Anda di halaman 1dari 1

Jawaban pihak rektorat Terkait Dengan Survey Kebijakan Kuliah Untidar dimasa

Pandemi COVID-19
Berdasarkan hasil kuesioner mayoritas responden mengisi dalam keadaan sehat dan
berada dia rumah masing-masing. Pandangan mahasiswa terhadap SE rektor cukup baik.
Pada selasa, 14 April 2020 DPM KM UNTIDAR mengadakan pertemuan dan meminta
kejelasan yang berkaitan dengan beberapa masalah mengenai perkuliahan daring dan
transparansi dana UKT bersama Pihak rektorat. Berikut adalah hasil pembahasan bersama
rektorat :
1. Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bahwa tidak bisa untuk pemotongan UKT atau
bisa di bilang cashback, karena pembayaran Wifi dan listrik tidak mungkin di tarik
kembali. Meskipun ada surat edaran kemdikbud rektor belum bisa menggunakan uang
anggaran belanja tersebut karena belum ada SK Menteri keuangan. belanja
operasional mengikuti apa yang telah di anggarkan setiap tahun dan apabila ingin di
rubah harus membuat anggaran baru dan di ajukan ke kementrian keuangan. uang
UKT kebanyakan digunakan untuk membayar gaji tenaga pendidikan dan karyawan
non-PNS, ada 50% tenaga pendidikan dan karyawan yang belum PNS, beberapa
dosen yang non-PNS mengajar lebih dari standar SKS (12 SKS) di bayar
menggunakan UKT mahasiswa. Selain itu, tahun ini rektor mengejar pembangunan
Gedung parkiran karena tidak ada lagi tempat yang bisa dijadikan untuk parkir
mengingat lahan yang semakin sempit dan jumlah mahasiswa yang terhitung banyak.
2. Subsidi mempertimbangkan dari income untidar per tahun yang sedikit yaitu totalnya
26 miliar, Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan dasar dan pengembangan belum
bisa maksimal, ketimbang universitas besar lainnya mereka memperkecil
pengembangan dan untuk belanja pegawai. Mengingat UNTIDAR sendiri masih
tergolong sistem satuan kerja/Satker yang artinya tidak ada otonom mengatur
keuangan atau bisa di bilang untuk menggunakan uang anggaran income universitas
harus menggunakan SK Menteri keuangan.
3. UKT yang telah di bayarkan langsung masuk ke kas negara,lalu universitas
mengajukan rancangan rencana belanja kementrian keuangan. ketika rancangan
anggaran disetujui barulah di pakai setelah ada SK Menteri keuangan, apabila
pendapatan dari universitas menurun secara otomatis income dari universitas menurun
pula. Pemerintah telah memberikan teguran untuk universitas tidar apabila ingin
beroperasi, jumlah UKT golongan 1, 2, dan bidik misi minimum hanya sebesar 20%
dari jumlah orang pembayar UKT per angkatannya, Untuk menutupi kekurangan
income dari universitas, rektorat mematok untuk yang masuk menggunakan ujian
mandiri di setarakan golongan 4 semua, keadaan universitas sekarang jumlah UKT
golongan 1, 2, dan bidik misi sejumlah 35%
4. Sedangkan SOP kuliah daring menggunakan elita di adopsi dari FT dan FKIP
kemudian di sebarkan ke fakultas lainnya oleh rektorat, melihat keadaan dari masing-
masing fakultas berbeda.