Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH AUDIT EKSTERNAL

IWAN SUGIONO

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Auditor adalah praktik yang berkembang secara internasional diantara individu dan

perusahaan.Pendorong utama dari pergerakan ini adalah globalisasi bisnis.Perusahaan yang

ingin menjadi perusahaan internasional bertanya pada penasehat keuangan mereka

bagaimana menjadi perusahaan multinasional.Jawabannya, akuntan professional mengatur

diri mereka ke dalam organisasi global, memberikan jangkauan yang luas atas layanan di

seluruh dunia.

Auditor eksternal adalah profesi independen yang bekerja secara tertutup dengan

klien untuk memberikan pelayanan nilai tambah global, seperti: nasehat pajak, pelatihan,

review sistem kontrol keuangan, dan lain-lain, yang berbasis pelayanan akuntansi. Auditor

eksternal juga menjadi penyimpan informasi tentang kondisi operasi bagi perusahaan yang

ingin berpindah ke lokasi lain.

Auditor dituntut untuk profesional dalam setiap tugas auditnya, auditor eksternal

yang memiliki pandangan profesionalisme yang tinggi akan memberikan konstribusi yang

dapat dipercaya oleh para pengambil keputusan. Pemeriksaan atas laporan keuangan sangat

diperlukan, terutama bagi perusahaan berbadan hukum diantaranya PT (terbuka), dalam


bentuk badan usaha ini, perusahaan dikelola oleh manajemen professional yang ditunjuk

oleh para pemegang saham.

Profesi auditor diakui sebagai keahlian bagi perusahaan dan ikatan profesinya.

Seorang akuntan publik dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan tidak semata-mata

bekreja untuk kepentingan kliennya, melainkan juga untuk pihak lain yang berkepentingan

terhadap laporan keuangan auditan, untuk dapat mempertahankan kepercayaan dari klien

dan dari para pemakai laporan keuangan lainnya, akuntan publik dituntut untuk memiliki

kompetensi yang memadai.

Profesi akuntan publik dalam melaksanakan audit bukan hanya untuk kepentingan

yang memberikan pekerjaan tersebut tetapi juga untuk pihak-pihak lain yang mempunyai

kepentingan terhadap laporan keuangan klien yang diaudit. Pihak-pihak lain tersebut

meliputi pemegang saham, pemerintah, kreditur, dan lembaga-lembaga keuangan lain.

Akuntan publik mendapat kepercayaan dari klien dan pihak-pihak lain untuk membuktikan

kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh klien, dari profesi akuntan publik inilah

masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang

disajikan oleh manajemen perusahaan dalam bentuk laporan keuangan. Profesionalisme

menjadi syarat utama bagi seseorang yang inginmenjadi seorang auditor eksternal,

penggunaan kemahiran profesional dengancermat dan seksama merupakan pertimbangan

sehat dalam penetapan lingkup, pemilihan metodologi, dan dalam pengujian dan prosedur

untuk mengaudit.

Relevansi antara sudut pandang audit internal dibuktikan oleh fakta bahwa

koordinasi ini meyakinkan audit internal untuk menambah informasi penting dalam

penilaian risiko kontrol (Dobroteanu, L. & DobroteanuCL, 2002). Pentingnya hubungan


antara audit internal dan audit eksternal tercermin pula oleh Standar Internasional Audit (610

-"Mengingat pekerjaanaudit internal"), yang memperkirakan diantaranya:

1. Peran audit internal yang ditentukan oleh manajemen , dan tujuannya berbeda dari

auditor eksternal yang ditunjuk untuk melaporkan secara independen terhadap laporan

keuangan . Tujuan fungsi audit internal bervariasi sesuai dengan kebutuhan

manajemen . Perhatian utama auditor eksternal adalah apakah laporan keuangan bebas

dari salah saji material

2. Auditor eksternal harus memperoleh pemahaman yang memadai tentang kegiatan audit

internal untuk mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji material dalam laporan

keuangan dan untuk merancang dan melaksanakan prosedur audit lebih lanjut;

3. Auditor eksternal harus melakukan penilaian terhadap fungsi audit internal , ketika audit

internal yang relevan dengan penilaian risiko auditor eksternal ;

4. Hubungan dengan internal audit lebih efektif bila pertemuan diadakan pada interval

yang tepat selama periode tersebut . Auditor eksternal perlu untuk memperhatikan dan

memiliki akses ke laporan audit internal yang relevan dan selalu tertarik untuk

mendapatkan informasi dari setiap masalah yang signifikan yang muncul dari auditor

internal yang dapat mempengaruhi pekerjaan auditor eksternal . Demikian pula, auditor

eksternal biasanya akan menginformasikan auditor internal hal-hal signifikan yang

dapat mempengaruhi audit internal;


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1. Profesi Akuntansi dan Auditing

Auditing adalah suatu proses sistematika untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti

secara objektif mengenai pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan

untuk menerapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria

yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang

berkepentingan. Menurut Messier (2006), auditing adalah proses sistematis untuk

menghasilkan dan mengevaluasi bukti secara objektif tentang asersi aksi dan peristiwa

ekonomi untuk memastikan derajat kesesuaian diantara asersi dan kriteria yang ada dan

mengomunikasikan hasilnya pada pemakai yang berminat. Berdasarkan definisi tersebut,

keberhasilan auditing memiliki tiga syarat penting, yaitu: objektif (independen), orang yang

kompeten; mengukur (dan membuktikan) informasi, dan kriteria yang ada (atau standar

auditing).
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentanginformasi

yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten

dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud

dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan (Arens & Leobbecke ; 1998) sedangkan

menurut R.K Mautz,Husain A sharaf ;1993 mendefinisikan auditing sebagai rangkaian

praktek dan prosedur, metode dan teknik, suatu cara yang hanya sedikit butuh penjelasan,

diskripsi, rekonsiliasi dan argumen yang biasanya menggumpal sebagai teori. Selanjutnya

Mulyadi (2008) mendifinisikan auditing adalah proses sistematis untuk mempelajari dan

mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataanpernyataan tentang kegiatan dan

kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-

pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya

kepada pemakai yang berkepentingan.

2. Audit Eksternal

Audit eksternal adalah suatu proses pemeriksaan yang sistematik dan objektif yang

dilakukan oleh auditor eksternal (independent) terhadap laporan keuangan suatu perusahaan

atau unit organisasi lain dengan tujuan untuk memberikan pendapat mengenai kewajaran

keadaan keuangan dan hasil usaha perusahaan/unit organisasi tersebut. Tanggung jawab

utama auditor eksternal adalah memberikan opini atas kewajaran pelaporan keuangan

organisasi, terutama dalam penyajian posisi keuangan dan hasil operasi dalam suatu

periode.Mereka juga menilai apakah laporan keuangan organisasi disajikan sesuai dengan

prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum, diterapkan secara konsisten dari

periode ke periode, dan seterusnya. Opini ini akan digunakan para pengguna laporan
keuangan, baik di dalam organisasi terlebih di luar organisasi, antara lain untuk melihat

seberapa besar tingkat reliabilitas laporan keuangan yang disajikan oleh organisasi tersebut.

3. Audit Internal

Audit internal adalah sebuah kegiatan yang dirancang untuk menambah nilai dan

meningkatkan operasi badan secara independen. Kegunaanya untuk membantu badan

mencapai objektif tujuan dengan sistematis, dengan pendekatan terperinci dalam menilai dan

meningkatkan efektifitas dari resiko manajement, kontrol, dan proses badan organisasi.

Pengertian audit intern menurut IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) dalam SPAP (Standar

Pelaporan Akuntan Publik) adalah : “Suatu aktivitas penilaian yang independen dalam suatu

organisasi untuk menguji dan mengevaluasi aktivitas-aktivitas organisasi sebagai pemberi

bantuan bagi manajemen”. (1998 ; 322)

Adapun pengertian audit intern yang dikemukakan oleh Brink Z. victor dan Witt

Herbert dalam bukunya “Modern Internal Auditing” adalah sebagai berikut :

“Internal auditing is an independent appraisal function established within organization

to examine and evaluate its activities as a service to the organization”. (1999 ; 1-1)

Sementara IIA’S Board of Director mengemukakan pengertian internal audit sebagai berikut:

“Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting activity

designed to add value and improve an organization’s operations. It helps an

organization accomplish its objectives by bringing a systematic, diciplined approach to

evaluate an improve the effectivenenss of risk management, control an governance

processes”. (1999, Vol. LVI : II pp 11;40-41)

4. Profesionalisme auditor
Profesionalisme juga menjadi syarat utama bagi seseorang yang ingin menjadi

seorang auditor eksternal, penggunaan kemahiran profesional dengancermat dan seksama

merupakan pertimbangan sehat dalam penetapan lingkup,pemilihan metodologi, dan dalam

pengujian dan prosedur untuk mengaudit.Para profesional merasa lebih senang

mengasosiasikan diri mereka denganorganisasi profesi mereka dalam melaksanakan tugas-

tugasnya dan mereka juga ingin lebih mentaati norma-norma, aturan dan kode etik profesi

dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi (Copur dalam Trisnaningsih,2003).

Sikap profesionalisme auditor independen mengandalkan keahlian dan ketrampilan

yang tinggi disertai komitmen pribadi yang mendalam atas pekerjaannya. Indenpendensi

auditor dalam melakasanakan keahliannya merupakan hal pokok, meskipun auditor tersebut

dibayar oleh kliennya atas jasa yang diberikan, sehingga sikap profesionalisme auditor

adalah auditor yang melakukan suatu pekerjaan ahli dibidangnya dengan meluangkan

seluruh waktu, tenaga dan perhatiannya untuk pekerjaan tersebut yang disertai komitmen

pribadi terhadap pekerjaannya (Hudiwinarsih, 2005).

Perencanaan audit, auditor eksternal harus mempertimbangkan resikoaudit dan

tingkat meterialitas untuk tujuan audit, tanggung jawab auditor adalah menetapkan apakah

suatu laporan keuangan salah saji dalam jumlahyang material, apabila auditor berpendapat

adanya salah saji yang material ia harus memberitahukan hal tersebut kepada klien sehingga

koreksi dapat dilakuakan pendapat dengan pengecualian atau pernyataan yang tidak wajar

harus diberikan (Kusumawati, 2008).

Audit laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan bagiklien atau

pemakai laporan keuangan yang lain bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat.

Auditor tidak dapat memberikan jaminan karena ia tidak memeriksa setiap transaksi yang
terjadi telah dicatat, diringkas, dandigolongkan secara semestinya dalam laporan keuangan

sehingga dalam auditlaporan keuangan auditor memberikan keyakinan kepada klien atas

laporan keuangan tersebut. Konsep yang melandasi keyakinan yang diberikan auditor

meliputi konsep materialitas dan resiko audit. Pertimbangan auditor terhadap materialitas

adalah suatu masalah kebijakan profesional dan dipengaruhi persepsi auditor tentang

kebutuhan yang beralasan dari laporan keuangan,tingkat materialitas suatu laporan keuangan

tidak akan sama tergantung pada ukuran laporan keuangan tersebut.

Definisi materialitas itu sendiri adalah besarnya nilai yang dihilangkanatau salah saji

informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yangmelingkupinya, dapat mengakibatkan

perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan

terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji ( Mulyadi dan

Kanaka,1998). Definisi tentang materialitas tersebut mengharuskan auditor

mempertimbangkan baik keadaan yang berkaitan dengan entitas maupun kebutuhan

informasi pihak yang akan meletakan kepercayaan atas laporan keuangan auditan

(Arifuddin, dkk, 2002).


BAB III

PEMBAHASAN

1. Proses Audit Eksternal dan Tantangan Audit Internasional

Audit eksternal dilakukan oleh jasa keuangan mandiri yg terlepas dari perusahaan.

Kegiatan audit eksternal ini dilakukan oleh lembaga jasa keuangan yang banyak mengambil

alih proses audit atau pemeriksaan terhadap cash flow keuangan sebuah perusahaan.

Walaupun responsibilitas audit mirip untuk operasi internasional dan domestik, kebijaksanaan

konvensional menyarankan eksistensi tantangan unik dalam lingkungan asing, seperti: praktik

akuntansi lokal, mata uang asing, praktik legal dan bisnis lokal, bahasa dan budaya, dan jarak.

Walaupun perusahaan besar berusaha untuk menstandarisasi praktik akuntansi mereka ke

seluruh dunia, ini tidak terjadi dimanapun.Catatan lokal sesuai dengan prosedur akuntansi

lokal, yang membuatnya sulit menggunakan paket audit standar. Juga, jarangnya audit (karena
jarak) mengartikan bahwa tidak adanya data akuntansi yang cukup untuk menyediakan jejak

audit yang bersih.

Dalam sebuah survey dari perusahaan audit “Big Six”, pakar audit MNE merumuskan

risiko yang mengikuti sebagai pengaruh dalam menetapkan sekup audit multinasional

(Hermanson, 1993):

1.      Transaksi signifikan atau luar biasa pada anak perusahaan.

2.      Ukuran anak perusahaan (jumlah pendapatan, pendapatan bersih atau asset).

3.      Perubahan besar dalam pendapatan bersih anak perusahaan.

4.      Ekspektasi komite audit.

5.      Kompetensi personil akuntansi anak perusahaan.

Yang menarik, hasil survey menyatakan bahwa auditor MNE terutama

memperhatikan risiko yang sama dari audit domestik. Walaupun hasil ini mengimplikasikan

bahwa pada umumnya faktor risiko sama eksis untuk audit domestik dan MNE, lebih lanjut

riset pada risiko audit MNE dibutuhkan untuk keputusan pengusaha. Sekalipun risiko untuk

audit domestik dan internasional serupa, namun pelaksanaan audit internasional lebih

kompleks dibandingkan audit domestik.

a. Tantangan Audit: Praktik Bisnis Lokal Dan Budaya

Prosedur audit dan kepastian dikerjakan oleh perusahaan audit yang dibentuk untuk

menegaskan transaksi masa lalu, menilai kualitas sistem kontrol, dan menentukan risiko

masa depan. Praktik bisnis lokal dan budaya dapat menciptakan tantangan dalam

penegasan sederhana apa yang telah terjadi, sebaik menilai risiko di masa depan. Contoh

beberapa tantangan, yakni:

1.      Keunggulan kas.


Walaupun membayar biaya dengan kas daripada cek ini merupakan praktik yang biasa

terjadi di beberapa negara, namun ini membuat kontrol pencatatan biaya dan pendapatan

menjadi sulit.Jepang menyediakan contoh yang bagus atas beberapa tantangan yang

muncul dalam manajemen kas.Jepang menggunakan kas daripada cek untuk beberapa

transaksi. Untuk mengirim kas ke pos, mereka menggunakan amplop uang yang dibawa

ke kantong khusus oleh tukang pos. Bisnis yang lebih besar menggunakan cek, tetapi bank

lebih sering menyediakan daftar transaksi dari komputer daripada mengecap cek. Ini

menjadi sulit untuk mengecek tanda tangan dan otorisiasi cek aktual selama audit. Oleh

karena bank memiliki sifat terhubung satu sama lain, beberapa pembayaran terjadi melalui

transfer langsung dari akun satu bank ke yang lainnya. Satu-satunya verifikasi transfer

adalah dengan menggunakan print-out komputer. Beberapa perusahaan menggunakan

variasi transfer untuk menghindari pemerintah dari pemeriksaan pendapatan untuk hal

pajak.

2.      Ketidakmampuan untuk menegaskan akun yang dapat diterima.

Dalam banyak kasus, surat konfirmasi diterjemahkan dalam bahasa yang berbeda.

Kepercayaan pada pelanggan untuk membalas konfirmasi adalah tantangan lain karena

pelanggan asing kurang pengalaman dengan konfirmasi. Hal ini tidak biasa untuk auditor

lokal untuk mengirimkan konfirmasi mengenai akun yang dapat diterima untuk konfirmasi

laporan tutup tahun. Layanan surat menjadi tidak efisien dan tidak dapat dipercaya dan ini

menghabiskan beberapa minggu sebelum pelanggan menerima surat konfirmasi, jika

pelanggan menerimanya. Dalam pasar yang bermunculan dimana kualifikasi staf adalah

jarang, konfirmasi audit sering terlihat sebagai sebuah pengganggu dan dijawab dengan
hati-hati.Ini adalah fakta di beberapa negara dimana auditor mempraktikkan atau laporan

hukum untuk pemerintah tanpa kebutuhan mengatakan klien mereka.

b. Tantangan Audit: Mata Uang, Bahasa, Dan Hukum

1.    Mata uang asing.

Pembatasan mata uang asing dan persyaratan transfer telah diketahui untuk masing-

masing negara saat auditor bekerja. Sebagai tambahan, auditor tahu prosedur korporasi

untuk menerjemahkan pernyataan keuangan dan pencatatan transaksi mata uang asing,

jadi laporan itu dikirim kepada induk mata uang ini yang telah disiapkan dengan tepat.

Manajemen harus menetapkan metode terjemahan seperti apa yang harus digunakan, dan

auditor perlu untuk menetapkan jika pilihan berdasarkan atas kriteria yang benar,

menggunakan standar akuntansi yang tepat.

2.   Bahasa dan budaya.

Ketidaktahuan bahasa lokal dapat menjadi rintangan yang fatal ketika auditor sepakat

dengan ahli dua bahasa.Percaya kepada translator artinya auditor tidak mendapat cerita

yang penuh. Di banyak negara, pernyataan keuangan dinyatakan dalam bahasa dan mata

uang lokal, jadi pengetahuan akan bahasa tersebut sangatlah perlu. Kadang-kadang,

mengetahui bahasa dapat menjadi berguna untuk mendapatkan informasi pada situasi yang

dihadapi.

3.    Interaksi negara tuan rumah dan hukum lokal.

Negara tuan rumah ada kalanya memiliki hukum yang menyampaikan kepada perusahaan

anak mengenai perusahaan domestik mereka yang beroperasi di luar negeri. Hukum ini

mungkin saja kontra atau berkonflik dengan hukum di negara tuan rumah. Contoh,
mencakup pemboikotan pelaksanaan bisnis dengan negara tertentu atau undang-undang

anti pemboikotan dimana auditor harus menyatakan bahwa tidak ada negara yang

didiskriminasikan.

2. STANDAR-STANDAR AUDIT

Pertumbuhan pasar modal secara nasional dan internasional telah merubah pandangan

auditor sebagai suatu kredibilitas penting yang menghubungkan antara perusahaan dan

investor-kreditor. Pihak luar tertarik akan sesuatu yang objektif, pandangan independen yang 

menyangkut laporan keuangan suatu perusahaan. Penggunaan auditor internasional

menekankan standar auditing internasional dan praktik-praktiknya, yang berbeda-beda pada

setiap negara.

Perkembangan standar-standar auditing di dalam negeri ditentukan oleh budaya yang

kompleks dan dinamis, politik legal, dan variabel ekonomi, sehingga orang tidak akan

mengharapkan keseragaman secara total. Standar auditing  datang dari sektor publik

(pemerintah), sektor swasta, atau kombinasi dari keduanya. Di banyak negara,  pemerintah

sering berperan penting dalam syarat perusahaan audit , dimana secara kebiasaan, daya

dorong ini adalah yang paling umum di negara-negara berkembang dimana profesi akuntansi

tidak terorganisir dengan baik dan cukup kuat. Jerman, yang mana sesuai dengan hukum dan

yang menentukan dan profesi auditing secara historis dibentuk dan diatur oleh peraturan

daerah.

Di Amerika Serikat, selama bertahun-tahun AICPA, suatu organisasi swasta,

bertanggung jawab dalam pengaturan standar audit.PCAOB yang diciptakan pada Konggres

Sarbanes-Oxley Act dituntut dengan tanggung jawab untuk menentukan dan memaksa
standar audit untuk mengaudit perusahaan umum yang didaftarkan di bursa saham U.S.

PCAOB menjawab dengan segera kepada SEC, suatu kesatuan pemerintah, sehingga standar

audit sekarang dipengaruhi oleh sektor publik. Inggris dan Canada masih memelihara badan

swasta untuk menetapkan standar audit.

Ada perbedaan yang luas di dalam persyaratan untuk audit di seluruh dunia. Suatu

audit kepatuhan dilakukan untuk menentukan jika pihak yang diaudit menuruti petunjuk atau

prosedur yang dibentuk oleh pihak atasan. Di Amerika Serikat, tiap tahun diperlukan audit

independen oleh perusahaan perdagangan pada bursa/pasar nasional seperti halnya

perusahaan dengan lebih dari 500 pemegang saham dan asset lebih dari $ 5 juta.

Bagaimanapun, hampir semua perusahaan besar diaudit, dan banyak bank dan para agen

pengatur memerlukannya.Direktif Keempat dari EU, yang kita bahas dalam konteks standar

akuntansi di awal, yang juga suatu sumber kebutuhan auditing. Pada dasarnya, Direktif

Keempat mensyaratkan publikasi dan audit pada perusahaan publik. Oleh karena tradisi yang

kuat dari laporan audit keuangan  di Inggris, perusahaan kecil masih tetap diperlukan untuk

diaudit. Jerman, bagaimanapun, telah memutuskan untuk membebaskan perusahaan kecil

dari kebutuhan audit.

Hanya karena sejumlah besar negara memerlukan suatu audit tidak berarti bahwa

semua audit melakukan cara yang sama. Laporan keuangan berasal dari arsip dan buku

perusahaan, yang mencerminkan dasar transaksi yang digunakan oleh perusahaan. Istilah

audit bisa berarti bahwa laporan keuangan dengan teliti mencerminkan arsip dan buku dari 

perusahaan. Audit akan mengusut data dari arsip dan buku ke laporan keuangan, suatu proses

yang relatif sederhana.


Suatu audit yang lebih luas akan menentukan apakah arsip dan buku  dengan teliti

mencerminkan transaksi yang asli. Ini akan melibatkan suatu penyelidikan yang luas

menyangkut sistem pengendalian intern untuk meyakinkan prosedur perusahaan untuk

perekaman transaksi dengan jelas, komunikatif, dan dapat dipercaya. Itu juga akan

melibatkan tes yang luas dari tracing dan transaksi asli dengan aliran yang panjang yang

akhirnya mereka arsip ke laporan keuangan.

3. Pendeteksian Kecurangan (Fraud) LK oleh Auditor Eksternal

Meskipun pendeteksiankecurangan penting untuk meningkatkan nilaipengauditan,

namun terdapat banyak masalah yangdapat menghalangi implementasi dari pendeteksian yang

tepat. Terdapat empat faktor penyebab yang diidentifikasikanmelalui makalah ini. Pertama,

karakteristik terjadinya kecurangan sehingga menyulitkan prosespendeteksian. Kedua, standar

pengauditan belum cukup memadai untuk menunjang pendeteksianyang sepantasnya. Ketiga,

lingkungan kerja audit dapat mengurangi kualitas audit dan keempatmetode dan prosedur

audit yang ada tidak cukup efektif untuk melakukan pendeteksian kecurangan. Dalam

mekanisme pelaporan keuangan, suatuaudit dirancang untuk memberikan keyakinanbahwa

laporan keuangan tidak dipengaruhi olehsalah saji (mistatement) yang material dan

jugamemberikan keyakinan yang memadai atasakuntabilitas manajemen atas aktiva

perusahaan.

Salah saji itu terdiri dari dua macam yaitukekeliruan (error) dan kecurangan

(fraud).Fraudditerjemahkan dengan kecurangan sesuai PernyataanStandar Auditing (PSA)

No. 70, demikianpula error dan irregularities masing-masing diterjemahkansebagai

kekeliruan dan ketidakberesansesuai PSA sebelumnya yaitu PSA No. 32. Menurut standar

pengauditan, faktor yangmembedakan kecurangan dan kekeliruan adalahapakah tindakan


yang mendasarinya, yang berakibatterjadinya salah saji dalam laporan keuangan,berupa

tindakan yang sengaja atau tidakdisengaja (IAI, 2001).

Terjadinya kecurangan– suatu tindakan yangdisengaja - yang tidak dapat terdeteksi

oleh suatupengauditan dapat memberikan efek yang merugikandan cacat bagi proses

pelaporan keuangan.Adanya kecurangan berakibat serius dan membawa banyak kerugian.

Meski belum adainformasi spesifik di Indonesia, namun berdasarkanlaporan oleh Association

of Certified FraudExaminers (ACFE), pada tahun 2002 kerugianyang diakibatkan oleh

kecurangan di AmerikaSerikat adalah sekitar 6% dari pendapatan atau $600 milyar dan secara

persentase tingkatkerugian ini tidak banyak berubah dari tahun1996.

Dari kasus-kasus kecurangan tersebut, jeniskecurangan yang paling banyak terjadi

adalahasset misappropriations (85%), kemudian disusuldengan korupsi (13%) dan jumlah

paling sedikit22Koroy: Pendeteksian Kecurangan (Fraud) Laporan Keuangan 23(5%) adalah

kecurangan laporan keuangan(fraudulent statements).

4. Lingkungan Pekerjaan Audit YangMengurangi Kualitas Audit

Lingkungan pekerjaan audit merupakan hal penting yang mempengaruhi kualitas

audit termasuk juga dalam kualitas pendeteksian kecurangan. Komisi Treadway dalam

rekomendasinya menuliskan “Komisi mendorong agar sensitivitas yang lebih besar pada

bagian kantor akuntan publik terhadap tekanan-tekanan dalamKAP yang kemungkinan

berdampak buruk bagikualitas audit” (National Commission on FraudulentFinancial

Reporting, 1987). Tekanan-tekananyang muncul dari lingkungan pekerjaan ini harusdengan

tepat dikelola agar tidak berakibat burukbagi kualitas audit.Tekanan-tekanan lingkungan


pekerjaaan itudapat dibagi menjadi atas beberapa hal yang diterangkan di bawah yaitu tekanan

kompetisi atas fee, tekanan waktu dan relasi hubungan auditor-auditee.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Pertimbangan atas kecurangan dalam pelaporan keuangan yang semakin meningkat

belakangan ini, timbul dari adanya upaya mempersempit kesenjangan harapan antara

pengguna dengan pihak penyedia jasa pengauditan. Disamping untuk meningkatkan

kepercayaanmasyarakat atas profesi akuntan publik dan mengurangi biaya-biaya litigasi,

pendeteksian kecurangan dalam audit laporan keuanganoleh auditor perlu dilandasi dengan

pemahaman atas sifat, frekuensi dan kemampuan pendeteksian oleh auditor.

Sifat terjadinya kecurangan yang melibatkan penyembunyian dan frekuensinya jarang

dihadapi auditor, seharusnya tidak membuat auditor berpuas diri dengan pengauditan yang ada

sekarang. Permasalahan bahwa terdapat keterbatasan auditor dalam pelaksanaan pendeteksian

kecurangan merupakan tantangan yang perlu dihadapi pihak profesi dan akademisi,sejauh ini

standar pengauditan mengenaipendeteksian kecurangan telah terus-menerus diupayakan untuk

memperbaiki praktek pengauditanyang berjalan. Patokan yang selalu diacu adalah efektivitas

dari standar ini dalam mengarahkan keberhasilan pendeteksian kecurangan. Beberapa standar

terdahulu kurang memberikan pedoman dalam memberikan arah pendeteksian

kecurangan.Standar terbaru diharapkan membawa harapan baru dengan mengatasi kelemahan-

kelemahan sebelumnya.
Adanya tekanan kompetisi,tekanan waktu dan tekanan hubungan dengan klien demikian

juga dapat berdampak pada keberhasilan pendeteksian kecurangan.Pihak KAP perlu terus-

menerus menyadari masalah inidan konsekuensinya serta menjaga agar tekanan-tekanan dalam

lingkungan tidak bertambah buruk.Hal yang masih banyak dikerjakan ke masa depan adalah

mencari dan memperbaiki metode dan prosedur yang paling tepat dalam melakukan

pendeteksian kecurangan. Metode dan prosedur tradisional tidaklah memadai dalam usaha

pendeteksian kecurangan, sehingga riset-riset mendatangperlu menjawab tantangan ini.

Proses audit untuk auditor internal maupun auditor eksternal telah berubah dalam delapan

sampai sepuluhtahun terakhir(Lemon, MW&TatumKW, 2003).Faktor utama yang mendorong

perubahan initer masuk globalisasi bisnis, kemajuan teknologi, dan tuntutan untuk Pertambahan

Nilai audit. Gambarno.1 menggambarkan perubahan ini dalam praktek, yang melakukan

perubahandi kedua standar audit internal dan eksternal:


Fig.no.1-Konvergensi antaraAuditInterndan FungsiAuditEksternal

Sumber:Rittenberg, L.E.&Covaleski, M.(1997)


DAFTAR PUSTAKA

Alvin A.Arens, Randal J.Elder & Mark S.Beasley, 2003 “ Auditing and Assurance Services an

Integrated Approach “ International Edition.

Effendi, M. Arief, ”Komunikasi Komite Audit : Antara Harapan dan Kenyataan”, Majalah

Media Akuntansi, Jakarta, Edisi Juli – Agustus 2002.

Mulyadi.2004.auditing.edisi 6 Jakarta : Salemba Empat

www.oeconomica.uab.ro/upload/lucrari/1020081/18.pdf