Anda di halaman 1dari 31

MODEL KEMAS GEOMERI PADATAN

( Makalah Kimia Unsur Logam )

Kelompok 2 :

1. Amalia Riduan 1813023044


2. Elci Oktaria 1813023026
3. Mella Ambarwati 1813023032
4. Mutiara P. Tampak Edla 1813023038

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2020

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI

1. Jenis-Jenis Padatan...........................................................................................1

2. Susunan atom-atom dan selitan/intersisi dalam kristal logam..........................2

A. Model Susunan Atom-Atom dalam Kristal Logam......................................2

B. Selitan / intersisi Susunan Bujursangkar dan Heksagonal............................2

3. Pola Susunan Pengemasan dalam Kristal Logam.............................................3

A. Kemasan Tidak Rapat dan Selitan / Intersisinya..........................................3

B. Kemasan Rapat Heksagonal Dan Selitan / Intersisinya................................5

C. Kemasan Rapat Kubus Dan Selitan / Intersisinya........................................7

4. Unit sel, Kisi Kristal, dan Pengindeksan Bidang Kristal dengan Indeks Miller
(hkl)...................................................................................................................8

A. Unit Sel.........................................................................................................8

B. Kisi kristal...................................................................................................10

C. Pengindeksan Bidang Kristal dengan Indeks hkl........................................13

5. Sistem Kristal dan kisi bravais, dan Sebaran pola susunan atom-atom pada
kristal logam dalam Tabel Periodik Unsur.....................................................15

A. Sistem Kristal dan Kisi Bravais..................................................................15

B. Pola Susunan Atom-Atom Pada Kristal Logam dalam SPU......................19

6. Faktor Tumpukan / Efisiensi Kemasan dan Perhitungan Geometri


Pengemasan Kristal........................................................................................21

A. Faktor tumpukan sel satuan kubus sederhana.............................................21

B. Faktor tumpukan sel satuan kubus berpusat badan.....................................22

C. Faktor tumpukan sel satuan kubus berpusat muka.....................................24

ii
D. Faktor tumpukan sel satuan heksagonal.....................................................24

DAFTAR PUSTAKA

iii
1. Jenis-Jenis Padatan
Secara umum material berfasa padat berdasarkan struktur kristalnya terdiri
atas padatan kristalin, semikristalin, dan non kristralin.
 Kristalin atau biasa disebut kristal merupakan material yang memiliki
keteraturan sususan partikelnya (dapat berupa atom, ion atau
kombinasi keduanya). Susunan partikel kristalin tersebut berulang
secara periodic dan memiliki jarak tertentu dalam ruang tiga dimensi.

-Kristalin
 Material non kristalin. Material ini memiliki susunan yang berlawana
dengan material kristalin susunannya acak sehingga bersifat amorf.

-Non Kristalin
 Material semikristalin memiliki susunan teratur namun tidak seteratur
kristalin serta sedikit acak namun tidak seacak non kristalin. Material
ini dianggap sebagai dengan material peralihan antara material
kristalin dan non kristalin.

-Semikristalin

1
2. Susunan atom-atom dan selitan/intersisi dalam kristal logam

A. Model Susunan Atom-Atom dalam Kristal Logam.


Atom-atom yang menyusun suatu material kristalin dianggap sebagai
bola pejal. Atom –atom tersebut terkemas bersama dalam suatu kristal
yang tertata dalam rangkaian berulang dalam kisi kristal. Ada yang
membentuk dasar berupa susunan bujursangkar dan adapula yang berupa
susunan heksagonal.

Susunan Bujursangkar Susunan


Heksagonal
Pada susunan bujursangkar setiap atom logam bersinggungan dengan
empat atom sejenis, sedangkan pada susunan heksagonal setiap atom
logam bersinggungan dengan enam atom sejenis.

B. Selitan / intersisi Susunan Bujursangkar dan Heksagonal


Pada susunan tersebut diantara lapisan-lapisan atom terdapat celah /
ruang terbuka / rongga yang disebut selitan atau intersisi. Apabila dilihat
gambar tersebut maka akan terlihat jelas bahwa ukuran selitan pada
susunan bujursangkar lebih besar dibandingkan ukuran selitan pada
susunan heksagonal. Hal ini menunjukkan bahwa selitan pada susunan
heksagonal lebih rapat dibandingkan dengan selitan pada susunan
bujursangkar. Dengan demikian, susunan heksagonal disebut kemasan
rapat atau susunan rapat (close packing), sedangkan susunan
bujursangkar bukan merupakan susunan rapat. 

2
3. Pola Susunan Pengemasan dalam Kristal Logam

A. Kemasan Tidak Rapat dan Selitan / Intersisinya


Pada susunan atom-atom dalam kemasan terdapat model susunan atom
bujur sangkar dan model susunan heksagonal. Kemasan tidak rapat
merupakan pola pengemasan dengan meletakkan atom-atom logam
sejenis tepat diatas atom-atom logam pada susunan bujur sangkar
maupun heksagonal. Pada kemasan tidak rapat, selitan b pada lapisan A
di bawah ini tidak tertutup oleh atom-atom sejenisnya.

Atom-atom logam yang berada tepat di atas atom logam di lapisan A


membentuk lapisan A kembali yang ditunjukan dengan lapisan berwarna
hijau (warna hijau digunakan sebagai pembeda antara lapisan A dengan
lapisan A lainnya).

Lapisan A

Lapisan A

Lapisan A dan lapisan A tersusun secara berulang membentuk pola


susunan AAA.

Gambar a Gambar b

3
Gambar di atas menunjukan pembentukan susunan tidak rapat kubus
(bujur sangkar). Pada gambar (a) menunjukkan lapisan-lapisan A
dipisahkan untuk mengetahui bahwa atom-atom pada lapisan A (hijau)
berada lurus di atas lapisan A (biru). Dalam susunan tidak rapat kubus
setiap atom logam bersinggungan dengan empat atom sejenis pada
lapisan yang sama, sebuah atom sejenis pada lapisan diatasnya dan
sebuah atom sejenis pada lapisan dibawahnya.

Untuk kemasan tidak rapat heksagonal susunannya sama hal nya dengan
kemasan tidak rapat kubus. Pada kemasan tidak rapat heksagonal setiap
atom logam bersinggungan dengan enam atom logam lainnya pada
lapisan yang sama, dan sebuah atom logam lain dilapisan atas dan
sebuah atom logam lain di lapisan bawahnya.

Pada kemasan tidak rapat kubus dan kemasan tidak rapat heksagonal
terdapat selitan yang terbuka.

4
B. Kemasan Rapat Heksagonal Dan Selitan / Intersisinya

Tempat-tempat yang terdapat di depan selitan b pada lapisan A pada


gambar di bawah atas dapat ditempati oleh atom-atom sejenis. Atom-
atom yang menempati selitan b digambarkan sebagai bola-bola biru yang
membentuk lapisan B seperti pada gambar di bawah ini. Lapisan B
memiliki dua macam selitan yaitu selitan yang tertutup dan selitan yang
terbuka. Pada gambar dibawah ini selitan yang terbuka ditandai dengan
huruf c dan selitan yang terbuka ditandai dengan huruf a.

Selitan
a yang

terdapat pada lapisan B dapat ditempati oleh atom-atom pada lapisan A.


begitu pula sebaliknya selitan b yang terdapat pada lapisan A ditempati
oleh atom - atom pada lapisan B. Lapisan A dan B dapat tersusun secara
berulang membentuk pola susunan ABABAB Pada pola susunan
berulang ini disebut susunan rapat heksagonal (hexagonal closest packing
= hcp) seperti yang ditunjukkan pada gambar.

5
Gambar di atas menunjukkan pembentukan susunan rapat heksagonal
dari lapisan A dan B. Pada gambar kiri lapisan-lapisan A dan B
dipisahkan untuk mempermudah dalam melihat tempat-tempat selitan
yang ditempati oleh atom-atom sejenis. Dalam susunan rapat heksagonal
setiap atom logam bersinggungan dengan enam atom sejenis pada lapisan
yang sama, tiga atom sejenis pada lapisan diatasnya dan tiga atom sejenis
pda lapisan dibawahnya.

Dalam susunan rapat heksagonal terdapat dua macam tempat selitan,


yaitu tempat selitan tetrahedral (T) dan tempat selitan oktahedral (O)
tempat selitan tetrahedral terbentuk dari tiga atom pada lapisan B dan
satu atom dari lapisan A atau sebaliknya seperti ditunjukkan pada gambar
di bawah ini. Beberapa logam seperti berilium dan zink mengkristal
dengan susunan rapat heksagonal.

Gambar selitan tetrahedral (T)

Tempat selitan oktahedral terbentuk dari tiga atom pada lapisan A dan
tiga atom pada lapisan B seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Volume tempat selitan oktahedral adalah lebih besar dibandingkan
dengan volume tempat selitan tetrahedral.

6
Gambar selitan oktahedral (O)

C. Kemasan Rapat Kubus Dan Selitan / Intersisinya


Selitan c pada lapisan B dapat ditempati oleh atom-atom sejenis yang
digambarkan dengan bola-bola berwarna hijau. Atom-atom yang
menempati tempat-tempat selitan c membentuk lapisan C seperti
ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Lapisan C memiliki tempat-tempat selitan a dan b. Tempat-tempat


selitan a pada lapisan C dapat ditempati oleh atom-atom pada lapisan A.
Tempat-tempat selitan b pada lapisan A dapat ditempati oleh atom-atom
pada lapisan B. Tempat-tempat selitan c pada lapisan B dapat ditempati
oleh atom-atom pada lapisan C dan seterusnya sehingga diperoleh
susunan ABCABCABC.

Susunan berulang tersebut disebut susunan rapat kubus (cubic closest


packing = ccp). Seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut ini.

7
Gambar diatas menunjukkan pembentukan susunan rapat kubus dari
lapisan-lapisan A, B, dan C. Pada gambar kiri lapisan-lapisan A, B, dan
C dipisahkan untuk mempermudah dalam melihat tempat-tempat selitan
yang ditempati oleh atom-atom sejenis. Dalam susunan rapat kubus
setiap atom logam bersinggungan dengan 6 atom sejenis pada lapisan
yang sama, 3 atom sejenis pada lapisan diatasnya, 3 atom sejenis pada
lapisan dibawahnya. Bilangan koordinasi setiap atom logam baik yang
berada di lapisan A maupun lapisan B adalah 12. Beberapa logam seperti
tembaga, perak, dan emas mengkristal dengan susunan rapat kubus.

4. Unit sel, Kisi Kristal, dan Pengindeksan Bidang Kristal dengan Indeks
Miller (hkl)

A. Unit Sel
Unit sel adalah tatanan bola-bola paling sederhana yang apabila pada
pengulangan diperoleh seluruh bangun kristal. Unit sel yang paling
mudah dilihat adalah kubus sederhana yang dibangun oleh delapan bola
yang menempati kedelapan titik sudut kubus. Berikut ini adalah gambar
satuan sel sistem kristal :

Penetapan suatu titik tempat unit sel dapat dilakukan secara sembarang,
namun sekali ditentukan harus konsisten diterapkan pada seluruh kristal.

8
Berdasarkan sifat simetrinya menurut arah dua dimensi, ada tiga
kemungkinan unit sel pada suatu kristal yang dibentuk.
 Unit sel A, titik-titik kisi terletak pada atom atau ion yang
bersangkutan. Satu unit sel tersusun oleh dua lingkaran besar dan dua
lingkaran kecil.
 Unit sel B, titik-titik kisi terletak diantara atom-atom atau ion-ion. Sama
halnya dengan unit sel A, satu unit sel tersusun oleh dua lingkaran besar
dan dua lingkaran kecil.
 Unit sel C, letak titik-titik kisinya sama seperti unit sel B. Namun, unit
selnya tersusun oleh masing-masing hanya satu lingkaran besar dan satu
lingkaran kecil.

Dengan demikian, ukuran unit sel A dan B adalah sama dan lebih besar
dari unit sel C. Dari ketiganya, kemungkinan unit sel A mempunyai sifat
simetri paling tinggi atau paling simetri karena ia mempunyai (jumlah
dan atau jenis) unsur-unsur simetri maksimum, dan dalam hal ini unit sel
dipilih bagi sel yang mempunyai sifat simetri tertinggi.
Dengan cara yang sama, unit sel dalam arah tiga dimensi dapat
ditentukan.
 Pada kubus sederhana, unit sel dibangun oleh delapan bola yang
menempati kedelapan titik sudut kubus. Namun, apabila bangun kubus
diulang ke arah tiga dimensi, maka setiap bola sesungguhnya merupakan
titik sudut persekutuan dari delapan kubus. Dengan kata lain, tiap bola

9
hanya memberikan kontribusi 1/8 bagian saja pada tiap unit sel. Jadi, satu
unit sel kubus dibangun dari satu atom saja (1/8 x 8).
 Untuk kubus pusat badan terdapat satu bola (atom) interior tambahan
yaitu sebagai pusat bangun kubus, sehingga dalam satu unit sel terdapat 1
+ [8(1/8)] = 2 atom.
 Untuk bangun kubus pusat muka terdapat enam atom tambahan yang
menempati keenam muka kubus, sehingga tiap unit sel kubus pusat muka
terdapat 6(1/2) + [8(1/8)] = 4 atom.
 Jumlah atom dalam sel satuan heksagonal = 1/6 x jumlah atom di pojok
pojok sel satuan + ½ x jumlah atom di puat muka + jumlah atom di
dalam sel satuan = 1/6 x 12 + ½ x 2 +3 = 6

Kubus Primitive Kubus Pusat Badan Kubus Pusat Muka

Heksagonal

B. Kisi kristal
Konsep kemasan kristal mengasumsikan bahwa atom-atom berupa bola
keras dan tentunya mempunyai ukuran yang sama untuk atom yang
sama. Dalam suatu kristal logam, atom-atom tertata dalam rangkaian
terulang, yang disebut kisi kristal. Kisi kristal juga merupakan kumpulan
dari sel satuan yang teratur. Parameter dari sel satuan dapat dinyatakan
oleh sisi sel satuan (a,b,dan c) dan sudut diantaranya (α, β, dan γ)

10
Gambar sumbu dan sudut dalam suatu bangun kristal

Dalam beberapa hal sumbu c diarahkan sejajar dengan arah unit kristal
yang bersangkutan, misalnya arah memanjang atau memendek. Sumbu-
sumbu a dan b yang keduanya tidak sebidang dengan sumbu c mewakili
arah terpilih kristal yang bersangkutan. Bidang-bidang kristal dilukis
menurut perpotongannya dengan sumbu-sumbu tersebut.

Kisi Kristal 2D
Dalam ruang dua dimensi, terdapat 5 kisi Bravais, yang dikelompokkan
dalam empat keluarga kristal.

1 – sadak, 2 – persegi panjang, 3 – persegi panjang berpusat, 4 – heksagonal,


dan 5 – persegi.

11
Kisi Kristal Bravais 2D

Sel satuan ditentukan sesuai dengan panjang relatif tepi selnya (a dan b)
serta sudut di antara keduanya (θ). Luas sel satuan dapat dihitung dengan
menghitung a × b, dengan a dan b adalah vektor kisi. Sifat-sifat keluarga
kristal diberikan di bawah ini:

Kisi Kristal 3D
Struktur kristal dapat dibedakan berdasarkan tipe kisi Bravais atau kisi
ruang yang dibangun berdasarkan pada sifat simetri unit sel dalam
translasi yang diperlukan dalam memperoleh titik-titik ekuivalen di dalam
unit sel yang bersangkutan. Hasilnya adalah 14 macam bangun geometri
kisi Bravis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut.

12
C. Pengindeksan Bidang Kristal dengan Indeks hkl
Indeks Miller Dalam sistem tiga dimensi, kisi kristal akan membentuk
pasangan bidang-bidang sejajar dan berjarak sama yang disebut bidang-
bidang kisi. Bidang-bidang kisi inilah yang akan menentukan arah
permukaan dari suatu kristal. Bidang-bidang kisi pada kristal sangat
mempengaruhi perilaku dan sifat bahan. Bidang-bidang yang paling
mudah digambarkan adalah bidang yang membatasi sel satuan dengan
bidang lainnya. Arah suatu bidang dapat dinyatakan dengan parameter
numeriknya, yang selanjutnya dibuat menjadi bilangan bulat terkecil.

13
Bilangan ini disebut indek Miller, yang biasanya dinyatakan dengan
simbol (h k l). Untuk arah bidang digunakan simbol atau lambang [h k l]
dan untuk bidang kristal digunakan lambang (h k l). Sebagai contoh
penentuan suatu bidang dengan indeks Miller (332) seperti langkah-
langkah berikut ini (Wiendartun, 2012: 7)

a. Menentukan titik potong antara bidang yang bersangkutan dengan


sumbu-sumbu (a1, a2, a3 )/ sumbu-sumbu primitif atau konvensional
dalam satuan konstanta lattice (a1, a2, a3).
b. Menentukan kebalikan (reciproc) dari bilangan-bilangan tadi, dan
kemudian tentukan tiga bilangan bulat (terkecil) yang mempunyai
perbandingan yang sama. Indeks (h k l).
c. Bidang ABC pada Gambar.4 memotong sumbu-sumbu a1, di 2a1, a2 di
2a2 dan a3 di 3a3. Bila diambil kebalikannya diperoleh , dan
selanjutnya ketiga bilangan tersebut dikalikan dengan bilangan 6
(KPK dari penyebut bilangan) dan diperoleh 3 3 2. Indek Miller dari
bidang ABC tersebut adalah (3 3 2).

14
5. Sistem Kristal dan kisi bravais, dan Sebaran pola susunan atom-atom
pada kristal logam dalam Tabel Periodik Unsur

A. Sistem Kristal dan Kisi Bravais


Sistem kristal dapat dibagi ke dalam 7 sistem kristal. Adapun ke tujuh
sistem kristal tersebut adalah Kubus, tetragonal, ortorombik,
heksagonal, trigonal, monoklin, dan triklin.

1. Sistem kristal kubus


Sistem kristal kubus memiliki panjang rusuk yang sama ( a = b = c)
serta memiliki sudut (α = β = γ) sebesar 90°. Sistem kristal kubus
ini dapat dibagi ke dalam 3 bentuk yaitu kubus sederhana (simple
cubic/ SC), kubus berpusat badan (body-centered cubic/ BCC) dan
kubus berpusat muka (Face-centered Cubic/ FCC).
Berikut bentuk dari ketiga jenis kubus tersebut:
Kubus sederhana

Pada bentuk kubus sederhana, masing-masing terdapat satu atom


pada semua sudut (pojok) kubus.

15
Pada kubus BCC, masing-masing terdapat satu atom pada semua
pojok k ubus, dan terdapat satu atom pada pusat kubus (yang
ditunjukkan dengan atom warna biru

Pada kubus FCC, selain terdapat masing-masing satu atom pada


semua pojok kubus, juga terdapat atom pada diagonal dari masing-
masing sisi kubus (yang ditunjukkan dengan atom warna merah).

2. Sistem Kristal tetragonal


Pada sistem kristal tetragonal, dua rusuknya yang memiliki panjang
sama (a = b ≠ c) dan semua sudut (α=β = γ) sebesar 90°. Pada
sistem kristal tetragonal ini hanya memiliki dua bentuk yaitu seder
hana dan berpusat badan. Pada bentuk tetragonal sederhana, mirip
dengan kubus sederhana, dimana masing-masing terdapat satu
atom pada semua sudut (pojok) tetragonalnya

Sedangkan pada tetragonal berpusat badan, mirip pula dengan


kubus berpusat badan, yaitu memiliki 1 atom pada pusat tetragonal

16
(ditunjukkan pada atom warna biru), dan atom lainnya berada pada
pojok (sudut) tetragonal tersebut.

3. Sistem kristal Ortorombik


Sistem kristal ortorombik terdiri atas 4 be ntuk, yaitu : ortorombik
sederhana, body center (berpusat badan) (yang ditunjukkan atom
dengan warna merah), berpusat muka (yang ditunjukkan atom
dengan warna biru), dan berpusat muka pada dua sisi ortorombik
(yang ditunjukkan atom dengan warna hijau). Panjang rusuk dari
sistem kristal ortorombik ini berbeda-beda (a ≠ b≠ c), dan memiliki
sudut yang sama (α = β = γ) yaitu sebesar 90°.

4. Sistem kristal monoklin

17
Sistem kristal monoklin terdiri atas 2 bentuk, yaitu : monoklin
sederhana dan berpusat muka pada dua sisi monoklin (yang
ditunjukkan atom dengan warna hijau).
Sistem kristal monoklin ini memiliki panjang rusuk yang berbeda-
beda (a ≠ b≠ c), serta sudut α = γ = 90° dan β

5. Sistem kristal triklin

Pada sistem kristal triklin, hanya terdapat satu orientasi.


Sistem kristal ini memiliki panjang rusuk yang berbeda (a
≠ b ≠ c), serta memiliki besar sudut yang berbeda-beda
pula yaitu α ≠ β ≠ γ ≠ 90°.

6. Sistem kristal rombohedral atau trigonal

18
Pada sistem kristal ini, panjang rusuk memiliki ukuran yang sama
(a = b ≠ c). sedangkan sudut-sudutnya adalah α = β = 90°dan γ
=120°.

7. Sistem kristal heksagonal


Pada system kristal ini, sesuai dengan namanya heksagonal (heksa
= enam), maka system ini memiliki 6 sisi yang sama. System
kristal ini memiliki dua nilai sudut yaitu 90° dan 120° ( α = β =
90°dan γ =120°) , sedangkan pajang rusuk-rusuknya adalah a = b ≠
c. semua atom berada pada sudut-sudut (pojok) heksagonal dan
terdapat masing-masing atom berpusat muka pada dua sisi
heksagonal (yang ditunjukkan atom dengan warna hijau).

B. Pola Susunan Atom-Atom Pada Kristal Logam dalam SPU


Sebagian logam mengkristal dalam satu pola susunan atom-atom,
sebagian yang lain mengkristal dalam dua atau tiga pola susunan

19
atom-atom. Pola susunan atom-atom logam dan semilogam (metaloid)
ditunjukkan pada gambar berikut :

Gambar Pola Susunan Atom-Atom Pada Kristal Logam dalam SPU

pada gambar diatas, logam yang berada dalam lingkaran seperti Ni


mengkristal dalam susunan rapat kubus (ccp); logam yang berada
segienam seperti Zn mengkristal dalam susunan rapat heksagonal (hcp);
logam yang berada pada bujursangkar seperti Nd mengkristal dalam
susunan kubus berpusat bada (bcc) ; logam yang berada di segilima
seperti Sn mengkristal seperti struktur kristal intan ; logam yang berada
dalam segitiga seperti Bi mengkristal dalam susunan rhombohedral(R);
logam yang berada dalam elipsoid Po mengkristal dalam susunan kubus
primitif (P). Logam yang berada pada segienam hitam dan lingkaran
putih seperti Co , La, dan Pr mengkristal dalam susunan gabungan dari
ccp dan hcp dengan pola ABCABABCAB.

Logam Sr berada di dalam lingkaran, segienam dan bujursangkar. Hal ini


menunjukkan bahwa logam Sr dapat mengkristal dalam susunan rapat
kubus (ccp), susunan rapat heksagonal (hcp) , dan susunan kubus

20
berpusat badan (bcc). Pada temperatur 25˚C susunan yang lebih stabil
digambarkan dalam daerah yang lebih luas. Untuk Sr kestabilan susunan
ccp>hcp>bcc. Sekitar 70% logam mengkristal dalam susunan rapat hcp
atau ccp , sekitar 25% mengkristal dalam susunan bcc dan sekitar 5%
sisanya mengkristal dalam susunan yang lain seperti
rhombohedral,susunan kubus sederhana, susunan seperti struktur kristal
dan susunan yang lainnya.

Pola susunan atom – atom pada setiap logam akan berpengaruh pada sifat
logam yang mudah ditempa. Pada logam yang memiliki pola susunan
atom – atom yang beragam akan mudah di tempa, karena saat dipanaskan
bentuk pola susunan atom – atomnya akan berubah. Sedangkan logam
yang hanya mempunyai satu pola susunan atom – atom dalam Kristal.
Jika ditempa akan langsung menjadi hancur.

6. Faktor Tumpukan / Efisiensi Kemasan dan Perhitungan Geometri


Pengemasan Kristal

Faktor tumpukan atau efisiensi kemasan menyatakan fraksi dari volume sel
satuan yang ditempati oleh atom-atom logam. Didalam menghitung besarnya
faktor tumpukan, atom-atom logam dianggap sebagai bola-bola keras. Untuk
struktur logam dapat diterapkan konsep tumpukan atom atau faktor
tumpukan, yaitu:

volume atom
Faktor tumpukan =
volume sel satuan

Dimana :

Volume atom = jumlah atom dalam satu unit sel x volume bola
Volume atom sel satuan = volume kubus

A. Faktor tumpukan sel satuan kubus sederhana

21
Apabila a adalah sisi kubus dan R adalah jari-jari atom logam, maka
1
a = 2R atau R = a.
2
Dimana :
Jumlah atom dalam sel satuan kubus sederhana = 1/8 x jumlah atom
dipojok-pojok sel satuan = 1/8 x 8 = 1
Volume atom = 1 atom dalam unit sel kubus sederhana x volume bola (

4 3
πr ¿
3
Volume kubus = a3
Jadi, faktor tumpukan dari kubus sederhana dapat dihitung sebagai
berikut:
volume atom
Faktor tumpukan (APF) =
volume sel satuan
1 4
= ( 8
x 8) x π r
3
3

3
a
4 1 3
1x π ( a)
= 3 2
a3
= 0.523
Jadi, faktor tumpukan untuk kubus sederhana adalah 0.523 atau 52,3%.

22
B. Faktor tumpukan sel satuan kubus berpusat badan

R a
Pada kubus pusat badan, dimisalkan juga sisi kubus dengan a dan jari-jari
r. Dalam kubus pusat badan, kubus disusun oleh dua buah atom yang
terdiri dari satu atom di tengah berbentuk bola utuh dan satu atom sudut
yang terbagi menjadi delapan dan terletak di masing-masing sudut.
Permukaan bola atom pusat dan sudut bersinggungan pada satu titik
sehingga panjang diagonal ruang sama dengan empat kali jari-jari bola,
dengan panjang diagonal ruang sebagai berikut
Panjang diagonal ruang = √ ( panjang diagonal sisi )2 + ( panjang sisi )2

Panjang diagonal sisi = √ ( panjang sisi )2 + ( panjang sisi )2


Panjang sisi = a, maka:
Panjang diagonal sisi = √ ( panjang sisi )2 + ( panjang sisi )2

= √ a2 +a 2

= √ 2 a2 =a √ 2

Panjang diagonal ruang = √ ( panjang diagonal sisi )2 + ( panjang sisi )2

= ( a √ 2 )2+ a2

= √ 2 a2 +a2

= √ 3 a2

=a √ 3

23
Karena 4r =a √ 3, maka setelah mengetahui hubungan r dan a, maka:r =

a √3
4

3
1 4 a 3
[ x 8 +1] x π ( √ )
( )
Jadi, faktor tumpukan bcc = 8 3 4 = 0.68 = 68%
a3

C. Faktor tumpukan sel satuan kubus berpusat muka

2
a
a
Sama seperti perhitungan sebelumnya, sisi kubus dimisalkan dengan a,
dan jari-jari r. FCC tersusun juga oleh empat buah atom (berbentuk bola)
yang terdiri dari enam bentuk setengah bola di dinding kubus, dan
delapan bentuk seperdelapan bola di sudut kubus. Permukaan
seperdelapan bola di sudut bersinggungan dengan permukaan setengah
bola di dinding kubus sehingga panjang diagonal sisi kubus sama dengan
empat kali jari-jari bola.

Panjang diagonal sisi = √ ( panjang sisi )2 + ( panjang sisi )2

Panjang sisi = a, maka:

Panjang diagonal sisi = √ ( panjang sisi )2 + ( panjang sisi )2

= √ a2 +a 2 = √ 2 a2 =a √ 2

Karena 4r =a √ 2, maka setelah mengetahui hubungan r dan a, maka:r =

a √2
4

24
3
1 1 4 a 2
Jadi, faktor tumpukan bcc = [( ) ( ) ]
8
x8 + x 6 x π ( √ )
2 3
3
4 = 0.74 =
a
74%

D. Faktor tumpukan sel satuan heksagonal

Jumlah atom dalam sel satuan heksagonal = (1/6 x jumlah atom di pojok
pojok sel satuan + ½ x jumlah atom di pusat muka + jumlah atom di
dalam sel satuan) = 1/6 x 12 + ½ x 2 +3 = 6

Volume 1 atom = 4/3 πr3

Volume heksagonal = luas alas x tinggi


= luas 6 segitiga sama sisi x tinggi

= 6 (r x r √ 3) x c

= 6 (r x r √ 3x 1,633 a

= 12 x r x r √ 3x 1,633 r

= 33,94 r3

volume atom
Faktor tumpukan (APF) =
volume sel satuan

4 3
6x πr
= 3
33,94 r 3

= 0,7405 = 74.05%

25
DAFTAR PUSTAKA

Fauzi, M., Nina Kadaritna dan Noor Fadiawati. 2018. Penuntun Praktikum Kimia
Unsur Non Logam. Lampung : Universitas Lampung.

Miessler, G.L. and Tarr, D.A. 1991. Inorganic Chemistry. London. Prentice-Hall.

Sugiyarto, Kristian H. Dan Retno D. 2010. Kimia Anorganik Logam. Yogyakarta:


Graha Ilmu.

26
LEMBAR PENILAIAN
Kimia Unsur Non Logam

Kelompok : 1 (Satu)
Anggota : (1) Amalia Riduan NPM 1813023044
(2) Elci Oktaria NPM 1813023026
(3) Mella Ambarwati NPM 1813023032
(4) Mutiara P.Tampak E NPM 18130230
Hari, tanggal : …………………………
Materi : …………………………

No Aspek yang dinilai: (1) (2) (3) (4)


1 Kesesuaian makalah dengan LKM*

2 Kualitas tayangan presentasi (PPT/Prezi/


sejenisnya)
3 Penggunaan media visualisasi
(gambar/animasi/video/pemodelan)
4 Pemahaman materi presentasi

5 Kronologis penyampaian materi presentasi

6 Kemampuan berargumentasi/menanggapi
pertanyaan
7 Kemampuan bekerja sama dalam kelompok

Keterangan:
Nilai maksimal : 80
Nilai ambang batas : 66

Bandar Lampung,…………
Dosen yang Menilai,

………………….....

LEMBAR PENILAIAN

27
Kimia Unsur Non Logam

Kelompok : 1 (Satu)
Anggota : (1) Amalia Riduan NPM 1813023044
(2) Elci Oktaria NPM 1813023026
(3) Mella Ambarwati NPM 1813023032
(4) Mutiara P.Tampak E NPM 18130230
Hari, tanggal : …………………………
Materi : …………………………

No Aspek yang dinilai: (1) (2) (3) (4)


1 Kesesuaian makalah dengan LKM*

2 Kualitas tayangan presentasi (PPT/Prezi/


sejenisnya)
3 Penggunaan media visualisasi
(gambar/animasi/video/pemodelan)
4 Pemahaman materi presentasi

5 Kronologis penyampaian materi presentasi

6 Kemampuan berargumentasi/menanggapi
pertanyaan
7 Kemampuan bekerja sama dalam kelompok

Keterangan:
Nilai maksimal : 80
Nilai ambang batas : 66

Bandar Lampung,…………
Dosen yang Menilai,

………………….....

28