Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN ANAK DENGAN DIARE

OLEH:
NI MADE ARI LAKSMININGSIH
NIM. 1202106006

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. DEFINISI

Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi
(buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan
konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah.

Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3 kali/hari),
serta perubahan dalam isi (lebih dari 200 gr/hari) dan konsistensi (feces cair). Hal ini biasanya
dihubungkan dengan adanya kondisi yang menyebabkan perubahan pada sekresi usus, absorpsi
mukosal, atau motilitas usus (Sarwono, 2001).

Menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya
perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan
bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali
sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir
sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

2. PENYEBAB / ETIOLOGI
Penyebab utama diare akut adalah bakteri, parasit, maupun virus. Penyebab lain yang dapat
menimbulkan diare akut adalah cacing, toksin dan obat. Penyebab diare dapat dibagi dalam
beberapa faktor yaitu (Guyton & Hall, 2011):
a. Faktor infeksi
Infeksi enteral (infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama
diare)
1) Infeksi Virus
a) Retavirus
 Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahului atau disertai dengan
muntah.
 Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin.
 Dapat ditemukan demam atau muntah.
b) Enterovirus
 Biasanya timbul pada musim panas.
c) Adenovirus
 Timbul sepanjang tahun.
 Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan/pernafasan.
d) Norwalk
 Epidemik
 Dapat sembuh sendiri (dalam 24-48 jam).
2) Infeksi Bakteri
a) Stigella
 Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September
 Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun
 Dapat dihubungkan dengan kejang demam.
 Muntah yang tidak menonjol
 Sel polos dalam feses
 Sel batang dalam darah
b) Salmonella
 Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun
 Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid
 Mungkin ada peningkatan temperature
 Muntah tidak menonjol
 Sel polos dalam feses
 Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari.
 Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.
c) Escherichia coli
 Baik yang menembus mukosa (feses berdarah) atau yang menghasilkan
enterotoksin.
 Pasien (biasanya bayi) dapat terlihat sangat sakit.
d) Campylobacter
 Sifatnya infasiv pada bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa
manifestasi klinik yang lain.
 Kram abdomen yang hebat
 Muntah/dehidrasi jarang terjadi
e) Yersinia Enterecolitica
 Sering didapatkan sel polos pada feses
 Mungkin ada nyeri abdomen yang berat
 Diare selama 1-2 minggu.
 Sering menyerupai apendicitis.
3) Infeksi Parasit
Seperti cacing (ascaris), protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia,
Tricomonas hominis dan jamur (Candida albicans) (Depkes, 2010).
b. Faktor Malabsorpsi
1) Malabsorbsi karbohidrat
a) Disakarida seperti : intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa
b) Monosakarida seperti : intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa
2) Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride.
3) Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin
c. Faktor Makanan
Makanan yang beracun dan alergi terhadap makanan.
d. Penyebab lain
1) Imunodefisiensi
2) Gangguan psikologis (cemas dan takut)

3. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik,
akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam
rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul
karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan
berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya
bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya
dapat menimbulkan diare pula.
Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam
usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut
berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi
hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

4. KLASIFIKASI
Diare diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
a. Diare Akut
Diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam sampai 7
atau 14 hari.
b. Diare Kronik
Diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu. Ketentuan ini berlaku bagi orang dewasa,
sedangkan pada bayi dan anak ditetapkan batas waktu dua minggu.
Diare kronik dibagi menjadi tiga, yaitu :
1) Diare osmotik : Dijelaskan dengan adanya faktor malabsorpsi akibat adanya
malabsorpsi karbohidrat, lemak, atau protein
2) Diare sekretorik : Terdapat gangguan transport akibat adanya perbedaan osmotik
dengan mukosa yang besar.
3) Diare inflamasi : Diare dengan kerusakan dan kematian enterosit disertai dengan
peradangan.

5. MANIFESTASI KLINIS
Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan berkurang kemudian
timbul diare. Tinja mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah
kehijauan karena bercampur dengan empedu. Daerah anus dan sekitarnya timbul luka lecet
karena sering defekasi dan tinja yang asam akibat laktosa yang tidak diabsorbsi usus selama
diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan karena
lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila
kehilangan cairan terus berlangsung tanpa pergantian yang memadai gejala dehidrasi mulai
tampak yaitu : BB turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun cekung (bayi), selaput
lendir bibir dan mulut, serta kulit kering. Bila terus berlanjut, akan terjadi renjatan
hypovolemik dengan gejala takikardi, denyut jantung menjadi cepat, nadi lemah dan tidak
teraba, tekanan daran turun, pasien tampak lemah dan kesadaran menurun, karena kurang
cairan, deuresis berkurang (oliguria-anuria). Bila terjadi asidosis metabolik pasien akan
tampak pucat, serta nafas cepat dan dalam (pernafasan kusmaul) (Sarwono, 2001).
Pasien dengan diare akibat infeksi sering mengalami nausea, muntah, nyeri perut
sampai kejang perut, demam dan terjadi renjatan hipovolemik. Kekurangan cairan
menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit
menurun, serta suara menjadi serak, gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik akan
menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). Bila terjadi
renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120 kali/menit) tekanan darah
menurun tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung ekstremitas dingin dan kadang
sianosis, kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat
menurun sehingga timbul anuria, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat
timbul penyulit berupa nekrosis tubular akut (Brunner & Suddart, 2002).

6. PEMERIKSAAN FISIK
a. Inspeksi :
1) Klien tampak muntah
2) Klien tampak sering buang air besar dengan konsistensi yang cair
3) Ubun-ubun dapat ditemukan tampak cekung
4) Membran mukosa kering
5) Daerah anus tampak lecet-lecet
6) Klien tampak lemas
7) Frekuensi napas meningkat (pernapasan cepat dan dalam)
8) Mata tampak cekung
b. Auskultasi :
1) Bising usus >12 detik per menit
c. Palpasi :
1) Denyut nadi meningkat
2) Turgor kulit menurun
d. Perkusi :
1) Adanya distensi abdomen
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien dengan diare meliputi :
a. Pemeriksaan Tinja
1) Makroskopis dan mikroskopis
2) pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga
terdapat intoleransi gula
3) Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
b. Pemeriksaan Darah
1) pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium dan Fosfor)
dalam serum untuk menentukan keseimbangan asam basa.
2) Kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
c. Doudenal Intubation ( pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum )
Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama
dilakukan pada penderita diare kronik.
d. Pemeriksaan Urine Lengkap
e. Pemeriksaan Biakan Empedu bila demam tinggi dan dicurigai infeksi sistemik
Pemeriksaan sediaan darah malaria serta serologi helicobacter jejuni sangat dianjurkan.
8. KRITERIA DIAGNOSTIK
Diare akut karena infeksi dapat ditegakkan diagnostik etiologi bila anamnesis, manifestasi
klinis dan pemeriksaan penunjang mendukungnya.
Beberapa petunjuk anamnesis yang mungkin dapat membantu diagnosis:
a. Bentuk feses (watery diarrhea atau inflammatory diare)
b. Makanan dan minuman 6-24 jam terakhir yang dimakan/minum oleh penderita.
c. Adakah orang lain sekitarnya menderita hal serupa, yang mungkin oleh karena keracunan
makanan atau pencemaran sumber air.
d. Dimana tempat tinggal penderita.
Umumnya diare akut besifat ringan dan merupakan self-limited disease. Indikasi untuk
melakukan pemeriksaan lebih lanjut yaitu diare berat disertai dehidrasi, tampak darah pada
feses, panas > 38,5o C, diare > 48 jam tanpa tanda-tanda perbaikan, kejadian luar biasa
(KLB).
9. THERAPY / TINDAKAN PENANGANAN
Penatalaksanaan pada pasien diare meliputi:
a. Rehidrasi Sebagai Prioritas Utama Terapi
Hal-hal yang harus diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat,
yaitu:
1) Jenis cairan yang hendak digunakan
Cairan ringer laktat merupakan cairan pilihan dengan jumlah kalium yang rendah bila
dibandingkan dengan kalium tinja. Bila tidak ada RL dapat diberikan NaCl isotonik
(0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul nabik 7,5% 50 ml pada setiap 1
liter NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan
oralit yang dapat mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
2) Upaya Rehidrasi Oral (URO)
URO berdasarkan prinsip bahwa absorpsi natrium usus (dan juga elektrolit lain dan
air) dilakukan oleh absorpsi aktif molekul makanan tertentu seperti glukosa (yang
dihasilkan dari pemecahan sukrosa ) atau L asam amino (yang dihasilkan dari
pemecahan protein dan peptida). Bila diberikan cairan isotonik yang seimbang antara
glukosa dan garamnya, absorpsi ikatan glukosa-natrium akan terjadi dan ini akan
diikuti dengan absorpsi air dan elektrolit yang lain. Proses ini akan mengoreksi
kehilangan air dan elektrolit pada diare. Campuran garam dan glukosa ini dinamakan
Oral Rehydration Salt (ORS) atau di Indonesia dikenal sebagai cairan rehidrasi oral
(Oralit).

Komposisi cairan oralit yang dianjurkan WHO/UNICEF


Kandungan Jumlah (g/l) Ion Konsentrasi (mmol/l)
Natrium klorida 3,5 Natrium 90

Trinatrium sitrat, 2,9 Kalium clorida 10*


dihidrat
Kalium clorida 1,5 Sitrat 80
Glukosa (anhidrous) 20,0 Glukosa 111
* Natrium bikarbonat 2,5 g bikarbonat 30 mmol/L
3) Jalan pemberian cairan
 Oral untuk dehidrasi ringan/sedang/tanpa dehidrasi bila anak mau minum dan
kesadaran baik
 Intragastrik untuk dehidrasi ringan/sedang/tanpa dehidrasi bila anak tidak  mau
minum atau kesadaran menurun.
 Intravena untuk dehidrasi berat.
4) Jumlah cairan
Jumlah cairan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan cairan anak.
Tubuh dalam keadaan normal terdiri dari 60 % air dan 40 % zat padat seperti
protein, lemak dan mineral. Pada anak pemasukan dan pengeluaran harus seimbang,
bila terganggu harus dilakukan koreksi mungkin dengan cairan parentral, secara
matematis keseimbangan cairan pada anak dapat di gambarkan sebagai berikut :

Kebutuhan cairan Kebutuhan


Umur Berat Badan
total/24 jam cairan/Kg BB/24 jam
3 hari 3,0 250 – 300 80 – 100
10 hari 3,2 400 – 500 125 – 150
3 bulan 5,4 750 – 850 140 – 160
6 bulan 7,3 950 – 1100 130 – 155
9 bulan 8,6 1100 – 1250 125 – 165
1 tahun 9,5 1150 – 1300 120 – 135
2 tahun 11,8 1350 – 1500 115 – 125
4 tahun 16,2 1600 – 1800 100 – 110
6 tahun 20,0 1800 – 2000 90 – 100
10 tahun 28,7 2000 – 2500 70 – 85
14 tahun 45,0 2000 – 2700 50 – 60
18 tahun 54,0 2200 – 2700 40 – 50

Jumlah cairan yang hilang menurut derajat dehidrasi pada anak di bawah 2 tahun
adalah sebagai berikut :
Derajat dehidrasi PWL NW CWL Jumlah
Ringan 50 100 25 175
Sedang 75 100 25 200
Berat 125 100 25 250
Keterangan:
PWL : Previous Water loss (ml/kg BB)
NWL : Normal Water losses (ml/kg BB)
CWL : Concomitant Water losses (ml/kg BB)

5) Jadwal (kecepatan) pemberian cairan


a) Belum ada dehidrasi
 Oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas setiap kali buang air
besar.
 Parental dibagi rata-rata 24 jam.
b) Dehidrasi ringan
 1 jam pertama : 25-50 ml/kgBB peroral atau intragastrik.
 selanjutnya : 125 ml/kgBB/hari atau ad libitum
c) Dehidrasi  sedang
 1 jam pertama : 50-100 ml/kgBB peroral atau intragastrik
 selanjutnya : 125 ml/kgBB/hari atau ad libitum
d) Dehidrasi berat, untuk anak 1 bulan – 2 tahun dengan BB 3-10 kg.
 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/jam atau 10 tetes/kgBB/menit (dengan infus
berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes/kgBB/menit (dengan infus berukuran
1 ml = 20 tetes)
 7 jam  kemudian : 12 ml/kg/jam atau 3 tetes/kgBB/menit (dengan infus
berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 4 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3
tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
b. Dietetik
Untuk mencegah kekurangan nutrisi, diet pada anak diare harus tetap dipertahankan,
yang meliputi :
1) Susu (ASI/ PASI rendah laktosa)
2) Makanan setengah padat /lunak (nasi tim)
Bila anak berusia 4 bulan atau lebih dan sudah dapat makanan padat atau lunak
(MPASI), makanan ini harus diteruskan dan disesuaikan dengan umurnya. Bayi umur
6 bulan atau lebih harus mulai diberi makanan lunak.
3) Pemberian makanan mulai diberikan setelah dehidrasi teratasi. Paling tidak 50% dari
energi diet harus berasal dari makanan. Pemberiannya dengan porsi kecil dan sering
(6 kali/hari) dan anak dibujuk untuk makan.
c. Obat-Obatan
1) Obat anti sekresi (asetosal, klorpromazin)
2) Obat spasmolitik (papaverin, ekstrakbelladone)
3) Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi teiah diidentifikasi (Depkes RI, 2011)

10. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari diare meliputi (Price, 2005) :
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
Derajat Dehidrasi
Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan:
1)Kehilangan berat badan
b) Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%.
c) Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%.
d) Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%
2) Skor Mavrice King
Bagian tubuh yang Nilai untuk gejala yang ditemukan
diperiksa 0 1 2
Keadaan umum Sehat Gelisah, cengeng, Mengigau, koma
apatis, ngantuk atau syok
Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Ubun-ubun besar Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Mulut Normal Kering Kering & sianosis
Denyut nadi Kuat Sedang Lemah
Keterangan :
 Jika mendapat nilai 0-2 dehidrasi ringan
 Jika mendapat nilai 3-6 dehidrasi sedang
 Jika mendapat nilai 7-12 dehidrasi berat.
3) Gejala Klinis
Berikut ini merupakan tabel klasifikasi derajat dehidrasi berdasarkan penilaian
observasi

OBSERVASI
Dehidrasi
Penilaian Tanpa Dehidrasi Dehidrasi Berat
Ringan Sedang
Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu, lunglai atau
Keadaan umum
tidak sadar
Normal Cekung Sangat cekung dan
Mata
kering
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Minum biasa, Haus, ingin Tidak mau minum
Rasa haus
tidak haus minum banyak
Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat
Turgor Kulit
lambat

4) Turgor Kulit
Menentukan elastisitas turgor kulit, kulit perut dijepit antara ibu jari dan telunjuk
(selama 30-60 detik) kemudian dilepaskan, jika kulit kembali dalam :
 1 detik : elastisitas turgor kulit agak kurang (dehidrasi ringan)
 1-2 detik : elastisitas turgor kulit kurang (dehidrasi sedang)
 2 detik : elastisitas turgor kulit sangat kurang (dehidrasi berat).
b. Renjatan hipovolemik.
c. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan
pada elektro kardiagram).
d. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan
vili mukosa, usus halus.
e. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
f. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami
kelaparan.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
a. Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.
Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus
merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan
insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas
aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman
enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga
berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .
b. Keluhan Utama
BAB lebih dari 3 kali dalam sehari.

c. Riwayat Penyakit Sekarang


BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi
encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7
hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka
panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan,
ISPA, ISK.
e. Riwayat Nutrisi
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang
diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. Cara pengelolahan makanan
yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan.
f. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
g. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan lingkungan tempat
tinggal.
h. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan
1) Pertumbuhan
a) Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg),
PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.
b) Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan
seterusnya.
c) Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring,
seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah
d) Erupsi gigi : geraham pertama menyusul gigi taring.
2) Perkembangan
a) Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.
Fase anal :
Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, mulai menunjukan
keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas
utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicara dan bahasa (meniru
dan mengulang kata sederhana, hubungan interpersonal, bermain).
b) Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.
Autonomy vs Shame and doundt
Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari
lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh dari kemampuannya untuk mandiri
(tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB
sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi
maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak
mampu yang dapat berkembang pada diri anak.
c) Gerakan kasar dan halus, bacara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri :
Umur 2-3 tahun :
 berdiri dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun 2 hitungan (GK)
 Meniru membuat garis lurus (GH)
 Menyatakan keinginan sedikitnya dengan dua kata (BBK)
 Melepasa pakaian sendiri (BM)

i.Pemeriksaan Fisik
1) Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil,
lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
2) Keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
3) Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1
tahun lebih
4) Mata : cekung, kering, sangat cekung
5) Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic
meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau
tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa
minum
6) Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis
metabolic (kontraksi otot pernafasan)
7) Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada
diare sedang .
8) Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat >
375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang
> 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
9) Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ),
frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
10) Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang
berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon
yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN (Berdasarkan Prioritas)


a. Diare berhubungan dengan malabsorpsi, toksin, parasit ditandai dengan defekasi feces
cair > 3 kali dalam 24 jam dan bising usus hiperaktif.
b. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (reaksi antibodi yang mempengaruhi
pusat termoregulasi di hipotalamus) ditandai dengan takipnea, kulit terasa hangat dan
suhu tubuh meningkat 39,0 0C.
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi ditandai dengan kemerahan pada
area anogenital dan kerusakan lapisan kulit (lecet).
d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif ditandai dengan
mata cekung, crt > 2 detik, diare terus menerus frekuensi 5-6 x/hari
e. Risiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan diare
3. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnoa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1 Diare berhubungan Setelah dilakukan asuhan Label NIC : Diarrhea Management Label NIC : Diarrhea Management
dengan malabsorpsi, keperawatan selama 3 x 24  Monitor tanda dan gejala diare  Diare mengindikasikan adanya

toksin, parasit jam diharapkan diare  Identifikasi factor penyebab diare gangguan dan adanya perubahan
berkurang dengan kriteria  Ukur haluaran diare pada sekresi usus, absorpsi
ditandai dengan
hasil :  Pantau dan kaji warna, volume, frekuensi mukosal, atau motilitas usus
defekasi feces cair >
Label NOC : Bowel dan konsistensi feses.  Memberikan intervensi sesuai
3 kali dalam 24 jam
Elimination dengan factor penyebab diare
 Edukasi pemberian diet rendah serat
dan bising usus
 Pola eliminasi normal  Untuk mengetahui frekuensi diare
 Kolaborasi pemberian antidiare (zink) 1
hiperaktif.
 Melaporkan diare tablet (20 mg) per hari selama 10 hari dan jumlah feses
berkurang  Untuk mengetahui adanya kelainan

Label NIC : Fluid/Electrolyte Management dalam feses


Label NOC :  Mengurangi beban kerja usus
 Monitor tanda ketidakseimbangan elektrolit
Gastrointestinal Function  Mengurangi gejala diare
 Monitor vital sign
 Klien dapat mentoleransi
 Monitor kehilangan cairan melalui diare dan
makanan dan minuman Label NIC : Fluid/Electrolyte
muntah
 Monitor hasil LAB yang mengacu pada Management
Label NOC : Fluid Balance  ketidakseimbangan elektrolit
kehilangan cairan
 Nadi teraba menandakan tubuh mengalami
 Catat intake dan output cairan
 Turgor kulit kembali dehidrasi
 Edukasi keluarga mengenai pentingnya
dalam < 2 detik  vital sign menggambarkan keadaan
pemberian cairan peroral
 Serum elektrolit dalam umum pasien
 Kolaborasi pemberian cairan
batas normal  mengetahui jumlah cairan yang
 Jika ada akses IV, berikan cairan
100ml/kgBB dalam 3 jam dengan keluar agar dapat memberikan
Label NOC : Electrolyte & pembagian 30ml/kgBB pada 30 menit terapi cairan dengan tepat
Acid/Base Balance pertama dan dilanjutkan 70ml/kgBB dalam  untuk mengetahui jenis cairan yang
 pH dalam batas normal 2,5 jam berikutnya. diberikan kepada pasien
 bikarbonat dalam datas  Jika tidak ada akses IV maka berikan oralit  mengetahui status balance cairan
normal melalui NGT atau oroparingeal gastric tube pasien
 pCO2 dalam batas dengan dosis 20ml/kgBB selama 6 jam atau  pemenuhan kebutuhan cairan tubuh
normal sampai adanya akses IV. pasien yang hilang

Label NOC : Hydration Label NIC : Nutrition Management Label NIC : Nutrition Management
 fungsi kognitif normal  Monitor berat badan pasien  berat badan dapat mengindikasikan
 intake cairan adekuat  Dorong intake makanan yang adekuat sesuai adanya kekurangan cairan
kondisi pasien (tinggi protein dan tinggi  agar nutrisi klien dapat terpenuhi
kalori).  ASI mengandung imunitas
 Lanjutkan pemberian ASI jika  Susu sebagai nutrisi tambahan bagi
memungkinkan. pasien
 Berikan susu formula untuk anak tidak  Mencukupi kebutuhan nutrisi klien
diberi ASI jika penyebab diare bukan karena
susu (rekomendasi International Child Label NIC : Skin Surveilance
Health Review Collaboration, 2011).  Mengetahui adanya gangguan
 Berikan makan sedikit tapi sering. integritas kulit akibat peningkatan
 Edukasi pemberian dietyang sesuai frekuensi BAB
 Kolaborasi pemberian jenis makanan jika  Agar tidak terjadi infeksi dan
diindikasikan. irirtasi
Label NIC : Skin Surveilance Label NIC : Acid Base Management :
 Observasi warna kulit di area anogenital Metabolic Alkalosis
 Pertahankan daerah anogenital tetap kering  Nilai AGD dapat menunjukkan
keadaan asam dan basa dalam
Label NIC : Acid Base Management : tubuh akibat diare
Metabolic Alkalosis
 Monitor kehilangan asam
 Monitor nilai AGD
 Kolaborasi pemberian antiemetic jika
diperlukan
 Kolaborasi pemberian isotonic hydrocloride
jika diperlukan
2 Hipertermi NOC : Thermoregulasi NIC : Fever Treatment Fever Treatment
berhubungan dengan Setelah diberikan asuhan  Kaji tanda dan gejala awal hipertermi  Hipertermi menunjukkan proses

proses penyakit keperawatan selama 3 x24  Cek tanda vital sign klien penyakit infeksi akut, dimana pola
jam, diharapkan  Selimuti klien demam dapat menunjukkan
(reaksi antibodi yang
Termoregulasi klien adekuat  Kompres klien pada lipat paha dan aksila diagnosis
mempengaruhi pusat
dengan kriteria hasil : dengan air hangat  Tanda vital merupakan acuan untuk
termoregulasi di
 Suhu tubuh dalam  Ajarkan keluarga melakukan kompres hangat mengetahui keadaan umum klien
hipotalamus)
rentang normal 36-37˚ C  Pemberian obat-obatan antipiretik
 Kolaborasikan dengan tim medis untuk
ditandai dengan
 Nadi dan RR dalam pemberian anti piretik seperti paracetamol tablet dapat
takipnea, kulit terasa rentang normal
 Kolaborasi untuk pemberian cairan intravena membantu menurunkan demam
hangat dan suhu  Tidak ada perubahan klien
Heat / Cold Application
tubuh meningkat warna kulit dan tidak ada  Jelaskan penggunaan kompres hangat atau  Selimuti klien untuk mencegah
39,0 0C. pusing dingin, alasan untuk pengobatan, dan hilangnya kehangatan tubuh klien
bagaimana hal tersebut dapat  Pemberian cairan intravena sering
mempengaruhi gejala nyeri klien digunakan untuk mencegah

 Kaji kemungkinan kontraindikasi terhadap dehidrasi dan hemokonsentrasi yang

kompres dingin atau hangat, seperti berlebihan

penurunan atau tidak ada sensasi, penurunan  Kompres air hangat pada lipat paha

sirkulasi, dan penurunan kemampuan untuk dan aksila efektif menyebabkan

berkomunikasi suhu tubuh menurun melalui

 Tentukan ketersediaan dan kondisi kerja peristiwa konduksi

yang aman terhadap semua peralatan yang


digunakan untuk aplikasi kompres hangat
atau dingin
 Pilih bagian yang akan di kompres, pilih
daerah alternatif ketika aplikasi langsung
tidak memungkinkan
 Gunakan kain lembab diatas permukaan
kulit untuk menambah sensasi dari terapi
kompres dingin / hangat, bila perlu
 Intruksikan kepada klien atau keluarga klien
untuk menghindari penggunaan kompres
hangat atau dingin di daerah kulit yang
terdapat luka
 Pantau temperatur terapi, terutama ketika
menggunakan kompres hangat
 Tentukan durasi yang tepat dari tindakan ini
sesuai dengan respon klien
 Periksa daerah yang di kompres dengan hati-
hati untuk mengetahui adanya tanda-tanda
iritasi kulit atau kerusakan jaringan pada 5
menit pertama dan kemudian lanjutkan
selama prosedur masih diterapkan
 Evaluasi kondisi umum, keamanan, dan
kenyamanan klien terhadap pengobatan
 Evaluasi dan dokumentasikan respon
terhadap terapi hangat / dingin yang telah
dilakukan
3 Kerusakan integritas Setelah diberikan asuhan Skin Care: Topical Treatment
kulit berhubungan keperawatan selama 3 x 24 1. Pantau tanda dan gejala kerusakan 1. Dapat segera mengetahui jika

dengan iritasi jam diharapkan kerusakan integritas kulit terjadi kerusakan integritas kulit
integritas kulit klien 2. Untuk menghindari adanya luka
ditandai dengan
berkurang dengan kriteria 2. Berikan bedak tabur pada pasien sesuai pada kulit akibat garukan
kemerahan pada area
hasil : indikasi
anogenital dan
Allergic response: localized 3. Jaga agar linen tetap bersih, kering, dan
kerusakan lapisan
- Lokasi ruam (-) bebas kerutan. 3. Mandi dapat membantu
kulit (lecet). - Kemerahan pada kulit (-) 4. Ajarkan klien dan keluarga untuk tidak membersihkan kulit dari kuman
- Rasa gatal pada kulit menggaruk terlalu keras atau menggaruk untuk menghindari adanya infeksi
berkurang dengan menggunakan kain atau ujung – 4. Untuk membantu mengurangi rasa
ujung jari. gatal yang timbul
Tissue Integrity: Skin and 5. Ajarkan pasien mandi dan membersihkan 5. Mencegah penyebaran kuman ke
Mucous Membranes kulit dengan sabun antibacterial kulit melalui linen
- Integritas kulit yang baik 6. Kolaborasi pemberian obat antimikrobial 6. Obat topical dapat membantu
bisa dipertahankan dan inflamasi topikal. mempercepat proses penyembuhan
(sensasi, elastisitas,
temperatur, hidrasi, Skin surveillance Skin surveillance
pigmentasi) 1. Inspeksi kulit klien untuk melihat adanya 1. Dapat segera mengetahui jika
- Tidak ada luka/lesi pada kemerahan dan lesi. terjadi kerusakan pada kulit
kulit sehingga dapat diberikan perawatan
lebih awal
2. Monitor kulit klien terhadap kekeringan 2. Kondisi kulit terlalu kering dan
dan kelembaban yang berlebihan. Monitor terlalu lembab dapat memudahkan
adanya lesiserosi kulit lebih lanjut. terjadinya kerusakan pada kulit
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2010). Referat Penatalaksanaan Diare Menurut Who Tahun 2005. (Online),
(Available at : http://referensikedokteran.blogspot.com/2010/07/referat-penatalaksanaan-
diare-menurut_166.html, diakses 22 juli 2016)

Brunner & Suddart. (2002). Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8. Jakarta : EGC

Depkes RI. (2010). Pedoman Penanganan Diare. Jakarta

Depkes RI. (2011). Situasi Diare Di Indonesia. Jakarta

Guyton, Arthur C., dkk. (2011). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC

Joanne & Gloria. (2008). Nursing Intervension Classification Fifth Edition, USA : Mosby
Elsevier

Leksana, E. (2010). Terapi Cairan dan Darah, (Online),


(http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/27_177Terapicairandandarah.pdf/27_177Terapicair
andandarah.pdf, diakses 22 juli 2016)

Mansjoer, Arif. Et al. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI

NANDA. (2015). Diagnose Keperawatan : Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10. Jakarta :
EGC

Price, A. Sylvia. (2005). Patofisiologi. Edisi 6. Jakarta: EGC

Sarwono, W. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Sue, Marion, Meridean, Elizabeth. (2008). Nursing Outcomes Classification Fifth Edition,
USA : Mosby Elsevier

Rulam. (2011). Diare Akut Karena Infeksi. (online) http://www.infodiknas.com/diare-akut-


karena-infeksi.html (diakses tanggal 22 juli 2016)

Wong, Donna L., (2012). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Edisi Keempat. Jakarta: EGC.

Zein, Umar. (2014). Diare Akut Infeksius pada Dewasa. (online)


http://library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-umar4.pdf (diakses tanggal 22 juli 2016)