Anda di halaman 1dari 3

NAMA : YULIANA

NIM : 859493589
PRODI : PGSD

Diskusi sesi 7

Dalam pembahasan diuraikan bagaimana situasi dunia saat ini yang penuh dengan ketidak adilan.
Kenyataan menunjukkan bahwa saat ini dimana terorisme, penyiksaan, konflik bersenjata yang diakhiri
pembunuhan massal terus berlangsung.Kondisi yang antagonis ini menimbulkan pertanyaan, apakah
gunanya semua proklamasi universal hak-hak asasi manusia?

Dari kondisi ini apa dan bagaimana sebaiknya kita mencari jalan keluar agar dapat membantu terjadinya
penyiksaan, konflik bersenjata diakhiri, bahkan pembunuhan masal yang terus berlangsung.

Sampaikan pendapat Anda dalam diskusi ini. Agar menambah wawasan dalam ilmu pengetahuan,
khususnya tentang Hak Asasi manusia.

Jawab :
Kewajiban negara menyangkut HAM diwujudkan dengan melindungi HAM setiap individu dari
penyalahgunaan kekuasaan negara, menjamin eksistensi HAM setiap individu dalam ketentuan
hukum maupun di dalam pelaksanaannya dan memenuhi HAM setiap individu. Misalnya
terhadap hak untuk tidak disiksa (right not to be tortured), negara harus membuat aturan hukum
yang melarang praktik-praktik penyiksaan untuk melindungi setiap individu dari tindak
penyiksaan. Negara juga harus menjamin bahwa setiap individu harus bebas dari tindak
penyiksaan. Negara juga harus benar-benar memenuhi hak untuk tidak disiksa secara nyata.

Peranan dari pemerintah atau negara sendiri memanglah sangat penting untuk dapat menegakkan
hak untuk disiksa dalam suatu kondisi atau keadaan tertentu di negara tersebut, tetapi terkadang
dalam situasi ketegangan dalam negari, aparat keamanan pemerintah mempunyai diskresi atau
wewenangn untuk kemungkinan untuk menggunakan used of force (tindakan kekerasan), bahkan
ada kemungkinan menghadapi masyarakata yang melakukan violence (tindakan kekerasan) atau
mungkin armed violence (kekerasan bersenjata). Oleh karena itu kerugian atau penderitaan
akibat situasi demikian dapat dialami, tidak saja oleh pihak-pihak yang menyebabkan gangguan
keamanan tersebut, tetapi juga bisa dialami oleh mereka yang sudh tidal terlibat lagi maupun
yang sebenarnya tidak terlibat dalam persitiwa tersebut.
Berkaitan dengan perlindungan para korban tindak kekerasan pada waktu situasi kekerasan dan
ketegangan dalam negeri ini, hukum nasional dan hukum HAM berlaku menetapkan kewajiban
para aparat negara untuk memperlakukan orang-orang yang ditahan atau korban lainnya untuk
diperlakukan secara manusiawi, sebagaimana ditegaskan di atas dalam Pasal 4 CAT. Ada
kesamaan tujuan antara perjanjian-perjanjian internasional dengan perjanjian internasional di
bidang HAM, yaitu untuk memberi perlindungan kepada manusia. Berbeda dengan hukum
humaniter internasional, perlindungan HAM hanya diberlakukan pada waktu damai dan dapat
dikecualikan oleh negara jikalau pada waktu darurat terdapat ancaman terhadap kehidupan
bangsa. Tetapi, aturan-aturan yang dapat mengecualikan perlindungan HAM tidak dapat
diberlakukan terhadap perlindungan penghormatan HAM fundamental (HAM pokok) yanga
menjamin penghomatan integitas fisik dn mental setiap manusia dan salah satunya adalah
perlindungan dalam larangan penyiksaan.

Bagi operasi militer yang dilakukan bukan sebagai operasi perang, dan dilakukan untuk
mengatasi gangguan keamanan atau ketegangan dalam negeri, penerapan hukum humaniter
internasional bukanlah suatu kewajiban. Namun demikian, aturan-aturan hukum humaniter
initernasional dapat digunakan secara analogi untuk menerapkan hukum nasional dan HAM yang
harus diberlakukan setiap waktu. Bagi korban, penggunaan hukum humaniter internasional
secara demikian dapat bermanfaat untuk mengurangi korban dan penderitaan akibat penggunaan
tindankan kekerasan yang mungkin terjadi. Bagi aparat, penerapan hukum humaniter
internasional demikian juga dapat bermanfaat untuk menghindari aparat dari penggunaan
tindakan keras yang berlebihan dan untuk mencegah tuduhan pelanggaran hukum, termasuk
sekiranya operasi tersebut ternyata di kemudian hari dinilai sebagai operasi perang. negara
Republik Indonesia, telah memberikan perhatian terhadap perlindungan Hak asasi manusi di
Indonesia dengan mengeluarkan undang-undang No. 39 thun 1999 tentang Hak asasi manusia,
penyiksaan termasuk dalam kejahatan hak asasi manusia yang dimuat dalam Pasal 1 angka 4 dan
lebih secra eksplisit dalam hukum nasional Indonesia Undang-Undang HAM menyatakan bahwa
Pasal 4 “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebesan, …. adalah hak asasi manusia
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun” . Indonesia telah
meratifikasi berbagai konvensi mengenai hak asasi manusia menunjukkan betapa pedulinya
bangas Indonesia untuk meberikan perlindungan bagi rakyat dalam hal hak-hak asasi manusia
terlebih hak asasi manusia yang sangat fundamental. Terjadinya suatu konflik bersenjata dalam
negara Indonesia berlaku atas aturan hukum nasional yang telah mengaturnya.

Banyak beragam kasus pelanggaran hak asasi manusia salah satunya adalah penyiksaa di
berbagai negara, tiap negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing atas
terjadinya berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia terutama dalam hal kasus penyiksaan.
Terkadang penyiksaan dapat sampai terjadi pada kasus lebih kejam yakni pembunuhan.
Ketegasan bahwa aturan hukum humaniter internasional ditujukan diberlakukan pada situasi
sengketa bersenjata internasional jelas termuat dalam Konvensi-konvensi Jenewa 1949. Adapun
ketentuan-ketentun dalam Konvensi Jenewa 1949 yang dengan tegas menyatakan wajib berlaku
untuk sengketa bersenjata yang tidak bersifat internsional adalah ketentuan yang termuat dalam
Pasal 3 Konvensi-konvensi Jenewa 1949, yang dikenal dengan aturan hukum humaniter
internasional yang paling inti/ standar minimum humaniter. Aturan ini merupakan aturan yang
berlaku pada semua jenis konflik bersenjata, antaralain mengatur kewajiban para pihak yang
berkonflik untuk memberikan perlakuan yang manusiawi kepada para korban serta memberikan
kesempatakan ekpada para korban untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, termasuk dengan
memungkinkan mereka memperoleh bantuan kemanusian yang diperlukan dari pihak-pihak
neteral yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Apapun situasi yang terjadi dalam suatu
negara baik dalam keadaan perang sekalipun tidak ada pembenaran untuk menggunakan
tindakan kekerasan yang berlebihan atau adanya tindakan pengurangan hak dasar dari manusia
salah satunya adalah larangan penyiksaan, ada aturan tersendiri yang mengatur untuk masalah
penyelsaian atau tata cara dalam kondisi sengketa bersenjata internasional bahkan dalam
ketegangan nasional aturan hukum nasional pun tetap untuk ditegakkan demi penghormatan
terhadap hak-hak dasar manusia.

Anda mungkin juga menyukai