Anda di halaman 1dari 4

ovid-19 dan Tantangan Demokrasi di Indonesia

Syarif Hidayat Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dosen Program Pascasarjana
Universitas Nasional (Unas) | Opini

 

MI/Tiyok

DALAM kurun waktu dua bulan terakhir segenap komponen bangsa mulai resah. Selanjutnya,
tercekam rasa takut, lantaran mulai merebaknya wabah corona virus desease 2019 (covid-19). 

Keresahan tersebut tentunya sangat manusiawi. Karena, jika pandemi covid-19 tidak ditangani secara
cepat dan tepat, akan berdampak fatal terhadap kematian manusia, dan perekonomian Indonesia.

Oleh karena itu, wacana publik pun mulai dibanjiri diskursus tentang dua isu tersebut. Sementara itu,
apa pelajaran yang dapat dipetik dari musibah covid-19 terkait praktik demokrasi di Indonesia, pada
khususnya, dan tata kelola negara bangsa, pada umumnya, relatif belum mendapat perhatian secara
seimbang dari para akademisi.

Karakteristik transisi demokrasi


Kendati konsep transisi demokrasi itu sendiri masih terus dalam perdebatan di kalangan para
akademisi, secara prinsipal dapat dikatakan bahwa sejak berakhirnya pemerintahan Orde Baru pada
1998, Indonesia mulai memasuki periode transisi demokrasi. Terkait dengan hal ini, secara teoretis
dapat dikemukakan sedikitnya ada sepuluh karakteristik utama dari transisi demokrasi.

Pertama, relasi antara negara dan masyarakat, tidak lagi bersifat satu arah, tetapi sudah bersifat dua
arah. Walaupun dibukanya peluang partisipasi masyarakat cenderung belum sepenuhnya didasarkan
pada iktikad untuk memperkuat masyarakat sipil, tetapi, lebih pada kewajiban memenuhi agenda
reformasi.

Kedua, relasi negara dan masyarakat lebih berkarakterkan relasi antarelite, yaitu antara elite
penguasa dan elite masyarakat. Kondisi ini kemudian telah melahirkan praktik demokrasi elitis.

Ketiga, reformasi politik lebih dititikberatkan pada reformasi kelembagaan negara, namun minus
penguatan kapasitas. Kondisi itu berimplikasi pada terjadinya ‘pengekalan’ praktik demokrasi
prosedural.

Keempat, telah terjadi perluasan arena kebebasan sipil, namun minus kualitas. Realitas ini ditandai,
antara lain, masih dominannya ekspresi kebebasan sipil dengan cara-cara kekerasan, dan adanya
tindakan ke kerasan, baik oleh pihak negara maupun masyarakat, dalam meyikapi ekspresi
kebebasan sipil.

Kelima, pemilu berkarakterkan vote minus voice. Maksudnya, pemilu secara rutin dilaksanakan
sebagai ‘ritual politik’ untuk mendapat vote (suara masyarakat) guna melegitimasi kekuasaan para
elite. Namun, pada pascapemilu, sangat muskil memproduksi voice. Lebih buruk lagi, justru yang
dihasilkan adalah political noise.
Keenam, munculnya oligarki partai politik. Kenyataan ini ditunjukkan, antara lain, adanya
sentralisasi kekuasaan dalam tubuh partai politik, proses pengambilan keputusan dimonopoli
segelintir elite partai. Lalu, promosi posisi strategis tidak didasarkan pada sitem merit, dan proses
kaderisasi nyaris tidak berjalan.

Ketujuh, maraknya praktik politik transaksionis, yaitu memperlakukan kekuasaan sebagai komoditas
yang dapat diperjualbelikan. Fenomena ini terjadi hampir pada semua arena politik. Mulai dari
praktik beli suara pada pemilu, sampai dengan beli jabatan untuk posisi-posisi strategis pada lembaga
internal partai politik, maupun pada lembaga negara.

Kedelapan, munculnya realitas dinasti politik, yakni monopoli kekuasaan berdasarkan hubungan
kekeluargaan atau kekerabatan. Tendensi ini terjadi, sangat erat terkait dengan adanya praktik politik
transaksionis dan oligarki partai politik sebagaimana dikemukakan di atas.

Kesembilan, maraknya praktik shadow state, yaitu hadirnya aktor di luar struktur formal
pemerintahan. Namun, dapat mengendalikan dan mengontrol para aktor penyelenggara pemerintah
formal, baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah. Kecenderungan ini terjadi, juga tidak
terlepas dari adanya praktik politik transaksionis, utamanya pada pemilu.
Kesepuluh, hadirnya gerakan counter reform, yaitu suatu gerakan ‘reformasi tandingan’, yang
sejatinya membawa spirit antireformasi, namun dikemas dalam bungkus dan lebel proreformasi.
Gerakan ini relatif sulit untuk dideteksi, namun sangat membahayakan bagi masa depan demokrasi.

Ujian dan bahaya


Dengan merujuk pada sepuluh karakteristik transisi demokrasi di atas, sedikitnya dapat diidentifikasi
ada enam tantangan demokrasi di Indonesia terkait dengan pandemik covid-19.

Bila dibuat kategorisasi, enam tantangan tersebut dapat dikelompok ke dalam tiga ujian dan tiga
bahaya demokrasi. Pertama, ujian bagi eksistensi dan komintmen terhadap prinsip-prinsip negara
kesatuan. Adanya pandemik covid-19 secara tidak langsung telah menguji apakah prinsip-prinsip
NKRI.
Utamanya, terkait dengan relasi pusat-daerah, memang betul teraktualisasi dan dipatuhi dalam
implementasi kebijakan penanggulangan wabah virus korona, atau hanya imajinasi. Bila betul ditaati,
seharusnya tidak perlu terjadi perbedaan sikap antara pemerintah pusat dan daerah dalam
implementasi kebijakan mengatasi pandemik covid-19.

Dikatakan demikian, karena dalam negara kesatuan, prinsip relasi kewenangan antara pemerintah
pusat dan daerah ialah berbagi kekuasaan, bukan pemisahan kekuasaan seperti pada negara federal.

Oleh karena itu, otonomi yang dimiliki pemerintah daerah bukanlah otonomi penuh seperti pada
negara federal. Jika pada kenyataannya, pemerintah daerah terkesan merasa memiliki otonomi penuh,
inilah yang perlu dikoreksi untuk diluruskan. Namun, pada sisi lain, pemerintah pusat
sebagai empunya kewenangan, niscaya dituntut ketegasan dan kepastian dalam implementasi
keputusan yang telah diambil.

Inilah sejatinya karakter dari strong state yang memang harus diperlihatkan pemerintah pusat dalam
mengatasi kondisi genting akibat wabah covid-19 yang mencekam saat ini.

Kedua, ujian bagi kapabilitas dan kualitas kepemimpinan pemerintah pusat dan daerah. Sejak tahun
2004 Indonesia telah menerapkan pilpres langsung, dan mulai tahun 2005 melaksanakan pilkada
langsung. Secara teoretis, pemilu langsung diyakini akan menghasilkan pemimpin berkualitas, yang
pada giliran akan menghadirkan pemerintahan yang akuntabel dan responsif terhadap tuntutan
kepentingan
masyarakat (Smith, 1985; Oyugi, 2000; dan Arghiros, 2001).

Dalam mengikuti logika teoretis ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kehadiran wabah covid-
19 secara nyata menyodorkan ujian bagi kapabilitas dan kualitas para pimpinan hasil pemilu
langsung tersebut.

Ketiga, ujian kohesi sosial dan ‘kepatuhan’ terhadap state authority. Satu di antara indikator penting
dari eksisnya legitimasi otoritas negara adalah, adanya dukungan dan kepatuhan warga negara
terhadap berbagai kebijakan yang telah diambil pemerintah. Dengan demikian, cukup beralasan jika
dukungan dan kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam mengatasi wabah covid-19 juga dapat
diartikulasi sebagai bagian dari ujian nyata terhadap eksistensi otoritas negara.
Keempat, bahaya politisasi covid-19 untuk pencitraan politik jelang Pilpres 2024. Tantangan
demokrasi yang keempat ini terkesan berlebihan, dan cenderung prematur. Namun, sebagai upaya
antisipasi, ia layak dipertimbangkan.

Natur dari pemilu, termasuk pilpres, ialah kontestasi untuk mendapat kekuasaan. Oleh karena itu,
kata Machiavelli, segala cara pun akan dihalalkan, termasuk politisasi musibah covid-19 untuk
pencitraan politik.

Kelima, bahaya politisasi kebijakan pembatasan sosial (social distancing) untuk menekan hak
menyampaikan aspirasi di ruang publik. Seperti diketahui, kebijakan ini, antara lain, melarang warga
masyarakat untuk berkumpul di ruang publik dengan tujuan mencegah penularan covid-19.

Dengan demikian dapat dipastikan, selama periode pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial, tidak
dimungkin bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi di ruang publik. Oleh karena itu, agar
tidak terjadi ‘dusta di antara kita’, seharus pihak lembaga penyelenggara negara, utamanya DPR RI,
menunda sejumlah agenda pengambilan keputusan penting, yang menghendaki pelibataan aspirasi
publik, selama periode pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial tersebut.
Keenam, bahaya politisasi program bantuan sosial covid-19 untuk mobilisasi dukungan jelang
kontestasi Pilkada serentak 2020. Kekhawatiran ini cukup beralasan, mengingat praktik politik uang
dalam penyelenggaraan pilkada sudah menjadi rahasia umum.

Lebih jauh dari itu, bila disimak sejumlah kasus korupi kepala daerah, utamanya yang ditangani
KPK, juga mengindikasikan adanya keterkaitan dengan penyalahgunaan anggaran negara.
Khususnya, dana bantuan sosial, untuk kepentingan pilkada. Oleh karena itu, bila tidak dikelola
secara ketat dan tepat, tidak kecil kemungkinan kecenderungan yang sama pun akan berlaku dalam
pelaksanaan
program bantuan sosial covid-19.

Akhirnya, penting untuk ditegaskan di sini, uraian singkat di atas bukan sama sekali bermaksud
untuk membangun perspektif pesimistik, tetapi justru sebaliknya. Dengan adanya diskursus publik
seperti ini, diharapkan akan merangsang sensitivitas dari pihak-pihak terkait untuk melakukan
refleksi atas konsep dan praktik demokrasi di Tanah Air sejauh ini. Dengan demikian, komitmen
‘NKRI harga mati’ dan ‘daulat rakyat’ yang diamanahkan melalui pilpres, pileg, dan pilkada, tidak
hanya berhenti pada tingkat wacana, tetapi terwujud dalam kenyataan.