Anda di halaman 1dari 25

KEPERAWATAN ANAK II

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS DENGUE


HAEMORRHAGIC FEVER

OLEH :

1. Kadek Deta Andri Riady (17C10171)


2. A.A Gde Wahyu Sparsayoga (17C10182)
3. Putu Jenirian Brahmawido S (17C10199

SARJANA KEPERAWATAN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
TAHUN 2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karna atas segala
rahmatNYA dan kerja keras penulis sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak
lupa penulis juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari semua pihak yang telah
membantu dengan memberikan sumbangan baik materi ataupun masukannya.

Dan harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca untuk ke depannya agar dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah ini agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, penulis meyakini makalah


ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan dimasa yang akan datang. Akhir kata
penulis mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini.

Denpasar, 26 April 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................4

I. Latar Belakang…………………………………………………………………………….4

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………… ……..5

1.3 Tujuan……………………………………………………………………………………….5

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................6

2.1 pengertian DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER……………………………….......….........8

2.2 Etiologi DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER ………………………………....…..............8

2.3 Patofisiologi DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER ……………………………………...9

2.4 klasifikasi DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER..........................................................9-10

2.4 Manifestasi klinis DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER ………………………....…..10

2.5 Pemeriksaan penunjang DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER ...…………..………….10

2.6 Penatalaksanaan medis DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER ………………………10-11

2.7 WOC DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER ……………………………….........................12

2.8 Asuhan Keperawatan pada anak dengan DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER


...........................10

BAB III PENUTUP......................................................................................................................27

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………...27

3.2 Saran……………………………………………………………………………………….27

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................28

iii
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar belakang
Usia secara jelas mendefinisikan karakteristik yang memisahkan anak-anak dari
orang dewasa. Namun, mendefinisikan anak-anak dari segi usia dapat menjadi
permasalahan besar karena penggunaan definisi yang berbeda oleh beragam
negara dan lembaga internasional. (WHO , 2003) . Anak-anak sebagai orang yang
berusia di bawah 20 tahun. Sedangkan The Conventionon the Rights of the Child
mendefinisikan anak-anak sebagai orang yang berusia di bawah 18 tahun.
( Department of Child and Adolescent Health andDevelopment , 2006) Dalam
kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu,yaitu pertumbuhan
dan perkembangan. Banyak orang yang menggunakan istilah “pertumbuhan” dan
“perkembangan” secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung secara
interdependensi, artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini tidak
bisa dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri sendiri sendiri,
akan tetapi bias dibedakan untuk maksud lebih memperjelas
penggunaannya. Dalam hal ini kedua proses tersebut memiliki tahapan-tahapan
diantaranya tahap secara moral dan spiritual.
Karena pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dilihat dari tahapan tersebut
memiliki kesinambungan yang begitu erat dan penting untuk dibahas maka kita
meguraikannya dalam bentuk struktur yang jelas baik dari segi teori sampai
kaitannya dengan pengaruh yang ditimbulkan. Penanggulangan demam berdarah
secara umum di tujukan
pada pemberantasan rantai penularan dengan memusnahkan pembawa virusnya 
(vektornya) yaitu nyamuk Aedes Aegypty dengan memberantas
sarang perkembangbiakan
nya yang umunya ada di air bersih yang tergenang di permukaan tanah maupun di 
tempat-tempat penampungan air, melakukan program 3M ( menutup, menguras,
mengubur) (WHO 2004).Dari data yang diperoleh, kasus DBD di dki jakarta
menurun selamatiga tahun terakhir, secara signifikan. Dinas Kesehatan (Dinkes)
DKI Jakartamenyebutkan, penurunan terjadi hingga tiga tahun terakhir. Pada
tahun 2007, jumlah kasus DBD mencapai 31.836 kasus. Jumlah itu
mengalami penurunandi tahun 2008 yang hanya mencapai 28.361 kasus. Pada
2009 penurunannyasangat signifikan hanya menyisakan 18.835 kasus. Di tahun
2010, jumlahkasus DBD kian menyusut menjadi 12.639 kasus.Data Kementerian
Kesehatan RI tahun 2010 menunjukkan, jumlahkasus DBD di DKI sebesar 18.006
kasus, dengan tingkat kejadian rata-rata(incidence rate/IR) sebesar 202,4 per
100.000 penduduk. Angka tersebut jauhdi atas target nasional, yaitu 150
per 100.000 penduduk. Untuk tahun 2011 hingga bulan Mei kasus DBD tercatat
sebanyak3.603 kasus. Dengan rincian Jakarta Timur 941 kasus, Jakarta Selatan
720kasus, Jakarta Barat 661 kasus, Jakarta Utara 961 kasus, Jakarta Pusat
314kasus, dan Kepulauan Seribu 6 kasus. Peran perawat untuk mengatasi penyakit
DBD dengan cara

4
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Promotif yaitu memberi penyuluhan
kesehatan tentang penyakit DBD dan penanggulangannya, preventif yaitu untuk
mencegah terjadinya DBD dengan cara merubah kebiasaan hidup sehari-hari
melalui tidak menggantung pakaian yang sudah di pakai,menjaga kebersihan
lingkungan dan penampungan air, kuratif yaitu untuk memenuhi cairan tubuh
sesuai dengan kebutuhan, serta mengkonsumsi minuman yang dapat
meningkatkan trombosit seperti jus kurma dll. Dariaspek rehabilitatif perawat
berperan memulihkan kondisi klien dan menganjurkan klien untuk kontrol
kembali kerumah sakit bila keluhantimbul kembali.

I.2 Rumusan masalah


1. Apa pengertian DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER ?
2. Bagaimana etiologi DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER?
3. Bagaimana patofisiologi DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER?
4. Bagaimana klasifikasi dari DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER?
5. Bagaimana manifestasi klinis DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER?
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari DENGUE
HAEMORRHAGIC FEVER?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis dari DENGUE HAEMORRHAGIC
FEVER?
8. Bagaimana komplikasi dari DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER?
9. Bagaimana WOC dari DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan DENGUE
HAEMORRHAGIC FEVER?

I.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER.
2. Untuk mengetahui etiologi dari DENGUE HAEMORRHAGIC
FEVER.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari DENGUE HAEMORRHAGIC
FEVER.
4. Untuk mengetahui klasifikasi dari DENGUE HAEMORRHAGIC
FEVER.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis DENGUE HAEMORRHAGIC
FEVER.
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari DENGUE
HAEMORRHAGIC FEVER.

5
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dari DENGUE
HAEMORRHAGIC FEVER.
8. Untuk mengetahui komplikasi dari DENGUE HAEMORRHAGIC
FEVER.
9. Untuk mengetahui WOC DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER.
10. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan DENGUE
HAEMORRHAGIC FEVER

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 pengertian

1. Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkanoleh


virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masukkedalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty(Nursalam, dkk.
2010)
2. Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat padaanak
dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dannyeri sendi
yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yangtergolong arbo
virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitannyamuk aedes
aegypty (betina) (Hidayat, 2016)
3. Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut
yangdisebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes
aegypty(Suriadi. 2010)
4. DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus)yang
masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
(Suryady,2011,hal 57)
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue
haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue

6
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anakdan
orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendiyang disertai
ruam atau tanpa ruam.

2.2 Etiologi
Dengue haemoragic Fever (DHF) disebabkan oleh arbovirus(Arthopodborn Virus)
dan ditularkan melalui gigitan nyamuk AedesAegepthy. Virus Nyamuk aedes
aegypti berbentuk batang, stabil pada suhu 37 derajat celcius. Adapun ciri-ciri
nyamuk penyebar demam berdarah menurut(Nursalam ,2008) adalah :
1. Badan kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih
2. Hidup didalam dan sekitar rumah
3. Menggigit dan menghisap darah pada waktu siang hari
4. Senang hinggap pada pakaian yang bergantung didalam kamar
5. Bersarang dan bertelur digenangan air jernih didalam dan sekitar rumah
seperti bak mandi
2.3 Patofisiologi
Virus dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes
aegyptydimana virus tersebut akan masuk ke dalam aliran darah, maka
terjadilahviremia (virus masuk ke dalam aliran darah). Kemudian akan
bereaksidengan antibody dan terbentuklah kompleks virus antibody yang
tinggiakibatnya terjadilah peningkatan permeabilitas pembuluh darah karenareaksi
imunologik. Virus yang masuk ke dalam pembuluh darah danmenyebabkan
peradangan pada pembuluh darah vaskuler atau terjadivaskulitis yang mana akan
menurunkan jumlah trombosit (trombositopenia)dan factor koagulasi merupakan
factor terjadi perdarahan hebat. Keadaanini mengkibatkan plasma merembes
(kebocoran plasma) keluar
dari pembuluh darah sehingga darah mengental, aliran darah menjadi lambatsehin
gga organ tubuh tidak cukup mendapatkan darah dan terjadi hipoksia jaringan.
Pada keadaan hipoksia akan terjadi metabolisme anaerob , hipoksia danasidosis
jaringan yang akan mengakibatkan kerusakan jaringan dan bilakerusakan jaringan
semakin berat akan menimbulkan gangguan fungsiorgan vital seperti jantung,
paru-paru sehingga mengakibatkan hipotensi ,hemokonsentrasi , hipoproteinemia,
efusi pleura, syok dan dapatmengakibatkan kematian. Jika virus masuk ke dalam
sistem gastrointestinalmaka tidak jarang klien mengeluh mual, muntah dan
anoreksia.Bila virus menyerang organ hepar, maka virus dengue tersebut
menganggusistem kerja hepar, dimana salah satunya adalah tempat sintesis dan
osidasilemak. Namun, karena hati terserang virus dengue maka hati tidak
dapatmemecahkan asam lemak tersebut menjadi bahan keton,
sehinggamenyebabkan pembesaran hepar atau hepatomegali, dimana
pembesaranhepar ini akan menekan abdomen dan menyebabkan distensi
abdomen. Bilavirus bereaksi dengan antbody maka mengaktivasi sistem koplemen

7
ataumelepaskan histamine dan merupakan mediator factor
meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah atau terjadinya demam
dimana dapatterjadi DHF dengan derajat I,II,III, dan IV

2.4 klasifikasi
Berdasarkan standar WHO (2002), DHF dibagi menjadi empat derajatsebagai
berikut:
1. Derajat I :Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji
turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II :Seperti derajat I namun di sertai perdarahan spontan di kulitdan
atau perdarahan lain.
3. Derajat III :Ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya nadi
cepat danlemah, tekanan darah menurun disertai kulit dingin, lembab
dangelisah.
4. Derajat IV :Renjatan berat dengan nadi tidak teratur dan tekanan darah
yang tidakdapat diukur.

2.5 Manifestasi klinis


Menurut Nursalam, 2008 tanda dan gejala penyakit DHF antara lain
1. Demam tinggi selama 5 – 7 hari
2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie,
echymosis,hematoma.
4. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
5. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
6. Sakit kepala.
7.  Perdarahan
8. Pembengkakan sekitar mata.
9. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
10. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan
darahmenurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat
danlemah)

2.6 Pemeriksaan penunjang / diagnostic


Menurut nursalam,2008
1. Darah lengkap : hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20 % ataulebih),
trombositopenia (100.000/mmᵌ atau kurang)
2. Serologi : uji HI (hemoagutination inhibition test).
3. Rontgen thoraks : effusi pleura

8
2.7 Penatalaksanaan medis
1.Terapi
 a. DHF tanpa rejatanPada pasien dengan demam tinggi , anoreksia dan sering
muntahmenyebabkan pasien dehidrasi dan haus, beri pasien minum 1,5sampai 2
liter dalam 24 jam. Dapat diberikan teh manis, sirup, susudan bila mau lebih baik
diberikan oralit. Apabila hiperpireksiadiberikan obat anti piretik dan kompres air
biasa.Jika terjadi kejang, beri luminal atau anti konvulsan lainnya.
Luminal diberikan dengandosis anak umur kurang dari 1 tahun 50 mg/ IM , anak
lebih dari 1tahun 75 mg. Jika 15 menit kejang belum berhenti luminaldiberikan
lagi dengan dosis 3mg / kg BB. Anak diatas satu tahundiberikan 50 mg dan
dibawah satu tahun diberikan 30 mg, denganmemperhatikan adanya depresi
fungsi vital. Infus diberikan
pada pasien tanpa ranjatan apabila pasien terus menerus muntah , tidakdapat
diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasidan hematocrit yang
cenderung meningkat. 
b. Pasien yang mengalami rajatan (syok) harus segera dipasang infussebagai
pengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma.Cairan yang diberikan
biasanya Ringer Laktat. Jika pemberiancairan tersebut tidak ada respon maka
dapat diberikan plasma atau plasma akspander, banyaknya 20 sampai 30 ml/kg
BB. Pada pasien rajatan berat pemberian infus diguyur dengan caramembuka
klem infus tetapi biasanya vena-vena telah kolapssehingga kecepatan tetesan tidak
mencapai yang diharapkan, makauntuk mengatasinya dimasukkan cairan secara
paksa dengan spuitdimasukkan cairan sebanyak 200 ml, lalu diguyur.
2. Tindakan Medis yang bertujuan untuk pengobatan
Keadaan dehidrasi dapat timbul akibat demam tinggi, anoreksia, danmuntah. Jenis
minuman yang diajurkan adalah jus buah, the manis,sirup, susu, serta larutan
oralit. Apabila cairan oralit tidak dapatdipertahankan maka cairan IV perlu
diberikan. Jumlah cairan yangdiberikan tergantung dari derajat dehidrasi dan
kehilangan elektrolit,dianjurkan cairan dextrose 5% di dalam 1/3 larutan NaCl
0,9%. Bilaterdapat asidosis dianjurkan pemberian NaCl 0,9 % +dextrose ¾ bagian
natrium bikarbonat.Kebutuhan cairan diberikan 200 ml/kg BB , diberikan secepat
mungkindalam waktu 1-2 jam dan pada jam berikutnya harus sesuai dengantanda
vital, jadar hematocrit, dan jumlah volume urine. Untukmenurunkan suhu tubuh
menjadi kurang dari 39°C perlu diberikan anti piretik seperti paracetamol dengan
dosis 10-15 mg/kg
BB/hari. Apabila pasien tampak gelisah, dapat diberkan sedative untuk menenang
kan pasien seperti kloral hidrat yang diberikan peroral/ perektal dengandosis 12,5-
50 mg/kg BB (tidak melebihi 1 gram) . Pemberian antibioticyang berguna dalam
mencegah infeksi seperti Kalmoxcilin, Ampisilin,sesuai dengan dosis yang
ditemukan.Terapi O2 2 liter /menit harus diberikan pada semua
pasiensyok.Tranfusi darah dapat diberikan pada penderita yang

9
mempunyaikeadaan perdarahan nyata, dimaksudkan untuk menaikkan
konsentrasisel darah merah.Hal yang diperlukan yaitu memantau tanda-tanda
vitalyang harus dicatat selama 15 sampai 30 menit atau lebih sering dandisertai
pencatatan jumlah dan frekuensi diuresis.

2.8 Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit Dengue Hemoragic Fever menurut( Hidayat
Alimul , 2008) diantaranya:
1. EnsepalopatiSebagai komplikasi syok yang berkepanjangan dengan
perdarahan dankemungkinan dapat disebabkan oleh thrombosis pembuluh
darah keotak.
2. Syok (renjatan)Karena ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sehingga
dapat terjadisyok hipovolemik.
3. Efusi PleuraAdanya edema paru akibat pemberian cairan yang berlebihan
dengantanda pasien akan mengalami distress pernafasan.
4. Perdarahan intravaskuler menyeluruh.

2.9 WOC

2.10 Asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan TORCH


Pengkajian

10
1. Identitas pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak de
nganusia kurang dari 15 tahun) , jenis kelamin, alamat,
pendidikan, namaorang tua, pendidikan orang tua, dan
pekerjaan orang tua.
Keluhan utama : alasan/keluhan yang menonjol pada pasien
DHF untuk datang ke rumah sakit adalah panas tinggi dan anak
lemah
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat Kesehatan sekarang : keluhan pasien saat ini
b. Riwayat Kesehatan masa lalu : Penyakit apa saja yang
pernah diderita sebelumnya.
c. Riwayat imunisasi : Apabila anak mempunyai kekebalan
yang baik, maka kemungkinanakan timbulnya koplikasi
dapat dihindarkan.
d. Riwayat gizi : Status gizi anak DHF dapat bervariasi.
Semua anak dengan status
gizi baik maupun buruk dapat beresiko , apabila terdapat fa
ctor predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering
mengalami keluhan mual, muntah dan tidak nafsu
makan.Apabila kondisi berlanjut dan tidak disertai dengan
pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat
mengalami penurunan berat badan sehingga status
gizinya berkurang.
e. Kondisi lingkungan : Sering terjadi di daerah yang padat
penduduknya dan lingkungan yangkurang bersih ( seperti
air yang menggenang atau gantungan baju di kamar)
3. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik, meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi, dari ujung


rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik
anak adalah sebagai berikut :

11
a. grade I kesadaran compos mentis, keadaan umum lemah, tanda tanda vital
dan nadi lemah.
b. grade II kesadaran compos mentis
,keadaan umum lemah, ada perdarahan spontan: ptekie, perdarahan gusi da
n telinga, serta nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
c. grade III kesadaran apatis,somnolen ,keadaan umum lemah, nadi
lemah, kecil, dan tidak teratur, sertatensi menurun.
d. grade IV kesadaran coma, tanda-tanda vital nadi tidak teraba, tensi tidak
terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas dingin, berkeringat, dan kulit
tampak biru.
1. System integument
adanya ptekie pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul
keringatdingin, dan lembab, kuku sianosis/tidak.
2. Kepala dan leher
kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy),mata
anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epsitaksis) pada grade
II,III,IV pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering,
terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan. sementara tenggorokan
mengalami hiperemia pharingdan terjadi perdarahan telinga pada grade
II,III,IV.
3. Dada
Bentuk simetris dan kadang kadang terasa sesak, pada foto thorax terdapat
adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura),rales,
ronchi yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.
4. Abdomen
Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegaly) dan asites.
5. Ekstremitas
Akral teraba dingin serta terjadi nyeri otot,sendi,tulang.

4. Pola kebiasaan
a. Nutrisi dan metabolisme: frekuensi, jenis, pantangan nafsu
makan berkurang/menurun
b. Eliminasi alvi / buang air besar : kadang-kadang anak
mengalami diare atau konstipasi. Sementara DHF pada
grade III- IVsering terjadi hematuria.
c. Eliminasi urine (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering
kencing, sedikit/banyak, sakit/tidak. pada DHF grade IV
sering terjadi hematuria.

12
d. tidur dan istirahat : anak sering mengalami kurang tidur
karena mengalami sakit/nyeri otot dan persendian sehingga
kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.
e. Kebersihan: upaya keluarga untuk menjaga
kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang terutama 
untuk membersihkan tempat sarang nyamuk
f. perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta
upaya untuk menjaga kesehatan

5. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


a. Deficit pengetahuan b/d kurang terpapar informasi
b. Ansietas b/d kurang terpapar informasi
c. Ketidak efektifan pola nafas b/d pola nafas abnormal
d. Termoregulasi tidak efektif b/d gangguan kongggulasi
( trombositopenia)
e. Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer b/d penurunan
nadi perifer
f. Resiko ketidakseimbangan cairan b/d pendarahan
g. Hipertermi b/d proses penyakit (virus dalam darah)
h. Nyeri akut b/d agen pecedera fisiologis
i. Resiko syok b/d kurangnya volume cairan tubuh akibat
pendarahan
j. Deficit nutrisi b/d ketidak mampuan mencerna makanan
k. Intoleransi aktifitas b/d kelemahan
6. Intervensi

No Dx Tujuan Dan Kriteria Intervensi Rasiona


. Keperawata Hasil
n
1. Deficit Setelah dilakukan O: 1. agar dapat mengetahui tanda gejala yang mu
asuhan keperawatan - 2. agar dapat mengetahui gambaran proses pe
pengetahua
selama ... x 24 jam N:
n b/d diharapkan masalah - Gambarkan 1.agar dapat mengatahui perubahan gaya hidup
teratasi dengan tanda dan 1. agar pasien dapat memilih terapi atau penan
kurang
kriteria hasil : gejala yang

13
terpapar 1. pasien dan bias muncul
keluarga pada
informasi
mampu penyakit,
menjelaskan dengan cara
kembali apa yang tepat.
yang dihelaskan - Gambarkan
perawat / tim proses
kesehatan. penyakit
yang tepat .
E:
- Diskusikan
perubahan
gaya hidup
yang
mungkin
diperlukan
untuk
mencegah
komplikasi
dimasa
hyang akan
dating dan
atau proses
pengontrola
n penyakit.
C:
- Diskusikan
pilihan
terapi atau
penanganan
.

2. Ansietas b/d Setelah dilakukan O: 1.agar dapat mengetahui perubahan pada tingk
asuhan keperawatan - Identifikasi 2. agar pasien mampu mengambil keputusan
kurang
selama ... x 24 jam saat tingkat
terpapar diharapkan masalah ansietas 1.agar mengetahui situasi yang dapat menyeba
teratasi dengan berubah. 2.agar dapat memberikan kenyamanan pada pa
informasi
kriteria hasil : - Identifikasi
1. Vital sign dalam kemampuan 1.agar klien tidak merasa sendiri
batas normal. mengambil 2.agar klien mengetahui prosedur yang akan d
2. Postur tubuh, keputusan.
ekspresi wajah, N : 1.agar ansietas cepat tertangani
bahasa tubuh - Pahami
dan tingkat situasi yang
aktivitas membuat
menunjukkan ansietas.
berkurangnya - Tempatkan
kecemasan barang

14
pribadi
yang
memberika
n
kenyamana
n.
E:
- Anjurkan
keluarga
untuk tetap
bersama
pasien (jika
perlu).
- Jelaskan
prosedur
atau sensasi
yang
mungkin
dialami.
C:
- Kolaborasi
pemberian
obat
ansietas bila
perlu.

3. Ketidak Setelah dilakukan O: 1.untuk mengetahui apakah ada pola pernafasa


asuhan keperawatan - Monitor 2. untuk mengetahui frekuensi irama nafas
efektifan
selama ... x 24 jam pola
pola nafas diharapkan masalah pernafasan 1.untuk memberikan kenyamanan pada klien
teratasi dengan abnormal. 2.agar klien merasa nyaman
b/d pola
kriteria hasil : - Monitor 3.untuk membantu menangani pola nafas tidak
nafas 1. Ttv dalam frekuensi
rentang normal dan irama 1.agar tidak terjadi dehidrasi
abnormal
(tekanan darah, pernafasan. 2.agar pasien bisa batuk dengan benar
nadi dan N:
pernafasan) - Atur posisi 1.untuk mempercepat proses keefektifan pola n
2. Frekuensi pasien
pernafasan ( semi
dalam rentang fowler/fowl
normal ( tidak er)
ada suara nafas - Beri
abnormal) minuman
hangat
- Beri
oksigen jika
perlu
E:

15
- Anjurkan
asupan
cairan
2000ml/hari
- Ajarkan
teknik
batuk
efektif
C:
- Kolaborasi
pemberian
bronkodator
,
eksprektoral
dan
mukillitil
jika perlu

4. Resiko Setelah dilakukan O: 1.untuk memantau apakah ttv klien masih dala
asuhan keperawatan - Pemantauan 2.untuk mengetahui keseimbangan antara intak
perdarahan
selama ... x 24 jam ttv.
b/d diharapkan masalah - Pemantauan 1.agar pendarahan tidak semakin parah
teratasi dengan cairan. 2.agar darah yang keluar dapat berhenti /tiak s
gangguan
kriteria hasil : - Monitor 3.untukmemperlambat pendarahan
kongggulasi 1. Tidak ada tanda tanda
hematuria dan pendarahan. 1.agar anak tetap aman
( trombosito
hematemesis. N: 2.agar kluarga klien mengetahui proses penyak
penia) 2. Tekanan darah - Pertahankan 3.untuk memperlambat pendarahan
dalam batas bed rest
normal sistol selama 1.agar anak tetap aman
dan diastole. pendarahan 2.agar klien dan keluarga mengetahu proses pe
aktif. 3.untuk memperlambat proses pendarahan.
- Lakukan
manual
pressure
(tekan pada
area
pendarahan)
.
- Gunakan
ice pack
dalam area
pendarahan.
E:
- Edukasi
keamanan
anak.
- Edukasi

16
proses
penyakit.
C:
- Pemberian
produk
darah
(platelet
atau fresh
frozen
plasma) jika
perlu.
5. Ketidak Setelah dilakukan O: - 1.untuk mengetahui apakah ada daerah
asuhan keperawatan - Monitor panas/dingin/ tajam/ tumpul.
efektifan
selama ... x 24 jam adanya 2.untuk mengetahui adanya paretese
perfusi diharapkan masalah daerah 3.untukmengetahui adanya tromboplebitis.
teratasi dengan tertentu
jaringan
kriteria hasil : yang hanya 1.untuk megetahui proses penyakit
perifer b/d 1. Tidak ada tanda peka 2.untuk engetahui proses pengobatan
tanda dengan
penurunan
peningkatan panas/dingi 1.untuk mempercepat proses penyembuhan
nadi perifer tekanan n/ tajam/
intrakranial tumpul.
(tidak lebih dari - Monitor
15mmH). adanya
2. Tekanan systole paretese.
dan diastole - Monitor
dalam rentang adanya
yang di tromboplebi
harapkan. tis.
N:
- Batasi
gerak pada
leher kepala
dan
punggung
E:
- Edukasi
proses
penyakit.
- Edukasi
program
pengobatan.
C:
- Pemberian
analgetik
jika perlu .
6. Resiko Setelah dilakukan O: 1. Untuk mengetahui status dehidrasi pasien
asuhan keperawatan - Monitor 2. Untuk mengetahui keadaan umum pasien
ketidakseim

17
bangan selama ... x 24 jam status 3. Untuk mengetahui keadaan umum pasien 
diharapkan masalah dehidrasi. 4. Untuk mengetahui intake dan output cairan
cairan b/d
teratasi dengan - Monitor ttv.5. Untuk mempertahankan intake dan output c
pendarahan kriteria hasil : N: 6. Untuk mengganti intake
1. Tidak ada tanda - Pemantauan 7. Untuk mengetahui jumlah cairan yg keluar
tanda dehidrasi. ttv. Untuk memberikan cairan melalui intravena
2. Ttv dalam batas - Pantau
normal. intake dan
outtake
cairan.
- Pertahankan
cairan
intake dan
output
cairan yang
akurat.
E:
- Berikan
penggantian
nesogatrio
sesuai
output.
- Timbang
popok jika
di perlukan.
C:
- Kolaborasi
pemberian
cairan
intravena
jika perlu.
7. Hipertermi Setelah dilakukan O: 1. Untuk mengetahui penyebab hipertermi
asuhan keperawatan - Identifikasi 2. Untuk mengetahui suhu tubuh pasien
b/d proses
selama ... x 24 jam penyebab 3. Untuk mengetahui elektrolit pasien 
penyakit diharapkan masalah hipertermia. 4. Untuk  menjaga cairan pasien
teratasi dengan - Minitor 5. Atar pasien merasa nyaman selama perawat
(virus
kriteria hasil : suhu tubuh . 6. Untuk menurunkan suruh tubuh pasien 
dalam 1. Nadi dan - Mmonitor 7. Untuk  mempertahankan kondisi pasien
respirasi kasar 8. Untuk menjaga dan mengatur cairan dan ele
darah)
dalam elektrolit.
rentang N:
normal - Berikan
2. Tidak ada cairan oral.
perubahan - Sediakan
warna kulit lingkungan
dan tidak ada yang
pusing nyaman.
- Lakukan

18
pendinginan
eksternal.
E:
- Anjurkan
tirah baring.
C:
- Kolaborasi
pemberian
cairan dwn
elektrolit
intravena
jika perlu.
8. Nyeri akut Setelah dilakukan O: 1. Untuk mengetahui lokasi, karakteristik, dura
asuhan keperawatan - Identifikasi nyeri
b/d agen
selama ... x 24 jam lokasi, 2. Untuk mmengetahui skala nyeri pasien 
pecedera diharapkan masalah karakteristi 3. Untuk mengetahui respon verbal non verbal
teratasi dengan k, durasi, 4. Untuk mengurangi rasa nyeri pasien dengan
fisiologis
kriteria hasil : frekuensi, 5. Agar pasien dapet melakukan teknik non far
1. Pasien kualitas, 6. Agar pasien dapat mengetahui penyebab ny
mampu intensitas 7. Agar pasien mengetahui strategi pereda nye
melapor nyeri.
bahwa nyeri - Indentifikas
berkurang. i skala
2. Menyatakan nyeri.
rasa nyaman - Identifikasi
setelah nyeri respon
berkurang. nyeri non
verbal.
N:
- Kontrol
lingkubgan
yang
memperber
at rasa
nyeri.
- Berikan
teknik non
farmakologi
s untuk
mengurangi
rasa nyeri
(terapi
pijat(
E:
- Jelaskan
penyebab
periode dan
pemicu

19
nyeri.
- Jelaskan
strategi
pereda
nyeri.

C:
- Kolaborasi
pemberian
analgetik.
9. Resiko syok Setelah dilakukan O: 1.untuk mengetahui suhu dan pernafasan
asuhan keperawatan - Monitor 2.untuk mengetahui keseimbangan input dan o
b/d
selama ... x 24 jam suhu dan 3.untuk mengetahui tanda awal syok
kurangnya diharapkan masalah pernafasan. 4.agar dapat memanajemen cairan
teratasi dengan - Minitor
volume
kriteria hasil : input dan 1.untuk meningkatkan preload dengan tepat
cairan tubuh 1. Nadi dalam output.
batas yang di - Monitor 1.agar kluarga tau tanda dan gejala syok
akibat
harapkan tanda awal 2.agar kluarga tau langkah menangani syok
pendarahan 2. Frekuensi nafas syok. 3.untuk dapat melakuka tindak lanjutjika terjad
dalam batas - Manajemen
yang di cairan
harapkan N:
- Tempatkan
pasien pada
posisi
supine kaki
elevasi
untuk
meningkatk
an preload
dengan
tepat.
E:
- Ajarkan
keluarga
tentang
tanda dan
gejala syok.
- Ajarkan
keluarga
tentang
langkah
mengatasi
syok
- Edukasi
dehidrasi.
C:

20
- Kolamboras
i dalam
pemberian
terapi
oksigen,
intravena
dan tranfusi
darah jika
diperlukan.
10. Deficit Setelah dilakukan O: 1.untuk mengetahui kebiasaan makan d
asuhan keperawatan - Identifikasi
nutrisi b/d
selama ... x 24 jam kebiasaan 2.untuk dapat megetahui intake dan ou
ketidak diharapkan masalah makan dan darah kenaikan bb.
teratasi dengan prilaku 1.untuk mengetahui faktor faktor yang
mampuan
kriteria hasil : makan yang gizi (misalnya usia,tahap pertumbuhan
mencerna 1. Intake dan di ubah. 2. Untuk mengetahui standar nutrisi diet y
output cairan - Monitor
makanan
seimbang. intake dan 1.untuk dapat modifikasi diet (misalnya penuru
output natrium atau cairan, pengurangan kolesterol
csiran nilai
hemoglobin 1.untuk mempercepat prosespenyeimbangannu
tekanan
darah
kenaikan
bb.
N:
- Pertimbang
kan faktor
faktor yang
mempengar
uhi
pemenuhan
kebutuhan
gizi
(misalnya
usia,tahap
pertumbuha
n dan
perkembang
an).
- Gunakan
standar
nutrisi
sesuai
program
diet dalam
mengevalua
si

21
kecukupan
asupan
makanan.
E:
- Informasika
n perlunya
modifikasi
diet
(misalnya
penurunan/
penambaha
n bb
pembatasan
natrium
atau cairan,
penguranga
n kolesterol.
C:
- Rujuk pada
ahli gizi
jika perlu.
11. Intoleransi Setelah dilakukan O: 1.untuk mengetahui respon fisik, emosi, sosial
asuhan keperawatan - Monitor
aktifitas b/d
selama ... x 24 jam respon fisik, 1.agar jadwal latihan waktu luang klien tersusu
kelemahan diharapkan masalah emosi, 2.agar mengetahui aktivitas yang mampu dilak
teratasi dengan sosial dan
kriteria hasil : spritual 1.agar klien bisa beraktivitas
1. Ttv normal N: 2.untuk mempertahankan kenyamanan klien
2. Mampu - Bantu klien
berpindah untuk 1.untuk mempercepat proses penyembuhan
dengan / tanpa membuat
bantuan jadwal
3. Mampu latihan di
melakukan waktu
aktifitas sehari - kuang.
hari ADL - Bantu klien
secara mandiri mengidentif
ikasi
aktivitas
yang
mampu di
lakukan.
E:
- Ajarkan
klien
latihan
fisik.
- Ajarkan

22
klien teknik
ambulasi.
C:
- Kolaborasi
dalam
pemberian
obat
inhalasi jika
perlu.

7. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah
status kesehatan yang di hadapi ke status kesehatan yang lebih
baik untuk menggambarkan kriteria hasil yang di harapkan.
Implementasi dilakukan berdasarkan rencanan yang telah
dibuat sesuai diagnose. Setiap kali melakukan tindakan
keperawatan hendaknya mengevaluasi tindakan tersebut
dengan evaluassi formatif.
8. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan
dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari
rencana keperawatan tercapai atau tidak. Evaluasi berpatokan
pada kriteria hasil saat merencanakan tindakan keperawatan.

23
BAB III
PENUTUP

1.1 kesimpulan
dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam
tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anakd
an orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri
sendiyang disertai ruam atau tanpa ruam.

1.2 Saran

Untuk mencapai hasil keperawatan yang di harapkan dibutuhkan


hubugan yang baik dan keterlibatan klien,keluarga dn tim
kesehatan lainya. Perawat sebagai petugs pelayanan kesehatan
hendaknya mempunyai pengetahuan,ketrampilan yang cukup serta
dapat bekerja sama dengan tim kesehatan lainya dengan
memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan DHF.
Pendidikan dan pengetahuan perawat secara berkelanjutan perlu
ditingkatkan lagi untuk memberikan asuhan keperawatan yang
maksimal kepada klien.

DAFTAR PUSTAKA

NANDA.2010.Nursing diagnosis – definition and classification


2009-2011.Jakarta:EGC
Price,styvia A Wilson 2005. Patofisiologi konsep klinis proses
proses penyakit volume 2 edisi 6 Jakarta:EGC
Soedarmo,soemarmo sunaryo poowo.2005. demam berarah pada
anak.Jakarta:universitas Indonesia
Wahidayat,iskandar.2015.ilmukesehatan anak.jakarta: info media

24
25