Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Air Susu Ibu (ASI) eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah

Nomor 33 Tahun 2012 adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak

dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau mengganti

dengan makanan atau minuman lain lain (kecuali obat, vitamin, dan mineral)

(Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2018 yang dirilis  Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan RI).

ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi

yang seimbang karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa

pertumbuhan. Jika proses menyusui dilakukan dengan teknik yang tepat

dan benar, produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal

bagi bayi normal sampai dengan usia 6 bulan. Selain nutrisinya yang

lengkap, jumlah atau volume dan komposisi ASI juga akan menyesuaikan

kebutuhan bayi. (Audina Irna Kartika, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017)

Air Susu Ibu adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,

laktosa, dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar

payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. Air Susu Ibu adalah

cairan hasil sekresi kelenjar-kelenjar payudara ibu. (Sumber: Komposisi

Kolostrum dan ASI- Depkes RI, 2007). (Audina Irna Kartika, Fakultas Ilmu

Kesehatan UMP, 2017)).

Dalam pemberian ASI perlu suatu upaya manajemen laktasi yang

dilakukan oleh ibu untuk menunjang keberhasilan menyusui, karena pada


hakikatnya manajemen laktasi dimulai pada masa kehamilan, setelah

persalinan, dan masa menyusui bayi (Siregar, 2009). Laktasi mencakup

keseluruhan dari proses menyusui, mulai dari ASI diproduksi sampai bayi

menghisap dan menelan ASI (Prasetyono, 2012)

Perlunya meningkatkan perilaku pemberian ASI merupakan prioritas

kesehatan yang dinyatakan dalam tujuan Direktorat Kesehatan Keluarga –

Mayarakat Kementerian Kesehatan tahun 2019 tentang pemberian ASI yang

tertera di halaman 4 terkait kesehatan ibu, bayi, dan anak.

Pemberian ASI eksklusif selain bermanfaat bagi bayi juga bermanfaat

bagi ibu diantaranya sebagai kontrasepsi alami saat ibu menyusui dan

sebelum menstruasi, menjaga kesehatan ibu dengan mengurangi risiko

terkena kanker payudara dan membantu ibu untuk menjalin ikatan batin

kepada anak. Pemberian ASI dapat membantu mengurangi pengeluaran

keluarga karena tidak membeli susu formula yang harganya mahal (Walyani,

2015).

World Health Organization (WHO) merekomendasikan salah satu

upaya untuk mencegah kematian dan masalah kekurangan gizi pada bayi dan

balita yaitu pemberian Asi Eksklusif. Pemberian ASI Eksklusif harus sedini

mungkin diberikan sejak bayi baru dilahirkan hingga usia 6 bulan tanpa

menambahkan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. (WHO

2010).

Di seluruh Indonesia persentasi hasil Pemantauan Status Gizi (PSG)

tahun 2017 yang berhubungan dengan pemberian ASI sebagai berikut

Persentase bayi baru lahir yang mendapat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah;

IMD >= 1 Jam sebesar = 6,6%, IMD < 1 Jam = 51,3% dan tidak mendapatkan
IMD =42,0%. Persentase ini adalah proses menyusu segera setelah lahir dan

berlangsung minimal selama 1 jam. Persentase Nasional untuk bayi 0-5 bulan

yang masih mendapat ASI eksklusif sebesar 37,3% (Riset Kesehatan Dasar

2018).

Mengacu pada target renstra tahun 2016, secara nasional cakupan

pemberian ASI eksklusif sebesar 42%. Dan berdasarkan provinsi, Jawa Barat

berkisar 36.4%. (Riset Kesehatan Dasar 2018)

Jika dilihat data diatas, untuk standar pencapaian ASI eksklusif yang

ditargetkan dalam pembangunan nasional dan strategi nasional program

peningkatan cakupan pemberian ASI kurang dari enam bulan sebesar 42%,

belum mencapai target. Ini dipengaruhi beberapa faktor. Banyaknya faktor

diantaranya adalah meningkatnya pemberian makanan pendamping ASI

(MPASI) sebelum waktunya dan kurangnya dukungan dari suami atau

keluarga dan juga masyarakat seperti institusi tempat perempuan bekerja

yang belum memberikan kesempatan dengan ketersediaan fasilitas ruang

khusus untuk menyusui.

Faktor lain yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif adalah

pengetahuan, umur, pendidikan, pendapatan keluarga, pekerjaan dan

kesehatan ibu. Ibu dengan pengetahuan, pendidikan dan kemampuan

keuangan yang baik memiliki peluang untuk bisa memberikan ASI eksklusif

lebih besar dibandingkan ibu yang memiliki pengetahuan kurang, terutama

pada ibu primipara. (Hasil penelitian Meiyana Dianning Rahmawati (2010))

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah belum tercapainya target cakupan

pemberian ASI eksklusif yaitu baru sebesar 42% dikarenakan faktor-faktor

seperti umur, pendidikan, pendapatan keluarga, pekerjaan, kesehatan ibu

dan dukungan suami atau keluarga

Oleh karena itu peneliti bermaksud melakukan penelitian tentang

perbedaan Ibu primipara dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya

berdasarkan faktor-faktor disebut diatas di Puskesmas Ciketing Udik,

Bekasi Jawa Barat dengan metode membandingkan hasil data sekunder.

1.3 TUJUAN PENELITIAN

A. Tujuan Umum

Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan, umur, pendidikan,

pendapatan keluarga, pekerjaan, kesehatan ibu dan dukungan suami

pada Ibu primipara dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya di

Puskesmas Ciketing Udik, Bekasi Jawa Barat Tahun 2020

B. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui perbedaan umur ibu primipara terhadap pemberian

ASI pada catatan sekunder di Puskemas Ciketing Udik, Bekasi Jawa

Barat Tahun 2020.

b. Untuk mengetahui pendidikan ibu primipara terhadap pemberian ASI

Eksklusif pada catatan sekunder di Puskemas Ciketing Udik, Bekasi

Jawa Barat Tahun 2020.


c. Untuk mengetahui pendapatan keluarga ibu primipara terhadap

pemberian ASI Eksklusif di Puskemas Ciketing Udik, Bekasi Jawa Barat

Tahun 2020.

d. Untuk mengetahui pekerjaan ibu primipara terhadap pemberian ASI

Eksklusif di Puskemas Ciketing Udik, Bekasi Jaba Barat Tahun 2020.

e. Untuk mengetahui kesehatan ibu primipara terhadap pemberian ASI

Eksklusif di Puskemas Ciketing Udik, Bekasi Jawa Barat Tahun 2020.

f. Untuk mengetahui dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif di

Puskemas Ciketing Udik, Bekasi Jawa Barat Tahun 2020.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan

serta sebagai informasi tentang faktor yang mempengaruri pemberian ASI

Eksklusif terhadap ibu primipara.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Ibu

Sebagai bahan masukan yang dapat meningkatkan

pengetahuan, tentang pemberian ASI kepada bayinya secara eksklusif

yang benar.

b. Bagi Keluarga

Melalui penelitian ini, diharapkan supaya pihak keluarga terutama

suami/istri yang mempunyai bayi lebih aktif dalam mencari informasi


tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Sebagai

masukan bagi puskesmas dan tenaga ahli untuk memperhatikan

pemberian ASI eksklusif dan memberikan solusi atau penyuluhan

kepada ibu-ibu terutama bagi ibu primipara yang mempunyai masalah

dalam menyusui bayi serta menjelaskan manfaatnya untuk

mensukseskan ASI eksklusif.

c. Bagi Tenaga Kesehatan

Sebagai masukan bagi puskesmas dan tenaga ahli untuk

memperhatikan pemberian ASI eksklusif dan memberikan solusi atau

penyuluhan kepada ibu-ibu terutama bagi ibu primipara yang

mempunyai masalah dalam menyusui bayi serta menjelaskan

manfaatnya untuk mensukseskan ASI eksklusif.

d. Bagi Peneliti

Sebagai bahan pertimbangan dalam memecahkan masalah

faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif

terutama pada ibu primipara.

e. Bagi Instistusi Pendidikan

Menambah referensi terkait faktor-faktor yang berhubungan

dengan pemberian ASI kepada bayinya secara eksklusif pada ibu

primipara, serta dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian

dan pengembangan lebih lanjut.

1.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN


Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor tentang

pemberian ASI Ekslusif pada ibu primipara, pemberian ASI Eksklusif

secara nasional tidak terpenuhi terutama Jawa barat, karena

kemungkinan faktor-faktor tersebut. Penelitian dilakukan di

Puskesmas Ciketing Udik Bekasi Jawa Barat, penelitian ini dilakukan

pada tahun 2020. Penelitian ini dilakukan pada ibu primipara dan

peneliti akan menggunakan data sekunder yang ada di Puskesmas

Ciketing Udik Bekasi dengan membandingkan data-data sekunder

hingga bulan Februari 2020.