Anda di halaman 1dari 30

PT.

Trakindo Utama
Training Center Cileungsi

Next Step Ahead for Human Resources Development


Contamination Control
Buku Panduan Siswa

Training Center Cileungsi

Jl. Raya Narogong KM. 19 Cileungsi – Bogor 16820


Phone: +62218233361
Fax: +62218233360
Trakindo Utama Training Center Service Technician Module

Contamination Control

Diterbitkan oleh Training Center Dept. PT Trakindo Utama

Jl. Narogong Raya Km. 19


Cileungsi
Kab. Bogor 16820
Indonesia
Versi 1.0, 2005

Hak Cipta © 2005 PT. Trakindo Utama, Indonesia.

Hak cipta dilindungi,. Reproduksi bagian dari dokumen ini tanpa ijin dari pemilik Hak Cipta
merupakan pelanggaran hukum. Permohonan untuk perijinan atau informasi lebih lanjut
harus dialamatkan ke Manager, Asia Pacific Learning, Australia.

Materi-materi subyek ini dikeluarkan oleh Trakindo Utama, Indonesia dengan pengertian
bahwa:

1. Trakindo Utama, Indonesia, para staff, pengarang, atau siapapun yang terlibat dalam
persiapan dari publikasi ini dengan tegas menyangkal seluruh atau yang berkaitan
dengan kontrak apapun, kerugian, atau bentuk lain dari pertanggung jawaban kepada
siapapun (pemilik publikasi ini ataupun bukan) yang berhubungan dengan publikasi dan
segala konsekwensi yang timbul dari penggunaannya, termasuk segala kelalaian yang
dibuat oleh siapapun dalam hubungannya dengan keseluruhan atau sebagian isi dari
publikasi ini.
2. Trakindo Utama, Indonesia dengan tegas menyangkal seluruh atau segala pertanggung
jawaban kepada siapapun yang berhubungan dengan konsekwensi apapun dari segala
yang telah dibuat atau kelalaian yang telah dibuat oleh orang-orang yang berkaitan,
secara keseluruhan atau parsial, atas keseluruhan atau sebagian atau bagian manapun
dari isi subject material ini.

Ucapan Terima Kasih


Terimakasih kepada keluarga besar Caterpillar untuk kontribusi mereka meninjau kurikulum
untuk program ini, khususnya :
• Para staf dan Instructor Training Center Dept. Trakindo Utama, Indonesia
• Caterpillar Inc dan Cat Institute Australia
CONTAMINATION CONTROL

PENGENALAN MODUL
Penjelasan

Module ini merupakan petunjuk untuk mencapai tingkat kompetensi yang dibutuhkan dalam
penerapan Contamination Control di lingkungan kerja.

Kompetensi yang Terkait

Module ini terkait dengan Trakindo Development Program (TDP)

Setelah menyelesaikan assesment module ini maka karyawan yang bersangkutan telah
memenuhi persyaratan untuk mengikuti assesment Trakindo Development Program (TDP)
skill 20.

Persyaratan Awal (Pre-Requisities)

• BMOSH0001 Occupational Healt & Safety Procedure

Learning & Development

Dalam penyampaian modul ini dibutuhkan penggunaan activity workbook dan lingkungan
kerja atau simulasi dari lingkungan yang sesuai untuk menerapkan/mempraktekan pelajaran
yang diperoleh sebagai persiapan menuju assesment kompentensi.

Setiap siswa yang telah menyelesaikan kurikullum ini, telah memiliki pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman untuk mempersiapkan assesment kompetensi yang akan
dilakukan oleh Workplace Assesor yang terakreditasi.

Waktu Penyampaian Nominal

8 Jam

Sumber (Resources)

• Engine yang tersedia


• Perlengkapan, tool dan tempat kerja yang relevan

Penilaian (Assesment)

Module ini harus di nilai (assesed) menggunakan assesment formatif dan summatif, praktek
dan teori. Pencapaian learning outcomes pada tingkatan tertentu ditunjukkan pada assesment
secara lisan dan tertulis.

Panduan (Refference)

Papan panduan comtamination control yang tersedia di Workshop


Penggunaan Oli Recovery Unit
Prosedur pengambilan oli sampel
Pengunaan Hose cleaner
Pengunaan tool partikel counter
Prosedur penggunaan kidney loop tools

TRAINING CENTER CILEUNGSI i


CONTAMINATION CONTROL

II TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

DAFTAR ISI

Topik 1 : Pengertian Conatminant dan Pengaruhnya Terhadap Alat Berat


Penjelasan ............................................................................................................................. 1
Jenis-jenis Contaminant ........................................................................................................ 2
Sumber Contaminant ............................................................................................................. 5
Dampak Contaminant ............................................................................................................ 7

Topik 2 : Pengendalian Contaminant


Factory, Dealer dan Customer .............................................................................................. 9
Pengukuran Contaminant ...................................................................................................... 10
Proses Implementasi Contamination Control ........................................................................ 12

TRAINING CENTER CILEUNGSI iii


CONTAMINATION CONTROL

TOPIK 1
Pengertian Contaminant dan
Pengaruhnya Terhadap System Alat
Berat
PENJELASAN
Contaminant merupakan berbagai macam material asing didalam sistem yang bukan
merupakan bagian dari sistem tersebut yang dapat mengakibatkan keuasan dini bahkan
kerusakan. Contaminant merupakan musuh utama sistem alat berat terutama pada engine,
hidrolik dan transmisi.
Contamination control merupakan program pengontrolan masuknya contaminant ke sistem
yang harus dimengerti, disadari dan diterapkan oleh dealer, factory dan customer untuk
menjaga agar produk Caterpillar mempunyai ketangguhan dan dapat menghasilkan nilai
tambah dan keuntungan sebesar-besarnya bagi pengguna.
Peningkatan tuntutan efisiensi alat berat menghasilkan desain sistem yang menggunakan
kontrol elektrik dan hidrolik, tekanan yang lebih tinggi dan clearance yang lebih teliti. Sistem
ini tentunya membutuhkan perawatan yang lebih baik, salah satunya yaitu dengan
mengontrol masuknya contaminant kedalam sistem.
Latar Belakang Contamination Control
Program contamination control ada karena dilatarbelakangi oleh berbagai aspek,
diantaranya:

1. Costumer
Adanya contamination control diawali dari keinginan caterpillar untuk memenuhi
kebutuhan costumer. Pada umumnya costumer membutuhkan power machine lebih
besar, daya yang diaplikasikan untuk kerja lebih tinggi dan waktu siklus (cycle time) lebih
cepat. Costumer mengharapkan sesuatu yang lebih dari peralatan Caterpillar. Sesuai
dengan kenaikan cost dan bisnis yang lebih kompetitif, peralatan Caterpillar harus
memberikan performa yang bagus agar dapat seproduktif mungkin.

2. Trend Industri
Karena tuntutan Costumer, Caterpillar sebagai produsen mulai menggunakan sistem
machine yang lebih canggih, termasuk elektro hidrolik, sistem bertekanan tinggi, dan
clearance yang lebih rapat. Sistem machine yang canggih ini memungkinkan Caterpillar
untuk membuat machine yang lebih produktif dan lebih handal.

3. Fluida lebih sensitif terhadap contaminant


Penggunaan sistem yang canggih seperti elektro hidrolik, clearence yang rapat, dan
presurre yang tinggi menyebabkan fluida dan komponen lainnya lebih sensitif terhadap
contaminant. Umur fluida dan komponen akan lebih pendek jika contaminant masuk ke
dalam sistem. Karena presurre yang dibutuhkan tinggi maka diperlukan filter yang baik
untuk menyaring contaminant.

TRAINING CENTER CILEUNGSI 1


CONTAMINATION CONTROL

JENIS-JENIS CONTAMINANT
Contamination control sangat penting diterapkan dalam melakukan pekerjaan karena sering
sekali kita mengabaikan musuh utama ini akibat tidak terlihat ataupun tidak disadari.

Gambar 1
Jenis-jenis contaminant yang sering sekali mencemari sistem-sistem alat berat terdiri dari :

1. Partikel, yang terdiri dari :


a. Kotoran
b. Partikel bekas proses pengelasan
c. Cat
d. Serpihan atau lembaran plastik
e. Partikel akibat keausan logam
f. Debu rokok
g. Gemuk (grease)
h. Material yang timbul dari oksidasi oli

2. Kimiawi
a. Panas
b. Air
c. Udara

2 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

Jenis contaminant berdasarkan ukurannya :

Gambar 2

Gambar diatas merupakan jenis-jenis contaminant berdasar ukurannya. Jenis contaminant


yang masih bisa dilihat oleh mata yaitu sekitar 40 mikron misalnya weld splatter (sisa
pengelasan), shot blast (sisa penyemprotan sand blasting), paint chip (cat yang
mengelupas), machine chip (sisa permesinan), dust on TV (debu) dan jenis contaminant
yang tidak bisa dilihat oleh mata yaitu dibawah 40 mikron misalnya logam yang aus, silica,
serbuk batu, serbuk batu bara, debu.

Gambar 3

Clearance dari komponen-komponen alat-alat berat Caterpillar berkisar antara 2-30 micron.
Clearance ini begitu kecil apabila dibandingkan dengan ukuran rambut manusia yang
berukuran 80 mikron dan clearance sebesar ini cendrung tidak terlihat karena kemampuan
mata manusia untuk melihat hanya terbatas hingga 40 mikron. Satu mikron sama dengan
sepersejuta meter.

100 microns (µ) - Sebutir garam meja


80 microns (µ) - Diameter rambut manusia

TRAINING CENTER CILEUNGSI 3


CONTAMINATION CONTROL

Gambar 4

Gambar 4 di atas menunjukan ukuran dari satu mikron. Satu mikron sangatlah kecil jika
dibandingkan dengan diameter rambut manusia. Juga menunjukan betapa kecil satu mikron
terhadap 1/1000 inchi. Partikel yang kecil ini bisa sangat merusak sistem jika berada di
antara dua komponen yang bergesekan.

Gambar 5

Suatu perusahaan pembuat pompa melakukan penelitian untuk mengetahui dampak dari
kontaminasi pada usia pompa. Grafik menunjukan beberapa informasi yang menarik
mengenai kontaminasi. ISO code yang lebih besar, akan memperpendek usia pompa. Jika oli
dijaga pada 18/15 atau di bawahnya, usia komponen akan meningkat drastis.

4 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

SUMBER CONTAMINANT
Kontaminasi dapat bersumber dari beberapa proses yang terdiri dari :

1. Layout tempat perbaikan

Gambar 6

Layout tempat perawatan dan perbaikan yang tidak tepat dapat mengakibatkan
masuknya contaminant kedalam sistem.

2. Proses pembuatan dan perakitan

Gambar 7

Proses pembuatan komponen dan perakitan merupakan salah satu sumber masuknya
contaminant kedalam sistem. Untuk mengetahui tingkat kebocoran setelah proses
perakitan, factory biasanya menambahkan semacam zat pewarna pada oli atau fluida
lainnya sehinga apabila unit telah dikirim ke customer perlu dilakukan penggantian oli
awal (initial oil change) yang biasanya berkisar antara 50 hingga 250 jam tergantung dari
petunjuk masing-masing Operation & Maintenance Manual masing-masing unit.

TRAINING CENTER CILEUNGSI 5


CONTAMINATION CONTROL

3. Oli baru

Gambar 8

Oli baru, tidak dapat dianggap sudah sangat bersih karena contaminant dapat masuk
selama proses produksi atau penyimpanan. Pada gambar dibawah terlihat oli baru
dengan kotoran yang menempel disekeliling drum disertai dengan pompa tangan yang
tidak dilengkapi dengan filter yang dapat menyaring contaminant yang terdapat di dalam
oli. Kondisi seperti ini sangat memudahkan masuknya contaminant kedalam sistem dan
akan mempercepat proses keausan komponen.

4. Kondisi daerah beroperasi

Gambar 9

Kondisi daerah operasi yang tidak bisa dihindari selalu berhubungan dengan kotoran dan
debu memungkinkan masuknya contaminant kedalam sistem. Oleh sebab itu sangat
penting dilakukan pengecekan kebocoran baik itu oli, udara atau air.

• Cylinder wiper seal


Terletak pada cylinder hidrolik, akan menjadi sumber contaminant jika terdapat
kebocoran.

• Reservoir vent port


Lubang pernapasan pada tangki jika tidak tertutup, contaminant akan masuk
kedalam sistem.

• Kualitas maintenance yang buruk


Prosedur perawatan yang salah akan menjadi sumber contaminant bagi sistem.

6 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

5. Proses Maintenance dan Service

Gambar 10

Proses maintenance dan service yang mengabaikan faktor kebersihan dan dilakukan
ditempat yang tidak sesuai dapat menimbulkan masuknya contaminant kedalam sistem

6. Dari dalam sistem


Contaminant dapat timbul di dalam sistem itu sendiri karena adanya gesekan dari
komponen yang bergerak saat mesin beroperasi.

DAMPAK CONTAMINANT
Akibat yang dapat ditimbulkan apabila mengabaikan proses contamination control adalah
sebagai berikut:
1. Pendeknya umur komponen dan fluida (semakin cepatnya masa penggantian oli).
2. Menurunkan produktivitas alat, contohnya operasi yang tidak handal, perfoma yang
lambat.
3. Dapat menimbulkan kerusakan yang parah sehingga downtime dan biaya
perbaikan tinggi, contohnya erratic steering dan cylinder drift.
4. Meningkatnya biaya warranty.
5. Meningkatnya redo job
6. Terjadinya problem yang berulang ulang dan meningkatkan jumlah kerusakan .
7. Menurunkan kepercayaan costumer yang akan berdampak hilangnya prospek
penjualan.
Tidak hanya Caterpillar saja yang berhati-hati terhadap contaminant tetapi ada banyak
perusahaan yang juga peduli. Perusahaan Timken Bearing Company pernah melakukan riset
terhadap umur pakai bearing.
Dari hasil riset umur pakai dari bearing yang seharusnya 12.000 jam menjadi 8000 jam
setelah bearing dimasuki contaminant sebesar 20 – 30 mikron

Gambar 11

TRAINING CENTER CILEUNGSI 7


CONTAMINATION CONTROL

Gambar 12

Gambar diatas menunjukkan adanya contaminant yang terjebak diantara dua permukaan
logam yang bersuaian satu dengan yang lainnya, hal ini menyebabkan terjadinya pelipat
gandaan partikel setelah proses terperangkapnya contaminant setiap kali terjadi kontak
permukaan.

8 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

TOPIK 2
Pengendalian Contaminant

FACTORY, DEALER DAN CUSTOMER

Gambar 13
Karena sumber contaminant dapat berasal dari factory, dealer dan customer, maka semua
pihak harus bertanggung jawab dalam menciptakan kondisi yang bersih untuk mengurangi
contaminant. Penjelasan berikut ini merupakan aturan dan tanggung jawab yang seharusnya
dilakukan oleh masing-masing pihak untuk menjamin kondisi alat dapat beroperasi
sebagaimana mestinya.

Tanggung jawab dari masing-masing pihak adalah :

1. Caterpillar
Aturan dan tanggung jawab yang harus dilakukan Caterpillar adalah:

a. Mendesain alat yang dapat terhindar dari masuknya contaminant kedalam sistem
serta mudah bagi dealer maupun customer untuk menjaga kebersihannya seperti:

- Valve SOS sampel pada tempat yang mudah dijangkau dengan aliran oli yang
baik.
- Tersedianya Valve pembuangan fluida seperti oli dan air .

b. Membuat dan mengirim alat yang terjamin kebersihannya yang dilakukan dengan
membentuk standar dan team contamination control .

c. Membuat tool yang dibutuhkan untuk menjaga dan memonitor kebersihan sistem
seperti Kidney loops, Hose Plug beserta petunjuk penggunaannya.

d. Menerbitkan dan mempebaharui petunjuk pengaturan fasilitas kerja (Facility Layout


Guide).

TRAINING CENTER CILEUNGSI 9


CONTAMINATION CONTROL

e. Menyediakan panduan tentang penyebab, akibat dan solusi dari contamination


control bagi pabrik pembuat, supplier, dealer dan costumer.

f. Menyediakan target tingkat kebersihan bagi dealer dan customer.

2. Dealer
Dealer bertanggung jawab mengimplentasikan proses contamination control dengan
cara:

a. Menciptakan budaya kebersihan melalui pendidikan tentang penyebab, akibat dan


solusi dari contamination control kepada karyawan (part, service dan sales) dan
customer.

b. Membangun rencana kerja dan prosedur untuk mengimplementasikan


contamination control.

c. Menjadikan teknologi particle counter sebagai bagian dari program analisa fuel, oli
dan coolant.

d. Menyediakan peralatan dan fasilitas contamination control.

e. Meningkatkan fasilitas kerja dengan mengutamakan aspek contamination control


yang dapat dicontoh oleh customer.

3. Customer
Tanggung jawab customer dalam hal contamination control adalah:

a. Menciptakan budaya kebersihan melalui pendidikan tentang penyebab, akibat dan


solusi dari contamination control kepada karyawan (part, service dan operator).

b. Menciptakan suatu standar contamination control pada proses operasional seperti:

- Penyimpanan fluida seperti oli dan fuel


- Penyimpanan hose dan spare part lainnya
- Pengambilan sampel oli dan mengikuti program SOS secara berkala.
- Pekerjaan perawatan dan perbaikan.

c. Pengoperasian alat
Pengoperasian alat seharusnya diperhatikan sedemikian rupa dengan
memperhatikan aspek-aspek berikut ini :

- Mengikuti rekomendasi Caterpillar tentang interval penggantian oli dan


menyesuaikan jadwal penggantian oli dengan kondisi operasi alat dan hasil
analisa sampel oli.
- Mengoperasikan alat sesuai petunjuk yang dikeluarkan pabrik.

d. Melakukan pemeriksaan tingkat kebersihan fluida seperti oli, setelah melakukan


perbaikan dan perawatan mesin yang mengacu kepada standar Caterpillar.

PENGUKURAN CONTAMINANT
Standar Caterpillar dalam pengukuran tingkat contaminant pada suatu sistem dilakukan
dengan dua metode yaitu :

1. Spectrographic analisis
Proses ini adalah proses pengukuran jumlah partikel pada sampel oli menggunakan
peralatan pada lab SOS yang dapat mengukur partikel minimal sebesar 10-15 micron.

10 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

Alat ini mengidentifikasi jenis-jenis partikel yang terkandung dalam fluida seperti metal
atau logam campuran.

2. Partikel counter
Metode ini adalah pengukuran partikel dengan menggunakan Pamas S2 Particle
Analyzer sebesar 1-200 micron. Pengukuran tingkat contaminant yang dilakukan
mengacu pada standar internasional ISO 4406 dengan 28 tingkat pengkodean.

Standar kode ISO yang dipakai berupa nilai tertentu seperti 17/13, 16/13 dan lain
sebagainya. Maksud dari pengkodean ini dijabarkan dengan mengasumsikan nilai
pertama pada kode dengan huruf X dan nulai kedua dengan huruf Y sehingga nilai baku
pengkodean ini adalah X/Y dimana:

a. X adalah jumlah partikel yang lebih besar dari 6 micron.


b. Y adalah jumlah partikel yang lebih besar dari 14 micron.

Gambar 14

Dari tabel diatas terlihat bahwa jika standar ISO code adalah 16/13 maka jumlah partikel
yang lebih besar dari 6 micron berjumlah 320-640 partikel/mL dan jumlah partikel yang
lebih besar dari 14 mikron adalah 40-80 partikel/ml.
Standar minimal jumlah partikel pada sistem yang diperbolehkan Caterpillar adalah:

• Hydraulic System (Implement & Steering) ........................................... ISO 18/15


• Vehicles With Electronic Transmission................................................. ISO 18/15
• Vehicles With Mechanical Transmission ............................................. ISO 21/17
• Oli yang akan diisikan ke sistem........................................................... ISO 16/13

TRAINING CENTER CILEUNGSI 11


CONTAMINATION CONTROL

Gambar 15

Setengah sendok teh debu yang mencemari 55 gallon oli sudah mencapai batas maksimal
contaminant yang diperbolehkan untuk alat-alat berat Caterpillar. Dari ilustrasi diatas terlihat
jelas betapa pentingnya kesadaran kita untuk menjaga supaya contaminant jangan sampai
mencemari sistem.

PROSES PENGIMPLEMENTASIAN CONTAMINATION


CONTROL
Proses pengimplementasian contamination control dilakukan pada berbagai hal seperti
keterangan berikut ini:

1. Pengelolaan fasilitas kerja (House Keeping)


Pengelolaan lingkungan kerja dilakukan dengan :

a. Menjaga daerah kerja selalu bersih dan tertata rapi sebelum, selama proses dan
setelah melakukan pekerjaan.
b. Membersihkan lantai setiap hari.
c. Menjaga lantai tetap bebas dari kotoran, tumpahan-tumpahan oli dan fluida lainnya
dengan melakukan pembersihan secepat mungkin.
d. Menjaga tempat penyimpanan komponen dan meja kerja dari kotoran dan debu.
e. Hindari menggunakan lantai dalam menyimpan barang.

Gambar 16

Kondisi pengelolaan tempat kerja seperti pada gambar 16 tidak direkomendasikan


karena komponen berserakan, serta tempat penyimpanan sementara dan meja kerja
tidak sesuai standar.

12 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

Gambar 17

Gambar 18 diatas merupakan kondisi yang direkomendasikan dimana penempatan


komponen dan pengelolan ruang kerja terlihat teratur.
2. Pengisian, pemindahan dan penyimpanan oli
Proses pengisian, pemindahan dan penyimpanan oli harus mengikuti prosedur berikut:

Gambar 18

a. Penyaringan harus dilakukan selama proses pengisian dan pemindahan dengan


menggunakan kidney loop atau dengan fluid recovery unit guna menjamin oli yang
masuk kedalam sistem bersih dari contaminant walaupun yang diisikan adalah oli
baru.

Gambar 19

b. Penyimpanan oli harus dilakukan didalam tempat tertutup seperti drum, walaupun
lubang pemasukan oli pada drum telah ditutup, tidak tertutup kemungkinan
masuknya contaminant dan menumpuknya debu di permukaan atas drum sehingga
masih diperlukan 1U-5166 Drum Cover seperti gambar diatas.

TRAINING CENTER CILEUNGSI 13


CONTAMINATION CONTROL

3. Penggantian Filter
Filter pada umumnya diganti setiap 250-500 jam (berdasarkan rekomendasi OM&M),
juga dapat diganti dengan memeriksa sampel oli apakah perlu penggantian filter lebih
dini. Filter harus dalam keadaan terbungkus hingga pada saat pemasangan dilakukan.
Caterpillar TIDAK merekomendasikan mengisi filter baru dengan fluida pada saat
pemasangan, karena hal ini akan menyebabkan masuknya contaminant ke dalam
sistem. Gantilah seluruh elemen filter dalam keadaan kering termasuk pada fuel filter.
Pada saat penggantian filter, Caterpillar menganjurkan untuk menggunakan high
efficiency filter untuk mencegah contaminant masuk ke dalam sistem. Filter ini dapat
digunakan lebih dari 250 jam dibandingkan dengan menggunakan standar filter.
Periksalah filter yang sudah digunakan, dengan memotong house dari filter tersebut
untuk mengetahui kandungan partikel dalam filter. Filter dipotong dengan menggunakan
Filter Cutting Tool (4C-5084).
4. Penanganan dan penyimpanan komponen
Penanganan dan penyimpanan komponen harus dilakukan sebaik mungkin untuk
menjaga komponen dari contaminant dan karat. Penanganan yang dilakukan meliputi :

Gambar 20

a. Komponen baru harus tetap terbungkus dan tersimpan di dalam cabinet secara
teratur sesuai dengan part number-nya dan komponen lama yang akan dipakai ulang
setelah dibersihkan diberi cairan anti karat dan dibungkus dengan plastik khusus
sebelum siap dipasang.

Gambar 21

b. Komponen yang dikembalikan ke part departement harus terbungkus dengan rapi


kembali.

14 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

c. Proses penyimpanan harus bersih, baik itu tempat penyimpanan dan media
penyimpannya.
5. Perakitan dan penyimpan hose
Proses perakitan dan penyimpanan hose harus dilakukan dengan benar sesuai prosedur
berikut ini:

Gambar 22

a. Hose yang telah dipotong dan siap dirakit harus dibersihkan dengan menembakkan
130-6105 projectil menggunakan 130-6061 Cat hose cleaner. Hal ini dimaksudkan
untuk membuang debu dan serpihan bekas pemotongan pada bagian dalam hose.
Ukuran projectil harus sesuai dengan ukuran hose untuk menghasilkan proses
pembersihan maksimal dan pembersihan harus dilakukan minimal tiga kali.

b. Lindungi lubang hose yang belum di-assembly (bulk hose) dengan menggunakan
cap dan plug.

Gambar 23

c. Lindungi hose yang telah di-assembly dengan cap dan plug untuk menghindari
masuknya contaminant.

TRAINING CENTER CILEUNGSI 15


CONTAMINATION CONTROL

6. Perbaikan dan perakitan komponen


Prosedur dalam melakukan perbaikan dan perakitan komponen adalah sebagai berikut:

Gambar 24

a. Gunakan 4C8765 absorbent pad untuk menyerap tumpahan oli, bukan serbuk
gergaji. Lakukan penggantian absorbent pad jika seluruh permukaan telah penuh
menyerap oli.
b. Pertahankan kebersihan selama proses pekerjaan berlangsung.
c. Gunakan sikat berputar untuk membersihkan cylinder liner yang telah di-honing.
d. Tempat melakukan proses welding, disassembly dan assembly harus terpisah satu
sama lain.
e. Mesin glass bead dan gerinda tidak boleh berada di assembly area.
f. Jangan melakukan pembersihan komponen di assembly area.
g. Jaga bagian dalam fuel injection pump tetap tertutup.
7. Kepedulian terhadap proses maintenance dan operasi
Kepedulian operator dan teknisi terhadap contamination control sangat diperlukan dalam
menjalankan proses perawatan dan pengoperasian sesuai dengan prosedur. Kepedulian
tersebut dapat diwujudkan sebagai berikut:

• Melakukan inspeksi harian sesuai dengan prosedur maintenance yang benar.


• Menjaga tangki hidrolik terisi penuh.
• Melakukan perawatan valve.
• Gunakan rod protector pada daerah operasi yang berbatu dan berdebu.
• Memonitor temperature gauge untuk mengetahui kenaikan dan penurunan suhu
(panas merupakan salah satu bentuk contaminant).

8. Field service
Ruangan field service harus ditata sedemikian rupa untuk tetap mempertahankan
kebersihan ruangan sekitar dengan cara:

16 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

Gambar 25

a. Jaga komponen terbungkus hingga siap untuk dipasang, gambar diatas


menunjukkan komponen berserakan dan tidak dilindungi pembungkus dan
memudahkan contaminant masuk.
b. Stock high effisiensi filter harus tersedia di mobil field service.
c. Yakinkan oli yang bersih diisikan ke lub truck.
d. Biasakan memotong filter dan memeriksa kondisinya setelah melakukan perawatan
atau perbaikan.

Gambar 26

9. Particle Counter
Particle counter merupakan metode perhitungan jumlah partikel yang terkandung didalam
oli guna mendeteksi kebersihan oli dan membandingkan dengan hasil analisa SOS di
lab.

Pemeriksaan kebersihan oli ini dilakukan dalam beberapa kondisi yaitu:

a. Memeriksa kebersihan sistem setelah melakukan perbaikan dilapangan atau setelah


melakukan penambahan perlengkapan.
b. Memeriksa kebersihan sistem sebelum serta setelah perawatan atau perbaikan.
c. Memeriksa kebersihan sistem pada unit sebelum dan setelah digunakan.

TRAINING CENTER CILEUNGSI 17


CONTAMINATION CONTROL

10. Schedule oli sampling (SOS)


Schedule oil sampling merupakan suatu program yang dibuat Caterpillar untuk
membantu customer dalam mengetahui kerusakan alat secara dini dengan mengambil
sampel oli, coolant dan fuel guna mengurangi biaya perbaikan dan downtime.

Hal utama yang harus diperhatikan selama melakukan pengambilan sampel oli adalah:

a. Melakukan pengambilan oli yang representative untuk memudahkan proses


pemeriksaan material yang terdapat pada sistem akibat keausan dan material asing
yang masuk kedalam sistem.

b. Melakukan pengambilan sampel tepat waktu dan secara berkala sangat penting
untuk mengetahui problem secara dini dan mempertimbangkan waktu yang optimal
untuk melakukan perbaikan.

c. Menjaga masuknya contaminant selama proses pengambilan sampel.

Tool yang dipergunakan untuk pengambilan sampel adalah:

Gambar 27

1. 169-8373 Bottle Group, 300 per box 11. 1U-7648 Tube Cutter 1U-8589
2. 162-8873 Probe, Holder Replacement Blades
3. 177-9343 Cap and Probe Group, 500 12. 8C-8456 Sealed Cap(for temporary
per box sealing of leaky sampel valve)
4. 4C-4600 Mailer Container - reusable 13. 8C-3446 Oli Sampling Valve (7/16
5. 1U-8757 Tube - 6.35 mm (1/4 in) O.D. inch-20 - ext. thread) 3J-7354 O-Ring
x 30.5 m (100ft) rolls, 5 rolls per box Seal for 8C-3446
6. 4C-4056 Tube - 7.9 mm (5/16 in) x 14. 7X-3387 Oli Sampling Valve (1/4
30.5 m (100 ft) rolls, 5 rolls per box inch-18 NPTF - ext. thread)
7. 169-7373 Clear Bottle, 71g (2 1/2 oz), 15. 8C-3345 Oli Sampling Valve (M10 x
200 per box 1 - ext. thread) 8T-7876 O-Ring Seal
8. 169-7372 Clear Bottle, 114g (4 oz), for 8C-3345
200 per box 16. 8C-3445 Dust Cap (Engine)
9. 1U-5718 Vacuum Pump 1U-5719 Seal 8C-3447 Dust Cap (Transmission)
Kit for 1U-5718 Pump 8C-3451 Dust Cap (Hydraulic)
10. 8T-9208 Probe, purging 6V-0852 Dust Cap (Blank)

18 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

Metode pengambilan sampel terdiri dari:

a. Metode sampling valve


Metode sampling valve merupakan metode pengambilan sampel oli dari sampling
valve yang dipasang pada sistem yang bertekanan. Prosedur pengambilan sampel
oli menggunakan metode ini adalah:

- Menggunakan sampling bottle (169-8373), sampling probe & tubing (177-9343)


dan probe holder (162-8873).

- Selalu lakukan pengambilan sampel mulai dari sistem yang paling bersih terlebih
dahulu seperti hidrolik, transmisi dan engine serta lakukan pengambilan sampel
sewaktu oli masih panas.

- Jangan menggunakan sampling probe yang sama untuk setiap jenis oli dan tubing
harus selalu baru untuk masing-masing pengambilan.

- Isi label botol SOS dengan lengkap sebelum memulai pengambilan sampel.

Gambar 28

- Operasikan alat selama lima belas menit sehinga oli mengalir kesemua tempat
pada sistem dan turunkan RPM engine ke low idle, buka dust cup sampling valve
dan bersihkan sekelilingnya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan sampel yang
betul-betul mewakili kondisi sebenarnya.

- Tekan probe ke sampling valve dan tampung sekitar 100 ml oli ke tempat oli
bekas seperti gambar diatas, Apabila oli tidak keluar pada kondisi low idle maka
dibutuhkan orang lain untuk menaikkan sedikit putaran engine hingga oli keluar.
Hal ini dilakukan untuk meyakinkan oli betul-betul terbebas dari contaminant yang
mengendap pada valve dan mendapatkan sampel yang representative.

- Tekan probe ke sampling valve dan isikan oli kedalam sampling bottle sebanyak
kurang lebih ½ botol untuk pembilasan.

TRAINING CENTER CILEUNGSI 19


CONTAMINATION CONTROL

Gambar 29

- Tekan kembali probe pada sampling valve dan isi botol hingga tiga perempat
bagian, jangan sampai penuh dan jangan biarkan masuknya debu atau kotoran ke
dalam botol atau tutupnya.

- Lepas tubing dan pasang tutup botol, kemudian pasang label yang sudah
disiapkan sebelumnya.

b. Metode pengambilan sampel menggunakan vacuum extraction


Prosedur pengambilan sampel menggunakan metode ini adalah :

- Pengambilan sampel dengan menggunakan sebuah Vacuum Pump (1U5718)


dan tubing (4C-4056). Direkomendasikan untuk menggunakan Tube Cutter
(1U7648), yang dapat dipergunakan untuk melakukan pemotongan tube dengan
sebelah tangan.

- Gunakan metode ini pada sistem yang tidak dilengkapi sampling valve.

- Gunakan tubing baru setiap melakukan pengambilan sampel guna mencegah


contaminant.

- Gunakan vacuum pump tersendiri untuk masing-masing sistem.

- Isi label terlebih dahulu sebelum mengambil sampel.

20 TRAINING CENTER CILEUNGSI


CONTAMINATION CONTROL

Gambar 30

- Operasikan alat selama lima belas menit lalu matikan dan potong selang
sepanjang minimal setengah kedalaman oli pada dipstick.

- Masukkan selang pada kepala vacuum pump dan kencangkan retaining nut.
Jarak ujung selang dari base vacuum pump sepanjang empat sentimeter.

Gambar 31

- Masukkan selang pada pipa dipstick dan pasang botol sampel.

TRAINING CENTER CILEUNGSI 21


CONTAMINATION CONTROL

Gambar 32

- Tarik handle vacuum pump untuk menghasilkan kevakuman, tahan handle dan
jangan diputar karena oli dapat masuk kedalam ruangan pompa dan
memungkinkan contaminant masuk. Jika oli masuk kedalam ruang pompa, maka
pompa harus dibersihkan sebelum melakukan pengambilan sampel selanjutnya.
Isi botol hingga tiga perempat.

- Lepas selang dan pasang tutup botol beserta label yang telah disiapkan
sebelumnya.

Pemasangan Sampling Valve


Apabila pada alat tidak terdapat sampling valve dapat dilakukan pemasangan dengan
petunjuk sebagai berikut :

a. Pasang sampling valve di setiap sistem yang bertekanan pada posisi yang mudah
dijangkau dan aman.
b. Idealnya pasang sampling valve pada tempat yang dapat dijangkau dari permukaan
tanah atau pada tempat pijakan diluar rangka utama alat.
c. Setiap sampling valve hanya boleh dipasang pada daerah yang bertekanan 50-500
psi dan idealnya pada tempat yang bertekanan 50- 150 psi.
d. Pemasangan sampling valve harus pada tempat dimana oli mengalir bukan ditempat
yang buntu atau di ujung saluran karena pada daerah ini biasanya terdapat endapan
kotoran.
e. Idealnya sampling valve ditempatkan sebelum filter dan setelah pompa yang
biasanya pada filter base.

22 TRAINING CENTER CILEUNGSI