Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA TN. X DENGAN POST OPERASI ORIF PADA FEMUR


DEXTRA DI BANGSAL PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT ANANDA

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
1910206027

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2020
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA TN. X DENGAN POST OPERASI ORIF PADA FEMUR
DEXTRA DI BANGSAL PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT ANANDA

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
1910206027

Telah Memenuhi Persyaratan dan disetujui Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Melengkapi Tugas Profesi Ners
pada Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan
di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Pada tanggal:

Clinical Instruction Mahasiswa

(………………………..) Hanif Prasetyaningtyas

Mengetahui,
Pembimbing Akademik

Estriana, S.Kep.Ns., MNS


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas
segala berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
makalah yang berjudul “Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Tn. X dengan
Post Operasi ORIF pada Femur Dextra di Bangsal Penyakit Dalam Rumah Sakit Ananda”,
sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan umat
yang istiqomah di jalan-Nya.
Penulis menyadari penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan untuk lebih
menyempurnakan penyusunan laporan ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Yogyakarta, April 2020

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fraktur merupakan ,masalah yang banyak ditemukan di masyarakat, fraktur atau
patah tulang adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas jaringan tulang yang
disebabkan oleh trauma. trauma langsung yang disebabkan oleh trauma atau pukulan yang
mengakibatkan patah tulang, dan trauma tidak langsung merupakan trauma yang terjadi
akibat rudapaksa dan mengalami fraktur disekitar rudapaksa fan juga karena penyakit
primer yaitu osteoporosis.
Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur
dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olah-raga, pekerjaan, atau luka yang
disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih
sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya
insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada monopouse (Reeves,
Roux, Lockhart, 2002).
Menurut (Tanra, 2007 dalam Akbar, 2009), jumlah penderita mengalami fraktur di
Amerika Serikat sekitar 25 juta orang pertahun. Mayoritas mereka masih menderita nyeri
karena pengelolaannya yang belum adekuat. Pengelolaan nyeri fraktur, bukan saja
merupakan upaya mengurangi penderitaan klien, tetapi juga meningkatkan kualitas
hidupnya. Rasa nyeri bisa timbul hampir pada setiap area fraktur.
Rasa Nyeri tersebut bila tidak diatasi dapat menimbulkan efek yang membahayakan
yang akan mengganggu proses penyembuhan dan dapat meningkatkan angka morbiditas
dan mortalitas, untuk itu perlu penanganan yang lebih efektif untuk meminimalkan nyeri
yang dialami oleh pasien. Secara garis besar ada dua manajemen untuk mengatasi nyeri
yaitu manajemen farmakologi dan manajemen non farmakologi (Potter & Perry, 2005).
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian fraktur?
2. Apa saja klasifikasi dari fraktur?
3. Apa saja klasifikasi dari fraktur femur?
4. Bagaimana epidemiologi dari fraktur?
5. Apa etiologi fraktur?
6. Apa tanda dan gejala dari fraktur?
7. Bagaimana patofisiologi dari fraktur?
8. Apa komplikasi dari fraktur?
9. Apa saja pemeriksaan penunjang pada fraktur?
10. Bagaimana penatalaksanaan dari fraktur?
11. Bagaimana prinsip penanganan fraktur secara umum?
12. Bagaimana pathway dari fraktur?
13. Bagaimana asuhan keperawatan dari fraktur?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian fraktur.
2. Mengetahui klasifikasi dari fraktur.
3. Mengetahui klasifikasi dari fraktur femur.
4. Mengetahui epidemiologi dari fraktur.
5. Mengetahui etiologi fraktur.
6. Mengetahui tanda dan gejala dari fraktur.
7. Mengetahui patofisiologi dari fraktur.
8. Mengetahui komplikasi dari fraktur.
9. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada fraktur.
10. Menegtahui penatalaksanaan dari fraktur.
11. Menegtahui prinsip penanganan fraktur secara umum.
12. Mengetahui pathway dari fraktur.
13. Mengetahui asuhan keperawatan dari fraktur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Fraktur Femur
1. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya (Brunner & Suddarth, 2001). Fraktur merupakan salah satu gangguan atau
masalah yang terjadi pada sistem muskuloskeletal yang menyebabkan perubahan
bentuk dari tulang maupun otot yang melekat pada tulang. Fraktur dapat terjadi di
berbagai tempat dimana terdapat persambungan tulang maupun tulang itu sendiri.
Salah satu contoh dari fraktur adalah yang terjadi pada tulang femur.
Fraktur femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang
pangkal paha yang disaebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi
tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis (Muttaqin, 2008). Fraktur Femur
adalah hilangnya kontinuitas tulang paha, kondisi fraktur femur secara klinis bisa
berupa fraktur femur terbuka yang disertai adanya kerusakan jaringan lunak (otot,
kulit, jaringan saraf dan pembuluh darah) dan fraktur femur tertutup yang dapat
disebabkan oleh trauma langsung pada paha (Helmi, 2012).
2. Klasifikasi Fraktur
a. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
1) Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa
komplikasi.
2) Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.

b. Berdasarkan komplit atau ketidak klomplitan fraktur.


1) Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2) Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
seperti:
3) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
4) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
5) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya
yang terjadi pada tulang panjang.

c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.


1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
3) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
4) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5) Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi
otot pada insersinya pada tulang
d. Berdasarkan jumlah garis patah.
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.
e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2) Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga
disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
3) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping).
4) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
5) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
f. Berdasarkan posisi frakur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
1) 1/3 proksimal
2) 1/3 medial
3) 1/3 distal
g. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
h. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. Pada
fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu:
1) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak
sekitarnya.
2) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
3) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian
dalam dan pembengkakan.
4) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancaman sindroma kompartement.
3. Klasifikasi Fraktur Femur
a. Fraktur batang femur
Fraktur femur mempunyai insiden yang cukup tinggi, diantara jenis-jenis
patah tulang. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah.
Fraktur femur lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada perempuan dengan umur
dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau
kecelakaan.
b. Fraktur kolum femur
Fraktur kolum femur dapat terjadi langsung ketika pasien terjatuh dengan
posisi miring dan trokanter mayor langsung terbentur pada benda keras seperti
jalan. Pada trauma tidak langsung, fraktur kolum femur terjadi karena gerakan
eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Kebanyakan fraktur ini terjadi pada
wanita tua yang tulangnya sudah mengalami osteoporosis (Mansjoer, 2000).
Dua tipe fraktur femur adalah sebagai berikut:
a. Fraktur interkapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul, dan
melalui kepala femur (fraktur kapital).
b. Fraktur ekstrakapsular
1) Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokanter femur yang lebih besar /
lebih kecil/ pada daerah intertrokanter.
2) Terjadi di bagian distal menuju leher femur, tetapi tidak lebih dari 2 inci di
bawah trokanter minor.
Klasifikasi fraktur femur (Muttaqin, 2008) terbagi menjadi:
a. Fraktur leher femur
Fraktur leher femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada
orang tua terutama wanita usia 60 tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis.
Fraktur leher femur pada anak anak jarang ditemukan fraktur ini lebih sering
terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3:2.
Insiden tersering pada usia 11-12 tahun.
b. Fraktur subtrokanter
Fraktur subtrokanter dapat terjadi pada semua usia, biasanya disebabkan
trauma yang hebat. Pemeriksaan dapat menunjukkan fraktur yang terjadi dibawah
trokanter minor.
c. Fraktur intertrokanter femur
Pada beberapa keadaan, trauma yang mengenai daerah tulang femur. Fraktur
daerah troklear adalah semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan
minor. Frkatur ini bersifat ekstraartikular dan sering terjadi pada klien yang jatuh
dan mengalami trauma yang bersifat memuntir. Keretakan tulang terjadi antara
trokanter mayor dan minor tempat fragmen proksimal cenderung bergeser secara
varus. Fraktur dapat bersifat kominutif terutama pada korteks bagian posteomedial.
d. Fraktur diafisis femur
Fraktur diafisis femur dapat terjadi pada daerah femur pada setiap usia dan
biasanya karena trauma hebat, misalnya kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari
ketinggian.
e. Fraktur suprakondilar femur
Daerah suprakondilar adalah daerah antar batas proksimal kondilus femur
dan batas metafisis dengan diafisis femur. Trauma yang mengenai femur terjadi
karena adanya tekanan varus dan vagus yang disertai kekatan aksial dan putaran
sehingga dapat menyebabkan fraktur pada daerah ini. Pergeseran terjadi karena
tarikan otot.
4. Epidemiologi
Fraktur femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada
fraktur subtrochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari
60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik, trauma yang dialami oleh
wanita tua ini biasanya ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada
penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang
femur, fraktur suprakondilar, fraktur interkondilar, fraktur kondilar femur banyak
terjadi pada penderita laki – laki dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh dari
ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena jatuh waktu
bermain dirumah atau disekolah.
5. Etiologi
Pada dasarnya tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan
dan daya pegas untuk menahan tekanan. Penyebab fraktur batang femur antara lain
(Muttaqin, 2011):
a. Fraktur femur terbuka
Fraktur femur terbuka disebabkan oleh trauma langsung pada paha.
b. Fraktur femur tertutup
Fraktur femur tertutup disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi tertentu,
seperti degenerasi tulang (osteoporosis) dan tumor atau keganasan tulang paha
yang menyebabkan fraktur patologis.

6. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala fraktur femur (Brunner & Suddarth, 2001) terdiri atas:
a. Nyeri
Nyeri yang terjadi terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
dimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah
yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak
secara tidak alamiah. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai
menyebabkan deformitas ekstremitas, yang bisa diketahui dengan membandingkan
dengan ekstremitas yang normal. Ektremitas tak dapat berfungsi dengan baik
karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya
otot.
c. Pemendekan tulang
Terjadi pada fraktur panjang karena kontraksi otot yang melekat di atas dan
dibawah tempat fraktur. Leg length discrepancy (LLD) atau perbedaan panjang
tungkai bawah adalah masalah ortopedi yang biasanya muncul di masa kecil, di
mana dua kaki seseorang memiliki panjang yang tidak sama. Penyebab dari
masalah Leg length discrepancy (LLD), yaitu osteomielitis, tumor, fraktur,
hemihipertrofi, di mana satu atau lebih malformasi vaskular atau tumor (seperti
hemangioma) yang menyebabkan aliran darah di satu sisi melebihi yang lain.
Pengukuran Leg length discrepancy (LLD) terbagi menjadi, yaitu true leg length
discrepancy dan apparent leg length discrepancy.True leg length discrepancy
adalah cara megukur perbedaan panjang tungkai bawah dengan mengukur dari
spina iliaka anterior superior ke maleolus medial dan apparent leg length
discrepancy adalah
d. Krepitus tulang (derik tulang)
Krepitasi tulang terjadi akibat gerakan fragmen satu dengan yang lainnya.
e. Pembengkakan dan perubahan warna tulang
Pembengkakan dan perubahan warna tulang terjadi akibat trauma dan perdarahan
yang mengikuti fraktur. Tanda ini terjadi setelah beberapa jam atau hari.
7. Patofisiologi
Pada dasarnya penyebab fraktur itu sama yaitu trauma, tergantung dimana
fraktur tersebut mengalami trauma, begitu juga dengan fraktur femur ada dua faktor
penyebab fraktur femur, faktor-faktor tersebut diantaranya, fraktur fisiologis
merupakan suatu kerusakan jaringan tulang yang diakibatkan dari kecelakaan, tenaga
fisik, olahraga, dan trauma dan fraktur patologis merupakan kerusakan tulang terjadi
akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur
(Rasjad, 2007).
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan metabolik dan
patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang terbuka ataupun
tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan, maka volume
darah menurun. COP atau curah jantung menurun maka terjadi perubahan perfusi
jaringan. Hematoma akan mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi edema lokal
maka terjadi penumpukan didalam tubuh. Disamping itu fraktur terbuka dapat
mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi
dengan udara luar dan kerusakan jaringan lunak yang akan mengakibatkan kerusakan
integritas kulit.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka atau
tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa
nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi masalah
neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik
terganggu. Pada umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan
dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah
dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh.
8. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami fraktur femur (Muttaqin,
2008), antara lain:
a. Fraktur leher femur
Komplikasi yang bersifat umum adalah trombosis vena, emboli paru, pneumonias,
dan dekubitus. Nekrosis avaskular terjadi pada 30% klien fraktur femur yang
disertai pergeseran dan 10% fraktur tanpa pergeseran. Apabila lokasi fraktur lebih
ke proksimal, kemungkinan terjadi nekrosis avaskular lebih besar.
b. Fraktur diafisis femur
Komplikasi dini yang biasanya terjadi pada fraktur diafisis femur adalah sebagai
berikut:
1) Syok terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walapun fraktur bersifat tertutup.
2) Emboli lemak sering didapatkan pada penderita muda dengan fraktur femur.
3) Trauma pembuluh darah besar. Ujung fragmen tulang menembus jaringan
lunak dan merusak arteri femoralis sehingga menmyebakan kontusi dan oklusi
atau terpotong sama sekali.
4) Trauma saraf pada pembuluh darah akibat tusukan fragmen dapat disertai
kerusakan saraf yang bervariasi dari neuropraksia sampai ke aksonotemesis.
Trauma saraf dapat terjadi pada nervus iskiadikus atau pada cabangnya, yaitu
nervus tibialis dan nervus peroneus komunis.
5) Trombo emboli. Klien yag mengalami tirah baring lama, misalnya distraksi di
tempat tidur dapat mengalami komplikasi trombo-emboli.
6) Infeksi terjadi pada fraktur terbuka akibat luka yang terkontaminasi. Infeklsi
dapat pula terjadi setelah dilakukan operasi.
Komplikasi lanjut pada fraktur diafisis femur yang sering terjadi pada klien dengan
fraktur diafisis femur adalah sebagai berikut:
a. Delayed Union, yaitu fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam
empat bulan.
b. Non union apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik.
c. Mal union apabila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen. Mal union
juga menyebabkan pemendekan tungkai sehingga dipelukan koreksi berupa
osteotomi.
d. Kaku sendi lutut. Setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan pergerakan pada
sendi lutut. Hal ini dapat dihindari apabila fisioterapi yang intensif dan sistematis
dilakukan lebih awal.
e. Refraktur terjadi pada mobilisasi dilakukan sebelum union yang solid.
9. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi, luasnya fraktur, trauma, dan jenis
fraktur.
b. Scan tulang, temogram, CT scan/MRI :memperlihatkan tingkat keparahan fraktur,
juga dan mengidentifikasi kerusakan jaringan linak.
c. Arteriogram : dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler.
d. Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada multipel trauma)
peningkatan jumlah SDP adalah proses stres normal setelah trauma.
e. Kretinin : trauma otot meningkatkan beban tratinin untuk klien ginjal.
f. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilingan darah, tranfusi mulpel
atau cedera hati (Lukman & Ningsih, 2009).
10. Penatalaksanaan
a. Fraktur femur terbuka harus dinilai dengan cermat untuk mengetahui ada tidaknya
kehilangan kulit, kontaminasi luka, iskemia otot, cedera pada pembuluh darah dan
saraf. Intervensi tersebut meliputi:
1) Profilaksis antibiotik
2) Debridemen
Pembersihan luka dan debridemen harus dilakukan dengan sedikit mungkin
penundaan. Jika terdapat kematian jaringan yang mati dieksisi dengan hati-
hati. Luka akibat penetrasi fragmen luka yang tajam juga perlu dibersihkan dan
dieksisi.
Stabilisasi dilakukan pemasangan fiksasi interna atau eksterna.
b. Fraktur femur tertutup
Pengkajian ini diperlukan oleh perawat sebagai peran kolaboratif dalam
melakukan asuhan keperawatan. Fraktur diafisis femur, meliputi:
1) Terapi konservatif
2) Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi
definitif untuk mengurangi spasme otot.
3) Traksi tulang berimbang denmgan bagian pearson pada sendi lutut. Indikasi
traksi utama adalah faraktur yang bersifat kominutif dan segmental.
4) Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah union fraktur secara klinis.
c. Terapi Operasi
1) Pemasangan plate dan screw pada fraktur proksimal diafisis atau distal femur
2) Mempengaruhi k nail, AO nail, atau jenis lain, baik dengan operasi tertutup
maupun terbuka. Indikasi K nail, AO nail terutama adalah farktur diafisis.
3) Fiksassi eksterna terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif, infected
pseudoarthrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang
hebat.
d. Fraktur suprakondilar femur, meliputi:
1) Traksi berimbang dengan menggunakan bidai Thomas dan penahan lutut
Pearson, cast bracing, dan spika panggul.
2) Terapi operatif dilakukan pada fraktur yang tidak dapat direduksi secara
konservatif. Terapi dilakukan dengan mempergunakan nail- phorc dare screw
dengan berbagai tipe yang tersedia (Muttaqin, 2011).
11. Prinsip Penanganan Fraktur Secara Umum
Prinsip penanganan fraktur ada 4, yaitu: rekognisi, reduksi, retensi dan rehabilitasi.
a. Rekognisi, mengenal jenis fraktur, lokasi dan keadaan secara umum; riwayat
kecelakaan, parah tidaknya luka, diskripsi kejadian oleh pasien, menentukan
kemungkinan tulang yang patah dan adanya krepitus.
b. Reduksi, mengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomis normal untuk
mencegah jarinagn lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema
dan perdarahan. Reduksi ada 3 (tiga), yaitu:
1) Reduksi tertutup (close reduction), dengan cara manual/ manipulasi, dengan
tarikan untuk menggerakan fragmen tulang/ mengembalikan fragmen tulang ke
posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan)
2) Traksi, digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi, dimana
beratnya traksi di sesuaikan dengan spasme otot. Sinar X digunakan untuk
memantau reduksi fraktur dan aproksimasi fragmen tulang
3) Reduksi terbuka, dengan memasang alat untuk mempertahankan pergerakan,
yaitu fiksasi internal (kawat, sekrup, plat, nail dan batang dan implant logam)
dan fiksasi ekterna (pembalutan, gips, bidai, traksi kontinue, pin dan tehnik
gips
c. Reposisi, setelah fraktur di reduksi, fragmen tulang harus di imobilisasi atau
dipertahankan dalam posisi penyatuan yang tepat. Imobilisasi dapat dilakukan
dengan cara fiksasi internal dan eksternal.
1) fiksasi internal
fragmen tulang dapat diikat dengan skrup,pen, atau paku pengikat,plat
logam yang diikat dengan skrup,paku intramedular yang panjang (dengan
atau tanpa skrup pengunci) , ciscumferential bands, atau kombinasi dari
metode ini.
2) fiksasi eksternal
fraktur dipertahankan dengan skrup pengikat atau kawat penekan yang
melalui tulang diatas dan dibawah fraktur, dan dilekatkan pada suatu
kerangka luar.
d. Rehabilitasi, mempertahankan dan mengembalikan fungsi
Pada umumnya, sebelum dan setelah pelaksanaan terapi latihan, bagian yang
mengalami operasi yaitu 1/3 distal femur pasien dalam keadaan dielevasikan
sekitar 30˚
1) Static Contraction
Terjadi kontraksi otot tanpa disertai perubahan panjang otot dan tanpa gerakan
pada sendi (Kisner,1996). Latihan ini dapat meningkatkan tahanan perifer
pembuluh darah, vena yang tertekan oleh otot yang berkontraksi menyebabkan
darah di dalam vena akan terdorong ke proksimal yang dapat mengurangi
oedem, dengan oedem berkurang, maka rasa nyeri juga dapat berkurang.
2) Passive Movement
Passive movement adalah gerakan yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan dari
luar sementara itu otot pasien lemas (Priatna,1985). Passive movement ada 2,
yaitu :
a) Relaxed Passive Movement
Gerakan pasif hanya dilakukan sebatas timbul rasa nyeri. Bila pasien sudah
merasa nyeri pada batas lingkup gerak sendi tertentu, maka gerakan
dihentikan.
b) Forced Passive Movement
Forced Passive Movement bertujuan untuk menambah lingkup gerak sendi.
Tekniknya hampir sama dengan relaxed passive movement, namun di sini
pada akhir gerakan diberikan penekanan sampai pasien mampu menahan
rasa nyeri.
3) Active Movement
Merupakan gerakan yang dilakukan oleh otot anggota gerak tubuh pasien itu
sendiri (Kisner,1996). Pada kondisi oedem, gerakan aktif ini dapat
menimbulkan “pumping action” yang akan mendorong cairan bengkak
mengikuti aliran darah ke proksimal. Latihan ini juga dapat digunakan untuk
tujuan mempertahankan kekuatan otot, latihan koordinasi dan
mempertahankan mobilitas sendi.
a) Free Active Movement
Gerakan dilakukan sendiri oleh pasien, hal ini dapat meningkatkan
sirkulasi darah sehingga oedem akan berkurang, jika oedem berkurang
maka nyeri juga dapat berkurang. Gerakan ini dapat menjaga lingkup gerak
sendi dan memelihara kekuatan otot.
b) Assisted Active Movement
Gerakan ini berasal dari pasien sendiri, sedangkan terapis memfasilitasi
gerakan dengan alat bantu, seperti sling, papan licin ataupun tangan terapis
sendiri. Latihan ini dapat mengurangi nyeri karena merangsang relaksasi
propioseptif.
c) Ressisted Active Movement
Ressisted Active Movement merupakan gerakan yang dilakukan oleh
pasien sendiri, namun ada penahanan saat otot berkontraksi. Tahanan yang
diberikan bertahap mulai dari minimal sampai maksimal. Latihan ini dapat
meningkatkan kekuatan otot.
4) Hold Relax
Hold Relax adalah teknik latihan gerak yang mengkontraksikan otot kelompok
antagonis secara isometris dan diikuti relaksasi otot tersebut. Kemudian
dilakukan penguluran otot antagonis tersebut. Teknik ini digunakan untuk
meningkatkan lingkup gerak sendi ( Kisner,1996).
5) Latihan Jalan
Latihan transfer dan ambulasi penting bagi pasien agar pasien dapat kembali ke
aktivitas sehari-hari. Latihan transfer dan ambulasi di sini yang penting untuk
pasien adalah latihan jalan. Mula-mula latihan jalan dilakukan dengan
menggunakan dua axilla kruk secara bertahap dimulai dari non weight bearing
atau tidak menumpu berat badan sampai full weight bearing atau menumpu
berat badan. Metode jalan yang digunakan adalah swing, baik swing to ataupun
swing through dan dengan titik tumpu, baik two point gait, three point gait
ataupun four point gait. Latihan ini berguna untuk pasien agar dapat mandiri
walaupun masih menggunakan alat bantu.
12. Pathway
B. ORIF (Open Reduction Intra Fixation)
1. Pengertian
ORIF merupakan suatu tindakan pembedahan untuk memanipulasi fragmen-
fragmen tulang yang patah/fraktur sedapat mungkin kembali seperti letak adalnya.
Interna fiksasi biasanya melibatkan penggunaan plat, sekrup, paku maupun suatu
intramedulary (IM) untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai
penyembuhan tulang yang solid terjadi.
2. Tujuan
Ada beberapa tujuan dilakukannya ORIF (Open Reduksi Fiksasi Internal), antara lain:
a. Memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas.
b. Mengurangi nyeri.
c. Klien dapat melakukan ADL dengan bantuan yang minimal dan dalam lingkup
keterbatasan klien.
d. Sirkulasi yang adekuat dipertahankan pada ekstremitas yang terkena
e. Tidak ada kerusakan kulit
(T.M.Marrelli, 2007)
3. Indikasi
Indikasi ORIF (Open Reduksi Fiksasi Internal) meliputi :
a. Fraktur yang tidak stabil dan jenis fraktur yang apabila ditangani dengan metode
terapi lain, terbukti tidak memberi hasil yang memuaskan.
b. Fraktur leher femoralis, fraktur lengan bawah distal, dan fraktur intra-artikular
disertai pergeseran.
c. Fraktur avulsi mayor yang disertai oleh gangguan signifikan pada struktur otot
tendon.
4. Kontraindikasi
Kontraindikasi ORIF (Open Reduksi Fiksasi Internal) meliputi :
a. Tulang osteoporotik terlalu rapuh menerima implan
b. Jaringan lunak diatasnya berkualitas buruk
c. Terdapat infeksi
d. Adanya fraktur comminuted yang parah yang menghambat rekonstruksi.
(Barbara J. Gruendemann dan Billie Fernsebner, 2005)
5. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan konservatif
1) Proteksi adalah proteksi fraktur terutama untuk mencegah trauma lebih lanjut
dengan cara memberikan sling (mitela) pada anggota gerak atas atau tongkat
pada anggota gerak bawah.
2) Imobilisasi dengan bidai eksterna. Imobilisasi pada fraktur dengan bidai
eksterna hanya memberikan imobilisasi. Biasanya menggunakan Gips atau
dengan macam-macam bidai dari plastik atau metal.
3) Reduksi tertutup dengan menggunakan manipulasi dan imobilisasi eksterna
yang menggunakan gips. Reduksi tertutup yang diartikan manipulasi dilakukan
dengan pembiusan umum dan lokal.
4) Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi. Tindakan ini
mempunyai tujuan utama, yaitu beberapa reduksi yang bertahap dan
imobilisasi.
b. Penatalaksanaan pembedahan
Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau Reduksi terbuka dengan
Fiksasi Internal akan mengimobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan
untuk memasukan paku, sekrup atau pen kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi
bagian-bagian tulang pada fraktur secara bersamaan. Fiksasi internal sering
digunakan untuk merawat fraktur pada tulang pinggul yang sering terjadi pada
orang tua.
6. Kelebihan
a. Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
b. Ketelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur.
c. Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf di sekitarnya.
d. Stabilitas fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai
e. Perawatan di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi
f. Potensi untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta
kekuatan otot selama perawatan fraktur.
7. Kekurangan
a. Setiap anastesi dan operasi mempunyai resiko komplikasi bahkan kematian akibat
dari tindakan tersebut.
b. Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan
pemasangan gips atau traksi.
c. Penggunaan stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu sendiri.
d. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak, dan struktur yang
sebelumnya tak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami
kerusakan selama tindakan operasi.
8. Perawatan Post-Operative
Dilakukan utnuk meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan pada bagian yang sakit.
Dapat dilakukan dengan cara:
a. Mempertahankan reduksi dan imobilisasi.
b. Meninggikan bagian yang sakit untuk meminimalkan pembengkak.
c. Mengontrol kecemasan dan nyeri (biasanya orang yang tingkat kecemasannya
tinggi, akan merespon nyeri dengan berlebihan)
d. Latihan otot
Pergerakan harus tetap dilakukan selama masa imobilisasi tulang, tujuannya agar
otot tidak kaku dan terhindar dari pengecilan massa otot akibat latihan yang
kurang.
e. Memotivasi klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap dan menyarankan
keluarga untuk selalu memberikan dukungan kepada klien
C. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pada tahap pengkajian dapat dilakukan anamnesa/wawancara terhadap pasien dengan
fraktur femur yaitu:
a. Identitas pasien
1) Nama: Nama pasien
2) Usia: Usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik,
penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan, fraktur batang
femur pada anak terjadi karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah
3) Suku: Suku pasien
4) Pekerjaan: Pekerjaan pasien
5) Alamat : Alamat pasien
b. Riwayat keperawatan
1) Riwayat perjalanan penyakit
- Keluhan utama klien datang ke RS atau pelayanan kesehatan : nyeri pada
paha
- Apa penyebabnya, waktu : kecelakaan atau trauma, berapa jam/menit yang
lalu
- Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak dll
- Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan
- Kehilangan fungsi
- Apakah klien mempunyai riwayat penyakit osteoporosis
2) Riwayat pengobatan sebelumnya
- Apakan klien pernah mendapatkan pengobatan jenis kortikosteroid dalam
jangka waktu lama
- Apakah klien pernah menggunakan obat-obat hormonal, tertutama pada
wanita
- Berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut
- Kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir
3) Pemeriksaan fisik
Mengidentifikasi tipe fraktur
- Inspeksi daerah mana yang terkena
- Deformitas yang nampak jelas
- Edema, ekimosis sekitar lokasi cedera
- Laserasi
- Perubahan warna kulit
- Kehilangan fungsi daerah yang cidera
- Palpasi
- Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
- Krepitasi
- Nadi, dingin
- Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur
4) Pemeriksaan Penunjang
- Foto Rontgen
- Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung
- Mengetahui tempat dan tipe fraktur
- Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses
penyembuhan secara periodik
- Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler
- Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
trauma multiple).
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pre operasi
1) Nyeri akut b.d. spasme otot dan kerusakan sekunder pada fraktur
2) Hambatan mobilitas fisik b.d. cedera jaringan sekitar/fraktur
3) Risiko infeksi b.d. fraktur terbuka dan kerusakan jaringan lunak
4) Ansietas b.d. prosedur pengobatan atau pembedahan

b. Intra operasi
1) Risiko syok hypovolemik b.d. perdarahan akibat pembedahan
c. Post operasi
1) Nyeri akut b.d. proses pembedahan
2) Kerusakan integritas kulit b.d. trauma jaringan post pembedahan
3) Risiko infeksi b.d. luka operasi
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Pre Operasi
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1. Nyeri akut NOC NIC 1. Mengetahui karakteristik
berhubungan dengan 1. Tingkat nyeri Manajemen nyeri nyeri secara menyeluruh
spasme otot dan 2. Kontrol nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri untuk menentukan
kerusakan sekunder 3. Tingkat kenyamanan secara komprehensif intervensi selanjutnya
pada fraktur Kriteria Hasil : termasuk lokasi, 2. Mengetahui
1. Mampu mengontrol nyeri karakteristik, durasi, perkembangan respon
(tahu penyebab nyeri, mampu frekuensi, kualitas dan faktor nyeri
menggunakan tehnik presipitasi 3. Mengurangi peningkatan
nonfarmakologi untuk 2. Observasi reaksi nonverbal nyeri
mengurangi nyeri, mencari dari ketidaknyamanan 4. Meniminalkan nyeri
bantuan) 3. Kurangi faktor presipitasi yang dirasakan
2. Melaporkan bahwa nyeri nyeri 5. Mengetahui keefektifan
berkurang dengan 4. Ajarkan tentang teknik non intervensi
menggunakan manajemen farmakologi 6. Pengobatan medis untuk
nyeri 5. Evaluasi keefektifan kontrol mengurangi nyeri
3. Mampu mengenali nyeri nyeri
(skala, intensitas, frekuensi 6. Kolaborasikan dengan
dan tanda nyeri) dokter jika ada keluhan dan
4. Menyatakan rasa nyaman tindakan nyeri tidak berhasil
setelah nyeri berkurang
5. Tanda vital dalam rentang normal
2. Hambatan NOC NIC 1. Pasien dapat termotivasi
mobilitas fisik 1. Gerakan: aktif Latihan Kekuatan untuk melakukan
berhubungan 2. Tingkat mobilitas 1. Ajarkan dan berikan program latihan
dengan cedera 3. Perawatan diri: ADL dorongan pada klien untuk 2. Mencegah resiko cedera
jaringan Kriteria Hasil : melakukan program latihan 3. Memudahkan pasien
sekitar/fraktur 1. Klien meningkat dalam secara rutin untuk
aktivitas fisik Latihan untuk ambulasi melakukan mobilisasi
2. Mengerti tujuan dari 1. Ajarkan teknik ambulasi & 4. Pasien terus termotivasi
peningkatan mobilitas perpindahan yang aman untuk tetap melakukan
3. Memverbalisasikan perasaan kepada klien dan keluarga. ambulasi
dalam meningkatkan kekuatan 2. Sediakan alat bantu untuk 5. Klien dan keluarga
dan kemampuan berpindah klien seperti kruk, kursi memahami mobilisasi
4. Memperagakan penggunaan roda, dan walker dengan benar
alat Bantu untuk mobilisasi 3. Beri penguatan positif untuk 6. Klien termotivasi untuk
(walker) berlatih mandiri dalam memperkuat anggota
batasan yang aman. tubuh
Latihan mobilisasi dengan 7. Klien tidak akan
kursi roda mengalami kekakuan
1. Ajarkan pada klien & sendi dan keluarga dapat
keluarga tentang cara membantu klien untuk
pemakaian kursi roda & cara mobilisasi
berpindah dari kursi roda ke
tempat tidur atau sebaliknya.
2. Dorong klien melakukan
latihan untuk memperkuat
anggota tubuh
3. Ajarkan pada klien/ keluarga
tentang cara penggunaan
kursi roda
3. Resiko tinggi infeksi NOC : NIC : 1. Untuk mencegah infeksi
berhubungan dengan 1. Status imun Kontrol infeksi yang ditularkan oleh
fraktur terbuka dan 2. Kontrol resiko 1. Bersihkan lingkungan setelah pasien lain
kerusakan jaringan Kriteria Hasil : dipakai pasien lain 2. Memotong rantai infeksi
lunak 1. Klien bebas dari tanda dan 2. Gunaka sabun antimikrobia 3. Memotong rantai infeksi
gejala infeksi untuk cuci tangan 4. Tenaga kesehatan dapat
2. Menunjukkan kemampuan 3. Cuci tangan setiap sebelum mencegah infeksi
untuk mencegah timbulnya dan sesudah tindakan nosokomial
infeksi keperawatan 5. Resiko infeksi tidak
3. Jumlah leukosit dalam 4. Gunakan baju, sarung tangan terjadi
batas normal sebagai alat pelindung 6. Diet makanan tinggi
4. Menunjukkan perilaku hidup 5. Pertahankan lingkungan protein untuk
sehat aseptik selama pemasangan mempercepat
alat penyembuhan luka
6. Tingktkan intake nutrisi 7. Untuk mencegah atau
7. Berikan terapi antibiotik bila mengobati infeksi
perlu
4. Ansietas NOC NIC 1. Kecemasan
berhubungan Kontrol ansietas Penurunan kecemasan tidak
dengan prosedur Kriteria hasil: 1. Tenangkan klien meningkat
pengobatan atau 1. Monitor intensitas kecemasan 2. Berikan informasi tentang 2. Pasien dapat
pembedahan 2. Menyikirkan tanda kecemasan diagnosa prognosis dan memahami terkait
3. Mencari informasi tindakan keadaannya
untuk menurunkan 3. Kaji tingkat kecemasan dan 3. Mengetahui tingkat
kecemasan reaksi fisik pada tingkat kecemasan untuk
4. Merencanakan strategi koping kecemasan menentukan
5. Menggunakan teknik 4. Gunakan pendekatan dan intervensi
relaksasi untuk menurunkan sentuhan selanjutnya
kecemasan 5. Temani pasien untuk 4. Empati petugas kesehatan
mendukung

Intra Operasi
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1 Resiko syok NOC NIC 1. Mengetahui
hipovolomik Deteksi resiko Manajemen syok :volume perkembangan
berhubungan dengan Kriteria hasil: 1. Monitor tanda dan perdarahan pasien
perdarahan akibat 1. Kenali tanda dan gejala gejala perdarahan 2. Resiko syok
pembedahan yang mengindikasikan yang konsisten hipovolemik tidak
risiko 2. Cegah kehilangan terjadi
2. Cari validasi dari risiko darah (ex : melakukan 3. Memenuhi
yg dirasakan penekanan pada tempat kebutuhan cairan
3. Pertahankan info terbaru terjadi perdarahan) pasien
tentang riwayat keluarga 3. Berikan cairan IV 4. Mengetahui
4. Pertahankan info terbaru 4. Catat Hb/Ht sebelum dan perubahan
tentang riwayat pribadi sesudah kehilangan darah komponen darah
5. Gunakan sumber informasi sesuai indikasi 5. Keseimbangan
tentang risiko potensial 5. Berikan tambahan kebutuhan darah
darah
Post Operasi
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1. Nyeri berhubungan NOC NIC 1. Mengetahui karakteristik
dengan proses 1. Tingkat nyeri Manajemen nyeri nyeri secara menyeluruh
pembedahan 2. Kontrol nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri untuk menentukan
3. Tingkat kenyamanan secara komprehensif intervensi selanjutnya
Kriteria Hasil : termasuk lokasi, 2. Mengetahui
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu karakteristik, durasi, perkembangan
penyebab nyeri, mampu frekuensi, kualitas dan respon nyeri
menggunakan tehnik faktor presipitasi 3. Mengurangi peningkatan
nonfarmakologi untuk 2. Observasi reaksi nyeri
mengurangi nyeri, mencari nonverbal dari 4. Meniminalkan nyeri
bantuan) ketidaknyamanan yang dirasakan
2. Melaporkan bahwa nyeri 3. Kurangi faktor presipitasi 5. Mengetahui
berkurang dengan nyeri keefektifan intervensi
menggunakan manajemen 4. Ajarkan tentang 6. Pengobatan medis
nyeri teknik non untuk mengurangi nyeri
3. Mampu mengenali nyeri farmakologi
(skala, intensitas, frekuensi 5. Evaluasi keefektifan kontrol
dan tanda nyeri) nyeri
4. Menyatakan rasa nyaman 6. Kolaborasikan dengan
setelah nyeri berkurang dokter jika ada keluhan dan
5. Tanda vital dalam rentang normal tindakan nyeri tidak
berhasil
2. Kerusakan integritas NOC : NIC 1. Tidak ada tekanan
kulit berhubungan Intergritas jaringan: kulit and Manajemen tekanan pada luka
dengan trauma membran mukus 1. Anjurkan pasien 2. Mencegah
jaringan post Kriteria Hasil : untuk menggunakan terbentuknya luka
pembedahan 1. Integritas kulit yang baik bisa pakaian yang longgar yang baru
dipertahankan 2. Hindari kerutan pada tempat 3. Terhindar dari infeksi
2. Melaporkan adanya gangguan tidur Mencegah terjadinya
sensasi atau nyeri pada daerah 3. Jaga kebersihan kulit agar dekubitus
kulit yang mengalami gangguan tetap bersih dan kering 4. Mengetahui perkembangan
3. Menunjukkan pemahaman 4. Mobilisasi pasien (ubah mobilisasi pasien
dalam proses perbaikan kulit posisi pasien) setiap dua 5. Mengetahui nutrisi
dan mencegah terjadinya jam sekali yang dikonsumsi pasie
sedera berulang 5. Monitor kulit akan 6. Pasien tetap terjaga
4. Mampumelindungi kulit dan adanya kemerahan perawatan dirinya
mempertahankan kelembaban 6. Monitor aktivitas dan
kulit dan perawatan alami mobilisasi pasien
7. Monitor status nutrisi pasien
8. Memandikan pasien dengan
sabun dan air hangat
3. Resiko tinggi NOC : NIC : 1. Untuk mencegah
infeksi 1. Status imun Kontrol infeksi infeksi yang ditularkan
berhubungan 2. Kontrol resiko 1. Bersihkan lingkungan oleh pasien lain
dengan luka Kriteria Hasil : setelah dipakai pasien 2. Memotong rantai infeksi
operasi 1. Klien bebas dari tanda dan lain 3. Memotong rantai infeksi
gejala infeksi 2. Gunakan sabun 4. Tenaga kesehatan
2. Menunjukkan kemampuan antimikrobia untuk cuci dapat mencegah infeksi
untuk mencegah timbulnya tangan nosokomial
infeksi 3. Cuci tangan setiap 5. Resiko infeksi
3. Jumlah leukosit dalam batas sebelum dan sesudah tidak terjadi
normal tindakan keperawatan 6. Diet makanan
4. Menunjukkan perilaku hidup 4. Gunakan baju, sarung tinggi protein untuk
sehat tangan sebagai alat mempercepat
pelindung penyembuhan luka
5. Pertahankan lingkungan 7. Untuk mencegah atau
aseptik selama mengobati infeksi
pemasangan alat
6. Tingktkan intake nutrisi
7. Berikan terapi antibiotik bila
perlu
MIND MAP

PENGERTIAN
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang PATOFISIOLOGI KOMPLIKASI
dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Terlampir 1. Syok
Fraktur femur atau patah tulang paha adalah 2. Sindroma kompartemen
rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang
PATHWAY 3. Tromboemboli
Terlampir 4. Infeksi.
disaebabkan oleh trauma langsung, kelelahan
otot, dan kondisi tertentu, seperti degenerasi
tulang atau osteoporosis

TANDA GEJALA
ETIOLOGI Nyeri
Benturan/trauma langsung Pemendekan tulang
pada tulang antara lain : FRAKTUR Ektremitas tak dapat berfungsi
kecelakaan lalu lintas Krepitus tulang
Kelemahan/kerapuhan Pembengkakan
struktur tulang akibat Perubahan warna tulang
gangguan penyakti seperti
osteoporosis, kanker tulang
yang bermetastase
PENATALAKSANAAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Rekognisi Pemeriksaan rontgen
DIAGNOSA KEPERAWATAN 2. Reduksi Scan tulang
Nyeri akut a.Pemasangan gips Arteriogram
Hambatan mobilitas fisik b.Reduksi tertutup (closed Hitung darah lengkap
Risiko syok hypovolemik reduction external fixation) Kreatinin
Kerusakan integritas kulit 3. Reposisi Profil koagulasi
Ansietas a.Fiksasi internal
Risiko infeksi b.Fiksasi eksternal
4. Rehabilitasi
5. Perlu dilakukan mobilisasi
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Lukman, N & Ningsih, N. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan
Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Medica Aesculpalus.

Moffat, D & Faiz, O. (2002). At a Glance Series Anatomi. Jakarta: PT. Glora Aksara
Pratama.

Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan


Muskuloskeletal. Jakarta:EGC.

Muttaqin, A. (2011). Buku Saku Gangguan Mulskuloskeletal Aplikasi pada Praktik Klinik
Keperawatan. Jakarta:EGC.

Rasjad, C. (2007). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT.Yarsif Watampone.

Siddiqui, Z. (2015). Rehabilitations Following Intramedullary Nailing Of Femoral Shaft


Fracture: A Case Report. International Journal of Physical Therapy & Rehabilitation
Science. Vol 1 (1): 30-35.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. DATA DEMOGRAFI
a. Identitas Pasien
1) Nama : Tn. X
2) Usia/Tanggal Lahir : 40 tahun
3) Jenis kelamin : Laki-laki
4) Alamat & No Tlp :-
5) Suku/Bangsa :-
6) Status perkawinan :-
7) Agama :-
8) Pekerjaan :-
9) Diagnosa Medik : Fraktur femur dextra
10) No RM :-
11) Tanggal Masuk RS : 22 April 2020
12) Tanggal Pengkajian : 28 April 2020
b. Identitas Penanggungjawab
1) Nama :-
2) Usia :-
3) Jenis kelamin :-
4) Pekerjaan :-
5) Hubungan Dengan Pasien : -
6) Alamat :-
2. KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluh nyeri pada bagian fraktur femur dextra. Nyeri terasa tertusuk-tusuk,
hilang timbul dan nyeri muncul ketika pasien bergerak dengan skala nyeri 4.
3. RIWAYAT KESEHATAN
a. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien dirawat di bangsal penyakit dalam Rumah Sakit Ananda sejak 6 hari lalu
dengan post op ORIF pada femur dextra hari ke 4.
b. Kondisi saat dikaji
Pasien menegeluh nyeri pada bagian post op ORIF femur dextra. Nyeri terasa
tertusuk-tusuk, hilang timbul dan nyeri timbul ketika pasien bergerak dengan skala
4. Pasien tampak meringis menahan sakit sambil memegang perut. Hasil
pengkajian TTV didapatkan TD: 150/100 mmHg, N: 100x/menit, RR: 26x/menit
tidak teratur, S: 36,70C. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien belum BAB
sejak dirawat di RS. Keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien mengalami
penurunan nafsu makan karena perut terasa penuh.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
1) Penyakit yang pernah di derita sebelumnya
-
2) Riwayat operasi dan hospitalisasi
Pasien operasi ORIF pada femur dextra hari ke 4
3) Alergi
-
4) Konsumsi obat rutin
-
d. Riwayat kesehatan keluarga
-
Genogram
-
4. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
a. Kehidupan Sosial
-
b. Hubungan dengan anggota keluarga
-
c. Hubungan dengan orang lain atau petugas rumah sakit
-
d. Tanggapan pasien tentang penyakit yang dideritanya
-
5. RIWAYAT SPIRITUAL
-
6. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
Pasien tampak meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya
b. Keasadaran
Composmentis
c. TTV:
TD: 150/100 mmHg
N: 100 x/menit
RR: 26 x/menit tidak teratur
S: 36,70C
d. Antropometri
BB: -
TB: -
IMT: -
7. PEMERIKSAAN PER SISTEM
a. Sistem pernafasan
1) Hidung
-
2) Leher
-
3) Dada
-
b. Sistem kardiovaskuler
-
c. Sistem pencernaan
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien belum BAB sejak dirawat di RS.
Keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien mengeluh perut terasa penuh.
d. Indra
1) Mata
-
2) Hidung
-
3) Telinga
-
4) Tangan
-
5) Kaki

Pasien mengeluh nyeri dibagian kaki kanannya, khususnya pada bagian femur
e. Sistem saraf
1) Fungsi cerebral
-
2) Fungsi cranial
-
3) Fungsi motorik
Terjadi kelemahan dan ketidakmampuan bergerak pada ekstremitas bawah
kanan. Pasien mengeluh nyeri ketika menggerakkan pada bagian femur dextra.
4) Fungsi sensorik
-
5) Reflex
-
6) Iritasi meningen
-
f. Sistem muskuloskeletal
1) Kepala :-
2) Kaki :-
3) Bahu :-
4) Tangan :-
g. Sistem integumen
1) Kulit :-
2) Kuku :-
h. Sistem endokrin
1) Kelenjar thyroid : tidak terkaji
2) Percepatan pertumbuhan : tidak terkaji
3) Gejala kreatinisme/ gigantisme : tidak terkaji
4) Ekskresi urin berlebihan : tidak terkaji
5) Suhu tubuh tidak seimbang : tidak terkaji
6) Riwayat bekas air senin dikelilingi semut : tidak terkaji
i. Sistem perkemihan
1) Edema palpebra : tidak terkaji
2) Moon face : tidak terkaji
3) Edema anasarka : tidak terkaji
4) Keadaan kandung kemih : tidak terkaji
5) Nocturia, dysuria, kencing batu : tidak terkaji
6) Penyakit hubungan sexual : tidak terkaji
7) Balance cairan : tidak terkaji
j. Sistem reproduksi
1) Keadaan gland penis : tidak terkaji
2) Testis : tidak terkaji
3) Pertumbuhan rambut : tidak terkaji
4) Pertumbuhan jakun : tidak terkaji
5) Perubahan suara : tidak terkaji
k. Sistem immun
1) Alergi : tidak terkaji
2) Imunisasi : tidak terkaji
3) Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca : tidak terkaji
4) Riwayat transfusi dan reaksi : tidak terkaji
8. AKTIVITAS SEHARI-HARI
a. Nutrisi
1) Sebelum masuk RS
-
2) Setelah masuk RS
Keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien mengalami penurunan nafsu
makan karena perut terasa penuh.
b. Eliminasi
Keterangan Di Rumah Di RS
Tempat pembuangan BAB: - BAB: -
BAK: - BAK: -
Frekuensi, kapan,, terakhir BAB: - BAB: belum BAB sejak pertama masuk
BAK: - RS
BAK: -
Konsistensi BAB: - BAB: -
BAK: - BAK: -
Kesulitan dan cara menangani BAB: - BAB: -
BAK: - BAK: -
Obat-obat untuk BAB: - BAB: -
memperlancar BAK: - BAK: -

c. Istirahat tidur
Keterangan Di Rumah DI RS
Apakah cepat tertidur - -
Jam tidur (siang/malam) - -
Apa yang dilakukan jika tidak - -
bisa tidur
Apakah tidur secara rutin - -
d. Olahraga
-
e. Rokok/alkohol dan obat-obatan
-
f. Personal hygiene
-
g. Aktivitas/mobilitas fisik
-
h. Rekreasi
-
9. TES DIAGNOSTIK
-
10. TERAPI SAAT INI
-
11. PENGKAJIAN RISIKO JATUH
-
12. PENGKAJIAN TINGKAT NYERI

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
2

Tidak nyeri (0) V Sedang (4-6)


Ringan (1-3) Berat (7-10)

B. DATA FOKUS
DS DO
1. Klien mengeluh nyeri di bagian femur dextra 1. Klien tampak meringis menahan sakit
2. Dari pengkajian nyeri didapatkan: 2. Klien tampak memegangi perutnya
O: Post op ORIF hari ke 4 3. Post op ORIF femur dextra hari ke 4
P: nyeri hilang timbul ketika bergerak 4. TTV:
Q: tertusuk-tusuk TD: 150/100 mmHg
R: femur dextra N: 100 x/menit
S: skala 4 RR: 26 x/menit tidak teratur
T: - S: 36,70C
U: -
3. Keluarga klien mengatakan bahwa klien belum
BAB sejak dirawat di RS
4. Keluarga klien mengatakan bahwa klien
mengalami penurunan nafsu makan
5. Keluarga klien mengatakan, klien mengeluh
perut terasa penuh

C. ANALISIS DATA
No Data Etiologi Masalah
1. DS: Agens cedera fisik Nyeri akut
1. Klien mengeluh nyeri di bagian femur dextra
2. Dari pengkajian nyeri didapatkan:
O: Post op ORIF hari ke 4
P: nyeri hilang timbul ketika bergerak
Q: tertusuk-tusuk
R: femur dextra
S: skala 4
T: -
U: -
3. Keluarga klien mengatakan bahwa klien
mengalami penurunan nafsu makan
DO:
1. Klien tampak meringis menahan sakit
2. Post op ORIF femur dextra hari ke 4
3. TD: 150/100 mmHg
N: 100x/menit
RR: 26x/menit
2. DS: Perubahan Konstipasi
1. Keluarga klien mengatakan bahwa klien belum lingkungan baru
BAB sejak dirawat di RS
2. Keluarga klien mengatakan bahwa klien
mengalami penurunan nafsu makan
3. Keluarga klien mengatakan, klien mengeluh
perut terasa penuh
DO:
1. Klien tampak memegangi perutnya
3. DS: Asupan diet kurang Ketidakseimbangan
1. Keluarga klien mengatakan bahwa klien nutrisi: kurang dari
mengalami penurunan nafsu makan kebutuhan tubuh
2. Keluarga klien mengatakan, klien mengeluh
perut terasa penuh
DO:
1. Klien tampak memegangi perutnya
4. DS: Prosedur invasif Risiko infeksi
1. Keluarga klien mengatakan bahwa klien
mengalami penurunan nafsu makan
2. Klien mengeluh nyeri di bagian femur dextra
DO:
1. Post op ORIF femur dextra hari ke 4
2. TD: 150/100 mmHg
N: 100 x/menit
RR: 26 x/menit tidak teratur
S: 36,70C

D. PRIORITAS DIAGNOSA
1. Nyeri akut b.d. agens cedera fisik
2. Konstipasi b.d. perubahan lingkungan baru
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d. asupan diet kurang
4. Risiko infeksi b.d. prosedur invasif
E. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No Masalah Tujuan (NOC) Implementasi (NIC) Rasionalisasi
Keperawatan
1. Nyeri akut b.d. agens Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 Manajemen nyeri (1400) Manajemen nyeri (1400)
cedera fisik jam klien mencapai Tingkat nyeri 1. kaji nyeri secara komprehensif meliputi 1. untuk mengetahui skala nyeri
(2102) dengan kriteria hasil: lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, 2. pemahaman pasien tentang nyeri
- Nyeri yang dilaporkan (Skala 4) intensitas, tingkat keparahan dan faktor akan mengurangi ketegangan pasien
- Panjangnya episode nyeri (Skala 3) presipitasinya dan memudahkan pasien untuk diajak
- Mengerang dan menangis (Skala 4) 2. berikan informasi tentang nyeri, bekerjasama dalam melakukan
- Mual (Skala 3) penyebab, berapa lama dan antisipasi tindakan
Kontrol nyeri (1605) ketidaknyamanan 3. untuk mengurangi nyeri yang bisa
- Menggunakan tindakan pencegahan 3. ajarkan pasien manajemen nyeri non diterapkan secara mandiri oleh klien
(nafas dalam dan nafas panjang) farmakologi (terapi musik) 4. untuk mengurangi nyeri
(Skala 3) 4. kolaborasi pemberian analgesik 5. sebagai pengalihan persepsi nyeri
- Menggunakan analgesic yang 5. bantu pasien berfokus pada aktivitas, 6. Dengan istirahat dan tidur yang
direkomendasikan (Skala 5) bukan nyeri cukup dapat membuat pasien lebih
- Melaporkan nyeri yang terkontrol 6. dukung istirahat atau tidur yang adekuat rileks dan menurunkan nyeri.
(Skala 4) untuk membantu penurunan nyeri
2. Konstipasi b.d. Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 Manajemen konstipasi/impaksi (0450) Manajemen konstipasi/impaksi (0450)
perubahan jam klien mencapai Fungsi 1. Monitor tanda dan gejala 1. Untuk
gastrointestinal (1015) dengan kriteria konstipasi memantau tanda dan gejala yang
lingkungan baru hasil: 2. Identifikasi faktor-faktor muncul pada klien
- Nafsu makan (4) konstipasi 2. Untuk
- Frekuensi BAB (3) 3. Instruksikan pada mengetahui apa yang enyebabkan
Eliminasi usus (0501) pasien/keluarga pada diet tinggi serat terjadinya konstipasi
- Pola eliminasi (4) dengan cara yang tepat 3. Untuk
- Kemudahan BAB (4) 4. Instruksikan pada memotivasi klien untuk
- Pengeluaran feses tanpa bantuan (3) pasien/keluarga penggunaan laksatif yang meningkatkan nafsu makan dengan
tepat diet yang tepat
5. Instruksikan 4. Untuk
pasien/keluarga mengenai hubungan membantu klien dalam BAB
antara diet, latihan, dan asupan cairan 5. Untuk
terhadap kejadian konstipasi memotivasi klien menyeimbangkan
6. Lakukan enema dengan antara latihan dan asupan diet yang
tepat tepat
6. Untuk
membantu klien dalam BAB
3. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen gangguan makan (1030) Manajemen gangguan makan (1030)
nutrisi: kurang dari selama 3x 24 jam klien mencapai 1. Monitor intake/asupan dan asupan cairan 1. Untuk memantau asupan pasien
kebutuhan tubuh b.d. Nafsu makan (1014) dengan kriteria secara tepat 2. Untuk mengetahui kondisi pasien
asupan diet kurang hasil: 2. Monitor tanda-tanda fisiologis (tanda- 3. Untuk memotivasi pasien
- Hasrat/keinginan untuk makan (3-5) tanda vital, elektrolit) tekanan darah, 4. Agar pasien mampu meningkatkan
- Intake makanan (3-5) nadi, suhu, respirasi napsu makan
Status nutrisi (1004) 3. Berikan dukungan kepada klien 5. Untuk memberikan motivasi klien
- Asupan makanan (3-5) 4. Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang terkait napsu makan
- Energi (3-5) baik dengan klien/orang terdekat klien
5. Bangun harapan terkait dengan perilaku
makan yang baik
4. Risiko infeksi b.d. Setelah dilakukan asuhan keperawatan Kontrol infeksi (6540) Kontrol infeksi (6540)
prosedur invasif selama 3x 24 jam klien mencapai 1. Kaji tanda infeksi: kalor, rubor, dolor, 1. Untuk memanatu tanda dan gejala
Kontrol risiko (1902) dengan kriteria tumor, dan fungsio laesa pada luka infeksi yang muncul pada pasien
hasil: jahitan 2. Untuk mengobservasi TTV pasien
- Mengetahui perilaku yang 2. Observasi TTV 3. Untuk memotivasi pasien dan
berhubungan dengan risiko infeksi (4- 3. Beri informasi tentang resiko infeksi, keluarga melakukan pencegahan
5) tanda infeksi dan cara pencegahan infeksi terjadinya infeksi
- Mengidentifikasi tanda dan gejala 4. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah 4. Memotong rantai infeksi
infeksi (4-5) tindakan keperawatan 5. Resiko infeksi tidak terjadi
- Mengetahui cara mencegah infeksi (3- 5. Pertahankan lingkungan aseptik selama 6. Diet makanan tinggi protein untuk
5) pemasangan alat mempercepat penyembuhan luka
- Menunjukkan kemampuan untuk 6. Tingkatkan intake nutrisi 7. Untuk mencegah atau mengobati
mencegah infeksi (3-5) 7. Berikan terapi antibiotik bila perlu infeksi
8. Pastikan teknik perawatan luka yang 8. Mencegah terjadinya infeksi
tepat
F. RENCANA PROSEDUR TINDAKAN/ INTERVENSI KEPERAWATAN
Teknik Pengurangan Nyeri dengan Guided Imagery Menggunakan Musik Klasik
Tahap Persiapan
1. Cek order
2. Kaji klien dan observasi tanda gejala nyeri
3. Siapkan alat dan ruangan yang dibutuhkan
a. Media player/ Handphone
b. Earphone
c. Rekaman musik Mozart klasik
d. Jam tangan
4. Persiapan perawat dan cuci tangan
Tahap Orientasi
1. Berikan salam dan perkenalkan diri
2. Identifikasi kilen (tanyakan nama dan tanggal lahir serta cocokkan dengan
gelang identitas)
3. Jelaskan maksud, tujuan, waktu, dan prosedur tindakan
4. Jaga privacy klien
5. Beri kesempatan klien untuk bertanya
6. Berdoa
Tahap Kerja
1. Dekatkan alat
2. Bantu klien memilih posisi yang nyaman
3. Lakukan penilaian nyeri selama 5 menit (PQRST)
4. Siapakan handpone/ media player
5. Sepakati jenis musik mozart klasik yang akan diputar
6. Atur intensitas musik 60-80 dB dan volume 40-50%
7. Bantu klien menggunakan earphone
8. Hidupkan musik dan pastikan suara sesuai intensitas yang telah diatur dan tidak terlalu
keras
9. Putar musik selama kurang lebih 20 menit atau sampai nyeri dirasa berkurang
Tahap Terminasi
1. Rapikan alat
2. Lakukan penilaian nyeri kembali secara komprehensif (PQRST)
3. Evaluasi respon klien
4. Simpulkan hasil tindakan
5. Berikan reinforcement positif
6. Sepakati rencana tindak lanjut
7. Salam
8. Cuci tangan
Dokumentasi
1. Catat sesuai prosedur pelaksanaan
G. JURNAL
GUIDED IMAGERY USING CLASSICAL MUSIC ON THE REDUCTION IN
PAIN LEVEL OF FRACTURE PATIENTS
Candra Kusuma Negara1* , Achmad Murjani2 , Anna Martiana3 , Fajar Kurniawan4
1,2,3,4
Institute Of Health Science Cahaya Bangsa Banajrmasin

Fraktur adalah istilah medis untuk patah tulang. Salah satu ketakutan terbesar pasien patah
tulang yaitu adanya rasa nyeri. Metode penanganan rasa nyeri yang bisa dilakukan adalah
teknik non-farmakologis yang memberikan guided imagery melalui penggunaan musik
klasik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efek pemberian guided imagery
yang memanfaatkan musik klasik untuk mengurangi skala nyeri pada post operasi fraktur.
Metode penelitian ini adalah quasi-eksperimen pre-tes dan pendekatan kelompok post-tes.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling dengan total 22
responden. Terapi yang diberikan yaitu guided imagery menggunakan musik klasik
dengan intensitas 60-80 dB dan volume 40-50% selama +/- 20 menit. Alat pengumpulan
data yang digunakan adalah lembar observasi VAS (Visual Analog Scale). Analisis data
yang digunakan adalah Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil analisis statistik Wilcoxon Signed
Rank Test diperoleh p value = 0,000 dengan tingkat signifikansi <0,05, ditemukan bahwa
ada pengaruh pemberian terapi musik klasik terhadap penurunan skala nyeri pasien post
op fraktur. Perawat dapat menggunakan musik secara kreatif dalam berbagai situasi klinis.
Pasien umumnya lebih suka melakukan aktivitas memainkan alat musik, menyanyikan
lagu atau mendengarkan musik (Potter, 2006). Penelitian ini diperkuat oleh studi
McCaffrey yang menemukan bahwa intensitas nyeri berkurang 33% setelah terapi musik
dengan menggunakan musik klasik Mozart pada pasien osteoartritis selama 20 menit
dengan musik Mozart (Chiang, 2012). Menurut penelitian dari Draxel University, musik
klasik memiliki resonansi rendah sehingga memiliki musik lambat yang dapat dengan
mudah diterima dalam indera pendengaran yang kemudian diteruskan ke otak yang dapat
merangsang relaksasi hormon.

Anda mungkin juga menyukai