Anda di halaman 1dari 11

ESSAY

“KELAINAN ORGAN GENITALIA PRIA (KONDISI PATOLOGIS SISTEM


UROGENITAL)”

Nama : Dewi Sopiana

Nim : 018.06.0083

Kelas : A

Dosen : dr. H. Pebrian Jauhari Sp.U

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR

MATARAM

2019/2020
KELAINAN ORGAN GENITALIA PRIA (KONDISI PATOLOGIS SISTEM
UROGENITAL)

DR. H. PEBRIAN JAUHARI SP.U

Organ genitalia pria dibagi menjadi 2 bagian yaitu; organ genitalia eksterna
dan organ genitalia interna. Dimana untuk organ genitalia eksterna terdapat penis dan
skrotum atau testis, sedangkan dibagian genitalia interna terdapat prostat dan vesikula
seminalis.

1. Organ genitalia eksterna


1.1. Penis
a. Fimosis – parafimosis
Fimosis (Phimosis) merupakan salah satu gangguan yang timbul
pada organ kelamin bayi laki-laki, yang dimaksud dengan fimosis adalah
keadaan dimana kulit kepala penis (preputium) melekat pada bagian
kepala (glans) dan mengakibatkan tersumbatnya lubang di bagian air seni,
sehingga bayi dan anak kesulitan dan kesakitan saat kencing, kondisi ini
memicu timbulnya infeksi kepala penis (balantis). Sedangkan parafimosis
merupakan keadaan dimana prepotium penis yang sudah diretraksikan
tidak dapat dikembalikan keposisi semula.
Fimosis bisa merupakan kelainan bawaan sejak lahir (kongenital)
maupun didapat. Fimosis kongenital (true phimosis) terjadi apabila kulit
preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke
belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta
diproduksinya hormone dan faktor pertumbuhan, terjadi proses
keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis
bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari
glans penis.
Fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir terjadi karena ruang di
antara prepotium dan penis tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini
menyebabkan prepotium menjadi melekat pada kepala penis, sehingga
sulit ditarik ke arah pangkal. Penyebabnya, bisa dari bawaan dari lahir
atau didapat, misalnya karena infeksi atau benturan.
Fimosis memiliki gejala sebagai berikut; bayi atau anak sukar
berkemih, kadang-kadang begitu sukar sehingga kulit preputium
menggelembung seperti balon, kulit penis tidak bisa ditarik kearah
pangkal, penis mengejang pada saat buang air kecil, bayi atau anak sering
menangis sebelum urin keluar/air seni keluar tidak lancar, dan timbul
infeksi.
Fimosis dengan keluhan miksi, menggelembungnya ujung
preputium pada saat miksi, atau infeksi prostitis merupakan indikasi untuk
dilakukan sirkumsisi. Fimosis yang disertai balantis atau prostitis harus
diberikan antibiotika lebih dahulu sebelum dilakukan sirkumsisi.
b. Hipospadia - epispadia.
Hipospadia adalah kelainan letak uretra dan merupakan kelainan
bawaan pada anak laki-laki, ditandai dengan posisi anatomi pembukaan
saluran kemih di bagian ventral atau bagian anterior penis, biasanya
disertai lengkung penis yang tidak normal dan ukurannya lebih pendek
daripada laki-laki normal. Letaknya bervariasi sepanjang bagian ventral
dari penis atau di perineum sebagai akibat gagalnya penyatuan dari
lempeng uretra, hipospadia berat didefinisikan sebagai sebagai suatu
kondisi hipospadia yang disertai dengan letak muara uretra eksterna
diantara proximal penis sampai dengan di perbatasan penis dan skrotum
dan mempunyai chordee.
Penyebab dari hipospadia sampai saat ini belum bisa ditentukan
secara spesifik. Namun diyakini terdapat beberapa faktor yang terlibat
dalam terjadinya kelainan hipospadia ini, yaitu faktor endokrin, genetik
dan lingkungan. Hipospadia bisa terjadi karena salah satu faktor tersebut
maupun kombinasi dari ketiga faktor tersebut.
Klasifikasi hipospadia berdasarkan tingkat keparahan dan rasio cost
benefit untuk pasien yaitu:
 Hipospadia ringan
Hipospadia distal terisolasi (glandular, coronal atau penile)
tanpa adanya chordae, mikropenis atau anomali skrotal. Indikasi
untuk koreksi pada tipe ini hanya didasarkan atas alassan kosmetik,
sehingga koreksi bedah hanya dilakukan jika angka komplikasi yang
sangat rendah dapat dijamin.
 Hipospadia berat
Hipospadia tipe skrotal dan perineal atau tipe apapun dengan
chordae, mikropenis dan anomali skrotal. Indikasi untuk koreksi pada
kasus ini adalah ditujukan untuk masalah fungsional. Pada kasus ini
terdapat angka komplikasi yang tinggi, akan tetapi manfaat untuk
pasien yang menjalani operasi adalah baik.
 Redo Hipospadia
Indikasi operasi pada kasus ini adalah untuk meminimalisir
beban setelah menjalani operasi.
Tatalaksana untuk hipospadia dan epispadia yaitu dengan
rekonstruksi dari penis tersebut. Tujuan operasi pada hipospadia yaitu
untuk menciptakan uretra dengan fungsi yang baik dan untuk
memperbaiki lengkungan penis sehingga memperbaiki penampilan penis
secara kosmetik serta menghasilkan muara uretra di ujung penis, sehingga
pasien bisa buang air kecil dalam posisi berdiri.
c. Fraktur penis
Fraktur penis merupakan kegawatdaruratan urologi yang jarang dan
sebagian besar terjadi pada trauma tumpul pada penis yang mengalami
ereksi. Fraktur penis sering terjadi pada saat hubungan seksual dan jarang
terjadi pada trauma tumpul karena benturan. Trauma menyebabkan
robekan dan rembesan darah pada tunika albuginea. Ntatalaksana pada
kasus ini yaitu dilakukan rekonstruk penis.
d. Silikonoma penis/fibrogranulomatosis
Silikonoma merupakan granuloma kronik yang timbul karena
adanya iritasi yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama dengan
silikone.Silikonoma atau sclerosinglipogranuloma sering adalah suatu
kondisi kulit yang ditandai dengan banyaknya granuloma-granuloma serta
fibrosis yang terjadi pada jaringan lemak subkutan akibat dari injeksi
silikone maupun mineral oil lainnya.
Reaksi penolakan terhadap benda asing muncul dalam bentuk
peradangan sehingga menyebabkan gejala klinis seperti nyeri, edema,
jaringan parut, ulserasi, perubahan warna kulit dan pembengkakan pada
penis, deformitas, nekrosis, nyeri saat ereksi dan ketidak mampuan
melakukan aktifitas seksual.gejala-gejala tersebut kebanyakan muncul
setelah beberapa bulan sampai  beberapa tahun setelah injeksi.
Terapi definitif pada pasien dengan kasus silikonoma penis meliputi
eksisi dan pengangkatan lengkap massa yang terdapat pada jaringan kulit
maupun subkutan yang bisa menyebabkan gangguan fungsi organ, teknik
ini merupakan metode yang tepat untuk menghindari gejala penyakit ini
muncul lagi di masa depan. Terdapat juga teknik lain yaitu kombinasi
antara teknik di atas dengan teknik penggunaan Scrotal Flaps atau Split
Thickening Skin Grafts.
e. Peyronie Desease
Penyakit Peyronie adalah kondisi ketika bentuk penis tampak
menekuk, umumnya ke atas atau ke samping. Kondisi ini terjadi akibat
pembentukan plak fibrosa atau jaringan parut di sepanjang batang penis.
Perubahan bentuk penis ini akan terlihat jelas ketika ereksi. Penyakit
Peyronie bisa dialami oleh semua pria dari berbagai usia. Namun
demikian, sebagian besar penderitanya adalah pria usia paruh baya.
Diperkirakan 3-9 persen pria di dunia menderita penyakit Peyronie.
Belum diketahui secara pasti penyebab terbentuknya jaringan parut
di batang penis. Namun, diduga hal tersebut berawal dari perdarahan
akibat trauma atau cedera. Selain itu, juga terdapat dugaan bahwa
terbentuknya jaringan parut disebabkan oleh faktor genetik yang
diwariskan di dalam keluarga.
Sejumlah metode pengobatan yang digunakan untuk menangani
penyakit Peyronie, yaitu:
 Obat-obatan
Meski tidak seefektif bedah, ada beberapa jenis obat yang bisa
digunakan untuk mengobati penyakit Peyronie. Untuk obat
minum, dokter akan meresepkan pentoxifylline selama beberapa
bulan, untuk mengurangi jaringan parut di penis pasien.
 Bedah
Prosedur ini akan dijalankan pada kondisi penyakit Peyronie
yang parah, misalnya sampai membuat pasien tidak bisa
berhubungan intim. Bedah belum dianjurkan bila kondisi tersebut
belum berlangsung 1 tahun dan kelengkungan penis masih terus
berubah dalam waktu 6 bulan.
1.2. Scrotum/testis
a. Hidrokel
Hidrokel merupakan penumpukan cairan berbatas tegas yang
berlebihan di antara lapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis.
Dalam keadaan normal, cairan yang berada di dalam rongga itu memang
ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh
sistem limfatik di sekitarnya.
Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena
belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran
cairan peritoneum ke prosesus vaginalis atau belum sempurnanya sistem
limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel.
Pada orang dewasa, hidrokel dapat ter(adi secara idiopatik (primer) dan
sekunder. Penyebab sekunder dapat terjadi karena didapatkan kelainan
pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem
sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Kelainan pada testis itu
mungkin suatu tumor, injeksi, atau trauma pada testis/epididimis.
Kemudian hal ini dapat menyebabkan produksi cairan yang berlebihan
oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus
spermatikus.
Prosesus vaginalis masih mungkin mengalami obliterasi sempurna
setelah bayi berumur 2 tahun. Pembedahan dilakukan setelah regresi
spontan tidak dapat diharapkan  pada umur tersebut di atas dan hidrokel
telah menimbulkan keluhan. Prosedur   bedah yang dilakukan adalah
ligasi tinggi prosesus vaginalis peritoneum, seperti pada prosedur
herniotomi.
b. Torsio testis
Torsio testis merupaka keadaan terpuntirnya funikulus spermatikus
sehingga mengakibatkan terhentinya aliran darah yang mendarahi testis.
Nyeri sesisi pada skrotum dengan onset yang tiba tiba biasanya
merupakan gejala yang mengindikasikan torsio testis karena diperkirakan
sekitar setengah dari angka kejadian torsio testis diawali dengan nyeri
testis.
Penyebab dari keadaan torsio yaitu tidak adekuatnya fiksasi dari
testis dan epididymitis ke skrotum atau dikenal dengan istilah bell clapper
deformity. Bell clapper deformity adalah satu-satunya kelainan anatomi
yang menjadi faktor risiko kejadian torsio testis. Namun, belum diketahui
secara pasti apakah keadaan ini berkaitan dengan kelainan perkembangan
embrional dari skrotum, funikulus spermatikus, dan testis atau berkaitan
mesorchium yang panjang atau kriptokismus testis.
Tindakan pertama yang harus dilakukan dalam tatalaksana torsio
testis adalah dengan cara detorsi testis baik secara manual maupun
operatif. Dalam rangka untuk menyelamatkan testis, perbaikan torsio
harus dilaksanakan dalam waktu 6 jam setelah onset. Apabila tindakan
terlambat, risiko kematian jaringan akan meningkat sehingga perlu
dilakukan orchiectomy dan menurunkan fertilitas.
c. Kelainan prostat
 Prostatitis
Prostatitis merupakan peradangan pada kelenjar prostat yang bisa
terjadi tiba-tiba (akut) atau berkembang secara bertahap dalam waktu
yang lama (kronis). Prostatitis biasanya ditandai dengan nyeri dan
kesulitan buang air kecil. Prostatitis bakteri akut disebabkan oleh
infeksi bakteri pada kelenjar prostat. Jenis bakteri yang memicu
prostatitis sama dengan bakteri penyebab infeksi saluran kemih
dan infeksi menular seksual (Esherichia coli, Pseudomonas,
Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis). Jenis bakteri
penyebab prostatitis bakteri kronis sama dengan prostatitis bakteri
akut. Bedanya, prostatitis bakteri akut muncul dan bertambah
parah dalam waktu singkat, sedangkan prostatitis bakteri kronis
berkembang dengan lambat dalam waktu beberapa bulan.
Prostatitis bakteri kronis juga dapat dipicu oleh penyakit lain,
seperti penyakit ginjal, TBC (tuberkulosis), HIV, dan sarkoidosis.
Gejala prostatitis bisa ringan hingga berat, tergantung pada
jenis prostatitisnya (Demam; Menggigil; Aliran urine melemah;
Urine berbusa dan berbau tidak sedap; Terdapat darah dalam urine
atau sperma; Terus-menerus merasa ingin buang air kecil atau
malah sulit buang air kecil; Sering buang air kecil di malam hari
(nokturia); Nyeri saat buang air kecil, buang air besar, atau
ejakulasi; Nyeri di perut, pangkal paha, penis, testis, perineum
(area antara pangkal testis dan anus), atau punggung bawah).
Obat-obatan yang diresepkan dokter untuk mengatasi
prostatitis antara lain: (1) Antibiotik, untuk mengatasi prostatitis
yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Antibiotik bisa diberikan
dalam bentuk obat minum atau suntik (2) Penghambat alfa, untuk
meredakan nyeri dan penyumbatan yang terjadi saat buang air
kecil (3) Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), untuk
mengurangi peradangan.
 Benign Prostate Hyperplasia (BPH)
BPH adalah tumor jinak yang sebagian besar terjadi pada pria,
dan timbulnya berkaitan dengan usia. Prevelensi histologi BPH
pada studi bedah meningkat dari 20% pada pria usia 41-50 tahun,
50% pada pria usia 51-60 tahun dan lebih dari 90% pada pria usia
lebih dari 80 tahun.
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab
terjadinya BPH, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa
BPH erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihydrotestosterone
(DHT) dan proses penuaan.
Manifestasi klinis timbul akibat peningkatan intrauretra yang
pada akhirnya dapat menyebabkan sumbatan aliran urine secara
bertahap. Meskipun manifestasi dan beratnya penyakit bervariasi,
tetapi ada beberapa hal yang menyebabkan penderita datang
berobat, yakni adanya LUTS. Untuk menilai tingkat keparahan
dari LUTS, bebeapa ahli/organisasi urologi membuat skoring yang
secara subjektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien. Sistem
skoring yang dianjurkan oleh WHO adalah International Prostatic
Symptom Score (IPSS). Sistem skoring IPSS terdiri atas tujuh
pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan LUTS dan satu
pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Dari
skor tersebut dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat,
yaitu Ringan : skor 0-7 Sedang : skor 8-19 Berat : skor 20-35.
Gejala pada saluran kemih bagian atas Keluhan dapat berupa
gejala obstruksi antara lain, nyeri pinggang, benjolan di pinggang
(hidronefrosis) dan demam (infeksi, urosepsis).
 Keganasan/CA Prostat
Kanker prostat merupakan suatu penyakit kanker yang
menyerang kelenjar prostat dengan sel-sel prostat, tumbuh secara
abnormal dan tidak terkendali, sehingga mendesak dan merusak
jaringan sekitarnya yang merupakan keganasan terbanyak diantara
sistem urogenitalia pada pria. Kanker ini sering menyerang pria
yang berumur di atas 50 tahun, diantaranya 30% menyerang pria
berusia 70- 80 tahun dan 75% pada usia lebih dari 80 tahun.
Kanker ini jarang menyerang pria berusia di bawah 45 tahun.
Keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary
tract symptom (LUTS) terdiri atas gejala obstruksi dan gejala
iritasi. Gejala obstruksi disebabkan oleh karena penyempitan
uretara pars prostatika karena didesak oleh sel kanker prostat yang
membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup
kuat dan atau cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus.
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaris
yang tidak sempurna saat miksi atau disebabkan oleh karena
hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran sel kanker prostat
menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering
berkontraksi meskipun belum penuh.
Tindakan penanganan terhadap kanker prostat yang perlu
diperhatikan faktor – faktor yang berhubungan dengan prognosis
kanker prostat yang dibagi kedalam dua kelompok yaitu faktor –
faktor prognostik klinis dan patologis kanker prostat. Faktor
prognostik klinis adalah faktor – faktor yang dapat dinilai melalui
pemeriksaan fisik, tes darah, pemeriksaan radiologi dan biopsi
prostat. Faktor klinis ini sangat penting karena akan menjadi acuan
untuk mengidentifikasi karakteristik kanker sebelum dilakukan
pengobatan yang sesuai. Sedangkan faktor patologis adalah faktor
– faktor yang memerlukan pemeriksaan, pengangkatan dan
evaluasi kesuruhan prostat. Pasien dianjurkan untuk dilakukan
operasi radikal prostatektomi dan kemudian jaringan prostat
dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. Radikal prostatektomi
adalah prosedur bedah standar yang mengangkat prostat dan vesika
seminalis. Prognosis pasien yang melakukan radikal prostatektomi
tergantung dengan gambaran patologis spesimen prostat.