Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

“FILOSOFI RISET AKUNTANSI KEPERILAKUAN”

Dosen Pengampu : Yulianti, SE, MBA, Msi, CPA

Hari/Jam/Ruang : Rabu / 14.00 / N.3.8

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 6

1. DITA FEBRIANNI B.211.17.0009


2. AMBAR PUJI ASTUTI B.211.17.0044
3. DYAN ARUM KUSUMANINGTYAS B.211.17.0055

FAKULTAS EKONOMI S1 – AKUNTANSI

UNIVERSITAS SEMARANG

2019/2020
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Semua riset pada hakikatnya merupakan uasaha mengungkapkan kebenaran.
Kebenaran itu dapat dibedakandalam empat lapis. Lapis paling dasar adalah kebenaran
indrawiyang diperoleh melalui panca indra kita dan dapat dilakukan oleh siapa saja, lapis
diatasnya adalah kebenaran ilmiah yang diperoleh melalui kegiatan yang sistematis, logis,
dan etis oleh mereka yang terpelajar. Pada lapis diatasnya lagi adalah kebenaran falsafi
yang diperoleh melalui kontemplasi mendalam oleh orang yang sangat terpelajar dan
hasilnya diterima serta dipakai sebagai rujukan oleh masyarakat luas. Pada lapis
kebenaran tertinggi adalah kebenaran religi yang diperoleh dari yang Maha Pencipta
melalui wahyu kepada para Nabi serta diikuti oleh mereka yang menyakininya.
Setiap kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan selalu berlandaskan filosofi /
filsafat. Hakikat filosofi adalah kebenaran yang diperoleh melalui berfikir secara logis,
sistematis, metodis. Kebenaran adalah kenyataan apa adanya yang sesuai dengan logika
sehat. Kebenaran juga sekaligus menjadi tujuan pengembangan ilmu pengetahuan karena
bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Berfikir logis adalah berfikir secara bernalar
menurut logika yang diakui ilmu pengetahuan dengan bebas sedalam-dalamnya sampai
ke dasar permasalahan guna mengungkapkan kebenaran. Sistematis adalah berfikir dan
berbuat yang bersistem yaitu runtun, berurutan, dan tidak tumpang tindih. Metodis adalah
berfikir dan berbuat menurut metode tertentu yang kebenarannya diakui menurut
penalaran.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana anda melihat perkembangan riset akuntansi keperilakuan saat ini
sehingga dapat mempengaruhi pengambilan keputusan manajer?
2. Coba diskusikan seberapa jauh arah pergeseran riset bidang akuntansi keperilakuan
saat ini dibandingkan dengan tiga dasawarsa sebelumnya !
3. Asumsi-asumsi filosofis apa saja yang membangun akuntansi keperilakuan?
Jelaskan!
4. Bagaimana anda melihat perkembangan penulisan artikel bidang akuntansi
keperilakuan dalam jurnal internasional maupun nasional ?
5. Petakan hasil riset akuntansi keperilakuan yang dipublikasi pada simposium Nasional
Akuntansi selama 15 tahun terakhir !
6. Menurut anda, topik riset apa saja yang paling dominan mempengaruhi akuntansi
keperilakuan ?

1.3 TUJUAN PENULISAN MAKALAH


1. Untuk mengetahui perkembangan riset akuntansi keperilakuan saat ini yang dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan manajer !
2. Untuk mengetahui seberapa jauh arah pergeseran riset bidang akuntansi keperilakuan
saat ini dibandingkan dengan tiga dasawarsa sebelumnya !
3. Untuk mengetahui asumsi-asumsi filosofis yang membangun akuntansi
keperilakuan!
4. Untuk mengetahui perkembangan penulisan artikel bidang akuntansi keperilakuan
dalam jurnal internasional maupun nasional !
5. Untuk mengetahui petakan hasil riset akuntansi keperilakuan yang dipublikasi pada
simposium Nasional Akuntansi selama 15 tahun terakhir !
6. Untuk mengetahui topik riset apa saja yang paling dominan mempengaruhi akuntansi
keperilakuan !
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 MENGENAL FILSAFAT


Filsafat merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk menunjukkan batas-batas
dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat dan lebih memadai. Filsafat telah
mengantarkan pada sebuah fenimena anya siklus pengetahuan sehingga membentuk
konfigurasi dengan menunjukkan bagaiman “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh
mekar bercabang secara subur sebagai sebuah fenomena kemanusiaan. Masing-masing
cabang pada tahap selanjutnya melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang
mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya.
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu
baru dengan berbagai disiplin yang akhirnya memunculkan subilmu pengetahuan baru ke
arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi, seperti spesialis. Ilmu pengetahuan pada
hakikatnya dapat dilihat sebagai suatu ssistem yang saling menjalin dan taat asas
(konsisten) dari ungkapan yang sifat benar tidaknya dapat ditentukan dengan patokan
serta tolok ukur yang mendasari kebenaran masing-masing bidang.
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap
awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam
perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia semakin kompleks. Sekalipun
bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat “filsafat tentang” sesuatu: tentang
manusia, tentang alam, tentang Tuhan (akhirat), tentang kebudayaan, kesenian, bahasa,
hukum, agama, sejarah, dan sebagainya. Semua selalu dikembalikan kepada empat
bidang induk: pertama, filsafat tentang pengetahuan; objek material: pengetahuan
(“episteme”) dan kebenaran, epistemologi; logika; dan kritik ilmu. Kedua, filsafat tentang
keseluruhan kenyataan; objek material: eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakikat),
metafisika umum (ontologi); metafisika khusus: antropologi (tentang manusia);
kosmologi (tentang alamsemesta); teologi (tentang Tuhan). Ketiga, filsafat tentang nilai-
nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan; objek material: kebaikan dan keindahan,
etika; dan estetika. Keempat, sejarah filsafat; menyangkut dimensi ruang dan waktu
dalam sebuah kajian (Suriasumantri, 2001).
Jika dikelompokan secara karakteristik cara pendekatannya, dalam filsafat dikenal
banyak aliran filsafat. Ciri filsafat mengacu pada tiga konsep pokok: persoalan filsafat
bercorak sangat umum, persoalan filsafat tidak bersifat empiris, dan menyangkut
masalah-masalah asasi (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 1997). Kemudian, Kattsoff
menyatakan karakteristik filsafat dapat diidentifikasi sebagai berikut (solihin, 2007).
1. Filsafat adalah berfikir secara kritis.
2. Filsafat adalah berfikir dalam bentuknya yang sistematis.
3. Filsafat menghasilkan sesuatu yang runtut.
4. Filsafat adalah berfikir secara rasional.
5. Filsafat bersifat komprehensif.

2.2 PENDEKATAN FILSAFAT RISET AKUNTANSI KEPERILAKUAN


Filosofi paradigma metodologi riset Burrel dan Morgan (1979) mengembangkan
aspek paradigma dalam asumsi metateoretis yang mendasari kerangka referensi, model
teori dan modus operandi dari ilmuwan yang berada dalam paradigma tersebut. Lebih
lanjut, mereka mengatakan suatu pengetahuan (knowledge) dibangun berdasarkan asumsi
filosofis tertentu. Asumsi tersebut adalah ontologi (ontology), epistemologi
(epistemology), hakikat manusia (human nature), dan metodologi (methodology).
Ontologi berhubungan dengan hakikat atau sifat dari realitas atau objek yang akan
diinvestigasi. Epistemologi berhubungan dengan sifat ilmu pengetahuan, bentuk ilmu
pengetahuan tersebut, serta cara mendapatkan dan menyebarkannya.
Burrel dan Morgan memandang bahwa filsafat ilmu harus mampu melihat
keterkaitan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya. Secara ringkas, Burrel dan
Morgan membagi asumsi tersebut ke dalam dua bagian, yaitu
1. Pendekatan Subjektivisme (anti-positivism)
Subjektivisme adalah salah satu konsepsi subjektivitas. Subjektivisme
menafsirkan subjektivitas sebagai produk subjek atau individu. Pendekatan
subjektivisme terhadap penelitian kualitatif ini diungkapkan oleh pernyataan sosialis
konstruksi / pascamodernisme (postmodernisme) ken gergen, “ tidak ada cara untuk
menyatakan bahwa dunia ada di luar sana atau tercermin secara objektif”di sini”
(Gergen, 2001, hlm.805). Sujektivisme dalam penelitian kualitatif juga menerima
laporan subjektif subjek tentang psikologi mereka sebagai objek penelitian.
Tujuannya adalah untuk memvalidasi interpretasi subjektif, makna, dan pengertian.
Penelitian subjektivisme tidak akan membandingkan catatan seorang anak tentang
pengalamannya dengan catatan orang tuanya tentang pengalamannya. Misalnya, anak
tersebut mengatakan bahwa ia tidak bahagia lima tahun yang lalu dan membenci
orang tuanya, sementara orang tua menunjukkan foto anak yang tampak sangat
senang dengan mereka.
2. Pendekatan Objektivisme (positivism)
Objektivisme adalah sebuah pandangan yang menekaankan bahwa butir-butir
pengetahuan dari soal sederhana sampai dengan teori yang kompleks mempunyai
sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu yang merancang
dan memikirkannya. Pengetahuan adalah sesuatu yang diprioritaskan pada ciri-ciri
permasalahan atau cabang tertentu yang berada di luar pikiran atau otak seseorang
yang keberadaanya tidak ada hubungannya dengan sikap, keyakinan, atau keadaan
subjektif lainnya. Titik berat kaum objektivisme adalah penekanan pada sifat
pernyataan sederhana yang di dalamnya mempunyai sifat tertentu, tidak peduli
apakah individu tersebut menyadari atau tidak, meyakini atau tidak. Dalam
pandangan objektivisme, ilmu pengetahuan yang diteorikan oleh seorang ilmuwan
kadang-kadang mempunyai kaitan yang erat dengan pengetahuan yang ditemukan
oleh orang lain.
a) Nominalisme-Realisme: Debat Ontologi
Aliran nominalisme mendasarkan diri pada asumsi bahwa dunia sosial
berada di luar individu dan tidak lebih dari nama, konsep, dan label yang
digunakan untuk membentuk realitas. Aliran realisme menyatakan bahwa dunia
sosial berada di luar individu adalah suatu dunia nyata yang terbentuk dari
struktur yang keras, nyata, dan relatif kuat, dan secara realitas.
b) Antipositivisme-Positivisme: Debat Epistemologi
Antipositivisme pada dasarnya berusaha untuk mencari aturan atau dasar
kebiasaan dalam dunia sosial. Aliran positivisme menjelaskan dan
memperkirakan apa yang terjadi dalam dunia sosial dengan meneliti kebiasaan
serta hubungan kausal antara elemen-elemen yang saling berhubungan.
c) Voluntarisme-Determinisme: Debat Hakikat Manusia
Aliran determinisme memandang bahwa manusia dan aktivitasnya sangat
ditentukan oleh situasi atau “lingkungan” tempat ia berada. Sebaliknya aliran
voluntarisme memandang bahwa manusia sangat mandiri dan bebas.
d) Ideografis-Nomotetik: Metodologi
Pendekatan ideografis menekankan analisis secara subjektif yang
didapatkan dengan masuk ke dalam situasi yang terjdai. Sebaliknya, pendekatan
nomotetik menekankan pada pentingnya pelaksanaan peneliti berdasarkan pada
teknik dan protokol sistematis, dimana difokuskan pada proses pengujian
hipotesis dengan serangkaian tes, teknik kuantitatif untuk analisis data, survei,
kuesioner, tes kepribadian, maupun alat pengujian standar lainnya.

2.3 PARADIGMA RISET AKUNTANSI KEPERILAKUAN


1) Paradigma Fungsionalisme/Positivistik
Paradigma fungsionalisme/positivistik adalah paradigma yang muncul paling awal
dalam dunia ilmu pengetahuan. Paradigma ini merupakan paradigma umum, bahkan
sangat dominan digunakan dalam riset akuntansi dibandingkan dengan paradigma
lain sehingga disebut paradigma utama (mainstream paradigm). Secara ontologi,
paradigma utama ini sangat dipengaruhi oleh realitas fisik yang menganggap bahwa
realitas objektif berada secara bebas dan terpisah di luar diri manusia.
2) Paradigma Interpretif
Paradigma interpretif juga disebut interaksionis subjektif (subjective interactionist).
Pendekatan alternative ini berasal dari filsuf Jerman yang menitikberatkan pada
peranan bahasa, interpretasi, dan pemahaman pada ilmu sosial. Sementara itu,
menurut Burrel dan Morgan, paradigma ini menggunakan cara pandang para
nominalisme yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang hanya merupakan
label, nama, atau konsep yang digunakan untuk membangun realitas. Tujuan
pendekatan interpretif adalah menganalisis realitas sosial dan cara realitas sosial
tersebut terbentuk.
3) Paradigma Strukturalisme Radikal
Paradigma strukturalisme radikal mempunyai kesamaan dengan fungsionalisme,
yang mengasumsikan bahwa sistem sosial mempunyai keberadaan ontologisme yang
konkret dan nyata. Pendekatan ini berfokus pada konflik mendasar sebagai dasar dari
produk hubungan kelas dan struktur pengendalian, serta memperlakukan dunia sosial
sebagai objek eksternal dan memiliki hubungan terpisah dari manusia tertentu.
4) Paradigma Humanis Radikal
Riset akan diklasifikasikan dalam paradigma humanis radikal (radical humanist) jika
didasarkan pada teori kritis dari Frankurt Schools dan Habermas. Pendekatan kritis
Habermas melihat objek studi sebagai suatu interaksi sosial yang disebut “dunia
kehidupan” (life world), yang berarti interaksi berdasarkan pada kepentingan
kebutuhan yang melekat dalam diri manusia dan membantu untuk pencapaian yang
saling memahami.
5) Paradigma Posmodernisme
Paradigma posmodernisme muncul karena adanya kelemahan dari beberapa
paradigma yang ada. Pascamodernisme/posmodernisme menolak pendapat
modernisme yang meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk maju, untuk
memperbaiki dirinya sendiri, dan berpikir secara rasional. Menurut paradigma
posmodernisme, kebenaran itu tidak bisa dibayangkan, oleh sebab itu setiap manusia
harus aktif untuk membangun kebenaran itu sendiri. Jalan kebenaran tersebut perlu
dicari secara aktif dan kreatif untuk memberi makna sehingga yang ada perlu
didekonstruksi karena tidak mampu lagi menemukan kebenaran.
6) Paradigma Akuntansi Kritis
Paradigma akuntansi kritis akan dipandang melalui refleksi dari ilmu sosial kritis.
Akuntansi kritis berbeda dengan seluruh riset akuntansi diseluruh area riset lainnya.
Arah riset sebelumnya diasumsikan sebagai sesuatu yang jelas bagi para peneliti dan
bidang investigasinya. Misalnya, para peneliti akuntansi positif dan para ilmuwan
keperilakuan percaya bahwa mereka melaporkan secara sederhana berdasarkan
perilaku dari subjek yang diuji. Walaupun diungkapkan secara terus terang oleh para
peneliti normatif, sebagaimana dalam aliran model keputusan, penelitian melibatkan
suatu realitas yang independen dari peneliti itu sendiri. Dengan demikian, penemuan
mereka dilibatkan dengan berbagai cara untuk dilaporkan berdasarkan operasi dan
keseharian dari bisnis dan entitas lainnya. Para peneliti akuntansi kritis meskipun
yakin pada realitas dalam pandangan dan penyelidikan, mereka juga membantu
membentuk realitas.
Akuntansi kritis merupakan bagian dari teori akuntansi yang memandang bahwa
akuntansi memiliki peran yang sangat penting dalam mempertimbangkan dan
memutuskan konflik antara perusahaan dan konstituen sosial, seperti tenaga kerja,
para pelanggan dan publik. Hal ini berkaitan langsung dengan peran kegiatan sosial
dari akuntan. Akuntansi kritis merupakan penggabungan dua atau lebih area akuntasi
yang berkembang pada tahun 1960-an dan meliputi akuntansi kepentingan publik dan
akuntansi sosial.
Akuntansi kepentingan publik berkaitan dengan pekerjaan bebas pajak dan
penasihat keuangan bagi individu-individu, kelompok-kelompok dan perusahaan
kecil yang tidak mampu membayar untuk jasa ini. Akuntansi sosial yang
disinggung  berusaha mengukur laporan laba rugi perusahaan dengan
memperhitungkan biaya eksternal seperti biaya polusi yang merupaka kerugian bagi
masyarakat, tetapi tanpa pembebanan kepada pihak yang menghasut.

2.4 PELUANG RISET AKUNTANSI KEPERILAKUAN PADA LINGKUNGAN


AKUNTANSI
1) Pemeriksaan Akuntansi (Auditing)
Atas tinjauan artikel riset akuntansi keperilakuan selama tahun 1990-1991 yang
menunjukkan penekanan pada kekuatan dalam pembuatan keputusan, penjelasan ini
berorientasi pada pembuatan keputusan dalam audit dan telah memfokuskan riset
terakhir pada penelitian dan pembuatan keputusan auditor. Pecerminan dari riset
terakhir dan riset mendatang merupakan fokus terhadap:
1. Karakteristik pengetahuan yang dihubungkan dengan pengalaman (yang
meliputi bagaimana pengetahuan itu diperoleh;
2. Pengujian atas bagaimana pengetahuan berinteraksi dengan variabel
organisasi atau lingkungan;
3. Pengujian pengaruh kinerja terhadap pengetahuan yang berbeda.
Pengalaman berperan penting dalam orientasi kognitif riset akuntansi
keperilakuan. Ada dua alasan untuk hal ini, yaitu:
1. Pengalaman merupakan ekspektasi yang berhubungan dengan keahlian
kinerja.
2. Manipulasi sebagai suatu variabel independen telah menjadi efektif dalam
mengidentifikasi domain karakteristik dari pengetahuan spesifik.
Salah satu kesulitan dengan riset yang berorientasi pada keputusan dalam audit
adalah kurangnya kriteria variabel yang dapat diamati terhadap penilaian kinerja
auditor sehingga peneliti sering melakukan studi atas konsensus penilaian dan
konsistensi.
2) Akuntansi Keuangan
Riset akuntansi keperilakuan dalam bidang akuntansi keuangan jumlahnya
terbatas sehingga sulit diidentifikasi.beberapa alasan riset akuntansi keperilakuan
dalam bidang keuangan.
1. Riset pasar modal saat ini adalah konsisten dengan beberapa komponen pasar
modal dengan ekspektasi naif.
2. Alasan riset akuntansi keperilakuan dalam bidang keuangan berpotensi
memberikan kontribusi yang lebih besar berhubungan dengan keuntungan dari
riset akuntansi keperilakuan dalam bidang audit.
Dua alasan dari riset akuntansi keperilakuan dalam bidang keuangan :
1. Terdapat sejumlah tugas dari informasi akuntansi keuangan yang merupakan
input langsung untuk keputusan pinjaman bank, negosiasi kontrak tenaga kerja,
prediksi laba, dan rekomendasi saham.
2. Keuntungan riset akuntansi keperilakuan dalam bidang keuangan meliputi
beberapa tugas seperti prediksi laba yang telah didefinisikan dengan baik dan
mempunyai sifat berulang.
3) Akuntansi Manajemen
Riset akuntansi keperilakuan dalam bidang akuntansi manajemen merupakan
pertimbangan yang lebih luas dibandingkan dengan riset yang sama dalam akuntansi
keuangan, dan memungkinkan pencerminan tradisi lama yang berbeda dari riset
akuntansi keperilakuan dalam bidang audit.
4) Sistem Informasi Akuntansi
Keterbatasan riset akuntansi keperilakuan dalam bidang sistem informasi
akuntansi adalah kesulitan membuat generalisasi meskipun berdasarkan pada studi
sistem akuntansi yang lebih awal sekalipun.
5) Perpajakan
Riset akuntansi keperilakuan dalam bidang perpajakan telah memfokuskan diri
pada kepatuhan pajak (tax compliance) dengan melakukan pengujian variabel
psikologi dan lingkungan.
6) Pertumbuhan Riset Perilaku
Indikasi penting dari pertumbuhan minat dalam pendekatan perilaku terhadap
akuntansi merupakan pengaruh dari paradigma perilaku riset. Untuk menangani
dimensi ini, terdapat dua utama yaitu Journal of Accounting Research dan The
Accounting Review. Hasil ini menyatakan bahwa pengaruh terhadap literatur tersebut
dapat diperkirakan berdasarkan jumlah identifikasi staf dan minat perilaku.

2.5 TEORI KEPERILAKUAN TENTANG PERUSAHAAN


Teori organisasi modern berkaitan dengan perilaku perusahaan sebagai satu
kesatuan terhadap pemahaman kegiatan perusahaan dan alasan anggotanya. Tanpa
memedulikan besar kecilnya, dapat dipastikan bahwa biasanya dipandang sebagai milik
dari pemegang saham yang perhatiannya lebih terfokus pada dimensi keuangan yang
berputar di sekitar harga saham dan berada di luar lingkup keputusan. Tujuan organisasi
akan dipandang sebagai berikut:
1. Hasil pengaruh dari permulaan proses antar-peserta organisasi.
2. Penentu batas pengambilan keputusan perusahaan dan penyelesaian masalah
aktivitas.
3. Perannya di dalam sistem pengawasan internal adalah untuk memotivasi peserta, di
mana derajat tingkat kepuasan kerja anggotanya akan diuraikan dalam kaitannya
dengan tujuan pribadi mereka saling tumpang tindihdengan tujuan organisasi, dan
sampai sejauh mana karyawan memandang perusahaan sebagai hal yang membantu
penerimaan tujuan pribadi mereka.
 Model Motivasi Dari Perilaku Manajerial
Pengujian terhadap literator berdasarkan organisasi motivasi mengungkapkan
bahwa kebanyakan dari penulisan (empiris dan teoritis) sebenarnya mendasarkan
tulisannya pada motivasi partisipan dari tingkat yang lebih rendah. Selain itu, dari
sejumlah teori, ada yang telah mencoba untuk menguraikan motivasi manusia secara
umum dan telah diberlakukan bagi perilaku keorganisasian.

2.6 WAWASAN UNTUK MASA DEPAN


Masalah utama di masa mendatang adalah pendanaan untuk riset ini akan
berkurang jumlahnya. Saat ini, Kantor Akuntan Publik yang termasuk dalam “The Big 4”
di AS kurang mendukung riset akademik dibandingkan di masa lalu. Oleh karena riset
keperilakuan saat ini cenderung menjadi lebih mahal dibandingkan dengan usaha
akuntan, maka akan terasa lebih sulit melakukan pekerjaan tersebut. Di samping itu,
sikap dan pandangan dari beberapa pengusaha yang mempunyai anggapan kurang positif
terhadap kegiatan riset juga berpengaruh karena mereka tidak selalu memiliki
pengetahuan yang cukup untuk memahami bahwa kegiatan para praktisi merupakan
bagian dari kemampuan aplikasi hasil riset. Tidak ada cara yang lebih baik untuk
meningkatkan pemahaman seseorang terhadap satu fenomena, kecuali dengan melakukan
riset dan menulis tentang fenomena tersebut kepada orang lain dan melakukan perbaikan.
Demikian pula, keunggulan teknologi khususnya komputer telah membuka dan
mendorong peneliti untuk mempertimbangkan masalah-masalah yang pada masa lalu
telah tertutup. Di masa mendatang, apakah setiap individu akan melakukan pelatihan
yang lebih baik dengan kemampuan untuk menarik identifikasi atas masalah yang mudah
dilakukan dan bekerja dengan ketekunan dan keuletan agar berhasil dengan disiplin ini?
Apakah paradigma perilaku yang terus berlanjut berkembang untuk menjadi dewasa dan
berhasil dengan baik adalah tanggung jawab para peneliti, khususnya peneliti akuntansi
keperilakuan? Berbagai pertanggungjawaban lainnya sekiranya dapat menjadi pemicu
para peneliti akuntansi keperilakuan untuk lebih memperkaya masalah-masalah yang
pada gilirannya dapat memberikan suatu kontribusi yang signifikan terhadap praktik
organisasi yang ada.
BAB III

PENUTUP

.1 KESIMPULAN
Pembahasan ini membicarakan mengenai pendekatan filsafat yang membangun
akuntansi keperilakuan. Bab awal mendiskusikan tentang pergeseran arah dari riset
bidang akuntansi keperilakuan, dan selanjutnya akan mendiskusikan tentang asumsi-
asumsi yang membangun akuntansi keperilakuan, seperti yang digambarkan oleh Burrel
dan Morgan. Berangkat dari asumsi tersebut, kemudian akan didiskusikan tentang
analisis organisasi dalam pengembangan filsafat riset oleh Diller dan Becker, di mana
analisis organisasi tersebut berangkat dari asumsi yang dikembangkan oleh Burrel dan
Morgan.Perkembangan terakhir telah membahas mengenai pertumbuhan riset perilaku
dalam akuntansi keperilakuan, terutama yang telah diterbitkan dalam jurnal internasional.
Perkembangan dan pertumbhan tersebut dibuat dalam bentuk presentase yang dijelaskan
pada beberapa tabel.
REFERENSI
Lubis, Arfan Ikhsan. 2017.  Akutansi Keperilakuan. Edisi 3. Salemba Empat. Jakarta.
SOAL DAN JAWABAN

1. Bagaimana anda melihat perkembangan riset akuntansi keperilakuan saat ini


sehingga dapat mempengaruhi pengambilan keputusan manajer ?
Jawab :
Menurut kelompok kami, perkembangan riset akuntansi keperilakuan saat ini
sehingga dapat memengaruhi pengambilan keputusan manajer adalah bahwa melalui
riset akuntansi keperilakuan digunakan informasi akuntansi yang dirancang untuk
berfungsi sebagai suatu dasar bagi pengambilan banyak keputusan penting di dalam
maupun di luar perusahaan. Sistem informasi dimanfaatkan untuk membantu dalam
proses perencanaan, berhubungan untuk memotivasi orang-orang pada semua
tingkatan di dalam perusahaan. Umumnya, prosedur akuntansi digunakan untuk
melaksanakan banyak fungsi penting organisasional yang sudah menjadi sangat
teknis secara mendasar. Peningkatan ekonomi yang kontinyu dan berkelanjutan dari
suatu organisasi digunakan sebagai bahan dasar untuk memilih informasi yang
relevan dalam pengambilan keputusan.
Perkembangan yang pesat dalam riset akuntansi keperilakuan lebih disebabkan
karena akuntansi secara simultan dihadapkan dengan ilmu-ilmu sosial secara
menyeluruh. Mengenai bagaimana perilaku manusia memengaruhi data akuntansi
dan keputusan bisnis, serta bagaimana akuntansi memengaruhi keputusan bisnis dan
perilaku manusia selalu dicari jawabannya. Pada gilirannya, riset akuntansi
keperilakuan diyakini dapat menjadi suatu terobosan yang baik dalam pengukuran
bisnis dan informasi, yang memungkinkan para direktur eksekutif (CEO), direktur
keuangan (CFO), dan pembuat rencana strategis lainnya untuk mengoptimalkan
keputusan yang diambil, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Riset akuntansi keperilakuan menggunakan metodologi ilmu pengetahuan perilaku
untuk melengkapi gambaran informasi dengan mengukur dan melporkan faktor
manusia yang memengaruhi keputusan bisnis dan hasil mereka.
2. Coba diskusikan seberapa jauh arah pergeseran riset bidang akuntansi keperilakuan
saat ini dibandingkan dengan tiga dasawarsa sebelumnya !
Jawab : hal 215-222
Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu bidang baru yang secara luas
berhubungan dengan perilaku individu, kelompok dan organisasi bisnis, terutama
yang berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Riset akuntansi
keperilakuan merupakan suatu fenomena baru yang sebetulnya dapat ditelusuri
kembali pada awal tahun 1960-an, walaupun sebetulnya dalam banyak hal riset
tersebut dapat dilakukan lebih awal.
Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek
akuntansi manajemen khususnya penganngaran (budgeting), namun domain dalam
hal ini terus berkembang dan bergeser ke arah akuntansi keuangan, sistem informasi
akuntansi, dan audit. Dalam audit, riset akuntansi keperilakuan telah berkembang,
tinjauan literatur telah menjadi spesialisasi dengan lebih memfokuskan diri pada
atribut keperilakuan spesifik seperti proses kognitif (Bonner dan Pennington, 1991),
atau riset keperilakuan pada suatu topik khusus seperti audit sebagai tinjauan analitis
(analytical review). Sinyal ini merupakan awal terhadap pematangan dan
pendewasaan riset akuntansi keperilakuan. Sebagai bidang riset yang sering
memberikan kontribusi yang bermakna, riset akuntansi keperilakuan ini dapat
membentuk kerangka dasar (framework) serta arah riset di masa yang akan datang.
Banyaknya volume riset atas akuntansi keperilakuan dan meningkatnya sifat
spesialisasi riset, serta tinjauan studi secara periodik, akan memberikan manfaat
untuk beberapa tujuan sebagai berikut ini (1) memberikan gambaran state of the
art terhadap minat khusus dalam bidang baru yang ingin diperkenalkan; (2)
membantu dalam mengidentifikasikan kesenjangan riset; (3) untuk meninjau dengan
membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui subbidang akuntansi.
Sejarah akuntansi telah dimulai dari tahun 1749 dimana Luca Pacioli telah
membahas mengenai system pembukuan berpasangan. Kemudian pada tahun 1951,
Controllership Foundation of America mensponsori suatu riset untuk menyelidiki
dampak anggaran terhadap manusia. Pada tahun 1960, Steadry menggali pengaruh
anggaran motivasional dengan menggunakan suatu eksperimen analog. Dan riset-
riset ini terus berkembang sampai dengan saat ini.
Pendekatan klasikal lebih menitikberatkan pada pemikiran normatif yang
mengalami kejayaannya pada tahun 1960-an. Pada tahun 1970-an, terjadi pergeseran
pendekatan dalam riset akuntansi. Alasan yang mendasari ini adalah pendekatan
normatif yang telah berjaya selama satu dekade ini tidak dapat menghasilkan teori
akuntansi yang siap digunakan dalam praktik sehari-hari. Pada kenyataannya, desain
sistem akuntansi yang dihasilkan dari riset normatif tidak dipakai dalam praktik.
Sebagai konsekuensinya, muncul anjuran untuk memahami berfungsinya sistem
akuntansi secara deskriptif dalam praktik nyata.
Pendekatan normatif maupun positif masih mendominasi riset akuntansi hingga
saat ini. Hampir semua artikel yang terbit di jurnal The Accounting
Review maupun Journal of Accounting Research dan Journal of Business
Research menggunakan pendekatan utama (mainstream) dengan ciri khas
penggunaan model matematis dan pengujian hipotesis. Walaupun pendekatan utama
masih mendominasi riset manajemen dan akuntansi hingga saat ini, pendekatan ini
pada dasarnya tidak memercayai dasar filosofi yang digunakan oleh pengikut
pendekatan utama. Sebagai gantinya, pendekatan-pendekatan baru tersebut
meminjam metodologi dari ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti filsafat, sosiologi, dan
antropologi untuk memahami akuntansi.

3. Asumsi-asumsi filosofis apa saja yang membangun akuntansi keperilakuan?


Jelaskan!
Jawab : hal 198-200
Suatu pengetahuan (knowledge) dibangun berdasarkan asumsi filosofi tertentu.
Asumsi-asumsi filosofis apa saja yang membangun akuntansi keperilakuan adalah
sebagai berikut : ontologi (ontology), epistemologi (epistemology), hakikat manusia
(human nature), dan metodologi (methodology).
1. Ontologi (ontology) berhubungan dengan hakikat atau sifat dari realitas atau
objek yang akan diinvestigasi.
2. Epistemologi (epistemology) berhubungan dengan sifat ilmu pengetahuan,
bentuk ilmu pengetahuan tersebut, serta cara mendapatkan dan menyebarkannya
3. Pendekatan subjektivisme (anti-positivism)memberikan penekanan bahwa
pengetahuan bersifat sangat subjektif dan spiritual atau transendental yang
didasarkan pada pengalaman dan pandangan manusia.
4. Pendekatan objektivisme (positivism)menekaankan bahwa butir-butir
pengetahuan dari soal sederhana sampai dengan teori yang kompleks mempunyai
sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu yang merancang
dan memikirkannya.

4. Bagaimana anda melihat perkembangan penulisan artikel bidang akuntansi


keperilakuan dalam jurnal internasional maupun nasional ?
Jawab :
Pandangan kelompok kami dalam perkembangan penulisan artikel bidang
akuntansi keperilakuan di jurnal-jurnal internasioanal adalah akuntansi keperilakuan
sebenarnya merupakan bagian dari ilmu akuntansi yang perkembangannya semakin
meningkat dalam 25 tahun belakangan ini. Hal ini ditandai dengan lahirnya sejumlah
jurnal dan artikel yang berkenaan dengan keperilakuan (behavioral) dan semakin
menjamurnya buku-buku teks berbahasa asing yang membahas tentang akuntansi
keperilakuan. Salah satu jurnal yang begitu populer yang mengangkat permasalahan
akuntansi keperilakuan adalah Behavior Research in Accounting yang diterbitkan
oleh American Accounting Association. Di Amerika Serikat sendiri, mata kuliah
mengenai akuntansi keperilakuan semakin banyak ditawarkan. Perkembangan ini
juga didukung oleh semakin bertumbuhnya riset-riset para mahasiswa akuntansi dan
pengajar mereka yang berfokus pada dimensi akuntansi keperilakuan.
Hampir semua artikel yang terbit di jurnal The Accounting Review maupun
Journal of Accounting Research dan Journal of Bussiness Research menggunakan
pendekatan utama (mainstream) dengan ciri khas penggunaan model matematis dan
pengujian hipotesis. Walaupun pendekatan utama masih mendominasi riset
manajemen dan akuntansi hingga saat ini, pendekatan ini pada dasarnya tidak
memercayai dasar filosofi yang digunakan oleh pengikut pendekatan utama. Sebagai
gantinya, pendekatan-pendekatan baru tersebut meminjam metodologi dari ilmu-ilmu
sosial lainnya, seperti filsafat, sosiologi, dan antropologi untuk memahami akuntansi.

5. Petakan hasil riset akuntansi keperilakuan yang dipublikasi pada simposium Nasional
Akuntansi selama 15 tahun terakhir !
Jawab :
Bidang riset keperilakuan juga menjadi pusat perhatian dalam ajang seminar
nasional akuntansi (SNA) di Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun oleh
IAIKAPd (Ikatan Akuntan Indonesia yang bekerja sama dengan Kompartemen
Akuntan Pendidik). Topik bahasan hasil-hasil studi dalam seminar ini dibagi menjadi
lima, yaitu Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal; Akuntansi Manajemen dan
Keperilakuan; Akuntansi Sektor Publik dan Perpajakan; Sistem Informasi; Auditing
dan Etika; dan Pendidikan Akuntansi dan Akuntansi Syariah. Hasil penelitian di
bidang akuntansi manajemen dijadikan satu pembahasan dengan akuntansi
keperilakuan karena kedua bidang ini sama-sama membahas tentang manusia.
Penelitian keperilakuan dalam akuntansi riset bisa menggunakan tiga jenis
metode, antara lain studi lapangan, eksperimen, dan survei yang masing-masing ada
keunggulan dan kelemahannya. Ketiga metode ini bisa saling melengkapi dengan
menerapkan metode multiple. Penelitian yang berkaitan dengan riset akuntansi
keperilakuan dibagi menjadi enam fokus penelitian, antara lain akuntansi dalam
konteks organisasi, penganggaran, pemikiran psikologi, pemrosesan informasi
manusia, kontingensi teori, dan koferensi dan peristiwa.
Beberapa hasil penelitian akuntansi keperilakuan terbaru dalam bidang akuntansi
manajemen di Indonesia telah diseminarkan dalam Seminar Nasional Akuntansi
(SNA). Rahman dkk. (2007) meneliti pengaruh sistem pengukuran kinerja terhadap
kejelasan peran, pemberdayaan, psikologis, dan kinerja manajerial dengan
pendekatan partial least square. Cahyono dkk. (2007) meneliti pengaruh moderasi
sistem pengendalian manajemen dan inovasi terhadap kinerja. Wijayantoro dkk.
(2007) meneliti hubungan antara sistem pengendalian manajemen dengan perilaku
disfunctional: budaya nasional sebagai variabel moderating (penelitian para manajer
perusahaan manufaktur di Jawa Tengah). Yufaningrum dkk. (2005) menganalisis
pengaruh partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial melalui komitmen tujuan
anggaran dan job relevant information (JRI) sebagai variabel intervening. Sumarno
(2005) meneliti pengaruh komitmen organisasi dan gaya kepemimpinan terhadap
hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial.

6. Menurut anda, topik riset apa saja yang paling dominan mempengaruhi akuntansi
keperilakuan ?
Jawab : hal 215-219
Menurut kelompok kami, topic riset yang paling dominan mempengaruhi akuntansi
keperilakuan adalah :
1. Audit
Riset ini menyarankan bahwa terdapat suatu peluang yang berhubungan dengan
pemahaman dan evaluasi hasil keputusan audit. Salah satu kesulitan dengan riset
yang berorientasi pada keputusan dalam audit adalah kurangnya kriteria variabel
yang dapat diamati terhadap penilaian kinerja auditor sehingga peneliti sering
melakukan studi atas konsensus penilaian dan konsistensi.
2. Akuntansi Keuangan
Secara jelas, pentingnya riset akuntansi keuangan yang berbasis pasar modal
dibadingkan dengan audit menunjukkan kurang kuatnya permintaan eksternal
terhadap riset akuntansi keperilakuan dalam bidang keuangan.
3. Akuntansi Manajemen
Awalnya ini merupakan pertimbangan yang lebih luas dibandingkan dengan riset
akuntansi keuangan, dan memungkinkan pencerminan tradisi yang lama yang
berbeda dari riset akuntansi keperilakuan dalam bidang audit.
4. Sistem Informasi Akuntansi
Keterbatasan riset akuntansi keperilakuan dalam bidang sistem informasi
akuntansi adalah kesulitan membuat generalisasi meskipun berdasarkan pada
studi sistem akuntansi yang lebih awal sekalipun.

5. Perpajakan
Riset akuntansi keperilakuan dalam bidang perpajakan telah memfokuskan diri
pada kepatuhan dengan melakukan pengujian variabel psikologi dan lingkungan.
6. Pertumbuhan Riset Perilaku
Indikasi penting dari pertumbuhan minat dalam pendekatan perilaku terhadap
akuntansi merupakan pengaruh dari paradigma perilaku riset. Hasil ini
menyatakan bahwa pengaruh terhadap literatur tersebut dapat diperkirakan
berdasarkan jumlah identifikasi staf dan minat perilaku.