Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berikut peneliti sajikan data hasil penelitian mengenai hubungan

pola makan dengan indeks massa tubuh (IMT) pada mahasiswa program

studi pendidikan ners tingkat 1 semester 2 di STIKes budi luhur Cimahi

yang dilakukan pada 43 responden pada tanggal 28 Juni 2019 yang

dianalisis secara bivariat untuk melihat distribusi frekuensi dan analisis

bivariat menggunakan uji Che square.

1. Analisis Univariat

a. Gambaran pola makan mahasiswa program studi pendidikan ners

tingkat 1 semester 2 di STIKes Budi Luhur Cimahi

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi Pola Makan Pada Mahasiswa


Program Studi Pendidikan Ners Tingkat 1 Semester
2 di STIKes Budi Luhur Cimahi

Frekuensi Presentase
Pola Makan
(f) (%)

Sering (setiap minggu) 30 69,8


Jarang (bulan/tahunan) 13 30,2

Total 43 100,0
Sumber : Data Primer 2019

Berdasakan tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa pola makan

responden sebagian besar (69,8%) yaitu 30 responden

mempunyai frekuensi pola makan sering (Frekuensi makan 4-

6x/minggu dan 1-3x/minggu), sedangkan hampir setengahnya

(30,2%) yaitu 13 responden mempunyai frekuensi pola makan


jarang (frekuensi konsumsi makanan beberapa kali dalam sebulan

atau beberapa kali dalam setahun).

b. Gambaran indeks masa tubuh (IMT) pada mahasiswa program

studi pendidikan ners tingkat 1 semester 2 di STIKes Budi Luhur

Cimahi

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Indek Massa Tubuh (IMT) pada


Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ners Tingkat
1 Semester 2 di STIKes Budi Luhur Cimahi

Frekuensi Presentase
IMT
(f) (%)
Normal
12 27,9
Gemuk (kelebihan berat badan tingkat
ringan) 28 65,1
Gemuk (kelebihan berat badan tingkat
3 7,0
berat)
Total 43 100,0
Sumber : Data Primer hasil Pengolahan Data

Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukkan sebagian besar

(65,1%) yaitu 28 responden mempunyai indeks massa tubuh

(IMT) gemuk (kelebihan berat badan tingkat ringan), sedangkan

hampir setengahnya (27,9%) yaitu 12 responden mempunyai

indeks massa tubuh (IMT) normal, dan sangat sedikit (7,0%) yaitu

3 reponden mempunyai indeks massa tubuh (IMT) gemuk

(kelebihan berat badan tingkat berat).

2. Analisis Bivariat
Pada penelitian bivariat ini, peneliti memaparkan hasil

penelitian yang dianalisis menggunakan chis quare, dimana tabel

yang digunakan adalah tabel lebih dari 2x2 ( tabel 2x3 untuk

hubungan pola makan dengan indeks massa tubuh) sehingga analisis

data bivariat menggunakan uji pearson che square.


a. Hubungan pola makan dengan indeks masa tubuh (IMT) pada

mahasiswa program studi pendidikan ners tingkat 1 semester 2 di

STIKes Budi Luhur Cimahi

Tabel 4.3 Distribusi Hubungan Pola Makan dengan Indekas


Massa Tubuh (IMT) pada Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Ners Tingkat 1 Semester 2 di STIKes
Budi Luhur Cimahi

Hasil Indeks Massa Tubuh (IMT)


Kelebih
Kelebiha
an
n berat Nilai
berat
Pola Makan Normal badan Total p
badan
tingkat
tingkat
ringan
berat
f % F % f % F %

Sering (setiap
minggu) 2 06,7 26 86,7 2 6,7 30 100,0
0,001
Jarang (bulan 10 76,9 2 15,4 1 7,7 13 100,0
atau tahunan)

Total 12 27,9 28 65,1 3 7,0 43 100,0


Sumber : data primer 2019

Berdasarkan tabel 4.3 diatas diketahui bahwa nilai p =

0,001 < ɑ=0,05. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan pola

makan dengan indeks massa tubuh (IMT) pada mahasiswa

program studi pendidikan ners tingkat 1 semester 2 di STIKes Budi

Luhur Cimahi.

B. Pembahasan

1. Gambaran Pola Makan Mahasiswa Program Studi Pendidikan

Ners Tingkat 1 Semester 2 di STIKes Budi Luhur Cimahi

Hasil penelitian pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa pola

makan responden sebagian besar (69,8%) mempunyai frekuensi

sering (frekuensi makan mingguan yaitu 1-6x/minggu dan 1-


3x/minggu) sebanyak 30 responden dan hampir setengahnya (30,2%)

mempunyai frekuensi jarang (frekuensi makan dari 1-3 kali dalam

sebulan dan pertahun) sebanyak 13 responden. Kemudian hampir

seluruhnya mahasiswa sering mengkonsumsi karbohidrat, protein

nabati, sayuran, buah, minuman soda, teh, kopi, dan makanan lainnya

seperti cemilan. Dan sedikitnya jarang mengkonsusmi protein hewani,

lemak, dan bumbu.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang sudah dilakukan oleh

Iswara (2018) yang menunjukan sebagian besar pola makan dengan

kategori sering sebanyak 65 responden (95,6%), dan sebagian kecil

respoden memiliki pola makan dengan kategori selalu (frekuensi

makan harian yaitu >1x/hari dan 1x/hari). Begitu pula dengan

penelitian yang dilakukan oleh Maulani (2016) yang menjelaskan

bahwa sebagian besar responden memiliki pola makan sering

sebanyak 56 responden (56,7%), dan sebagian kecil memiliki pola

makan jarang sebanyak 19 responden (43,4%).

Pola makan adalah suatu kebiasaan menetap dalam

hubungan dengan konsumsi makan yaitu berdasarkan jenis bahan

makanan (makanan pokok, sumber protein, sayur, buah) dan

berdasarkan frekuensi (harian, mingguan, pernah, dan tidak pernah

sama sekali)(Almatsier, 2011). Pola makan yang baik selalu mengacu

pada gizi yang seimbang yaitu terpenuhinya semua zat gizi sesuai

dengan kebutuhan dan seimbang. Terdapat 6 unsur gizi yang harus

dipenuhi yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.

Karbohidrat, lemak, dan protein merupakan zat gizi makro sebagai


sumber energi, sedangkan vitamin dan mineral merupakan zat gizi

mikro sebagai pengatur kelancaran metabolisme tubuh. Kebutuhan

zat gizi tubuh hanya dapat terpebuhi dengan pola makan yang

bervariasi dan beragam (Dalimartha, 2008).

Mahasiswa sangat membutuhkan gizi yang cukup yang bisa

menunjang pola aktivitas sehari-hari dengan mengkonsumsi makanan

sehat dan teratur. Menurut Badriah (2011) untuk mencapai tingkat

kesehatan yang optimal diperlukan asupan zat gizi yang seimbang

dari makanan dan minuman yang bervariasi. Terdapat 5 kebutuhan

remaja yang harus terpenuhi sebagai berikut: energi, protein, lemak,

vitamin, dan mineral. Adapun pola makan yang sehat untuk remaja

menurut Anjani (2013) adalah pola makan yang sehat menjadikan

tubuh kita sehat, sedangkan pola makan yang buruk akan

menyebabkan tubuh kita rentan oleh penyakit. Jenis makanan yang

dikonsumsi hendaknya mempunyai proporsi yang seimbang dengan

konsumsi yang disarankan yaitu 55-65% kabohidrat, 10-15% protein,

25-35% lemak. Jadwal makan yang ideal untuk dilakukan agar

mempunyai pola makan yang baik adalah 4 sampai 5 kali sehari yaitu

sarapan pagi, snack, makan siang, snack sore, dan makan malam.

Setelah mengamati hasil penelitian, peneliti berpendapat

bahwa sebagian besar pola makan mahasiswa program studi

pendidikan ners tingkat 1 semester 2 di STIKes Budi Luhur Cimahi

memiliki frekuensi sering atau setiap minggunya terus dikonsumsi

oleh responden. Karena sebagian besar mahasiswa tinggal dikosan

yang cenderung dalam mengatur pola makan tidak teratur dengan


jenis makanan yang tidak bervariasi. Hal ini dapat beresiko

mengalami obesitas dan dampak pentakit lainnya jika tidak di barengi

dengan aktivitas fisik dan mengatur pola makan.

2. Gambaran Indeks Massa Tubuh (IMT) Mahasiswa Program Studi

Pendidikan Ners Tingkat 1 Semester 2 di STIKes Budi Luhur

Cimahi

Hasil penelitian pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa indeks

massa tubuh (IMT) responden hampir seluruhnya sebagian besar

responden mengalami gemuk yaitu sebanyak 28 responden (65,1%)

mengalami kelebihan berat badan tingkat ringan, sedangkan hampir

setengahnya reponden mengalami indeks massa tubuh (IMT) normal

sebanyak 12 responden (27,9%), dan sebagian kecil responden

mengalami gemuk yaitu sebanyak 3 responden (7,0%) mengalami

kelebihan berat badan tingkat berat.

Dalam teori yang dikemukakan oleh Sulistyoningsih (2011)

mengenai dampak kekurangan dan kelebihan berat badan,

diantaranya : kurus, gemuk (obesitas), anemia, Anoreksia Nervosa

dan Bulimia. Pada penelitian yang sudah dilakukan, peneliti

menemukan dampak dari kekurangan dan kelebihan berat badan

pada mahasiswa program studi pendidikan ners tingkat 1 semester 2

di STIKes Budi Luhur Cimahi, salah satunya gemuk. Sebagian besar

mahasiswa mempunyai indeks massa tubuh (IMT) gemuk (kelebihan

berat badan tingkat ringan) dan sebagian kecil gemuk (kelebihan

berat badan tingkat berat), dan ini disebabkan karena konsumsi

makanan berlebih serta kurang aktivitas fisik dan berolahraga.


Kegemukan biasanya disebabkan karena mahasiswa tidak dapat

mengontrol makanannya, makan dalam jumlah berlebih sehingga

berat badannya melebihi ukuran normal. Hal ini yang akhirnya akan

menimbulkan terjadinya obesitas.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang sudah dillakukan oleh

Syaputri (2014) mengenai hubungan pola makan dan aktivitas fisik

pada kedokteran UNSYIAH Banda Aceh yang menunjukan bahwa

sebagian besar mahasiswa memiliki kelebihan berat badan tingkat

ringan sebanyak 33 mahasiswa (37,1%), sedangkan hampir

setengahnya memiliki kelebihan berat badan tingkat berat sebanyak

18 mahasiswa (20,2%), dan sebagian kecil memiliki kekurangan berat

badan tingkat ringan sebanyak 17 mahasiswa (19,1%), dan sebagian

kecil memiliki berat badan normal sebanyak 8 mahasiswa (9,0%).

Dimana kebanyakan mahasiswa lebih sering mengkonsumsi lemak,

jarang mengkonsumsi sayuran, dan cenderung tidak mengatur pola

makan dengan baik dan sehat.

Setelah mengamati hasil penelitian, peneliti berpendapat

bahwa secara keseluruhan indeks massa tubuh (IMT) yang dimiliki

oleh mahasiswa program studi pendidikan ners tingkat 1 semester 2

di STIKes Budi Luhur Cimahi yaitu gemuk (kelebihan berat badan

tingkat ringan). Hal ini tentunya dapat beresiko mendekati kelebihan

berat badan tingkat berat atau sampai mengalami obesitas jika

mahasiswa tidak dapat mengatur pola makan dengan baik.


1. Hubungan Pola Makan Dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ners Tingkat 1 Semester 2

di STIKes Budi Luhur Cimahi

Hasil penelitian pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa ada

hubungan antara pola makan dengan indkes massa tubh (IMT) pada

mahasiswa program studi pendidikan ners tingkat 1 semester 2 di

STIKes Budi Luhur Cimahi. Hal ini membuktikan bahwa hipotesis

alternatif diterima di mana nilai p = 0,001 < ɑ 0,05 sehingga pola

makan berhubungan dengan indeks massa tubuh (IMT). Hasil

penelitian tersebut menjelaskan bahwa pola makan merupakan salah

satu faktor meningkatnya berat badan.

Asupan zat-zat gizi yang seimbang dan sesuai dengan

kebutuhan remaja akan membantu mencapai pertumbuhan dan

perkembangan yang optimal (Sulistyoningsih, 2011). Pola makan

dengan angka kebutuhan gizi yang tinggi akan berdampak langsung

pada tubuh pada remaja yaitu menaikkan berat badan, sehingga

apabila berat badannya semakin besar maka indeks massa tubuhnya

juga semakin bertambah, hal ini dikarenakan perhitungan indeks

massa tubuh adalah dengan membandingkan tinggi badan dengan

berat badan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Syaputri (2014) yang berjudul hubungan pola makan dan

aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh (IMT) pada mahasiswa

kedokteran UNSYIAH menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang

signifikan antara variabel pola makan dengan indeks massa tubuh


(IMT) dengan nilai p = 0,012 < 0,05. Begitu pula penelitian yang

dilakukan oleh Saputra (2014) dengan judul hubungan pola makan

dan aktivitas fisik denogan indeks massa tubuh (IMT) pada

mahasiswa tingkat 1a Akper Lamongan bahwa terdapat hubungan

yang positif dan signifikan antara pola makan dan indeks massa tubuh

dengan nilai r=0,330 p=0,009<0,05. Hubungan yang dihasilkan dari

penelitian ini, baik penelitian yang dilakukan oleh peneliti maupun

penelitian dari jurnal yang ada, terdapat hubungan yang signifikan

antara pola makan dengan indeks massa tubuh.

Menurut Sulistyoningsih (2011) terdapat beberapa risiko yang

dapat membuat lebih mudah meningkatnya berat badan yaitu kurang

mengkonsumsi buah dan sayuran segar dan mengkonsumsi makanan

yang tinggi lemak. Semakin mudahnya mendapatkan makanan siap

saji atau sering disebut junk food membuat konsumsi sayuran segar

dan serat berkurang. Seringkali remaja putri memiliki motto bahwa

“Kurus itu indah” sehingga mereka sering melakukan diet tanpa

pengawasan dari dokter atau ahli gizi sehingga zat-zat penting tidak

dapat dipenuhi.

Pola makan yang dimaksud peneliti pada penelitian ini adalah

kebiasaan responden sehari-hari. Baik kebiasaan makan makanan

yang berlemak, tidak mengatur pola makan dengan baik, ataupun

kurang mengkonsumsi makanan yang berserat seperti buah dan

sayuran.

Teori model keperawatan yang peneliti gunakan dalam

penelitian ini adalah teori model keperawatan Virginia Henderson


yaitu tentang 14 dasar kebutuhan dasar manusia. Fokus utama dari

model keperawatan ini adalah tentang makan dan minum yang cukup

Raile (2017). Berdasarkan teori diatas peneliti berpendapat bahwa

makan dan minum mahasiswa pada dasarnya sudah terpenuhi,

namun dengan pola makan yang belum teratur mengakibatkan

sebagian besar mahasiswa memiliki berat badan berlebih (kelebihan

BB tingkat ringan) sebagai mana penelitian yang dilakukan oleh

peneliti pada mahasiswa program studi pendidikan ners tingkat 1

semester 2 di STIKes Budi Luhur Cimahi.

C. Keterbatasan Peneliti

Peneliti menyadari masih terdapat banyak keterbatasan pada

pelaksanaan proses penelitian ini. Salah satunya pada waktu

pelaksanaan penelitian yang terbatas karena dilaksanakan tengah-

tengah waktu liburan dan mengisi disaat mahasiswa ada kegiatan

dikampus sehingga mahasiswa dalam mengisi kuesioner tergesa-

gesa sehingga kesulitan konsentrasi.