Anda di halaman 1dari 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP PREMENOPAUSE

1. Fase Premenopause

Setiap perempuan mengalami fase-fase perkembangan tertentu.

Diantaranya fase yang berkaitan dengan berbagai fungsi organ

reproduksi perempuan. Sejak lahir perempuan mempunyai 770.000 sel

telur yang belum berkembang. Pada fase prapubertas, yaitu berlangsung

pada usia 8 sampai 12 tahun, mulai timbul aktivitas ringan dari fungsi

endokrin reproduksi. Selanjutnya, sekitar usia 12 sampai 13 tahun,

umumnya seorang perempuan mengalami menarche. Masa ini disebut

sebagai puberitas dimana organ reproduksi perempuan mulai berfungsi

optimal secara bertahap. Pada masa ini ovarium mulai mengeluarkan

sel-sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa ini disebut fase reproduksi

yang berlangsung sampai usia sekitar 45 tahun. Pada masa ini

perempuan mengalami hamil dan melahirkan (Kasdu, 2011).

Premenopause merupakan suatu masa peralihan yang dilalui

seorang perempuan dari masa reproduktif ke masa non-reproduktif.

Klimakterium dimulai dari enam tahun sebelum menopause dan berakhir

6-7 tahun setelah menopause (Kasdu, 2011).

Masa premenopause menurut Baziad (2011) meliputi :

premenopause, perimenopause, menopause dan postmenopause.

a. Premenopause

Periode premenopause merupakan masa peralihan antara

masa reproduksi dan masa senium. Biasanya masa ini disebut juga

9
10

dengan pramenopause yang di mulai pada usia 40 sampai dengan

usia 45 tahun, ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan

perdarahan haid yang memanjang dan relatif banyak (Pranoto,

2010).

b. Menopause

Menopause merupakan periode dimana seorang perempuan

tidak terjadi menstruasi selama 12 bulan akibat dari tidak efektifnya

folikel sel telur dan dijumpai kadar FSH darah >40 mIU/ml dan kadar

estradiol <30 pg/ml (Baziad, 2011). Sebagian besar perempuan

umumnya akan mengalami menopause usia antara 45-50 tahun dan

merupakan peristiwa alami yang terjadi pada seorang perempuan

(Rostiana, 2009).

c. Postmenopause

Postmenopause periode setelah perimenopause sampai

senium. Masa yang berlangsung kurang lebih pada usia 51-55

tahun. Ovarium sudah tidak befungsi sama sekali, kadar estradiol

berada antara 20-30 pg/ml, dan kadar hormon gonadotropin

biasanya meningkat (Baziad, 2011).

2. Definisi

Menopause berasal dari kata meno yaitu menstruasi dan pause

yang berarti stop atau berhenti. Menopause adalah peristiwa dimana

pada wanita mengalami perdarahan surut (withdrawal bleeding) secara

fisiologik pada mentstruasi terakhir dalam seumur hidup, yang

menunjukkan berakhirnya kemampuan berproduksi pada wanita (Ghani,

2009). Menopause adalah peristiwa berhentinya siklus menstruasi pada


11

wanita yang terjadi secara bertahap sampai pada penurunan fungsi

ovarium sehingga pada wanita ini tidak dapat lagi menghasilkan

keturunan (Tika Larasati, 2012).

3. Aspek Fisiologis Premenopause

Menopause merupakan tahap akhir proses biologi yang dialami

perempuan berupa penurunan produksi hormon seks perempuan yaitu

estrogen dan progesteron pada indung telur. Proses berlangsung tiga

sampai lima tahun yang disebut masa klimakterik atau perimenopause.

Menjelang menopause persediaan telur akan habis dan ini merupakan

salah satu faktor pencetus menopause. Matangnya telur-telur sejak

masapubertas sampai menopause diatur oleh hormone hipotalamus dan

hipofisis (Retnowati, 2011).

Hipotalamus sering dianggap sebagai otak emosional atau

sebagai otak konduktor sistem endoktrin. Pengendalian ini dapat

menghentikan sistem hormon jika seseorang mengalami stress. Hal

inilah yang menyebabkan bila seseorang sedang mengalami stres siklus

haidnya mundur. Hipofisis memproduksi sejumlah besar hormon, salah

satunya adalah hormon yang membuat seorang manusia menjadi

tumbuh dan berkembang, selain itu hipofisis juga mengendalikan indung

telur atau ovarium. Indung telur selain menyimpan telur-telur yang belum

matang juga memproduksi dua hormon yaitu hormon estrogen dan

progesteron (Retnowati, 2011).

Estrogen hanya menghalangi ovulasi atau pelepasan telur,

sehingga makin lama haid menjadi jarang dan akhirnya akan berhenti.

Walaupun haid sudah berhenti indung telur masih tetap memproduksi


12

estrogen. Berhentinya haid sebenarnya adalah ketuaan indung telur itu

sendiri sehingga kurang bereaksi terhadap hormon estrogen. Penurunan

drastis kadar hormon estrogen dan progresteron akan diikuti berbagai

perubahan fisik seperti kulit mengendur, inkontinensia (gangguan kontrol

berkemih) pada waktu beraktivitas, jantung berdebar-debar, hot flushes

(peningkatan suhu tubuh secara tiba-tiba), sakit kepala, mudah lupa, sulit

tidur, rasa semutan pada tangan dan kaki, nyeri pada tulang dan otot.

Jangka panjang rendahnya kadar hormon estrogen setelah

menopausemenimbulkan ancaman osteoporosis (pengeroposan tulang),

serta peningkatan resiko gangguan kardiovaskuler (Retnowati, 2011).

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Premenopause

Masuknya seseorang dalam fase menopause sangat berbeda-

beda. Perempuan kembar dizigot atau perempuan dengan siklus haid

memendek memasuki menopause lebih awal jika dibandingkan dengan

perempuan yang memiliki siklus haid normal. Memasuki usia menopause

lebih awal dijumpai juga pada perempuan nulipara, perempuan dengan

diabetes melitus (NIDDM), perokok berat, kurang gizi, perempuan

vegetarian, perempuan dengan sosioekonomi rendah. Perempuan

multipara dan perempuan yang banyak mengkonsumsi daging, atau

minum alkohol akan mengalami menopause lebih lambat (Baziad, 2011).

Faktor yang mempengaruhi menopause Wirakusumah (2011),

yaitu :

a. Usia saat haid pertama kali

Perempuan yang mendapatkan menstruasi pada usia 16 atau

17 tahun akan mengalami menopase lebih dini, sedangkan


13

perempuan yang menstruasi lebih dini seringkali akan mengalami

menopause sampai pada usianya mencapai 50 tahun. Artinya,

perempuan yang terlambat mendapatkan menstruasi, akan

mengalami menopause lebih awal, sedangkan perempuan yang

cepat mendapatkan menstruasi cenderung lebih lambat memasuki

menopause. Saat ini memang belum jelas apa kaitan antara usia

menstruasi dan usia menopause tersebut. Namun jika hubungan

tersebut semakin jelas, tentu akan memberikan kesempatan untuk

memantau dan melakukan intervensi sedini mungkin untuk

menyiapkan kaum perempuan dari kemungkinan-kemungkinan yang

terjadi.

b. Faktor psikis

Perempuan yang tidak menikah dan bekerja diduga

mempengaruhi perkembangan psikis seorang perempuan. Menurut

beberapa penelitian mereka akan mengalami masa menopause lebih

muda, dibandingkan mereka yang menikah dan bekerja.

c. Jumlah anak

Beberapa penelitian menemukan bahwa makin sering

seorang perempuan melahirkan, maka makin tua mereka memasuki

menopause. Hal ini dikarenakan kehamilan dan persalinan akan

memperlambat sistem kerja organ reproduksi perempuan dan juga

memperlambat penuaan tubuh.

d. Usia melahirkan

Semakin tua seseorang melahirkan anak, semakin tua ia

memulai memasuki usia menopause. Hal ini terjadi karena


14

kehamilan dan persalinan akan memperlambat sistem kerja organ

reproduksi. Bahkan memperlambat proses penuaan tubuh.

e. Pemakaian kontrasepsi

Pemakaian kontrasepsi, khususnya kontrasepsi hormonal,

pada perempuan yang menggunakannya akan lebih lama atau lebih

tua memasuki usia menopause. Hal ini dapat terjadi karena cara

kerja kontrasepsi yang menekan fungsi indung telur sehingga tidak

memproduksi sel telur.

5. Klasifikasi Premenopause

Berdasarkan proses terjadinya, menopause dibedakan menjadi

menopause alamiah (natural) dan buatan (artifisial). Menopause alami

akan dilalui seorang perempuan secara bertahap selama beberapa

tahun. Umumnya menopause alami terjadi pada usia diakhir 40 tahun

atau diawal 50 tahun. Menopause buatan adalah menopause yang

terjadi akibat prosedur medis seperti pembedahan atau penyinaran.

Menopause akibat pembedahan terjadi akibat histerektomi dan

ooforektomi bilateral. Pengangkatan ovarium dilakukan sebagai tindakan

preventif terhadap karsinoma ovarium (Bobak, 2010).

Menopause juga dibedakan berdasarkan kelainan jadwal

menopause mencakup menopause yang terjadi terlalu dini (menopause

prematur) maupun menopause yang terlambat.

a. Menopause prematur

Menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun disebut

menopause prematur atau menopause dini. Faktor-faktor yang dapat

menyebabkan menopause prematur adalah herediter, gangguan gizi


15

yang cukup berat, penyakit-penyakit menahun dan penyakit-penyakit

yang merusak jaringan kedua ovarium. Faktor lain yang

dapatmenyebabkan menopause prematur adalah kebiasaan

merokok (Sastrawinata, 2011).

b. Menopause terlambat

Batas usia menopause yaitu 52 tahun, apabila seorang

perempuan masih mendapat menstruasi di atas usia 52 tahun

disebut menopause terlambat dan diindikasikan untuk penyelidikan

lebih lanjut penyebab dari menopause terlambat adalah fibromioma

uteri dan tumor ovarium yang menghasilkan estrogen (Sastrawinata,

2011).

6. Perubahan yang Terjadi Selama Premenopause

Sastrawinata (2011) mengungkapkan bahwa perempuan yang

akan menopause mengalami perbahan-perubahan, diantaranya :

a. Perubahan organ reproduksi

Ovarium dan uterus lambat laun mengecil dan endometrium

mengalami atrofi. Walaupun demikian, uterus masih tetap dapat

bereaksi terhadap estrogen. Epitel vagina menipis dan mamai mulai

menjadi lembek. Proses ini berlangsung terus sampai masa senium.

b. Perubahan hormon

Penurunan fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya

kemampuan ovarium untuk menjawab rangsangan gonadotropin.

Keadaan ini akan mengakibatkan terganggunya interaksi

hipotalamus-hipofisis. Pertama-tama terjadi kegagalan fungsi korpus


16

luteum. Kemudian, turunnya produksi steroid ovarium menyebabkan

berkurangnya reaksi umpan balik terhadap hipotalamus. Keadaan ini

meningkatkan produksi FSH dan LH. Dari kedua gonadotropin ini,

ternyata yang paling mencolok peningkatannya adalah FSH.

c. Perubahan vasomotorik

Perubahan ini dapat muncul sebagai gejolak panas (hot

flushes), keringat banyak, rasa kedinginan, sakit kepala, desing

dalam telinga, perubahan tekanan darah, berdebar-debar, susah

bernafas, jari-jari atrofi dan gangguan usus.

d. Perubahan emosi

Perubahan emosi muncul dalam bentuk mudah tersinggung,

depresi, kelelahan, semangat berkurang, dan susah tidur.

7. Keluhan-Keluhan yang Terjadi Selama Menopause

Perubahan-perubahan yang terjadi selama menopause

berdampak pada kesehatan fisik dan psikis.

a. Fisik

Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala

dari menopause adalah menstruasi menjadi tidak teratur, hot flushes,

insomnia, palpitasi dan rasa lemah, gangguan seksual. Gejala-gejala

saluran kemih seperti nyeri saat berkemih, infeksi saluran kemih dan

inkontinensia (Kasdu, 2011). Menurut Baziad (2011), ketika seorang

perempuan memasuki masa menopause, fisik memiliki

ketidaknyamanan seperti rasa panas (hot flushes), jantung berdebar,


17

gangguan tidur, sakit kepala, cepat lelah, kesemutan, berat badan

bertambah, nyeri tulang dan otot.

Hot flushes adalah rasa panas yang luar biasa pada wajah

dan tubuh bagian atas seperti leher dan dada. Hot flushes terjadi

pada malam hari, dan menyebabkan keluarnya keringat, terjadi

selama beberapa detik atau menit, tetapi ada juga yang berlangsung

selama satu jam. Hot flushes berlangsung selama 2-5 tahun ketika

perempuan akan memasuki usia menopause atau pada saat

menopause dan akan menghilang sekitar 4–5 tahun pasca

menopause (Kasdu, 2011).

Perubahan pada kulit yang disebabkan oleh kekurangan

estrogen dapat menyebabkan perubahan sistem pertahanan kulit,

sehingga mudah terkena penyakit kulit (dermatosis). Kekurangan

estrogen juga menyebabkan perubahan mulut dan hidung. Selaput

lendirnya berkerut, aliran darah berkurang, terasa kering dan mudah

terkena gingivitis. Kandungan air liur juga mengalami perubahan

(Baziad, 2011).

Gangguan seksual terjadi karena penurunan kadar estrogen

yang menyebabkan vagina menjadi atropi, kering, gatal, panas dan

nyeri saat aktivitas seksual (dispareunia) karena setelah menopause

sekresi vagina berkurang. Disamping itu dinding vagina menjadi tipis,

elastisitasnya berkurang dan menjadi lebih pendek serta lebih

rendah, akibatnya terasa tidak nyaman dan nyeri selama aktivitas

seksual. Atropi vagina terjadi 3-6 bulan setelah menopause dan

gejalanya dirasakan dalam lima tahun menopause. Atropi juga dapat


18

terjadi pada saluran kemih bagian bawah. Hilangnya tonus otot

uretra akibat menurunya kadar estrogen, akibtnya terjadi ganguan

penutupan uretra dan perubahan pola aliran urin menjadi tidak

normal sehingga fungsi kandung kemih tidak dapat dikendalikan

(inkontinensia urin) dan mudah terjadi infeksi pada saluran kemih

bagian bawah (Kasdu, 2011).

Perempuan menopause sering juga mengeluh nyeri otot dan

sendi. Timbulnya osteoporosis dan osteoartritis dapat terjadi akibat

penurunan hormon estrogen. Selain itu penurunan kadar estrogen

juga berpengaruh pada jaringan kolagen yang berfungsi sebagai

jaringan penunjang pada tubuh. Hilangnya kolagen menyebabkan

kulit menjadi kering dan keriput, rambut rusak dan rontok, gigi mudah

goyang dan gusi berdarah, sariawan, kuku rusak, serta timbulnya

rasa sakit pada persendian (Baziad, 2011).

Bagi perempuan begitu memasuki usia menopause akan

timbul berbagai macam keluhan yang sangat mengganggu dan

beberapa tahun setelah menopause dapat terjadi berbagai macam

penyakit, seperti kanker endometrium, kanker ovarium, kanker

serviks, kanker payudara dan kanker vagina. Ganguan tubuh lainnya

akibat penyakit degeneratif, seperti diabetes dan jantung, faktor

genetik dan gaya hidup juga berpengaruh. Hipertensi, demensia juga

ditemukan pada masa premenopause dan postmenopause

disebabkan karena penurunan kadar hormon steroid. Kelainan lain

seperti sulit berkonsentrasi, hilang fungsi memori jangka pendek dan


19

beberapa kondisi yang berhubungan dengan kelainan psikologis

(Baziad, 2011).

b. Psikologis

Perubahan-perubahan psikologis yang menyertai gejala

menopause sangat mempengaruhi kualitas hidup seorang

perempuan dalam menjalani masa menopause. Perubahan yang

terjadi pada perempuan menopause adalah perubahan mood,

irritabilitas, kecemasan, labilitas emosi, merasa tidak berdaya,

penurunan ingatan, konsentrasi berkurang, sulit mengambil

keputusan, dan merasa tidak berharga (Glasier & Gebbie, 2010).

Banyak perempuan mengeluh masalah psikologis saat menopause,

tetapi sulit untuk menentukan apakah masalah ini timbul akibat

defisiensi atau merupakan faktor sekunder akibat gejala lain.

Keringat malam yang berkepanjangan dapat mengakibatkan

gangguan pola tidur, yang akhirnya menyebabkan gangguan

konsentrasi, ingatan yang kurang baik, perubahan alam perasaan

(depresi), keletihan, perasaan tidak berharga dan kesulitan membuat

keputusan (Abernethy, 2010).

Keluhan psikis sifatnya sangat individual yang dipengaruhi

oleh sosial budaya, pendidikan, lingkungan, dan ekonomi. Keluhan

fisik maupun psikis ini tentu saja akan mengganggu kesehatan

perempuan yang bersangkutan termasuk perkembangan psikisnya.

Selain itu, bisa memengaruhi kualitas hidupnya (Rostiana, 2009).

Keadaan menopause secara menetap membawa

konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis yang dapat menjadi


20

fatal bila tidak ditangani dengan serius. Fungsi reproduksi yang

menurun menimbulkan dampak yaitu ketidaknyamanan dalam

menjalani kehidupan. Bagi sebagian perempuan menopause

menimbulkan rasa cemas dan risau. Hal ini akan menjadi tekanan

dan semakin memberatkan apabila perempuan tersebut selalu

berpikiran negatif (Aprilia & Puspitasari, 2010).

Pada perempuan yang menghadapi periode menopause,

munculnya simtom-simtom psikologis sangat dipengaruhi oleh

adanya perubahan pada aspek fisik-fisiologis sebagai akibat dari

berkurang dan berhentinya produksi hormon estrogen. Menopause

seperti halnya menarche pada gadis remaja (awal dari masuknya

hormon estrogen), remaja ada yang cemas gelisah tetapi ada juga

yang biasa. Pada perempuan yang mengalami menopause keluhan

yang sering dirasakan, antara lain merasa cemas, lekas marah,

mudah tersinggung, sulit konsentrasi, gugup, merasa tidak berguna,

tidak berharga, stres dan bahkan ada yang mengalami depresi.

Tetapi apakah semua perempuan akan mengalami gangguan

psikologis dalam menghadapi menopause. Kenyataannya tidak

semua perempuan setengah baya mengalami kecemasan, ketakutan

bahkan depresi saat menghadapi menopause. Jadi ada juga

perempuan yang tidak merasakan adanya gangguan pada kondisi

psikisnya. Berat ringannya stres yang dialami perempuan dalam

menghadapi dan mengatasi menopause sangat dipengaruhi oleh

bagaimana penilaiannya terhadap menopause. Penilaian individu


21

terhadap peristiwa yang dialami ada yang negatif dan ada yang

positif.

Bagi perempuan yang mencintai atau menganggap

menopause itu sebagai peristiwa yang menakutkan (stresor) dan

berusaha untuk menghindarinya, maka stres pun sulit dihindari. Ia

akan merasa sangat menderita karena kehilangan tanda-tanda

keperempuanan yang selama ini dibanggakannya. Sebaliknya bagi

perempuan yang mengangkat menopouse sebagai suatu ketentuan

Tuhan yang akan dihadapi semua perempuan, maka ia tidak akan

mengalami stres.

Menurut pendekatan kognitif, dalam ilmu psikologis pada

dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, stres) yang dialami

manusia, sangat ditentukan oleh bagaimana individu menilai,

menginterprestasi atau mempersepsikan peristiwa yang dialaminya.

Jadi, Bagaimana individu mempersiapkan atau menilai menopause

akan berpengaruh pada kondisi emosi psikologisnya. Bila

perempuan memandang menopouse sebagai hal yang mengerikan

maka ia pun akan menghadapi menopause dengan penuh

kecemasan ketakutan stres dan depresi.

Kartono (2009), mengemukakan perubahan-perubahan psikis

yang terjadi pada masa menopause akan menimbulkan sikap yang

berbeda-beda antara lain yaitu adanya suatu krisis yang

dimanifestasikan dalam simptom-simptom psikologis seperti depresi,

mudah tersinggung, dan mudah menjadi marah, dan diliputi banyak

kecemasan. Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau


22

perempuan menopause amat penting peranan dalam kehidupan

sosial manusia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang

berkaitan dengan pension, hilangnya jabatan atau pekerjaan yang

sebelumnya sangat menjadi kebanggaan lansia tersebut. Berbicara

tentang aspek psikologis lansia dalam pendekatan eklektik holistik,

sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis,

psikologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan lansia.

Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause

adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian,

tidak sabar, tegang, cemas dan depresi. Ada juga lansia yang

kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan

seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak

mereka, serta merasa kehilangan feminitas karena fungsi reproduksi

yang hilang.

Gejala psikologis merupakan perubahan-perubahan yang

terjadi pada aspek psikologis maupun kognitif perempuan. Berat

ringannya gangguan ini sangat tergantung pada penurunan aktivitas

indung telur, sosial budaya, lingkungan, serta penerimaan psikologis

seorang perempuan tentang keadaannya. Biasanya perempuan

yang mengalami penurunan aktivitas indung telur yang sangat

drastis mengalami gangguan psikologis yang lebih parah. Gangguan

psikologis yang lebih parah juga akan terjadi jika lingkungan

perempuan menopause belum menerima keadaannya dengan

sepenuh hati. Pengaruh yang paling besar datang dari pasangan.

Jika pasangan tidak memberikan dukungan yang memadai, percaya


23

diri perempuan menopause bisa hilang, takut, dan merasa selalu

khawatir.

Faktor internal yang turut memperparah dan jujur lebih sering

terjadi, yaitu dikarenakan oleh perempuan itu sendiri. Banyak

perempuan menopause yang belum dapat menerima kenyataan ini.

Ada berbagai keluhan psikologis yang sering muncul pada

perempuan menopause, diantaranya yaitu merasa tua, tidak menarik

lagi, rasa tertekan karena takut menjadi dua, mudah kaget, merasa

sudah tidak berguna lagi dan tidak menghasilkan sesuatu, merasa

memberikan keluarga dan orang lain, rasa lelah dan semangat yang

menurun, putus asa, penurunan keinginan seksual, dan sesak nafas.

Perubahan emosi tampak pada kelelahan mental, menjadi

lekas marah dan perubahan suasana hati yang begitu cepat.

Biasanya perubahan yang terjadi pada perempuan menopause

biasanya tidak disadari oleh perempuan. Pendekatan khusus

dibutuhkan oleh pihak keluarga agar perempuan tersebut dapat

menerima adanya perubahan emosi yang tidak disadari yang

dirasakan oleh orang-orang sekitarnya. Terkadang, perubahan

tersebut membuat orang-orang sekitarnya kebingungan. Gejala

psikis ini tidak selalu terjadi pada setiap orang karena setiap individu

memiliki kepribadian yang unik. Pendekatan tersebut diharapkan

perempuan dapat menerima masukan untuk mengelola emosi yang

lebih baik.

8. Upaya yang Dilakukan dalam Menghadapi Premenopause


24

Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam menghadapi

menopause yaitu dengan pola makan yang tepat dan aktivitas fisik yang

cukup. Kehilangan estrogen pada perempuan menopause menimbulkan

berbagai macam penyakit seperti penyakit jantung dan osteoporosis.

Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan-keluhan yang

terjadi, seperti : mengkonsumsi makanan yang bergizi dan pengaturan

diet (tinggi kalsium dan rendah lemak), menghindari peningkatan berat

badan, olahraga dan tidur yang teratur, mengurangi kenaikan tekanan

darah, mencari ketenangan dan menjauhkan diri dari pekerjaan yang

menjemukan (WHO, 2010).

Rosenthal (2010) mengungkapkan bahwa hal-hal yang harus

diperhatikan dalam menghadapi menopause adalah kebutuhan kalori

dan zat gizi harus cukup, makanan yang tinggi serat dan rendah lemak,

makanan yang tinggi kalsium dan zat besi, vitamin A, C dan E untuk

antioksidan, vitamin D untuk penyerapan kalsium, vitamin B kompleks.

Hindari kafein, kopi, alkohol, minuman bersoda, rempah-rempah, dan

makanan berlemak. Kopi dan alkohol dapat menghambat absorbsi

kalsium. Selain pola makan yang tepat dan aktivitas fisik yang cukup juga

dapat dilakukan terapi sulih hormon atau Hormon Replacement Therapy

(HRT) merupakan pilihan untuk mengurangi keluhan-keluhan yang timbul

pada perempuan yang mengalami menopause (Baziad, 2011).

Pengobatan dapat dilakukan dengan cara pemberian estrogen seperti

estriol, selama 21 hari berturut-turut disusul dengan masa istirahat

selama 7 hari. Selama masa istirahat diperhatikan apakah keluhan-

keluhan telah hilang atau menetap. Jika keluhannya hilang maka


25

pengobatan dapat dihentikan, tetapi jika menetap maka pengobatan

dilanjutkan. Pada pemakaian jangka panjang, pengaruhnya terhadap

endometrium dan payudara sangat lemah, sehingga jarang terjadi

perdarahan maupun keganasan (Jacoeb, 2010).

Penggunaan estrogen jenis lain, seperti etinil estradiol maupun

estrogen konjugasi perlu digabung dengan progesteron. Alternatif lain

dengan fitoestrogen yang terdiri dari: Isoflavon (genistein, daidzein dan

glycetein) banyak ditemukan dalam legumes (tumbuhan polong terutama

kedelai dengan produk olahannya susu, tempe, tahu); Coumestan

(coumesterol) banyak ditemukan dalam tauge; Lignan (matairesinol,

secoisolariciresinol, enteroldiol) banyak ditemukan dalam buah-buahan,

sayuran, biji-bijian (sereal) (Jacoeb, 2010).

B. Konsep Pengetahuan

1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai

hasil penggunaan panca indera. (Mubarak, 2012). Menurut wahit dan

kawan-kawan (2000 dalam Mubarak, 2012) pengetahuan adalah

merupakan hasil mengingat satu hal, termasuk mengingat kembali

kejadian yang dialami baik secara sengaja maupun tidak disengaja dan

ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap

suatu objek tertentu. Pengetahuan timbul karena adanya sifat ingin tahu

yang merupakan salah satu sifat yang pada umumnya dimiliki oleh

semua orang.

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana


26

penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni indera

penglihatan, pendengeran, penciuman, rasa dan raba yang sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2018).

2. Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2018) pengetahuan yang mencakup dalam

doamain kognitif ada 6 tingkatan yaitu :

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan ini adalah

mengikat kembali suatu spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari

atau rangsangan yang diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa

orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan,

menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.

b. Memahami (Comprehention)

Memahami artinya kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan

materi benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi

harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan terhadap suatu objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (Application)

Merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi ataupun kondisi real (sebenarnya).

d. Analisis (Analysis)
27

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di

dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu

sama lain. Kata kerja yang dipakai di sini adalah menggambarkan,

membedakan, dan mengelompokkan.

e. Sintesis (Syntesis)

Merupakan kemampuan untuk melaksanakan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru. Misalnya, merencanakan, meningkatkan, menyesuaikan,

dan sebagainya terhadap suatu teori yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Artinya kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap

suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu

kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria

yang telah ada.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang

menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek

penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2018).

3. Cara Memperoleh Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2018), untuk memperoleh pengetahuan

ada berbagai cara yaitu :

a. Cara tradisional atau non ilmiah yang terdiri dari :

1) Cara coba dan salah (Trial and Error)


28

Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan,

bahkan mungkin sebelum adanya peradaban apabila seseorang

menghadapi persoalan atau masalah upaya pemecahannya

dilakukan dengan coba-coba. Bila percobaan pertama gagal,

dilakukan percobaan yang kedua dan seterunya sampai masalah

tersebut terpecahkan.

2) Cara kekuasaan atau otoritas

Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kebiasaan dan

tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apakah

yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Sumber pengetahuan

dapat berupa pemimpin masyarakat baik formal maupun informal,

ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya. Pada

pemegang otoritas pada prinsipnya adalah orang lain yang dapat

menerima pendapat yang dikemukakan oleh yang mempunyai

otoritas tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan

kebenarannya, baik berdasarkan perasaannya sendiri.

3) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman adalah guru terbaik demikian bunyi pepatah.

Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu

merupakan sumber pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara

mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam

memecahkan permasalahan yang dihadapi. Pada masa lain

apabila dengan cara digunakan tersebut orang dapat

memecahkan masalah yang dihadapi, maka untuk memecahkan


29

masalah lain yang sama, orang dapat pula menggunakan cara

tersebut.

4) Melalui jalan pintas

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia,

cara manusia berfikir ikut berkembang. Dari sini manusia mampu

menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan.

Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melaui pernyataan-

pernyataan yang khusus kepada yang umum dinamakan induksi,

sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari

pernyataan-pernyataan umum ke khusus.

b. Cara Modern

Cara baru (modern) dalam memperoleh pengetahuan pada

dewasa ini lebih sistemitas, logis dan ilmiah atau lebih popular

disebut metodologi penelitian.

4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


Menurut Lawrence Green dalam Notoajmodjo (2018)

mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

pengetahuan yaitu:

a. Pendidikan.

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang pada

orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami.

Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang

semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya

makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaiknya jika

seseorang tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat


30

perkembangan sikap seseorang terhadap penerima dan nilai-nilai

yang baru diperkenalkan.

b. Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang

memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara lansung

maupun secara tidak lansung.

c. Umur

Bertambahnya umur seseorang, akan terjadi perubahan pada

aspek fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan fisik dapat

dikategorikan yaitu;

1) Perubahan ukuran

2) Perubahan proporsi

3) Hilangnya ciri-ciri lama

4) Timbulnya ciri-ciri baru

Perubahan tersebut terjadi akibat pematangan fungsi organ.

Pada aspek psikologis atau mental taraf berfikir seseorang semakin

matang dan dewasa.

d. Minat

Sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi

terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan

menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang

lebih mendalam.

e. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami

seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada


31

kecenderungan pengalaman yang kurang baik seseorang akan

berusaha untuk melupakan, namun jika pengalaman terhadap objek

tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan

sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaannya, dan

akhirnya dapat pula membentuk sikap positif dalam kehidupannya.

f. Kebudayaan lingkungan sekitar

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai

pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam

suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan

lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai

sikap selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan

sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap

seseorang.

g. Informasi

Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat

membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh suatu

informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk

memperoleh pengetahuan yang baru.

5. Pengukuran Tingkat Pengetahuan

Bila seseorang mampu menjawab mengenai materi tertentu, baik

secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu.

Sekumpulan jawaban yang diberikan seseorang itu dinamakan

pengetahuan. Pengukuran tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin

diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2018)


32

Menurut Nursalam (2013), pengukuran tingkat pengetahuan

dikategorikan sebagai berikut:

a. Baik : apabila pertanyaan dijawab benar sebanyak 76-100%

b. Cukup : apabila pertanyaan dijawab benar sebanyak 56-75%

c. Kurang : apabila pertanyaan dijawab benar kurang dari 55%.

C. KONSEP KECEMASAN

1. Definisi

Kecemasan merupakan reaktivitas emosional berlebihan, depresi

yang tumpul, atau konteks sensitif, respon emosional (Clift, 2011).

Pendapat lain menyatakan bahwa kecemasan merupakan perwujudan

dari berbagai emosi yang terjadi karena seseorang mengalami tekanan

perasaan dan tekanan batin. Kondisi tersebut membutuhkan

penyelesaian yang tepat sehingga individu akan merasa aman. Namun,

pada kenyataannya tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan

baik oleh individu bahkan ada yang cenderung di hindari. Situasi ini

menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan dalam bentuk

perasaan gelisah, takut atau bersalah (Supriyantini, 2010).

Menurut Rachmad (2009), kecemasan timbul karena adanya

sesuatu yang tidak jelas atau tidak diketahui sehingga muncul perasaan

yang tidak tenang, rasa khawatir, atau ketakutan. Ratih (2012)

menyatakan kecemasan merupakan perwujudan tingkah laku psikologis

dan berbagai pola perilaku yang timbul dari perasaan kekhawatiran

subjektif dan ketegangan.

2. Klasifikasi Tingkat Kecemasan


33

Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan

tidak berdaya. Menurut Suliswati (2014) ada empat tingkatan yaitu :

a. Kecemasan ringan

Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari.

Individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas,

menajamkan indera. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan

mampu memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan

pertumbuhan dan kreatifitas.

b. Kecemasan sedang

Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi

perhatiannya, terjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat

melakukan sesuatu dengan arahan orang lain.

c. Kecemasan Berat

Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat

perhatiannya pada detil yang kecil dan spesifik dan tidak dapat

berfikir hal-hal lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi

kecemasan dan perlu banyak perintah/arahan untuk terfokus pada

area lain.

d. Kecemasan Berat Sekali atau Panik

Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatian hilang.

Karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun

meskipun dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik,

berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain,

penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu


34

berfungsi secara efektif. Biasanya disertai dengan disorganisasi

kepribadian.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

Menurut Stuart (2013), faktor yang mempengaruhi kecemasan

dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Faktor predisposisi yang menyangkut tentang teori kecemasan :

1) Teori psikoanalitik

Teori Psikoanalitik menjelaskan tentang konflik

emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian

diantaranya Id dan Ego. Id mempunyai dorongan naluri dan

impuls primitive seseorang, sedangkan Ego mencerminkan hati

nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya

seseorang. Fungsi kecemasan dalam ego adalah mengingatkan

ego bahwa adanya bahaya yang akan datang (Stuart, 2013).

2) Teori interpersonal

Stuart (2013) menyatakan, kecemasan merupakan

perwujudan penolakan dari individu yang menimbulkan

perasaan takut. Kecemasan juga berhubungan dengan

perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan yang

menimbulkan kecemasan. Individu dengan harga diri yang

rendah akan mudah mengalami kecemasan.

3) Teori perilaku

Pada teori ini, kecemasan timbul karena adanya stimulus

lingkungan spesifik, pola berpikir yang salah, atau tidak produktif

dapat menyebabkan perilaku maladaptif. Penilaian yang


35

berlebihan terhadap adanya bahaya dalam situasi tertentu dan

menilai rendah kemampuan dirinya untuk mengatasi ancaman

merupakan penyebab kecemasan pada seseorang (Stuart,

2013).

4) Teori Biologis

Teori biologis menunjukan bahwa otak mengandung

reseptor khusus yang dapat meningkatkan neuroregulator

inhibisi (GABA) yang berperan penting dalam mekanisme

biologis yang berkaitan dengan kecemasan. Gangguan fisik dan

penurunan kemampuan individu untuk mengatasi stressor

merupakan penyerta dari kecemasan.

b. Faktor presipitasi

1) Faktor eksternal

a) Ancaman integritas fisik

Meliputi ketidakmampuan fisiologis terhadap

kebutuhan dasar sehari-hari yang bisa disebabkan karena

sakit, trauma fisik, kecelakaan.

b) Ancaman sistem diri

Diantaranya ancaman terhadap identitas diri, harga

diri, kehilangan, dan perubahan status dan peran, tekanan

kelompok, sosial budaya.

2) Faktor internal

a) Usia

Gangguan kecemasan lebih mudah dialami oleh

seseorang yang mempunyai usia lebih muda dibandingkan


36

individu dengan usia yang lebih tua (Kaplan & Sadock,

2010).

b) Stresor

Kaplan & Sadock (2010) mendefinikan stressor

merupakan tuntutan adaptasi terhadap individu yang

disebabkan oleh perubahan keadaan dalam kehidupan.

Sifat stresor dapat berubah secara tiba-tiba dan dapat

mempengaruhi seseorang dalam menghadapi kecemasan,

tergantung mekanisme koping seseorang. Semakin banyak

stresor yang dialami, semakin besar dampaknya bagi fungsi

tubuh sehingga jika terjadi stressor yang kecil dapat

mengakibatkan reaksi berlebihan.

c) Lingkungan

Individu yang berada di lingkungan asing lebih

mudah mengalami kecemasan dibanding bila dia berada di

lingkungan yang biasa dia tempati (Stuart, 2013).

d) Jenis kelamin

Wanita lebih sering mengalami kecemasan daripada

pria. Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi

dibandingkan pria. Hal ini dikarenakan bahwa wanita lebih

peka dengan emosinya, yang pada akhirnya mempengaruhi

perasaan cemasnya (Kaplan & Sadock, 2010).

e) Pendidikan
37

Dalam Kaplan & Sadock (2010), kemampuan

berpikir individu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.

Semakin tinggi tingkat pendidikan maka individu semakin

mudah berpikir rasional dan menangkap informasi baru.

Kemampuan analisis akan mempermudah individu dalam

menguraikan masalah baru.

4. Alat Ukur Kecemasan

Hawari (2011) mempopulerkan alat ukur kecemasan yaitu

Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Alat ukur ini terdiri dari 14

kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan

gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi

penilaian angka antara 0-4, yang artinya adalah nilai 0 tidak ada gejala

(keluhan), nilai 1 gejala ringan, nilai 2 gejala sedang, nilai 3 gejala berat,

dan nilai 4 gejala berat sekali. Kemudian masing-masing nilai angka dari

14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan

tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu sebagi

berikut :

a. Tidak ada kecemasan jika total nilai kurang dari 14.

b. Kecemasan ringan jika total nilai 14 sampai dengan 20.

c. Kecemasan sedang jika total nilai 21 sampai dengan 27.

d. Kecemasan berat jika total nilai 28 sampai dengan 41.

e. Kecemasan berat sekali atau panik jika total nilai 42 sampai dengan

56.

5. Mekanisme dan Strategi Koping


38

Koping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang

dihadapi atau beban yang diterima tubuh dan beban tersebut

menimbulkan respon tubuh yang sifatnya non spesifik yaitu stres. Apabila

mekanisme koping ini berhasil seseorang akan dapat beradaptasi

terhadap perubahan atau beban tersebut (Ahyar, 2010).

a. Mekanisme koping

Ketika mengalami ansietas, seseorang menggunakan

berbagai mekanisme koping untuk mencoba menghilangkan

ansietas. Menurut Keliat (2011), mekanisme koping adalah cara

yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah,

menyesuaikan diri dengan perubahan serta respon terhadap situasi

yang mengancam. Berdasarkan tingkatan ansietas membutuhkan

lebih banyak energi untuk mengatasi ancaman tersebut.

Mekanisme koping dapat dikategorikan sebagai berfokus

pada masalah atau tugas dan berfokus pada emosi atau ego

(Suliswati, 2014). Mekanisme koping yang berorientasi pada tugas

digunakan untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan konflik dan

memenuhi kebutuhan dasar. Macam-macam reaksi mekanisme

koping berorientasi pada tugas yaitu perilaku menyerah merupakan

usaha seseorang mencoba untuk menghilangkan atau mengatasi

hambatan dalam rangka memenuhi kebutuhan, perilaku menarik diri

dapat dinyatakan secara fisik atau psikologis dan kompromi

melibatkan perubahan cara berpikir seseorang yang biasa tentang

hal-hal tertentu, mengganti tujuan atau mengorbankan aspek

kebutuhan pribadi.
39

Mekanisme koping yang berfokus emosi atau ego, dikenal

sebagai mekanisme pertahanan, melindungi orang dari perasaan

tidak mampu dan tidak berharga serta mencegah kesadaran

ansietas. Koping ini dapat digunakan pada tingkat ansietas yang

lebih tinggi sehingga dapat mendistorsi realitas, mengganggu

hubungan interpersonal dan membatasi kemampuan dalam bekerja

secara produktif (Suliswati, 2014).

Menurut Stuart & Sundeen (2013) mekanisme koping juga

dibedakan menjadi dua yaitu mekanisme koping adaptif dan

maladaptif. Mekanisme koping adaptif merupakan mekanisme yang

mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan belajar dan mencapai

tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain,

memecahkan masalah secara efektif, tehnik relaksasi, latihan

seimbang dan aktivitas konstruktif. Mekanisme koping maladaptif

adalah mekanisme yang menghambat fungsi integrasi, menurunkan

otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah

makan berlebihan/tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar dan

aktivitas destruktif.

b. Strategi koping

Strategi koping adalah cara yang dilakukan untuk mengubah

lingkungan atau situasi atau menyelesaikan masalah yang sedang

dirasakan atau dihadapi (Rasmun, 2009).

Para ahli membagi menjadi dua strategi koping yang

biasanya digunakan oleh individu yaitu problem solving focussed

coping dimana individu secara aktif mencari penyelesaian terhadap


40

masalah untuk menghilangkan kondisi tau situasi yang menimbulkan

stres dan emotion focussed coping, dimana individu melibatkan

usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan

diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau

situasi yang penuh tekanan.

Ahyar (2010) menyebutkan faktor–faktor yang mempengaruhi

strategi koping yaitu kesehatan fisik, keyakinan atau pandangan

positif, ketrampilan memecahkan masalah, ketrampilan sosial,

dukungan sosial dan materi.

D. PREMIS PENELITIAN

Pada penelitian ini menggunakan premis-premis penelitian yang telah

dilakukan oleh peneliti lain yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu

sebagai berikut :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Antika (2016) tentang Hubungan Fase

Menopause dengan Tingkat Kecemasan dalam Berhubungan Seksual

di Padukuhan Kuwon Sidomulyo Bambanganlipuro Bantul Yogyakarta.

Setelah dianalisis menggunakan Chi-Square Test diperoleh nilai p =

<0,000 (α = 0,05). Hal ini berarti ada Hubungan Fase Menopause

dengan Tingkat Kecemasan dalam Berhubungan Seksual di

Padukuhan Kuwon Sidomulyo Bambanganlipuro Bantul Yogyakarta.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Khasanah (2017) tentang Hubungan

Tahapan Menopause dengan Tingkat Kecemasan di Desa

Karangtanjung Alian Kebumen. Setelah dianalisis menggunakan Chi-

Square Test diperoleh nilai p = >0,059 (α = 0,05). Hal ini berarti tidak
41

ada Hubungan Tahapan Menopause dengan Tingkat Kecemasan di

Desa Karangtanjung Alian Kebumen.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Nurpatminingsih (2016) tentang

Hubungan antara Kesiapan Menopause dengan Kecemasan

Menghadapi Menopause pada Ibu PPK di Desa Gentan Kecamatan

Bendosari Kabupaten Sukoharjo. Setelah dianalisis menggunakan Chi-

Square Test diperoleh nilai p = <0,000 (α = 0,05). Hal ini berarti ada

Hubungan antara Kesiapan Menopause dengan Kecemasan

Menghadapi Menopause pada Ibu PPK di Desa Gentan Kecamatan

Bendosari Kabupaten Sukoharjo.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Apriani (2015) tentang Hubungan Masa

Menopause dengan Tingkat Kecemasan Dalam Berhubungan Seksual

di Dusun Jomegatan Wilayah Kerja Puskesmas Kasihan II Bantul

Yogyakarta. Setelah dianalisis menggunakan Chi-Square Test

diperoleh nilai p = <0,001 (α = 0,05). Hal ini berarti ada Hubungan Masa

Menopause dengan Tingkat Kecemasan pada lansia di Dusun

Jomegatan Wilayah Kerja Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta.

E. TEORI MODEL KEPERAWATAN : ADAPTASI CALLISTA ROY

Model adaptasi Roy adalah sistem model yang esensial dan banyak

digunakan sebagai falsafah dasar dan model konsep dalam pendidikan

keperawatan. Roy menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk

biopsikososial sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam memenuhi

kebutuhannya, manusia selalu dihadapkan berbagai persoalan yang

kompleks, sehingga dituntut untuk melakukan adaptasi. Penggunaan koping

atau mekanisme pertahanan diri, adalah berespon melakukan peran dan


42

fungsi secara optimal untuk memelihara integritas diri dari keadaan rentang

sehat sakit dari keadaan lingkungan sekitarnya.

Ada 4 faktor penting dari Roy adalah manusia, sehat-sakit,

lingkungan dan keperawatan yang saling terkait, yaitu sbb:

1. Manusia

a. Sistem adaptasi dengan proses koping

b. Menggambarkan secara keseluruhan bagian – bagian

c. Terdiri dari individu atau dalam kelompok (keluarga, organisasi,

masyarakat, bangsa dan masyarakat secara keseluruhan)

d. Sistem adaptasi dengan cognator dan regulator, subsistem bertindak

untuk memelihara adaptasi dalam 4 model adaptasi : fungsi fisiologis,

konsep diri, fungsi peran dan saling ketergantungan.

2. Lingkungan

a. Semua kondisi, keadaan dan pengaruh lingkungan sekitar, pengaruh

perkembangan dan tingkah laku individu dalam kelompok dengan

beberapa pertimbangan saling menguntungkan individu dan sumber

daya alam.

b. Tiga jenis stimulasi : fokal stimulasi, kontekstual stimulasi, dan

residual stimulasi.

c. Stimulasi bermakna dalam adaptasi semua manusia termasuk

perkembangan keluarga dan budaya.

3. Sehat-Sakit

a. Kesehatan merupakan pernyataan dan proses keutuhan dan

keseluruhan refleks individu dan lingkungan yang saling

menguntungkan.
43

b. Adaptasi : proses dan hasil dimana dengan berfikir dan merasakan

seperti individu dan kelompok, menggunakan kesadaran dengan

memilih untuk membuat kesatuan individu dan lingkungan.

c. Respon adaptif : respon yang meningkatkan integritas dalam masa

antara tujuan dan sistem individu, yang bertahan, tumbuh,

reproduksi, penguasaan, personal dan perubahan lingkungan.

d. Inefektif respon : respon tidak berkontribusi untuk keutuhan

pencapaian tujuan.

e. Tujuan adaptasi menunjukkan kondisi proses kehidupan yang

menggambarkan tiga perbedaan level yaitu : integrasi, kompensasi

dan kompromi.

4. Keperawatan

a. Keperawatan adalah ilmu dan praktek yang memperluas kemampuan

adaptasi dan mempertinggi perubahan individu dan lingkungan.

b. Tujuan adalah meningkatkan adaptasi untuk individu dan kelompok

dalam empat adaptasi model yang berkontribusi untuk kesehatan,

kualitas hidup dan kematian dengan bermartabat.

c. Ini adalah pekerjaan pengkajian tingkah laku dan faktor-faktor yang

mempengaruhi adaptasi dan intervensi untuk mempertinggi

kemampuan dan memperluas interaksi lingkungan.

Aplikasi Keperawatan Model Keperawatan Adaptasi C.Roy yaitu

tingkat kecemasan yang dialami ibu dalam menghadapi masa menopause

umumnya berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki responden. Untuk itu

tingkat kecemasan akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan responden


44

dengan adanya informasi-informasi yang akan membuat responden menjadi

takut menghadapi masa menopause.

F. KERANGKA TEORI

Ibu Pre menopause


Pengetahuan
Pendidikan.
Sosial ekonomi Kecemasan
Tidak ada kecemasan Teori Model Keperawatan
Callista Roy
Kecemasan ringan
Kecemasan sedang
Kecemasan berat
Kecemasan berat sekali
45

Gambar 2.1 Kerangka Teori Hubungan Pengetahuan dengan Tingkat


Kecemasan pada Ibu Premenopause di Puskesmas Batujajar
Kabupaten Bandung Barat.
Sumber : Baziad (2011), Kasdu (2011), Glasier & Gebbie (2010), Suliswati
(2014), Rostiana (2009), Abernethy (2010), Aprilia & Puspitasari
(2010), Stuart (2013), Orem (1985).