempunyai efek farmakologi atau efek samping
yang serupa atau sinergi dan yang berlawanan atau
antargonis. Interaksi ini dapat disebabkan karena kompetisi
pada reseptor yang sama, atau terjadi antaraobat-obat yang
bekerja pada sistem fisiologik yang sama.
Interaksi farmakodinamik sinergi adalah apabila
dua obat atau lebih digunakan secara bersamaan dapat
memberikan efek sinergi atau memberikan efek yang lebih
menguntungkan daripada penggunaan tunggal. Sebagai contoh
adalah pemberian dua obat yang bersifat sedatif-hipnotik
seperti benzodiazepin dan antihistamin. Efek sedasi dan
depresi SSP lebih meningkat daripada penggunaan tunggal.
Interaksi farmakodinamik antagonis terjadi ketika efek
farmakologis dari salah satu obat berkurang karena
penggunaan obat secara bersamaan, tanpa menurunkan kadar
obatnya di dalam darah. Contoh interaksi ini adalah kombinasi
antara Trisiklik dan guanetidin sebagai antihipertensi yang
dapat berakibat pada penurunan efikasi teraupetik.

b. interaksi obat secara farmakokinetik


Yaitu interaksi yang terjadi apabila satu obat mengubah
absorpsi, distribusi, metabolisme, atau ekskresi obat lain.
Dengan demikian interaksi ini meningkatkan atau mengurangi
jumlah obat yang tersedia (dalam tubuh) untuk dapat
menimbulkan efek farmakologinya.
1) absorpsi
pada fase absorpsi atau penyerapan ada yang dinamakan

dengan INTERAKSI LANGSUNG. dimana pada Intraksi ini terjadi

secara fisik/kimiawi antar obat dalam saluran cerna sehingga dapat

menghambat absorpsi obat. Interaksi ini dapat dihindarkan/sangat

dikurangi jika obat yang berinteraksi diberikan dengan jarak waktu

minimal 2 jam. contoh obat yang dapat mengalami interaksi

langsung yaitu digoksin dan rifampisin.

PERUBAHAN PH SALURAN CERNA, dapat

mempengaruhi laju absorpsi obat yang bersifat asam ataupun basa.

Usus halus adalah tempat utama untuk absorpsi obat yang bersifat

asam. Absorbsi di usus jauh lebih cepat daripada di lambung. Makin

cepat obat sampai di usus makin cepat pula absorbsinya.

 Percepatan pengosongan lambung dapat mempengaruhi

Absorbsi, sehingga absorpsi menjadi cepat dan Efek obat

juga cepat

 sedangkan Penundaan pengosongan lambung dapat

mengakibatkan Absorbsi lambat dan Efek obat tertunda.

absorbsi obat juga dapat dipengaruhi oleh penghambatan

enzim pencernaan, yaitu obat atau makanan tertentu yang

dapat mempengaruhi sistem transpor enzim sehingga

mempengaruhi absorpsi obat yang spesifik pada usus seperti

Allopurinol dan besi.


2) distribusi

distribusi obat terjadi karena pergeseran, ikatan protein


plasma. setelah obat diabsorbsi, obat akan terdistribusi cepat ke
seluruh tubuh melalui sirkulasi, obat akan dibawa ke tempat
dimana akan bereaksi dengan berbagai jaringan tubuh atau
reseptor.

ikatan obat pada protein plasma (albumin) dan distribusi


bersifat reversible. Hanya molekul yang tidak terikat (bebas)
yang aktif farmakologik sedangkan pada molekul yang terikat
bersikulasi sebagai cadangan tidak aktif.

3) metabolisme
Untuk mencapai efek sistemik, obat harus mencapai situs reseptor, yang
berarti obat tersebut harus mampu melintasi membran plasma lipid. Oleh
karena itu, obat tersebut setidaknya harus larut di dalam lipid. Peran
metabolisme adalah mengubah senyawa aktif yang larut di dalam lipid menjadi
senyawa tidak aktif yang larut di dalam air sehingga dapat diekskresikan secara
efisien.

4) ekskresi
Obat dieliminasi melalui ginjal dengan filtrasi glomerolus dan sekresitubular
aktif.  Jadi,  obat  yang  mempengaruhi  ekskresi  obat  melalui  ginjal  dapat
mempengaruhi konsentrasi obat lain dalam plasma. Hanya sejumlah kecil obat
yang cukup larut dalam air yang diekskresikan melalui ginjal sebagai eliminasi
utamanya,  yaitu  obat  yang  tanpa  lebih  dulu  dimetabolisme  di  hati

Anda mungkin juga menyukai