Anda di halaman 1dari 25

1

TUGAS RINGKASAN
“TEKNIK KOROSI DAN PELAPISAN LOGAM”

Mata Kuliah : Korosi dan Teknik Pelapisan logam


Dosen Pengampu : Ir.Rizki Elpari Siregar,M.T.

Disusun Oleh :
Nama : Infan Luhut Sipangkar
NIM : 5172121010

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
2

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang maha Esa, yang telah memberikan karunia
dan nikmat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah tentang
teknik korosi dan pelapisan
Penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak dosen pengampu mata kuliah yang
memberikan bimbingan, mengajari, serta telah memberi motivasi dalam penyusunan makalah ini,
penulis juga mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtua kami yang telah banyak memberikan
nasihat, motivasi dan keperluan dalam perkuliahan. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan
kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas ini masih banyak terdapat kekurangan
dan kesalahan yang menyebabkan tugas ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca supaya menjadi perbaikan untuk
kedepannya.

Medan, 13 April 2020

Infan Luhut Sipangkar


3

DAFTAR ISI
Kata pengantar.............................................................................................i

Daftar isi .........................................................................................................ii

BAB 1
PENDAHULUAN....................................................................................................4

BAB II
ISI.............................................................................................................................5

Penutup
Kesimpulan ........................................................................................................19

Daftar pustaka............................................................................................................20
4

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Masalah korosi sudah menjadi hal yang wajar dikalangan masyarakat pada umumnya,
khususnya bagi industri-industri. Karena sifat dari korosi itu sendiri adalah merusak fasilitas atau
alat-alat yang berbahan dasar dari logam besi, sehingga masyarakat atau industri merasa takut akan
terjadinya korosi. Namun korosi itu sendiri merupakan proses alami dari reaksi oksidasi atau redoks
akibat adanya singgungan antara logam besi itu sendiri dengan oksigen dan uap air di udara,
sehingga menghasilkan zat yang baru yang berasal dari singgungan tersebut.

Korosi sudah ada sejak manusia dapat mengubah logam campuran besi menjadi logam besi.
Sebab pemurnian logam besi merupakan kebalikan dari proses korosi. Dalam arti lain, korosi
merupakan proses yang mengembalikan besi murni keasalnya. Sejak manusia mengetahui
permasalahan korosi sangat menimbulkan kerusakan dan menyebabkan kerugian yang banyak.
Manusia mulai mencari jalan keluar untuk masalah penanganan pencegahan korosi. Namum, untuk
semua tindakan prefentif tersebut memiliki kelemahan dalam artian masa aktif untuk mencegah
terjadinya korosi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya korosi adalah dengan pelapisan yang
menggunaka unsur yang anti-korosi
5

BAB II
ILMU KOROSI
1.Pengertian Korosi dan Teknik Pelapisan logam/Elektroplating
a.Pengertian Korosi
Korosi adalah proses perusakan pada permukaan logam yang disebabkan oleh terjadinya
reaksi kimia (reaksi elektro kimia) pada permukaan logam. Pada hakikatnya korosi adalah suatu
reaksi dimana suatu logam dioksidasi sebagai akibat dari serangan kimia oleh lingkungan (uap
air,oksigen di atmosfer, oksida asam yang terlarut dalam air).
Korosi merupakan reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya
yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tak dikehendaki. Contoh korosi yang paling lazim
adalah perkaratan besi.Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen
(udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida dan karbonat. Rumus
kimia karat besi adalah Fe2O3. xH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
b.Pengertian Teknik Pelapisan/Elektroplating
Para perancang pada industri, terutama industri otomotif, aeronautik dan industri lainnya sering
menghadapi permasalahan dengan pemilihan material yang akan digunakan menjadi komponen
dasar suatu mesin atau konstruksi. Material yang dipilih haruslah memenuhi persyaratan-
persyaratan tertentu; misalnya memeliki kekuatan yang tinggi, tahan terhadap keausaan atau tahap
terhadap korosi, indah dipandang mata, mudah melakukan proses finising dan lain-lain. Untuk
dapat memenuhi kriteria diatas, maka bahan yang dipilih haruslah mempunyai kualitas tinggi bila
dipandang dari sudut ilmu logam.
Penggunaan logam berkualitas tinggi tentu saja akan menaikan biaya / harga jual suatu
mesin atau peralatan. Hal ini dapat mengakibatkan perusahaan yang memproduksi material kurang
mampu bersaing dengan perusahaan sejenis di pasaran. Dengan demikian penggunaan bahan
berkualitas tinggi , secara ekonomis, tidak senantiasi menguntungkan, akan tetapi yang dicari oleh
perusahaan adalah penggunaan bahan berkualitas tetapi saat diproduksi dengan biaya yang tidak
terlalu tinggi. Ini dapat dilakukan dengan pemilihan metode pembuatan dengan biaya yang relatif
rendah.
Atas dasar pertimbangan tersebut, para perancang berupaya menggunakan bahan dasar dari
bahan berkualitas sedang (dengan pertimbangan harga lebih murah), tetapi dilakukan perlakuan
khusus pada permukaannya (surface treatment). Dengan perlakuan ini, bahan dapat memiliki sifat-
6

sifat fisis dan mekanis yang lebih baik dari bahan dasarnya, bahkan dapat lebih bahan berkualitas
tinggi. Perlakuan khusus tersebut salah satunya dapat berupa pelapisan permukaan (coating).
Proses Pelapisan adalah suatu cara yang dilakukan untuk memberikan sifat tertentu pada suatu
permukaan benda kerja, dimana diharapkan benda tersebut akan mengalami perbaikan baik dalam
hal struktur mikro maupun ketahanannya, dan tidak menutup kemungkinan pula terjadi perbaikan
terhadap sifat fisiknya. Pelapisan logam merupakan bagian akhir dari proses produksi dari suatu
produk. Proses tersebut dilakukan setelah benda kerja mencapai bentuk akhir atau setelah proses
pengerjaan mesin serta penghalusan terhadap permukaan benda kerja yang dilakukan. Dengan
demikian, proses pelapisan termasuk dalam kategori pekerjaan finishing atau sering juga disebut
tahap penyelesaian dari suatu produksi benda kerja
Fenomena alam dan material khususnya logam mempunyai suatu keterikatan dalam suatu
sistem dan proses. Namun dalam suatu sistem tersebut terdapat suatu hubungan tidak sinergis atau
berlawanan. Hubungan tersebut diimplementasikan dalam suatu proses kerusakan yang dinamakan
korosi. Sebagian orang dalam bidang keteknikan khususnya di bidang kimia material, material dan
mesin telah mengetahui arti dari korosi, tapi korosi (corrosion) selalu diartikan sama dengan istilah
karat (rust). Kenyataannya kedua istilah tersebut selalu berhubungan satu sama lain .korosi adalah
kerusakan material khususnya logam secara umum akibat reaksi dengan lingkungan.sekitarnya,
sedangkan arti karat dikhususnya pada logam ferrous (besi). Hasil dari proses kerusakan berupa
berbagai produk korosi misalnya berbagai macam oksida logam, kerusakan permukaan logam
secara morfologi, perubahaan sifat mekanis, perubahan sifat kimia. Banyak jenis-jenis korosi,
namun secara umum dapat dibagi dalam 12 jenis korosi.

1.JENIS-JENIS KOROSI SECARA UMUM :


KOROSI SERAGAM (UNIFORM CORROSION)
7

Jenis korosi yang dikarakterisasikan oleh reaksi kimia atau elektrokimia dengan penampakan
produk korosi dan peronggaan skala besar dan merata.
KOROSI DWI LOGAM (GALVANIK CORROSION)

Jenis korosi yang terjadi antara dua buah logam dengan nilai potensial berbeda saat dua buah logam
bersatu dalam suatu elektrolit yang korosif.

KOROSI CELAH (CREVICE CORROSION)


8

Jenis korosi lokal yang terjadi antara dua buah material baik logam-logam atau logam-non logam
yang mempunyai celah antara keduanya yang mengakibatkan terjadinya perbedaan konsentrasi
oksigen (differential oxygen).

KOROSI SUMURAN (PITTING CORROSION)

LUBANG

Sumber : Arsip penelitian Gadang Priyotomo,Jakarta


9

Korosi sumuran merupakan jenis korosi yang menyerang secara lokal selektif yang
menghasilkan bentuk-bentuk permukaan lubang-lubang di logam.

KOROSI EROSI

Korosi erosi merupakan jenis korosi yang menggunakan proses mekanik melalui pergerakan
relatif antara aliran gas atau cairan korosif dengan logam

KOROSI RETAK TEGANG (STRESS CORROSION CRACKING)

Korosi retak tegang merupakan jenis korosi yang disebabkan kehadiran secara simultan tegangan
10

tarik (tensile stress) dan media korosif yang menyebabkan terjadi penampakan retak di dalam
logam
11

Korosi erosi merupakan jenis korosi yang menggunakan proses mekanik melalui pergerakan
relatif antara aliran gas atau cairan korosif dengan logam

KOROSI BATAS BUTIR (INTERGRANULAR CORROSION)


12

Korosi batas butir merupakan korosi yang menyerang secara lokal menyerang batas butir-butir
logam sehingga butir-butir logam akan hilang atau kekuatan mekanik dari logam akan
berkurang, Korosi ini disebabkan adanya kotoran (impurity) batas butir, adanya unsur yang
berlebih pada sistem perpaduan atau penghilangan salah satu unsur pada daerah batas butir.

PELULUHAN SELEKTIF (SELECTIVE LEACHING/DEALLOYING)

Sumber : corrosion-doctors.org

Peluluhan selektif atau dealloying merupakan penghilangan salah satu unsur dari paduan logam
oleh proses korosi.

FREETING CORROSION
13

Freeting corrosion merupakan jenis korosi yang terjadi pada dua permukaan kontak
logam dengan beban yang besar bergerak dengan gerak vibrasi pada permukaan logam dasar di
lingkungan korosif
14

PERONGGAAN (CAVITATION)

Peronggaan (cavitation): Peronggaan terjadi saat tekanan operasional cairan turun di bawah
tekanan uap gelembung-gelembung gas yang dapat merusak permukaan logam dasar

PERONGGAAN (CAVITATION)
15

Korosi mikroba (microbial corrosion) : Korosi yang terjadi akibat aktivitas mikroba sebagai
penyedia lingkungan yang korosif.

PERONGGAAN (CAVITATION)

Sumber : Arsip penelitian Khalid M. Al-Nabulsi,

Korosi perapuhan hidrogen ( hydrogen embrittlement corrosion) merupakan jenis korosi melalui
kerusakan logam secara mekanik akibat kehadiran atau interaksi dengan hidrogen dari
lingkungan.

PENCEGAHAN KOROSI
Proses korosi dapat dicegah dengan melihat berbagai aspek yang mempengaruhi proses korosi
tersebut. Aspek-aspek dala pencegahannya yaitu :

SELEKSI MATERIAL

Metode umumnya yang sering digunakan dalam pencegahan korosi yaitu pemilihan
logam atau paduan dalam suatu lingkungan korosif tertentu
Beberapa contoh material yaitu :
Baja karbon ; Logam struktur sering digunakan dengan menggunakan baja karbon karena baja
karbon secara ekonomis relatif murah, banyak sekali variasi jenis baja karbon dan dapat di
16

kerjakan untuk permesinan, pengelasan dan dibentuk dalam berbagai bentuk. Beberapa jenis baja
karbon dapat terjadi korosi perapuhan hidrogen (hydrogen embrittlement, korosi seragam, stress
corrosion, korosi galvanik dan sebagainya
Baja stainless umumnya sebagai alternatif pengganti baja karbon. Banyak jenis baja
stainless yaitu martensitic stainless steel, ferritic stainless steel, austenitic stainless steel dan
precipitation-hardening stainless steel. Umumnya austenitic stainless steel (seri 300) dengan
unsur pembentuk utama besi dan unsur krom 18% dan nikel 8%. Jenis ini tahan terhadap korosi
secara umumnya. Tapi kurang tahan terhadap korosi sumuran, korosi celah dan korosi retak
tegang pada beberapa lingkungan
Paduan aluminium, Paduan aluminium umumnya digunakan di bidang penerbangan,
otomotif dan sebagainya dikarenakan mempunyai ketahanan terhadap korosi atmosfer,
sayangnya sifat protektif dari lapisan film oksida aluminium yang membentuk paduan dapat
pecah secara lokal dan akan mengakibatkan kegagalan korosi pada lokasi pecahnya lapisan
protektif itu. Lapisan protektif atau lapisan pasif yang pecah akan mengakibatkan jenis korosi
batas butir (intergranular corrosion) sehingga selanjutnya kan terjadi pelepasan butir-butir logam
dari logam ke lingkungan (exfoliation corrosion) Paduan tembaga; Perunggu dan kuningan
umumnya digunakan untuk material perpipaan, katup-katup dan perkakas (perabotan). Material
tersebut rentan terhadap korosi reta k tegang (stress corrosion cracking) saat di lingkungan
bersenyawa amonia, dealloying dan menyebabkan korosi dwi logam saat dipasangkan dengan
baja atau struktur logam lainnya. Umumnya paduan-paduan tembaga relatif lunak sehingga
rentan terjadi korosi erosi
Titanium : Titanium merupakan salah satu logam yang ada di alam namun jumlahnya
terbatas sehingga relatif mahal saat pembuatannya. Aplikasi logam umumnya ini sebagai bahan
industri antariksa dan industri proses kimia. Dua jenis paduan titanium secara umum yaitu
paduan ruang angkasa (aerospace alloy) dan paduan tahan korosi. Walaupun mempunyai
ketahanan lebih dari materila logam lainnya, titanium dapat terjadi korosi celah.

PROTEKSI KATODIK DAN ANODIK

Proteksi katodik adalah jenis perlindungan korosi dengan menghubungkan logam yang
mempunyai potensial lebih tinggi ke struktur logam sehingga tercipta suatu sel elektrokimia
17

dengan logam berpotensial rendah bersifat katodikdan terproteksi


Proteksi katodik dibagi dua metode :
Arus tanding (impressed current)

Proteksi katodik dengan sistem arus tanding dilakukan dengan alat sumber arus dari luar, anoda
yang digunakan umumnya tidak habis, umumnya digunakan saat kebutuhan arus tinggi dan
lingkungan resistivitas tinggi

Anoda tumbal (sacrificial anode)


18

Proteksi katodik dilakukan dengan menghubungkan anoda tumbal ke struktur, prinsipnya untuk
membuat suatu sel galvanik dengan mewakilkan anoda sebagai material kurang mulia yang akan
habis saat interaksi galvanik

PELAPISAN (COATING)

Metode pelindungan logam terhadap serangan korosi adalah dengan pelapisan. Prinsip
umum dari pelapisan yaitu melapiskan logam induk dengan suatu bahan atau material pelindung.
Jenis-jenis pelapisan sebagai pelindung proses korosi dapat dibagi secara umum tiga bagian yaitu
pelapisan organik , non organik dan logam.
a.Pelapisan logam dan non organik
Pelapisan dengan ketebalan tertentu material logam dan non organik dapat memberikan
pembatas antara logam dan lingkungannya.
Metode pelapisan dengan logam :
1Electroplating (Penyepuhan listrik) : Komponen yang akan dilapis dan batangan atau pelat
logam direndam dalam suatu larutan elektrolit yang mengandung garam-garam logam bahan
penyepuh. Kemudian suatu potensial diberikan ke dalam sel sehingga komponen sebagai katoda
dan batangan logam penyepuh menjadi anoda, ion-ion logam penyepuh dari larutan akan
mengendap ke permukaan komponen sementara dari anoda ion-ion terusa terlarut.
2.Hot dipping (Pencelupan panas) : Komponen dicelipkan ke dalam wadah besar berisi logam
pelapis yang meleleh (dalam kedaan cair). Antara logam pelapis dan logam yang dilindungi
terbentuk ikatan secara metalurgi baik karena terjadinya proses perpaduan antarmuka (interface
alloying).
3.Flame spraying (Penyemprotan dengan semburan api) : Logam pelapis berbetuk kawat
diumpankan pada bagian depan penyembur api dan meleleh kemudian segera dihembuskan
dengan tekanan yang
tinggi menjadi butiran-butiran halus. Nutiran-butiran halus dengan kecepatan 100-150 m/s
menjadi pipih saat menumbuk permukaan logam dan melekat.
4.Cladding: Lapisan dari logam tahan korosi dilapiskan ke logam lain yang tidak mempunyai
19

ketahan korosi terhadap lingkungan kerja yang kurang baik namun dari segi sifat mekanik, fisik
dsb baik.
5.Diffusion (pelapisan difusi) : Teknik mendifusikan logam pelapis atau pelapis bukan logam ke
dalam lapisan permukanan logam yang dilindungi dengan membentuk selapis logam paduan
pada komponen

b.Pelapisan Organik
Pelapisan ini memberikan batasan-batasan antara material dasar dan lingkungan.
Pelapisan organik antara lain cat, vernis, enamel dan selaput organik dan sebagainya.

PERUBAHAN MEDIA DAN INHIBITOR

Perubahan Media Perubahan media lingkungan bertujuan untuk mengurangi dampak korosi.
Parameter-parameter umum yaitu :
Penurunan temperatur
Penurunan laju alir larutan elektrolit
Menghilangkan unsur oksigen atau oksidiser
Perubahan kosentrasi

Inhibitor
Inhibitor adalah suatu subtansi senyawa yang dimana ditambah dengan konsentrasi kecil ke
lingkungan sehingga mengurangi laju korosi yang ada. Inhibitor dapat dikatakan sebagai katalis.

KETAHANAN KOROSI BAJA RINGAN DI LINGKUNGAN AIR LAUT

DASAR TEORI
Faktor logam dan faktor lingkungan merupakan faktor utama penyebab terjadinya korosi.
Faktor logam disebut sebagai faktor dalam seperti komponen-komponen penyusunnya atau
cacat kristal. Faktor lingkungan disebut faktor luar yang disebabkan oleh konsentrasi oksigen
20

dalam air atau dalam udara bebas, pH, temperatur, komposisi kimia atau konsentrasi larutan.
Reaksi elektrokimia penyebab terjadinya korosi dapat dijelaskan dengan menggunakan
molekul natrium klorida, yaitu reaksi-reaksi yang menggambarkan pembentukan garam dapur
sebagai berikut: Korosi galvanik adalah korosi yang disebabkan karena adanya dua logam yang
terhubung (coupled) dalam elektrolit yang korosif. Perbedaan potensial biasanya ada diantara
dua logam tak sejenis ketika tercelup dalam larutan korosif atau konduktif. Jika logam ini
dihubungkan secara elektronik, perbedaan potensial ini menghasilkan aliran elektron diantara
dua logam tersebut.
Logam yang kurang resisten terhadap korosi bersifat anodik dan akan mengalami korosi,
sedangkan logam yang lebih resisten terhadap korosi bersifat katodik dan terlindung dari korosi.
Proteksi Katodik
Proteksi katodik dilakukan sebagai salah satu cara pencegahan korosi pada logam. Proteksi ini
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
Metode anoda tumbal (sacrificial anode method),Metode arus terpasang (impressed current
method)
Prinsip dasar dari perlindungan katodik ini adalah dengan menggandengkan logam yang
akan kita lindungi dengan logam lain yang bersifat lebih tahan korosi, seperti seng dan
aluminium. Bahan anoda yang tepat dan didistribusikan merata pada permukaan logam yang
akan dilindungi akan memungkinkan polarisasi katodiknya mencapai potensial lebih negatif.
Cara ini disebut anoda-anoda tumbal (sacrificial anode).
Bahan yang paling banyak digunakan sebagai anoda tumbal di lingkungan air laut adalah
seng, tetapi seng murni yang terdapat di pasaran akan terkorosi di air laut sambil membentuk
selapis kulit kedap air yang membatasi keluaran arus. Dari beberapa jenis bahan, besi paling
menimbulkan efek merusak terhadap anoda karena kelarutannya dalam seng yang rendah,
sehingga jika berlebihan akan membentuk seng hidroksida atau seng karbonat yang tidak dapat
larut dan mengakibatkan anoda tidak efektif. Dalam hal ini penambahan aluminium
menguntungkan, karena mengakibatkan terbentuknya antar logam aluminium atau besi yang
lebih tidak mulia, sehingga mengurangi efek sel korosi lokal.

Perhitungan Laju Korosi


Pengujian laju korosi dengan tipe tiga sel elektroda didasarkan pada metode ekstrapolasi
21

tafel. Pengujian ini menggunakan tiga elektoda.Elektroda kerja (working electrode).Elektroda


kerja sebagai elektroda yang akan diteliti, adalah pengganti dari anoda karena penelitiannya tidak
terbatas hanya pada perilaku yang bersangkutan dengan anoda tetapi juga penyelidikan tentang
perilaku katoda.
Elektroda pembantu (counter or auxiliary electrode).
Elektroda pembantu adalah elektroda kedua yang khusus untuk mengangkut arus dalam
rangkaian yang terbentuk dalam penelitian. Elektroda ini tidak digunakan untuk mengukur
potensial. Platina, emas dan titanium dapat digunakan sebagai bahan elektroda pembantu.
Elekroda acuan (reference electrode).
Elektroda acuan adalah elektroda yang digunakan sebagai titik dasar yang sangat
mantap untuk mengacu pengukuran-pengukuran potensial elektroda kerja. Arus yang mengalir
melalui elektroda.ini kecil sekali sehingga dapat diabaikan. Elektroda acuan yang sering
digunakan adalah elektroda kalomel jenuh. Ketiga elektroda tersebut dicelupkan di dalam
larutan elektrolit pada tabung elektrokimia dan terhubung dengan potensiostat atau galvanostat.
Proses korosi dimulai dengan pemberian potensial pada elektroda kerja dari -2000 mV
sampai dengan 2000 mV dan di-scanning dengan kecepatan tertentu kemudian diplot pada
diagram kurva potensial lawan logaritma intensitas arus. Proses yang terjadi pada elektroda
kerja adalah sebagai berikut :
Elektroda kerja diberi potensial negatif (polarisasi katodik).
Elektroda kerja mengalami reaksi reduksi yang ditunjukkan dengan gradien negatif pada
grafik sebelah kiri. Reaksi ini terjadi saat diberi potensial sebesar -2000 mV dan diperbesar
sampai dengan arus reduksi mencapai nol pada potensial korosi (ekor) tertentu. Proses reduksi
berakhir ketika arus mencapai nilai nol.
Elektroda kerja diberi potensial positip (polarisasi anodik).
Elektroda kerja mengalami reaksi oksidasi setelah reaksi reduksi berakhir, ditunjukkan
dengan gradien positip pada grafik sebelah kanan. Reaksi ini terjadi saat diberi potensial dan arus
yang semakin besar. Potensial yang biasanya diberikan sampai dengan 2000 mV.
22

Gambar 1. Skema alat uji korosi tipe sel tiga elektroda

Gambar 2. Grafik kurva potensial versus log intensitas arus.


23

Rapat arus korosi (ikor) diperoleh dari hasil ekstrapolasi kurva potensial lawan logaritma
intensitas arus yaitu dengan cara menentukan titik perpotongan garis tafel reaksi reduksi dan
garis tafel reaksi oksidasi pada garis potensial korosi (Ekor).
Perilaku pelapisan dengan logam dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor tersebut
a
antara lain sifat elektrolit, konsentrasi oksigen, luas relatif anoda dan katoda dan endapan
permukaan pada lapisan. Pada lapisan anoda tumbal konduktivitas dan kontinuitas elektrolit
akan menentukan ukuran cacat permukaan yang masih diperbolehkan agar korosi tidak
terjadi.dan lingkungannya. Pada pelapisan seng yang tipis, akan lebih memungkinkan
tergoresnya lapisan, sehingga mengakibatkan lapisan akan hilang dan logam yang dilapisi
akan terserang korosi.
Lapisan zincalume pada permukaan baja ringan
Penentuan harga rapat arus korosi secara tepat sangat diperlukan, karena rapat arus
korosi sebanding dengan laju korosi suatu logam dalam. medium/lingkungannya, hal ini
sesuai dengan persamaan laju korosi dalam mils (0,001 inchi) per year (mpy).berfungsi
sebagai tumbal saat terjadi korosi. Korosi akan terjadi terlebih dahulu pada lapisan tersebut,
hingga lapisan tersebut habis, setelah itu barulah korosi menyerang baja. Faktor lingkungan
air laut dengan kandungan NaCl di dalamnya akan berpengaruh terhadap kecepatan korosi.

Kandungan unsur yang hampir sama yaitu 0,95%C untuk ketiga material memberikan hasil
uji kekuatan tarik yang hampir sama sebesar 60 kg/mm2. Kekuatan tarik sebesar ini
menyebabkan baja tersebut dapat menahan kekuatan lebih besar dibanding baja konstruksi
pada umumnya. Dengan demikian dapat dibuat struktur rangka baja yang lebih tipis sehingga
keseluruhan rangka baja menjadi lebih ringan.

Tabel 2. Karakteristik Material Baja Ringan.


Tebal Kekuatan
Merk Tebal Lapisan Tarik Kandungan
(mm) (µm) (kg/mm2 Unsur (%)
)
A 1,06 21,58 59,7 0,93 C; 0,86
Si
B 1,04 13,13 56,7 0,95 C; 2,01
24

Si
C 1,02 12,83 61,7 0,95 C; 0,95
Si

Kandungan unsur yang terdapat pada air laut yang diambil dari pantai Aceh, Tanjung Mas
dan Samas menunjukkan kandungan natrium khlorida (NaCl) yang hampir sama yaitu sekitar
3% (Tabel 3). Kandungan NaCl ini yang akan sangat mempengaruhi laju korosi material
dalam lingkungan air laut. Meskipun pada kenyataannya masih ada faktor lain yang akan
berpengaruh pada saat baja ringan lapis zincalume dipasang seperti suhu udara, kelembaban,
angin, cuaca dan sebagainya.

Tabel 3. Kandungan NaCl pada Air Laut.


Pantai Kandungan NaCl
Aceh 3,00%
Tanjung Mas 2,98%
Samas 3,09%

Hasil pengujian laju korosi material dapat dilihat pada grafik tersebut di bawah ini:

11L
51
P
00E
00
.XA
X0
N
S
9JGXA
0UEM
. N
8KCA
0OES
. RT
7AR
NL
0O
.S S
A
6 A
I
0IR M
.B
5L A
A
0A S
.JUL
4AT
0 T
.R A
3I N
J
0N U
. N
2G G
0A M
. A
1N S
Gambar 3. Grafik Laju Korosi Baja Ringan A (TL: Tanpa Lapisan; L: Dengan Lapisan.
0A T
L

T
A
N
J
U
N
G

M
A DAFTAR PUSTAKA
S
L

A
C
E
H
T
L
A
C
E
H
L
25

http://id.wikipedia.org/wiki/Pelapisan_krom(diakses pada 13 april 2020)

http://wwwmakalahkimiadasar.blogspot.co.id/2015/10/makalah-korosi.html (diakses pada 13

april 2020)

http://icheanindita.blogspot.co.id/2012/06/makalah-korosi.html (diakses pada 13 april 2020)