Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

Wudhu, Tayamum dan Mandi Besar

Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah fiqih ibadah

Dosen pengampu : Ubaiddul Azkiya, S.E.I,M.A

Disusun oleh:

1. Alip Purwadi (18106011163)


2. Nila Safira (18106011147)
3. Lilis Khofidotur Rofiqoh (18106011170)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG

TAHUN 2019

1
Kata Pengantar

Piji syukur kehadirat tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat-nya terutama nikmat sehat jasmani maupun rohani sehingga kita dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Wudhu, Tayamum dan Mandi Besar. Dan
sholawat serta salam kita sampaikan kepada nabi muhammad SAW yang kita
nantikan syafaatnya di yaumul qiyamah.

Kami ucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak


Ubbadul Azkiya, S.E.I,M.A selaku dosen pengampu mata kulia dan tidak
lupakami mengucapkan banyak terimakasih atas bantuaan dari pihak yang
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, meski demikian kami menyadari bahwa kami
masih memiliki keterbatasan pengetahuan, pengalaman, serta masih banyak
kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Akhir
kata, kami sampaikan banyak terimakasih.

Semarang, 11 Oktober 2019

Penyusun

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar..............................................................................ii

Daftar Isi........................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.......................................................................4


B. Rumusan Masalah.................................................................................4
C. Tujuan Penulisan..................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

A. Wudhu...................................................................................................5
B. Tayamum..............................................................................................7
C. Mandi Besar..........................................................................................8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan...........................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bersuci hukumnya wajib, bersuci itu sendiri terbagi menjadi 2, yaitu
bersuci batin (mensucikan diri dari dosa dan maksiat) dan lahir (bersih dari
kotoran dan hadast). Kebersihan dari kotoran cara menghilangkan dengan
menghilangkan dengan menghilangkan kotoran itu pada tempat ibadah, pakaian
yang dipakai, dan pada badan seseorang. Sedangkan kebersihan hadast dilakukan
dengan kebersihan dari hadas dilakukan dengan mengambil wudhu, bertayamum,
dan mandi.
Dari masing-masing cara bersuci tersebut, memiliki ketentuan-ketentuan
yang harus diketahui dan ditaati. Namun kenyataanya, banyak di antara kita yang
memiliki banyak kekurangan tentang ketentuan-ketentuan tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud wudhu?
2. Apa syarat sahnya wudhu, rukun dan sunah wudhu dan hal-hal yang
membatalkan wudhu?
3. Apa yang dimaksud dengan tayamum?
4. Apa syarat sahnya tayamum, rukun, dan sunah tayamum dan hal-hal yang
membatalkan tayamum dan hukum melihat air bagi orang yang
bertayamum?
5. Apa yang di maksud mandi?
6. Bagaimana alasan diwajibkan mandi, rukun, sunah-sunah mandi?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui definisi wudhu, rukun, sunnah, hal-hal yang menghendaki
wudhu
2. Mengetahui ketentuan-ketentuan bertayamum.
3. Untuk mengetahui bagaiman alasan mandi, rukun,dan sunah-sunah mandi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Wudhu
Dalam istilah lughah (bahasa), wudhu berarti bersih atau indah. Sedangkan
menurut syara’ adalah bersuci dari hadast kecil menggunakan air dengan cara
membasuh bagian-bagian tertentu menurut syariat islam. Berwudhu adalah
kewajiban bagi orang-orang yang akan melakukan ibadah sholat, tawaf. Sebab
wudhu adalah salah satu dari syarat sahnya sholat, dan tidak sah ibadah seseorang
jika dilakukan tanpa berwudhu terlebih dahulu. Allah SWT telah menerangkan
tentang wudhu dalam surat al-Maidah ayat 6:
“Hai orang-orang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basulah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”

1. Kewajiban Berwudhu
Wudhu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah.
Kewajiban tersebut sudah di tetapkan melalui tiga dalil, yaitu :
Dalil pertama adalah ayat al-quran. Dimana allah SWT telah
berfirman: “wahai orang-orang yang beriman. Apabila kalian hendak
mengerjakan sholat, maka basuhlah muka dan tangan kalian sampai ke
siku. Kemudian sapulah kepala kalian dan basulah kaki kalian sampai
pada kedua mata kaki”. (Al-Maidah:6).
Yang yang kedua adalah hadist rosulullah yang di riwayatkan oleh
abu hurairah RA. Dimana nabi SAW pernah bersabda : ”Allah tidak
akan menerima sholat seseorang diantara kalian apabila berhadast,
sehingga ia berwudhu”(H.Ral-Bukhari, muslim, abu daud dan at-
Tirmidzi).
Dalil yang ketiga Ijma ulama. Ijma ulama menetapkan kewajiban
wudhu dari sejak masa rosulullah SAW sampai sekarang ini hingga hari
akhir.

2. Syarat sahnya wudhu


a. Islam. Tidak sah wudhunya seorang non muslim, kecuali dia telah
masuk islam.
b. Mumayyiz. Yakni yang sudah bisa membedakan baik buruknya
suatu pekerjaan.
c. Tidak dalam keaadan berhadast besar.
d. Berwudhu dengan memnggunakan air yang suci mensucikan.
e. Tidak ada sesuatu yang menghalangi air wudhu sampai pada anggota
tubuh misanya, getah, cat, dan sebagainya.

5
f. Mengetahui yang wajib dan sunah dari rangkaian wudhu.1

3. Rukun wudhu
a. Niat
b. Membasuh muka: yaitu dengan mengalirkan air padanya karena
tujuan membasuh itu adalah mengalirkan air dan tidak cukup dengan
mengusap saja. Batas muka yang wajibuntuk dibasuh adalah mulai
dari puncak kening ke tulamg dagu bagian bawah, dan yang ada di
antara telinga kiri dan telinga kanan.
c. Membasuh kedua tangan sampai siku.
d. Menyapu kepala: dalam hal ini cukup untuk menyapunya saja dan
tidak sampai mengalirkan air.
e. Membasuh kedua kaki sampai pada mata kaki.
f. Tertib: yakni melakukan rangkaian-rangkaian wudhu tanpa yang
terdebut dia atas secara berurutan mulai dari niat sampai akhir
membasuh kedua kaki.

4. Sunnah wudhu
a. Membaca “basmalah”.
b. Bersiwak atau menggosok gigi.
c. Mencuci kedua telapak tangan ketka hendak memulai berwudhu.
d. Berkumur-kuur dan istinsak (memasukan air kedalam hidung
kemudian mengeluarkannya) sebanyak 3x.
e. Menyela-nyela jenggot.
f. Menyilang-nyilang jari-jari.
g. Menyapu kedua telinga.
h. Membasuh anggota wudhu 3x
i. Sederhana, yakni tidak boros dalam menggunakan air pada waktu
berwudhu, sekalipun air itu di ambil dari laut.

5. Hal-hal yang membatalkan wudhu


a. Keluarnya sesuatu dari salah satu”dua pintu”, baik itu kencing,
buang air besar, keluar madzi, wadi, mani, maupun kentut.
b. Tidur nyenyak tanpa tetapnya pinggul diatas lantai, atau tidur dengan
terlentang.
c. Hilang akal baik karena gila, pingsan mabuk, atau disebabkan oleh
obat-obatan, baik sedikit ataupun banyak.
d. Menyentuh kemaluan tanpa ada batas, baik itu kemaluan sendiri atau
menentuh kemaluan orang lain.

6. Hal-hal yang makruh di lakukan dalam berwudhu


a. Berwudhu ditempat-tempat yang mengandung unsur najis.

1
Muhyiddin Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis, ( Malang : Pustaka Bayan, 2014 ) hal. 71.

6
b. Membasuh dan mengusap lebih dari 3x.
c. Boros menggunakan air.

B. Tayamum
Menurut pengertian lughowi (bahasa), tanyammum adalah “menyengaja”.
Sedangkan menurut syara’ adalah :bersuci dari hadas kecil atau besar dengan
mengusao tanah (debu) ke muka dan tangan sebagai pengganti air karena alasan
tertentu yang ditetapkan oleh syariat.”
“tayammum adalah keringanan yang diberikan kepada orang-orang yang
tidak mendapatkan air, atau untuk orang yang tidak bisa menggunakan air karena
udzur (halangan) tertentu yang bisa membahayakannya jika ia menggunakan air.
Adapun udzur yang di bolehkan untuk bertayammum adalah:

1. Udzur sakit. Jika ia menggunakan air dapat membahayakannya dan


menambah sakitnya, ataupun menyebabkan dokter ataupun orang yang
berpengalaman tentang penyakit.
2. Karena berpergian jauh.
3. Karena tidak ada air, atau ada air tetap ia lebih membutuhkannya untuk
minum. Jika digunakan untuk bersuci maka ia akan kehausan.

Tayamum di bagi menjadi 6 yaitu:


1. Syarat tayamum
a. Sudah masuk waktu shalat
b. Sudah berusaha untuk mencari air, tetapi tidak juga
mendapatkannyasedangkan waktu shalat sudah tiba.
c. Menggunakan tanah atau debu yang suci, bukan yang terkena najis.

2. Rukun tayamum
a. Niat. Orang yang akan melakukan tayammum hendaklah terlebih
dahulu mengawali dengan niat untuk mengerjakan shalat dan
sebagainya, dan tidak hanya sekedar untuk menghilangkan hadast
semata.
b. Mengusap muka dengan telapak tangan.
c. Mengusap kedua punggung telapak tangan hingga ke pergelangan.
d. Tertib. Yakni mendahulukan muka dari tangan.

3. Sunnah tayamum
a. Membaca basmalah sebelum tayammum. Ini berdasarkan hadist
mengenai wudhu, karena tayammum merupakan pegganti wudhu.
b. Menipiskan debu dengan meniupnya pada dua telapak tangan.
c. Membaca doa setelah selesai bertayammum selayaknya orang
berwudhu.

4. Hal-hal yang membatalkan tayamum

7
a. Semua hal yang membatalkan wudhu juga membatalkan
tayammum.
b. Ada air. Apabila seseorang bertayamum karena ketidak adaan air
dan bukan karena sakit atau luka, kemudian ia mendapatkan air
sebelum sholat, maka batallah tayamumnya, dan ia wajib wudhu
dan kemudian sholat.

5. Hukum melihat air bagi orang yang bertayamum


Orang yang akan melaksanakan sholat sedangkan ia tidak
mendapatkan air, maka ia diperbolehkan untuk bertayamum. Namun
bila mendapati air, maka ada beberapa ketentuan:

1. Bila ia mendapatkan air setelah shalat selesai, maka tidak


wajib baginya untuk mengulangi shalatnya sekalipun waktu
sholat masih ada.
2. Adapun bagi orang yang bertayammum yang bukan karena
sakit, jika ia mendapatkan air sebelum sholat, maka ia harus
berwudhu sebelum melaksanakan sholat.
3. Sedangkan bagi porang yang dalam keadaan junub, jika ia
mendapatkan air setelah sholat, maka ia tidak wajib untuk
mengulang sholatnya, akan tetapi tetap diwajibkan untuk
mandi.

6. Tata cara bertayamum


1. Membaca basmalah diawali dengan niat ikhlas karena Allah SWT.
2. Menepukkan atau meletakkan kedua telapak tangan diatas debu
atau tanah yang suci.
3. Kemudian telapak tangan ditiup agar debu yang kasar tidak ikut
menempel.
4. Mengusap atau menyapu muka dengan telapak tangan sampai
merata.
5. Kemudian langsung menyapu kedua pundak telapak tangan sampai
pergelangan tangan kanan kemudian tangan kiri.2

C. Mandi Besar
Orang yang terkena hadast besar diwajibkan untuk mandi. Namun, mandi
yang di lakukan adalah untuk menyucikan diri dari hadast besar, tidak seperti
mandi yang biasa di lakukan setiap hari. Oleh karena itu, mandi yang di
maksudkan oleh syariat islam adalah ” bersuci dengan menyiramkan air keseluruh
tubuh mulai dari ujung rambut hingga kaki menurut syara’ dengan niat ikhlas
karena Allah SWT untuk menyucikan dirinya dari hadast besar. Mandi wajib ini
disebut juga dengan mandi janabat, yakni mandi yang khususnya diwajibkan bial
seseorang berhadast besar atau junub.

2
M. Khalilurrahman al-Mahfani, Buku Pintar Shalat ( Jakarta : Wahyu Media, 2007 ), hal. 28

8
1. Alasan Diwajibkannya Mandi
Mandi yang diwajibkan dalam islam disebabkan oleh 5 perkara sebagai
berikut:
a. Keluar mani yang disertai syahwat baik pada waktu tidur ataupun
tidak, baik laki-laki maupun wanita. Ada pengecualian tentang
keluarnya mani ini sebagai berikut:
- Bila mani itu keluar tanpa syahwat, tetapi karena hawa dingin
atau karena sakit, maka tidak wajib mandi.
- Bila seseorang bermimpi tetapi ia tidak menemukan mani, maka
tidak wajib mandi.
- Bila seseorang merasakan hendak keluar mani lalu menahannya
hingga tidak jadi keluar, maka tidak wajib mandi. Akan tetapi,
jika setelah itu keluar, maka diwajibkan mandi.
b. Hubungan kelamin (jima’), walau tidak mengeluarkan mani
c. Terhentinya haid dan nifas
d. Mati. Bila seseorang telah mencapai ajalnya, maka wajib di
mandikan.
e. Orang kafir yang masuk islam.

2. Rukun mandi
Mandi yang dilakukan untuk menyucikan hadast besar harus terpenuhi
rukun-rukun yang telah ditentukan oelh syariat islam yakni :
a. Niat, yakni berniat hendak mandi karena Allah semata untuk
menghilangkan hadast.

b. Membasuh semua anggota tubuh, allah berfirman dalam surat al-


Maidah ayat 6 “dan jika kamu junub maka mandilah”. Dan hakikat
mandi adalah membasuh atau meratakan air keseluruh anggota
tubuh.

3. Sunnah-sunnah mandi
Suatu perbuatan akan lebih baik dan afdhal jika memerhatikan contoh-
contoh yang diajarkan oleh Rosulullah SAW. Demikian pula halnya
dengan mandi janabat, akan lebih baik jika memerhatikan sunnah-
sunnahnya yakni:
a. Dimulai dengan membaca “ basmallah”
b. Mencuci tangan sebanyak 3x
c. Membasuh kemaluan
d. Berwudhu secara sempurna seperti wudhu untuk shalat, namun
dapat menangguhkan membasuh kedua kaki.

9
e. Menuangkan air diatas kepala sebanyak 3x seambil menyela
rambut agar air sampai ke pangkal rambut.
f. Mengalirkan keseluruh tubuh dengan di awali sebelah kanan lalu
sebelah kiri, tanpa mengabaikan dua ketiak, bagian dalam
telingan, pusat, jari-jari kaki, serta menggosok anggota tubuh yang
dapat di gosok.
g. Bagi wanita haid atau nifas disunanhkan untuk memngambil kapas
dan membubuhkan minyak wangi lalu menggosokannya pada
bekas darah agar menjadi harum dan bau tidak sedapnya
menghilang.

4. Hal-hal yang Dimakruhkan dalam Mandi


a. Mandi di tempat yang mengandung najis. Karena, dikhawatirkan najis
tersebut akan mengenai tubuhnya.
b. Mandi di air yang tidak mengalir.
c. Diwajibkan mandi di balik tabir.
d. Dimakruhkan berlebih-lebihan dalam penggunaan air, sebagaimana
sabda Rasulullah :
‫ال تسرف وان كنت على نهر جا ر‬
“ Janganlah kalian berlebih-lebihan di dalam menggunakan air,
meskipun pada saat itu berada di sungai yang airnya mengalir “.
Di samping itu, juga di perbolehkan mandi dengan menggunakan
empat bejana air. Karena Rasulullah saw pernah mandi dengan
menggunakan air sebanyak satu sha’ yaitu empat mud.3

3
Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Fiqih Wanita, ( Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2008 ), hal.96.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam istilah lughah (bahasa), wudhu berarti bersih atau indah. Sedangkan
menurut syara’ adalah bersuci dari hadast kecil menggunakan air dengan cara
membasuh bagian-bagian tertentu menurut syariat islam.
Sudah di jelaskan dalam makalah syarat sahnya wudhu, rukun dan sunah
wudhu dan hal-hal yang membatalkan wudhu.
Menurut pengertian lughowi (bahasa), tanyammum adalah “menyengaja”.
Sedangkan menurut syara’ adalah :bersuci dari hadas kecil atau besar dengan
mengusao tanah (debu) ke muka dan tangan sebagai pengganti air karena alasan
tertentu yang ditetapkan oleh syariat.
Syarat sahnya tayamum, rukun, dan sunah tayamum dan hal-hal yang
membatalkan tayamum dan hukum melihat air bagi orang yang bertayamum
sudah terdapat pembahasan di dalam makalah.
Mandi yang di maksudkan oleh syariat islam adalah ” bersuci dengan
menyiramkan air keseluruh tubuh mulai dari ujung rambut hingga kaki menurut
syara’ dengan niat ikhlas karena Allah SWT untuk menyucikan dirinya dari
hadast besar.
Alasan diwajibkan mandi, rukun, sunah-sunah mandi didalam makalah
sudah di jelaskan mengenai perkara di atas.

11
DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahfani, MK. 2007. Buku Pintar Sholat. Jakarta : Wahyu Media


Abdusshomad, Muhyiddin. 2014. Fiqh Tradisionalis. Malang : Pustaka Bayan
‘Uwaidah, KM. 2008. Fiqih Wanita. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar

12