Anda di halaman 1dari 8

TUGAS RUTIN 1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa saya juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

    Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

    Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

                                                                                      
Medan, 03 september 2018

Susi Panjaitan
NIM.3173131034
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 

Danau merupakan komponen yang sangat penting dalam


keseimbangan sistem tanah, air, udara dan sumberdaya
alam lainnya. Dari sudut ekologi misalnya, danau merupakan
ekosistem yang terdiri dari unsur air, kehidupan akuatik dan
daratan yang dipengaruhi tinggi rendahnya muka air.

Selain itu, kehadiran danau juga akan mempengaruhi iklim


mikro dan keseimbangan ekosistem di sekitarnya.
Sedangkan ditinjau dari sudut keseimbangan tata air, danau
berperan sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya
untuk keperluan sistem irigasi dan perikanan, sebagai
sumber air baku, sebagai tangkapan air untuk pengendalian
banjir, serta penyuplai air tanah.

Danau Toba adalah danau alami besar di Indonesia yang berada di kaldera gunung berapi


super. Danau ini memiliki panjang 100 kilometer (62 mil), lebar 30 kilometer (19 mi), dan
kedalaman 1.600 meter (5.200 ft). Danau ini terletak di tengah pulauSumatera bagian utara
dengan ketinggian permukaan sekitar 900 meter (2.953 ft). Danau ini membentang dari 
2,88°LU 98,52°BT sampai  2,35°LU 99,1°BT. Ini adalah danau terbesar di
Indonesia dan danau vulkanik terbesar di dunia.[1]
Danau Toba adalah lokasi letusan gunung berapi super masif berkekuatan VEI 8 sekitar
69.000 sampai 77.000 tahun yang lalu[2][3][4] yang memicu perubahan iklim global. Metode
penanggalan terkini menetapkan bahwa 74.000 tahun yang lalu lebih akurat.[5] Letusan ini
merupakan letusan eksplosif terbesar di Bumi dalam kurun 25 juta tahun terakhir.
Menurut teori bencana Toba, letusan ini berdampak besar bagi populasi manusia di seluruh
dunia; dampak letusan menewaskan sebagian besar manusia yang hidup waktu itu dan
diyakini menyebabkan penyusutan populasi di Afrika timur tengah dan India sehingga
memengaruhi genetika populasi manusia di seluruh dunia sampai sekarang.[6]
Para ilmuwan sepakat bahwa letusan Toba memicu musim dingin vulkanik yang
menyebabkan jatuhnya suhu dunia antara 3 to 5 °C (5,4 to 9,0 °F), dan hingga 15 °C (27 °F)
di daerah lintang atas. Penelitian lanjutan di Danau Malawi, Afrika Tengah, menemukan
endapan debu letusan Toba, tetapi tidak menemukan bukti perubahan iklim besar di Afrika
Timur. Pada tanggal 18 Juni 2018, musibah tenggelamnya kapal feri terjadi di Danau Toba
dan menenggelamkan lebih dari 190 orang.
Kasus ikan mati yang melanda danau toba, provinsi sumatera utara fenomena kematian
massal ikan di danau toba mencapai 180ton. Kerugian nelayan pun di perkirakan mencapai
2,7 miliar. Oleh karena itu saya akan mengkaji faktor-faktor penyebab kematian massal ikan
tersebut.

1.2 Tujuan Penulisan 

Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kematian


massal ikan di danau toba
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Terbentuknya Danau Toba


Diperkirakan Danau Toba terbentuk saat ledakan sekitar 69.000-77.000 tahun
yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling
baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological
University memperkirakan bahwa jumlah total material pada letusan sekitar 2.800 km3 -
sekitar 2.000 km3 dari Ignimbrit yang mengalir di atas tanah, dan sekitar 800 km3 yang
jatuh sebagai abu terutama ke barat. Aliran piroklastik dari letusan menghancurkan area
seluas 20.000 km2, dengan deposito abu setebal 600 m dengan kawah utama.
Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan kepunahan pada beberapa spesies
makhluk hidup. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah
manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60
juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para
ahli masih memperdebatkannya. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang
kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba.
Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau
Samosir.

Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia,
mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah
ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan
dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan
sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan
bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber
letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.
Selama tujuh tahun, para ahli dari universitas Oxford tersebut meneliti proyek ekosistem
di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka
tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata
hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim
menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung
berapi purba.
Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia.
Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah
ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di
2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil,
dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu
sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya
letusan super gunung berapi Toba kala itu.
2.3 Faktor-Faktor Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau
Toba

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerjunkan Tim


Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Penyakit Ikan dan
Lingkungan guna menindaklanjuti kasus kematian massal
ikan di Danau Toba yakni di kelurahan Pintu Sona Kecamatan
Pangururan Kabupaten Samosir.
Tim Satgas yang diwakili para ahli perikanan budidaya pada
Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Jambi dan Balai
Karantina Ikan Medan ini bertugas untuk mengidentifikasi
sekaligus memetakan penyebab teknis dan sumber dampak
atas kematian massal ikan, sekaligus memberikan arahan
guna menentukan langkah-langkah yang dapat diambil.
Sebelumnya, kasus kematian massal ikan dialami oleh
sekitar 18 (delapan belas) kepala keluarga, sedangkan total
jumlah ikan mati diperkirakan mencapai 180 ton dengan
taksiran kerugian diperkirakan sedikitnya Rp2,7 miliar
(asumsi harga ikan Rp15.000  per kg).

Anggota Tim Satgas, Ahmad Jauhari dalam keterangan


tertulisnya menjelaskan bahwa hasil monitoring kualitas
perairan dan investigasi di lapangan setidaknya ada 3 (tiga)
dugaan sementara penyebab kematian massal ikan tersebut
yakni terjadinya penurunan suplai oksigen bagi ikan,
kepadatan ikan dalam KJA yang terlalu tinggi, dan lokasi KJA
terlalu dangkal, sementara dasar perairan merupakan
lumpur.
Menurutnya, turunnya suplai oksigen disebabkan oleh
terjadinya upwelling (umbalan) yang dipicu oleh cuaca yang
cukup ekstrem dan berakibat adanya perbedaan suhu yang
mencolok antara air permukaan dan suhu air di bawahnya,
inilah yang mengakibatkan terjadinya pergerakan masa air
dari bawah ke permukaan.
“Cuaca ekstrem telah memicu upwelling. Jadi, pergerakan
massa air secara vertikal ini membawa nutrient dan partikel-
partikel dari dasar perairan ke permukaan, dan ini
menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi
berkurang, apalagi lokasi KJA cukup dangkal dan sustratnya
berlumpur. Di samping itu, jika kami lihat, ternyata
kepadatan ikan dalam KJA juga terlalu tinggi, sehingga
sangat mengganggu sirkulasi oksigen”, jelas Jauhari dalam
keterangannya.
Tim Satgas juga merekomendasikan agar untuk sementara
waktu aktivitas KJA di hentikan terlebih dahulu sekitar dua
bulan, agar perairan bias me-recovery kondisinya seperti
semula.
“Ya paling tidak dua bulan ke depan, kami himbau
masyarakat menghentikan sementara waktu aktivitas
budidayanya, hingga perairan kembali stabil”, pungkasnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto


dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/8)
mengungkapkan keprihatinannya atas musibah tersebut.
Slamet menyatakan bahwa kasus upwelling di perairan
umum merupakan hal yang terjadi secara periodik khususnya
pada kondisi cuaca ekstrim. Untuk itu, menurutnya perlu
upaya yang sifatnya preventif sehingga kejadian serupa tidak
menimbulkan efek kerugian ekonomi yang lebih besar.
“Kasus up-welling di perairan umum ini, secara periodik
selalu terjadi, dan menjadi siklus tahunan, terlebih dipicu
oleh kondisi cuaca ekstrem. Karakteristiknya sama di hampir
seluruh perairan umum. KKP sebenarnya terus menerus telah
menghimbau masyarakat untuk melakukan pengelolaan
budidaya secara bertanggung jawab misalnya menerapkan
manajemen pakan yang lebih efisien, sumber pakan yang
sedikit mengandung phosphor, pengaturan kepadatan tebar,
pengaturan jadwal budidaya hingga pengaturan jumlah KJA
yang disesuaikan dengan daya dukung lingkungan yang
ada”, jelas Slamet.
DIa menambahkan, disisi lain masalah perairan umum ini
tidak bisa dilihat secara parsial tapi harus holistik, begitupun
dengan penyelesaiannya harus komprehensif. Ada banyak
faktor yang mempengaruhi kualitas lingkungan perairan.
Oleh karenanya, ia menghimbau semua pihak bisa duduk
bareng mencari solusi yang sifatnya jangka panjang.
Dari aspek legalitas, Slamet juga menggarisbawahi bahwa
aktivitas usaha budidaya ikan di Perairan Danau Toba telah
di atur dalam berbagai regulasi, diantaranya tertuang dalam
Peraturan Presiden No. 81 tahun 2014 tentang Rencana Tata
Ruang Kawasan Danau Toba dan Sekitarnya yang
membolehkan kegiatan budidaya ikan sepanjang dapat
dikendalikan dan dilakukan pada zona budidaya perikanan.

“Zonasi peruntukan budidaya juga telah kita atur agar sesuai


dengan Perpres. Khusus untuk Kawasan budidaya di
kelurahan Pintu Sona, Kecamatan Pangururan ini, memang
sejak tahun 2016 lalu tim kajian dari Litbang KKP sudah
rekomendasikan untuk dipindah ke lokasi yang lebih dalam.
Mengingat hasil kajian kesesuaian, lokasi saat in terlalu
dangkal yakni di bawah 30 meter dan berada di teluk,
padahal idealnya minimal 30 meter dan ini riskan karena
arus yang minim”, imbuhnya.
Berkaitan dengan upaya menyikapi kerugian ekonomi,
Slamet menyatakan akan berkoordinasi dengan Pemerintah
Daerah baik Provinsi dan Kabupaten guna menentukan
langkah selanjutnya terkait dukungan yang diperlukan. “Kita
tunggu kondisi perairan Stabil terlebih dahulu, nanti kita jalin
koordinasi dengan Pemerintah Daerah dalam menyikapi hal
ini”, pungkas Slamet.

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan 
Danau merupakan komponen yang sangat penting dalam
keseimbangan sistem tanah, air, udara dan sumberdaya
alam lainnya. Dari sudut ekologi misalnya, danau merupakan
ekosistem yang terdiri dari unsur air, kehidupan akuatik dan
daratan yang dipengaruhi tinggi rendahnya muka air.

Selain itu, kehadiran danau juga akan mempengaruhi iklim


mikro dan keseimbangan ekosistem di sekitarnya.
Sedangkan ditinjau dari sudut keseimbangan tata air, danau
berperan sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya
untuk keperluan sistem irigasi dan perikanan, sebagai
sumber air baku, sebagai tangkapan air untuk pengendalian
banjir, serta penyuplai air tanah.

Jadi Kesimpulan penulisan ini ada beberapa faktor penyebab


kematian massal ikan di danau toba,yaitu:Pertama, terjadi penurunan
suplai oksigen bagi ikan. Kedua, kepadatan ikan yang tinggi dan ketiga, keramba jaring
apung terlalu dangkal, sementara dasar perairan merupakan lumpur. suplai oksigen tersebut
menurun karena terjadi 'upwelling' (umbalan) atau pergerakkan material di dasar air ke
permukaan.

DAFTAR PUSTAKA

https://pspfpik015umi.wordpress.com/2017/05/27/makalah-waduk-dan-danau/
https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Toba