Anda di halaman 1dari 10

POKOK BAHASAN

SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN 1)

PENDAHULUAN

Sejarah menguraikan rangkaian-rangkaian peristiwa dari waktu ke


waktu, sehingga tergambar dengan jelas perubahan-perubahan yang
terjadi dalam satu kurun waktu. Perubahan-perubahan tersebut bisa
melaihrkan keadaan sekarang lebih baik ataupun lebih buruk dari
keadaan masa lalu. Apakah setelah sekian tahun dilakukan pembangunan
ekonomi, keadaan ekonomi sekarang lebih maju atau lebih mundur.
Hal ini perlu kita nilai berdasarkan tolok ukur atau kriteria kemajuan
ekonomi.

Dalam kontek sejarah, satu peristiwa yang terjadi tidak berdiri sendiri
dalam arti peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan peristiwa-peristiwa
lain sebelumnya. Ada hubungan sebab akibat, ada hubungan saling
mempengaruhi antara satu peristiwa dengan peristiwa lain. Untuk
mengetahui bagaimana sifat hubungan itu, bagaimana akibat peengaruh
hubungan itu, kita perlu memahami beberapa peralatan analisis ekonoim.
Kriteria Kemajuan Ekonomi
Bagi negara-negara maju/ industri
Tingkat pendapatan per kapita
Distribusi pendapatan nasional
Tingkat inflasi
Tingkat pengangguran
Sejauh yang merupakan obyek perhatian adalah ekonoi
negara- negara yang masih berkembang maka perlu
diperhatikan beberapa aspek lagi (B.S. Mulana, 1983).
Bagi negara-negara sedang berkembang
Kriteria yang bersifat struktural:
Tingkat pendapatan per kapita
Distribusi pendapatan nasional
Peranan sektor industri/ mfanufakturing dan jasa
Keterpaduan antar industri, antar sektor
ekonomi, dan antar daerah
Kriteria yang bersifat tahunan :
Tingkat inflasi
Tingkat pengangguran
Yang diinginkann negara-negara sedang berkembang adalah keadaan yang
dapat dan telah mengalami proses yang membawa perubahan-perubahan
struktural yang berarti. Maka dalam kriteria struktural ditambah
besarnya peranan sektor-sektor non pertanian/ non iekstraktif dalam
GNP atau GDP, besarnya peranan sektor industri dan jasa
(manufakturing) dalam ekspor, tingginya tingkat keterpaduan secacara
vertikal dalam sektor industri, serta tingkat keterpaduan antara sektor dan
antar daerah dalam ekonomi (B.S. Muljana, 1983).
Untuk menilai kesuksesan suatu Pelita di Indonesia lazim di pergunakan
kriteria tingkat pertumbuhan ekonoi dan tingkat pemerataan pembangunan
dan hasil pembangunan (dua logos dari Trilogi Pembangunan).

Peralatan Analisis Ekonomi

Langkah awal dalam mempelajari mekanisme kerja ekonomi nasional


adalah mendekati kegiatan ekonomi melalui tiga sisi, yaitu segi
produksi, segi pembelanjaan/ pengeluaran dan segi pendapatan.
Ketiga pendekatan itu dalam berbagai buku literatur disebut analisis
ekonomi makro (Susanto Hg., 1995).

Beberapa konsep/ indikator penting yang perlu dpahami dalam rangka


anlaisis ekonomi makro antara lain : produk domestik bruto (PDB),
pendapatan nasional (Y), pendapatan per kapita, nilai tambah (Vas),
kontribusi sektor (Ks), laju pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi (In),
jumlah uang beredar (JUB), debt service ratio (DSR), nilai tukar
perdagangan (TOT), tingkat pengangguran, tingkat kesenjangann dan
incremental capital output ratio (ICOR).

Produk Domestik Bruto (PDB = GDP)


Dilihat dari sumber pembentukannya, GDP diperoleh dengan cara
menjumlahkan seluruh nilai tambah dari sektor-sektor usaha. Rumus :
GDP = VAsp + VAss + VAst
Keterangan :
VAsp = Nilai Tambah Sektor
Primer VAss = Nilai Tambah
Sektor Sekunder VAst =
Nilai Tambang Sektor Tertier
Dilihat dari penggunaannya (dari segi pengeluaran), nilai GDP harus
sama dengan nilai pengeluaran konsumsi rumah tangga ©
+ konsumsi pemerintah (G) + pembentukan modal
bruto (I) + ekxpor dikurangi impor (X – M).
Rumus :
GDP = C + I + G + (X – M)
Pendapatan Nasional (NI – Y)
- Cara perhitungan
pendapatan nasional :
Rumus :
GNP = GDP + F
NNP = GNP – D
NI = NNP – Nit
= (GDP + F) – D – Nit
NI = GDP + F – D – Nit

Skema :
Produk Domestik Bruto (GDP) Rp xxxxx
Ditambah : pendapatan neto terhadap luar
Negeri atas faktor produksi (F)
Rp xxxxx Produk nasional Bruto (GNP) Rp
xxxxx
Dikurangi : penyusutan (D) Rp xxxxx
Produk Nasional Neto (NNP) Rp xxxxx
Dikurangi : pajak tak langsung (Nit) Rp xxxxx
Pendapatan Nasional (NI = Y) Rp xxxxx

Pendapatan per kapita


Pendapatan nasional dibagi jumlah penduduk
Rumus :
NI
Pendapatan per kapita : ---------
P
Nilai tambah (VAs)
Rumus :
VAs = OPs – IPs
Keterangan :
VAs = Nilai tambah masing-
masing sektor OPs = Output
(keluaran) sektor
IPs = Input (masukan) sektor

Kontribusi Sektor (Ks)


Rumus :
VAs (Rp)
Ks = x 100%
PDB (Rp)

Laju pertumbuhan Ekonomi


Rumus :
PDBx – PDBx - 1
Cara tahunan =PDBx = x 100%
P
D
Bx
-1

 tn  

Cara Rata-rata
r   n1  .1 .100%
to

  

Keterangan :
r = laju pertumbuhan ekonomi rata-rata
setiap tahun n = jumlah tahun (mulai
dengan sampai dengan)
tn = tahun
terakhir
periode to =
tahun awal
periode

Tingk
at
In
fl
as
i
(I
F
)
R
u
m
u
s
(
S
e
d
er
h
a
n
a)
:
Menghitung IHK (Indeks Harga Konsumen)
Current Price
Index Sumber = x 100%
Base-period price

Menghitung tingkat inflasi (inflation rate = IR)


IHKn
Bulanan : IRn = x 100% -
100%
IHKn-1

Keterangan :
IR = angka inflasi (%) bulan n
IHKn = Indeks umum IHK Gabungan 17 kota bulan n
IHKn-1 = Indeks umum IHK Gabungan 17 kota bulan ke(n-1)

Tahunan : cummulative method (dengan


menjumlahkan inflasi setiap bulan)

IRx = x 100% - 100%

Keterangan :
IRX = tingkat
inflasi tahun
x IHKn =
IHK tahun x
IHKn-1 = IHK tahun yang lalu

Debt Service Ratio (DSR)


- Rasio angsuran hutang LN terhadap ekspor ini
menggambarkan kemampuan suatu negara dalam
melunasi hutang LN.
Rumus :

DSR 

Keterangan :
Dt Xnt

.100%

atau

DSR 
Dt Xbt

.100%

Dt = Bunga & Cicilan hutang


Xnt = ekspor neto (bersih), setelah dikurangi
impor mingas Xbt = ekspor bruto (kotor)

- Karena yang menanggung beban hutang


pemerintah dan swasta maka ada empat versi
perhitungan DSR :
DSR pemerintah terhadap ekspor bruto
DSR pemerintah (pemerintah + swasta) terhadap ekspor
bruto
DSR pemerintah terhadap ekspor neto
DSR Indonesia (pemerintah + swasta) terhadap ekspor
neto

Nilai Tukar Perdagangan (term of Trade = TOT)


- Ada lima langkah untuk menentukan efek nilai
tukar perdagangan LN terhadap GDP
(mempeengaruhi kemakmuran), dua diantaranya
adalah :
Pertama, menentukan indeks harga ekspor
(Px) dan indeks harga impor (Pm)

Px 
XB .100%
XK
Pm  MB .100%
MK

Keterangan :
Px = Indeks ekspor
Pm
=
inde
ks
impo
r X,
M=
eksp
or,
impo
r
B = Bulan berlaku / harga
tahun berjalan K = harga
konstan

Kedua, menentukan indeks nilai tukar (term of trade)

TOT  Px
Pm
x 100%

Keterangan :
Px = Indeks
harga ekspor
Pm = Indeks
harga impor

Tingkat Kesenjangan, bisa dihitung dengan Gini


Coeeficient (GC) atau 40% golongan termiskin
(40% GTM)
Kesenjangan tinggi bila 40% GTM menerima < 12% dari NI
(Y)
Kesenjangan sedang bila 40% GTM menerima 12-17dari Y
Kesenjangan rendah bila 40% GTM menerima > 17% dari NI
(Y)

PERIODE KOLONIAL
Karakteristik
Ciri perekonomian kolonial
Pada jaman Kolonial belanda, ekonomi Indonesia
diwarnai oleh suatu strategiyang melahirkan
dualisme dalam kegiatan ekonoi, yaitu
dualisme antara sektor ekspor (enclave) dan
sektor tradisonal (hinterland). Sektor ekspor
diwakili dengann kehadiran perkebunan-
perkebunan di daerah pedesaan (Suroso,
1994).
Pendirian perkebunan di daerah pedesaan semata-
mata karena pertimbangan lokasi yang
menguntungkan (tanah subur, iklim cocok)
dan bukan untuk menciptakan lapangan kerja
baru untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat.
Struktur perekonomian kolonial seperti gambar di bawah ini :

asar

S
e
k
t
o
r

E
k
s
p
o
r

S
e
k
t
o
r

T
r
a
d
i
s
i
o
n
a
l

(
H
I
N
T
E
R
L
A
N
D
)

Pasar dunia dan sektor ekspor terpisah dengan


sektor tradisional, karena sektor ekspor
berhubungan langsung dengan pasar dunia
dan mendapat proteksi dari pemerintah.
Konsep Dualisme
Sejak jaman penjajahan sampai saat ini perekonomian
Indonesia masih juga menunjukkan ciri-ciri adanya
dualisme, baik dualisme yang bersifat teknologis,
maupun yang bersifat ekonomis, sosial dan kultural.
Boeke memberikan definisi masyarakat dualistis
(Anne Booth, 1990) :
“Masyarakat yang mempunyai dua gaya sosial
berbeda, yang masing-masing hidup
berdampingan. Dalam proses evolusi sejarah
normal yang berlaku bagi masyarakat homogen,
kedua gaya sosial tersebut me3wakili tahap
perkembangan sosial yang berbeda, dipisahkan
oleh suatu gaya sosial lain yang mewakili
tahap transisi, misalnya : masyarakat sebelum
kapitalisme dan masyarakat kapitalisme
maju yang dipisahkan oleh masyarakat
kapitalisme awal….”

Statistik Ekonomi Kolonial


Kedudukan dan Fungsi Hindia Belanda
Sistem pemerintahan Kolonial (Hindia Belanda)
menciptakan sistem ekonomi kolonial yang
diarahkan untuk memenuhi kepentingan
negeri Belanda. Maka Hindia belanjda
sebagai negeri jajahan dijadikan sebagai :
Daerah penghasil bahan untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi dan industri negeri
Belanda.
Daerah pemasaran bagi hasil industri dari negeri
Belanda.
Daerah penghasil devisa bagi kepentingan negeri
Belanda.
Hal ini terlihat dari peranan perdagangan Hindia
Belanda (Indonesia) di masa yang lalu.

Peranan Hindia Belanda Dalam Perdagangan


Peranan Hindia Belanda terlihat dari prosentase
ekspor terhadap ekspor dunia untuk beberapa
komiditi, antara lain : kina 99%, lada 86%,
Kapok 72%, karet 37%, agave 33%, hasil
kelapa 27%,
minyak sawit 24%, the 19%, timah putih 17%,
gula 5% (Soemitro, 1953; di kutip dari Suroso,
1994).
Perdagangan Hindia Belanda sebelum
kemerdekaan sebagai berikut :