Anda di halaman 1dari 13

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Data umum

4.1.1 Data Geografi

Puskesmas Kokop terletak di Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan.

Wilayah kerja Puskesmas Kokop berbatasan dengan :

a) Sebelah utara : Kecamatan Tanjung Bumi

b) Sebelah timur : Kecamatan Sampang

c) Sebelah selatan : Kecamatan Konang

d) Sebelah barat : Kecamatan Sepuluh

Berdasarkan kondisi geografis wilayah kerjanya Puskesmas Kokop

membawahi 13 desa dengan luas wilayah kecamatan yaitu 125.755 km2,

terdiri dari :

a) Desa Dupok : 10,00 km2

b) Desa Batokorogan : 3,36 km2

c) Desa Banda Soleh : 4,64 km2

d) Desa Tramotk : 18,89 km2

e) Desa Katol Timur : 11,52 km2

f) Desa Lembung : 4,68 km2

g) Desa Amparaan : 5,18 km2

h) Desa Kokop : 8,32 km2

i) Desa Tlokoh : 13,14 km2

j) Desa Mano’an : 9,77 km2

60
61

k) Desa Durjan : 18,89 km2

l) Desa Bandang Laok : 12,51 km2

m) Desa Mandung : 13,62 km2

4.1.2 Data Demografi

Jumlah penduduk seluruhnya di kecamatan Kokop adalah 59.626 terdiri

dari :

a) Laki-laki : 25.450 orang

b) Perempuan : 34.176 orang

4.1.3 Data Karakteristik Responden

a. Umur ibu

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi umur ibu di wilayah kerja Puskesmas Kokop
pada Bulan Januari 2020
Umur ibu Frekuensi Persentase (%)
Remaja akhir (17-25th) 54 28,9
Dewasa awal (26-35th) 114 60,9
Dewasa akhir (36-45th) 19 10,2
Total 187 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa umur ibu di wilayah

kerja Puskesmas Kokop sebagian besar dewasa awal sebanyak 114 orang

(60,9%).

b. Umur bayi

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi umur bayi di wilayah kerja Puskesmas Kokop
pada Bulan Januari 2020
Umur bayi (bln) Frekuensi Persentase (%)
9 53 28,3
10 69 36,9
11 32 17,1
12 33 17,6
Total 187 100
Sumber : Data Primer
62

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa umur bayi di wilayah

kerja Puskesmas Kokop hampir setengahnya berumur 10 bulan sebanyak 69

orang (36,9%).

c. Pendidikan ibu

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi pendidikan ibu di wilayah kerja Puskesmas


Kokop pada Bulan Januari 2020
Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
SD 95 50,8
SMP 33 17,6
SMA 59 31,6
Total 187 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa pendidikan ibu di

wilayah kerja Puskesmas Kokop setengahnya tamat SD sebanyak 95 orang

(50,8%).

d. Pekerjaan ibu

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi pekerjaan ibu di wilayah kerja Puskesmas


Kokop pada Bulan Januari 2020
Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
IRT 96 51,3
Pedagang 14 7,5
Petani 69 36,9
Guru 8 4,3
Total 187 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa pekerjaan ibu di wilayah

kerja Puskesmas Kokop sebagian besar bekerja sebagai IRT sebanyak 96

orang (51,3%).
63

4.2 Data Khusus

a. Pengetahuan ibu

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi pengetahuan ibu di wilayah kerja Puskesmas


Kokop pada Bulan Januari 2020
Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)
Baik 39 20,9
Cukup 99 52,9
Kurang 49 26,2
Total 187 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu di

wilayah kerja Puskesmas Kokop sebagian besar cukup sebanyak 99 orang

(52,9%).

b. Motivasi keluarga

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi motivasi keluarga di wilayah kerja


Puskesmas Kokop pada Bulan Januari 2020
Motivasi keluarga Frekuensi Persentase (%)
Kuat 35 18,7
Sedang 39 20,9
Lemah 113 60,4
Total 187 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa motivasi keluarga di

wilayah kerja Puskesmas Kokop sebagian besar adalah lemah sebanyak 113

orang (60,4%).

c. Peran tenaga kesehatan

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi peran tenaga kesehatan di wilayah kerja


Puskesmas Kokop pada Bulan Januari 2020
Peran tenaga kesehatan Frekuensi Persentase (%)
Baik 117 62,6
Cukup 70 37,4
Kurang 0 0
Total 187 100
Sumber : Data Primer
64

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa peran tenaga kesehatan di

wilayah kerja Puskesmas Kokop sebagian besar adalah baik sebanyak 117

orang (62,6%).
BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap di wilayah

kerja Puskesmas Kokop

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu di

wilayah kerja Puskesmas Kokop sebagian besar cukup sebanyak 99 orang

(52,9%).

Pengetahuan responden yang cukup mengenai informasi tentang imunisasi

dasar lengkap pada bayi dikarenakan usia ibu yang sebagian besar adalah usia

26-30 tahun. Usia tersebut tergolong pada usia dewasa awal, dimana ibu bisa

mengerti dan memahami tentang ssesuatu hal dengan lebih baik. Dalam hal ini

ibu mendapatkan informasi tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi tidak

hanya melalui penyuluhan yang diberikan baik oleh tenaga kesehatan maupun

kader kesehatan tetapi juga melalui media social. Saat ini peran media social atau

internet sangatlah penting, melalui internet ssemua orang bisa mengakses segala

macam informasi yang mereka butuhkan, tidak hanya berupa tulisan tetapi juga

berupa video atau gambar yang sangat menarik sehingga tidak membosankan

bagi yang membacanya. Dengan seringnya ibu mendapatkan penyuluhan atau

seringnya mencari informasi melalui internet tentang imunisasi maka

pengetahuan ibu akan semakin bertambah.

Pendidikan ibu yang sebagian besar hanya tamat SD juga

sangat berpengaruh pada tingkat pengetahuan ibu. Pendidikan

menjadi hal yang sangat penting dalam mempengaruhi

70
66

pengetahuan. Individu yang mempunyai tingkat pendidikan

tinggi cenderung lebih mudah menerima informasi bagitu juga

dengan masalah informasi tentang imunisasi yang diberikan

oleh petugas kesehatan, sebaliknya ibu yang tingkat

pendidikannya rendah akan mendapat kesulitan untuk

menerima informasi yang ada sehingga mereka kurang

memahami tentang kelengkapan imunisasi. Pendidikan

seseorang berbeda- beda juga akan mempengaruhi seseorang

dalam pengambilan keputusan, pada ibu yang berpendidikan

tinggi lebih mudah menerima suatu ide baru dibandingkan ibu

yang berpendidikan rendah sehingga informasi lebih mudah

dapat diterima dan dilaksanakan.

Faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo dalam

Triana (2015) salah satunya adalah pendidikan dan usia. Makin tinggi tingkat

pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak

pula pengetahuan yang dimiliki. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan

kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.

5.2 Gambaran motivasi keluarga tentang imunisasi dasar lengkap di wilayah

kerja Puskesmas Kokop

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa bahwa motivasi

keluarga di wilayah kerja Puskesmas Kokop hampir setengahnya adalah lemah

sebanyak 113 orang (60,4%). Motivasi adalah alasan yang mendasari

sebuah perbuatan yang dilakukan oleh sesorang. Motivasi


67

menjadi suatu dorongan kehendak yang menyebabkan

seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan

tertentu. Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya,

atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam

diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik

disadari maupun tidak disadari. Motivasi seseorang dapat

ditimbulkan dan tumbuh berkembang melalui dirinya sendiri

dan dari lingkungan.

Motivasi anggota keluarga terhadap ibu untuk bisa memberikan imunisasi

dasar lengkap pada bayi merupakan hal yang sangat penting. Ibu yang memiliki

motivasi keluarga lemah dikarenakan masih banyaknya anggapan masyarakat

bahwa imunisasi hanya akan menimbulkan rasa sakit pada anak, misalnya saja

efek samping panas yang terjadi pada anak pasca imunisasi DPT, orang tua

jaman dahulu sangat tidak setuju terhadap efek samping itu, akibat dari efek

samping tersebut anak menjadi sakit dan tentunya akan rewel yang akan

berimbas pada orang tua yang akan kerepotan harus menjaga anaknya lebih baik

dari sebelumnya agar anak cepat sehat. Hal ini tentunya membuat orang tau

menjadi enggan untuk memberikan imunisasi berikutnya pada anaknya, sehingga

hal ini akan diturunkan pada generasi berikutnya dan akan menjelaskan pada

anak cucunya bahwa imunisasi hanya akan membuat anak menjadi sakit.

Kurangnya pengetahuan keluarga tentang efek samping dan penanganannya

inilah yang menjadikan keluarga menjadi tidak memotivasi ibu memberikan

imunisasi pada anaknya.


68

Motivasi keluarga yang menjadi penyebab

ketidaklengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi lainnya

adalah desas-desus yang didengar oleh ibu tentang imunisasi

seperti adanya anggapan yang menyatakan bahwa imunisasi

tersebut tidak berguna, imunisasi tersebut haram untuk

diberikan pada bayi dan seterusnya. Motivasi keluarga lainnya

yang mempengaruhi kelengkapan pemberian imunnisasi pada

anak adalah kepercayaan ibu terhadap imunisasi tersebut.

Dengan adanya anggapan-anggapan negativ ini sehingga

mendorong orang tua/ibu untuk tidak memberikan imunisasi

pada anaknya. Oleh karena itu disarankan kepada tenaga

kesehatan agar memberikan arahan/ dorongan kepada orang

tua khususnya ibu agar merubah anggapan-anggapan negativ

tentang imunisasi dengan cara melakukan penyuluhan rutin,

penyuluhan ini diutamakan pada ibu yang tidak memberikan

imunisasi dasar lengkap pada bayinya agar mereka

memberikan imunisasi yang lengkap pada anak mereka

berikutnya.

Sunaryo (2014) menjelaskan bahwa proses terjadinya motivasi yaitu

timbul diawali dengan adanya dorongan yang menggerakkan manusia untuk

berperilaku. Motivasi terjadi karena adanya dorongan untuk memenuhi

kebutuhan. Kebutuhan dipandang sebagai sesuatu yang kurang pada diri individu

yang menuntut untuk segara terpenuhi. Kekurangan tersebut akan menjadi


69

sebagai dorongan yang membuat individu berperilaku untuk memenuhi

kebutuhannya

5.3 Gambaran peran tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kokop

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa peran tenaga

kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kokop sebagian besar baik sebanyak 117

orang (62,6%). Pelayanan Kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan

sendiri/secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan penyakit serta

memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat.

Pelayanan kesehatan merupakan upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara

bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan

kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan

perorangan, keluarga, kelompok dan atupun masyarakat. Semakin bagus

pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan maka hal ini akan

berdampak pada semakin meningkatnya derajat kesehata, begitu juga dengan

imunisasi, semakin bagus pelayanan imunisasi yang didapatkan oleh orang tua

dan bayi maka semakin besar cakupan pemberian imunisasi dasar lengkap.

Peran tenaga kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam

mencapai kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada anak. dalam hal ini tenaga

kesehatan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya

imunisasi dasar lengkap pada anak. Penyuluhan tidak hanya diselenggarakan di

setiap desa oleh pemegang program imunisasi, guna menambah pemahaman ibu
70

tentang imunisasi, bidan desa juga sering memberikan penyuluhan secara pribadi

di saat posyandu.

Menurut Potter & Perry (2007), adapun peran petugas kesehatan salah

satunya adalah sebagai komunikator. Salah tujuan komunikasi adalah mengubah

sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang sebagaimana yang

dikehendaki komunikator, agar isi pesan yang disampaikan dapat dimengerti,

diyakini serta pada tahap selanjutnya. petugas kesehatan secara fisik dan

psikologis harus hadir secara utuh pada waktu berkomunikasi dengan klien.
BAB 6

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

Berdasarkan interprestasi hasil penelitian dan pembahasan faktor-faktor

yang berhubungan dengan rendahnya kelengkapan status imunisasi dasar

lengkap pada bayi usia 9-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kokop maka

dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

6.1.1 Pengetahuan ibu tentang imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Kokop

sebagian besar adalah cukup

6.1.2 Motivasi keluarga di wilayah kerja Puskesmas Kokop sebagian besar adalah

lemah

6.1.3 Peran tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kokop sebagian besar

adalah baik

6.2 Saran

6.2.1 Teoritis

Hendaknya peneliti lain meneliti tentang faktor-faktor yang

berhubungan dengan rendahnya kelengkapan status imunisasi dasar lengkap

dari perspektif yang berbeda, sehingga dapat memberikan gambaran secara

utuh tentang apa saja yang menjadi factor orang tua tidak memberikan

imunisasi dasar lengkap pada anaknya. Selain itu hasil penelitian ini dapat

dijadikan sebagai acuan dan perbandingan untuk melakukan penelitian yang

sejenis.
71

6.2.2 Praktis

Sebagai tenaga kesehatan hendaknya memberikan informasi yang lebih

banyak dan lebih sering lagi kepada masyarakat tentang pentingnya

pemberian imunisasi dasar lengkap pada anak. Dengan seringnya penyuluhan

maka diharapkan akan merubah pandangan negative masyarakat tentang

imunisasi sehingga orang tua mau memberikan imunisasi dasar lengkap pada

anaknya.