Anda di halaman 1dari 18

TUGAS

Perencanaan Pengendalian Proyek dan


Manajemen Risiko

“Gambaran Umum Risiko-risiko Pada proyek Konstruksi”

Oleh
Denny Alexander Immanuel Paat
19202109006

PASCA SARJANA TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya makan kami dapat menyelesaikan
makalah dengan tepat waktu.
Berikut ini saya mempersembahkan sebuah makalah dengan judul “Gambara
umum risiko-risiko pada proyek konstruksi”, yang menurut saya dapat memberi
manfaat untuk menambah pengetahuan kita dalam menidentifikasi setiap risiko
yang akan timbul dalam suatu proyek konstruksi.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan
Yang Maha Esa senantiasa memberkati segala usaha kita. Amin.

Penyusun

Denny Paat

ii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul
Kata Pengantar.................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii

BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................... 2
1.3 Tujuan....................................................................................... 2
1.4 Manfaat..................................................................................... 2

BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Risiko ..................................................................... 3
2.2 Jenis risiko ................................................................................ 4
2.3 Proyek konstruk ........................................................................ 6
2.4 Risiko-Risiko Proyek Konstruk ............................................... 7
2.5 Manajemen Risiko Proyek ........................................................ 10

BAB III : PENUTUP


3.1 Kesimpulan................................................................................ 1
4

Daftar Pustaka................................................................................................... 15

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proyek konstruksi merupakan suatu bidang yang dinamis dan mengandung risiko.
Risiko dapat memberikan pengaruh terhadap produktivitas, kinerja, kualitas dan dan batasan
biaya dari proyek. Risiko dapat dikatakan merupakan akibat yang mungkin terjadi secara tak
terduga. Walaupun suatu kegiatan telah direncanakan sebaik mungkin, namun tetap
mengandung ketidakpastian bahwa nanti akan berjalan sepenuhnya sesuai rencana. Risiko
pada proyek konstruksi bagaimanapun tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dikurangi atau
ditransfer dari satu pihak kepihak lainnya (Kangari,1995). Bila risiko terjadi akan berdampak
pada pada terganggunya kinerja proyek secara keseluruhan sehingga dapat menimbulkan
kerugian terhadap biaya, waktu dan kualitas pekerjaan. Para pelaku dalam industri konstruksi
sekarang ini makin menyadari akan pentingnya memperhatikan permasalahan risiko pada
proyekproyek yang ditangani, karena kesalahan dalam memperkirakan dan menangani risiko
akan menimbulkan dampak negatif, baik langsung maupun tidak langsung pada proyek
konstruksi. Risiko dapat menyebabkan pertambahan biaya dan keterlambatan jadwal
penyelesaian proyek. Oleh karena besarnya dampak yang ditimbulkan

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah mengenai
“gambaran umum risiko-risiko pada proyek konstruksi”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan masalah dalam penulisan kali ini adalah
“ Jelaskan risiko secara umum yang terjadi pada proyek konstruksi ?”

1.3 Tujuan
Tujuan untuk :
Mengetahui secara jelas jenis-jenis risiko, sumber-sumber utama timbulnya risiko
pada proyek konstruksi.

1.4 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah dengan Manajemen Risiko diharapkan dapat
menjaga agar proyek dapat berjalan dengan semestinya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Risiko

Risiko merupakan variasi dalam hal-hal yang mungkin terjadi secara alami didalam
suatu situasi (Fisk, 1997). Risiko adalah ancaman terhadap kehidupan, properti atau
keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi (Duffield & Trigunarsyah, 1999). Secara
umum risiko dikaitkan dengan kemungkinan (probabilitas) terjadinya peristiwa diluar yang
diharapkan (Soeharto, 1995). Jadi risiko adalah variasi dalam hal-hal yang mungkin terjadi
secara alami atau kemungkinan terjadinya peristiwa diluar yang diharapkan yang merupakan
ancaman terhadap properti dan keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi. Secara
umum risiko dapat diklasifikasikan menurut berbagai sudut pandang yang tergantung dari
dari kebutuhan dalam penanganannya (Rahayu, 2001) :

1. Risiko murni dan risiko spekulatif (Pure risk and speculative risk) Dimana risiko
murni dianggap sebagai suatu ketidakpastian yang dikaitkan dengan adanya suatu
luaran (outcome) yaitu kerugian. Contoh risiko murni kecelakaan kerja di proyek.
Karena itu risiko murni dikenal dengan nama risiko statis. Risiko spekulatif
mengandung dua keluaran yaitu kerugian (loss) dan keuntungan (gain). Risiko
spekulatif dikenal sebagai risiko dinamis. Contoh risiko spekulatif pada perusahaan
asuransi jika risiko yang dijamin terjadi maka pihak asuransi akan mengalami
kerugian karena harus menanggung uang pertanggungan sebesar nilai kerugian yang
terjadi tetapi bila risiko yang dijamin tidak terjadi maka perusahaan akan meperoleh
keuntungan.
2. Risiko terhadap benda dan manusia, dimana risiko terhadap benda adalah risiko yang
menimpa benda seperti rumah terbakar sedangkan risiko terhadap manusia adalah
risiko yang menimpa manusia seperti risiko hari tua, kematian dsb.
3. Risiko fundamental dan risiko khusus (fundamental risk and particular risk) Risiko
fundamental adalah risiko yang kemungkinannya dapat timbul pada hampir sebagian
besar anggota masyarakat dan tidak dapat disalahkan pada seseorang atau beberapa
orang sebagai penyebabnya, contoh risiko fundamental: bencana alam, peperangan.
Risiko khusus adalah risiko yang bersumber dari peristiwaperistiwa yang mandiri
dimana sifat dari risiko ini adalah tidak selalu bersifat bencana, bisa dikendalikan atau
umumnya dapat diasuransikan. Contoh risiko khusus: jatuhnya kapal terbang,
kandasnya kapal dsb.

2
Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi oleh karena kurang atau
tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.  Sesuatu yang tidak
pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan.  Istilah resiko
memiliki beberapa definisi.  Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian, atau
keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisas

Dengan mengamati langsung jalannya operasi, bekerjanya mesin, peralatan,


lingkungan kerja, kebiasaan pegawai dan seterusnya, manajer resiko dapat
mempelajari kemungkinan tentang hazard. Oleh karena itu, keberhasilannya dalam
mengidentifikasi resiko tergantung pada kerja sama yang erat dengan bagian-bagian
lain yang terkait dalam perusahaan. Manajer resiko dapat menggunakan tenaga pihak
luar untuk proses mengidentifikasikan resiko, yaitu agen asuransi, broker, atau
konsultan manajemen resiko. Hal ini tentunya memiliki kelemahan, di mana mereka
membatasi proses hanya pada resiko yang diasuransikan saja.  Dalam hal ini
diperlukan strategi manajemen untuk menentukan metode atau kombinasi metode
yang cocok dengan situasi yang dihadapi

a.        Faktor Penyebab Resiko

Dua faktor penyebab resiko adalah bencana (perils) dan bahaya (hazards).
Banjir, tanah longsor, gempa, gelombang laut tinggi merupakan contoh-contoh
bencana yang secara langsung dapat menimbulkan kerugian. Sementara bahaya
terbagi atas beberapa jenis :

1. Bahaya fisik (physical hazard) misalnya berhubungan dengan fasilitas


bangunan suatu perusahaan,
2. Bahaya moral (moral hazard) misalnya sikap ketidakjujuran atau
ketidakdisiplinan.
3. Bahaya morale (morale hazard) misalnya sikap yang tidak hati-hati ataupun
kurangnya perhatian dari pihak-pihak terkait dalam suatu perusahaan.
4. Bahaya karena hukum atau peraturan (legal hazard) misalnya akibat
mengabaikan undang-undang atau peraturan yang telah ditetapkan.

Selain resiko yang di atas ada juga bahaya resiko lain yakni bahaya resiko
moral.       Contohnya pada kasus akibat moral dari para pegawai suatu
badan/perusahaan misalnya yang terjadi pada kasus Citibank Indonesia yang terlibat

3
pada permasalahan penggelapan dana nasabah. Akibatnya bank tersebut tidak hanya
menderita kerugian finansial, tapi juga resiko reputasi, bahkan kepatuhan. Resiko
reputasi dan kepatuhan lebih membahayakan keberlangsungan perusahaan daripada
resiko finansial. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap bank akan membuat bank
tersebut kehilangan dana karena masyarakat akan menarik kembali seluruh dana yang
telah tertanam di bank tersebut karena takut akan mengalami kerugian besar. Dana-
dana yang ditarik tersebut sebenarnya digunakan untuk menjalankan kegiatan
perbankan, namun kerena ada penarikan sejumlah dana dan ketidakinginan
masyarakat untuk menabung lagi maka bank tersebut dapat terancam likuiditasnya.
Pada fase ini pemerintah dapat melakukan intervensi dengan menutup bank.

b.   Sumber Penyebab Resiko   

Sumber resiko dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis :

1. Resiko Sosial, resiko ini berasal dari masyarakat. Artinya tindakan orang-orang
menciptakan penyimpangan yang dapat merugikan. Misalnya : pencurian, huru-
hara, peperangan.
2. Resiko Fisik, berasal dari fenomena alam dan sebagian tingkah laku manusia.
Kebakaran adalah penyebab utama cidera fisik, kematian maupun kerusakan
harta.
3. Resiko ekonomi, misalnya inflasi, resesi, fluktuasi dan harga.

c. Mengevaluasi Resiko
Setelah resiko diukur tingkat kemungkinan dan dampaknya, maka disusunlah
urutan prioritas resiko.  Mulai dari resiko dengan tingkat resiko tertinggi, sampai
dengan resiko terendah.  Resiko yang tidak termasuk dalam resiko yang dapat
diterima/ditoleransi merupakan resiko yang menjadi prioritas untuk segera ditangani. 
Setelah diketahui besarnya tingkat resiko dan prioritas resiko, maka perlu disusun peta
resiko.

d. Menangani Resiko
Resiko yang tidak dapat diterima/ditoleransi segera dibuatkan rencana
tindakan untuk meminimalisir kemungkinan dampak terjadinya resiko dan personel
yang bertanggung jawab untuk melaksanakan rencana tindakan.  Cara menangani
resiko berupa memindahkan resiko melalui asuransi dan kontrak kerja kepada pihak

4
ketiga, mengurangi tingkat kemungkinan terjadinya resiko dengan cara
menambah/meningkatkan kecukupan pengendalian internal yang ada pada proses
bisnis perusahaan, dan mengeksploitasi resiko bila tingkat resiko dinilai lebih rendah
dibandingkan dengan peluang terjadinya peristiwa yang akan terjadi. Pemilihan cara
menangani resiko dilakukan dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat, yaitu
biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan rencana tindakan lebih rendah daripada
manfaat yang diperoleh dari pengurangan dampak kerugian resiko.
Seluruh resiko yang diidentifikasi, dianalisis, dievaluasi, dan ditangani dimasukkan ke
dalam register resiko yang memuat informasi mengenai nama resiko, uraian mengenai
indikator resiko, faktor pencetus terjadinya peristiwa yang merugikan, dampak
kerugian bila resiko terjadi, pengendalian resiko yang ada, ukuran tingkat
kemungkinan/dampak terjadinya resiko setelah mempertimbangkan pengendalian
yang ada, dan rencana tindakan untuk meminimalisir tingkat kemungkinan/dampak
terjadinya resiko, serta personil yang bertanggung jawab melakukannya.

e. Memantau Resiko
Perubahan kondisi internal dan eksternal perusahaan menimbulkan resiko baru
bagi perusahaan, mengubah tingkat kemungkinan/dampak terjadinya resiko, dan cara
penanganan resikonya.  Sehingga setiap resiko yang teridentifikasi masuk dalam
register resiko dan peta resiko perlu dipantau perubahannya.

f. Mengkomunikasikan Resiko
Setiap tahapan kegiatan identifikasi, analisis, evaluasi, dan penanganan resiko
dikomunikasikan/dilaporkan kepada pihak yang berkepentingan terhadap aktivitas
bisnis yang dilakukan perusahaan untuk memastikan bahwa tujuan manajemen resiko
dapat tercapai sesuai dengan keinginan pihak yang berkepentingan.  Pihak yang
berkepentingan berasal dari internal perusahaan (manajemen, karyawan) dan eksternal
perusahaan (pemasok, pemerintah daerah/pusat, masyarakat sekitar lingkungan
perusahaan, dan konsumen air bersih).

2.2 Jenis risiko

Risiko-risiko yang terdapat pada proyek konstruksi sangat banyak, namun tidak
semua risiko-risiko tersebut perlu diprediksi dan diperhatikan untuk memulai suatu proyek

5
karena hal itu akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pihak-pihak didalam proyek
kontruksi perlu untuk memberi prioritas pada risiko-risiko yang penting yang akan
memberikan pengaruh terhadap keuntungan proyek. Risiko-risiko tersebut adalah (Wideman,
1992) :

1. External, tidak dapat diprediksi (tidak dapat dikontrol):


a) Perubahan peraturan perundangundangan,
b) Bencana alam : badai, banjir, gempa bumi,
c) Akibat kejadian pengrusakan dan sabotase,
d) Pengaruh lingkungan dan sosial, sebagai akibat dari proyek,
e) Kegagalan penyelesaian proyek
2. External, dapat diprediksi (tetapi tidak dapat dikontrol):
a. Resiko pasar,
b. Operasional (setelah proyek selesai),
c. Pengaruh lingkungan,
d. Pengaruh sosial,
e. Perubahan mata uang,
f. Inflasi,
g. Pajak
3. Internal, non-teknik (tetapi umumnya dapat dikontrol):

a) Manajemen,

b) Jadwal yang terlambat,

c) Pertambahan biaya,

d) Cash flow,

e) Potensi kehilangan atas manfaat dan keuntungan

4. Teknik (dapat dikontrol):

a) Perubahan teknologi,

b) Risiko-risiko spesifikasi atas teknologi proyek,

c) Desain

6
5. Hukum, timbulnya kesulitan akibat dari :
a) Lisensi,
b) Hak paten,
c) Gugatan dari luar,
d) Gugatan dari dalam,
e) Hal-hal tak terduga

Menurut Flanagan & Norman (1993), risiko-risiko dalam proyek konstruksi adalah :

a. Penyelesaian yang gagal sesuai desain yang telah ditentukan/penetapan waktu


konstruksi
b. Kegagalan untuk memperoleh gambar perencanaan, detail perencanaan/izin
dengan waktu yang tersedia.
c. Kondisi tanah yang tak terduga
d. Cuaca yang sangat buruk.
e. Pemogokan tenaga kerja.
f. Kenaikan harga yang tidak terduga untuk tenaga kerja dan bahan.
g. Kecelakaan yang terjadi dilokasi yang menyebabkan luka.
h. Kerusakan yang terjadi pada struktur akibat cara kerja yang jelek.
i. Kejadian tidak terduga (banjir, gempa bumi, dan lain–lain)
j. Klaim dari kontraktor akibat kehilangan dan biaya akibat keterlambatan produksi
karena detail desain oleh tim desain.
k. Kegagalan dalam penyelesaian proyek dengan budget yang telah ditetapkan

Sumber–sumber risiko (Flanagan & Norman, 1993) :

1) Timbulnya inflasi,

2) Kondisi tanah yang tidak terduga,

3) Keterlambatan material,

4) Detail desain yang salah, seperti ukuran yang salah dari gambar yang dibuat oleh
arsitek,

5) Kontraktor utama tidak mampu membayar/bangkrut,

6) Tidak ada koordinasi

7
2.3 Proyek konstruksi

Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan
dan umumnya berjangka pendek serta jelas waktu awal dan akhir kegiatannya. Dalam
rangkaian kegiatan tersebut, ada suatu proses yang mengolah sumber daya proyek menjadi
suatu hasil kegiatan berupa bangunan. Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut
tentunya melibatkan pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung
Menurut Ervianto( 2002), proyek konstruksi mempunyai tiga karakteristik yang dapat
dipandang secara tiga demensi yaitu :

1) Bersifat unik : tidak pernah terjadi rangkaian kegiatan yang sama persis (tidak ada proyek
yang identik, yang ada adalah proyek sejenis), proyek bersifat sementara dan selalu
melibatkan grup pekerja yang berbeda-beda

2) Dibutuhkan sumber daya : setiap proyek konstruksi membutuhkan sumber daya yaitu
tenaga kerja, uang, peralatan, metode dan material.

3) Organisasi : setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di dalamnya terlibat sejumlah


individu dengan keahlian yang bervariasi. Langkah awal yang harus dilakukan adalah
menyatukan fisi menjadi satu tujuan yang ditetapkan organisasi Dalam proses mencapai
tujuan proyek telah ditentukan tiga batasan/kendala (triple constraint) yaitu besar biaya
(anggaran) yang dialokasikan, mutu dan jadwal yang harus dipenuhi.

2.4 Risiko-Risiko Proyek Konstruksi

Untuk mengidentifikasi risiko, pertanyaan yang perlu dijawab adalah siapa yang
terlibat dalam penilaian risiko dan mengapa? Jenis risiko apa yang mempengaruhi suatu
proyek? gambaran utama timbulnya risiko yang umum untuk setiap proyek konstruksi,
menurut Duffield dan Trigunarsyah (1999) adalah :

1. Fisik : kerugian atau kerusakan akibat kebakaran, gempa bumi, banjir, kecelakaan dan
tanah longsor
2. Lingkungan : kerusakan ekologi, polusi dan pengolahan limbah, penyelidikan keadaan
masyarakat
3. Perancangan :
a) Teknologi baru, aplikasi baru, ketahanan uji dan keselamatan,

8
b) Rincian, ketelitian dan kesesuain spesifikasi,
c) Risiko perancangan yang timbul dari pengukuran dan penyelidikan,
d) kemungkinan perubahan terhadap rancangan yang telah disetujui,
e) Interaksi rancangan dengan metode konstruksi

4. Logistik :

a) Kehilangan atau kerusakan material dan peralatan dalam perjalanan,

b) ketersediaaan sumber daya khusus,

c) pemisahan organisasi

5 Keuangan :

a) ketersediaaan dana dan kecukupan asuransi,


b) penyediaan aliran kas yang cukup,
c) kehilangan akibat kontraktor, supplier
d) fluktuasi nilai tukar dan inflasi,
e) perpajakan,
f) suku bunga,
g) biaya pinjaman
6. Perundang-undangan : perubahan disebabkan perundang-undangan atau pemerintah
7. Keamanan properti intelektual
8. Hak atas tanah dan penggunaan
9. Politik :
a) Risiko politik dinegara pemilik proyek, supplier dan kontraktor, peperangan,
revolusi dan perubahan hukum,
b) ketidakpastian dari kebijakan pemerintah
10. Konstruksi :
a) kelayakan metode konstruksi, keselamatan,
b) hubungan industrial,
c) tingkat perubahan dari rancangan awal,
d) cuaca,
e) kualitas dan ketersediaan manajemen dan supervisi,
f) kondisi yang tersembunyi
11. Operasional :

9
a) fluktuasi permintaan pasar terhadap produk dan jasa yang dihasilkan,
b) kebutuhan perawatan,
c) keandalan,
d) keselamatan pelaksanaan,
e) ketersediaan pabrik,
f) manajemen

2.5 Manajemen Risiko Proyek

         Secara umum, tujuan manajemen risiko yang utama adalah mencegah atau
meminimisasi pengaruh yang tidak baik akibat kejadian yang tidak terduga melalui
penghindaran risiko atau persiapan rencana kontingensi yang berkaitan dengan risiko
tersebut.  Dalam manajemen proyek risiko proyek adalah suatu peristiwa atau kondisi yang
tidak pasti, dan jika terjadi mempunyai pengaruh positif atau bisa juga negatif pada tujuan
proyek. Suatu risiko mempunyai sebab dan bila terjadi akan membawa dampak, oleh karena
itu risiko dapat dinyatakan sebagai fungsi dari kemungkinan dan dampak.

         Lebih jauh, dalam konteks manajemen proyek, manajemen risiko proyek dipahami
sebagai seni dan ilmu untuk mengidentifikasi, menganalisis dan merespon risiko selama umur
proyek dan tetap menjamin tercapainya tujuan proyek..  Manajemen risiko proyek yang baik
akan mampu memperbaiki tingkat keberhasilan proyek secara signifikan. Bagaimanapun,
manajemen risiko proyek akan memberikan suatu pengaruh positif dalam hal memilih
proyek, menentukan lingkup proyek, membuat jadwal yang realistis dan estimasi biaya yang
baik.

        Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen risiko proyek yakni:

1. Identifikasi, analisis dan penilaian risiko di awal proyek secara sistematis serta
mengembangkan rencana untuk mengantisipasi risiko.
2. Mengalokasikan tanggungjawab kepada pihak yang paling sesuai untuk mengelola
risiko
3. Memastikan bahwa biaya penanganan risiko adalah cukup kecil dibanding nilai
proyek. Artinya bahwa biaya yang diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari

10
suatu risiko realatif lebih rendah atau sama dengan besaran manfaat dari terhindarnya/
berkurangnya risiko tersebut.

2.5.1 Proses Manajemen Risiko

Proses manajemen risiko memberikan gambaran kepada kita bahwa untuk mengelola
risiko ada beberapa tahapan yakni:

1. Perencanaan Manajemen Risiko. Perencanaan meliputi langkah memutuskan


bagaimana mendekati dan merencanakan kegiatan manajemen risiko untuk sebuah
proyek. Dengan mempertimbangkan lingkup proyek, rencana manajemen proyek,
faktor lingkungan perusahaan, maka tim proyek dapat mendiskusikan dan
menganalisis aktivitas manajemen risiko untuk proyek-proyek tertentu.

        Untuk membuat perencanan manajemen risiko, ada bebrapa hal yang diperlukan
yakni :
1) Project Charter, yakni dokumen yang dikeluarkan oleh manajemen senior
yang secara formal menyatakan adanya suatu proyek. Dokumen ini
memberi otorisasi kepada manajer proyek untuk menggunakan sumberdaya
organisasi untuk melaksanakan aktivitas proyek.
2) Kebijakan manajemen risiko,
3) Susunan peran dan tanggung jawab
4) Toleransi stakeholder terhadap risiko
5) Tamplate untuk rencana manajemen risiko organisasi
6) Work Breakdown Structure (WBS)
Output dari perencanaan manajemen risiko adalah Risk Management Plan yang berisi:

1. Metodologi yang menguraikan definisi alat, pendekatan, sumber data yang


mungkin digunakan dalam manajemen risiko proyek tertentu
2. Peran dan Tanggung Jawab yang menguraikan tanggung jawab dan peran
utama serta pendukung berikut keanggotaan tim manajemen risiko untuk
setiap tindakan
3. Budget yang berisi rencana anggaran untuk manajemen risiko proyek

11
4. Waktu yang berisi rencana waktu pelaksanaan proses manajemen risiko di
sepanjang siklus proyek
5. Scoring dan Intepretasi yang menguraikan metode skoring dan intepretasi
yang sesuai tipe dan waktu analisis risiko kualitatif maupun kuantitatif.

2. Identifikasi Risiko, Sebagai suatu rangkaian proses, identifikasi risiko dimulai


dengan memahami apa sebenarnya yang disebut sebagai risiko. Berikutnya adalah
pendefinisian risiko yang mungkin mempengaruhi tingkat keberhasilan proyek dan
mendokumentasikan karakteristik dari tiap-tiap risiko dengan melakukan Hasil utama
dari langkah ini adalah risk register.

        Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan analisis sumber risiko dan analisis
masalah Analisis sumber risiko yaitu analisis risiko dengan melihat darimana risiko
berasal. Ada tiga sumber risiko yang sudah banyak dikenal yakni Risiko internal
yakni risiko yang bersumber dari internal organisasi yang dapat dikategorikan dalam
non technical risk (manusia, material, keuangan) dan technical risk (disain, konstruksi
dan operasi). Analisis masalah adalah analisis risiko  yang terkait dengan
kekawatiran/ rasa khawatir.

        Untuk dapat mengidentifikasi risiko setidaknya ada empat metode yang
digunakan, yakni 1) Identifikasi risiko berdasarkan tujuan  Yaitu risiko diidentifikasi
berdasarkan sejauh mana suatu peristiwa dapat membahayakan pencapaian tujuan
secara perbagian atau secara keseluruhan pekerjaan proyek. 2) Identifikasi Risiko
berdasarkan Skenario. Yakni risiko diidentifikasi berdasarkan skenario yang dibuat
berdasarkan perkiraan terjadinya sebuah peristiwa. 3) Identifikasi risiko berdasarkan
Taksonomi. Yakni risiko dibreakdown berdasarkan sumber risiko dengan
menggunakan pengetahuan praktik yang ada melalui daftar pertanyaan yang telah
disusun yang jawabannya akan menunjukkan risiko yang ada. 4) Common risk check.
Yakni risiko yang sudah biasa terjadi didaftar dan dilakukan pemilihan mana risiko
yang sesuai dengan proyek yang sedang dikerjakan.

3. Analisis Risiko Kualitatif Analisis kualitatif salam manajemen risiko adalah proses
menilai dampak dan kemungkinan risko yang sudah diidentifikasi. Proses ini

12
dilakukan dengan menyusun risiko berdasarkan dampaknya terhadap tujuan proyek.
Analisis ini merupakan cara prioritisasi risiko sehingga membentuk gambaran risiko
yang harus mendapat perhatian khusus dan cara merespon risiko tersebut seandainya
terjadi.

4. Analisis Risiko Kuantitatif, Analisis risiko secara kuantitatif merupakan metode


untuk mengidentifikasi risiko kemungkinan kegagalan sistem dan memprediksi
besarnya kerugian. Analisis ini dilakukan dengan mengaplikasikan formula matematis
yang dikaitkan dengan nilai finansial. Secara matematis penghitungan risiko
dilajkukan dengan mengalikan tingkat kemungkinan kejadian dengan dampak yang
ditimbulkan. Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengambil langkah strategis
dalam mengatasi risiko yang teridentifikasi.. Meskipun analisis kuantitatif ini
menggunakan pendekatan matematis, namun pada prinsipnya analsisi ini merupakan
tindak lanjut yang mengikuti hasil analisis kualitatif. Kesulitan utama dalam analisis
risiko kuantitatif adalah pada saat menentukan tingkat kemungkinan karena data-data
statistik belum tentu tersedia untuk semua peristiwa.

5. Penanganan Risiko, Penangan risiko diartikan sebagai proses yang dilakukan untuk
meminimalisasi tingkat risiko yang dihadapi sampai pada batas yang dapat diterima.
Sacra kuantitatif, upaya meminimalisasi risiko dilakukan dengan menerapkan
langkah-langkah yang diarahkan pada turunnya angka hasil ukur yang diperoleh dari
analisis risiko. Meskipun dalam penanganan risiko dapat dilakukan dengan satu atau
lebih cara yang diaplikasikan secara bersamaan atau simultan misalnya mengurangi
risiko sekaligus mengalihkan risiko, namun secara umum, teknik yang digunakan
untuk menangani risiko dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu 1)
Menghindari risiko yakni dengan tidak melakukan aktivitas yang beresiko dan
memilih melakukan kegiatan yang tidak memiliki risiko. 2) Mitigasi/ Reduksi/
Mengurangi risiko yakni dengan melakukan tindakan untuk mengurangi peluang
terjadinya peristiwa yang tidak diharap. Misalnya dengan memilih orang-orang yang
kompeten untuk dipekerjakan di proyek. 3) Menerima risiko yakni tetap melakukan
pekerjaan yang mengandung risiko dengan tidak melakukan perubahan apapun namun
menyiapkan rencana kontingensi jika risiko terjadi. 4) Tranfer Risiko yakni dengan
mengalihkan risiko ke pihak lain misalnya dengan membeli asuransi.

13
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
1. Penilaian risiko yang dilakukan meliputi : Identifikasi risiko, memahami
kebutuhan atau mempertimbangkan risiko, menganalisis dampak dari risiko
tersebut/evaluasi risiko, menetapkan siapa yang bertanggung jawab terhadap
risiko tertentu (alokasi risiko). Melakukan tindakan penanganan yang dilakukan
terhadap risiko yang mungkin terjadi (respon risiko) dengan cara : menahan risiko
(risk retention), mengurangi risiko (risk reduction), mengalihkan risiko (risk
transfer), menghindari risiko (risk avoidance).

14
DAFTAR PUSTAKA

Ervianto, Wulfram I. 2005. Manajemen Proyek Konstruksi. Andi Yokyakarta : Yokyakarta.

http://share.its.ac.id/pluginfile.php/42724/mod_resource/content/1/M.%20Resiko
%201.pdf

https://www.scribd.com/search?content_type=tops&page=1&query=jenis- jenis
%20risiko%20proyek%20konstruksi

15