Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karya ilmiah terbentuk dari kata “karya” dan “ilmiah”. Karya berarti kerja dan
hasil kerja lalu ilmiah berarti bersifat ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang
diperoleh berdasarkan metode-metode ilmiah. Oleh karena itu karya ilmiah harus
berisi kebenaran ilmiah. Jadi karya ilmiah adalah karya yang disusun dengan
menggunakan metode ilmiah untuk mendapatkan kebenaran ilmiah. (Subhan,
muhamad. (2014) Menyusun Karya Ilmiah. Diambil dari
http://www.muhamadsubhan.blogspot.com\)
Karya ilmiah telah banyak dirumuskan oleh para ahli. Menurut Brotowidjoyo
(1985) dalam Arifin (2008:2) yang dimaksud dengan karya ilmiah adalah karangan
ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan
yang baik dan benar. ((12 February 2018) 17 Teknik Penulisan Karya Ilmiah Lengkap.
Diambil dari http://www.pakarkomunikasi.com/)
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tipe-tipe penulisan ilmiah?
2. Bagaimana tahap penulisan ilmiah?
3. Apa manfaat dari teknik penulisan karya ilmiah?
4. Bagaimanakah Teknik Penulisan Ilmiah?
C. Tujuan
Untuk mengetahui konsep dari teknik penulisan karya ilmiah dan bisa
mengetahui arti dari karya ilmiah, manfaat serta teknik penulisan dari karya ilmiah
tersebut.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tipe Penulisan Ilmiah

Penulisan ilmiah terdiri dari beberapa tipe yaitu tulisan ilmiah popular dan tulisan
ilmiah murni.

2.1.1 Tulisan Ilmiah Popular

Sarwono (2010:11-13) menyatakan bahwa ciri-ciri dan karakteristik tulisan


ilmiah populer, antara lain:

 Adanya pesan yang dipergunakan untuk menarik perhatian pembaca, yang dapat
juga dikatakan bersifat persuasif. Hal ini dikarenakan pada umumnya pembaca
yang ditargetkan ialah umum atau bukan spesialis di bidang ahli mengenai topik
bahasan yang ditulis.
 Isi tulisan diusahakan untuk memikat pembaca agar yang bersangkutan tetap
harus membaca tulisan tersebut sampai selesai.
 Penulis melakukan kontekstualisasi data hasil riset ke dalam tulisan tersebut
sehingga data dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca umum.
 Bahasa yang dipergunakan bersifat umum dan tidak mempergunakan terminologi
khusus yang hanya dipahami oleh ilmuan atau kelompok tertentu.
 Biasanya struktur kalimat yang dipergunakan ialah kalimat aktif.
 Gaya penulisan tidak baku.
 Umumnya, informasi dipaparkan dalam bentuk narasi.
 Uraian dipaparkan ke dalam bentuk umum yang dapat menarik, baik aspek
intelektual pembaca maupun menyentuh emosi pembaca yang bersangkutan.
 Secara implisit, kadang mengandung pesan tertentu berupa keinginan penulis agar
pembaca melakukan tindakan tertentu.

Tulisan ilmiah popular juga termasuk artikel, adalah sebuah tulisan yang dapat
dipahami dan dikenal dengan mudah oleh banyak orang. Umumnya karya ilmiah
popular ini ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Karya ilmiah
popular dalam kaitan dengan upaya pengembangan profesi ini merupakan kelompok
tulisan yang lebih banyak mengandung isi pengetahuan, berupa ide, gagasan

2
pengalaman penulis yang menyangkut masalah kependidikan yang dituangkan dalam
bahasa yang populer dan sederhana.

2.1.2 Tulisan Ilmiah Murni

Tulisan ilmiah murni adalah karya tulis yang disajikan secara sistematis,


teoritis, dan bersifat ilmiah. Kajian yang dibahas di dalamnya meliputi hasil dari
sebuah penelitian, dalam penulisannya karya ilmiah murni menggunakan
beberapa variabel untuk mendapatkan sebuah kesimpulan akhir.

Ciri-ciri tulisan ilmiah murni, antara lain:

 Penulis berusaha memaparkan data apa adanya secara objektif.


 Temuan kajian ditulis dalam bentuk sistematis, terstruktur, dan baku.
 Penulis banyak menggnakan bahasa dan terminologi khusus atau disebut
“jargon ilmiah” yang hanya dapat dipahami oleh ilmuan yang sama bidang
ilmunya dengan pokok bahasan yang ditulis.
 Umumnya, menggunakan struktur kalimat pasif.
 Gaya penulisan yang dipakai bersifat baku.
 Tulisan digunakan untuk memaparkan informasi dalam bentuk khusus
yang hanya digunakan untuk menarik kemampuan intelektual pembaca.
 Tulisan bersifat bebas dari opini penulis.
 Terdapat jarak antara penulis dengan hal-hal yang dikaji.

2.2 Tahapan Penulisan Ilmiah

Pada dasarnya, dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap, yaitu
persiapan, pengumpulan data, pengorganisasian dan pengonsepan,
pemeriksaan/penyuntingan dan pengetikan konsep, dan pengetikan.

2.2.1 Persiapan

 Pemilihan Topik

Topik/masalah adalah pokok pembicaraan (Widyamartaya dan Sudiati


1997:31; Sudarmoyo 2000:11; Arifin:8). Topik banyak tersedia dan melimpah
disekitar kita, misalnya persoalan kemasyarakatan, pertanian, manajemen,

3
akuntansi, sumber daya manusia, kedokteran, teknik, industri, hukum,
pariwisata, perhotelan, lingkungan hidup, dan sebagainya.

Dalam hubungan dengan pemilihan topik yang hendak diangkat kedalam


karya ilmiah, Keraf (1980:111) berpendapat bahwa penyusunan karya ilmiah
lebih baik menulis sesuatu yang menarik perhatian dengan pokok persoalan
yang benar-benar diketahui daripada menulis pokok-pokok yang tidak menarik
atau tidak diketahui sama sekali. Sehubungan dengan isi pernyataan itu, Arifin
(2003:8) menyampaikan hal-hal berikut yang patut dipertimbangkan dengan
seksama oleh penyusun karya ilmiah.

a. Topik yang dipilih harus berada di sekitar kita, baik di sekitar


pengalaman kita maupun di sekitar pengetahuan kita. Hindarilah topik
yang jauh dari diri kita karena hal itu akan menyulitkan kita ketika
menggarapnya!.

b. Topik yang dipilih harus topik yang paling menarik perhatian kita.

c. Topik yang dipilih terpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan
terbatas. Hindari pokok masalah yang menyeret kita kepada
pengumpulaninformasi yang beraneka ragam.

d. Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang objektif. Hindari topik
yang bersifat subjektif, seperti kesenangan atau angan-angan kita.

e. Topik yang dipilih harus kita ketahui prinsip-prinsip ilmiahnya,


walaupun serba sedikit. Artinya topik yang dipilih itu janganlah terlalu
baru bagi kita.

f. Topik yang dipilih harus memiliki sumber acuan, memiliki bahan


kepustakaan yang dapat memberikan informasi tentang pokok masalah
yang hendak ditulis. Sumber kepustakaan dapat berupa buku, majalah,
jurnal, surat kabar, brosur, surat keputusan, situs web, atau undang-
undang.

 Pembatasan Topik dan Penentuan Judul

Jika topik sudah ditentukan, maka perlu diuji sekali lagi, apakah topik tersebut
masin terlalu umum dan mengambang ataukah sudah betul-betul sempit.
Perbedaan pembatan topik dan penentuan judul adalah terletak pada waktu

4
pembuatannya. Pembuatan topik harus dilakukan didepan atau topik harus 16.
Penulisan Karya Ilmiah sudah ditentukan terlebih dahulu, sedangkan judul
dapat dilakukan sebelum atau sesudah penulisan karya ilmiah. Jika sudah ada
topik yang terbatas karya ilmiah sudah dapat mulai digarap walaupun judul
belum ada. Selain dengan pembatasan topik, menurut Arifin (2003:9)
penentuan judul karya ilmiah dapat pula ditempuh dengan melontarkan
pertanyaan: masalah apa, mengapa, bagaimana, dimana, dan kapan.
Walapun tidak semua pertanyaan tersebut harus terjawab. Contoh masalah
yang kita temukan disekitar kita adalah:

a. Industri mebel;

b. Greeter hotel;

c. Gas karbon monoksida (CO).

Jika topik masalah sudah ditentukan, maka kita dapat bertanya dengan
pertanyaan mengapa. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah:

a. Mengembang;

b. Melayani;

c. Mencemari.

Judul karya ilmiah haruslah berbentuk frasa, bukan berbentuk kalimat.


Oleh karena itu, kata-kata tersebut dapat kita jadikan kata benda agar dapat
dijadikan judul karya, seperti :

a. mengembang menjadi pengembangan;

b. melayani menjadi pelayanan;

c. mencemari menjadi pencemaran.

Kata-kata yang sudah ditentukan topik disusun menjadi tetap kata kerja
asal ditambah atau mengandung kata benda dan judul yang dibuat tidak
berupa kalimat. Dengan pertanyaan masalah apa dan mengapa, kita memiliki
judul sebagai berikut:

a. Pengembangan Industri Mebel atau Upaya Mengembangkan Industri


Mebel;

5
b. Pelayanan Greeter Hotel;

c. Pencemaran Gas Karbon Monoksida.

Agar karya ilmiah tidak mengambang, judul harus harus dibatasi dengan
pertanyaan dimana yang akan memberikan jawaban mengenai tempat objek
yang akan diteliti, misalnya:

a. di Kabupaten Jepara;

b. di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta;

c. di Kota Semarang.

Selanjutnya kita akan menjawab pertanyaan kapan akan memberikan


jawaban, antara lain:

a. tahun 2007;

b. semester I/2207;

c. dewasa ini.

Kini kita sudah memiliki judul karya ilmiah menjadi:

a. Pengembangan Industri Mebel di Kabupaten Jepara Tahun 2007.

b. Pelayanan Greeter di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta,


SemesterI/2007.

c. Pencemaran Gas Karbon Monoksida di Kota Semarang Dewasa Ini.

Ada kalanya perbatasan judul itu dilakukan dengan memberikan sub judul.
Sub judul berfungsi membatasi judul, seperti: PENINGKATAN PRODUKSI
SAPI POTONG DI JAWA TENGAH: SEGI KUALITAS DAN KUANTITAS.

 Pembuatan Kerangka Karya (Outline)


Kerangka karangan disebut ragangan (outline) pada prinsipnya,
penyusunan kerangka karya adalah proses penggolongan dan penataan
berbagai fakta, yang kadang-kadang berbeda jenis dan sifatnya, menjadi
kesatuan yang berpautan (Moeliono 1988:1). Penyusunan karya ilmiah dapat
membuat ragaman buram, yakni ragaman yang hanya membuat pokok-pokok
gagasan sebagai pecahan dari topic yang sudah dibatasi. Ada yang membuat

6
ragaman kerja yaitu ragaman yang sudah merupakan perluasan dari ragaman
buram (Arifin 2003:15). Kedua jenis ragangan tersebut gunanya
mempermudah penyusunan untuk mengembangkan penulis. Penulis karya
ilmiah harus menentukan dahulu judul-judul bab dan judul sub bab sebelum
menentukan kerangka karya. Judul bab dan judul subbab merupakan pecahan
masalah dari judul karya ilmiah.

2.2.2 Pengumpulan Data

Bila topik, judul karya ilmiah dan ragangan (outline) sudah mendapat
persetujuan dari dosen pembimbing atau pimpinan lembaga yang
bersangkutan, maka langkah selanjutnya adalah tahap pengumpulan data.
Untuk dapat mengumpulkan data pada tempat penelitian, maka perlu
membuat surat pengantar ijin penelitian dari fakultas yang ditujukan ke instansi
pemberi rekomdendasi. Selanjutnya mintalah surat ijin/rekomendasi dari
instansi tersebut yang ditujukan ke tempat-tempat penelitian yang datanya
akan kita minta. Sehingga bila menuju tempat penelitian surat tersebut harus
dibawa sebagai bukti bahwa kita sudah mendapat ijin dari instansi berwenang.
Selanjutnya yang harus ditempuh dalam pengumpulan data adalah mencari
informasi dari kepustakaan mengenai hal-hal yang ada relevansinya dengan
judul tulisan. Cara pengumpulan data dapat dilakukan melalui (observasi),
wawancara, atau eksperimen. Acuan pengumpulan data adalah instrumen
penelitian yang telah disusun peneliti, disetujui pembimbing, dan telah
dilakukan uji terhadap instrumen tersebut.

2.2.3 Pengonsepan

Setelah data terkumpul, maka selanjutnya diadakan penyusunan dan


mengorganisasikannya. Penyusunan harus digolongkan berdasarkan data
menurut 23 Penulisan Karya Ilmiah jenis, sifat, atau bentuk. Penyusun
menentukan data mana yang akan dibicarakan kemudian. Dibagian ini
penyusun harus mengolah dan menganalisa data dengan teknik-teknik sesuai
jenis penelitiannya. Misal, jika penelitian bersifat kuantitatif, data dioleh
menggunakan analisis teknik statistik. Penyusun dalam bagian ini beracuan
pada ragangan yang sudah disetujui pembimbing.

7
2.2.4 Pemeriksaan/Penyuntingan dan Pengetikan Konsep

Sebelum dilakukannya kegiatan pengetikan, maka konsep perlu


dilakukan pemeriksaan terhadap bagian-bagian yang terulang. Kegiatan
penyuntingan ini diperlukan guna menghindari penjelasan yang tidak
diperlukan atau adanya tambahan penjelasan, termasuk penyuntingan bahasa
yang digunakan. Sekarang ini, pengetikan dilakukan menggunakan komputer,
sehingga kegiatan penyuntingan bisa langsung dilakukan saat proses
pengetikan dilakukan atau pengetikan sudah selesai.

2.2.5 Penyajian

Setelah kegiatan penyuntingan dilakukan (baik konsep dalam bentuk


tulisan tangan di kertas, maupun pengeditan di komputer), maka langkah
selanjut adalah mencetak laporan atau sering disebut sebagai produk hard
copy. Pengetikan ini disesuaikan dengan sistematika yang berlaku di masing-
masing lembaga pendidikan. Mulai dari ukuran kertas, margin, sampai dengan
cara mengutip.

2.3 Manfaat dari Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Manfaat dari penulisan karya ilmiah adalah :


 Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
 Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
 Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
 Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;
 Memperoleh kepuasan intelektual;
 Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan;
 Sebagai bahan acuan/penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya.

2.4 Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Walaupun tiap-tiap perguruan tinggi memiliki ketentuan atau pedoman masing-


masing tentang prosedur penyusunan skripsi, tesis, atau disertasi, pada dasarnya
konvensi penulisannya sama. Konvensi penulisam skripsi, tesis, atau disertasi,

8
menyangkut (1) bentuk skripsi, tesis, atau disertasi, dan (2) bagian-bagian skripsi,
tesis, atau desertasi. Pembicaraan bentuk skripsi, tesis, atau disertasi mencakupi (a)
bahan yang digunakan, (b) perwajahan, dan penomoran halaman. Pembicaraan
mengenai bagian-bagian skripsi, tesis, atau disertasi mencakup (a) judul, (b) judul
bab-bab, (c) judul subbab, (d) judul tabel, grafik, histrogam, bagan, gambar, (e) daftar
pustaka/rujukan, dan lampiran.

2.4.1 Bahan dan Jumlah Halaman


Bahan yang digunakan untuk mengetik skripsi sebaiknya kertas HVS,
berukuran kuarto atau A4 (21,5 X 28 cm²), sedangkan untuk sampul (kulit)
digunakan kertas yang agak tebal. Karena sekarang zamannya komputer,
pengetikan dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu komputer,
dengan huruf standar (misalnya Times New Roman atau Arial), ukuran huruf
(font size) 12 point, kecuali untuk pengetikan judul pada sampul depan dan
sampul dalam, ukuran hurud 14 - 16 point. Jumlah halaman skripsi berkisar
antara 30 - 40 halaman, tesis antara 150 - 200 halaman, dan disertasi 300
halamasn atau lebih; sedangkan paper atau makalah biasanya 5 – 15
halaman (Marzuki 1977:20; Arifin 2003:24).

2.4.2 Perwajahan
Yang dimaksud dengan perwajahan adalah tata letak (lay out) unsur-
unsur skripsi serta aturan penulisan unsur-unsur tersebut, yang dikaitkan
dengan segi keindahan dan estetika naskah. Tata letak dan penulisan unsur-
unsur skripsi, tesis, atau disertasi harus diusahakan sebaik-baiknya agar
skripsi, tesis atau disertasi tersebut tampak rapid an menarik. Periksalah kulit
luar naskah, halaman, judul, daftar isi, dan daftar pustaka/ rujukn. Apakah
sudah lengkap bagian-bagian di dalamnya? Dalam pembicaraan tentang
perwajahan, dikemukakan secara ringkas (a) kertas pola ukuran dan (b)
penomoran.
2.4.3 Penomoran
a. Angka yang Digunakan
Angka untuk nomor yang lazin digunakan dalam skripsi, tesis, disertasi,
atau karangan ilmiah umumnya adalah angka Romawi kecil, angka Romawi
besar, dan angka Arab. Angka Romawi kecil (i, ii, iii, iv, v) dipakai untuk
menomori halaman judul, halaman yang bertajuk prakata, daftar isi, daftar

9
tabel, daftar gambar, daftar lampiran, dan daftar lain (jika ada). Angka Romawi
besar (I, II, III, IV, V) digunakan untuk menomori tajuk bab pendahuluan, tajuk
bab analisis, tajuk bab simpulan, misalnya BAB I PENDAHULUAN. Angka
Arab (1, 2, 3, 4, dan seterusnya) digunakan untuk menomori halaman-
halaman naskah mulai bab pendahuluan sampai dengan halaman terakhir dan
untuk menomori nama-nama tabel, grafik, histogram, bagan dan skema.

b. Letak Penomoran
Halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar lampiran,
menggunakan angka Romawi kecil yang diletakkan pada bagian bawah, tepat
di tengah- tengah (simetris). Halaman yang bertajuk bab pendahuluan, bab
analisis, bab simpulan, daftar pustaka/rujukan, indeks, dan lampiran,
menggunakan angka Arab yang diletakkan pada bagian bawah, tepat di
tengah-tengah (simetris). Halaman-halaman naskah lanjutan menggunakan
angka Arab yang diletakkan pada bagian kanan atas.

c. Penomoran Subbab
Subbab dan subsubbab dengan angka Arab sistem digital. Angka
terakhir dalam digital ini tidak diberi titik (seperti 1.1, 1.2, 2.1, 1.1.2, 2.2.3,
3.2.1, dan seterusnya). Dalam hubungan ini, angka digital tidak lebih dari tiga
angka (maksimal, misalnya 1.1.1, 1.4.3, 1.1.2, 3.2.2, 3.3.3, 4.4.1), sedangkan
penomoran selanjutnya menggunakan a, b, c, kemudian 1), 2), 3), dan
seterusnya (lihat Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan).

2.4.4 Penyajian
1. Penulisan Judul
Judul skripsi, tesis, atau disertasi dicantumkan sekitar empat cm dari tepi atas
kertas. Judul diketik dengan huruf kapital seluruhnya tanpa diakhiri tanda baca
apa pun. Jika judul tersebut memiliki subjudul dibubuhkan titik dua (:).
Perhatikan contoh berikut!
Contoh judul skripsi tanpa subjudul: PENGARUH GAYA
KEPEMIMPINAN TERHADAP KEPUASAN KARYAWAN RUMAH MAKAN
ALDAN SEMARANG

10
Contoh judul skripsi dengan subjudul: PERBANDINGAN
KEEFEKTIFAN KALIMAT SKRIPSI PADA MAHASISWA YANG MENDAPAT
DAN TIDAK MENDAPAT MATA KULIAH BAHASA INDONESIA: STUDI
KASUS DI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Contoh judul tesis tanpa subjudul: PENGARUH IRADIASI TERHADAP


BEBERAPA SIFAT PROTEIN UDANG WINDU (Pananeus monodon)

Contoh judul tesis dengan subjudul: PENGARUH FAKTOR


KEAMANAN, POLITIK, DAN EKONOMI TERHADAP KUNJUNGAN
WISATAWAN: STUDI KASUS DI HOTEL DIBYA PURI SEMARANG

Contoh judul disertasi tanpa subjudul: PENGARUH TENTANG


KENERJA, LINGKUNGAN KERJA, DAN DP3 TERHADAP KARIER DOSEN
PNS DPK PADA KOPERTIS WILAYAH VI JAWA TENGAH

Contoh judul disertasi dengan subjudul: PARTISIPASI DALAM


PELESTARIAN ASET BUDAYA: KORELASI ANTARA PENGETAHUAN
SEJARAH KEBUDAYAAN, SIKAP TERHADAP KEBUDAYAAN, DAN MINAT
SISWA SMA NEGERI DI SEMARANG TERHADAP WISATA BUDAYA

2. Maksud Penyusunan
Maksud penyusunan skripsi, tesis, atau disertasi dicantumkan di bawah
judul, yang ditulis dengan menggunakan huruf kapital pada semua awal kata,
kecuali kata tugas, seperti di, dalam, dan, bagi, untuk, sebagai, dan dari. Isi
pernyataan ini pun tidak bertanda baca apa pun. Contoh:
Skripsi ini Disusun guna Melengkapi Syarat Ujian Sarjana Teknik pada
Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Semarang
atau
Skripsi ini Disusun untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada
Fakultas Teknik pada Universitas Diponegoro Semarang
atau
Tesis ini Disusun sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Magister Sains dalam Bidang Ilmu Pangan pada Program Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor

11
atau
Disertasi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Doktor
dalam Bidang Ilmu Ekonomi Pertanian pada Program Pascasarjana, Institute
Pertanian Bogor

Nama penyusun dan nomor induk mahasiswa (NIM) dicantumkan di


bawah maksud penyusunan dengan didahului kata Oleh dengan huruf kapital.
Selanjutnya, nama penyusun juga dituliskan dengan huruf kapital. NIM tidak
diberi titik dan dicantumkan di bawah nama. Contoh:

OLEH
DELLA CAHYA SARI
NIM 40040418060014

Nama program studi, fakultas, universitas, atau perguruan tinggi


tempat penyusunan, dicantumkan di bagian bawah identitas penyusun diikuti
dengan nama kota dan tahun penyusunan. Untuk skripsi:

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS STIKUBANK
SEMARANG
2019
Untuk tesis atau disertasi:

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019

3. Lembar Persetujuan

Ada dua macam lembar persetujuan. Lembar pertama persetujuan


adalah lembar persetujuan yang memuat persetujuan dari (para) pembimbing.
Hal-hal yang dicantumkan pada lembar pembimbing adalah (1) teks Skripsi

12
oleh …… ini telah disetujui untuk diuji, atau Tesis ini telah disetujui untuk diuji,
atau disertasi telah disetujui untuk diuji, dan (2) nama lengkap dan nomor
induk pegawai (NIP) Pembimbing I dan II (untuk skripsi dan tesis), serta
Pembimbing III (untuk disertasi). Contoh lembar persetujuan pembimbing
dimaksud seperti pada lampiran..
Lembar kedua persetujuan adalah lembar persetujuan adalah lembar
persetujuan yang berisi pengesahan skripsi, tesis, atau disertasi oleh para
penguji, ketua jurusan, dan dekan (ketua bagi sekolah tinggi). Pengesahan ini
baru diberikan setelah di adakan penyepurnaan oleh mahasiswa yang
bersangkutan sesuai dengan saran-saran yang diberikan oleh para penguji
pada saat berlangsungnya ujian. Dalam bulan, dan tahun dilaksanakannya
ujian, tanda tangan, nama lengkap, dan NIP dari tiap-tiap dosen penguji dan
dekan/ketua sekolah tinggi/ketua jurusan/ketua program studi. Contoh lembar
persetujuan dosen penguji dapat dilihat pada lampiran.

4. Abstrak
Kata abstrak ditulis di bagian tengah halaman dengan huruf kapital,
simetris di batas atas bidang pengetikan dan tanpa tanda titik. Nama penulis
diketik dengan jarak 2 spasi dari kata abstrak, ditepi kiri dengan urutan : nama
diakhiri titik, tahun lulus diakhiri dengan titik, judul dicetak miring dan diketik
dengan huruf kecil (kecuali huruf-huruf pertama dari setiap kata) dan diakhiri
dengan titik. Kemudian diiukuti kata skripsi diakhiri degan koma, diikuti oleh
nama jurusan, nama fakultas, nama universitas/institute/sekolah tinggi, diakhiri
dengan titik. Setelah itu dicantumkan nama dosen Pembimbing Utama dan
Pembimbing Anggota (ada yang lengkap dengan gelar akademiknya dan ada
yang tidak dicantumkan gelar akademiknya). Urut-urutan ini juga tidak baku,
karena itu disarankan mengikuti pedoman yang dikeluarkan oleh lembaga
pendidikan tinggi masing-masing.
Dalam abstrak dicantumkan kata kunci yang ditempatkan paling bawah
teks abstrak, namun ada juga di tempatkan pada bagian atas di bawah nama,
judul, dan nama pembimbing. Jumlah kata kunci antara 3-5 buah. Kata kunci
diperlukan untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci
dapat ditemukan dengan mudah judul-judul skripsi, tesis, dan disertasi
berserta abstraknya. Teks abstrak disajikan secara padat intisari tulisan yang
mencakupi latar belakang, masalah yang diteliti, metode yang digunakan, hasil

13
yang diperoleh, dan simpulan (dan saran yang diajukan, bila ada). Teks
abstrak diketik dengan jarak spasi tunggal, dengan panjang maksimal satu
halaman kuarto (A4). Ada juga yang memperbolehkan panjang teks abstrak
maksimal dua halaman kuarto, atau didasarkan pada jumlah kata maksimal
250 buah kata.

5. Prakata
Hal-hal yang dicantumkan dalam prakata antara lain ucapan terima
kasih penulis yang ditujukan kepada orang-orang, lembaga, organisasi, dan
pihak-pihak lain yang telah membantu dalam mempersiapkan , melaksanakan,
dan menyelesaikan skripsi, tesis, dan disertasi. Tulisan prakata diketik dengan
huruf kapital, simetris di batas atas bidang pengetikan dan tanpa tanda titik.
Teks prakata diketik dengan jarak dua spasi. Panjang teks tidak lebih dari dua
halaman kertas ukuran kuarto (A4). Pada bagian akhir teks (pojok kanan
bawah) dicantumkan kota, bulan, tahun, dan penulis (tanpa menyebutkan
nama terang).
6. Daftar Isi
Dalam halaman daftra isi dimuat judul bab, judul subbab, dan judul
subbab yang disertai dengan nomor halaman tempat pemuatannya di dalam
teks. Semua judul bab diketik dengan huruf kapital, judul subbab dan
subsubsubbab diketik dengan huruf kecil kecuali huruf-huruf pertama kata
utama. Daftar isi seyogyanya menggambarkan garis besar organisasi
keseluruhan isi.

7. Daftar Tabel
Ada banyak cara dalam menuliskan daftar tabel. Secara umum,
halaman daftar tabel memujat nomror tabel, judul tabel, dan nomor halaman
pemuatannya di dalam teks untuk setiap tabel. Judul tabel harus sama dengan
judul tang yang terdapat di dalam teks. Jarak antarbaris judul tabel diketik
dengan spasi ganda, sedangkan judul tabel yang memerlukan lebih dari satu
baris, jarak antarbaris diketik dengan spasi tunggal.

8. Daftar Gambar
Sebagian perguruan tinggi menamai daftar gambar dengan daftar
ilustrasi. Pada halaman daftar gambar (atau daftar ilustrasi) dicantumkan

14
nomor gambar, judul gambar, dan nomor halaman tempat pemuatannya di
dalam teks. Judul gambar harus sama dengan judul gambar yang terdapat di
dalam teks. Jarak antarbaris judul gambar diketik dengan spasi ganda,
sedangkan judul gambar yang memerlukan lebih dari satu baris, jarak
antarabaris diketik dengan spasi tunggal.

9. Daftar Lampiran
Secara umun, halaman daftar lampiran memuat nomor lampiran, judul
lampiran, dan nomor halaman pemuatannya. Judul lampiran harus sama
dengan judul lampiran yang terdapat di dalam teks. Jarak antarbaris judul
lampiran yang memerlukan lebih dari satu baris, jarak antarabaris diketik
dengan spasi tunggal.

10. Daftar Lain


Jika dalam skripsi, tesis, atau disertasi banyak digunakan tanda-tanda
lain yang mempunyai makna esensial, misalnya singakatan atau lambang-
lambang yang digunakan dalam matematika, ilmu eksakta, teknik, bahasa, dan
sebagainya, perlu ada daftar khusus mengenai tanda-tanda, singkatan, atau
lambang-lambang dimaksud.

2.4.5 Cara Merujuk dan Menulis Daftar Rujukan


1. Cara Merujuk
Perujukan dilakukan dengan menggunakan dan tahun di antara tanda
kurung. Jika dua penulis, perujukan dilakukan dengan carar menyebut nama
akhir kedua penulis. Jika penilisnya lebih dari dua orang penulisan rujukan
dilakukan dengan cara menulis nama penulis pertama dari penulis tersebut,
kemudian diikuti dengan dkk (dan kawan-kawan) atau et al. (et alili). Pilih salah
satu, yang penting konsiste dalam satu karya ilmiah. Jika nama penulis tidak
disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang
menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan, atau nama Koran. Untuk karya
terjemahan, perujukan dilakukan dengan cara menyebutkan nama penulis
aslinya. Rujukan dari dua sumber atau lebih yang ditulis oleh penulis yang
berbeda, dicantumkan dalam satu tanda kurung dengan titik koma sebagai
tanda pemisahnya.

15
a. Cara Merujuk Kutipan Langsung

1) Kutipan kurang dari 40 kata


Kutipan yang berisi kurang dari 40 kata, ditulisa di antara tanda kutip
(“...”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama, dan diikuti dengan
nama penulis, tahun dan nomor halaman. Nama penulis dapat ditulis secara
terpadu dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di
dalam tanda kurung. Perhatikan contoh berikut! Nama penulis disebut dalam
teks secara terpadu. Contoh:
Suharto (1995:124) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara
faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.
Nama penulis disebut bersama dengan tahun penerbitan dan nomor
halaman. Contoh:
Kesimpulan penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara
faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Suharto, 1995:124).
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal
(„…‟) Contoh:
Simpulan penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan makin
banyak „campur tangan‟ pimpinan perusahaan makin rendah tingkat
partisipasi karyawan di daerah perkotaan” (Sutomo, 2000:600)
2) Kutipan 40 kata atau lebih
Kutipan yang berisi 40 kata atau lebih, ditulis secara terpisah dari teks
yang mendahuluinya (tanpa tanda kutip), ditulis 1,2 cm dari garis tepi sebelah
kiri dan kanan, dan diketik dengan jarak spasi tunggal. Nomor halaman juga
ditulis. Contoh:
Smith (1990:276) menarik kesimpulan berikut:
The ‘placebo effect’, which had been verified in previous studies,
disappeared when behaviors were studies in this manner. Furthermore, the
behaviors were never exhibited again, even when real drugs were
administered. Earlier studies were clearly premature in attributing the results
to a placebo effect.
Jika dalam kutipan terdapat paragraph baru lagi, garis barunya dimulai
1,2 cm dari tepi kiri garis teks kutipan.

3) Kutipan yang Sebagian Dihilangkan

16
Apabila dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang
dibuang, kata yang dibuang diganti dengan tiga titik. Contoh: “Semua pihak
yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah … diharapkan sudah
melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995:278). Apabila ada kalimat uang
dibuang, maka kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik. Contoh:
“Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara
mata, tangan, atau bagian tubuh lain …. Yang termasuk gerak manipulatif
antara lain adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar”
(Asim, 1995:315).

b. Cara Merujuk Kutipan Tidak Langsung

Kutipan yang disebut secara tidak langsung atau dikemukakan dengan


bahasa penulis sendiri ditulis tanpa tanda kutip dan terpadu dalam teks.
Nama penulis bahan kuripan dapat disebut terpadu dalam teks atau disebut
dalam kurung bersama tahun penerbitannya. Jika memungkinkan nomor
halaman disebutkan. Perhatikan contoh berikut! Nama penulis disebut
terpadu dalam teks. Contoh: Salimin (1990:13) tidak menduga bahwa
mahasiswa tahun ketiga baik daripada mahasiswa tahun keempat. Nama
penulis disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya. Contoh:
Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik daripada mahasiswa tahun
keempat (salimin, 1990:13).

2. Cara Menulis Daftar Rujukan


Daftar rujukan merupakan daftar yang berisi buku, makalah, artikel,
atau bahan lainnya yang dikutip baik secara langsung maupun tidak langsung.
Bahan-bahan yang dibaca akan tetapi tidak dikutip, tidak dicantumkan dalam
Daftar Rujukan, sedangkan semua bahan yang dikutip secara langsung
maupun tidak langsung dalam teks harus dicantumkan dalam daftar rujukan.
Semua rujukan yang dicantumkan dalam daftar rujukan itu disusun menurut
abjad nama-nama pengarang atau lembaga yang menerbitkannya, baik ke
bawah maupun ke kanan. Jadi, Daftar Rujukan tidak diberi nomor urut 1, 2, 3,
4, 5 dan seterusnya, atau diberi huruf a, b, c, d, e, dan seterusnya. Jika nama
pengarang dan nama lembaga yang menerbitkan itu tidak ada, penyusunan
Daftar Rujukan didasarkan pada judul pustaka acuan tersebut. Pada

17
dasarnya, unsur yang ditulis dalam daftar rujukan itu secara berturut-turut
meliputi (1) nama penulis, ditulis dengan urutan: anama akhir, nama awal, dan
nama tengah, tanpa gelar akademik, (2) tahun penerbitan, (3) judul, termasuk
subjudul, (4) kota tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit. Unsur-unsur
tersebut dapat bervariasi tergantung jenis sumber pustakanya. Jika
penulisanya lebih dari daru, cara penulisan namanya sama dengan penulis
utama. Nama penulis yang terdiri atas dua bagian ditulis dengan urutan: nama
akhir diikuti koma, nama awal singkat atau tidak disingkat tetapi harus
konsisten dalam satu karya ilmiah, diakhiri dengan titik. Jika sumber yang
dirujuk ditulis oleh tim, semuaa nama penulisnya harus dicantumkan dalam
daftar rujukan.

a. Rujukan dari Buku


Nama penulis, baik penulis Indonesa maupun bukan, dimulai dengan
nama belakang (diketik lengkap), diikuti nama depan (sebaiknya diketik
singkatan nama depannya) yang diakhiri dengan tanda titik (.). Tahun
penerbitan ditulis setelah nama penulis, diakhiri dengan titik. Judul buku ditulis
dengan huruf miring (italic) atau diberi garis bawahi, dengan huruf capital pada
setiap awal kata, kecuali kata hubung atau kata tugas. Tempat penerbitan dan
nama penerbit dipisahkan titik dua (:). Contoh:

Robert, H. R. 1981. Food Safety. Canada: A Wiley-Interscience Publication.


Hodgson, E. dan P. E. Levi. 1997. A Textbook of Modern Toxy-cology.
(2 𝑛𝑑 ed). Singapore: MeGraw- Hill Company Inc.

Hasibuan, M.S.P. 1996. Organisasi dan Motivasi. Cet. Pertama. Jakarta: Bumi
Aksara.

Jika ada beberapa buku yang dijadikan sumber ditulis oleh orang yang
sama dan diterbitkan dalam tahun yang sama pula, data tahun penerbitan
diikuti dengan lambing huruf a, b, c dan seterusnya, yang urutannya
ditentukan secara kronologis atau berdasarkan abjad judul buku-bukunya.
Contoh:

18
Cornet, L. dan K. Weeks. 1995a. Career Ladder Plans:Trends and Emerging
Issues-1985. Atlanta, GA: Career Ladder Clearinghouse.

Cornet, L. dan K. Weeks. 1995b. Planning Career Ladder:Lessons from the


States. Atlanta, GA: Career Ladder Clearinghouse.

b. Rujukan dari Buku yang Berisi Kumpulan Artikel (Terdapat editor)


Penulisannya seperti menulis rujukan dari buku ditambah dengan
tulisan (Ed.) baik untuk satu maupun lebih editor, di antara nama penulis dan
tahun penerbitan. Contoh:

Letheridge, S. dan C.R. Cannon (Ed.). 1980. Bilingual Education: Teaching


English as a Second Languange. New York: Praeger.

Aminuddin (Ed.). 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang


Bahasa dan Sasra. Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.

c. Rujukan dari Artikel dalam Buku Kumpulan Artikel (Terdapat editor)


Nama penulis artikel ditulis di depan diikuti dengan tahun penerbitan.
Judul artikel tanpa miring atau diapit tanda kutip (“…”) tanpa cetak miring
(italic). Nama editor ditulis seperti menulis nama biasa, diberi keterangan (Ed.)
baik untuk satu editor maupun lebih. Judul buku kumpulannya ditulis dengan
huruf miring (italic), dan nomor halamannya disebutkan dalam kurung. Contoh:

Hartley, J.T., J.O. Harker, dan D.A. Walsh. 1980. “Contemporary Issues anda
New Directions in Adult Development of Learning and Memory”.
Dalam L.W.Poon (Ed.), Aging in the 1980s: Psychological Issues
(hlm. 239-252). Washington, D.C.: American Psychological
Association.

Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddin (Ed.),


Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidanga Bahasa dan
Sastra (hlm. 12-25). Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.

19
d. Rujukan dari Artikel dalam Jurnal
Nama penulis ditulis paling depan, diikuti dengan tahun dan judul tanpa
miring atau artikel diapit tanda kutip, dan huruf capital pada setiap awal kata.
Nama jurnal ditulis dengan cetak miring atau garis bawah, dan huruf awal dari
setiap katanya dengan huruf capital kecuali kata tugas. Bagian akhir berturut-
turut ditulis jurnal tahun ke berapa, nomor berapa (dalam kurung), dan nomor
halaman dari artikel tersebut. Contoh:

Dwiloka, B. 1999. “Kotroversi Isu Minyak Tropis”. SAIN-TEKS, 6(2): 49-50.


Dwiloka, B. 2003. Cholesteremic Effects of Several Kinda of Eggs. The
Indonesian Journal of Community Nutrition and Family Studies.
27(2):48-57.

Hanafi, A. 1989. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengapdosian


Inovasi. Forum Penelitian, 1(1):33-47.

e. Rujukan dari Artikel dalam Jurnal dari CD-ROM


Penulisannya dalam daftar tujukan sama dengan rujukan dari artikel
dalam jurnal cetak, ditambah dengan penyebutan CD-ROM-nya dalam kurung.
Contoh:

Krashen, S., M. Long, dan R. Scarcella. 1997. “Age, Rate and Eventual
Attanitment in Second Language Acquisition”. TESOL Quarterly,
13:573-82 (CD-ROM: TESOL Quarterly Digital, 1997).

Krashen, S., M. Long, dan R. Scarcella. 1997. Age, Rate and Eventual
Attanitment in Second Language Acquisition. TESOL Quarterly,
13:573-82 (CD-ROM: TESOL Quarterly Digital, 1997).

f. Rujukan dari Artikel dalam Majalan atau Koran


Nama penulis ditulis paling depan, diikuti oleh tanggal, bulan, dan
tahun (jika ada). Judul artikel tanpa miring atau diapit tanda kutip, dan huruf
kapital pada setiap huruf awal kata, kecuali kata tugas atau kata hubung.
Nama majalah ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf pertama setiap kata,
dan dicetak miring. Nomor halaman disebut pada bagian akhir. Contoh:

20
Dwiloka, B. 1995. “Menyimak Rahasia Baru Lipida Ikan Bagi Gizi Manusia”.
Info Pangan dan Gizi Jawa Tengah, 5(2): 16-23.

Dwiloka, B. 7 Juli 1987. Kulit Ternak, lezat dan Bergizi Tinggi. Suara Karya,
hlm. 12. Gardner, H. 13 November 1991. Menyiasati Krisis Listrik
Musim Kering. Jawa Post, hlm. 6.

g. Rujukan dari Koran Tanpa Penulis


Nama Koran ditulis pada bagian awal , tanggal, bulan, dan tahun ditulis
setelah nama Koran, kemudian judul ditulis dengan huruf besar-kecil dicetak
miring dan diikuti dengan nomor halaman. Contoh:

Kompas. 18 Maret 2005. Rawan Pangan, Tanpa Basis Sumber Daya Lokal,
hlm. 41.
h. Rujukan dari Dokumen Resmi Pemerintah yang Diterbittkan oleh Suatu
Penerbit Tanpa Penulis dan Tanpa Lembaga
Judul atau nama dokumen ditulis di bagian awal dengan cetak miring,
diikuti oleh tahun penerbitan, kota penerbit, dan nama penerbit. Contoh:

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional. 2004. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

i. Rujukan dari Lembaga yang Ditulis Atas Nama Lembaga Tersebut


Nama lembaga penanggung jawab langsung ditulis paling depan,
diikuti dengan tahun, judul karangan yang dicetak miring, nama tempat
penerbitan, dan nama lembaga yang bertanggung jawab atas penerbitan
karangan tersebut. Contoh:

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2003. Pedoman Umum


Pembentukan Istilah. Bandung: Yrama Widya.

j. Rujukan Berupa Karya Terjemahan


Nama penulis asli ditulis paling depan, diikuti tahun penerbitan karaya
asli, judul terjemahan, nama penerjemah, tahun terjemahan, nama tempat

21
penerbitan dan nama penerbit terjemahan. Jika tahun penerbitan buku asli
tidak dicantumkan, ditulis dengan kata tanpa tahun. Contoh:

Connel, D.W. dan G.J. Miller. 1990. Kimia da Entoksikologi Pencemaran.


Terjemahan oleh Y. Koestoer. 1995. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.

Ary, D., J.C. Jacobs, dan A. Razaviech. Tanpa Tahun. Pengantar Penelitian
Pendidikan, Terjemhan oleh Arief Furchan. 1982. Surabaya: Usaha
Nasional.

k. Rujukan dari Skripsi, Tesis, atau Disertasi


Nama penuli ditulis paling depan, diikuti dengan tahun yang
tercantum pada sampul, judul skripsi, tesis, atau disertasi diketik huruf miring
diikuti dengan pernyataan skripsi, tesis, atau disertasi tidak diterbitkan, nama
kota tempat perguruan tinggi, dan nama fakultas serta nama perguruan
tinggi. Contoh:

Pitayaningrum, C.W.2004. Efek Perebusan 30 Menit dengan Daun Kumis


Kucing terhadap Penurunan Kandungan Logam Berat dalam Hati dan
Usus Sapi yang digembalakan di TPA Jatibarang, Semarang. Skripsi
tidak dipublikasikan.. Semarang: Fakultas Peternakan, Universitas
Diponegoro.

Siswokartono, S.W.E. 2000. Artisapasi dalam Pelestarian Asset Budaya:


Korelasi Antara Pengetahuan Sejarah Kebudayaan, Sikap terhadap
Kebudayaan, dan Minat Siswa SMU Negeri di Semarang Terhadap
Wisata Budaya (1999). Jalarta: Program Pascasarjana, Universitas
Negeri Jakarta. Disertasi tidak dipublikasikan.

l. Rujukan dari Makalah yang Disajikan dalam Seminar, Penataran, atau


Lokakarya
Nama penulis ditulis paling depan, dilanjutkan dengan tahun, judul
makalah diapit tanda kutip, kemudian diikuti dengan pernyataan “Makalah

22
disajikan dalam …”, nama pertemuan, lembaga penyelenggara, tempat
penyelenggaraan, dan tanggal serta bulannya. Contoh:

Dwiloka, B. 2003. “Menulis Karya Ilmiah”. Makalah Disajikan dalam


Penataran dan Lokakarya Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa
Universitas Stikubank Semarang. Semarang. 2 Agustus. Dwiloka, B.
2003. “Metodologi Penelitian, Sebuah Pengantar”. Makalah Disajikan
dalam Lokakarya Metodologi Penelitian Bagi Dosen-Dosen Senior
STIE Surakarta. Surakrta, 13 Juni.

m. Rujukan dari Internet Berupa Karya Individu


Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara
berturut-turut tahun, judul karya tersebut (diapit tanda kutip) dengan diberi
keterangan dalam kurung (online), dan diakhiri dengan alamat sumber
rujukan tersebut dengan keterangan kapan diakses, diantara tanda kurung.
Contoh:

Abadi, C.J. 2002. “Kumis Kucing”, (online), (http://www.chang.jaya-


abadi.com.jamu-jawa04htm/, diakses 12 Desember 2003).

n. Rujukan dari Internet Berupa artikel dari Jurnal


Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan catak, diikuti secara
berturut-turut tahun, judul artikel, nama jurnal (diapit tanda kutip) dengan
diberi keterangan dalam kurung (online), volume dan nomor, dan diakhiri
dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan
diakses, di antara tanda kurung. Contoh :
Griffith, A.I. 1995. “Coodinating Family and School: Mothering for Schooling”.
Education Policy Analysis Archive, (online), Vol. 3, No. 1,
(Http://olam.ed.asu.edu/epaa/, diakses 12 Februari 1997)

o. Rujukan dari Internet Berupa Bahan Diskusi


Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara
beruru-turut oleh tanggal, bulan, tahun, topik bahan diskusi, nama bahan
diskusi (diapit tanda kutip) dengan diberi keterangan dalam kurung (online),

23
dan diakhiri dengan alamat e-mail sumber rujukan tersebut disertai dengan
keteranga kapan diakses, diantara tanda kurung. Contoh :
Wilson, D. 20 November 1995. “Summary of Citing Internet Sites”. NETTRAIN
Discussion List, (online), (NETTRAIN@ubvm.cc.buffalo.edu, diakses 22
November 1995).

p. Rujukan dari Internet Berupa E-Mail Pribadi


Nama pengirim (jika ada) dan disertai keterangan dalam kurung
(alamat e-mail pengirim), diikuti secara berturut-turut oleh tanggal, bukan,
tahun, topic isi bahan (diapit tanda kutip), nama yang dikirimi disertai
keterangan dalam kurung (alamat e-mail yang dikirim). Contoh :
Naga, Dali S. (ikip-jk@indo.net.id). 1 Oktober 1997. “Artikel untuk JIP”. E-mail
Kepada Ali Saukah (jipsi@mlg.ywcn.or.id)

2.4.6 Penulisan Tabel


Skripsi, tesis, atau disertasi yang lengkap, selain menganalisis data dengan
seksama, juga mencantumkan tabel yang merupakan gambaran nyata analisis
masalah. Nama-nama tabel diberi nomor dengan angka arab dan dituliskan
dengan huruf kapital pada semua awal katanya, kecuali partikel seperti di, ke,
dan, dari, yang, terhadap, dan untuk. Jika judul tabel lebih dari satu baris, baris
kedua dan seterusnya ditulis sejajar dengan huruf awal judul dengan jarak satu
spasi. Judul tabel tanpa diakhiri tanda titik.

2.4.7 Penyajian Gambar, Grafik, atau Skema


Gambar, grafik, atau skema, tidak harus dimaksudkan untuk membangun
deskripsi, tetapi dimaksudkan untuk menekankan hubungan tertentu yang
signifikan. Gambar juga dapat digunakan untuk menyajikan data statistik
berbentuk grafik atau histogram.. Nomor urut gambar, grafik, atau skema, dengan
angka Arab 1, 2, 3, dan seterusnya. Berbeda dengan tabel, cara penulisan
gambar, grafik, atau skema, dituliskan dibawah gambar, grafik, atau skema.

24
BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN
Karya ilmiah/karya tulis ilmiah (KTI) merupakan tulisan yang mengungkapkan
buah pikiran, yang diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian, atau peninjauan
terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan sistematika tertentu, dan
yang isi dan kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.

B. SARAN
Dalam pembuatan makalah ini penulis mendapatkan pengalaman yang sangat
berharga mengenai pengetahuan sistematika dan penulisan karya tulis ilmiah
Sederhana. Penulis menyarankan kepada semua pembaca untuk mempelajari
sistematika dan penulisan karya tulis ilmiah Sederhana dalam membuat sebuah
karya tulis. Dengan mempelajari sistematika dan penulisan karya tulis ilmiah
Sederhana diharapkan mahasiswa dan mahasiswi memiliki ketetapan dalam
menyampaikan dan menyusun suatu gagasan agar yang disampaikan mudah
dipahami dengan baik.

25
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Saukah, dkk. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi,
Artikel, Makalah, Laporan Penelitian Edisi Keempat. Universitas Negeri Malang :
Biro Administrasi Akademik, Perencanaan, dan Sistem Informasi Bekerjasama dengan
Penerbit UNM.

Muhammad Subhan. 2014. Teknik Penulisan Karya Ilmiah.


http://muhamadsubhan.blogspot.com/p/teknik-penulisan-karya-ilmiah-resume.html.
Diakses tanggal 23 November 2019 10.15

Nova Siregar. 2017. Perbedaan Karya Ilmiah Poluler dan Karya Ilmiah Murni.
https://novasiregar29.wordpress.com/2017/12/01/perbedaan-karya-ilmiah-populer-dan-
karya-ilmiah-murni/. Diakses tanggal 22 November 2019 pukul 12.31.

Pakar Komunikasi. 2018. 17 Teknik Penulisan Karya Ilmiah Lengkap.


https://pakarkomunikasi.com/teknik-penulisan-karya-ilmiah. Diakses tanggal 22
November 2019 pukul 12.35

Tim Penyusun. 2017. Pedoman Penulisan Skripsi. IAIN Palangka Raya : Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

T.O.P Sianturi. Teknik Penulisan Ilmiah. https://www.academia.edu/34110535 /TEKNIK


PENULISAN ILMIAH_Konsep_dasar. Diakses tanggal 23 November 2019 pukul 10.20

26
27