Anda di halaman 1dari 36

SISTEM PELAYANAN MESIN

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Perpipaan Kapal II

Disusun oleh :
Prasetio Prakoso 40040418060070

Dosen Pengampu :
Aulia Windyandari, ST, MT

Dosen Pembimbing :

Sarwoko AT M.Kes

PROGRAM STUDI DIPLOMA III


TEKNOLOGI PERANCANGAN DAN KONSTRUKSI KAPAL
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI
SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2020
KATA PENGANTAR

Ucapan syukur selalu penulis munajatkan kepada Allah SWT yang dengan ridho
serta hidayah-Nya senantiasa melimpahkan rahmat kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah tugas Perpipaan Kapal 2 tentang “Sistem Pelayanan Mesin.”
Dengan selesainya penulisan makalah Perpipaan Kapal 2 ini dalam rangka
menyelesaikan tugas dari Ibu Aulia Windyandari, ST, MT.
Saya berharap makalah Perpipaan Kapal 2 ini bisa bermanfaat bagi banyak
orang. Saya menyadari bahwa karya tulis ini masih belum sempurna. Untuk itu, kritik
dan saran yang positif dari para pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan karya
berikutnya.

Jakarta, 4 April 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Maksud dan Tujuan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sistem Bilga

2.2 Sistem Ballast

2.3 Sistem Pemadam Kebakaran (Fire Extinguishing System)

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
SISTEM PELAYANAN MESIN

Prasetio Prakoso

Jurusan Teknologi Perancangan dan Konstruksi Kapal

Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro

Email: prasetioprakoso27@gmail.com

ABSTRAK

Sistem bahan bakar minyak adalah salah satu sistem pendukung mesin vital
utama MV. Leuser karena sistem ini secara langsung mempengaruhi kinerja mesin utama.
Pengaruh yang lebih besar adalah kapal tidak bisa dioperasikan sehingga kerugian
finansial akan terjadi.

Salah satu sistem layanan permesinan yang dipandang perlu dilakukan analisa
adalah sistem bahan bakar motor induk. Sistem bahan bakar memegang peranan yang
penting untuk menyuplai bahan bakar ke dalam ruang bakar pada motor diesel sebagai
penggerak utama di kapal. Kegagalan pada komponen sistem bahan bakar dalam
beroperasi diakibatkan dari gagalnya salah satu komponen yang ada pada sistem bahan
bakar tersebut.

ABSTRACT

The fuel system is one of the main vital engine support systems of the MV.
Leuser because this system directly affects the performance of the main engine. Failure of
the fuel system must be the main engine shut down. The greater influence is that the ship
cannot be operated so that financial losses will occur.

One of the machining service systems that is considered necessary to be analyzed


is the main motor fuel system. The fuel system plays an important role to supply fuel into
the combustion chamber on a diesel motor as the main driver on the ship. Failure of the
fuel system components to operate due to the failure of one of the components in the fuel
system. For this reason, a reliability evaluation is needed to prevent failures in these
components.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sistem pipa kapal merupakan suatu sistem yang berfungsi untuk mengantarkan
atau mengalirkan suatu fluida dari tempat yang lebih rendah ke tujuan yang diinginkan
dengan bantuan mesin atau pompa. Sistem perpipaan merupakan sistem yang kompleks
yang di desain se-efektif dan se-efisien mungkin di dalam kapal untuk memenuhi
kebutuhan kapal, crew, muatan dan menjaga keamana kapal baik saat kapal berjalan
maupun berhenti. Misalnya pipa yang dipakai untuk memindahkan minyak dari tangki ke
mesin, memindahkan minyak pada bantalan-bantalan dan juga mentransfer air
untuk keperluan pendinginan mesin ataupun untuk kebutuhan sehari-hari diatas kapal,
untuk memasukan dan mengeluarkan muatan, serta masih banyak lagi fungsi lainnya.

Sistem bahan bakar kapal merupakan suatu sistem pelayanan untuk motor induk
yang sangat vital. Sistem bahan bakar secara umum terdiri dari fuel oil supply, fuel oil
purifying, fuel oil transfer dan fuel oil drain piping system. Sistem bahan bakar adalah
suatu sistem yang digunakan untuk mensuplai bahan bakar dari bunker ke settling tank
dan juga daily tank dan kemudian ke mesin induk atau mesin bantu. Adapun jenis bahan
bakar yang digunakan di atas kapal bisa berupa heavy fuel oil (HFO), MDO, HSD
ataupun solar, biasanya tergantung jenis mesin dan ukuran mesin.
Untuk sistem yang menggunakan bahan bakar HFO untuk operasionalnya,
sebelum masuk ke mesin utama HFO harus melalui treatment dahulu untuk penyesuaian
viskositas, suhu, dan tekanan.
Sistem Bahan Bakar Motor Induk KMP Shafira memperlihatkan bahwa
sistem bahan bakar motor induk KMP Bontoharu terbagi atas tiga fungsional sub
sistem yaitu sub sistem pemompaan bahan bakar, sub sistem pembersihan bahan
bakar, dan sub sistem penginjeksian bahan bakar.
Begitu pentingnya peran dari sistem penunjang motor induk tersebut, maka
untuk dapat mendeteksi penyebab kegagalan komponen/sistem perlu dilakukan
penelitian untuk mempelajari mengenai karakteristik pola kegagalan, pola perawatan
serta kondisi operasional dari masing-masing komponen sistem bahan bakar.
Dengan mempelajari mengenai dinamika sistem diharapkan dapat membantu
menganalisa serta memahami suatu sistem yang kompleks berubah terhadap fungsi
waktu.

1.2. Rumusan Masalah


1. Sistem Bilga (Bilge System)
2. Sistem Ballast (Ballast System)
3. Sistem Pemadam Kebakaran (Fire Extinguishing System)
1.3. Maksud dan Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini dibuat untuk membantu para pembaca
untuk mengetahui apa itu Sistem Pelayan Mesin yang terbagi menjadi, Sistem Bilga
(Bilge system), Sistem Ballast (Ballast System), dan Sistem Pemadam Kebakaran
(Fire Extinguishing System) serta fungsi fungsi dari sistem tersebut.
Dapat mengetahui komponen-komponen dalam sistem Bilga, Ballast, dan
Pemadam kebakaran, serta lebih memahami bagian-bagian dari ketiga sistem
tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Bilga (Bilge System)


Salah satu sistem yang termasuk dalam sistem pelayanan umum di kapal adalah
sistem bilga. Sistem bilga merupakan sistem yang harus ada pada suatu kapal. Fungsi
utama sistem ini adalah menjaga keselamatan kapal ketika terjadi kebocoran pada
kompartemen yang bisa disebabkan oleh tabrakan (salah satunya). Dimana sistem bilga
ini bekerja dengan mengeluarkan air yang tertimbun di lambung kapal yang tertimbun di
bilga dan kotak timbunan (well). Sistem bilga harus dapat mengeringkan seluruh tank top,
watertight flats, dan bagian yang tidak tersentuh pada berbagai kondisi operasional dan
tingkat kemiringan kapal.
PEMBAGIAN SISTEM BILGA
1. Clean Bilge System
Yaitu sistem bilga dimana hanya air kotor saja yang menjadi fluida yang akan
diserap dan tanpa adanya campuran minyak. 
2. Oily Bilge System
Yaitu sistem bilga yang mana air kotor dan minyak bercampur menjadi satu
sebagai fluida yang akan diserap.
CARA KERJA DAN FUNGSI SISTEM BILGA
1. Cara Kerja
Cara kerja dari sistem bilga ini adalah menampung berbagai zat cair
tersebut kedalam sebuah tempat yang dinamakan dengan bilge well, kemudian zat
cair tersebut dihisap dengan menggunakan pompa bilga dengan ukuran tertentu
untuk dikeluarkan dari kapa melalui Overboard. Zat cair yang mengandung minyak,
yaitu yang tercecer didalam Engine room akan ditampung didalam Bilge Well yang
terletak dibawah Main Engine, kemudian akan disalurkan menuju incinerator dan
Oily Water Seperator untuk dipisahkan antara air, kotoran dan minyaknya. Untuk
minyaknya dapat digunakan lagi sedangkan untuk air dan kotoran yang tercapur
akan disimpan kedalam tangka penyimpanan.
2. Fungsi Sistem Bilga

Sistem yang dapat melakukan pemompaan terhadap fluida yang ada pada double
bottom sehingga fluida tersebut yang kemungkinan bercampur dengan minya dapat
dilakukan prosesing dan kemudian aiar yang ada dapat dibuang keluar melalui overboard.

KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM BILGA


 Pipa Cabang dan Pipa Utama

Perpipaan bilga terdiri dari pipa bilga utama dan pipa bilga cabang, pipa bilga
langsung, dan pipa bilga darurat. Sistem bilga utama dan cabang, sistem ini adalah untuk
memindahkan bilga yang terdapat pada tempat-tempat bilga pada kapal dengan
menggunakam pompa bilga di kamar mesin. Sisi hisap bilga di kamar mesin biasanya
dipasang di dalam bilge well di bagian depan kamar mesin (port dan starboard), bagian
belakang kamar mesin, bagian belakang shaft tunnel. Saluran cabang bilga ini
dihubungkan dengan saluran utama bilga yang mana dihubungkan ke sisii hisap pompa
bilga. Pipa bilga langsung, Pipa-pipa bilga langsung adalah untuk menghubungkan secara
langsung bilge well (port dan starboard) pada bagian depan kamar mesin dengan pompa
bilga. Diameter dalamnya sama dengan saluran bilga utama. Pipa bilga darurat, Pipa bilga
darurat adalah pipa hisap bilga yang dihubungkan ke pompa yang mempunyai kapasitas
terbesar di kamar mesin dan biasanya dihubungkan ke pompa utama pendinginan air laut
di mesin kapal. Diameter dalam pipa bilga darurat biasanya sama dengan diameter hisap

pompa.

gambar instalasi pipa bahan bakar


 Valve serta Fitting

Untuk katup dan fitting pada pipa hisap sistem bilga, pada gambar diperoleh
untuk fitting jenis Elbow 90o sebanyak 7 buah, katup jenis Butterfly 1 buah, strainer 2
buah, NRV 1 buah dan 3 way valve sebanyak 2 buah. Sedangkan untuk pipa discharge
sistem bilga, pada gambar terhitung fitting jenis Elbow 90o sebanyak 6 buah, butterfly 1
buah, strainer 2 buah, katup jenis SDNRV sebanyak 2 buah, dan 3 way valve sebanyak 1
buah. Dengan demikian total head losses diperoleh sebesar 15.94 m (untuk bilga kamar
mesin), dan 24,75 meter untuk bilga ruang muat.

gambar valve hydrant


 Pompa

Dari head losses yang telah dihitung diatas, maka saya dapatkan Daya pompa
yang dibutuhkan sebesar 5.38 kW atau sebesar 7.32 HP. Oleh karenanya pompa yang saya
pilih untuk memenuhi kebutuhan daya serta head tersebut adalah pompa bilga merek
Shinko, type RVX 200S double stage, dengan putaran 1500 RPM, daya motor 15 kW,
kapasitas 100 m3/jam, Head 50 m, dan frekuensi 50 Hz. Pompa bilga ini saya letakkan di
tanktop. Sedangkan untuk pompa bilga kamar mesin, digunakan pompa dengan merk
yang sama dengan pompa untuk bilga di ruang muat.
Gambar pompa di kamar mesin

 Outboard/overboard

Air yang tidak terpakai akan dikeluarkan melalui Outboard. Dimana peletakan
Outboard ini haruslah 0,76 m diatas garis air atau WL, pada satu outboard harus diberi
satu katup jenis SDNRV.

 Separator
Untuk Oily Bilge System, minyak yang tercecer yang tercampur dengan air akan
dipisahkan dengan menggunakan Oil Water Separator. Pada kapal ini, Oil Water
Separator yang dipakai adalah merek Alva Laval type SA 821 dengan kapasitas 1400
lit/hr, tekanan minimum 2 bar dan maksimum 6 bar, Head 30 m, Tegangan 220 Volt, dan
frekuensi 50 Hz. Separator ini terletak pada tanktop

 Sludge tank
Untuk minyak yang telah dipisahkan dengan kotoran dan air, yang bisa dipakai
lagi setelah dipisahkan akan ditampung kedalam sludge tank dengan kapasitas 3 m3,
terletak pada tanktop.

 Pompa Bilga

Apabila digunakan pompa sentrifugal untuk pompa bilga, pompa itu harus
merupakan self-priming atau dihubungkan ke sebuah alat pemisah udara.

 Bilga Well (sumur/penampungan)

Suatu tempat dengan ukuran tertentu yang telah ditentukan untuk menampung
berbagai kotoran atau dalam bentuk zat cair yang ada di kapal. Jumlah dari bilge well
minimum dua buah untuk kiri dan kanan sepasang dan setimbang
PERSAMAAN PERATURAN SISTEM BILGA DARI 4 BADAN
KLASIFIKASI
1. pipa-pipa bilga dan penghisapannya harus diatur sedemikian rupa sehingga kapal
dapta di keringkan dengan sempurna walau dalam keadaan miring kurang
menguntungkan
2. Pipa-pipa bilga tidak boleh di pasang melalui tangki –tangki minyak pelumas, air
minum dan air pengisian ketel.
3. Pipa-pipa pembungan dari pompa bilga harus dilengkapi denga katub screw down
check valve pada kulit lambung.
4. Pompa-pompa ballast dan pompa dinas umum dapat digunakan sebagai pompa
bilga yang berdiri sendiri asalakan kapasitas pompa-pompa tersebut memenuhi
kapasitas yang dibutuhkan.

Gambar sistem bilga


PERBEDAAN PERATURAN SISTEM BILGA DARI 4 KLASIFIKASI
• BIRO KLASIFIKASI INDONESIA

1. Minimum garis tengan dalam dari pipa –pipa bilga utama dan cabang paling kecil
adalah 50 mm untuk kapal kapal dengan panjang kurang dari 25 m garis tengah
pipa dapat di perkecil sampai 40 mm. Pipa bilg untuk kotak pengering terowongan
poros baling-baling harus mempunyai garis tengah minimum 60 mm. Untuk kapal
dengan panjang kurng dari 60 m, garis tengah 50 mm adalah mencukupi.

2. Kapasitas pompa-pompa bilga yang berdiri sendiri harus memiliki kapsitas :

Q = 0,575 ( dH )2

Q = kapasitas minimum pompa bilga (m^3/jam)

dH = diameter pipa bilga utama

3. Untuk pompa bilga suatu pompa dengan kapasitas yang lebih kecil dari pada yang di
perlukan menurut peraturan ini dibolehkan untuk dipasang sedang pada pompa
lainnya dirancang untuk suatu kapasitas yang lebih besar . Bagaimana pun kapasitas
pompa bilga yang kecil ini tidak boleh lebih dari 85% dari kapasitas terhitung.

4. Kapal barang dilengkapi dengan dua buah pompa bilga yang memiliki daya sendiri
pada kapal diatas 2000 GRT salah satu dari pompa yang ada dapat dipasang pada
motor induk.

5. Pada kapal yang lebih dari 100 GRT satu penggerak pompa bilga yang di pasang
motor ialah mencukupi. Pompa bilga kedua dapat secara permanen dipasang pada
sebagai pompa bilga manual. Penggerak pompa bilga pada motor dapat dikopel ke
pembangkit daya induk.
NIPPON KAIJI KYOKAI (NKK)

 Kedalaman sumur lambung kapal yang dibangun di double bottom dan jarak vertikal
antara plating bawah dan bagian bawah sumur lambung kapal yang memenuhi
persyaratan. Kapasitas masing-masing dengan baik lambung kapal tidak kurang dari
0,17 m.

 Sumur lambung kapal bisa diganti dengan topi baja lambung kapal kapasitas wajar di
mana spasi untuk dikeringkan adalah kecil atau tidak mampu disediakan dengan
sumur lambung kapal dari volume yang ditentukan. Akses manholes ke sumur
lambung kapal kargo memegang diperlukan, mereka harus berada sedekat lambung
kapal penyedotan sebagai praktis. Hal ini harus dihindari, sejauh praktis, untuk
memberikan manholes atas pada kedepan dan setelah bulkheads dan bawah dalam
plating mesin kamar.

 Pipa hisap Bilge kecuali untuk lambung kapal hisap darurat pipa di ruang mesin
dan poros terowongan yang harus disediakan dengan kotak lumpur, mudah
diakses dari atas. Platform di ruang mesin, harus mencakup mudah untuk
menjadi dibuka atau ditutup, dan pipa ekor langsung ke lambung kapal sumur
untuk dipasang ke sisi hisap dari kotak lumpur.
 Lambung kapal isap berakhir di ruang terus yang harus disediakan dengan kotak
memetik memiliki perforasi sekitar 10 mm kecuali disetujui oleh biro dan
memiliki daerah terbuka lebih dari dua kali luas hisap pipa, dan kotak memetik
harus jadi dibangun bahwa mereka dapat dibersihkan tanpa memutuskan
bersama setiap dari pipa hisap.
American Bureo of Shipping

 Salah satu pompa lambung kapal yang dibutuhkan adalah harus dilengkapi
dengan suction dipimpin langsung dari ruang mesin propulsi lambung kapal ke hisap
utama pompa sehingga diatur bahwa hal itu dapat dioperasikan secara independen
dari lambung kapal sistem.
 lambung kapal hisap harus dikendalikan oleh katup stop-cek. Jika sekat kedap
air memisahkan ruang mesin penggerak dalam kompartemen, seperti langsung
lambung kapal hisap harus dipasang dari masing-masing kompartemen kecuali
pompa tersedia untuk lambung kapal Layanan didistribusikan di seluruh
kompartemen ini. Dalam kasus seperti itu, setidaknya satu pompa dengan hisap
langsung untuk dipasang di setiap kompartemen
 lambung kapal hisap darurat harus dipasang untuk ruang mesin propulsi.
lambung kapal darurat hisap akan langsung terhubung ke terbesar independen
didorong pompa di ruang mesin penggerak selain pompa lambung kapal yang
dibutuhkan. Dimana ini pompa tidak cocok, pompa cocok terbesar kedua di ruang
mesin propulsi mungkin digunakan untuk layanan ini disediakan bahwa pompa yang
dipilih tidak satu pompa lambung kapal yang dibutuhkan dan kapasitasnya tidak
kurang dari pompa lambung kapal yang diperlukan
DET NORSKE VERITAS

Diameter internal penyedotan lambung kapal cabang dari masing-masing kompartemen


tidak boleh kurang dari yang diberikan oleh rumus berikut, untuk terdekat 5 mm:
d = 2.15 A + 25 (mm)

Daerah penampang garis lambung kapal utama adalah tidak kurang dari area gabungan
dari dua penyedotan cabang terbesar.
Diameter lambung kapal hisap darurat tidak menjadi kurang dari sisi hisap pompa, tapi
tidak perlu melebihi 400 mm.
2.1 Sistem Ballast
Suatu sistem perpipaan dan pelayanan di kapal yang berfungsi untuk
mengatur air ballast, dimana air tersebut berfungsi untuk mengatur keseimbangan
sarat kapal yang meliputi sarat rata, sarat trim haluan dan buritan, serta saat oleng.

KOMPONEN SISTEM BALLAST


1. Tangki Ballast
Tangki ballast berfungsi untuk menampung air
dan menjaga kestabilan kapal baik saat
berlayar maupun bongkar muat.
Tangki ballast ditempatkan di tangki ceruk
buritan (AP) dan tangki ceruk haluan (FP)
berguna untuk mengubah trim,serta terdapat di
tangki double bottom, deep ballast tanks, dan
side ballast tanks berguna untuk memperoleh
sarat yang tepat.
Volume dari ballast mecapai 8-12% dari total
displacement kapal.

2. Pipa Ballast
Pipa ballast ditempatkan di tangki ceruk buritan (AP), tangki ceruk haluan (FP) tangki
double bottom, deep ballast tanks, dan side ballast tanks.

Menurut Volume III BKI 1996 section 11 P, dinyatakan :


A) Jalur Pipa Ballast
*Sisi Pengisapan dari tanki air ballast diatur sedemikian rupa sehingga pada kondisi
trim air ballast masih tetap dapat di pompa.
*Kapal yang memiliki tanki double bottom yang sangat lebar juga dilengkapi
dengan sisi isap pada sebelah luar dari tanki. Dimana panjang dari tanki air ballast
lebih dari 30 m, Kelas mungkin dapat meminta sisi isap tambahan untuk memenuhi
bagian depan dari tanki.

B) Pipa yang melalui tangki

Pipa air ballast tidak boleh lewat instalasi tanki air minum,

tanki air baku, tanki minyak bakar, dan tanki minyak pelumas.
C) Sistim Perpipaan
• Bilamana tanki air ballast akan digunakan khususnya sebagai pengering palka, tanki
tersebut juga dihubungkan ke sistim Bilga.
• Katup harus dapat dikendalikan dari atas geladak cuaca (freeboard deck).
• Bilamana fore peak secara langsung berhubungan dengan suatu ruang yang

dapat dilalui secara tetap ( mis. Ruang bow thruster) yang terpisah dari ruang

kargo, katup ini dapat dipasang secara langsung pada collision bulkhead di

bawah ruang ini tanpa peralatan tambahan untuk pengaturannya.


3. Pompa Ballast

Pompa yang mendukung system ballast terdiri dari 2 pompa, yang juga
mendukung sistem lain, yakni sistem pemadam dan bilga. Pompa ini terdiri dari pompa
bilga-ballast dan pompa general service.

Pompa general service digunakan sebagai pompa kedua pada sistem Ballast. Jadi,
pompa general service ini kapasitasnya cukup 85% dari kapasitas pompa Ballast agar
dapat menghandle sistem Ballast tersebut, yaitu 85% dari pompa Ballast – Fire.

Jumlah dan kapasitas pompa ballast harus memenuhi kebutuhan operasional kapal.

4. Katup dan Fitting

Katup dan fitting yang biasa digunakan adalah


1. Elbow 90 

Elbow 90
2. Filter

Filter
3. SDNRV (Screw Down Non Return Valve)

SDNRV

4. Gate valve 

Gate Valve

5. Sambungan T 

T Elbow

6. Butterfly valve

Butterfly Valve
5. Outboard
Fungsi outboard adalah untuk mengeluarkan air yang sudah tidak terpakai.
Peletakan Outboard ini haruslah diatas garis air atau WL dan harus diberi satu katup jenis
SDNRV.

Peletakan outboard terletak kira-kira 300 mm diatas tanda lambung timbul.

6. Seachest

Seachest merupakan tempat di lambung kapal, dimana di sea chest terdapat pipa
saluran masuknya air laut. Selain pipa tersebut, pada seachest juga terdapat dua saluran
lainnya. yaitu blow pipe dan vent pipe.

Blow pipe digunakan sebagai saluran udara untuk menyemprot kotoran-kotoran


di seachest. Sedangkan vent pipe digunakan untuk saluran ventilasi di seachest. Seachest
untuk kapal ini diletakkan di lambung di daerah kamar mesin.
CARA KERJA SISTEM BALLAST

Secara umum adalah untuk mengisi tangki ballast yang berada di double bottom, dengan
air laut, yang diambil dari seachest. Melalui pompa ballast, dan saluran pipa utama dan pipa
cabang. Sistem pompa ballast ditunjukan untuk menyesuaikan tingkat kemiringan dan draught
kapal, sebagai akibat dari perubahan muatan kapal sehingga stabilitas dari kapal mampu
dipertahankan.

Pipa ballast dipasang di tangki ceruk haluan dan tangki ceruk buritan, tangki
double bottom, deep tank, dan tangki samping (side tank). Ballast yang diposisikan di
tangki ceruk haluan dan buritan ini digunakan untuk melayani kondisi trim kapal yang
dikehendaki. Secara umum dari kerja suatu sistem ballast terbagi menjadi tiga, yang
pertama bagaimana sistem pengisian tangki ballast dari luar ke dalam, kemudian
bagaimana membuang air ballast dari dalam tangki ke luar, dan bagaimana memindahkan
air ballast dari tangki ke tangka
2.3 Sistem Pemadam Kebakaran (Fire Extinguishing System)

Sistem yang digunakan untuk mengatasi, mencegah dan menghentikan terjadinya


kebakaran yang terjadi pada kapal, secara keseluruhan maupun per bagian. Kebakaran
menjadi salah satu bahan pertimbangan yang penting dan tidak bisa diabaikan begitu saja,
karena menyangkut keselamatam awak, muatan dan kelangsungan kapal itu sendiri.
Walaupun kebakaran di atas kapal tidak terjadi secara periodic, namun semua komponen
dan spesifikasinya telah diatur dengan baik di dalam klasifikasi maupun standart
perancangan kapal. Kebakaran merupakan suatu peristiwa terjadinya nyala api sebagai
akibat adanya reaksi antara material, sumber panas dan oksigen yang cukup. Secara
umum senyawa dan unsur tersebut dinyatakan sebagai bentuk segitiga api, sebagai berikut
: material, oksigen, sumber panas. Satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya
kebakaran adalah dengan menghilangkan atau memisahkan salah satu dari ketiga unsur
tersebut
Untuk mengatasi adanya kebakaran yang disebabkan oleh hal-hal diatas, terutama pada
kapal, dilakukan tiga tahapan yaitu :
1. Detection atau mencari serta mengetahui lokasi terjadinya kebakaran
2. Alarm atau menginformasikan kepada ABK untuk mematikan segala hal, baik itu
mesin atau yang lain, yang dapat memicu membesarnya api.
3. Control atau mengontrol agar api tidak semakin membesar serta memadamkan api
tersebut.
a. Detection
Untuk mengetahui lokasi terjadinya kebakaran maka digunakan fire detector yang
hampir selalu ada pada tiap-tiap ruangan di kapal. Apabila suatu kebakaran dapat
dideteksi dengan cepat maka akan lebih mudah untuk dikendalikan serta dipadamkan
tanpa menimbulkan kerugian yang besar atau berbahaya bagi kapal. Jadi fungsi utama
dari fire detector adalah untuk mengetahui atau mendeteksi adanya kebakaran yang
terdapat di dalam kapal secepat mungkin agar kebakaran yang muncul lebih mudah
ditanggulangi.
Cara kerja fire detector secara umum yaitu apabila terdapat asap, percikan api serta
berubahnya temperatur sekitar menjadi panas maka alarm fire detector akan berbunyi dan
hal tersebut akan membuat ABK tahu dimana letak terjadinya kebakaran.
Tiga hal yang membuat alarm dari fire detector berbunyi yaitu :
1. Asap (Smoke detector)
2. Percikan api yang sangat banyak (Flame detector)
3. Perubahan temperatur sekitar menjadi sangat panas.(Heat detector)
i.                    Smoke detector
Pendeteksi asap atau yang biasa disebut Smoke detector terdiri dari dua bilik
ionisasi yaitu satu bilik terbuka untuk atmosfer atau udara bebas masuk dan satu bilik
tertutup. Satu bilik terbuka digunakan sebagai tempat masuknya atau pendeteksi awal
adanya asap yang berasal dari api atau kebakaran. Sedangkan satu bilik tertutup
digunakan sebagai tempat penghubung atau pemberi sinyal agar alarm detector berbunyi
sebagai tanda adanya asap atau kebakaran. Smoke detector biasanya digunakan di ruang
mesin, ruang akomodasi, dan ruang kargo.

ii.                  Flame detector
Pendeteksi nyala api atau yang biasa disebut Flame detector memiliki sifat yang
berlawanan dengan Smoke detector. Flame detector biasanya digunakan untuk menjaga
serta mencegah terjadinya bahaya akibat adanya percikan api. Flame detector menangkap
sinar ultraviolet dan infrared yang berasal dari adanya percikan api yang ada di sekitarnya.
Flame detector biasanya terdapat pada ruang peralatan kendali bahan bakar yang terdapat
di kamar mesin.

iii.                Heat detector
Pendeteksi panas atau yang biasa disebut Heat detector dapat digunakan pada
sejumlah bagian-bagian penting yang berhubungan dengan bagian pengoperasian kapal.
Detector yang paling banyak digunakan untuk saat ini adalah Detector untuk pengaturan
temperatur naik atau rata-rata dari kenaikan temperatur pada suatu waktu. Jadi, apabila di
lingkungan sekitar terjadi kenaikan temperatur yang melebihi batas yang telah ditentukan,
maka alarm dari detector tersebut akan berbunyi. Heat detector biasanya terdapat pada
dapur dan tempat pengeringan dimana detector tipe lainnya akan kurang tepat bila
diletakkan di tempat-tempat tersebut.
b. Alarm
Sistem alarm berhubungan dengan fire detector yang terhubung dengan sirkuit-
sirkuit elektrik yang dapat membunyikan bel yang terdapat pada alarm hanya dengan
menggunakan sinyal elektrik. Bel ini akan berbunyi di kamar mesin apabila terdapat
sumber api atau terjadi kebakaran disana. Kebakaran yang terdapat di ruangan lain akan
menyebabkan bel di sekitar anjungan kapal akan berbunyi. Adanya alarm akan
mempermudah ABK pada kapal untuk melakukan sesuatu untuk menanggulangi adanya
kebakaran tersebut.

Gambar 1. Alarm
 
c. Control 
Ada dua peralatan dasar yang tersedia di kapal untuk mengontrol atau
menanggulangi kebakaran yaitu Small portable extinguishers dan Large fixed
installations. Small portable extinguishers merupakan tabung pemadam kebakaran yang
berukuran kecil, yang dapat dibawa kemana-mana serta mampu memadamkan api secara
cepat dan tepat. Sedangkan Large fixed installations digunakan ketika Small portable
extinguishers tidak dapat mengatasi kebakaran yang terjadi, dengan kata lain Large fixed
installations digunakan untuk memadamkan kebakaran yang sangat parah atau sangat
berbahaya. Ada berbagai macam portable dan fixed fire fighting yang akan dibahas
selanjutnya.
Kebakaran yang mungkin terjadi pada kapal digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian besar
beserta penanggulangannya, yaitu sebagai berikut :

1. Kebakaran material yang terjadi pada ruang muat (cargo tank) dapat dipadamkan
dengan menggunakan air laut dan foam
2. Kebakaran yang terjadi pada kamar mesin terutama yang disebab oleh minyak
dapat dipadamkan dengan menggunakan foam
3. Kebakaran yang disebabkan oleh hubungan pendek arus listrik biasanya terjadi
pada ruang kemudi (Wheel house) dan di engine control room, dapat dipadamkan
dengan menggunakan portable extinguisher dan CO2
Secara umum sistem pemadam kebakaran dikapal minimal harus tersusun atas beberapa
sistem yang disesuaikan dengan jenis kebakaran yang mungkin terjadi

Foam Fire Fighting system

Merupakan system pemadam kebakaran yang memanfaatkan ketebalan lapisan


campuran foamkering dan air laut (busa) untuk menutupi (mengisolasi) permukaan
material yang terbakar api dari udaradan sekaligus mendinginkannya, secara umum
digunakan di kamar mesin. Foam tersedia sepanjang waktudan kecil kemungkinannya
untuk terbakar. Foam ini terbuat dari campuran antara dry powder foam dan airlaut yang
direaksikan pada compound tank, yang hasilnya di busakan pada proporsioner (ejector).

Gambar Sistem fire main


Sistem bahan bakar adalah sistem yang digunakan untuk mensupply bahan bakar yang
diperlukan motor induk. Pada umumnya :

1. Mesin diesel kecepatan rendah dapat beropersi dengan hampir setiap bahan bakar
cair dari minyak tanah ( kerosine ) sampai minyak bunker.
2. Mesin diesel kecepatan tinggi modern, karena singkatnya selang waktu yang
tersedia untuk pembakaran pada setiap daur memerlukan minyak bakar yang lebih
khusus dan lebih ringan.

Dalam dunia Perkapalan Maritime Klasifikasi Bahan Bakar Sebagai Berikut

1. MGO (Marine gasoil) 4. MFO (Medium fuel oil


2. MDO (Marine diesel oil) 5. HFO (Heavy fuel oil)
3. IFO (Intermediate fuel oil)

Sifat bahan bakar


Sifat berikut yang mempengaruhi prestasi dan keandalan dari suatu mesin diesel :

1. Penguapan 5. Abu
2. Residu karbon 6. Air dan endapan
3. Viskositas 7. Titik nyala, dan
4. Kandungan blerang 8. Mutu pelayanan
PERALATAN PEMADAM KEBARAKAN
i.                    Portable extinguishers
Ada empat macam portable extinguishers yang biasanya digunakan di kapal yaitu
Soda-acid (Asam-soda), foam (busa), dry powder (bubuk kering), dan carbon dioxide
extinguishers (gas karbon dioksida.)

Gambar 2. Portable fifi


a.       Soda-acid extinguishers (Pemadam kebakaran menggunakan asam soda)
Isi dari tabung pemadam kebakaran ini adalah berupa larutan sodium bikarbonat.
Mekanisme penghisap digunakan pada penggunaan pemadam kebakaran yang berjenis
soda-acid sehingga ketika alat penghisap yang terbuat dari kaca dipecahkan, maka asam
dan sodium bikarbonat tercampur. Hasil reaksi kimia yang terjadi menghasilkan gas
karbon dioksida yang bertekanan tinggi sehingga cairan akan terdesak keluar melewati
internal pipe dan menuju nozzle. Alat ini banyak ditemukan di ruang akomodasi
b.      Foam extinguishers (Pemadam kebakaran menggunakan soda)
Terdiri dari dua macam yaitu :
i.                    Foam extinguishers-chemical
Isi dari pemadam kebakaran jenis ini adalah campuran dari cairan sodium
bikarbonat dan alumunium sulfat. Tabung yang berada paling dalam diselimuti oleh
penutup atau cap yang terhubung dengan pipa penghisap. Ketika pipa penghisap terbuka,
maka cap tersebut akan lepas. Kemudian alat ini akan mencampurkan dua macam cairan
yang ada didalamnya. Gas karbon dioksida dihasilkan oleh reaksi yang berasal dari
tekanan tinggi dari tabung dan akan mendesak busa keluar dari tabung.
ii.                  Foam extinguishers-mechanical
Di bagian terluar dari tabung ini berisi air. Pada tabung sentral terdapat gas
karbon dioksida dan cairan busa. Mekanisme pendesak atau pendorong terdapat diatas
tabung pusat. Ketika diberi tekanan yang tinggi, karbon dioksida dikeluarkan dan cairan
busa akan tercampur dengan air. Kemudian keduanya akan ditekan keluar melewati
nozzle khusus. Pemadam jenis ini memiliki pipa internal dan dioperasikan di bagian atas.
Alat ini banyak ditempatkan di sekitar tempat-tempat yang mengandung atau terdapat
cairan-cairan yang mudah terbakar.

Gambar 3. foam extinguisher


c.       Dry powder (Pemadam kebakaran menggunakan bubuk kering)
Pada bagian tabung lapis terluar berisikan dengan bubuk sodium bikarbonat.
Kapsul yang berisikan gas karbon dioksida berada di bawah mekanisme peghisap yang
ada di central cap. Ketika penghisap ditekan, gas karbon dioksida akan mendorong bubuk
sodium melalui pipa dan keluar melalui nozzle. Pemadam kebakaran jenis ini dapat
digunakan di berbagai macam penyebab kebakaran akan tetapi ini tidak memberikan efek
pendingin. Alat ini biasanya berada di dekat peralatan listrik yang berada di kamar mesin
dan di beberapa bagian dari kapal.

d.      Carbon dioxide extinguishers (Pemadam kebakaran menggunakan CO2)


Tabung pelapis yang sangat kuat digunakan untuk menyimpan cairan karbon
dioksida bertekanan rendah. Pipa utama berfungsi sebagai tempat atau jalan keluarnya
karbon dioksida yang ditekan oleh alat penghisap sehingga katup akan terbuka oleh
karena ditekannya pelatuk. Cairan tersebut akan berubah menjadi gas yang akan keluar
dari tabung pemadam ini yang kemudian akan melewati pipa dan akan tertampung di
horn. Apabila pelatuk pada horn dibuka, maka gas karbon dioksida tadi akan keluar. Alat
ini banyak terdapat di kamar mesin dan tempat perlengkapan serta peralatan elektrik. Alat
ini tidak diperbolehkan berada di ruang akomodasi serta di ruang perbatasan karena hal
tersebut bisa membahayakan ABK dan awak penumpang lainnya yang mungkin bisa
menyebabkan kematian.

Gambar 4. pemadam bubuk kering

ii.                    Fixed Installations
Ada beberapa perbedaan antara fixed fire fighting installation dan portable
extinguishers, diantaranya adalah desain pengkhususan untuk beberapa tipe kapal.
Pembagian instalasi pemadam kebakaran akan dibahas pada sub bab di bawah ini.
a.       Fire main
Sistem pemasukan air laut ke dalam pipa pemadam kebakaran ditempatkan pada
setiap kapal. Beberapa pompa pada kamar mesin akan disusun atau ditata untuk
membantu memasukan air ke dalam sistem tersebut. Mulai dari jumlahnya, kapasitas yang
diperbolehkan, semuanya diatur oleh badan perundang-undangan (Department of
Transport for UK registered vessels). Pompa darurat yang digunakan untuk memadamkan
api juga ditempatkan di kamar mesin. Pada tiap sistem pengeluaran pemadam kebakaran
terdapat katup-katup yang terisolasi yang berada disekeliling kapal dan pipa air dengan
tepat akan mengunci penghubung yang ditempatkan berdekatan dengan nozzle. Hampir di
seluruh area kerja diatas kapal sedemikian hingga tertutup dan pasokan air laut dapat
dibawa untuk digunakan sebagai pemadaman api pada tiap titik di bagian kapal.
Nozzle jet atau spray akan disetel untuk menyediakan penyemprot air yang dapat
digunakan untuk melawan api serta mendinginkannya tanpa harus disemprotkan.
b.      Automatic water spray
Penyemprot otomatis atau biasa disebut dengan sistem penyembur menyediakan
hubungan dari kepala penyemprot yang melewati daerah yang terlindungi. Sistem ini
mungkin digunakan di ruang akomodasi dan di kamar mesin dengan berbagai macam
variasi yang berdasarkan kegunaan dari peralatan tersebut serta metode atau cara
pengoperasiannya.
Ruang akomodasi diberi alat ini yang mampu melakukan deteksi sekaligus
memadamkan api. Di bagian kepala pada alat ini ditutupi oleh semacam kaca / bola lampu
yang isinya berupa cairan yang bisa mengembang secara cepat saat terkena panas. Ketika
panas membuat cairan tadi berkembang, maka penutup kaca tadi akan pecah yang
kemudian akan keluarlah air dari alat tersebut yang berasal dari sistem penyembur yang
berisikan air laut. Air laut tadi ditampung di tangki air yang diberi tekanan udara yang
cukup tinggi. Sistem penyembur ini terus diisi oleh air yang segar untuk mengurangi
adanya efek korosi.

Gambar 5. Automatic water spray


c.       Foam systems
Sistem penyemprot busa atau biasa disebut Foam spreading systems dibuat agar
cocok dengan sistem kebutuhan yang ada di kapal dengan memperhatikan jumlah busa
yang dibutuhkan, area yang harus dicakup, dll. Mechanical foam atau busa mekanik
merupakan semacam zat kimia yang terbentuk dengan cara mencampurkan busa yang
terbuat dari cairan dalam jumlah yang besar. Pencampuran yang terjadi di udara akan
menimbulkan gelembung-gelembung udara yang akan berbentuk busa nantinya.  
Pada sistem ini, pencampuran air dan busa yang dilakukan dalam ruangan atau
tempat tertutup yang kemudian busa hasil pencampuran dengan air tadi akan disalurkan
ke tabung pemadam kebakaran agar bisa digunakan. Tangki penampung busa dilindungi
oleh penutup agar isi didalamnya terlindung dari keadaan lingkungan luar yang buruk.
Untuk mengoperasikan sistem ini yaitu dengan membuka dua katup yang saling
terhubung dan pompa pemadam akan hidup. Pencampuran busa ini diukur dengan baik
oleh automatic inductor unit. Pompa pemadam dan tangki penampung tadi harus terletak
diluar dari ruangan yang terlindungi atau tercover tadi.
d.      Carbon dioxide flooding
Sistem ini digunakan untuk memindahkan oksigen yang berada di area
perlindungan yang kemudian akan dilakukan pemadaman api. Gas karbon dioksida
disimpan sebagai cairan dengan tekanan rendah yang berada didalam silinder. Volume
ruangan yang akan dilindungi menentukan banyaknya tabung silinder yang dibutuhkan
dalam ruangan tersebut. Secara umum, alat ini digunakan untuk melindungi ruang kargo
dan kamar mesin.
Sistem pada ruang kargo secara normal disusun untuk tempat mendeteksi asap,
alarm, dan pengaliran karbon dioksida. Pipa kecil untuk saluran udara yang berasal dari
ruang kargo akan diarahkan menuju kamar-kamar. Udara didapatkan dari beberapa bagian
dari kipas-kipas kecil dan tiap pipa digunakan untuk saluran dari udara tadi. Apabila asap
masuk kedalam ruangan yang terdapat saluran udara tadi, maka alarm akan mati.
Lokasi kebakaran dapat diketahui di anjungan kapal dan katup ruang distribusi
yang dioperasikan pada bagian anjungan kapal. Katup ini akan mematikan pipa udara dari
anjungan dan membuka karbon dioksida yang dijalankan oleh suatu sistem yang
menggunakan baterai.
Sistem pada kamar mesin dibuat agar dapat memberhentikan sumber daya pada
sistem yang ada. Sebelum gas dibuang, ruangan harus dalam keadaan kosong dari ABK
dan tidak diisi oleh udara (kedap udara). Katup penutup di tempatkan pada penutup udara
di tiap ruangan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sistem bilga ini menampung berbagai zat cair tersebut kedalam sebuah tempat
yang dinamakan dengan bilge well, kemudian zat cair tersebut dihisap dengan
menggunakan pompa bilga dengan ukuran tertentu untuk dikeluarkan dari kapal melalui
Overboard yang tingginya 0,76 meter diatas garis air. Sedangkan zat cair yang
mengandung minyak, yaitu yang tercecer didalam Engine room akan ditampung didalam
Bilge Well yang terletak dibawah Main Engine, kemudian akan disalurkan menuju
Incinerator dan Oily Water Separator untuk dipisahkan antara air, kotoran dan minyaknya.
Untuk minyaknya dapat digunakan lagi sedangkan untuk air dan kotoran yang tercampur
akan dikeluarkan melalui Overboard.

Sistem Ballast merupakan system yang digunakan untuk menjaga keseimbangan


(stabilitas) kapal apabila terjadi trim atau list (oleng) terutama pada saat bongkar muat
dipelabuhan.

Sistem pemadam kebakaran digunakan untuk mengatasi, mencegah dan


menghentikan terjadinya kebakaran yang terjadi pada kapal, secara keseluruhan maupun
per bagian. Kebakaran menjadi salah satu bahan pertimbangan yang penting dan tidak
bisa diabaikan begitu saja, karena menyangkut keselamatam awak, muatan dan
kelangsungan kapal itu sendiri

3.2 Saran

Demikian makalah saya . Semoga dimasa yang depan makalah ini dapat memberikan
manfaat. Saya menyadari bahwa makalah ini tidak sempurna sehingga apabila terjadi
kesalahan dalam penulisan dan penyusunan makalah ini saya mohon maaf. Kritikan dan
saran untuk sangat saya harapkan agar makalah ini menjadi lebih baik
LAMPIRAN GAMBAR PAS KUNJUNGAN GALANGAN JMI II
KAMAR MESIN KAPAL “KMP SHAFIRA”
DAFTAR PUSTAKA

http://maritim-engineering.blogspot.com/2013/06/sistem-pemadam-kebakaran.html

https://www.academia.edu/12216635/Presentasi_Sistem_Ballast_Kapal_Sys
tem_Ballast_in_Ship_

https://www.academia.edu/36405845/SISTEM_BILGA.pptx