Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

CA PARU/ KANKER PARU

Disusun Oleh :

1. FITA WIJI S P1337420516043


2. RAHAYU DWI G P1337420516053
3. ARTIALITA HARDA P1337420516059
4. HAYUNING FANI P1337420516060
5. FIKRI DWI P1337420516068
6. ANISA SEKAR R P1337420516074
7. ROCHANAWATI ARUM P1337420516079
8. LI’ANA FATIMATUL F P1337420516083

GATOTKACA 2

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG

PRODI DIII KEPERAWATAN MAGELANG

2017
BAB 1

PENDAHULUAN

A. DEFINISI KANKER PARU

Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau
epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak
terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus
didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker
disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan
menghilangnya silia (Robbin & Kumar, 2007).

Kanker paru merupakan penyakit yang banyak dijumpai dan menjadi masalah
kesehata dunia. Dengan bertambahnya usia harapan hidup dan baiknya sarana untuk
diagnosa kanker paru, maka insiden kanker paru meningkat .

Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalm
jaringan paru-paru dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen, lingkungan, terutama asap
rokok ( Suryo, 2010).

B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO KANKER PARU

Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum
diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik
merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh,
genetik, dan lain-lain (Amin, 2006).

a. Merokok

Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan paling penting,
yaitu 85% dari seluruh kasus ( Wilson, 2005). Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan
kimia, diantaranya telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru
pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap
hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok (Stoppler,2010).
b. Perokok pasif

Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok pasif, atau
mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam ruang tertutup, dengan risiko
terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang-orang
yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru
meningkat dua kali (Wilson, 2005).

c. Polusi udara

Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi
pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian akibat kanker paru
jumlahnya dua kali lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah
pedesaan. Bukti statistik juga menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada
masyarakat dengan kelas tingkat sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang pada
mereka dengan kelas yang lebih tinggi. Hal ini, sebagian dapat dijelaskan dari kenyataan
bahwa kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung hidup lebih dekat dengan
tempat pekerjaan mereka, tempat udara kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi.
Suatu karsinogen yang ditemukan dalam udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok)
adalah 3,4 benzpiren (Wilson, 2005).

d. Paparan zat karsinogen

Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium, nikel,
polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru (Amin, 2006).
Risiko kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar
daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun
uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok.

e. Diet

Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap


betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru
(Amin, 2006).

f. Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih besar
terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa
mutasi pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul
dan berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk
juga gen-gen K-ras dan myc), dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen rb,
p53, dan CDKN2) (Wilson, 2005).

g. Penyakit paru

Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat
menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko
empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok
dihilangkan (Stoppler, 2010).

Faktor Risiko Kanker Paru

1. Laki-laki
2. Usia lebih dari 40 tahun
3. Pengguna tembakau (perokok putih, kretek atau cerutu)
4. Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif)
5. Radon dan asbes
6. Lingkungan industri tertentu
7. Zat kimia, seperti arsenic
8. Beberapa zat kimia organic
9. Radiasi dari pekerjaan, obat-obatan, lingkungan
10. Polusi udara
11. Kekurangan vitamin A dan C

C. KLASIFIKASI KANKER PARU

Kanker paru dibagi menjadi kanker paru sel kecil (small cell lung cancer, SCLC) dan
kanker paru sel tidak kecil (non-small lung cancer, NSCLC). Klasifikasi ini digunakan untuk
menentukan terapi. Termasuk didalam golongan kanker paru sel tidak kecil adalah
epidermoid, adenokarsinoma, tipe-tipe sel besar, atau campuran dari ketiganya.
a. Karsinoma sel skuamosa (epidermoid)

Merupakan tipe histologik kanker paru yang paling sering ditemukan, berasal dari
permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat
merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel
skuamosa biasanya terletak sentral di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar.
Diameter tumor jarang melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara
langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada, dan mediastinum. Karsinoma ini lebih
sering pada laki-laki daripada perempuan (Wilson, 2005).

b. Adenokarsinoma

Adeno karsinoma pada umumnya terletak pada perifer dan biasanya tidak
berhubungan dengan bronkus, atau berhubungan dengan bronkus hanya karena invasi lokal
atau adanya penyebaran lewat pembuluh limfa submukosa. Kebanyakan adeno karsinoma
berupa jaringan parut, solid adeno karsinoma atau karsinoma bronko alveolar.

c. Karsinoma bronkoalveolus

Dimasukkan sebagai subtipe adenokarsinoma dalam klasifikasi terbaru tumor paru


dari WHO. Karsinoma ini adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk
dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung
timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke
tempat-tempat yang jauh.

d. Karsinoma sel kecil

Umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang terletak di sentral dengan
perluasan ke dalam parenkim paru dan keterlibatan dini kelenjar getah bening hilus dan
mediastinum. Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan bentuk bulat hingga lonjong, sedikit
sitoplasma, dan kromatin granular. Gambaran mitotik sering ditemukan. Biasanya
ditemukan nekrosis dan mungkin luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan
fragmentasi dan “crush artifact” pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada karsinoma sel
kecil, yang paling jelas pada pemeriksaan sitologik, adalah berlipatnya nukleus akibat letak
sel tumor dengan sedikit sitoplasma yang saling berdekatan (Kumar, 2007).
e. Karsinoma sel besar

Adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma
yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan
paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang
jauh (Wilson, 2005).

Bentuk lain dari kanker paru primer adalah adenoma, sarkoma, dan mesotelioma
bronkus. Walaupun jarang, tumor-tumor ini penting karena dapat menyerupai karsinoma
bronkogenik dan mengancam jiwa.

D. GAMBARAN KLINIS KANKER PARU

Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila
sudah menampakkan gejala berarti psien dalam stadium lanjut.

Gejala-gejala dapat bersifat :

1. Lokal (tumor setempat)


a. Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
a. Hemoptisis
b. Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran napas
c. Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
d. Aelektasis
2. Invasi local :
a. Nyeri dada
b. Dispnea karena efusi pleura
c. Invasi ke pericardium terjadi temponade atau aritmia
d. Sindrom vena cava superior
e. Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
f. Suara sesak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent
g. Syndrome Pancoasta karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf simpatis
servikalis
3. Gejala penyakit metastasis :
a. Pada otak, tulang, hati, adrenal
b. Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis
c. Sindrom Paraneoplastik : Terdapat pada 10% kanker paru, dengan gejala
d. Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam
e. Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
f. Hipertrofi : osteoartropati
g. Neurologic : dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
h. Neuromiopati
i. Endokrin : sekresi berlebihan hormone paratiroid (hiperkalsemia)
j. Dermatologi : eritema multiform, hyperkeratosis, jari tabuh
k. Renal : syndrome of inappropriate andiuretic hormone (SIADH)
4. Asimtomatik dengan kelainan radiologist :
a. Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi secara radiologis
b. Kelainan berupa nodul soliter

F. PATOFISIOLOGI KANKER PARU

Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia
hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya
pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi
perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura,
biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra.
Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini
menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal.
Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan
dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi. Pada stadium lanjut,
penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati.
Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe,
dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.
G. PATHWAY KANKER PARU

Etiologi dan faktor resiko

Asap Rokok Polusi Udara Genetik Industri

Sel Epitel Mukosa Aerosol Gen Pencetus CA Bahan Aktif (ion)


Iritatif karsinogenik

Ekspansi paru Jaringan perifer Bronchial Deposition Sel epitel bronkus


meningkat

Pola Melaplasia Keruskan mukosa bronkus

Squamosus Dysplasia Fungsi silia menurun ventilasi


terganggu
Akumulasi sputum
Kanker Paru meningkat

Hiperkreasi mucus, hyperplasia sel epitel

Obstruksi lumen Hipermetabolik Metastase Menjalar ke pleura


Saluran nafas
Penurunan BB Menjalar ke dinding
dada
Ketidakefektifan Sesak Ekstra pulmonal
bersihan jalan nafas
Saat bernafas
Ketidakefektifan pola nafas ekspansi paru menurun
Organ jauh
Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh

Tulang Jantung Hepar Otak


Intoleransi aktivitas

H. TINGKATAN KANKER PARU


Tingkatan (staging) Kanker paru ditentukan oleh tumor (T), keterlibatan kalenjer
getah bening (N) dan penyebaran jauh (M). Beberapa pemeriksaan tambahan harus
dilakukan dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. Pada pertemuan
pertama akan dilakukan foto toraks (poto polos dada). Jika pasien membawa foto yang lebih
dari 1 minggu pada umumnya akan dibuat foto yang baru. Foto toraks hanya dapat
menentukan lokasi tumor, ukuran tumor, dan ada tidaknya cairan. Foto toraks belum dapat
dirasakan cukup karena tidak dapat menentukan keterlibatan kalenjer getah bening dan
metastasis luar paru.

Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang bnayak, paru kolaps,
bagian luas yang menutup tumor, dapat memungkinkan pada foto tidak terlihat. Sama
seperti pada pencarian jenis histologis Kanker, pemeriksaan untuk menentukan staging juga
tidak harus sama pada semua pasien tetapi masing-masing pasien mempunyai prioritas
pemeriksaan yang berbeda yang harus segera dilakukan dan tergantung kondisinya pada
saat datang.

Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru

Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis Kanker paru, apakah SLCC
atau NSLCC. Tahapan ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera
diberikan pada pasien. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi : tumor primer, keterlibatan
organ dalam dada/ dinding dada (T), penyebaran kalenjer getah bening (N), atau
penyebaran jauh (M).

Tahapan perkembangan kanker paru dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Tahapan kanker paru jenis karsinoma sel kecil (SLCC)


a. Tahap terbatas

Yaitu Kanker yang hanya ditemukan pada satu bagian paru-paru saja dan pada jaringan
disekitanya.
b. Tahap ekstensif
Yaitu Kanker yang ditemukan pada jaringan dada diluar paru-paru tempat asalnya, atau
Kanker yang ditemukan pada organ-organ tubuh jauh.
2. Tahap Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (NSLCC)
a. Tahap tersembunyi

Merupakan tahap ditemukannya sel Kanker pada dahak (sputum) pasien dalam sampel air
saat bronkoskopi, tetapi tidak terlihat adanya tumor diparu-paru.
Stadium 0

Merupakan tahap ditemukannya sel-sel Kanker hanya pada lapisan terdalam


paru-paru dan tidak bersifat invasif.

Stadium I

Merupakan tahap Kanker yang hanya ditemukan pada paru-paru dan belum
menyebar ke kalenjer getah bening sekitarnya.

Stadium II

Merupakan tahap Kanker yang ditemukan pada paru-paru dan kalenjer getah
bening di dekatnya.

Stasium III

Merupakan tahap Kanker yang telah menyebar ke daerah disekitarnya,


seperti dinding dada, diafragma, pembuluh besar atau kalenjer getah bening di sisi
yang sama ataupun sisi berlawanan dari tumor tersebut.

Stadium IV

Merupakan tahap Kanker yang ditemukan lebih dari satu lobus paru-paru
yang sama, atau di paru-paru yang lain. Sel –sel Kanker telah menyebar juga ke
organ tubuh lainnya, misalnya ke otak, kalenjer adrenalin , hati dan tulang.

I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Radiologi
a. Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker
paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa
udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.

b. Bronkhografi.

Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.

2. Laboratorium.
a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).

Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.

b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA

Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.

c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.

Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).

3. Histopatologi.
a. Bronkoskopi.

Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi (besarnya


karsinoma bronkogenik dapat diketahui).

b. Biopsi Trans Torakal (TTB).

Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm,
sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.

c. Torakoskopi.

Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara
torakoskopi.

d. Mediastinosopi.

Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat.

e. Torakotomi.
Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam – macam
prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.

4. Pencitraan.
a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.

J. PENATALAKSANAAN KANKER PARU

Tujuan pengobatan kanker dapat berupa :

a) Kuratif

Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien.

b) Paliatif

Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.

c) Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal

Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.

d) Supotif

Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi, tranfusi
darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi. (Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan
Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000)

e) Pembedahan

Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat
semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru –
paru yang tidak terkena kanker.

f) Toraktomi eksplorasi

Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma,
untuk melakukan biopsy.

g) Pneumonektomi (pengangkatan paru)


Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.

h) Lobektomi (pengangkatan lobus paru).

Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula
emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.

i) Resesi segmental.

Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.

j) Resesi baji.

Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang
terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji
(potongan es).

k) Dekortikasi.

Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)

l) Radiasi

Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga
sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek
obstruksi/ penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus.

m) Kemoterafi.

Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani


pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi
bedah atau terapi radiasi.

K. PENGKAJIAN KEPERAWATAN KANKER PARU

1. Anamnesis
Anamnesis yang lengkap serta pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk diagnosis
tepat. Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal penyakit kanker paru.
Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-kadang bercampur darah, sesak nafas dengan
suara pernafasan nyaring (wheezing), nyeri dada, lemah, berat badan menurun, dan
anoreksia merupakan keadaan yang mendukung. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan
pada pasien tersangka kanker paru adalah faktor usia, jenis kelamin, keniasaan merokok,
dan terpapar zat karsinogen yang dapat menyebabkan nodul soliter paru.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa perubahan


bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah bening dan tanda-tanda
obstruksi parsial, infiltrat dan pleuritis dengan cairan pleura.

3. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk :

a. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru. Kerusakan pada
paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau pemeriksaan analisis gas.

b. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada organ-organ
lainnya.

c. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada jaringan
tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena metastasis.

4. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama dipergunakan untuk


kanker paru. Kanker paru memiliki gambaran radiologi yang bervariasi. Pemeriksaan ini
dilakukan untuk menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran tumor, kelenjar
getah bening, dan metastasis ke organ lain.

Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan metode tomografi komputer. Pada


pemeriksaan tomografi komputer dapat dilihat hubungan kanker paru dengan dinding
toraks, bronkus, dan pembuluh darah secara jelas. Keuntungan tomografi komputer tidak
hanya memperlihatkan bronkus, tetapi juga struktur di sekitar lesi serta invasi tumor ke
dinding toraks. Tomografi komputer juga mempunyai resolusi yang lebih tinggi, dapat
mendeteksi lesi kecil dan tumor yang tersembunyi oleh struktur normal yang berdekatan.

5. Sitologi

Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang mempunyai nilai


diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Pemeriksaan dilakukan dengan
mempelajari sel pada jaringan. Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan gambaran
perubahan sel, baik pada stadium prakanker maupun kanker. Selain itu dapat juga
menunjukkan proses dan sebab peradangan.

Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang dipakai untuk
mendapatkan bahan sitologik. Pemeriksaan sputum adalah pemeriksaan yang paling
sederhana dan murah untuk mendeteksi kanker paru stadium preinvasif maupun invasif.
Pemeriksaan ini akan memberi hasil yang baik terutama untuk kanker paru yang letaknya
sentral. Pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk skrining terhadap kanker paru pada
golongan risiko tinggi.

6. Bronkoskopi

Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan indikasi untuk
bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber optik, perubahan mikroskopik mukosa
bronkus dapat dilihat berupa nodul atau gumpalan daging. Bronkoskopi akan lebih mudah
dilakukan pada tumor yang letaknya di sentral. Tumor yang letaknya di perifer sulit dicapai
oleh ujung bronkoskop.

7. Biopsi Transtorakal

Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk mendiagnosis


tumor pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam hal ini diperlukan peranan
radiologi untuk menentukan ukuran dan letak, juga menuntun jarum mencapai massa
tumor. Penentuan letak tumor bertujuan untuk memilih titik insersi jarum di dinding kulit
toraks yang berdekatan dengan tumor.

8. Torakoskopi
Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna pemeriksaan
histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah pemeriksaan dengan alat torakoskop
yang ditusukkan dari kulit dada ke dalam rongga dada untuk melihat dan mengambil
sebahagian jaringan paru yang tampak. Pengambilan jaringan dapat juga dilakukan secara
langsung ke dalam paru dengan menusukkan jarum yang lebih panjang dari jarum suntik
biasa kemudian dilakukan pengisapan jaringan tumor yang ada

L. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN KANKER PARU

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya mucus yang
berlebihan.

Definisi : Ketidakmampuan untuk membersihkan secret atau obstruksi saluran napas guna
mempertahankan jalan napas yang bersih
Batasan karakteristik
a. Subjektif
1) Dispne
b. Objektif
1) Suara napas tambahan
2) Perubahan pada irama dan frekuensi pernapasan
3) Batuk tidak ada atau tidak efektif
4) Sianosis
5) Kesulitan untuk berbicara
6) Penurunan suara napas
7) Ortopnea
8) Gelisah
9) Sputum berlebihan
10) Mata terbelalak

Factor yang berubungan :

a. Lingkungan; merokok, menghisap asap rokok, perokok pasif

b. Obstruksi jalan napas; terdapat benda asing dijalan napas, spasme jalan napas
c. Fisiologis; kelainan dan penyakit

Intervensi :

a. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mengeluarkan sputum, mampu bernapas dengan mudah)
b. Menunjukkan jalan nafas yang paten (frekuensi pernafasan rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal)
c. Mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan nafas
d. Airwey suction
e. Auskultasi suara nafas sebulum dan sesudah suctioning
f. Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning
g. Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan
h. Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suktionnasotrakeal
i. Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah kateter dikeluarkan dari
nasatrakeal
j. Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suksion
k. Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien menunjukan bradikardi,
peningkatan saturasi O2,dll.
l. Airway management
m. Posisikan pasien u/ memaksimalkan ventilsi
n. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
o. Lakukan fisioterpi dada jika perlu
p. Keluarkan sekret
q. Dengan batuk atau suction
r. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan

2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi

Definisi : inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi adekuat

Batasan karakteristik :
a. Bradipnea
b. Dispnea
c. Fase ekspirasi memanjang
d. Ortopnea
e. Penggunaan otot bantu pernapasan
f. Penurunan kapasitas vital
g. Penurunan tekanan ekspirasi
h. Penurunan tekanan inspirasi
i. Pernapasan cuping hidung
j. Pola napas abnormal

Faktor yang berhubungan :


a. Ansietas
b. Deformitas dinding dada
c. Disfungsi neuromuskuler
d. Gangguan muskoloskeletal
e. Hiperventilasi
f. Keletihan otot pernapasan
g. Nyeri
h. Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru

Intervensi

a. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernapas dengan mudah)
b. Menunjukkan jalan nafas yang paten (frekuensi pernafasan rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal)
c. Tanda-tanda vital dalam rentang normal
d. Terapi oksigen
e. Beesihkan mulut, hidung, dan seckret trakea
f. Pertahankan jalan napas yang paten
g. Monitor aliran oksigen
h. Pertahankan posisi klien
i. Monitor TD, nadi, dan RR
3. Gangguan pertukaran gas

Definisi : kelebihan atau defisit oksigenasi dan atau eliminasi karbon dioksida pada membran
alveolar – kapiler
Batasan karakteristik :
a. Diaforesis
b. Dispnea
c. Gangguan penglihatan
d. Gas darah arteri abnormal
e. Gelisah
f. Hipoksia
g. Hipoksemia
h. Napas cuping hidung
i. Penurunan karbondioksida
j. Sianosis
k. Pola pernapasan abnormal
l. Takikardia

Faktor yang berhubungan :


a. Ketidakseimbangan ventilasi – perfusi
b. Perubahan membran alveolar – kapiler

Intervensi :

a. Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat


b. Memehara kebersiha paru-paru dan bebas dari tanda- tanda distres pernafasan
c. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis, dan
dispneu, mampu bernafas dengan mudah,.
d. Tanda – tanda vital dalam batas normal
e. AGD dalam batas normal
f. Status neurologis dalam batas normal

Manajemen Asam Basa


Kegiatan :

· Dapatkan / pertahankan jalur intravena

· Pertahankan kepatenan jalan nafas

· Monitor AGD dan elektrolit

· Monitor status hemodinamik

· Beri posisi ventilasi adekuat

· Monitor tanda gagal nafas

· Monitor kepatenan respirasi

4. Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh (0002) halaman 177

Definisi : asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik

BATASAN KARAKTERISTIK :

a. Berat badan 20 % tau lebih di bawah rentang berat badan ideal


b. Bising usus hiperaktif
c. Cepat kenyang setelah makan
d. Diare
e. Gangguan sensasi rasa
f. Kehilangan rambut berlebihan
g. Kelemahan otot pengunyah
h. Kelemahan otot untuk menelan
i. Kerapuhan kapiler
j. Kesalahan informasi
k. Kesalahan persepsi
l. Ketidakmampuan memakan makanan
m. Kram abodomen
n. Kurang informasi
o. Kurang minat pada makanan
p. Membran mukosa pucat
q. Nyeri abdmen
r. Penurun berat badan dengan asupan makanan adekuat
s. Sariawan rongga mulut
t. Tonus otot menurun

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN:

a. Faktor biologis
b. Faktor ekonomi
c. Gangguan psikososial
d. Ketidakmampuan makan
e. Ketidakmapuan mencerna makanan
f. Ketidakmampuan mengangsorbsi nutrien
g. Kurang asupan makanan

TUJUAN DAN KRITERIA HASIL:

Nafsu makan (1014) hal 319


1. Hasrat/kleinginan untuk makan dipertahankan pada skla 1(sangat terganggu)
ditingkatkan ke skala 5 (tidak terganggu)
2. Menyenangi makanan dipertahankan pada skla 1(sangat terganggu) ditingkatkan ke
skala 5 (tidak terganggu)
3. Intake nutrisi dipertahankan pada skla 1(sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 5
(tidak terganggu)
4. Rangsangan untuk makan dipertahankan pada skla 1(sangat terganggu) ditingkatkan
ke skala 5 (tidak terganggu)

INTERVENSI

Manajemen Nutsi (1100) hal 197


Definisi : menyediakan dan meningkatkan intake nutrisi yang seimbang
1. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan gizi
2. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutri yang dibutuhkan untuk memenuhi
persyaratan gizi
3. Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan
4. Anjurkan pasien terkait dengan ebutuhan diet untuk kondisi sakit
5. Tawarkan makanan rungan yang padat gizi
6. Monitor kecendurangan terjadinya terjadinya kenaikan berat badan
7. Anjurkan pasien untuk kalori dan intake makanan
8. Berikan arahan jika diperlukan
BAB II

TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN

1. Identitas klien
Nama : Tn. T
Umur : 58 tahun
Jenis kelamin : Laki - laki
Alamat :-
Pekerjaan :-
Agama :-
2. Identitas penanggung jawab
Nama : Ny. -
Umur :-
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat :-
Pekerjaan :-
Agama :-
Hubungan dengan klien : Istri

3. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Klien mengatakan batuk

b. Riwayat penyakit sekarang


Klien dibawa ke IGD rumah sakit dengan keluhan kelelahan dan perasaan sesak saat
menaiki tangga atau berjalan jauh, kelemahan ekstremitas, anoreksia, mual, muntah
dan demam.

c. Riwayat penyakit dahulu


Klien mengatakan mempunyain riwayat penyakit sesak nafas, kadang kambuh
namun tidak sampai dibawa kerumah sakit. Klien memiliki kebiasaan merokok habis
2 - 3 bungkus rokok dalam sehari, dan sudah 30 tahun menjadi perokok.
d. Riwayat penyakit keluarga
Klien mengatakan keluarga tidak yang memiliki penyakit sama atau menurun lainnya.
e. Riwayat penyakit alergi
Klien mengatakan tidak memiliki alergi obat dan makanan.

4. Pengkajian fokus
a. Pola manajemen kesehatan dan persepsi kesehatan
Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan menjalankan aktivitas sehari – hari
sehingga pasien sangat mementingkan kesehatan dengan segera ke rumah sakit.
b. Pola metabolik dan nutrisi
A: -
B : HB meningkat
C:-
D : sebelum sakit klien mengatakan makan 2 kali sehari dengan porsi 1 piring penuh,
selama sakit klien mengatakan tidak nafsu makan dan hanya makan 1 – 2 kali sehari
setengah porsi.
c. Pola eliminasi
Sebelum sakit klien mengatakan BAB 1 kali sehari, BAK 3 – 5 kali sehari. Selama
sakit klien belum BAB selama dirawat di rumah sakit, BAK sering dalam waktu yang
dekat.
d. Pola aktivitas – latihan
Aktivitas Nilai Keterangan
Mandi - 0 : mandiri
Memamakai pakaian - 1:dibantu alat
Makan/minum - 2.dibantu orang lain
Toileting - 3.dibantu alat dan
orang lain

Kesimpulan : Tn. T melakukan aktivitas dengan dibantu oleh orang lain.


e. istirahat – tidur
Sebelum sakit klien mengatakan 7-8 jam perhari. Selama sakit klien mengatakan
tidak bisa tidur karena sesak nafas.
f. Pola persepsi kognitif
Respon klien baik, pendengaran dan penglihatan tidak ada gangguan
g. Pola konsep diri dan persepsi diri
Keluarga klien sangat memperhatikan kondisi klien dengan baik
h. Pola hubungan – peran
Klien tinggal bersama keluarga. Klien mempunyai 1 istri dan 2 anak. Klien tinggal
dengan istrinya
i. Pola reproduksi – seksual
Klien berjenis kelamin laki-laki dan tidak terpasang DC
f. Pola toleransi terhadap stres – koping
Dukungan keluarga untuk kesembuhan pasien sangat baik
g. Pola keyakinan – nilai
Sebelum sakit mengatakan ibadah klien tidak tergangu. Selama sakit ibadah
sedikit terganggu

5. Pengkajian fisik
a. Diagnosa medis : Ca. Paru karsinoma non SCLC
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Kondisi umum : Lemah
d. Kepala : Simetris , bersih, dan tidak ada lesi
e. Mata : Konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik
f. Hidung : Simetris, ada sekret, cuping hidung
g. Mulut : Mukosa mulut kering, tidak ada stomatitis, bibir
sianosis

h. Telinga : Bersih, tidak ada kotoran


i. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

j. Dada
1. Paru – paru
I : Terdapat lesi di paranchema paru sebelah kanan
P : tidak ada nyeri tekan
P : sonor
A : vesikuler
2. Jantung
I : ictus cordis tidak terlihat
P : ictus cordis tidak raba
P : pekak
A : vesikuler, tidak ada suara tambahan
3. Abdomen
I : simetris , tidak ada lesi
A : bising usus 18 kali/menit
P : tidak ada nyeri tekan
P : tympani

k. Genetalia : Tidak terpasang katater, bersih.


l. Ektremitas : Terpasang infus RL 20 tpm pada ekstemitas kiri atas.

6. Pemeriksaan penunjang
1. Hemoglobin meningkat
2. Rontgen dada menunjukkan area infiltrasi dan fungsi paru menunjukkan pola
membatasi dan obstruktif
3. Sitologi sample dahak menunjukkan sel ganas
4. Ronkoskopi lesi di parenchema paru kanan

B. ANALISA DATA

N DATA ETIOLOGI MASALAH


O
1. DS: Mucus dalam Ketidakefektifan
Klien mengatakan sesak napas jumlah yang bersihan jalan nafas
dan batuk berdahak berlebihan
DO : klien tampak bernafas
dengan terengah-engah,suara
nafas ronki dan wheezing
2. DS: klien mengatakan mual dan Anoreksia, mual, Ketidakseimbangan
muntah 3 kali sehari serta tidak dan muntah nutrisi kurang dari
nafsu makan kebutuhan tubuh
DO : klien tampak pucat, lemas,
mukosa mulut kering, BB :
50kg

Diagnosa prioritas
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan mucus dalam
jumlah yang berlebihan ditandai dengan Batuk yang tidak efektif
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia, mual, dan muntah

C. RENCANA TINDAKAN

Tujuan dan kriteria hasil Intervensi

Setelah dilakukan tindakan a. Manajemen Jalan Nafas


keperawatan selama 2x24 jam 1. Observasi frekuensi, irama, serta
diharapkan Ketidakefektifan pola pernafasan
bersihan jalan nafas dengan kriteria 2. Posisikan pasien semi fowler
hasil : 3. Ajarkan pasien batuk efektif
a.Status Pernafasan : kepatenan jalan 4. Kolaborasi pemberian oksigen
nafas
tambahan
1. klien mampu mengeluarkan 5. Operasi pengangkatan tumor
sputum
2.suara nafas bersih

3.tidak ada suara nafas tambahan

4.klien mampu bernafas dengan


mudah

5. frekuensi pernafasan dalam


rentan normal, RR : 16-24x/menit

Setelah dilakukan tindakan a.manajemen nutrisi


keperawatan selama 2x24 jam 1. Monitor status gizi pasien dan
diharapkan Ketidakseimbangan kemampuan pasien untuk

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh memnuhi kebutuhan gizi

dengan kriteria hasil: 2. Anjurkan pasien untuk


memantau kalori dan intake
a.status nutrisi makanan
3. Lakukan dan bantu pasien
1. Berat badan bertambah
terkait kebersihan mulut
2. Asupan makanan
4. Tawarkan makanan ringan
yang padat gizi

DAFTAR PUSTAKA
Alsagaff,Hood.1995.Kanker Paru dan Terapi Pariatif.Surabaya :Airlangga University Press

Elizabeth, J. Corwin.2008. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta: ECG

Herdman T.Heather. 2015-2017.DIAGNOSIS KEPERAWATAN.Jakarta:EGC

Price, Sylvia A and Wilson, Lorraine M. 1988. Patofisiologi. Konsep Klinik Proses-proses
Penyakit. Jakarta : EGC.

Suryo, Joko. 2010. Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan. Yogyakarta: B First

Suyono, Slamet. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi 3. Balai Penerbit FKUI :
Jakarta.

Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik. Edisi 2. EGC:Jakarta.