Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

HAK ASASI MANUSIA


“Pembunuhan Begal yang Dilakukan Pelajar SMA”

Dosen Pembimbing :
Nandaru Ramadhan

Disusun oleh :
KELOMPOK 4 :
1. AHMAD JAMARUDDIN 183112
2. BAGAS HUNAFA AL AMIEN 183112
3. CANDRA TRI HASTUTI 1831120012
4. RICKY SETYAWAN 1831120016

D-III TEKNIK LISTRIK


TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2020
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara hukum adalah negara yang dalam menjalankan sitemnya berdasarkan atas hukum
yang berlaku berdasarkan kepentingan umum serta bebas dari kesewenag-wenangan penguasa.
Dalam penyelenggaraannya negara haruslah bertumpu pada demokrasi. Karena jika negara
hukum tanpa demokrasi sama dengan hilangnya maksud atau makna dari negara hukum tersebut.
J.B.J.M ten Berge menyebutkan prinsip-prinsip negara hukum dan demokrasi sebagai
berikut1 :
1. Prinsip-prinsip negara hukum :
a. asas legalitas
b. perlindungan hak-hak asasi
c. pemerintah terikat pada hukum
d. monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum
e. pengawasan oleh hakim yang merdeka
2. Prinsip-prinsip Demokrasi :
a. Perwakilan politik
b. Pertanggungjawaban politik
c. Pemencaran kewenangan
d. Pengawasan dan Kontrol
e. Kejujuran dan keterbukaan pemerintah terhadap umum
f. Rakyat diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan

Jika melihat keterangan diatas maka dapat dikatan bahwa salah satu prinsip yang harus
ada dalam negara hukum ialah tegaknya Hak Asasi Manusia. Negara berkewajiban melindungi
hak-hak yang melekat pada masyarakatnya.

Menurut Franz Magnis Suseno Hak Asasi Manusia ialah hak-hak yang sudah dimiliki
pada setiap manusia danbukan karena diberikan oleh masyarakat. Bukan karena hukum positif
yangberlaku, namun dengan berdasarkan martabatnya sebagai seorang manusia.

Indonesia sebagai negara hukum sudah memiliki dasar hukumya begitu juga dengan
pengaturan tentang hak asasi. Mengenai dasar negara hukum sudah diatur dalam ketentuan Pasal
1 UUD Negara Republik Indonesia serta mengenai Hak Asasi Manusia diatur dalam Undang-
Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, kemudian dalam UUD RI 1945
diatur pada pasal 27 ayat 3, 28 A sampai J, serta Pasal 30 ayat 1.

Bahwa setiap upaya penegakan HAM pasti tidak selalu berjalan dengan lancar. Di
dalamnya pasti terdapat sebuah pelanggaran HAM. Menurut UU No 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM pelanggaran HAM adalah “setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang
termasuk aparat negara baik disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi,
menghalangi, membatasi, dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau kelompok orang
yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan, atau dikhawatirksn tidak akan
memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang
berlaku”.

Tahapan penyelidikan dalam pelanggaran hak asasi manusia adalah kewenangan


Komnas HAM berdasarkan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 yang hasilnya selalu
merekomendasikan adanya pelanggaran HAM. Komnas HAM dalam menjalankan perannya
melakukan penyelidikan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM yang dibuktikan dengan
rekomendasirekomendasi Komnas HAM dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia
Catatan sejarah yang kelam menujukan banyaknya kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi
Manusia dan diantara kasus-kasus pelanggaran tersebut masih banyak yang hingga kini belom
terselesaikan. Contoh kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi Indonesia yaitu :
1. Kasus G30S/PKI
2. Kasus Novel Baswedan
3. Kasus Pembunuhan Munir
4. Kasus perampasan literasi buku-buku kiri
5. Peritiwa Trisakti
Karena itulah perlunya pengkajian lagi yang lebih mendalam terkait kasus pelanggaran
Hak Asasi Manusia yang ada di Indonesia mengigat statusnya sebagai negara hukum yang
demokratis dan seharusnya menjunjung tinggi hak asasi yang ada.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian HAM

HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia,tanpa hak-hak itu
manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia.Menurut John Locke HAM adalah
hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang
kodrati. Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh
negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia”.

Hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga


keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara
kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati,
melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung
jawab bersama antara individu, pemeritah (Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun
Militer),dan negara.

B. Ciri Pokok Hakikat HAM (Hak Asasi Manusia)

Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik


kesimpulan tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :

a) HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari
manusia secara otomatis.
b) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama,
etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
c) HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi
atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah
negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansyur
Fakih,2003).
C. Landasan Hukum Hak Asasi Manusia di Indonesia
Bangsa Indonesia mempunyai pandangan dan sikap mengenai Hak Asasi Manusia
yang bersumber dari ajaran agama, nilai moral universal, dan nilai luhur budaya
bangsa, serta berdasarkan pada Pancasila dan Undang-undang dasar 1945.
Pengakuan, jaminan, dan perlindungan Hak Asasi Manusia tersebut diatur dalam
beberapa peraturan perundangan berikut:
1. Pancasila
a) Pengakuan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
b) Pengakuan bahwa kita sederajat dalam mengemban kewajiban dan memiliki hak
yang sama serta menghormati sesamam manusia tanpa membedakan keturunan,
agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan social, warna kulit, suku dan
bangsa.
c) Mengemban sikap saling mencintai sesamam manusia, sikap tenggang rasa, dan
sikap tida sewenang-wenang terhadap orang lain.
d) Selalu bekerja sama, hormat menghormati dan selalu berusaha menolong sesame.
e) Mengemban sikap berani membela kebenaran dan keadilan serta sikap adil dan
jujur.
f) Menyadari bahwa manusia sama derajatnya sehingga manusia Indonesia merasa
dirinya bagian dari seluruh umat manusia.
2. Dalam Pembukaan UUD 1945
Menyatakan bahwa “ kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, dan oleh karena
itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri
kemanusiaan dan pri keadilan”. Ini adalah suatu pernyataan universal karena semua
bangsa ingin merdeka. Bahkan, didalm bangsa yang merdeka, juga ada rakyat yang
ingin merdeka, yakni bebas dari penindasan oleh penguasa, kelompok atau manusia
lainnya.
3. Dalam Batang Tubuh UUD 1945
a) Persamaan kedudukan warga Negara dalam hokum dan pemerintahan (pasal 27
ayat 1)
b) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak (pasal 27 ayat 2)
c) Kemerdekaan berserikat dan berkumpul (pasal 28)
d) Hak mengeluarkan pikiran dengan lisan atau tulisan (pasal 28)
e) Kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan agama dan
kepercayaanya itu (pasal 29 ayat 2)
f) hak memperoleh pendidikan dan pengajaran (pasal 31 ayat 1)
g) BAB XA pasal 28 a s.d 28 j tentang Hak Asasi Manusia
4. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
a) Bahwa setiap hak asasi seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung
jawab untuk menghormati HAM orang lain secara timbale balik.
b) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orangbwajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan oleh UU.
5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia
Untuk ikut serta memelihara perdamaian dunia dan menjamin pelaksanaan HAM
serta member I perlindungan, kepastian, keadilan, dan perasaan aman kepada
masyarakat, perlu segera dibentuk suatu pengadilan HAM untuk menyelesaikan
pelanggaran HAM yan berat.
6. Hukum Internasional tentang HAM yang telah Diratifikasi Negara RI

a) Undang- undang republic Indonesia No 5 Tahun 1998 tentang pengesahan


(Konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang
kejam, ridak manusiawi, atau merendahkan martabat orang lain.
b) Undang-undang Nomor 8 tahun 1984 tentang pengesahan Konvensi Mengenai
Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita.
c) Deklarasi sedunia tentang Hak Asasi Manusia Tahun 1948 (Declaration
Universal of Human Rights).

C. Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia


Contoh kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi Indonesia yaitu :
 Kasus G30S/PKI
 Kasus Novel Baswedan
 Kasus Pembunuhan Munir
 Kasus perampasan literasi buku-buku kiri
 Peritiwa Trisakti
 Pembunuhan Begal Di Malang

D. Kasus Pembunuhan Begal


Dari berbagai kasus yang pernah terjadi di Indonesia , yang terbaru adalah kasus
seorang peajar yang membunuh begal. Seorang pelajar SMA di Malang terancam
hukuman seumur hidup setelah membunuh seorang begal karena membela diri. Siswa
tersebut berinisial ZA. Kasus ini berawal saat ZA berboncengan dengan pacarnya
menggunakan sepeda motor, dan melintas di sekitar ladang tebu di Desa Gondanglegi
Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Kemudian, ia dihadang sejumlah
begal yang akan merampas barang berharga dan sepeda motornya. “ZA Minggu malam
sama pacarnya di areal tebu. Tiba-tiba didatangi oleh dua orang yang naik sepeda motor
dengan maksud untuk merampas sepeda motornya. Tak hanya meminta barang berharga,
begal tersebut juga meminta pacarnya untuk melayani nafsu bejatnya. Tak terima dengan
perlakuan si begal, ZA kemudian mengambil pisau di jok motornya dan terjadi baku
hantam hingga begal tersebut tewas.
Meski melakukan pembelaan diri, polisi menetapkan ZA sebagai tersangka.
Penetapan tersangka itu, karena polisi tidak berwenang melakukan penilaian perbuatan
pelaku. Polisi hanya bertindak sesuai dengan barang bukti. Namun demikian, karena
statusnya masih pelajar polisi memberikan diskresi dengan tidak menahan pelaku. Di
pengadilan negeri setempat, , ZA didakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan
berencana. Dengan pasal dakwaan itu, ZA terancam dengan hukuman seumur hidup.
1. Hotman Paris Angkat Suara
Menurut pengakuan Hotman Paris, sudah banyak sekali orang yang menghubunginya untuk
memberikan perhatian pada kasus pembunuhan di Malang. Sebelum memberikan tanggapan,
pengacara kondang Indonesia ini membeberkan terlebih dahulu jalan kasus tersebut.
"Seorang anak muda didakwa melakukan pembunuhan berencana 340, katanya padahal si laki-
laki muda itu membunuh karena membela kehormatan pacarnya yang hendak diperkosa," papar
Hotman Paris dalam video yang diunggah di akun Instagram-nya. Seperti yang diketahui publik,
siswa SMA telah membunuh seseorang yang diduga sebagai pelaku begal. Hal ini lantaran
dirinya mencoba menyelamatkan kekasihnya dari tindakan pemerkosaan yang hendak dilakukan
oleh korban.
"Kalau benar faktanya seperti itu, memang sangat dipertanyakan kenapa malah didakwa
melakukan pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP," ungkap Hotman Paris

2. ZA Ditetapkan Sebagai Tersangka


Kini, ZA telah ditetapkan sebagai tersangka atas tindakan yang dilakukannya. ZA dijerat
Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. Polisi sangat paham dengan motif tersangka penikaman
yang menyebabkan matinya orang yaitu dalam rangka membela diri dan kehormatan pacarnya.
Namun perlu diingat dan diketahui bahwa sesuai undang-undang yang berwenang memutuskan
perbuatannya masuk kategori 'pembelaan diri' sebagaimana dalam Pasal 49 KUHP adalah hakim,
bukan penyidik Polri," jelas Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, Rabu (11/9).Lebih
lanjut, Ujung mengatakan bila pembelaan diri dalam pasal tersebut harus dengan syarat meliputi
harus ada serangan lebih dulu dari korban, proporsional antara serangan dan pembelaan diri
nonsubstitusi. Artinya tidak ada pilihan lain kala itu selain dibunuh atau membunuh. "Itu nanti
hakim yang akan mempertimbangkan. Polisi sesuai kewenangannya hanya dapat melakukan
proses penyidikan dan memberkas perbuatan materiil dalam perkara ini, dan alat-alat buktinya
tentunya dengan memasukkan fakta-fakta sesuai cerita tersangka dan saksi-saksi di TKP
sebagaimana latar belakang di atas," urainya.

3. Terancam Hukuman Penjara Seumur Hidup


Sidang itu diketuai Hakim Nunik Defiary dengan pembacaan dakwaan dilakukan JPU
Kristriawan, ZA dikenakan dengan pasal 340 KUHP, 338 KUHP, 351 KUHP (3) dan UU darurat
pasal 2 (1) dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup. Dakwaan itu dibacakan JPU dalam
sidang digelar tertutup di Pengadilan Negeri Kepanjen pada Selasa (14/1)."Kenapa tidak jelas?
Salah satu contoh ZA dituduh melakukan pembunuhan berencana. Tapi, ZA berboncengan
dengan teman perempuannya lalu dicegat begal," kata Kuasa Hukum ZA, Bakti Riza Hidayat
kepada awak media seusai persidangan.

Pihaknya juga menuding jaksa kurang bisa mengurai secara jelas sebab -akibat proses pembelaan
diri ZA yang berujung meninggalnya pelaku begal. Berkaca pada fakta tersebut, masih kata
Bakti, seharusnya ZA hanya didakwa pasal 49 dan 50 KUHP, yakni ada satu tindak pidana yang
tidak dipidana. "Padahal dia (ZA) melakukan itu karena unsur paksaan atau overmacht. Saat itu
dia sudah menyerahkan harta bendanya. Tapi si perampok meminta lebih (dengan meminta
keperawanan teman wanitanya). Ketika dia berusaha mempertahankan harkat dan martabatnya.
Itulah yang kami ingin sampaikan" sambungnya.

Pendapat Kelompok 4 Terhadap Kasus Pembegalan :


Menurut pendapat kelompok kami dalam menanggapi kasus ini (ZA) sebagai pelaku
pembunuhan begal mendapat hukuman seumur hidup tidaklah benar melihat pelaku masih
dibawah umur dan masih memerlukan pengawasan dari orang tua. Selain itu dalam kejadian ini
si pelaku terdesak oleh situasi dimana ia harus menyelamatkan barang miliknya serta nyawa
dirinya dan pacarnya yang menjadi taruhannya. Tidak hanya itu si begal berusaha ingin
memperkosa pacarnya, sehingga dengan situasi ingin menyelamatkan diri (AZ) berusaha
melawan dengan senjata tajam, mungkin dalam situasi pada saat itu tidak ada jalan lagi untuk
menyelamatkan pacarnya sehingga ia berusaha untuk melawan dan menyebabkan si begal
tertusuk pisau dan meninggal dunia. Melihat hal tersebut hakim harus mempertimbangkan untuk
menjatuhkan hukuman cukup berat karena melihat kejadian itu dalam kondisi menyelamatkan
diri, namun hukum tetap berjalan sebagaimana mestinya agar tidak terjadi penyalahgunaan kasus
yang sama.