Anda di halaman 1dari 5

Prinsip Pertama

Mengikhlaskan agama atau memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, menyembah hanya untuk
Allah, dan niat hanya untuk Allah.

Ikhlas dan tauhid

Manusia tidak memilih hak untuk menyembah selain kepada Allah. Karena kalau kita tidak menyembah
selain Allah, maka dia tidak memenuhi hak Allah.

Hak kita sebagai hamba adalah, Allah tidak akan mengazab hamba yang tidak menyekutukannya.

Allah bisa memahamkan seseorang dengan agama sekalipun dia bodoh asalkan dia mau belajar.

Annisa 48 dan 116

Al baqarah 213

Allah SWT berfirman:

ِّ ‫ب بِا ْل َحـ‬ ‫كَا نَ النَّا سُ اُمةً وَّا ح َدةً ۗ فَبع َ هّٰللا‬


‫اختَلَفَ فِ ْي ِه اِاَّل‬ َ  ‫اختَلَفُوْ ا فِ ْي ِه‬
ْ ‫ۗ و َما‬ ْ ‫س فِ ْي َما‬
ِ ‫ق لِيَحْ ُك َم بَ ْينَ النَّا‬ َ ‫ۖ واَ ْنزَ َل َم َعهُ ُم ْال ِك ٰت‬
َ   َ‫ث ُ النَّبِ ٖيّنَ ُمبَ ِّش ِر ْينَ َو ُم ْن ِذ ِر ْين‬ ََ ِ َّ
ٰ ‫هّٰلل‬ ْ ْ ُ َ ْ ُ ٰ َّ ‫هّٰللا‬ َ ۢ ْ ُ ٰ ْ ْ ۢ
ِّ ‫الَّ ِذ ْينَ اُوْ تُوْ هُ ِم ْن بَ ْع ِد َما َجٓا َءتهُ ُم البَيِّنت بَغيًا بَ ْينَهُ ْم ۚ فهَدَى ُ ال ِذ ْينَ ا َمنوْ ا لِ َما اختَلفوْ ا فِ ْي ِه ِمنَ ال َحـ‬
‫ص َرا ٍط‬ ِ ‫ق بِاِ ذنِ ٖه ۗ  َوا ُ يَ ْه ِديْ َم ْن يَّشَٓا ُء اِلى‬
‫ُّم ْستَقِي ٍْم‬

"Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar
gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran,
untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang
berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada
mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi
petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi
petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 213)

Allah SWT berfirman:

‫ض فَا‬ ٰ ْ َّ‫َولَـقَ ْد بَ َع ْثنَا فِ ْي ُك ِّل اُ َّم ٍة َّرسُوْ اًل اَ ِن ا ْعبُدُوا هّٰللا َ َوا جْ تَنِبُوا الطَّا ُغوْ تَ  ۚ فَ ِم ْنهُ ْم َّم ْن هَدَى هّٰللا ُ َو ِم ْنهُ ْم َّم ْن َحق‬
ِ ْ‫ت َعلَ ْي ِه الضَّللَةُ ۗ فَ ِس ْيرُوْ ا فِ ْي ااْل َ ر‬
َ‫ْنظُرُوْ ا َك ْيفَ كَا نَ عَا قِبَةُ ْال ُم َك ِّذبِ ْين‬

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah
Allah, dan jauhilah Tagut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula
yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di Bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang yang mendustakan (rasul-rasul)."

(QS. An-Nahl 16: Ayat 36)

Allah SWT berfirman:


‫ق َونَ ْسرًا‬ َ ْ‫ ۚ  َو قَا لُوْ ا اَل تَ َذر َُّن ٰالِهَتَ ُك ْم َواَل تَ َذر َُّن َو ًّدا َّواَل ُس َوا عًا ۙ  َّو اَل يَ ُغو‬
َ ْ‫ث َويَعُو‬

"Dan mereka berkata, Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan
jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yagus, Ya'uq,
dan Nasr."

(QS. Nuh 71: Ayat 23)

Kesyirikan dan kebid'ahan adalah sumber perpecahan umat. Syirik itu adalah sesuatu yang baru.

Syaih shalih fauzan, syirik akbar : menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang khusus
bagi allah. Apa saja yang tiga tersebut : Rububiyah,Uluhiyah, dan asma wa sifat.

Syirik rububiyah : penciptaan : meyakini ada pencipta selain Allah, percaya pada penjaga pantai, gunung,
dll

Syirik uluhiyah : ibadah selain kepada Allah :

Syirik asma wa sifat : contoh menamakan Allah dengan bapa, meyakini ada mahluk yang mengetahui
perkara ghaib

Syirik ashgar adalah setiap jalan yang menjerumuskan kepada syirik besar.

Perbedaan syirik besar dan kecil

1. Menyebabkan seseorang murtad

2. Seluruh amalannya terhapus

3. Menyebabkan pelakunya kekal di neraka

4. Syirik besar tidak diampuni oleh Allah

Dosa syirik kecil adalah dosa yang besar

Allah SWT berfirman:

‫هّٰللا‬
َ َ‫س ِم ْن ُدوْ ِن ِ َو َزيَّنَ لَهُ ُم ال َّشي ْٰطنُ اَ ْع َما لَهُ ْم ف‬
َ‫ص َّدهُ ْم َع ِن ال َّسبِي ِْل فَهُ ْم اَل يَ ْهتَ ُدوْ ن‬ ِ ‫ ۙ  َو َج ْدتُّهَا َوقَوْ َمهَا يَ ْس ُج ُدوْ نَ لِل َّش ْم‬

wajattuhaa wa qoumahaa yasjuduuna lisy-syamsi min duunillaahi wa zayyana lahumusy-syaithoonu


a'maalahum fa shoddahum 'anis-sabiili fa hum laa yahtaduun

"Aku (burung Hud-hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan
telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga
menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk,"
(QS. An-Naml 27: Ayat 24)

Maka manusia menganggap kesyirikan sebagai suatu kebaikan karena sudah dihiasi oleh setan.

Al Kahfi 103-104

23 Februari 2020

Prinsip Kedua

Allah SWT berfirman:

ّ ٰ ‫ق بِ ُك ْم ع َْن َسبِ ْيلِ ٖه  ٰۗ ذ لِ ُك ْم َو‬


َ‫صٮ ُك ْم بِ ٖه لَ َعلَّ ُك ْم تَتَّقُوْ ن‬ َ ‫ۚ واَل تَتَّبِعُوْ ا ال ُّسبُ َل فَتَفَ َّر‬ ِ ‫َواَ َّن ٰه َذا‬
َ  ُ‫ص َرا ِط ْي ُم ْستَقِ ْي ًما فَا تَّبِعُوْ ه‬

"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang
akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu
bertakwa."

(QS. Al-An'am 6: Ayat 153)

Jalan jalan yang lain dimaksud adalah bid'ah dan syubhat. Bid'ah menyebabkan umat islam berkelompok
kelompok.

Syubhat : pemahaman pemahaman yang bertentangan dengan manhaj para sahabat. Mereka yang
menggunakan dalil untuk menyesatkan manusia.

Allah SWT berfirman:

‫ت ۗ فَا َ َّما الَّ ِذ ْينَ فِ ْي قُلُوْ بِ ِه ْم َز ْي ٌغ فَيَتَّبِعُوْ نَ َما تَشَا بَهَ ِم ْنهُ ا ْبتِغَٓا َء ْالفِ ْتنَ ِة َوا‬ ٌ ‫ب َواُ خَ ُر ُمت َٰشبِ ٰه‬ِ ‫ت ه َُّن اُ ُّم ْال ِك ٰت‬
‫ت ُّمحْ َكمٰ ٌـ‬ ٌ ‫ب ِم ْنهُ ٰا ٰي‬ َ ‫ه َُو الَّ ِذ ۤيْ اَ ْنزَ َل َعلَ ْيكَ ْال ِك ٰت‬
‫هّٰللا‬ ۤ
ِ ‫ۘ و ال ٰ ّر ِس ُخوْ نَ فِى ْال ِع ْل ِم يَقُوْ لُوْ نَ ٰا َمنَّا بِ ٖه ۙ  ُك ٌّل ِّم ْن ِع ْن ِد َربِّنَا ۚ  َو َما يَ َّذ َّك ُر اِاَّل ۤ اُولُوا ااْل َ ْلبَا‬
‫ب‬ َ  ُ ‫ْبتِغَٓا َء تَأْ ِو ْيلِ ٖه ۚ  َو َما يَ ْعلَ ُم تَأْ ِو ْيلَهٗ اِاَّل‬

"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang
muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang
dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari
fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.
Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari
sisi Tuhan kami. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal."

(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 7)

Imam ibnu katsir ketika menafsirkan ayat ini,

Allah SWT berfirman:

َ ِ‫ولٓئ‬
ِ ‫ك لَهُ ْم َع َذا بٌ ع‬
‫َظ ْي ٌم‬ ُ ‫ ۙ  َواَل تَ ُكوْ نُوْ ا كَا لَّ ِذ ْينَ تَفَ َّرقُوْ ا َوا ْختَلَفُوْ ا ِم ۢ ْن بَ ْع ِد َما َجٓا َءهُ ُم ْالبَي ِّٰن‬
ٰ ُ‫ت ۗ  َوا‬
"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai
kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat,"

(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 105)

Ayat ini menegaskan tidak boleh bercerai berai dalam hal agama. Berpecah belah dalam hal agama
adalah ciri ciri orang kafir.

Allah SWT berfirman:

َ‫َي ٍء ۗ اِنَّ َم ۤا اَ ْم ُرهُ ْم اِلَى هّٰللا ِ ثُ َّم يُنَـبِّـئُـهُ ْم بِ َما كَا نُوْ ا يَ ْف َعلُوْ ن‬
ْ ‫اِ َّن الَّ ِذ ْينَ فَ َّرقُوْ ا ِد ْينَهُ ْم َوكَا نُوْ ا ِشيَـعًا لَّسْتَ ِم ْنهُ ْم فِ ْي ش‬

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam
golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya
urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang
telah mereka perbuat."

(QS. Al-An'am 6: Ayat 159)

Allah SWT berfirman:

ۤ َّ ‫صى بِ ٖه نُوْ حًا وَّا لَّ ِذ ۤيْ اَوْ َح ْين َۤا اِلَ ْيكَ َو َما َو‬
ّ ٰ ‫ش ََر َع لَـ ُك ْم ِّمنَ ال ِّدي ِْن َما َو‬
‫ُـر َعلَى‬ َ ‫ص ْينَا بِ ٖۤه اِب ْٰر ِه ْي َم َو ُموْ ٰسى َو ِعي ْٰسى اَ ْن اَقِ ْي ُموا ال ِّد ْينَ َو اَل تَتَفَ َّرقُوْ ا فِ ْي ِه ۗ  َكب‬
ۤ ۤ ‫هّٰللَا‬ ْ
ُ‫ال ُم ْش ِر ِك ْينَ َما تَ ْد ُعوْ هُ ْم اِلَ ْي ِه ۗ  ُ يَجْ تَبِ ْي اِلَ ْي ِه َم ْن يَّشَٓا ُء َويَ ْه ِديْ اِلَ ْي ِه َم ْن يُّنِيْب‬

syaro'a lakum minad-diini maa washshoo bihii nuuhaw wallaziii auhainaaa ilaika wa maa washshoinaa
bihiii ibroohiima wa muusaa wa 'iisaaa an aqiimud-diina wa laa tatafarroquu fiih, kaburo 'alal-
musyrikiina maa tad'uuhum ilaiih, allohu yajtabiii ilaihi may yasyaaa`u wa yahdiii ilaihi may yuniib

"Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa
yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim,
Musa, dan 'Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-
belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan
kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk
kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)."

(QS. Asy-Syura 42: Ayat 13)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

1. Perpecahan itu kufur terhadap nikmat allah

2. Ancaman azab yang besar


3. Menjadi kalah dan lemah dihadapan musuh islam

4. Keluar dari golongan nabi muhammad

5. Perpecahan itu adalah pertentangan terhadapa ajaran seluruh rasul

Yang merusak persatuan ada dua.

1. Memecah belah dalam agama dengan syubhat dan bid'ah

2. Memecah dalam ukhuwah antar sesama muslim

Yang menjaga persatuan ada dua :

1. Berpegang pada aqidah yang lurus

2. Berahlak baik ke sesama muslim

Masalah masalah agama yang boleh kita berbeda pendapat.

1. Masing masing punya dalil (tanawuk)

Allah SWT berfirman:


‫هّٰلل‬ ‫هّٰللا‬ ‫هّٰللا‬ ۤ
ْ ‫ٰيـاَيُّهَا الَّ ِذ ْينَ ٰا َمنُ ۤوْ ا اَ ِطيْـعُوا َ َواَ ِطيْـعُوا ال َّرسُوْ َل َواُ ولِى ااْل َ ْم ِر ِم ْن ُك ْم ۚ فَاِ ْن تَنَا زَ ْعتُ ْم فِ ْي ش‬
ِ ‫َي ٍء فَ ُر ُّدوْ هُ اِلَى ِ َوا ل َّرسُوْ ِل اِ ْن ُك ْنـتُ ْم تُ ْؤ ِمنُوْ نَ بِا‬
‫ك َخ ْي ٌر َّواَحْ َسنُ تَأْ ِو ْياًل‬
َ ِ‫َوا ْليَـوْ ِم ااْل ٰ ِخ ِر  ٰۗ ذل‬

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri
(pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)

2. Perbedaan yang boleh toleransi dan tidak boleh untuk bertoleransi.

Perbedaan pendapat yang berasal dari ijtihadiah.

3. Tidak boleh toleransi dengan perbedaan pendapat dengan kaum khawarij dan syiah.

Menyelisihi ushul aqidah ahlussunnah.