Anda di halaman 1dari 9

TUGAS FARMASI KLINIS MINGGU KE-08

Pengelolaan dan Penggunaan Obat


Secara Rasional (PPOSR)

Dosen pengampu :
Umi Fatmawati S.Farm.,M.Farm-Klin.Apt.

Disusun oleh :
Melani Putri Melati - 1704101001

FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN SAINS


PROGRAM STUDI : S-1 FARMASI
UNIVERSITAS PGRI MADIUN
2020
1. Sebutkan 5 keuntungan dan 5 kerugian dari Total Floor Stock, UDD, WFS, ODD, dan
Individual prescribtion
a) Individual Prescreption : merupakan sistem distribusi atau kegiatan penghantaran obat
yang dilakukan oleh IFRS sesuai dengan yang ditulis melalui resep oleh dokter atas nama
pasien rawat inap. Dalam metode ini semua obat yang diperlukan untuk pengobatan pasien
dilakukan dispensing dari IFRS, resep asli yang sudah ditulis oleh dokter dikirim ke IFRS
oleh perawat dan kemudian dilakukan dispensing hingga siap untuk didistribusikan kepada
pasien. Metode ini umumnya digunakan oleh rumah sakit-rumah sakit kecil atau rumah
sakit swasta dikarenakan metode ini memfasilitasi pengaturan pembayaran obat pasien dan
menyediakan pelayanan pada pasien berdasarkan resep (Siregar, 2004)
Kelebihan Kekurangan
Apoteker dapat mengkaji resep untuk Pasien membayar lebih karena obat yang
pasien dan memebrikan informasi obat. sisa tidak dapat dikembalikan.
Memungkinkan interaksi antara dokter, Jumlah SDM di IFRS meningkat.
apoteker, dan perawat.
Mengurangi kekeliruan pemberian obat. Membutuhkan jumlah dan waktu perawat
untuk penyiapan obat per waktu pemberian
di bangsal.
Menghemat waktu dispensing karena Medication error masih mungkin terjadi
biasanya obat diresepkan untuk 2-5 hari. karena beban yang tinggi.
Kontrol persediaan lebih efektif dan
efisien.
(Pudjaningsih dan Santoso, 2006)
Tabel II. Kelebihan dan kekurangan sistem distribusi individual prescreption

b) Ward Floor Stock: merupakan sebuah metode penghantaran sediaan obat sesuai dengan
yang diresepkan oleh dokter yang kemudian dipersiapkan di ruangan oleh perawat dengan
mengambil dosis/unit obat dari persediaan yang ada di ruangan langsung diberkikan
kepada pasien diruangan itu. Pada metode ini kebutuhan akan sediaan farmasi dalam
jumlah besar baik untuk kebutuhan dasar ruangan mapupun kebutuhan individu pasien
yang diperoleh dari instalasi farmasi di simpan di ruang perawatan pasien. Kebutuhan obat
individu langsung dapat dilayani oleh perawat tanpa harus mengambil ke instalasi farmasi.
Sistem ini sekarang sudah jarang digunakan lagi dikarenakan tanggung jawab yang besar
dibebankan pada perawat yaitu menginterprestasikan resep dan menyiapkan sediaan obat
yang sebetulnya adalah tanggung jawab apoteker (siregar, 2004)
Kelebihan Kekurangan
Obat yang diperlukan siap sedia (baik Medication error meningkat.
untuk kondisi emergency).
Mengurangi pengembalian obat. Inventory meningkat dibangsal.
Mengurangi jumlah order resep masuk ke Kesempatan lebih besar untuk pencurian.
farmasi.
Mengurangi jumlah SDM di IFRS. Peningkatan bahaya kerusakan obat.
Biaya material dan supply rendah. Perlu pengeluaran modal untuk
menyediakan fasilitas penyimpanan yang
tepat dibangsal.
Waktu dan beban kerja perawat semakin
bertambah.
(Pudjaningsih dan Santoso, 2006)
Tabel III. Kelebihan dan kekurangan sistem distribusi Ward Floor Stock

c) Unit Dose Dispensing: obat didespensing dalam paket satuan dosis (masing-masing obat
dibungkus terpisah untuk pemberian tidak lebih dari 24 jam. MenurutPermenkes No 58
Tahun 2014, proses distribusi menggunakan system unit dose dispensing adalah
pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai berdasarkan
resep perorangan yang disiapkan dalam unit dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan
satu kali dosis/pasien. Sistem dosis ini digunakan untuk pasien rawat inap. Sistem ini baik
karena memperbolehkan pasien menerima layanan kesehatan 24 jam sehari dan biaya yang
dikeluarkan dihitung hanya untuk dosis yang diadministrasikan pada mereka. Semua dosis
pengobatan yang dibutuhkan pada ruang perawat disiapkan oleh IFRS, sehingga perawat
dapat lebih fokus pada pelayanan terhadap pasien. Bagi Apoteker, sistem ini memberikan
kesempatan untuk menskriningkan resep dokter untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya medication error, menurunkan terjadinya duplikasi pada peresepan, dan
menjamin semua obat rekonstitusi dan preparasi produk i.v dilakukan sesuai prosedur oleh
Apoteker yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Sistem ini menitikberatkan pada
patient oriented (SiregardanAmalia, 2004).Sistem UDD sendiridapat dibagi lagi menjadi
sistem tersentralisasi dan terdesentralisasi. Sistem sentralisasi merupakan sistem distribusi
yang dipusatkan pada satu tempat yaitu IFRS pusat. Pada sistem ini, semua resep, kartu
obat, atau memo yang ditulis dokter untuk pasien disiapkan dan didistribusikan dari IFRS
pusat sesuai dengan apa yang diminta. Sistem desentralisasi adalah sistem pendistribusian
perbekalan farmasi yang mempunyai cabang didekat unit perawatan/pelayanan, sehingga
resep, kartu obat atau memo tidak langsung dikirim ke IFRS pusat, namun dikirim ke
IFRS cabang yang terletak di dekat unit perawatan/pelayanan. Pada sistem desentralisasi
personel IFRS bekerja selain distribusi juga memberikan pelayanan klinik. Sistem
desentralisasi sesuai digunakan untuk tipe rumah sakit besar seperti tipe A dan B. Metode
desentralisasi pada rumah sakit besar merupakan metode yang efektif dalam mendekatkan
hubungan pasien, apoteker, dan tenaga kesehatan lain seperti dokter dan perawat. Sistem
desentralisasi menurunkan angka terjadinya medication error oleh karena over capacity
dari farmasi pusat dan mempercepat waktu layanan (Siregar dan Amalia, 2004).
Kelebihan Kekurangan
Penurunan total biaya obat dengan Memerlukan jumlah personil IFRS yang
mengurangi obat yang terbuang dan lebih banyak.
memudahkan aadanya resiko kebocoran/
pencurian.
Menghindari resiko medication error, Memerlukan investasi / biaya yang besar.
karena ada sistem pemeriksaan ganda
dengan adanya interpretasi resep oleh
apoteker, dan perawat memeriksa obat
selama dikonsumsikan.
Penagihan pasien yang lebih akurat untuk Memerlukan teknologi yang tinggi (mesin
obat (hanya membayar obat yang repackage, lemari obat dengan laci
dikonsumsi saja) individu pasien).
Semua dosis sudah disiapkan IFRS,
sehingga perawat lebih punya banyak
waktu merawat pasien.
Apoteker dapat datang ke ruang penderita
untuk konsultasi obat.
Penurunan ukuran persediaan obat diruang
perawatan.
Meningkatkan pengendalian dan
pemantauan penggunaan obat menyeluruh.
(Pudjaningsih dan Santoso, 2006)
Tabel IV. Kelebihan dan kekurangan sistem distribusi Unit Dose Dispensing

d) Total Floor Stock


a. Kelebihan system floor stock
1) Obat yang diperlukan segera tersedia bagi penderita (selalu ada persediaan obat-
obatan yang siap pakai untuk pasien, terutama untuk obat-obat yang sifatnya live
saving.
2) Dapat meniadakan/menghindari kemungkinan adanya pengembalian obat-obatan
(retur) yang tidak terpakai ke IFRS.
3) Mengurangi jumlah transkrip penyalinan kembali order/pesanan obat bagi
farmasis.
4) Mengurangi jumlah kebutuhan personil farmasis di IFRS yang diperlukan.
5) Untuk mengatasi keadaan darurat di ruang.
6) Dipilih karena kecepatan pelayanan saat kondisi emergency terutama obat live
saving.
7) Perawatan pasien atau diruang tindakan medik/penunjang medik (patien safety).
8) Terbatas obat live saving.
9) Bukanlah total floor stock semua obat ada diruang perawatan (jumlah terbatas).
b. Kekurangan system floor stock
Kekurangan system distribusi obat persediaan lengkap di ruang(floor stock) yaitu :
1) Kesalahan pemberian obat meningkat karena order obat tidak dikaji/diperiksa
ulang oleh apoteker. Penyiapan obat dan konsumsi dilakukan oleh perawat sendiri,
sehingga tidak ada pemeriksaan ganda (meningkatkan kemungkinan terjadinya
medication error, misalnya obat yang tertukar terutama pada saat penyerahan obat
karena dilakukan oleh perawat dan bukan farmasis).
2) Meningkatkan persediaan obat di ruang/setiap pos perawatan, sementara ruang
terbatas sehingga pemantauan/pengendalian persediaan, mutu dan waktu
kadaluarsa kurang diperhatikan oleh perawat akibatnya terjadi penumpukan stok
obat di pos perawatan, penyimpanan tidak teratur, mutu obat cepat turun, dan
tanggal kadaluarsa kurang diperhatikan sehingga sering terjadi sediaan obat yang
tidak dipakai karena telah kadaluarsa.
3) Memperbesar kemungkinan kebocoran obat (pencurian obat meningkat) karena
tidak adanya pengawasan dari pihak lain (farmasis).
4) Meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan obat karena cara penyimpanan
obat yang tidak benar.
5) Meningkatkan kemungkinan diperlukannya modal/biaya tambahan untuk
menyediakan fasilitas tempat penyimpanan yang memadai atas obat-obatan yang
ada di setiap tempat perawatan pasien.
6) Mengakibatkan diperlukannya tambahan waktu dan beban kerja bagi perawat
karena harus menangani obat-obatan selain merawat pasien.
7) Meningkatnya bahaya karena kerusakan obat.
8) Meningkatkanya kerugian karena kerusakan obat.

e) One daily dose (ODD) merupakan pendistribusian perbekalan farmasi dimana pasien
mendapat obat yang sudah dipisah-pisah untuk pemakaian sekali pakai, tetapi obat
diserahkan untuk sehari pakai pada pasien (Ray, 1983) .Sistem distribusi obat untuk
rawat inap adalah ODD (One Dailing Dose), kelebihan dari sistem ini yaitu dapat
mengurangi resiko biaya obat karena dapat mengontrol sudah berapa jumlah obat yang
digunakan dan jika pasien boleh pulang dapat langsung diganti dengan IP (Individual
Praescription). Penyediaan obat dalam sistem ini dilakukan oleh instalasi farmasi pada
pasien rawat inap yang dikemas/disiapkan dalam dosis tunggal untuk pemakaian sehari
(24 Jam). Kelebihan dari sistem ini adalah pasien lebih mudah mendapatkan obat,
menghindari pemberian obat double, pasien membayar obat yang diminum saja.
Sedangkan bagi instalasi farmasi, pelayanan yang diberikan  lebih berorientasi pada
pasien, menurunkan biaya obat, mengurangi medical error serta pengelola stok obat
secara sentralisasi sehingga pengendalian obat bisa ditingkatkan. Namun demikian
sistem ini mempunyai kelemahan, yaitu: membutuhkan SDM lebih banyak, beban
kerja Instalasi Farmasi menjadi berlipat ganda, terjadi pemborosan embalage,
penulisan permintaan obat berulang-ulang, dapat terjadi keterlambatan pemberian obat
atau lupa tidak dilanjutkan.

Tabel V. Perbandingan sistem distribusi perbekalan farmasi


Faktor WFS IP UDD
Biaya obat dan Rendah Sedang-rendah Tinggi
pengadaan.
Biaya tenaga Rendah Tinggi Tinggi
farmasi..
Biaya tenaga Sedang-rendah Rendah Rendah
perawat.
Resiko kebocoran/ Tinggi Sedang Rendah
pencurian.
Resiko kesalahan Tinggi Sedang-rendah Rendah
obat.
(Pudjaningsih dan Santoso, 2006)

DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58
Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Siregar, C.J.P., danAmalia, L., 2004, FarmasiRumahSakit: TeoridanPenerapan,
PenerbitBukuKedokteran EGC, Jakarta.
Pudjaningsih, D. Dan Santoso, B. 2006, Pengembangan Indikator Efesiensi Pengelolaan Obat
di Rumah Sakit, LOGIKA, Vol. 3, No.1

2. Rangkum tentang 10 lingkar kegiatan PPOSR untuk Apoteker

10 LINGKAR KEGIATAN PPOSR UNTUK APOTEKER

1. PEMILIHAN OBAT
Kegiatan pemilihan obat yang akan digunakan dalam suatu unit pelayanan kesehatan
atas dasar kesepakatan bersama (dokter, apoteker) mempertimbangkan factor : efektif,
aman mutu, mudah didapat, murah ( terjangkau).
2. PERENCANAAN PENGADAAN
Kegiatan membuat perencanaan obat untuk pengadaan berdasarkan kebutuhan
(jumlah, dan jenis), sisa stok , ketersediaan di pasaran. Mekanisme pengadaan , buffer
stok, waktu tunggu, lama simpan.
PENGADAAN
Dilaksanakan sesuai peraturan yang ada :
 Harus ada registrasi
 Melalui PBF
 MSDS, certificate analysa
 Expired date
3. PENYIMPANAN
Kriteria penyimpanan :
 Aman ( utuh dan terhindar dari pencurian )
 Sesuai persyaratan farmasetis
 Teradministrasi
4. PENYALURAN
System penyaluran
 Total floor stok
 Word floor stok ( WFS ) dan emergency kit
 Individual prescription
 Unit Dose Dispending ( UDD )
 ODD : prosedurdanadministrasi
5. PERESEPAN ( Drescribing )
 Prinsip 8T+ 1w
 Penulisan harus 3c ( correct , clear , complete ) + 1R ( Recent )
 Permenkes RI No.068/2010 :
 Kewajiban menulis dan menggunakan oabat generic di fasilitas pelayanan
kesehatan pemerintah.
6. PERACIKAN ( Dispensing )
 Peracikan : tepat , cepatdanbenar
 Aseptik dan non aseptic
7. PEMBERIAN ( Administration )
 Pemeberian obat rawat inap oleh dokter dan perawat
 Pemberian obat rawat jalan oleh apoteker dan asisten apoteker
PERLU DIPERHATIKAN :
 Rute pemberian , kecepatan pemberian , saat pemberian dan lama pemberian
 Mengontrol kebenaran obat ( high alert , LASA , E-Tiket )
 Septiap pemberian obat oral pada pasien disertai informasi sesuai yang tertera
pada etiket
SEBELUM PEMBERIAN SEDIAAN PARENTERAL PERLU
DIPERHATIKAN :
 Stabilitas sediaan
 Cara pencampuran : rekonsistensi , IV admixture , handling cytotoxid
8. PENGGUNAAN (Consuming)
 Penggunaan oleh pasien secara baik dan benar
 Pemberian informasi dan konseling yang bertujuan agar pasien compliance
dan adhrece.
9. PEMANTAUAN EFEKTIFITAS DAN KEAMANAN
 Pemantauan respon klinis (efektifitas dan ESO)
 Feedback
10. PEMANTAUAN RASIONALITAS
 Drug Use study (DUS) / pengkajian pengelolaan dan penggunaan obat (PPPO)
 Kepatuhanterhadappedoman (Formularium RS , POT , PPAB ,daftarobas
AKSES (DOA) / pedoman lain)
 Kepatuhan penulisan atau penggunaan generic
 Rasionalitas penggunaan obat