Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua mahluk hidup terdiri atas unit yang disebut sel. Jelasnya sel merupakan
unit struktural terkecil yang melaksanakan proses yang berkaitan dengan
kehidupan, misalnya mampu mengambil nutrisi, tumbuh dan berkembangbiak,
bereaksi terhadap rangsangan, dan sebagainya. Awal kehidupan bertitik tolak dari
embrio berbentuk sel telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa yang disebut
zigot. Zigot segera berkembang melalui serangkaian pembelahan pola mitosis
sesuai dengan tahap perkembangan embrio yang disebut embriogenesis.
Selanjutnya embrio menumbuhkan kelompok sel khusus yang berbeda satu
dengan yang lain. Kelompok sel khusus embrio, dalam proses membentuk
jaringan, terlepas satu dari yang lain dengan terbentuknya bahan antar sel. Proses
pembentukan jaringan dalam embriologi disebut “histogenesis‟ yang mendasari
pembentukan organ-organ tubuh (organogenesis). Jadi jaringan adalah kumpulan
dari sel-sel sejenis atau berlainan jenis termasuk matriks antar selnya yang
mendukung fungsi organ atau sistem tertentu. Meskipun sangat kompleks tubuh
jaringan dasar hewan terdiri atas 4 jenis jaringan yaitu jaringan epitel,
penyambung/pengikat, otot, dan saraf. Dalam tubuh jaringan ini tidak terdapat
dalam satuan-satuan yang tersendiri tetapi saling bersambungan satu dengan yang
lain dalam perbandingan yang berbeda-beda menyusun suatu organ dan sistema
tubuh.
Jaringan dasar adalah jaringan yang mendasari terbentuknya organ tubuh
yang fungsional. Pengertian jaringan dalam hal ini mencakup sel-sel serta bahan
antar sel yang dihasilkannya, maka pengetahuan tentang struktur serta aktivitas sel
merupakan dasar dari histologi. Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang
dapat membantu antara organ satu dengan organ lainnya, contohnya saja otot
dengan tulang. Otot dapat melekat di tulang yang berfungsi sebagai alat gerak
aktif dan tulang sebagai alat gerak pasif. Selain itu otot merupakan jaringan pada
tubuh hewan yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi
oleh stimulus dari sistem saraf.

1
Tulang adalah jaringan ikat yang terdiri dari sel, serat, dan matriks
ekstraselular. Matriks tulang adalah bagian terkeras yang terletak dilapisan luar
tulang, yang diakibatkan oleh pengendapan mineral dalam matriks, sehingga
tulang pun mengalami kalsifikasi. Didalam tubuh manusia juga terdapat yang
namanya tulang rawan (cartilago), yaitu jaringan ikat yang mempunyai
kemampuan meregang, membentuk penyokong yang kuat bagi jaringan lunak,
memberikan kelenturan, dan sangat tahan terhadap tekanan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan jaringan otot?
2. Bagaimana struktur otot pada umumnya?
3. Apa saja jenis-jenis otot?
4. Bagaimana kinerja otot pada hewan invertebrata dan vertebrata?
5. Apa yang dimaksud dengan jaringan tulang?
6. Apa saja bagian-bagian jaringan tulang?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian jaringan otot.
2. Untuk mengetahui struktur otot pada umumnya.
3. Untuk mengetahuijenis-jenis otot.
4. Untuk mengetahui kinerja otot pada hewan invertebrate dan vertebrata.
5. Untuk mengetahui pengertian jaringan tulang.
6. Untuk mengetahui bagian-bagian jaringan tulang.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Jaringan Otot
Jaringan otot merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja
mekanik dengan jalan kontraksi dan relaksasi sel atau serabutnya. Jaringan otot
terdiri atas sel-sel yang telah berdiferensiasi untuk penggunaan optimal sifat
universal se1 yang disebut kontraksi sel. Mikrofilamen dan protein terkait
bersama-sama menghasilkan daya yang diperlukan untuk kontraksi sel, yang
menghasilkan gerakan dalam organ tertentu dan tubuh secara keseluruhan.
Hampir semua sel otot berasal dari mesoderm,
Dengan kemampuan otot dalam berkontraksi, ia mengemban 3 fungsi utama
yaitu melaksanakan gerakan, memelihara postur dan memproduksi panas.
Gerakan yang di hasilkan oleh otot pada dasarnya ada 2, yaitu gerakan tubuh yang
mudah di amati dan gerakan tubuh yang tidak mudah di amati. Gerakan tubuh
yang mudah di amati meliputi gerak perpindahan tempat (misalnya berjalan,
berlari) dan gerakan bagian tubuh tertentu (misalnya menggelengkan kepala,
melambaikan tangan), sedangkan gerakan yang tidak mudah diamati adalah
gerakan organ-organ dalam tubuh, misalnya gerak peristaltic alat-alat pencernaan,
denyut jantung, mengembang dan menyempitnya pembuluh darah, gerakan
pengosongan kantung kencing. Fungsi kedua dari otot adalah menjaga postur
tubuh, kontraksi dan relaksasi otot-otot rangka menjaga tubuh dalam posisi tetap
tegak pada saat berdiri maupun duduk. Fungsi ketiga adalah menghasilkan panas,
kontraksi otot dapat menghasilkan panas untuk memelihara suhu tubuh, contoh
pada saat kedinginan, otot menggigil untuk menghasilkan panas.

B. Struktur Otot
Otot sebagian terbesar menyelaputi rangka dan tersusun teratur di bawah kulit.
Jika diamati otot pangkal lengan atas orang, tampaklah bahwa otot itu tersusun
atas beberapa gumpalan. Gumpalan itu bekerja antagonis (timbal-balik): jika satu
gumpalan mengerut, gumpalan lain mengendur. Gumpalan terdiri dari beberapa
berkas otot, yang disebut fasciculus. Tiap berkas dibina atas banyak serat otot.

3
Satu serat otot adalah 1 sel otot, yang bentuknya kecil panjang seperti serat
tumbuhan.
Otot rangka yang besar dikelilingi oleh lapisan penghubung yang kenyal
yang disebut fasia. Lapisan luar dari fasia disebut epimisium. Fasia meluas dan
menempel ke tulang sebagai sebuah tendon, sebuah struktur seperti tali. Lapisan
lain dari jaringan penghubung, disebut perimisium, mengelilingi kumpulan otot
yang lebih kecil. Kumpulan otot disebut fasikulus. Serat otot secara individual
ditemukan dalam fasikulus dan dikelilingi oleh lapisan ketiga dari jaringan
penghubung yang disebut endomisium.

Gambar 1. Struktur Otot

Gambar 2. Struktur serat Otot Tunggal

4
Struktur dari sebuah Serat Otot Tunggal. Sel otot adalah sebuah serat otot
yang memanjang. Sebagian serat-serat otot memiliki panjang 12 inchi. Serat otot
dapat memiliki lebih dari satu nukleus dan dikelilingi oleh membran sel yang
disebut sarkolema. Pada beberapa titik membran sel menembus dalam ke bagian
dalam dari serat otot membentuk tubulus transversa. Dalam serat otot ada
retikulum endoplasma khusus yang disebut retikulum sarkoplasma.
Setiap serat otot terdiri dari struktur silindrikal panjang yang disebut
miofibril. Setiap miofibril terbuat dari serangkaian unit kontraktil yang disebut
sarkomer. Setiap sarkomer meluas dari Z line ke Z line dan dibentuk dengan
pengaturan yang unik dari dua protein kontraktil yaitu aktin dan miosin. Z line
terjadi di ujung dari setiap sarkomer. Filamen aktin tipis meluas ke bagian tengah
dari sarkomer dari Z line. Filamen miosin yang lebih tebal terletak diantara
filamen aktin. Perluasan dari filamen miosin adalah struktur yang disebut kepala
miosin. Pengaturan aktin dan miosin dalam setiap sarkomer memberikan bentuk
lurik pada otot rangka dan otot jantung.
Otot-otot membentuk penempelan ke struktur-struktur lain dengan tiga
cara. Pertama, tendon menempelkan otot ke tulang. Kedua, otot menempel secara
langsung (tanpa sebuah tendon) ke tulang atau ke jaringan lunak. Ketiga, sebuah
fasia yang rata, berbentuk seperti lembaran yang disebut aponeurosis dapat
menghubungkan otot ke otot atau otot ke tulang.
Jadi susunan otot adalah:
Miofibril  sel otot  berkas serabut otot  jenis otot.

C. Jenis-jenis Otot
1. Otot Polos
Sel otot polos bila dilihat di bawah mikroskop cahaya tidak menunjukkan
adanya garis-garis melintang. Otot polos pada Vertebrata termasuk manusia dapat
dijumpai pada dinding dan organ-organ dalam dan pembuluh darah: saluran
pencernaan makanan, uterus, kandung kencing, ureter, arteri, arteriol, dan
sebagainya. Di samping itu otot polos dapat dijumpai pada iris mata dan otot
penggerak rambut.

5
Jaringan otot polos merupakan otot yang terletak pada saluran alat-alat di
dalam tubuh manusia seperti manusia seperti yang terdapat pada saluran
pencernaan, dinding pembuluh darah, dinding rahim, saluran pernapasan, dan
saluran kelamin. Otot polos dapat disebut juga sebagai otot tak sadar karena cara
bekerjanya di luar kesadaran manusia, tanpa harus diperintah otak.
Cara kerja otot dipengaruhi oleh saraf autonom, yaitu saraf simpatetik dan
saraf parasimpatetik. Saraf simpatetik merupakan saraf yang berujung di pangkal
sumsum tulang belakang (medulla spinalis) yang terdapat di daerah dada dan
pinggang. Saraf tersebut berfungsi sebagai pemacu yang dapat membuat kerja
organ-organ tubuh menjadi cepat.
Adapun saraf parasimpatetik merupakan saraf yang berujung I pangkal
sumsum lanjutan (medulla oblongata). Saraf ini berfungsi untuk membuat kerja
organ-organ tubuh menjadi lambat.
Pada bagian permukaan otot polos memiliki serabut-serabut (fibril) yang
bersifat sama sehingga apabila kita amati melalui mikroskop bentuknya akan
terlihat polos dan tidak memiliki garis seperti otot lain apabila otot polos terkena
rangsangan reaksinya akan menjadi lambat. Ada pun ciri-ciri otot polos adalah:
 Bentuk: Gelendong
 Satu sel inti di tengah

6
 Tidak ada garis-garis melintang
 Aktivitas lambat, geraknya beruntun
 Berkontraksi dalam waktu lama
 Dikontrol oleh saraf tidak sadar dan sebagai otot tidak sadar

1. Membran Plasma
Membran plasma pada otot sering disebut sarkolemma (sarcolemma).
Dengan mikroskop cahaya kurang jelas, tetapi dengan mikroskop elektron
tampak sebagai selaput ganda (double membrane), masing-masing:
Pada daerah hubungan posisi antara otot polos, selaput luar tampak
menyatu. Hubungan ini dianggap lebih serasi dari pada hubungan antar sel
dengan desmosoma. Hubungan ini berperanan memperlancar transmisi
impuls untuk kontraksi dari satu otot ke otot yang lainnya. Pendapat lain
mengatakan bahwa tenaga yang terjadi pada waktu kontaksi dapat
dipindahkan ke lain alat tubuh melalui serabut kolagen atau elastis.
2. Sitoplasma
Sering disebut sarkoplasma (sarcoplasma)., mengandung :
a. Organoid, antara lain: mitokondria yang mengitari inti, endoplasma
retikulum, apparatus golgi, miofibril, sentriol.
b. Paraplasma, seperti glikogen, lipofusin.
Yang menarik perhatian adalah myofibril karena peranannya dalam
kontraksi. Miofibril pada otot polos sangat halus, dengan pewarnaan H.E.
sulit dilihat. Dengan mikroskop elektron tampak miofilamen miosin
berdiameter 5 mµ, dan aktin 3 mµ. Sarkoplasma di dekat inti bebas dari
filament. Filamen tersebut berakhir di daerah pekat sarkolemma. Filamen
aktin dan miosin juga terdapat pada pada otot polos, berkontraksi dengan
adanya adenosine trifosfat. Susunan filament aktin dan miosin pada otot
polos belum jelas, berbeda dengan otot skelet.
3. Inti
Berbentuk lonjong memanjang dengan ujung tumpul, bergelombang
pada saat terjadi kontraksi.

7
2. Otot Lurik (Otot Rangka)

Gambar 3: Penampang otot serat daging


Otot rangka tersusun atas sel-sel panjang tidak bercabang, disebut serabut
otot (muscle fiber). Serabut-serabut ini merupakan sel-sel berinti banyak
(multiseluler) yang terletak pada bagian pinggir (perifer) sel. Sel-sel otot terbentuk
sejak perkembangan embrionik melalui fusi dari banyak sel-sel kecil yang
membentuk sinsitium. Apabila dilihat dengan mikroskp cahaya, serabut otot
Nampak bergaris-garis melintang.
Seperti halnya sel saraf, sel otot mampu merespon terhadap rangsangan.
Bila membrane sel otot dikenai neurotransmitter yang di hasilkan oleh ujung saraf
motor yang mensarafinya, maka pada membrane sel otot tadi akan timbul suatu
impuls bioelektrik. Impuls ini akan merambat sepanjang membrane serabut otot,
seperti merambatnya impuls pada serabut saraf yang tidak bermielin.
Setiap serabut otot rangka dibungkus oleh lapisan jaringan ikat lembut yang
di sebut endomisium. Beberapa serabut tunggal akan bergabung menjadi satu
berkas yang disebut fasikulus. Fasikulus ini dibungkus oleh jaringan ikat yang
disebut perimisium. Seluruh fasikulus tersebut kemudian di bungkus bersama-
sama oleh epimisium.
Pada kebanyakan otot, epimisium bersatu pada kedua ujung otot dan
membentuk tendon yang biasanya melekat pada suatu tulang. Karena tendon
bersambung dengan episium, dan karena perimisium dan endomisium melekat

8
padanya, maka kontraksi ottot dapat menimbulkan suatu tarikan yang kuat pada
titik lekatnya.
1. Sarkolemma
Pada pengamatan dengan mokroskop cahaya tampak sebagai selaput
tipis dan tembus cahaya (transparan), tetapi dengan mikroskop elektron
tampak adanya selaput ganda (double membrane), yakni selaput luar,
setebal 40 Angstrom, ruang antara setebal 20 Angstrom, dan selaput dalam
setebal 40 Angstrom.
Selaput luar mirip membran basal epitel yang dibalut serabut retikuler.
Selaput dalam (plasmalemma) terdiri dari dua lapis protein yang
ditengahnya diisi lemak (lipid). Secara umum sarkolemma bersifat
transparan, kenyal dan resisten terhadap asam dan alkali. Serabut-serabut
otot kerangka yang bergabung membentuk berkas serabut otot primer
disebut fasikulus yang dibalut oleh jaringan ikat kolagen pekat
(endomisium). Ada 5 sel utama yang dijumpai dalam fasikulus yaitu:
serabut otot, sel endotel, perisit, fibroblast dan miosatelit.
2. Sarkoplasma (sitoplasma)
Sarkoplasma mengandung (Genneser, 1994):
a. Organoida, antara lain:
1) Mitokondria (sarcosomes), mitokondria terdapat berbatasan
dengan sarkolemma dan dekat inti di antara miofibril.
2) Ribosom, ribosom pada otot kerangka terdapat bebas di
matriks.
3) Apparatus golgi
4) Miofibril, pada satu serabut otot kerangka terdapat ribuan
miofibril, sedangkan tiap miofibril memiliki ratusan
miofilamen yang bersifat submikroskopis. Miofilamen terdiri
atasa filament myosin dan filament aktin
5) Endoplasmik retikulum.
b. Paraplasma, antara lain:
1) Lipid

9
2) Glikogen
3) Mioglobin.
3. Otot Jantung

Miokardium (myocardium) jantung vertebrata tingkat tinggi terdiri dari


serabut otot jantung yang berhubungan satu dengan yang lain membentuk jalinan.
Semula otot jantung dianggap sebagai peralihan antara otot polos dan otot
kerangka. Yang jelas bahwa otot jantung tergolong otot bergaris melintang yang
satuannya disebut “serabut”. Bangun otot jantung dan otot kerangka tidak sama
dalam beberapa aspek. Hubungan otot jantung melalui diskus interkalatus cukup
kuat sehingga sulit dilakukan tepsing untuk memperoleh satu serabut secara
terpisah. Pada otot kerangka maupun otot polos hal ini masih mungkin dilakukan.
Seratnya rata-rata lebih kecil daripada serat otot lurik. Setiap serat otot
jantung memiliki tonjolan-tonjolan dan kesamping membentuk percabangan,
bertemu dengan percabangan sel otot tetangga. Tonjolan-tonjolan antara sel
bertetangga setangkup rapat. Inti berada di tengah sel. Satu serat hanya memiliki
1-2 inti. Inti lebih tumpul ujungnya daripada inti serat otot lurik.
Penelitian dengan mikroskup cahaya menunjukkan bahwa otot jantung
memiliki serabut yang bercabang, yang berhubungan satu dengan yang lain
melalui ujungnya.

10
Seperti halnya dengan otot polos dan kerangka, otot jantung memiliki
bagian-bagian sebagai berikut.
1. Sarkolemma
Keadaannya hampir mirip dengan sarkolemma otot kerangka, dinding
luarnya mirip membran basal dengan fibril retikuler yang dapat terus
berhubungan dengan tendon atau katup jantung. Di bagian lain berhubungan
langsung dengan endomisium. Sel-sel yang dijumpai pada otot jantung:
serabut otot (miosit), sel endotel, perisit, dan fibroblast.
2. Sarkoplasma
Pada garis besar hampir mirip dengan otot kerangka, hanya saja otot
jantung relatif memiliki sarkoplasma lebih banyak, terutama di sekitar inti
yang terletak di tengah. Mitokondria, lipid, lipofuksin dan glikogen banyak
terdapat pada sarkoplasma di sekitar inti. Garis-garis melintang hampir
mirip dengan otot kerangka, meskipun susunan miofilamen tersusun secara
acak. Sistem T cukup jelas pada otot jantung berbentuk invaginasi tubuler
dari plasmalema dan lamina basalis di daerah cakram Z. Sistem T berperan
dalam pertukaran metabolik dan transmisi impuls. Sarkoplasmik retikulum
tidak sesubur pada otot kerangka, beberapa diantaranya berhubungan
dengan sistem T.
3. Inti
Berbeda dengan otot kerangka, pada otot jantung inti terdapat di tengah.
Diskus interkalatus berupa penebalan di daerah cakram Z, yang sebenarnya
adalah daerah hubungan antara serabut otot jantung. Tebalnya dapat mencapai
0,5µ berbentuk tangga.
Pada jantung selain terdapat otot untuk kontraksi terdapat pula bentuk
modifikasi yang berfungsi sebagai pengatur rangsangan (stimulus) ke seluruh
penjuru jantung, yang dikenal sebagai “serabut purkinje”. Secara histologi dapat
dibedakan dengan otot jantung biasa sebagai berikut:
a. Diameter serabut purkinje lebih besar dari otot jantung.

11
b. Miofibril jauh lebih sedikit dan tersusun di bagian tepi sejajar dan agak
mengulir. Pada batas serabut tampak lebih jelas. Bentuk garis melintang
tidak jelas pada serabut purkinje.
c. Inti lebih besar dan pucat. Dalam satu serabut sering terdapat 2 inti
berdampingan.

Gambar 6 dan 7: Serabut Purkinje.


Serabut purkinje menyusun diri dalam berkas, dengan ruang Ebert-Bellajev
dibagian tepi serabut. Secara elektron mikroskopis struktur discus interkalatus
tidak jelas pada otot jantung biasa, sebab ujungnya berhubungan dengan otot
jantung biasa. Di daerah ini perubahan bentuk berlangsung secara bertahap.

D. Kinerja Otot pada Hewan


Invertebrata
1. Porifera
Porifera tidak mempunyai saraf maupun otot, namun sel-sel individualnya
bisa mengindra dan bereaksi terhadap perubahan di lingkungan. Lapisan-lapisan
sel spons adalah asosiasi longgar yang tidak dianggap jaringan sejati.
2. Coelenterata, Nematoda dan Plathyhekmintes
Tubuh Coelenterata (hewan berongga) adalah hewan yang terdiri atas
jaringan luar (eksoderm) dan jaringan dalam (endoderm) serta sistem otot yang
membujur dan menyilang (mesoglea). Coelenterata memiliki bentuk tubuh simetri
radial, yaitu bagian yang sama didistribusikan secara merata dalam susunan
melinkar dari poros tengah. Hewan ini tidak memiliki kepala dan segmen tubuh.
Nematoda mempunyai dua macam otot yaitu :

12
a. Somatik (yang tidak mengkhusus) yang terdiri dari satu lapis langsung di
bawah hypodermis.
b. Khusus yang memilik berbagai fungsi, tergantung pada lokasinya sebagai
contohnya spikuler berguna untuk mengeluarkan spikuler pada yang jantan.
Otot-otot dinding tubuh terletak longitudinal dan bertanggung jawab melakukan
gerakan cacing seperti ular. zona yang banyak berserabut pada setiap ujung
serabut otot melekat pada hypodermis, sedangkan ujung lain yang kurang
berserabut dari sel otot itu di hubungkan dengan batang-batang saraf dorsal
maupun ventral yang akan memberi stimulasi motor pada otot-otot tersebut.
Pada saat merayap tubuh cacing memanjang sebagai akibat dari kontraksi
otot sirkular dan drosoventral. Kemudian bagian depan tubuh mencengkeram pada
substrat dengan mukosa atau alat perekat khusus. Dengan mengkontraksikan otot-
otot longitudinal, bagian tubuh belakang tertarik ke arah depan. Gerakan otot-otot
obligus menyebabkan tubuh membelok.

3. Annelida
Tubuh annelida juga memiliki lapisan otot, yang terdiri dari otot sirkuler
(spiral rapat) dan Otot Longitudinal (spiral panJang) ketika otot Sirkuler
Berkontraksi maka segmen akan men'adi lebih tipis dan meman'ang,sedangkan
ketika otot longitudinal berkontraksi segmen akan menebal dan memendek.
4. Arthopoda
Struktur otot arthropoda lebih kompleks daripada kebanyakan invertebrata
lainnya. Arthropoda memiliki pita jaringan otot membujur dan melingkar serta
saraf terisolasi yang bersama-sama memungkinkan berbagai gerakan. Selain itu,
arthropoda memiliki sistem saraf yang berkembang dengan baik. Lebih banyak
arthropoda canggih, sistem saraf terdiri dari otak dan tali saraf ganda. Arthropoda
lebih primitif tidak punya otak tetapi memiliki ganglia baik yang terletak di setiap
segmen tubuh mereka atau massa ganglionik dekat kepala.
5. Echinodermata
Echinodermata dikelompokkan menjadi 5 kelas salah satunya adalah
Echinoidea. Tubuh Echinoidea mempunyai otot yang berfungsi untuk memutar
duri tersebut sehingga dapat membuatnya bergerak.

13
6. Molusca
Tubuh molusca memiliki 3 bagian utama yaitu Mantel, massa visera dan
Kaki berotot. Kaki berotot molusca merupakan penjuluran bagian tubuh yang
terdiri dari otot-otot. Kaki Mollusca ini berfungsi untuk bergerak, merayap, atau
menggali. Sebagian jenis Mollusca kaki digantikan dengan tentakel yang
fungsinya dalam menangkap mangsa.

Vertebrata
Pada hewan vertebrata, seperti halnya pada manusia, otot-otot yang
menyusun tubuhnya terdiri atas otot rangka (otot skelet), otot polos dan otot
jantung. Fungsi sistem otot pada hewan vertebrata juga serupa seperti halnya pada
manusia sebagai alat gerak aktif melalui kontraksinya. Penamaan pada otot
rangka, misalnya pada katak pun hampir serupa dengan pada manusia
1. Pisces
Pada ikan dan hewan-hewan vertebrata lain, hewan-hewan ini mempunyai
otot, seperti otot-otot pada kepala dan badan. Otot badan pada ikan Sistem otot
pada ikan yakni penggerak tubuh, berupa sirip-sirip, Otot-otot di seluruh tubuh
secara teratur bersegemen, bergerak ketika mengadakan gerakan berenang. Sistem
perototan atau muscularis pada ikan adalah sama seperti pada sistem perototan
vertebrata lainnya yang terdiri dari otot rangka, otot polos, dan otot jantung.
Sistem muscularis yang paling sederhana ditemukan pada kelompok
Cyclostomata karena posisi evolusinya dan tidak adanya spesialisasi pada ototnya.
Berdasarkan bentuknya, otot pada ikan terbagi atas Cyclostomine yang dimiliki
oleh kelompok Agnatha dan Piscine yang dimiliki oleh kelompok Osteichthyes
dan Condrichthyes. Pada kelompok Cyclostomine, bentuk myomere terdiri dari
satu lekukan kedalam dan dua lekukan keluar dimana ujungnya tumpul.
Sedangkan pada myomere penyusun otot piscine memiliki lekukan yang ujungnya
tajam. Penyebutan otot rangka pada ikan tergantung dari sistem gerak yang
dilakukan, lokasi otot, struktur otot dan pergerakannya.

14
2. Amphibi
Otot pada katak dibagi menjadi empat bagian, yaitu otot pada bagian
kepala, otot daerah pectoral, otot daerah abdomen atau ventral dan otot pada
extrimitas posterior.
3. Reptilia
Dibandingkan dengan katak, sistem otot buaya itu lebih rumit, karena
gerakannya lebih kompleks. Otot-otot kepala, leher, dan kaki tumbuh baik,
walaupun kurang jika dibandingkan pada mammalia. Segmentasi otot jelas pada
kolumna vertebralis dan rusuk.
4. Aves
Pada burung otot badan sangat temodifikasi, dengan ada pada sayap yang
berperan untuk terbang dengan adanya persatuan yang kokoh antara vertebrata
thoracale dan vertebrata lumbale otot ini kurang berfungsi kecuali di daerah leher.
otot badan sangat temodifikasi, dengan ada nya modifikasi mussculi apendiculares
dan lebih berkembang di bagian pelvis dan pada burung juga di temukan otot
sphinchter colli yang berfungsi untuk mengusir serangga yang hinggap di
tubuhnya.
5. Mamalia
Mamalia sebagai hewan vertebrata tingkat tinggi, memiliki jaringan otot
yang sempurna. Terdiri dari beberapa jenis otot, yaitu otot polos, otot jantung dan
otot lurik/otot rangka. Hampir setengah dari keseluruan berat tubuh mamalia
disumbang oleh otot.

E. Pengertian Jaringan Tulang


Jaringan tulang adalah jaringan ikat yang terdiri dari sel, serat, dan matriks
ekstraselular. Tulang berfungsi sebagai kerangka tubuh yang kaku, dan
memberikan tempat perlekatan pada otot dan organ yang terdapat pada tubuh
seseorang. Tulang juga melindungi otak, yang terletak didalam tengkorak. Tulang
melindungi jantung dan paru didalam rongga dada, dan organ seksual dan urinaria
terlindungi oleh tulang yang disebut tulang pelvis.

15
F. Bagian-bagian Jaringan Tulang
1. Matriks Tulang
Matriks merupakan gabungan protein dan karbohidrat yang mengikat sel
bersama-sama atau membagi satu jaringan dari yang lain. Matriks tersusun atas
serabu-serabut dan bahan dasar. Matriks merupakan salah satu jaringan pengikat
yang bekerja sinergis dengan sel-sel tulang dalam pembentukan dan pelekatan
antar jaringan tulang. Matriks tersusun atas air 25 %, mengandung senyawa
anorganik (67%) berupa kalsium, fosfat, Na,Mg, bikarbonat dan sitrat, serta
senyawa organik berupa serabut kolagen (protein) tipe 1, serabut elastin, serabut
retikuler (bakal fibroblast yang juga disebut sel retikuler), dan mengandung
glikosaminoglikan.
2. Sel – sel Tulang
a. Osteoprogenitor
Osteoprogenitor terletak di luar membrane (prosteum). Sel-sel ini berasal
dari mesenkim embrio, akan ada sepanjang hidup pascakelahiran dan dapat
mengalami pembelahan mitosis dan memiliki potensi untuk berdiferensiasi
menjadi osteoblas. Sel Osteoprogenitor berbentuk gelendong dan memiliki inti
oval berwarna pucat, sitoplasmanya mengandung sedikit RE dan sebuah badan
golgi yang berkembang dengan kurang baik, tapi berisi ribosom yang sangat
banyak. Sel-sel ini paling aktif selama periode pertumbuhan tulang. Selama
pertumbuhan tulang, sel-sel ini akan membelah diri dan menghasilkan sel
osteoblas yang kemudian akan membentuk tulang. Sebaliknya pada
permukaan dalam dari jaringan tulang, sel-sel osteogenik menghasilkan
osteoklas untuk mengikis tulang membentuk rongga rongga (spons).
b. Osteoblas
Osteoblas berasal dari sel osteoprogenitor dan berkembang dibawah
pengaruh Bone Morphogenic protein (BMP) . Osteoblas memiliki diameter
antara 20-30 μm dan terlihat sangat jelas pada sekitar lapisan osteoid dimana
tulang baru terbentuk. Membran plasma osteoblas memiliki sifat khas yakni
kaya akan enzim alkali fostatase, yang konsentrasinya dalam serum digunakan
sebagai indeks dari adanya pembentukan tulang. Sel osteoblas yang telah

16
matang memiliki banyak aparatus golgi yang berkembang dengan baik yang
berfungsi sebagai sel sekretori, sitoplasma yang basofilik (tidak mengandung
granula), dan banyak sekali retikulum endoplasma.
Osteoblas bertanggung jawab mensintesis komponen protein organik dari
matriks tulang, termasuk kolagen tipe I, proteoglikans, dan glikoprotein,
osteocalcin (untuk mineralisasi tulang), protein yang bukan kolagen
diantaranya osteonectin (terkait dengan mineralisasi tulang), osteopontin ,
sialoprotein tulang, faktor pertumbuhan tulang, sitokin, dan tentunya reseptor
dari hormon-hormon.
Osteoblas memiliki jaluran sitoplasma yang bersentuhan dengan osteoblas
berdekatan. Juluran ini lebih jelas bila sel itu mulai dikelilingi oleh
matriksnya. Begitu terkurung seluruhnya oleh matriks yang baru dibentuk ini
maka osteoblas itu disebut sebagai osteosit.Lakunan dan kenalikuli tampak,
karena matriks telah dibentuk di sekitar sel dan juluran sitoplasmanya.
c. Osteosit
Osteosit merupakan sel tulang yang telah dewasa dan sel utama pada
tulang yang berperan dalam mengatur metabolisme seperti pertukaran nutrisi
dan kotoran dengan darah. Osteosit berasal dari osteoblas yang berdeferensiasi
dan terdapat di dalam lacuna yang terletak diantara lamela-lamela matriks
pada saat pembentukan lapisan permukaan tulang berlangsung. Jumlahnya
20.000 – 30.000 per mm3 dan sel- sel ini secara aktif terlibat untuk
mempertahankan matriks tulang dan kematiannya diikuti oleh resorpsi matriks
tersebut sehingga osteosit lebih penting saat perbaikan tulang daripada
pembentukan tulang baru. Kanalikuli merupakan suatu kanal dimana terdapat
pembuluh darah yang berfungsi sebagai penyalur nutrisi dan pertukaran gas
yang akan digunakan oleh osteosit.
Osteosit lebih kecil dari osteoblas dan osteosit telah kehilangan banyak
organel pada sitoplasmanya. Osteosit muda lebih menyerupai osteoblas tetapi
merupakan sel dewasa yang memiliki aparatus golgi dan reticulum
endoplasma kasar yang sedikit lebih jelas tetapi memiliki jumlah lisosom yang
lebih banyak.

17
d. Osteoklas
Osteoklas adalah sel raksasa hasil peleburan monosit (jenis sel darah
putih) yang terkonsentrasi di endosteum dan melepaskan enzim lisosom untuk
memecah protein dan mineral di matriks ekstraseluler. Osteoklas memiliki
progenitor yang berbeda dari sel tulang lainnya karena tidak berasal dari sel
mesenkim, melainkan dari jaringan mieloid yaitu monosit atau makrofag pada
sumsum tulang. Osteoklas bersifat mirip dengan sel fagositik lainnya dan
berperan aktif dalam proses resorbsi tulang.
Osteoklas merupakan sel fusi dari beberapa monosit sehingga bersifat
multinukleus (10-20 nuklei) dengan ukuran besar dan berada di tulang kortikal
atau tulang trabekular Osteoklas berfungsi dalam mekanisme
osteoklastogenesis, aktivasi resorpsi kalsium tulang, dan kartilago, dan
merespon hormonal yang dapat menurunkan struktur dan fungsi tulang.
Osteoklas dalam proses resorpsi tulang mensekresi enzim kolagenase dan
proteinase lainnya, asam laktat, serta asam sitrat yang dapat melarutkan
matriks tulang. Enzim-enzim ini memecah atau melarutkan matriks organik
tulang sedangkan asam akan melarutkan garam-garam tulang. Melalui proses
resorpsi tulang, osteoklas ikut mempengaruhi sejumlah proses dalam tubuh
yaitu dalam mempertahankan keseimbangan kalsium darah, pertumbuhan dan
perkembangan tulang serta perbaikan tulang setelah mengalami fraktur.
Aktifitas osteoklas dipengaruhi oleh hormon sitokinin.
Osteoklas memiliki reseptor untuk kalsitokinin, yakni suatu hormon tiroid.
Akan tetapi osteoblas memiliki reseptor untuk hormon paratiroid dan begitu
teraktivasi oleh hormon ini, osteoblas akan memperoduksi suatu sitokin yang
disebut faktor perangsang osteoklas. Osteoklas bersama hormon parathyroid
berperan dalam pengaturan kadar kalsium darah sehingga dijadikan target
pengobatan osteoporosis.

18
3. Tulang Kompak dan Tulang Berongga
a. Tulang Rawan (Berongga / Sponge / trabekular / cancelous / kartilago)
Tulang spons adalah bagian tengah tulang yang berongga serta terdapat
sumsung tulang merah dan sumsum tulang kuning. Sumsun tulang merah
memproduksi sel darah merah, sedangkan sumsum tulang kuning menyimpan
lemak. Dalam bahasa Inggris, tulang spons (spongiosa) disebut cancellous
bone. Tulang spons merupakan salah satu dari dua jenis jaringan tulang yang
membentuk tulang. Tulang rawan terdiri atas sel-sel tulang rawan (kondrosit),
serabut kolagen, dan matriks. Sel-sel tulang rawan dibentuk oleh bakal sel-sel
tulang rawan, yaitu kondroblas. Sedangkan sel-sel tulang rawan di sebut
kondrosit.
Kondrosit mempunyai inti yang khas berbentuk bundar dengan sebuah
nucleus atau dua buah nucleoli. Kondrosit terletak di dalam lacuna (celah)
berbentuk bulat. Ia disebut juga sel kartilago (yang kalau berkelompok

19
disebut sel isogen). Letak chondrocyt di dalam jaringan tulang rawan lebih ke
dalam daripada letak chondroblast.
Matriks jaringan tulang rawan terdiri atas kondrin, yaitu zat jernih seperti
kanji yang terbuat dari mukopolisakarida dan fosfat. Oleh karena itu, sel
tulang rawan disebut kondrosit. Kondrosit berfungsi mensintesis dan
mempertahankan matriks yang mengandung serabut kolagen, serabut elastis,
dan serabut fibrosa. Kondrin dihasilkan oleh sel kondroblast yang terletak
pada lakuna.
b. Tulang Keras (Kompak / Osteon)
Tulang terbentuk dari tulang rawan yang mengalami penulangan
(osifikasi). Ketika tulang rawan (kartilago) terbentuk, rongga-rongga
matriksnya terisi oleh sel osteoblas. Osteoblas merupakan lapisan sel tulang
muda. Osteoblas akan menyekresikan zat interseluler seperti kolagen yang
akan mengikat zat kapur. Osteoblas yang telah dikelilingi zat kapur akan
mengeras dan menjadi osteosit (sel tulang keras). Osteosit terletak di dalam
lakuna. Antara satu osteosit dengan osteosit lainnya di dalam lakuna
terhubungkan oleh saluran halus yang disebut kanalikuli. Lakuna dan
osteositnya tersusun secara konsentris (melingkar) disebut lamela.
Di tengah lamela terdapat saluran sentral mikroskopis disebut Saluran
Havers yang mengandung pembuluh darah (vena, arteri, kapiler), saraf, dan
pembuluh getah bening (limfe). Antara saluran Havers saling terhubungkan
oleh Saluran Volkman. Saluran Volkman adalah saluran yang
menghubungkan dua saluran havers.
Tulang kompak tersusun atas periosteum (Luar) dan endosteum (Dalam)
yang berbatasan dengan sumsum tulang. Periosteum berupa jaringan ikat
padat tidak teratur. Endosteum mempunyai komponen-komponen yang sama
dengan periosteum hanya lebih tipis.
Tulang kompak memiliki matriks yang padat dan rapat, sedangkan tulang
spons memiliki matriks yang berongga-rongga. Sebenarnya, kedua jenis
tulang tersebut terdapat di suatu tempat yang sama. Penamaan diambil hanya
dengan melihat bagian mana yang paling dominan

G. Tulang pada Hewan


Makhluk hidup yang ada di dunia ini dikelompokkan menjadi 2 bagian
berdasarkan ada tidaknya tulang belakang. Makhluk hidup yang memiliki tulang
belakang disebut vertebrata dan yang tidak memiliki tulang belakang disebut
invertebrata. Vertebrata sendiri memiliki 2 sistem rangka, yaitu endoskeleton dan
eksoskeleton. Contoh hewan vertebrata adalah ikan, katak, burung, kadal, marmot,
dan lain sebagainya. Cumi-cumi sebagai bagian dari molusca memiliki tulang rawan.

20
1. Secara histologis, rangka pisces (ikan) ada yang terbentuk dari satu tulang
rawan yang disebut chondrocranium dan dilengkapi branchiocranium beserta
derivate-derivatnya, misalnya pada bagian tengkorak ikan Elasmobranch dan
pada tengkorak ikan bertulang sejati tersusun atas dua bagian yaitu
neurocranium dan branchiocranium. Sedangkan secara anatomi, rangka pisces
tersusun atas 3 bagian, yaitu kepala, batang tubuh dan ekor.
2. Secara histologis, rangka amfibi (katak) tersusun atas endoskeleton yang disokong
oleh bagian yang lunak. Tulang yang panjang dibedakan atas bagian central yang
disebut diaphyse sedang kedua ujungnya disebut epiphyse. Sedangkan secara
anatomi, rangka katak dibagi menjadi 2, yaitu skeleton axiale (terdiri dari tempurung
kepala, vertebra, dan sternum) dan skeleton appendiculare (contohnya pada kaki).
3. Secara histologis, rangka reptil (kadal) tersusun atas eksoskeleton (berasal dari
epidermis, berupa sisik menanduk) dan endoskeleton (terdiri dari sekeleton aksial
dan apendikular). Sedangkan secara anatomi, rangka kadal terbagi menjadi 4, yaitu
caput, truncus, serviks, dan caudal.
4. Secara histologis, rangka aves (burung) tersusun atas jaringan tulang rawan, jaringan
tulang keras dan jaringan ikat. Sedangkan secara anatomi, rangka aves tersusun 2
bagian, yaitu rangka aksial (terdiri dari caput, lolumna vertebralis, truncus, dan kosta)
dan rangka apendikular (tersusun atas extremitas).
5. Secara histologis, rangka mamalia umumnya tersusun atas tulang rawan dan tulang-
tulang pengganti tulang rawan (tulang keras). Sedangkan secara anatomi, rangka
mamalia (marmot “Cavia cobaya”) terdiri dari 4 bagian utama, yaitu caput (kepala),
serviks (leher), truncus (badan), dan extremitas (anggota gerak).

21
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Jaringan otot merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja
mekanik dengan jalan kontraksi dan relaksasi sel atau serabutnya. Otot dapat
melekat di tulang yang berfungsi untuk bergerak aktif. Otot tersusun atas beberapa
gumpalan, gumpalan terdiri dari beberapa berkas otot, yang disebut fasciculus.
Tiap berkas dibina atas banyak serat otot. Satu serat otot adalah 1 sel otot. Serat
otot memiliki terdiri dari komponen seperti sarkolemma, sarkoplasma, inti, dan
Organelnya yang penting yaitu retikulum sarkoplasma, mitokondria, dan
miofibril. Setiap miofibril dibina atas puluhan mikrofilamen. Mikrofilamen otot
ialah aktin dan miosin, yang bersusun berjejer dan berdempet.
Jaringan otot dibedakan menjadi 3 jenis yaitu otot polos, otot lurik, dan otot
jantung. Otot polos terletak pada saluran alat-alat di dalam tubuh manusia seperti
manusia seperti yang terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah,
dinding pembuluh darah, dinding rahim, saluran pernapasan, dan saluran kelamin.
Otot lurik melekat pada rangka, dan otot jantung hanya terdapat pada dinding
jantung.
Tulang adalah jaringan ikat yang terdiri dari sel, serat, dan matriks
ekstraselular. Sel-sel tulang terdiri dari ostreoprogenator, osteoblast, osteosit dan
osteklas. Tulang berfungsi sebagai kerangka tubuh yang kaku, dan memberikan
tempat perlekatan pada otot dan organ yang terdapat pada tubuh seseorang.
Tulang juga melindungi otak, yang terletak didalam tengkorak. Tulang
melindungi jantung dan paru didalam rongga dada, dan organ seksual dan urinaria
terlindungi oleh tulang yang disebut tulang pelvis.

22
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga

Campbell, Neil A. 2016. Intisari Biologi Edisi Keenam. PT. Gelora Aksara

Pratama

Dafriani, Putri. 2019. Buku Ajar Anatomi & Fisiologi. Padang : CV Berkah Prima

Junqueira, LC dan Carneiro J. 2010. Histologi Dasar. Jakarta : Penerbit Buku

Kedokteran

Purnamasari, Risa., dan Santi, D. Rukma. 2017. Fisiologi Hewan. Surabaya: UIN

Sunan Ampel Press

23