Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PELAYANAN KB

KONTRASEPSI BUKAN TANGGUNG JAWAB PEREMPUAN

Oleh:

KHOLILAH
NIM 19153020024

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN

NGUDIA HUSADA MADURA


2019
1. Masalah
Kontrasepsi Bukan Tanggung Jawab Perempuan
Kontrasepsi bukanlah tanggung jawab, melainkan hak perempuan. Meski demikian,
penggunaannya justru masih dibebankan kepada perempuan. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menyatakan jumlah laki-laki yang berkontribusi
langsung dalam program Keluarga Berencana (KB) sangat rendah. Penggunaan kondom
baru sekitar 2,5% dan vasektomi 0,2%. Beberapa faktor penyebabnya adalah kondisi
sosial dan budaya, juga akses dan informasi tentang KB maupun kesehatan reproduksi
yang terbatas.
“[…] Padahal kontrasepsi yang berarti cara mencegah kehamilan akibat pertemuan
sel telur dan sperma ini bisa dilakukan oleh kedua belah pihak, tak melulu urusan
perempuan,” kata kolumnis Uly Siregar. Ia berpendapat, edukasi dan imbauan bagi kaum
laki-laki agar mengakrabkan diri dengan alat kontrasepsi perlu terus-menerus digalakkan.
"Sudah saatnya kaum laki-laki Indonesia berperan aktif dalam mencegah kehamilan tak
direncanakan. Dalam keluarga, perencanaan jumlah anak sangat penting.”
Menurut data SDKI 2017 (PDF), rata-rata ibu melahirkan 2–3 anak. Hingga akhir
2018, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Indonesia berada di posisi 1,39%, dan itu
tergolong tinggi. Dengan kata lain, jumlah bayi yang lahir setiap tahun mencapai 4,2 juta
hingga mendekati 4,8 juta.
Mantan Kepala BKKBN Sugiri Syarief menyebut jumlah penduduk Indonesia naik
lima kali lipat tiap 100 tahun. "Pada tahun 1900 jumlah penduduk mencapai 40 juta,
sedangkan pada tahun 2000 mencapai 200 juta,” ungkapnya, dilansir dari Antara.
Berdasarkan perhitungan ini, maka penduduk Indonesia pada 2100 bisa mencapai satu
miliar.
Penduduk yang terus bertambah rawan menimbulkan beragam masalah, mulai dari
kualitas kesehatan, lingkungan, hingga ketersediaan pangan. Semakin tinggi jumlah
penduduk, meningkat pula kebutuhan akan pangan padahal lahan produksi berkurang
seiring pembangunan. Sementara dari sisi kesehatan, tingkat kelahiran yang tinggi
memengaruhi jumlah kematian ibu dan bayi. Itulah mengapa mengendalikan jumlah
penduduk melalui penurunan Total Fertility Rate (TFR) atau Angka Kelahiran Total
menjadi sangat penting.
Salah satu solusi untuk menekan ledakan jumlah penduduk adalah Keluarga
Berencana (KB)—program ini digalakan pemerintah sejak 1970—yang memungkinkan
tiap pasangan mengatur angka dan jarak kelahiran anak. Dan dalam KB, alat kontrasepsi
merupakan investasi kesehatan paling sederhana. Alat kontrasepsi digunakan untuk
memastikan kehamilan aman sehingga menekan angka kecacatan hingga kematian terkait
komplikasi kehamilan dan persalinan, juga mengurangi potensi aborsi akibat kehamilan
tak diinginkan.
Sejak 1996, DKT Indonesia—pionir pemasaran sosial kontrasepsi di Indonesia
sekaligus mitra Kemenkes RI dan Komisi Penanggulangan AIDS—telah berkontribusi
menyumbang Modern Contraceptive Pravelance Rate di Indonesia sebesar 20,4% dari
sektor swasta.
Hingga 2018, Organisasi nirlaba ini pun telah melindungi 8,5 juta pasangan dalam
program KB serta mencegah 3,2 juta kehamilan tidak direncanakan, 1.300 kematian ibu,
dan 7.500 kematian bayi setiap tahunnya melalui berbagai pilihan metode kontrasepsi
modern, seperti IUD, implan, Pil KB, KB Suntik dan Postpil atau Pil Kontrasepsi
Darurat. Beberapa produk kontrasepsi DKT Indonesia juga dapat dengan mudah
ditemukan di pasaran, antara lain, Kondom Sutra, Kondom Fiesta, Supreme Premium
Condoms, dan Kontrasepsi Andalan.
Bertepatan dengan perayaan World Contraception Day (WCD) atau Hari
Kontrasepsi Sedunia pada 26 September ini, DKT Indonesia mengajak masyarakat lebih
aktif mencari tahu tentang kontrasepsi dan kesehatan reproduksi sehingga keputusan KB
tak lagi sepenuhnya dibebankan kepada perempuan. Laki-laki sangat mungkin turut aktif
menggunakan kondom, sementara perempuan bisa lebih berani mengambil keputusan
terhadap tubuhnya sendiri, terutama terkait dengan kesehatan reproduksi—seperti kapan
ingin punya anak, berapa jumlahnya, dan berapa jarak usianya.
Pemilihan kontrasepsi sebaiknya tak lepas dari saran dokter maupun bidan untuk
memastikan agar sesuai dengan tubuh atau kondisi kesehatan masing-masing. Selama ini,
kenyamanan dan privasi sering kali menjadi pertimbangan seseorang maupun pasangan
yang ingin berkonsultasi seputar reproduksi, baik perencanaan keluarga, penggunaan alat
kontrasepsi, maupun pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS) hingga HIV/AIDS.
Sebagai solusi, DKT Indonesia memberikan layanan konsultasi gratis Halo DKT
yang dapat diakses melalui nomor telepon 0800-1-326459 (bebas pulsa). Medical
Representatives andal siap memberikan informasi lengkap seputar kesehatan reproduksi
mulai dari Senin hingga Jumat, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Satu hal yang
terpenting, semua informasi yang disampaikan terjamin kerahasiaannya, sehingga aman
dan terpercaya. Informasi lebih lanjut, silakan klik.
Berdasarkan laporan United Nations Population Fund (sebelumnya UNFPA),
perencanaan kelahiran anak berdampak positif, terutama bagi perempuan. Bisa
menuntaskan pendidikan sebelum fokus mengurus anak merupakan hak perempuan.
Terkait dengan pekerjaan, perempuan pun memiliki hak untuk merencanakan karier dan
kehamilan secara lebih fleksibel.
KB membantu terciptanya kehamilan yang sehat, memastikan ibu lebih fokus
mendampingi tumbuh-kembang anak dan tetap memiliki ruang untuk diri sendiri maupun
bersosialisasi.

2. Opini
KB merupakan salah satu program yang diadakan oleh pemerintah untuk menekan
laju pertumbuhan penduduk. Semakin banyak jumlah penduduk suatu negara maka
semakin banyak masalah sosial ekonomi yang akan timbul sehingga jumlah penduduk
harus bisa dikendalikan. Peserta KB tidak hanya wanita saja akan tetapi pria juga
berkontribusi dalam program KB, akan tetapi dalam stigma masyarakat KB hanya
diperuntukkan bagi wanita. Jika KB dibebankan kepada setiap wanita maka hal itu tidak
ada masalah bagi wanita yang tidak ada kontra indikasi dalam menggunakan kontrasepsi,
akan tetapi bagi wanita yang secara kesehatan tidak bisa menggunakan kontrasepsi
hormonal maka pilihannya adalah kontrasepsi non hormonal seperti IUD atau KB alami.
Akan tetapi tidak semua wanita mau untuk menggunakan IUD sehingga pilihannya selain
KB alami adalah suami yang mengikuti program KB sehingga tidak terjadi kehamilan
yang tidak diinginkan dan laju pertumbuhan penduduk masih bisa dikendalikan.

3. Solusi
 Pemerintah memberikan sosialisasi tentang KB dimana tidak hanya bagi
perempuan saja akan tetapi pria juga bisa menggunakan Kontrasepsi.
 Bidan memberikan konseling pada setiap pasangan suami istri tentang macam-
macam kontrasepsi.
4. Kesimpulan

Singkatnya, KB membantu perempuan Indonesia menjalani kehidupan yang


seimbang. PBB pun meyakini, kualitas perempuan yang lebih baik membuat ekonomi
keluarga semakin kuat, kemiskinan berkurang, dan pada akhirnya berdampak positif
terhadap pembangunan. Namun KB tak bisa diusahakan sendiri, ia merupakan wujud
komitmen bersama antara laki-laki dan perempuan menuju keluarga Indonesia yang sehat
dan sejahtera