Anda di halaman 1dari 3

Nama : Rizky Fadzilah Nur

NIM : 17/415150/TK/46439
Kelas : B

TES FORMATIF JKG M11

1. Mengapa dalam Jaring Kontrol Vertikal (JKV) diperlukan Sistem Tinggi


yang mengacu pada bilangan geopotensial?
Karena pada pengukuran Jaring Kontrol Vertikal (JKV), digunakan 2 sisitem
tinggi yang berbeda. Yang pertama ialah sisitem tinggi geometrik yang
menggunakan ellipsoid sebagai bidang referensi, sistem tinggi ini digunakan
pada pengukuran dengan menggunakan GPS. Sistem tinggi yang kedua ialah
sistem tinggi fisis yang menggunkaan bidang referensi geoid. Sistem tinggi
fisis ini dikatakan lebih baik atau lebih teliti karena referensi yang digunakan,
yaitu geoid merupakan model bumi yang paling merepresentasikan kondisi
sebenarnya sehingga biasanya sistem tinggi ini juga dilakukan pada
pengukuran JKV orde tinggi. Mengapa diperlukan sistem tinggi yang
mengacu pada bidang geopotensial? Karena bidang geopotensial inilah yang
membentuk geoid yaitu model bumi yang paling teliti. Selanjutnya, bilangan
geopotensial ini diperlukan untuk menentukan jenis geoid yang digunakan.

2. Menurut SNI JKV, sampai pada orde berapa diperlukan gayaberat hasil
pengukuran langsung untuk keperluan menghitung koreksi Orthometris?

Sesuai dengan gambar di atas yang dikutip dari SNI JKV, bahwa pengukuran
gayaberat secara langsung diperlukan pada kelas LAA dan LA saja.
Selanjutnya berdasarkan pada SNI JKV juga dijelaskan bahwa pada kelas
LAA dan LA juga dilakukan hitungan koreksi orthometrik, tepatnya pada
halaman 10 untuk LAA dan 11 untuk LA. Sedangkan hitungan orthometrik
untuk kelas lain hanya dilakukan apabila tersedia data gayaberat hasil ukuran
yang dilakukan sebelumnya.
Untuk orde disesuaikan dengan hubungan antara kelas dan orde yang juga
tersedia pada SNI JKV dalam bentuk tabel berikut:

Artinya, prosedur yang dilakukan pada Kelas LAA juga dilakukan terhadap
Orde L0. Begitu pula untuk Orde L1 juga menggunakan presedur yang sama
dengan Kelas LA. Sehingga untuk Orde L0 dan L1 juga diperlukan
pengukuran langsung gayaberat untuk menghitung koreksi orthometrik.
Sedangkan untuk orde lain juga menggunakan data gayaberat hasil
pengukuran sebelumnya apabila tersedia.

3. Berikan uraian penjelasan tentang cara-cara mengontrol kualitas data ukuran


beda tinggi yang digunakan untuk penentuan JKV, dan data ukuran tersebut
diukur dengan metode sipatdatar.
a. Kontrol pembacaan benang
Kontrol ini dilakukan untuk memastikan pembacaan benang telah
dilakukan dengan benar. Cara yang dilakukan yaitu dengan
memastikan nilai BT terhadap BA dan BB, bahwa nilai BT yang
diperoleh dari hasil kontrol ini harus sama dengan nilai hasil bacaan.
Rumus yang digunakan untuk mencari nilai BT kontrol sebagai
berikut:

b. Kontrol hasil pengukuran pergi-pulang


Kontrol ini dilakukan untuk memastikan bahwa nilai yang diperoleh
dari hasil pengukuran merupakan nilai yang presisi. Di mana hasil
pengukuran beda tinggi pergi harus mendekati atau sama dengan hasil
pengukuran beda tinggi pulang.

c. Kontrol hasil pengukuran looping


Kontrol ini dilakukan untuk mengontrol ke akurasian hasil
pengukuran. Kontrol dilakukan menggunakan hasil pengukuran beda
tinggi pada masing-masing slag yang saling dijumlahkan secara loop
dan ketika kembali ke titik awal pengukuran nilai yang dihasilkan
haruslah mendekati nol atau dibawah toleransi kesalahan yang
ditentukan.
d. Kontrol jarak instrumen ke rambu muka dan belakang
Kontrol ini diperlukan untuk memastikan bahwa jarak dari instrumen
ke rambu di muka atau di belakang ialah sama atau mendekati.
Kontrol ini digunakan untuk mengatasi kesalahan alat dikarenakan
garis bidik yang tidak mendatar.