Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dari  pada daratan, oleh karena itu
Indonesia di kenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan berbagai
biota laut baik flora maupun fauna. Demikian luas serta keragaman jasad– jasad hidup di
dalam yang kesemuanya membentuk dinamika kehidupan di laut yang saling
berkesinambungan (Nybakken 1988).

Salah satu bentuk kekayaan flora di perairan Indonesia yaitu adanya tumbuhan lamun.
Lamun (seagrass) adalah satu-satunya kelompok tumbuhan berbunga yang hidup di
lingkungan laut (Kasijan, 2001).Tumbuh-tumbuhan ini hidup di perairan yang dangkal.
Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan
merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme.

Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan


keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam
biota laut seperti ikan, krustacea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp),
Ekinodermata  ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan
cacing ( Polichaeta) (Bengen, 2001).

Lamun sangat berperan dalam ekosistemnya yaitu dalam hal dapat menstabilkan garis
pantai karena lamun ini memiliki akar yang terjalin dengan kuat sehingga dapat
menstabilkan substrat yang ada agar tidak cepat tererosi oleh arus maupun gelombang air
laut.Selain itu juga fungsinya dalam mempertahankan kehidupan dari biota-biota laut
seperti ikan dalam bentuk juvenille karen lamun ini berfungsi dalam hal nursery ground,
feeding ground, dan spawning ground.

2.2 Tujuan Praktikum


Tujuan diadakan praktikum tentang lamun yaitu :
a. Mahasiswa dapat mempelajari dan mengetahui morfologi luar lamun.
b. Mahasiswa dapat menyebutkan kharakteristik masing-masing lamun.
c. Mahasiswa dapat mengidentifikasi masing-masing lamun yang ada dengan
bantuan buku identifikasi.
d. Mahasiswa dapat membedakan dan menunjukkan berbagai jenis lamun
berdasarkan spesiesnya.

2.3 Manfaat
Melalui praktikum Botani Laut tentang Lamun, diharapkan mahasiswa dapat
membedakan spesies lamun yang terdapat di Indonesia, menyebutkan ciri-ciri, serta dapat
melakukan identifikasi atau taksonomi dengan benar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi Padang Lamun


Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang
dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan nutrien karena
mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem
yang tinggi produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di
perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang secara optimal.
Lamun didefinisikan sebagai satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang
mampu beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup
terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli juga
mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air
laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.

Ekosistem padang lamun memiliki kondisi ekologis yang sangat khusus dan berbeda
dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Ciri-ciri ekologis padang lamun antara
lain adalah :

1. Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir


2. Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu
karang
3. Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung
4. Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan.
5. Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan tubuhnya
terbenam air termasuk daur generatif
6. Mampu hidup di media air asin
7. Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik.

Padang lamun adalah ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun sebagai vegetasi
yang dominan. Lamun (seagrass) adalah kelompok tumbuhan berbiji tertutup
(Angiospermae) dan berkeping tunggal (Monokotil) yang mampu hidup secara permanen
di bawah permukaan air laut (Sheppard et al., 1996). Komunitas lamun berada di antara
batas terendah daerah pasangsurut sampai kedalaman tertentu dimana cahaya matahari
masih dapat mencapai dasar laut (Sitania, 1998).
2.2 Klasifikasi Lamun

Tanaman lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan menyebarkan bibit
seperti banyak tumbuhan darat. Klasifikasi lamun adalah berdasarkan karakter tumbuh-
tumbuhan. Selain itu, genera di daerah tropis memiliki morfologi yang berbeda sehingga
pembedaan spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan anatomi.

Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan
sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub
kelas Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui, 2
berada di perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili
Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3
famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut.  

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di mana di Indonesia


ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili: (1) Hydrocharitaceae, dan
(2) Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara
lain: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata,
dan Thallassodendron ciliatum.

Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan
termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar
di substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan
reproduksi pada saat terbenam. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi
reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di
bawah air.  

Secara rinci klasifikasi lamun menurut Den Hartog (1970) dan Menez, Phillips, dan
Calumpong (1983) adalah sebagai berikut : 

Devisi : Anthophyta

Kelas : Angiospermae

Famili : Potamogetonacea

Subfamili : Zosteroideae

Genus : Zostera, Phyllospadix, Heterozostera.


Lamun terdapat pada daerah mid-intertidal sampai kedalaman 50 atau 60 m. Namun
mereka tampak sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesiesnya lebih banyak
terdapat di daerah tropik. Semua tipe substrat dihuni oleh lamun ini. Mulai dari lumpur
encer sampai batu-batuan, tetapi kebun yang paling luas dijumpai pada substrat yang
lunak.tersebut. Jika dilihat dari pola zonasi lamun secara horisontal, maka boleh
dikatakan ekosistem lamun terletak di antara 2 ekosistem bahari penting yaitu ekosistem
mangrove dan ekosistem terumbu karang.  Dengan letak yang berdekatan dengan 2
ekosistem pantai tropik tersebut, ekosistem lamun tidak terisolisasi atau berdiri sendiri
tetapi berinteraksi dengan kedua ekosistem

Dalam ekosistem lamun, rantai makanan terusun dari tingkat-tingkat trofik yang
mencakup proses dan pengangkutan detritus organik dari ekosistem lamun ke konsumen
yang agak rumit. Sumber bahan organik bersal dari produk lamun itu sendiri, di samping
tambahan dari epifit dan alga makrobentos, fitoplankon dan tanaman darat. Zat organik
dimakan fauna melalui perumputan (grazing) atau pemanfaatan detritus.

Lamun biasanya terdapat dalam julah yang melimpah dan sring membentk padang
lamun yang lebat dan luas di perairan tropik. Sifat-sifat lingkungan pantai, terutama
dekat estuari, cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan lamun. Namun seperti
halnya mangrove, lamun juga hidup di lingkungan yang sulit. Pengaruh gelombang,
sedimentasi, pemanasan air, pergantian pasang dan surut dan curah hujan, semuanya
harus di hadapi dengan gigih dengan penyesuaian-penyesuaian secara morfologik dan
faal.

2.3 Karakteristik Sistem Vegetatif

 Akar

Terdapat perbedaan morfologi dan anatomi akar yang jelas antara jenis lamun yang dapat
digunakan untuk taksonomi. Akar pada beberapa spesies seperti Halophila dan Halodule 
memiliki karakteristik tipis (fragile), seperti rambut, diameter kecil, sedangkan spesies
Thalassodendron memiliki akar yang kuat dan berkayu dengan sel epidermal. Jika
dibandingkan dengan tumbuhan darat, akar dan akar rambut lamun tidak berkembang
dengan baik. Namun, beberapa penelitian memperlihatkan bahwa akar dan rhizoma
lamun memiliki fungsi yang sama dengan tumbuhan darat. Akar-akar halus yang tumbuh
di bawah permukaan rhizoma, dan memiliki adaptasi khusus (contoh : aerenchyma, sel
epidermal) terhadap lingkungan perairan. Semua akar memiliki pusat stele yang
dikelilingi oleh endodermis. Stele mengandung phloem (jaringan transport nutrien) dan
xylem (jaringan yang menyalurkan air) yang sangat tipis. Karena akar lamun tidak
berkembang baik untuk menyalurkan air maka dapat dikatakan bahwa lamun tidak
berperan penting dalam penyaluran air.  

Patriquin (1972) menjelaskan bahwa lamun mampu untuk menyerap nutrien dari dalam
substrat (interstitial) melalui sistem akar-rhizoma. Selanjutnya, fiksasi nitrogen yang
dilakukan oleh bakteri heterotropik di dalam rhizosper Halophila ovalis, Enhalus
acoroides, Syringodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii cukup tinggi lebih dari 40
mg N.m-2.day-1. Koloni bakteri yang ditemukan di lamun memiliki peran yang penting
dalam penyerapan nitrogen dan penyaluran nutrien oleh akar. Fiksasi nitrogen
merupakan proses yang penting karena nitrogen merupakan unsur dasar yang penting
dalam metabolisme untuk menyusun struktur komponen sel.

Diantara banyak fungsi, akar lamun merupakan tempat menyimpan oksigen untuk proses
fotosintesis yang dialirkan dari lapisan epidermal daun melalui difusi sepanjang sistem
lakunal (udara) yang berliku-liku. Sebagian besar oksigen yang disimpan di akar dan
rhizoma digunakan untuk metabolisme dasar sel kortikal dan epidermis seperti yang
dilakukan oleh mikroflora di rhizospher. Beberapa lamun diketahui mengeluarkan
oksigen melalui akarnya (Halophila ovalis) sedangkan spesies lain (Thallassia
testudinum) terlihat menjadi lebih baik pada kondisi anoksik.

Larkum et al (1989) menekankan bahwa transport oksigen ke akar mengalami penurunan


tergantung kebutuhan metabolisme sel epidermal akar dan mikroflora yang berasosiasi.
Melalui sistem akar dan rhizoma, lamun dapat memodifikasi sedimen di sekitarnya
melalui transpor oksigen dan kandungan kimia lain. Kondisi ini juga dapat menjelaskan
jika lamun dapat memodifikasi sistem lakunal berdasarkan tingkat anoksia di sedimen.
Dengan demikian pengeluaran oksigen ke sedimen merupakan fungsi dari detoksifikasi
yang sama dengan yang dilakukan oleh tumbuhan darat. Kemampuan ini merupakan
adaptasi untuk kondisi anoksik yang sering ditemukan pada substrat yang memiliki
sedimen liat atau lumpur. Karena akar lamun merupakan tempat untuk melakukan
metabolisme aktif (respirasi) maka konnsentrasi CO2 di jaringan akar relatif tinggi.
 Rhizoma dan Batang

Semua lamun memiliki lebih atau kurang rhizoma yang utamanya adalah herbaceous,
walaupun pada Thallasodendron ciliatum (percabangan simpodial) yang memiliki
rhizoma berkayu yang memungkinkan spesies ini hidup pada habitat karang yang
bervariasi dimana spesies lain tidak bisa hidup. Kemampuannya untuk tumbuh pada
substrat yang keras menjadikan T. Ciliatum memiliki energi yang kuat dan dapat hidup
berkoloni disepanjang hamparan terumbu karang.

Struktur rhizoma dan batang lamun memiliki variasi yang sangat tinggi tergantung dari
susunan saluran di dalam stele. Rhizoma, bersama sama dengan akar, menancapkan
tumbuhan ke dalam substrat. Rhizoma seringkali terbenam di dalam substrat yang dapat
meluas secara ekstensif dan memiliki peran yang utama pada reproduksi secara vegetatif
dan reproduksi yang dilakukan secara vegetatif merupakan hal yang lebih penting
daripada reproduksi dengan pembibitan karena lebih menguntungkan untuk penyebaran
lamun. Rhizoma merupakan 60 – 80% biomas lamun.

 Daun

Seperti semua tumbuhan monokotil, daun lamun diproduksi dari meristem basal yang
terletak pada potongan rhizoma dan percabangannya. Meskipun memiliki bentuk umum
yang hampir sama, spesies lamun memiliki morfologi khusus dan bentuk anatomi yang
memiliki nilai taksonomi yang sangat tinggi. Beberapa bentuk morfologi sangat mudah
terlihat yaitu bentuk daun, bentuk puncak daun, keberadaan atau ketiadaan ligula.
Contohnya adalah puncak daun Cymodocea serrulata berbentuk lingkaran dan berserat,
sedangkan C. Rotundata datar dan halus. Daun lamun terdiri dari dua bagian yang
berbeda yaitu pelepah dan daun. Pelepah daun menutupi rhizoma yang baru tumbuh dan
melindungi daun muda. Tetapi genus Halophila yang memiliki bentuk daun petiolate
tidak memiliki pelepah.

Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata dan keberadaan kutikel
yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan pergerakan ion dan  difusi
karbon sehingga daun dapat menyerap nutrien langsung dari air laut. Air laut merupakan
sumber bikarbonat bagi tumbuh-tumbuhan untuk penggunaan karbon inorganik dalam
proses fotosintesis.
2.4 Reproduksi Lamun
Lamun dapat mereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi seksual melalui
pemisahan fragmen atau rimpang yang hanyut (misalnya pada Zostera marina),
meskipun proses ini tampaknya sangat langka. Sedangakan Reproduksi seksual lamun
dilakukan dengan polinasi di air. Lamun mempunyai 3 sistem pollinasi ( cara
menghasilkan pollen ) yaitu :

a. Hydrophilous pollination, pollen dilepas ke laut & dibawa oleh arus laut.
b. Ephydrophily, pollen yang mengambang di permukaan air dibawa oleh pasang
surut
c. Dispersal, pollen berbentuk spherik ( bola berduri pada Hydrocharitaceae ).

2.5 Fungsi Padang Lamun

Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut 
dangkal yang paling produktif. Di samping itu juga ekosistem lamun mempunyai
peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut
dangkal, sebagai berikut :

1. Sebagai produsen primer : Lamun memiliki tingkat produktifitas primer tertinggi bila
dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada dilaut dangkal seperti ekosistem
terumbu karang (Thayer et al. 1975).
2. Sebagai habitat biota : Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat
menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang
lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan
makanan berbagai jenis ikan herbivora dan ikan-ikan karang (coral fishes) (Kikuchi &
Peres, 1977).
3. Sebagai penangkap sedimen (sediment trap) : Daun lamun yang lebat akan
memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan
disekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan
dan mengikat sedmen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar
permukaan. Jadi, padang lamun disini berfungsi sebagai penangkap sedimen dan juga
dapat mencegah erosi (Gingsuburg & Lowestan, 1958).
4. Sebagai pendaur zat hara : Lamun memegang peranan penting dalam pendauran
berbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka dilingkungan laut. Khususnya zat-
zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.

Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu
ekosistem bahari yang produktif, ekosistem lamun pada perairan dangkal berfungsi
sebagai :     

1. Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui tekanan–tekanan


dari  arus dan gelombang.
2. Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta
mengembangkan sedimentasi.
3. Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang
berkunjung ke padang lamun.
4. Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
5. Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
6. Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.

Selain itu secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi
wilayah pesisir, yaitu :

1. Produsen detritus dan zat hara.


2. Mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran
yang padat dan saling menyilang.
3. Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi
beberapa jenis biota laut,  terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini.
4. Sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan
matahari.

Lamun juga dimanfaatkan oleh manusia baik secara modern maupun tradisional.
Secara Tradisional Secara Modern
 Dimanfaatkan untuk kompos dan  Penyaring limbah
pupuk  Stabilizator pantai
 Cerutu dan mainan anak-anak  Bahan untuk pabrik kertas
 Dianyam menadi keranjang  Makanan
 Tumpukan untuk pematang  Sumber bahan kimia
 Pembuatan kasur (sebagai pengisi  Dan obat-obatan
kasur)
 Dan dibuar jaring ikan

2.5 Faktor-faktor Lingkungan

Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap distribusi dan kestabilan


ekosistem padang lamun adalah :

 Kecerahan
Penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat mempengaruhi proses fotosintesis
yang dilakukan oleh tumbuhan lamun. Lamun membutuhkan intensitas cahaya yang
tinggi untuk proses fotosintesa tersebut dan  jika suatu perairan mendapat pengaruh
akibat aktivitas pembangunan sehingga meningkatkan sedimentasi pada badan air yang
akhirnya mempengaruhi turbiditas maka akan berdampak buruk terhadap proses
fotosintesis. Kondisi ini secara luas akan mengganggu produktivitas primer ekosistem
lamun.

 Temperatur
Secara umum ekosistem padang lamun ditemukan secara luas di daerah bersuhu dingin
dan di tropis. Hal ini mengindikasikan bahwa lamun memiliki toleransi yang luas
terhadap perubahan temparatur. Kondisi ini tidak selamanya benar jika kita hanya
memfokuskan terhadap lamun di daerah tropis karena kisaran lamun dapat tumbuh
optimal hanya pada temperatur 28 – 30 0C. Hal ini berkaitan dengan kemampuan proses
fotosintesis yang akan menurun jika temperatur berada di luar kisaran tersebut.

 Salinitas
Kisaran salinitas yang dapat ditolerir tumbuhan lamun adalah 10 – 40 ‰ dan nilai
optimumnya adalah 35 ‰. Penurunan salinitas akan menurunkan kemampuan lamun
untuk melakukan fotosintesis. Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi juga
terhadap  jenis dan umur. Lamun yang tua dapat mentoleransi fluktuasi salinitas yang
besar. Salinitas juga berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun
dan kecepatan pulih. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya
salinitas.
 Substrat
Padang lamun hidup pada berbagai macam tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai
karang. Kebutuhan substrat yang utama bagi pengembangan padang lamun adalah
kedalaman sedimen yang cukup. Peranan kedalaman substrat dalam stabilitas sedimen
mencakup 2 hal yaitu : pelindung tanaman dari arus laut dan tempat pengolahan dan
pemasok nutrien.

 Kecepatan arus
Produktivitas padang lamun juga dipengaruhi oleh kecepatan arus perairan. Pada saat
kecepatan arus sekitar 0,5 m/detik, jenis Thallassia testudium mempunyai kemampuan
maksimal untuk tumbuh.
BAB III

MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilakukan pada:

Hari/ tanggal :

Waktu :

Tempat : Laboratorium Kelautan Terpadu Jurusan Ilmu Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas


Diponegoro Semarang.

3.2. Materi

3.2.1 Alat :

 Alat Tulis digunakan untuk menulis dan menggambar sample

 Kertas Folio digunakan untuk menggambar

 Penggaris untuk mengaris dan mengukur sampel

 Buku identifikasi : untuk membantu mengidentifikasi bahan sampel yang


diamati

3.2.2 Bahan :

Beberapa jenis lamun yang ditemukan di laut, seperti : Cymodocea rotundata,


Enhalus acoroides, Thalassia Hemprichii, Syringodium isoetifolium, Halophila
ovalis.

3.3. Metode

 Mengamati bahan sample lamun meliputi ciri-ciri dan morfologinya.


 Menggambar bahan sample lamun yang diamati, mencatat dan mengukur hal-hal
yang perlu diukur.
 Mengidentifikasi jenis-jenisnya dan menentukan klasifikasinya.
 Mencatat sebagai laporan sementara
BAB IV

HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum

Sryngodium isoetifolum Taksonomi Ciri-ciri


Gambar 1 :
Kingdom : Plantae
Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili :
Potamogetonaceae
Sub famili : Posidonioidea
Genus : Sryngodium
Spesies : Sryngodium
isoetifolium

Gambar 2 :
Enhalus Acoroides Taksonomi Ciri-ciri

Gambar 1: Kingdom : Plantae


Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Hydrocharitaceae
Subfamili : Hydrocharitoideae
Genus : Enhalus
Spesies : Enhalus acoroides

Gambar 2:
Thallasia Hemprichii Taksonomi Ciri-ciri

Gambar 1: Kingdom : Plantae


Subkingdom: Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Alismatidae
Ordo : Hydrocharitales
Famili : Hydrocharitaceae
Genus : Thalassia
Spesies : Thalassia hempricii

Gambar 2 :
Halophila ovalis Taksonomi Ciri-ciri

Gambar 1: Kingdom : Plantae


Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Hydrocharitaceae
Sub famili : Halophiloideae
Genus : Halophila
Spesies : Halophila ovalis

Gambar 2:
Cymodocea rotundata Taksonomi Ciri-ciri

Gambar 1: Kingdom :Plantae


Divisi: Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Potamogetonales
Famili : Cymodoceaceae
Genus : Cymodocea
Species: Cymodocea
rotundata

Gambar 2:
4.2 Pembahasan

4.2.1 Syringodium isoetifolum


Habitat : Tumbuhan laut sejati, tumbuh pada rataan terumbu bersubtsrat pasir,
tumbuh sampai kedalaman 3 m, pada zona yang tidak terlalu lama terekspos udara
pada saat surut maksimal atau pada teluk yang bersubstrat pasir terrigenous, tidak
pernah menyusun padang lamun monospesifik namun tumbuh bersama-sama
dengan jenis lamun yang lain.
Karakteristik Morfologi: Daun silindris dengan panjang mencapai 25 cm dan lebar
2 mm. (Retno Wibaningrum)
4.2.2 Enhalus acroides
Habitat :Tumbuhan laut sejati, habitatnya luas pada rataan terumbu yang
bersubstrat lumpur terrigenous lunak sampai pasir karbonat koarse, namun
ditemukan hanya pada kedalaman perairan.
Karakteristik Morfologi : Akar panjangnya mencapai 30 cm, rhizome berdiameter
>1cm, dengan rambut-rambut kaku berwarna hitam, daun pipih, berbentuk pita
panjang, jumlah helaian 2 -5, panjang helaian 30-150 cm dan lebar 13 - 17 mm,
ujung daun umumnya ditemukan tidak utuh lagi/putus karena kekuatan
gelombang, bunga jantan dan bunga betina terdapat pada tumbuhan yang berbeda,
bunga jantan bertangkai pendek lurus, bunga betina bertangkai panjang melekuk-
lekuk seperti spiral, buah berukuran besar, permukaan luar berambut tebal, satu
buah berisi 12 biji.
(Retno Wibaningrum)

4.2.3 Thallasia Hemprichii


Species yang paling melimpah dan distribusinya paling luas Mendominasi pada
komunitas campuran. Disebut Lamun dugong karena banyak disukai oleh dugong.
Tumbuh pada berbagai substrat yang bervariasi seperti pasir kasar, pasir kasar
berbatu dan pecahan karang. Akar rimpangnya pendek dan berbuku - buku. Daun
berbentuk pita, tepi rata dan ujung tumpul. T.hemprichii

4.2.4 Halophila ovalis


Habitat : Tumbuhan laut sejati, habitatnya luas pada rataan terumbu pada zona
intertidal atas sampai kedalaman 30 m, memiliki kisaran ekologis yang luas, dan
seringkali menjadi populasi pioneer walaupun juga dapat tumbuh melimpah
bersama jenis lamun lain.
Karakteristik Morfologi : Daun pipih, berbentuk bulat telur, bertangkai daun yang
seringkali bagian yang mendukung helaian berwarna merah, panjang helaian
maksimum mencapai 3,2 cm dan lebar maksimum mencapai 1,3 cm, pertulangan
daun berjumlah 10-25 pasang. (Retno Wibaningrum)

4.2.5 Cymodocea rotundata


Salah satu species yang dominan didaerah intertidal Species pemula. Pinggiran
daun berbentuk bulat. Daun datar, bunga tunggal dengan lembaran daun bunga,
akar cenderung serabut, tanpa cabang, dengan tonjolan kecil pada setiap nodus,
daun mempunyai 7 - 17 jari, ovary berbentuk ganda dan terpisah menjadi 2
stigmata. Rimpang di tunasnya berwarna coklat muda dan putih, panjang antara
11 - 35,9 mm. Daun berbentuk pita, tepinya rata dan ujungnya tumpul, jumlahnya
2 - 33 helai, terdapat pada tunas cabang yang muncul dari buku akar rimpang
daun berukuran panjang antara 77,2 - 180,3 mm dan lebar antara 3,7- 4,95 mm.
Sarung daun berbentuk tirus, ramping kecil pada pangkalnya.

.
BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

a. Lamun merupakan tumbuhan yang berbunga.


b. Lamun telah dapat dibedakan akar, batang dan daunnya.
c. Untuk menentukan ciri-ciri berbagai spesies lamun maka hal yang dapat dijadikan
dasar pembeda antar spesies lamun yaitu bentuk daun dan jumlah lembaran daun,
bentuk akar, jarak internodus, jenis subtrat.

d. Dari hasil pengamatan beberapa spesies lamun yang ada di Indonesia yaitu
Syringodium isoetifolum, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila
ovalis, dan Thalassia hempricii
DAFTAR PUSTAKA

Bengen,D.G. 2001. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Instititut Pertanian Bogor.
Nontji, Anugrah. 1993. Laut Nusantara. Jakarta Djambatan
Nybaken,J.W. 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Gramedia, Jakarta.

Romimohtarto Kasijan-Sri Juwana. 2001. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan Tentang Biota


Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI. Jakarta.

Wimbaningrum, Retno. http://plasmanutfah.unej.ac.id/node/4228

www. Wildsingapore.com