Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

INOVASI PENDIDIKAN

Kelompok 6 :
Nurrahmadani A. 1916041007
Anisyah Rahmaniah Nasra 1916041013
Hariani 1916042005
Nabilah Qatrunada 1916042009
Deviani L 1916042023
Muhammad Akbar 1916042025

MATA KULIAH :
PENGANTAR PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Tiada kata yang pantas dan patut penulis ucapkan, selain memanjatkan puji
dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan kasih-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini dengan judul “ Inovasi
Pendidikan ”.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini,
untuk itu kami mengharapkan saran dan masukan untuk perbaikan. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat baik bagi kami maupun para pembaca.
Wasalamu’alaikum Wr.Wb

Makasssar, mei 2020

Kelompok 6

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................................ii
BAB I......................................................................................................................................1
PENDAHULUAN..................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................3
BAB II.....................................................................................................................................4
PEMBAHASAN.....................................................................................................................4
2.1 Pengertian dan Haikkat Inovasi Pendidikan.............................................................4
2.2 Prinsip-Prinsip Inovasi Pendidikan............................................................................4
2.3 Arah Inovasi Pendidikan.............................................................................................5
2.4 Masalah yang Menuntut Inovasi.................................................................................6
2.5 Tujuan Inovasi Pendidikan.........................................................................................7
2.6 Sasaran Inovasi Pendidikan........................................................................................9
2.7 Bentuk-bentuk Inovasi Pendidikan..........................................................................10
2.8 Contoh Inovasi Pendidikan.......................................................................................12
2.9 Contoh Kebijakan Inovasi Pendidikan.....................................................................14
BAB III.................................................................................................................................21
PENUTUP............................................................................................................................21
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................22

ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pesatnya perkembangan lingkungan lokal, regional, dan internasional saat
ini berimplikasi terhadap penanganan penyelenggaraan pendidikan pada setiap
jenjang pendidikan yang ada. Berkaitan dengan perkembangan tersebut, kebutuhan
untuk memenuhi tuntutan meningkatkan mutu pendidikan sangat mendesak,
terutama dengan ketatnya kompetitif antarbangsa di dunia dalam saat ini
(Rusdiana, 2014).

Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat dalam berbagai aspek


kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan, merupakan suatu upaya untuk
menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan
memperkenalkan pembaharuan-pembaharuan yang cenderung mengejar efisiensi
dan efektivitas.

Pembaharuan mengiringi perputaran zaman yang tak henti-hentinya


berputar sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan. Kebutuhan akan
layanan individual terhadap peserta didik dan perbaikan kesempatan belajar bagi
mereka, telah menjadi pendorong utama timbulnya pembaharuan pendidikan. Oleh
karena itu, lembaga pendidikan harus mampu mengantisipasi perkembangan
tersebut dengan terus menerus mengupayakan suatu program yang sesuai dengan
perkembangan anak, perkembangan zaman, situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta
didik.

Keberhasilan pembaharuan pendidikan sesungguhnya sangat tergantung


pada apa yang guru perbuat dan pikirkan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Fullan
(1991:344) yang menyatakan: “improvements in schools will not occur without

1
changes in the qualities of learning experiences on the part of those who run the
schools”. Pembelajaran dan pendidikan di sekolah menjadi efektif jika orang yang
diminta untuk menjadi guru adalah orang yang berkualitas dan sekolah
diorganisasi untuk menstimulasi dan menghargai setiap pelaksanaan
pembaharuan (Zakso, 2010).

Jika pembaharuan pendidikan harus dilaksanakan, maka pembaharuan


tersebut menghendaki agar para guru memahami diri mereka sendiri dan
dipahami oleh yang lain. Selain itu, kita juga harus memahami aturan-aturan
yang berlaku di dunia pendidikan.
Dalam pembaharuan pendidikan, faktor siswa juga menjadi sesuatu
yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Dalam kaitan dengan siswa
ini, perlu dinamika komitmen guru dan siswa agar pendidikan sukses. Proses
dan tahapan pembaharuan itu ada kaitannya dengan masalah pengembangan
(development), penyebaran (diffusion), diseminasi (dissemination), perencanaan
(planning), adopsi (adoption), penerapan (implementation) dan evaluasi
(evaluation) (Subandiyah 1992:77).

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis uraikan, maka


penulis merasa tertarik untuk mengangkat masalah tersebut menjadi judul makalah
yaitu: “Inovasi Pendidikan”. Dalam penulisan ini diharapkan dapat
mendeskripsikan bagaimana inovasi pendidikan sains agar mampu menyesuaikan
pendidikan dengan perkembangan jaman.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan inovasi pendidikan?


2. Apa saja prinsip-prinsip inovasi pendidikan ?
3. Apa saja arah dari inovasi pendidikan?
4. Apa saja yang menjadi masalah yang menuntut inovasi?

2
5. Apa tujuan dari inovasi pendidikan ?
6. Apa saja yang menjadi sasaran dari inovasi pendidikan?
7. Apa saja bentuk-bentuk dari inovasi pendidikan?
8. Apa saja contoh dari inovasi pendidikan?
9. Apa saja contoh kebijakan inovasi pendidikan?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui definisi dari inovasi pendidikan


2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip inovasi pendiikan
3. Untuk mengetahui arah dari inovasi pendidikan
4. Untuk mengetahui masalah yang menuntut inovasi
5. Untuk mengetahui tujuan pendidikan.
6. Untuk mengetahui sasaran inovasi pendidikan
7. Untuk mengetahui bentuk-bentuk dari inovasi pendidikan
8. Untuk mengetahui contoh inovasi pendidikan
9. Untuk mengetahui contoh kebijakan inovasi pendidikan.

3
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Haikkat Inovasi Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inovasi diartikan pemasukan
atau pengenalan hal-hal ang baru: penemuan baru yang berbeda dari yang sudah
ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik menyangkut gagasan, metode, atau
alat (2001:333).
Inovasi pendidikan disini dimaksudkan adalah suatu perubahan yang baru
dan bersifat kualitatif, berbeda dengan (hal yang ada) sebelumnya serta sengaja
diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu
dalam pendidikan (Suryobroto, 1990: 127)
Yang dimaksud kata “baru” dalam pengertian tersebut adalah apa saja
yang belum dipahami, diterima, atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi
meskipun mungkin bukan merupakan hal yang baru lagi bagi orang lain.
Sementara itu , maksud kata “kualitatif” adalah bahwa inovasi tersebut
diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai
tujuan tertentu dalam pendidikan (Suryobroto, 1990: 127)
Yang dimaksud kata “baru” dalam pengertian tersebut
adalah apa saja yang belum dipahami, diterima, atau
dilaksanakan oleh si penerima inovasi meskipun mungkin bukan
merupakan hal yang baru lagi bagi orang lain. Sementara itu ,
maksud kata “kualitatif” adalah bahwa inovasi tersebut
memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali
unsur-unsur dalam pendidikan. Jadi dalam hal ini bukan semata-
mata penambahan atau penjumlahan dari unsur-unsur
komponen yang ada sebelumnya.

4
2.2 Prinsip-Prinsip Inovasi Pendidikan
Peter M. Drucker dalam bukunya Innovation and Enterpreneurship
(Tilaar 1999: 356), mengemukakan bahwa beberapa prinsip inovasi adalah
sebagai berikut :
a) Inovasi memerlukan analisis berbagai kesempatan dan kemungkinan yang
terbuka.
Artinya, inovasi hanya dapat terjadi apabila mempunyai kemampuan
analisis.
b) Inovasi bersifat konseptual dan perseptual.
Artinya yang bermula dari keinginan untuk menciptakan sesuatu yang
baru yang dapat diterima masyarakat.
c) Inovasi harus dimulai dengan yang kecil.
Tidak semua inovasi dimulai dengan ide-ide besar yang tidak
terjangkau oleh kehidupan nyata manusia. Keinginan yang kecil untuk
memperbaiki suatu kondisi atau kebutuhan hidup ternyata kelak mempunyai
pengaruh yang sangat luas terhadap kehidupan manusia selanjutnya.
d) Inovasi diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan.
Inovasi selalu diarahkan bahwa hasilnya akan menjadi pelopor dari
suatu perubahan yang diperlukan. Apabila tidak demikian maka intensi suatu
inovasi kurang jelas dan tidak memperoleh apresiasi dalam masyarakat.

2.3 Arah Inovasi Pendidikan


1. Invention (Penemuan).
Invention meliputi penemuan/penciptaan tentang suatu hal yang baru.
Invention merupakan adaptasi dari hal-hal yang telah ada. Akan tetapi,
pembaharuan yang terjadi dalam pendidikan terkadang menggambarkan
suatu hasil yang sangat berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.

5
2. Development (Pengembangan)
Pembaharuan harus mengalami pengembangan sebelum masuk dalam
dimensi skala yang besar. Development sering bergandengan dengan riset
sehingga prosedur “Research & Development” (R&D) digunakan dalam
pendidikan.
3. Diffusion (Penyebaran)
Persebaran ide baru dari sumber kepada pemakai/penyerap yang
terakhir.
4. Adaptation (Penyerapan)
Beberapa tahap yang penting dalam penerapan inovasi pendidikan.

2.4 Masalah yang Menuntut Inovasi


Banyak hal yang melatari dan menuntut diadakannya inovasi pendidikan
di Indonesia, diantaranya adalah hal-hal sebagai berikut :
1. Perkembangan ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Sistem pendidikan yang kita miliki dan laksanakan selama ini masih
belum mampu mengikuti dan mengendalikan kemampuan tersebut, sehingga
dunia pendidikan belum dapat menghasilkan tenaga pembangunan yang
terampil, kreatif dan aktif yang sesuai dengan tuntutan dan keinginan
masyarakat.
2. Pertambahan Penduduk.
Pertambahan penduduk yang sangat pesat menyebabkan daya
tampung, ruang kelas, dan fasilitas pendidikan sangat tidak seimbang. Hal ini
menyebabkan sulitnya menentukan relevansi pendidikan dengan dunia kerja
sebagai akibat tidak seimbangnya antara output lembaga pendidikan dengan
kesempatan yang tersedia.
3. Meningkatnya Animo Masyarakat Untuk Memperoleh Pendidikan yang Lebih
Baik dan Berkualitas.

6
Kemajuan iptek yang terjadi senantiasa memengaruhi aspirasi
masyarakat dalam keinginannya mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
4. Menurunnya Kualitas Pendidikan.
Kualitas pendidikan yang belum mampu mengikuti dan menyahuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut adanya sejumlah
pemaruan. Apabila tidak demikian, hal ini akan berakibat fatal dan pendidikan
akan terus ketinggalan.
5. Persoalan Relevansi
Kondisi masyarakat saat ini mengharapkan lembaga pendidikan yang
mampu menciptakan tenaga dengan skill yang siap pakai, sesuai dengan
kebutuhan di masyarakat, terutama dunia kerja. Hal ini tentu saja menuntut
lembaga pendidikan untuk terus melakukan perbaikan agar dapat memenuhi
kebbutuhan masyarakat.

2.5 Tujuan Inovasi Pendidikan


Tujuan utama inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan, yakni
kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarpras, termasuk struktur dan
prosedur organisasi. Selain itu, inovasi pendidikan dilakukan untuk memecahkan
masalah pendidikan danmenyongsong arah perkembangan dunia kependidikan
yang lebih memberikanharapan kemajuan lebih pesat.
Secara lebih rinci tentang maksud –maksud diadakan inovasi pendidikan
ini adalah sebagai berikut :
1. Pembaruan pendidikan sebagai tanggapan baru terhadap masalah-masalah
pendidikan.
Tugas pembaruan pendidikan yang terutama adalah memecahkan
masalah-masalah yang dijumpai dalam dunia pendidikan, baik dalam cara
yang konvensional maupun cara yang inovatif. Inovasi dan pembaruan
pendidikan juga merupakan suatu tanggapan baru terhadap masalah

7
kependidikan yang nyata-nyata dihadapi. Titik pangkal pembaruan pendidikan
adalah masalah pendidikan yang aktual, yang secara sistematis akan
dipecahkan dengan cara inovatif.
Masalah-masalah pendidikan yang perlu dipecahkan melalui inovasi
tersebut adalah :
a) Kurang meratanya pelayanan pendidikan
b) Kurang serasinya kegiatan pembelajaran dengan tujuan
c) Belum efisien dan ekonomisnya pendidikan
d) Belum efektif dan efisiennya sistem penilaian
e) Kurang lancar dan sempurnanya sistem informasi kebijakan
f) Kurang dihargainya unsur kebudayaan nasional
g) Belum kokohnya kesadaran, identitas dan kebanggaan nasional
h) Belum tumbuhnya masyarakat yang gemar belajar
i) Belum tersebarnya paket pendidikan yang memikat, mudah dicerna
dan mudah diperoleh.
j) Belum meluasnya kesempatan kerja (pembuatan dan pemanfaatan
teknologi komunikasi, software dan hardware).
2. Inovasi pendidikan sebagai upaya untuk mengembangkan pendekatan yang
lebih efektif dan ekonomis.
Dalam sejarahnya, kehidupan manusia dapat dibedakan menjadi tiga
tahapan berikut :
a) Periode manusia masih menggantungkan diri pada alam sekitarnya
dengan usaha penyesuaian secara mencoba-coba.
b) Periode manusia telah menemukan alat dan teknik baru yang
menyebabkan keterikatan manusia terhadap alam berkurang, namun
timbul ketergantungan baru terhadap birokrasi dan spesialisasi.
c) Periode manusia telah mampu mencapai kerja sama berdasar
perencanaan menuju perubahan social yang didambakan.

8
Manusia mampu menciptakan sesuatu yang baru yang sebelumnya
tidak dikenal. Manusia juga selalu berusaha dan mampu melakukan sesuatu
dengan cara yang baru yang sebelumnya tidak dikenal bahkan lebih sempurna.
Dengan kreativitas dan usaha yang tidak henti-hentinya, manusia menemukan
sesuatu dengan cara baru yang mengantarkan padakehidupan yang lebih baik
sekarang ini. Pembaruan pendidikan dilakukan dalam upaya “problem
solving” yang dihadapi dunia pendidikan yang dinamis dan berkembang.

Adapun sifat pendekatan yang diperlukan ntuk pemecahan masalah


pendidikan yang kompleks dan berkembang itu harus berorientasi pada hal-
hal yang efektif dan murah, serta peka terhadap timbulnya masalah-masalah
baru dalam dunia pendidikan.

2.6 Sasaran Inovasi Pendidikan


1. Guru
Agar dunia pendidikan dapat lebih inovatif diperlukan guru yang
berkompeten dan memiliki kreativitas yang tinggi. Guru harus mempunyai
cara menyampaikan pembelajaran agar belajar itu menarik dan mudah
dimengerti.
Peran guru dalam inovasi di sekolah tidak terlepas dari tatanan
pembelajaran yang dilakukan di kelas. Guru harus tetap memperhatikan
sejumlah kepentingan siswa, di samping harus memerhatikan suatu tindakan
inovasinya.
2. Siswa
Sebagai objek utama dalam pendidikan, siswa memegang peran yang
sangat dominan. Siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui
penggunaan intelegensi, daya motoric, pengalaman, kemauan, dan komitmen
yang timbul dalam dirinya tanpa paksaan. Hal ini terjadi apabila siswa juga

9
dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan
mengenalkan kepada mereka tujuan perubahan, mulai dari perencanaan
sampai pelaksanaan. Peran siswa dalam inovasi pendidikan adalah sebagai
penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya,
petunjuk, bahkan guru.
3. Kurikulum
Inovasi kurikulum adalah gagasan atau praktik kurikulum baru dengan
mengadopsi bagian-bagian yang potensial dari kurikulum tersebut dengan
tujuan memecahkan masalah atau mencapai tujuan tertentu.
4. Fasilitas
Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa
diabaikan dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar.
Dalam inovasi pendidikan, fasilitas ikut memengaruhi kelangsungan inovasi
yang akan ditetapkan. Tanpa fasilitas, pelaksanaan inovasi pendidikan tidak
akan berjalan baik.
5. Lingkungan Sosial Masyarakat.
Dalam menerapkan inovasi pendidikan, lingkup social masyarakat
tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut, tetapi bisa membawa
dampak, baik positif maupun negative, dalam pelaksanaan pembaharuan
pendidikan. . Secara langsung atau tidak, masyarakat terlibat dalam
pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya
mengubah masyarakat menjadi lebih baik, terutama masyarakat tempat
peserta didik itu berasal. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan
akan membantu innovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi
pendidikan.

2.7 Bentuk-bentuk Inovasi Pendidikan


Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model

10
inovasi yang baru, yaitu sebagai berikut.
1. Top-down Model
Top-down model, yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak
tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan, seperti
halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Kemendiknas dan Kemenag
selama ini.
Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan
cara mengajak, menganjurkan, bahkan memaksakan suatu perubahan untuk
kepentingan bawahannya. Bawahan tidak punya otoritas untuk menolak
pelaksanaannya. Contoh inovasi yang dilakukan oleh Depdiknas adalah Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA), Guru Pamong, Sekolah Persiapan
Pembangunan, Guru Pamong, Sekolah kecil, Sistem Pengajaran Modul,
Sistem Belajar Jarak Jauh, dan lainlain. Inovasi pendidikan yang berupa top-
down model tidak selamanya berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh
banyak hal antara lain
penolakan para pelaksana seperti guru yang tidak dilibatkan secara
penuh, baik dalam perencananaan maupun pelaksanaannya.

2. Bottom-up Model
Inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu
inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti karena para pelaksana dan
pencipta sama-sama terlibat, mulai dari perencanaan sampai pada
pelaksanaan. Oleh karena itu, masing-masing bertanggung jawab terhadap
keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan.
Bottom-up model adalah model inovasi dan hasil ciptaan dari bawah
serta dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan penyelenggaraan dan mutu
pendidikan. Model inovasi yang diciptakan berdasarkan ide, pikiran, kreasi,
dan inisiatif dari sekolah, guru atau masyarakat yang umumnya disebut model
Bottom-Up Innovation.

11
2.8 Contoh Inovasi Pendidikan
Berikut ini contoh-contoh inovasi pendidikan dalam setiap komponen
pendidikan atau komponen sistem sosial sesuai dengan yang dikemukakan oleh B.
Miles.
Dengan perubahan isi disesuaikan dengan perkembangan pendidikan dewasa ini.
1)      Pembinaan personalia. Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem
sosial tentu menentukan personal (orang) sebagai komponen sistem. Inovasi yang
sesuai dengan komponen personal misalnya: peningkatan mutu guru, sistem
kenaikan pangkat, aturan tata tertib siswa, dan sebagainya.
2)      Banyaknya personal dan wilayah kerja. Sistem sosial tentu menjelaskan
tentang berapa jumlah personalia yang terikat dalam sistem serta dimana wilayah
kerjanya. Inovasi pendidikan yang relevan dengan aspek ini misalnya: berapa
rasio guru siswa pada satu sekolah dalam sistem PAMONG pernah diperkenalkan
ini dengan rasio 1 : 200 artinya satu guru dengan 200 siswa. Sekolah Dasar di
Amerika satu guru dengan 27 siswa, perubahan besar wilayah kepemilikan, dan
sebagainya.
3)      Fasilitas fisik. Sistem sosial termasuk juga sistem pendidikan
mendayagunakan berbagai sarana dan hasil teknologi untuk mencapai tujuan.
Inovasi pendidikan yang sesuai dengan komponen ini misalnya: perubahan bentuk
tempat duduk (satu anak satu kursi dan satu meja), perubahan pengaturan dinding
ruangan (dinding batas antar ruang dibuat yang mudah dibuka, sehingga pada
diperlukan dua ruangan dapat disatukan), perlengkapan perabot laboratorium
bahasa, penggunaan CCTV (TVCT- Televisi Stasiun Terbatas), dan sebagainya.
4)      Penggunaan waktu. Suatu sistem pendidikan tentu memiliki perencanaan
penggunaan waktu. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya:
pengaturan waktu belajar (semester, catur wulan, pembuatan jadwal pelajaran
yang dapat memberi kesempatan siswa/mahasiswa untuk memilih waktu sesuai

12
dengan keperluannya, dan sebagainya).
5)      Perumusan tujuan. Sistem pendidikan tentu memiliki rumusan tujuan yang
jelas. Inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya: perubahan tujuan tiap
jenis sekolah (rumusan tujuan TK, SD, SMP, SMU, SMK disesuaikan dengan
kebutuhan dan perkembangan tantangan kehidupan), perubahan rumusan tujuan
pendidikan nasional dan sebagainya.
6)      Prosedur. Sistem pendidikan tentu mempunyai prosedur untuk mencapai
tujuan. Inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini misalnya:
penggunaan kurikulum baru, cara membuat persiapan mengajar, pengajaran
individual, pengajaran kelompok, dan sebagainya.
7)      Peran yang diperlukan. Dalam sistem sosial termasuk sistem pendidikan
diperlukan kejelasan peran yang diperlukan untuk melancarkan jalannya
pencapaian tujuan. Inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya: peran
guru sebagai pengguna media (maka diperlukan keterampilan menggunakan
berbagai macam media), peran guru sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru
sebagai anggota team teaching, dan sebagainya.
8)      Wawasan dan perasaan. Dalam interaksi sosial biasanya berkembang suatu
wawasan dan perasaan tertentu yang akan menunjang kelancaran pelaksanaan
tugas. Kesamaan wawasan dan perasaan dalam melaksanakan tugas untuk
mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditentukan akan mempercepat
tercapainnya tujuan. Inovasi yang relevan dengan bidang ini misalnya: wawasan
pendidikan seumur hidup, wawasan pendekatan keterampilan proses, perasaan
cinta pada pekerjaan guru, kesediaan berkorban, kesabaran sangat diperlukan
untuk menunjang pelaksanaan kurikulum pendidikan yang disempurnakan, dan
sebagainya.
9)      Bentuk hubungan antar bagian (mekanisme kerja). Dalam sistem pendidikan
perlu ada kejelasan hubungan antara bagian atau mekanisme kerja antara bagian
dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan. Inovasi yang relevan dengan
komponen ini misalnya: diadakan perubahan pembagian tugas antara seksi di

13
kantor departemen pendidikan dan mekanisme kerja antar seksi, di perguruan
tinggi diadakan perubahan hubungan kerja antara jurusan, fakultas, dan biro
registrasi tentang pengadministrasian nilai mahasiswa, dan sebagainya.
10)  Hubungan dengan sistem yang lain. Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan
dalam beberapa hal harus berhubungan atau bekerja sama dengan sistem yang
lain. Inovasi yang relevan dengan bidang ini misalnya: dalam pelaksanaan usaha
kesehatan sekolah bekerjasama atau berhubungan dengan Departemen Kesehatan,
data pelaksanaan KKN harus kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat, dan
sebagainya.
11)  Strategi. Yang dimaksud dengan strategi dalam hal ini ialah tahap-tahap
kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan inovasi pendidikan. Adapun
macam dan pola strategi yang digunakan sangat sukar untuk diklasifikasikan,
tetapi secara kronologis biasanya menggunakan pola urutan sebagai berikut:
a.     Desain
b.    Kesadaran dan Perhatian
c.     Evaluasi
d.    Percobaan

2.9 Contoh Kebijakan Inovasi Pendidikan


Berikut ini dikemukakan berbagai inovasi pendidikan yang dilakukan
sebagai bentuk kebijakan pendidikan di Indonesia, yaitu:
1. Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)
PPSP bersifat nasional dan mulai dilaksanakan pada tahun 1972 di
bawah pimpinan sebuah Team beranggotakan 11 orang yang diketuai oleh
Direktur Jendral Pendidikan. Sebagai landasan penyelengaraan PPSP ini
adalah “Basic Memorandum Menteri Pendidikan dan Kebudayaan” pda saat
itu, yang berisikan gagasan – gagasan baru tentang struktur dan metodologi
pendidikan.

14
Secara konseptual, sekolah pembangunan ini rencanananya akan
disebarluaskan ke seluruh Indonesia pada tahun 1974. Namun setelah
dilakukan uji kelayakan, ternyata konsepsi tersebut masih perlu
dikembangkan lagi melalui proses penelitian dan percobaan yang dilakukan
secara sistematis. Oleh karena itu diupayakanlah “Master Desain Pembaruan
Pendidikan melalui PPSP” yang kemudian diperkuat dengan keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 041 Tahun 1974 tentang Landasan,
Tujuan,, Strategi, Proses, dan Tata Kerja Pembaruan Pendidikan.

2. Pengajaran Dengan Sistem Modul


Modul merupakan program pengajaran mengenai suatu satuan bahasan
yang sengaja disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk
digunakan oleh anak didik. Modul ini disertai pula pedoman penggunaannya
untuk para pendidik.
Sistem pengajaran dengan modul bertujuan terutama untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas belajar mengajar di sekolah, terutama
yang berkaitan dengan penggunaan waktu, dana, fasilitas, dan tenaga secara
tepat guna dalam mencapai tujuan secara optimal. Sistem modul banyak
dipergunakan orang karena dianggap lebih efekif, seperti dalam pengajaran
jarak jauh, perkuliahan tutorial, sekolah-sekolah untuk pimpinan instansi
tertentu, dan sebagainya.

3. Proyek Pamong
Pamong merupakan singkatan dari pendidikan anak oleh masyarakat,
orang tua dan guru. Proyek ini merupakan program bersama antara
pemerintah Indonesia dengan INNOTECH (Educational Innovation
Technology), SEAMEO (South East Asian Ministry of Educational
Organization). Di kalangan SEAMEO proyek ini dikenal dengan istilah
IMPACT, yang merupakan singkatan dari Instructional Management by

15
Parent Community and Teachers, yaitu sebuah pendekatan yang dilakukan di
Asa Tenggara sebagai suatu usaha ke arah pendidikan dasar secara massal,
murah, dan efisien.
Proyek pamong berkewajiban untuk menguji efektivitas dan ekonomis
tidaknya pelaksanaan konsep tentang pengelolaan berbagai pengalaman
belajar yang diperoleh terutama melalui sumber-sumber bukan guru. Sumber
bukan guru di antaranya ialah anggota masyarakat yang mempunyai
kecakapan khusus, siswa yang lebih tinggi kemajuan belajarnya, dan
kelompok belajar atau kegiatan mengajar yang tidak memerlukan gedung
sekolah

4. SMP Terbuka
Sekolah terbuka ialah suatu subsistem pendidikan formal yang
tujuannya didasarkan pada SMP formal yang dapat diselenggarakan di luar
gedung sekolah atau diorganisasi secara nonformal denga menggunakan
kurikulum yang berlaku untuk SMP. Dalam hal penyajian pendidikan melalui
pendekatan multimedia, hanya sekitar 10% melalui tutorial dan selebihnya
yaitu sekitar 90% dengan multimedia.

5. Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G)


Proyek Pengembangan Pendidikan Guru yang dimulai sejak tahun
1977, memusatkan perhatiannya kepada pembinaan dan perbaikan kualitas
pendidikan guru dengan melalui berbagai usaha, diantaranya penataran dan
lokakarya, penyediaan sarana-sarana yang penting berupa pembangunan-
pembangunan Pusat Sumber Belajar (PSB) atau Learning Resource Center
(LRC) beserta isinya dan pengembangan kurikulum pendidikan guru.

6. Kuliah Kerja Nyata (KKN)

16
Pada Keputusan Presiden RI Nomor 11 Tahun 1974 tentang
REPELITA II bagian III Bab XXII tercantum pola dasar KKN dan
pengertiannya adalah sebagai berikut :
“KKN sebagai intrakurikuler dilaksanakan dengan penempatan
mahasiswa dari suatu tingkat studi tertentu dalam kesatuan-kesatuan antar
disiplin ilmu pengetahuan (interisipliner) di daerah-daerah meliputi sejumlah
desa untuk waktu tertentu (misalnya 6 bulan). Para mahasiswa disiapkan
terlebih dahulu dengan berbagai bidang keterampilan, sehingga di samping
keahliannya dalam jurusan masing-masing, mereka dapat kemampuan untuk
memecahkan berbagai problem pedesaan secara menyeluruh, di bawah
koordinasi dari para dosen pembimbing, Para mahasiswa peserta KKN ini
dapat membantu para pemuda potensi desa di dalam pengembangan desa
menuju kepada swadaya masyarakat desa. Dengan demikian, proyek KKN
dapat menjadi sarana pendidikan nonformal yang efektif dan efisien. Proyek-
proyek perintis KKN, yang dimulai dalam REPELITA I, akan diluaskan dan
dikembangkan dalam REPELITA II menuju kepada pelaksanaan KKN secara
penuh di Universitas Negeri maupun Swasta”.

7. Pusat Kegiatan Belajar.


Proyek pusat kegiatan belajar dimulai pada pertengahan tahun 1973.
Teknik yang digunakan ialah pengajaran klasikal dengan menggunakan alat-
alat audio visual, ceramah, kerja kelompok, bimbingan dan penyuluhan, serta
pengajaran melalui pemancar radio lokal. Pusat kegiatan belajar ini
merupakan bagian pendidikan di luar sekolah, tetapi erat kaitannya dengan
kegiatan pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah.

8. TKS-BUTSI
Proyek Tenaga Kerja Sukarela-Badan Usaha Tenaga Sukarela
Indonesia atau yang lebih dikenal dengan TKS-BUTSI ini dimulai pada tahun

17
1969, yang pada awalnya mengerahkan sebanyak 30 sukarelawan yang
tinggal di desa selama 2 tahun.
Tujuan proyek BUTSI adalah untuk mempertahankan dan
memperkuat gotong royong di kalangan generasi muda dengan cara
melibatkannya dalam kegiatan pembangunan pedesaan, juga untuk
mendorong dan membantu kegiatan pembangunan yang berasal dari dan
dilaksanakan oleh desa tersebut. BUTSI juga membantu kemungkinan
sukarelawan asing bisa bekerja di Indonesia dan sebaliknya.

9. Proyek STM Pembangunan


Proyek in dilaksanakan pada tahun 1967-1969 sebagai suatu usaha
percobaan memperabaiki mutu pendidikan teknik. Tujun umum proyek ialah
terpecahkannya masalah relevansi, efektivitas dan efisiensi sekolah lanjutan
teknik di Indonesia, kini dan waktu-waktu mendatang sehingga sejalan
dengan tujuan dan kebutuhan pembangunan nasional.

10. Proyek Pendidikan Guru


Proyek ini sebagai bagian dari suatu kerangka menyeluruh dari karier
guru, tidak hanya meliputi pendidikannya, tetapi juga pengabdiannya terhadap
masyarakat dan pendidikan professional yang didukung oleh suatu penelitian.
Tujuan proyek ialah dimiliknya lembaga pendidikan guru untuk segala
jenis dan tingkat, baik yang bersifat in-service maupun pre-service yang
terkoordinasi dalam suatu jaringan yang saling mengisi.

11. Pengembangan Sekolah Luar Biasa


Proyek pengembangan SLB berangkat dari pemikiran bahwa anak-
anak cacat mempunyai hak untuk sekolah atau mendapatkan pengajaran
sebagaimana yang diamanatkan undang-undang.
Beberapa masalah yang dihadapi oleh pemerintah ialah kenyataan

18
bahwa kapasitas sekolah untuk anak-anak caat sangat rendah, penyebarannya
tidak merata dan kurangnya adanya kesadaran orang tua untuk mengirimkan
anak-anaknya kelas ke sekolah.

12. Program Akta Mengajar V


Program Akta V sesuai engan PP No. 27 Tahun 1981 dan Keputuan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0211/U/1982 pada dasarnya
ditujukan kepada seluruh staf akademik pendidikan tinggi, tetapi sebagai
persyaratan administrative Akta V digunakan sebagai syarat untuk memegang
jabatan sebagai lektor (golongan IV/a). Dalam kaitan ini Akta V adalah suatu
persyaratan yang diharuskan untuk kenaikan pangkat dari III/d ke IV/a
(karena persyaratan ujian dinas kenaikan golongan sudah diramu dalam
program Akta V), tetapi pasti tidak merupakan persyaratan yang mencukupi,
karena di samping Akta V masih diperlukan syarat-syarat kekaryaan yang
lain, yang dinyatakan dalam tatacara kenaikan pangkat (nilai kredit sebagai
penjabaran PP No. 3 Tahun 1980). Jenis Akta V dibagi atas: jenis A bagi
peserta sarjana non kependidikan dan jenis B bagi sarjana kependidikan.

13. Universitas Terbuka.


Dengan ditandai keluarnya Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1984
tanggan 11 Juni 1984, maka Universitas Terbuka berdiri dengan resmi dan
berstatus sama dengan Universitas Negeri.
Dalam keputusan tersebut ditetapkan bahwa UT memiliki 4 fakultas,
yaitu :
a. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
b. Fakultas Ekonomi
c. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
d. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

19
14. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
Manajemen berbasis sekolah mulai diperkenalkan pada tahun 1994
dan mulai diujicobakan pada tahun 1998 merupakan paradigm baru
pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dalam
rangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi diberikan agar sekolah
leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya
sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan
setempat.
Menurut Syafruddin (2008) mengartikan Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) sebagai “Pengalihan dalam pengambilan keputusan dari tingkat pusat
sampai ke tingkat sekolah, agar sekolah bisa mandiri menggali,
mengalokasikan, menentukan prioritas, memanfaatkan, mengendalikan, dan
mempertanggungjawabkan pada setiap yang berkepentingan (stakeholders).

20
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Inovasi pendidikan disini dimaksudkan adalah suatu
perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dengan (hal
yang ada) sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk
meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam
pendidikan (Suryobroto, 1990: 127).
Selain Itu sasaran dari inovasi pendidikan ini adalah guru,
siswa, kurikulum, fasilitas dan lingkungan sosial masyarakat.
Inovasi pendidikan sendiri mengarah pada Invention
(penemuan), Development (pengembangan), Diffusion
(penyebaran) dan Adaptation (penyerapan). Inovasi pendidikan
juga mempunyai tujuan yaitu tujuan utama inovasi adalah berusaha
meningkatkan kemampuan, yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang,
sarpras, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Selain itu, inovasi pendidikan
dilakukan untuk memecahkan masalah pendidikan danmenyongsong arah
perkembangan dunia kependidikan yang lebih memberikanharapan kemajuan
lebih pesat.
Ada pula bentuk-bentuk dari inovasi pendidikan yang dibagi menjadi dua
model yaitu Top-down Model dan Bottom-up model. Selain itu, ada beberapa
contoh inovasi pendidikan salah satunya adalah pembinaan personalia. Ada pula
contoh kebijakan inovasi pendidikan salah satu di antaranya adalah proyek
pembangunan pendidikan guru (P3G).

21
DAFTAR PUSTAKA

Fullan, Michael G. (1991). The New Meaning of Educational Change. Second Edt.
New York: Teacher Collage Press Published

Hasbullah. (2015). Kebijakan Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Rusdiana. (2014). Konsep Inovasi Pendidikan. Bandung : CV. Pustaka Setia.

Subandiyah. (1992). Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Yogyakarta: PT. Raja


Grafindo Persada.

Wahyudi, Imam. (2012). Pengembangan Pendidikan. Jakarta: PT. Prestasi


Pustakaraya.

Zakso, Amrazi. (2010). Inovasi Pendidikan di Indonesia antara Harapan dan


Kenyataan. Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora Vol. 1 No 1 April
2010

https://www.academia.edu/24790598/inovasi_pendidikan

22
23