Anda di halaman 1dari 8

NAMA: ANISYA RAHMANIAH NASRA

KELAS: PENDIDIKAN IPA REGULER A(01)


NIM: 1916041013

1. Jelaskan pandangan kontruktivisme mengenai belajar?

Jawab:

Belajar menurut konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif, dimana pesrta


didik membina sendiri pengtahuannya, mencari arti dari apa yang mereka
pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan idea-idea baru
dengan kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky,1992).
Dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut peserta didik diharuskan
mempunyai dasar bagaimana membuat hipotesis dan mempunyai kemampuan
untuk mengujinya, menyelesaikan persoalan, mencari jawaban dari persoalan
yang ditemuinya, mengadakan renungan, mengekspresikan ide dan gagasan
sehingga diperoleh konstruksi yang baru.

1. Deskripsikan dan jelaskan dua tradisi besar dari konstruktivisme


menurut Mathews?

Jawab:

Matthews (1994) membedakan dua tradisi besar konstruktivisme:

a. Konstruktivisme Psikologis

Konstruktivisme psikologis bertitik tolak dari perkembangan psikologis anak


dalam membangun pengetahuannya. Sedangkan Konstruktivisme sosial lebih
mendasarkan pada masyarakatlah yang membangun pengetahuan.
Konstruktivisme psikologis bercabang dua, yaitu konstruktivisme yang lebih
personal (Piaget) dan yang lebih sosial seperti Vygotsky (socioculturalism).

b. Konstruktivisme Sosiologis

Konstruktivisme sosiologis berdiri sendiri.


2. Deskripsikan dan jelaskan kategori dari konstruktivisme menurut
Doolittle dan Camp?

Jawab:

Glasersfeld (dalam Doolittle dan Camp, 1999: 5) mengemukakan tiga


keyakinan (tenet) sebagai epistemologi konstruktivisme. Knowledge is not
passively accumulated, but rather, is the result of active cognizing by the
individual; Cognition is an adaptive process that functions to make an
individual’s behavior more viable given a particular environment; Cognition
organizes and makes sense of one’s experience, and is not a process to render
an accurate representation of reality.

Artinya sebagai berikut : Pengetahuan tidak dihimpun secara pasif, tetapi


dihasilkan melalui kognisi aktif individu. Kognisi merupakan proses adaptif
yang berfungsi membuat perilaku individu lebih sesuai pada suatu lingkungan
tententu yang diberikan. Mengorganisasi kognisi dapat membuat pengertian
dari pengalaman seseorang, dan bukan suatu proses untuk menghasilkan
representasi akurat dari kenyataan.

Doolittle dan Camp (1999: 5) mengacu pada pendapat Dewey, Garisson,


Larochelle, Bednarz dan Garisson, Gergen, dan Maturana dan Varella,
menambah sebuah keyakinan (tenet) pada epistemologi konstruktivisme yang
dikemukakan oleh von Glasersfeld sebagai berikut: Knowing has roots both in
biological/neurological construction, and in social, cultural, and language-
based interactions. Artinya sebagai berikut ; Pengetahuan berakar dalam
konstruksi biologis/neurologis dan dalam interaksi sosial, budaya, dan bahasa.
3. Buatlah kompirasi dari behaviorosme dan kostruktivisme dalam
hal belajar

Jawab:

Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku


sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia
dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar
yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa
respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan
respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan
oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting
untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang
dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan
oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat
diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan
tingkah laku tersebut.
Teori Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri.
Konstruktivisme sebagai aliran filsafat, banyak mempengaruhi konsep ilmu
pengetahuan, teori belajar dan pembelajaran. Konstruktivisme menawarkan
paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Sebagai landasan paradigma
pembelajaaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa
dalam proses pembelajaran, perlunya pengembagan siswa belajar mandiri, dan
perlunya siswa memiliki kemampun untuk mengembangkan pengetahuannya
sendiri.
Hal ini berdampak terhadap landasan teori belajar dalam dunia
pendidikan di Indonesia. Semula teori belajar dalam pendidikan Indonesia,
lebih didominasi aliran psikologi behaviorisme. Akan tetapi saat ini, para pakar
pendidikan di Indonesia banyak yang menyerukan agar landasan teori belajar
mengaju pada aliran konstruktivisme.
PERBANDINGAN
Komparasi Pembelajaran Behaviorisme dengan Konstruktivisme
BEHAVIORISTIK KONSTRUKTIVISTIK

Pandangan Tentang Pengetahuan, Belajar dan Pembelajaran

Pengetahuan : non- objektif, temporer,


Pengetahuan: objektif, pasti, tetap
selalu berubah

Belajar: perolehan pengetahuan Belajar: pemaknaan pengetahuan

Mengajar: memindahkan pengetahuan


Mengajar: menggali makna
ke orang yang belajar

Mind berfungsi sebagai alat


Mind berfungsi sebagai alat penjiplak
menginterpretasi sehingga muncul
struktur pengetahuan
makna yang unik

Si pembelajar diharapkan memiliki


Si pembelajar bisa memiliki pemahaman
pemahaman yang sama dengan
yang berbeda terhadap pengetahuan
pengajar terhadap pengetahuan yang
yang dipelajari
dipelajari

Segala sesuatu yang ada di alam telah Segala sesuatu bersifat temporer,
terstruktur, teratur, rapi. berubah, dan tidak menentu.

Pengetahuan juga sudah terstruktur Kitalah yang memberi makna terhadap


rapi realitas

Masalah Belajar dan Pembelajaran

Keteraturan Ketidakteraturan

Si pembelajar dihadapkan pada


Si pembelajar dihadapkan kepada
aturan-aturan yang jelas yang
lingkungan belajar yang bebas
ditetapkan lebih dulu secara ketat

Pembiasaan (disiplin) sangat esensial Kebebasan merupakan unsur yang


sangat esensial

Kegagalan atau ketidak-mampuan


dalam menambah pengetahuan
dikategorikan sebagai KESALAHAN,
Kegagalan atau keberhasilan,
HARUS DIHUKUM
kemampuan atau ketidakmampuan
dilihat sebagai interpretasi yang berbeda
Keberhasilan atau kemampuan
yang perlu DIHARGAI
dikategorikan sebagai bentuk perilaku
yang pantas dipuji atau diberi
HADIAH

Ketaatan kepada aturan dipandang Kebebasan dipandang sebagai penentu


sebagai penentu keberhasilan keberhasilan

Kontrol belajar dipegang oleh sistem Kontrol belajar dipegang oleh si


di luar diri si Pembelajar Pembelajar

Tujuan pembelajaran menekankan


pada penambahan pengetahuan Tujuan pembelajaran menekankan pada
penciptaan pemahaman, yang menuntut
Seseorang dikatakan telah belajar aktivitas kreatif-produktif dalam konteks
apabila mampu mengungkapkan nyata
kembali apa yang telah dipelajari

Masalah Belajar dan Pembelajaran: Strategi Pembelajaran

Penggunaan pengetahuan secara


Keterampilan terisolasi
bermakna

Mengikuti urutan kurikulum ketat Mengikuti pandangan si Pembelajar

Aktivitas belajar mengikuti buku teks Aktivitas belajar dalam konteks nyata

Menekankan pada hasil Menekankan pada proses

Masalah Belajar dan Pembelajaran: Evaluasi


Respon pasif Penyusunan makna secara aktif

Menuntut satu jawaban benar Menuntut pemecahan ganda

Evaluasi merupakan bagian terpisah Evaluasi merupakan bagian utuh dari


dari belajar belajar

Perbedaan karakteristik antara pembelajaran tradisional (behavioristik)


dengan pembelajaran konstruktivistik, adalah sebagai berikut:

Teori Behavioristik Teori Konstruktivistik

1. Kurikulum disajikan dari


1. Kurikulum disajikan mulai dari
bagian-bagian menuju
keseluruhan menuju kebagian-
keseluruhan dengan menekankan
bagian, dan lebih mendekatkan pada
pada keterampilan-keterampilan
konsep-konsep yang lebih luas.
dasar.

2. Pembelajaran lebih menghargai


2. Pembelajaran sangat taat pada
pada pemunculan pertanyaan dan
kurikulum yang telah ditetapkan.
ide-ide siswa.

3. Kegiatan kurikuler lebih banak 3. Kegiatan kurikuler lebih banyak


mengandalkan pada buku teks mengandalkan pada sumber-sumber
dan buku kerja. data primer dan manipulasi bahan.

4. Siswa dipandang sebagai


“kertas kosong” yang dapat
digoresi informasi oleh guru, dan 4. Siswa dipandang sebagai pemikir
guru pada umumnya yang dapat memunculkan teori-teori
menggunakan cara didaktik tentang dirinya.
dalam menyampaikan informasi
kepada siswa.
5. Penilaian hasil belajar atau
5. Pengukuran proses dan hasil
pengetahuan siswa dipandang
belajar siswa terjalin di dalam
sebagai bagian dari
kesatuan kegiatan pembelajaran,
pembelajaran, dan biasanya
dengan cara guru mengamati hal-hal
dilakukan pada akhir
yang sedang dilakukan siswa, serta
pembelajaran dengan cara
melalui tugas-tugas pekerjaan.
testing.

6. Siswa-siswi biasanya bekerja


6. Siswa-siswi banyak belajar dan
sendiri-sendiri, tanpa ada grup
bekerja di dalam grup proses.
proses dalam belajar.

4. Deskripsikan implikasi konstruktivisme terhadap pembelajaran?

Jawab:

Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan


anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan
menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak
yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang
dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi
yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh
peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan
melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan
sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan
cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai
mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk
terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
Dikatakan juga bahwa pembelajaran yang memenuhi metode
konstruktivis hendaknya memenuhi beberapa prinsip, yaitu: a) menyediakan
pengalaman belajar yang menjadikan peserta didik dapat melakukan konstruksi
pengetahuan; b) pembelajaran dilaksanakan dengan mengkaitkan kepada
kehidupan nyata; c) pembelajaran dilakukan dengan mengkaitkan kepada
kenyataan yang sesuai; d) memotivasi peserta didik untuk aktif dalam
pembelajaran; e) pembelajaran dilaksanakan dengan menyesuaikan kepada
kehidupan social peserta didik; f) pembelajaran menggunakan barbagia sarana;
g) melibatkan peringkat emosional peserta didik dalam mengkonstruksi
pengetahuan peserta didik.