Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA TN. R


DI DUSUN TRISIGAN DK I NGENTAK
MURTIGADING SANDEN BANTUL

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
1910206027

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
RELAKSASI OTOT PROGRESIF

I. IDENTIFIKASI MASALAH
Relaksasi merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada
cara kerja sistem syaraf simpatetis dan parasimpatetis ini. Teknik relaksasi semakin
sering dilakukan karena terbukti efektif mengurangi ketegangan dan kecemasan,
membantu orang yang mengalami insomnia, dan asma.
Di Indonesia, penelitian tentang relaksasi ini juga sudah cukup banyak
dilakukan. Relaksasi bermanfaat untuk mengurangi keluhan fisik. Efektivitas latihan
relaksasi dan terapi kognitif untuk mengurangi kecemasan berbicara di muka umum,
selanjutnya relaksasi juga efektif dalam menurunkan tekanan darah pada penderita
hipertensi ringan, dan menurunkan ketegangan pada siswa penerbang.
Terapi relaksasi dilakukan untuk mencegah dan mengurangi ketegangan
pikiran dan otot - otot akibat stres karena ketegangan dapat mempengaruhi
keseimbangan tubuh. Bila ketegangan terjadi maka tubuh akan menjadi lemah dan
akibatnya tubuh tidak dapat melakukan fungsinya secara optimal. Penggunaan
kelompok dalam praktik keperawatan jiwa memberikan dampak positif dalam upaya
pencegahan, pengobatan atau terapi pemulihan kesehatan seseorang.
II. PENGANTAR
Bidang Studi : Keperawatan Gerontik
Topik : Gout Atritis
Subtopik : Relaksasi otot progresif
Sasaran : Tn. R
Hari/Tgl : Jum’at, 17 April 2020
Waktu : 13.00 WIB
Waktu : 30 Menit
Tempat : Rumah Tn. R di Dusun Trisigan DK 1 Ngentak Murtigading Sanden
III. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan Tn. R dapat mengetahui dan memahami
mengenai terapi relaksasi progresif.
IV. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan diharapkan Tn. R dapat mengetahui tentang:
1. Pengertian relaksasi progresif
2. Tujuan relaksasi progresif
3. Indikasi pelaksanaan relaksasi progresif
4. Cara melakukan relaksasi progresif
V. MATERI
Terlampir
VI. MEDIA
1. Leaflet
VII. METODE
1. Ceramah
2. Diskusi
3. Tanya jawab
VIII. KEGIATAN PEMBELAJARAN
No. Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1. 5 Menit Pembukaan:  Menjawab salam
a. Memberi salam  Mendengarkan dan
b. Perkenalan memperhatikan
c. Menjelaskan tujuan penyuluhan
d. Menyebutkan materi/ pokok bahasan
yang akan disampaikan.
2. 20 Menit Pelaksanaan: Menyimak dan
Menjelaskan materi penyuluhan secara memperhatikan materi
berurutan dan teratur. yang disampaikan
Materi:
a. Pengertian relaksasi progresif
b. Tujuan relaksasi progresif
c. Indikasi pelaksanaan relaksasi
progresif
d. Cara melakukan relaksasi progresif
3. 5 Menit Evaluasi:  Bertanya kepada
1. Tanya jawab tentang materi pemateri
penyuluhan  Menjawab
pertanyaan yang
Penutup diberikan oleh
1. Menyampaikan terimakasih atas pemateri
perhatian dan waktu yang telah  Menyimpulkan
diberikan kepada peserta semua materi
2. Mengucapkan salam penutup penyuluhan yang
telah diberikan

IX. EVALUASI
Metode Evaluasi : Tanya Jawab
Jenis Pertanyaan : Lisan
Jumlah Pertanyaan : 3 soal

1. Sebutkan apa yang dimaksud relaksasi otot progresif


2. Sebutkan tujuan relaksasi otot progresif
3. Bagaiamana langkah-langkah relaksasi otot progresif

X. PENGESAHAN
Yogyakarta, 10 Februari 2020

Mahasiswa Pembimbing

Hanif Prasetyaningtyas Ns. Agustina Rahmawati, M.Kep., Sp.Kep.Kom


Lampiran Materi

A. Pengertian
Relaksasi adalah satu teknik dalam terapi perilaku untuk mengurangi ketegangan
dan kecemasan. Relaksasi progresif merupakan suatu terapi relaksasi yang diberikan
kepada pasien dengan menegangkan otot-otot tertentu dan kemudian relaksasi. Teknik ini
dapat digunakan oleh pasien tanpa bantuan terapis dan mereka dapat menggunakannya
untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan yang dialami sehari-hari di rumah.
Dalam buku Student manual for theory and practice of counseling and
psychotherapy, oleh Gerald Corey, istilah relaksasi sering digunakan untuk menjelaskan
aktifitas yang menyenangkan.Rekreasi, olahraga, pijat, dan menonton bioskop.Semua
bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan suasana rileks merupakan contoh
yang banyak diaggap sebagai relaksasi.
Oleh karena itu efek yang dihasilkan adalah perasaan senang, relaksasi mulai
digunakan untuk mengurangi ketegangan psikis yang berkaitan dengan permasalahan
kehidupan.Terdapat banyak macam teknik relaksasi yang bisa dilakukan. Terdapat empat
macam tipe relaksasi, yaitu:
a. Relaksasi otot (progresive muscle relaxation)
b. Pernafasan (diaphragmatic breathing)
c. Meditasi (attention-focussing exercises)
d. Relaksasi perilaku (behavioral relaxation training)
Dalam relaksasi otot (progresive muscle relaxation) sendiri, individu akan
diberikan kesempatan untuk mempelajari bagaimana cara menegangkan sekelompok otot
tertentu kemudian melepaskan ketegangan itu. Bila sudah dapat merasakan keduanya,
klien mulai membedakan sensasi pada saat otot dalam keadaan tegang dan rileks.
Relaksasi progresif adalah suatu cara dari teknik relaksasi yang mengkombinasi
latihan nafas dalam dan serangkaian kontraksi dan relaksasi otot. Relaksasi progresif yaitu
teknik merelaksasikan otot dalam pada bagian tubuh tertentu atau seluruhnya melalui
teknik program terapi ketegangan otot.Teknik relaksasi otot dalam merupakan teknik
relaksasi yang tidak membutuhkan imajinasi atau sugesti.
B. Tujuan
Menurut Herodes (2010), Alim (2009), dan Potter (2005) dalam Setyoadi dan
Kushariyadi (2011) bahwa tujuan dari teknik ini adalah:
a. Menurunkan ketegangan otot, kecemasan, nyeri leher dan punggung, tekanan darah
tinggi, frekuensi jantung, laju metabolik.
b. Mengurangi distritmia jantung, kebutuhan oksigen.
c. Meningkatkan gelombang alfa otak yang terjadi ketika klien sadar dan tidak
memfokus perhatian seperti relaks.
d. Meningkatkan rasa kebugaran, konsentrasi.
e. Memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stres.
f. Mengatasi insomnia, depresi, kelelahan, iritabilitas, spasme otot, fobia ringan, gagap
ringan, dan
g. Membangun emosi positif dari emosi negatif.
C. Indikasi
Teknik relaksasi mambantu pasien berkoping dari cemas, panik gejala fisik lain.
Indikasi lain untuk nyeri otot, cemas, depresi ringan dan insomnia. Kontra indikasi terapi
ini adalah pada pasien marah.
D. SOP Relaksasi Otot Progresif
Persiapan Alat-alat:
tempat dan alat
1. Ruang yang sejuk, tidak gaduh dan alami
2. Tempat tidur atau kursi dengan sandaran rileks ada penopang
untuk kaki dan bahu.
Persiapan 1. Menyiapkan lingkungan yang memungkinkan melakukan
kegitan relaksasi progresif.
2. Menjelaskan teknik dasar prosedur yang akan dilakukan
dengan cermat agar bisa dimengerti oleh pasien (gunakan otak
kanan yang bersifat menerima).
3. Menjelaskan lama waktu relaksasi progresif yang efektif
(10-20 menit).
4. Meminta kepada pasien untuk berdiri, melepaskan alas kaki,
mememosisikan badan senyaman mungkin dan tidak saling
bersentuhan dengan anggota tubuh yang lain serta benda yang
ada disekitar.
Proses 1. Meminta pasien untuk memejamkan mata dengan lembut dan
relaksasi otot perlahan-lahan.
progresif 2. Meminta pasien untuk menarik napas dalam dan
menghembuskan napas dengan panjang.
3. Meminta kepada pasien untuk menarik napas dalam:
4. Gerakan 1 : Ditunjukan untuk melatih otot tangan.
5. Genggam tangan kiri sambil membuat suatu kepalan.
6. Buat kepalan semakin kuat sambil merasakan sensasi
ketegangan yang terjadi.
7. Pada saat kepalan dilepaskan, rasakan relaksasi selama 10
detik.
8. Gerakan pada tangan kiri ini dilakukan dua kali sehingga
dapat membedakan perbedaan antara ketegangan otot dan
keadaan relaks yang dialami.
9. Lakukan gerakan yang sama pada tangan kanan.
10. Gerakan 2 : Ditunjukan untuk melatih otot tangan bagian
belakang.
11. Tekuk kedua lengan ke belakang pada peregalangan tangan
sehingga otot di tangan bagian belakang dan lengan bawah
menegang.
12. Jari-jari menghadap ke langit-langit.

Gambar gerakan 1 dan 2


13. Gerakan 3 : Ditunjukan untuk melatih otot biseps (otot besar
padabagian atas pangkal lengan).
14. Genggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan.
15. Kemudian membawa kedua kapalan ke pundak sehingga otot
biseps akan menjadi tegang.
Gambar gerakan 3
16. Gerakan 4 : Ditunjukan untuk melatih otot bahu supaya
mengendur.
17. Angkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan hingga
menyentuh kedua telinga.
18. Fokuskan perhatian gerekan pada kontrak ketegangan yang
terjadi di bahu punggung atas, dan leher.

Gambar 4
19. Gerakan 5 dan 6: ditunjukan untuk melemaskan otot-otot
wajah (seperti dahi, mata, rahang dan mulut).
20. Gerakan otot dahi dengan cara mengerutkan dahi dan alis
sampai otot terasa kulitnya keriput.
21. Tutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketegangan
di sekitar mata dan otot-otot yang mengendalikan gerakan
mata.
22. Gerakan 7 : Ditujukan untuk mengendurkan ketegangan yang
dialami oleh otot rahang. Katupkan rahang, diikuti dengan
menggigit gigi sehingga terjadi ketegangan di sekitar otot
rahang.
23. Gerakan 8 : Ditujukan untuk mengendurkan otot-otot di
sekitar mulut. Bibir dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga
akan dirasakan ketegangan di sekitar mulut.

Gambar 5, 6, 7 dan 8
24. Gerakan 9 : Ditujukan untuk merilekskan otot leher bagian
depan maupun belakang.
25. Gerakan diawali dengan otot leher bagian belakang baru
kemudian otot leher bagian depan.
26. Letakkan kepala sehingga dapat beristirahat.
27. Tekan kepala pada permukaan bantalan kursi sedemikian rupa
sehingga dapat merasakan ketegangan di bagian belakang
leher dan punggung atas.
28. Gerakan 10 : Ditujukan untuk melatih otot leher bagian
depan.
29. Gerakan membawa kepala ke muka.
30. Benamkan dagu ke dada, sehingga dapat merasakan
ketegangan di daerah leher bagian muka.
31. Gerakan 11 : Ditujukan untuk melatih otot punggung
32. Angkat tubuh dari sandaran kursi.
33. Punggung dilengkungkan
34. Busungkan dada, tahan kondisi tegang selama 10 detik,
kemudian relaks.
35. Saat relaks, letakkan tubuh kembali ke kursi sambil
membiarkan otot menjadi lurus.
36. Gerakan 12 : Ditujukan untuk melemaskan otot dada.
37. Tarik napas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara
sebanyak-banyaknya.
38. Ditahan selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan
di bagian dada sampai turun ke perut, kemudian dilepas.
39. Saat tegangan dilepas, lakukan napas normal dengan lega.
40. Ulangi sekali lagi sehingga dapat dirasakan perbedaan antara
kondisi tegang dan relaks.

Gambar 9, 10, 11, 12


41. Gerakan 13 : Ditujukan untuk melatih otot perut
42. Tarik dengan kuat perut ke dalam.
43. Tahan sampai menjadi kencang dan keras selama 10 detik,
lalu dilepaskan bebas.
44. Ulangi kembali seperti gerakan awal untuk perut.

Gambar 13,14

45. Gerakan 14 : Ditujukan untuk melatih otot-otot kaki (seperti


paha dan betis).
46. Luruskan kedua telapak kaki sehingga otot paha terasa tegang.
47. Lanjutkan dengan mengunci lutut sedemikian rupa sehingga
ketegangan pindah ke otot betis.
48. Tahan posisi tegang selama 10 detik, lalu dilepas.
49. Ulangi setiap gerakan masing-masing dua kali.
Terminasi 1. Mengeksplorasi perasaaan pasien
2. Berdiskusi tentang umpan balik dengan pasien
3. Melakukan kontak : topik, waktu dan tempat, untuk kegiatan
selanjutnya / terminasi jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA
Setyoadi, K. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan Jiwa pada Klien Psikogeriatrik.Jakarta :
Salemba Medika.

Perry, Patricia A., & Potter, Anne Griffin.(2005). Fundamental Keperawatan buku I edisi
7.Jakarta : Salemba Medika.

Ramdhani, N., & Putra, A., A. 2006. Pengembangan Multimedia Relaksaasi.


(http://neila.staff.ugm.ac.id/wordpress/wp-content/uploads/2009/08/ relaksasi-
otot.pdf).
PROFESI NERS
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA

Anda mungkin juga menyukai