Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

INFERTILITAS

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Maternitas


II yang diampu oleh:
Ibu Lilik Pratiwi S.Kep.,M.Km

Disusun oleh:
Sopiyah Nurwati NIM. 170711040
17 Keperawatan A

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON
2019
VISI DAN MISI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN

VISI
Fakultas Ilmu Kesahatan Universitas Muhammadiyah Cirebon adalah ‘menjadi
fakultas ilmu kesehatan unggulan dalam menyiapkan sarjana di bidang kesehatan
yang islami, profesional, dan mandiri di bidang kesehatan komunitas’.

MISI
Misi Fakultas Ilmu Kesehatan Adalah :
1. Melaksanakan Catur-Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam bentuk
pendidikan dan pengajaran berbasis nilai keislaman.
2. Melaksanakan berbagai kegiatan ilmiah bertema kesehatan dan ilmu keperawatan
komunitas
3. Menjalin kerjasama tingkat nasional maupun internasional yang bertujuan
meningkatan kompetensi lulusan.

TUJUAN
1. Menghasilkan kader Muhammadiyah berakhlaktul karimah dan bermanfaat bagi
masyarakat
2. Terwujudnya penelitian dalam bidang kesehatan dan ilmu keperawatan sehingga
mampu meningkatkan pelayanan dibidang komunitas
3. Terwujudnya pengabdian kepada masyarakat sehingga mampu meningkatkan
taraf kesehatan masyarakat
4. Terlaksananya kegiatan seminar, simposium, workshop, atau temu ilmiah berbasis
kesehatan komunitas baik lokal, nasional, maupun internasional
5. Terwujudnya kerjasama tingkat nasional maupun internasional dengan berbagai
insitusi dalam upaya meningkatkan kompentensi lulusan Fakultas Ilmu kesehatan.
VISI DAN MISI
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DAN
PROGRAM PROFESI NERS

VISI
Menjadi program studi ilmu keperawatan dan ners yang islami, profesional, dan
mandiri di bidang keperawatan komunitas tingkat Nasional pada tahun 2022.

MISI
1. Menyelenggarakan pendidikan sarjana dan profesi keperawatan yang islami sesuai
catur dharma pendidikan tinggi muhammadiyah
2. Menyelenggarakan kegiatan ilmiah keperawatan tingkat nasional
3. Membangun kerjasama dengan berbagai pihak dalam meningkatkan kompetensi
keperawatan

TUJUAN
1. Menghasilkan lulusan yang berkompeten dan islami di bidang keperawatan
2. Menghasilkan penelitian yang berkualitass dalam bidang keperawatan
3. Terselenggaranya pengabdian kepada masyarakat secara bersinambungan dalam
bidang keperawatan
4. Terselenggranya kegiatan ilmiah yang mendorong peningkatan kompetensi
keperawatan tingkat nasioanl berupa seminar, workshop, maupun simposium
5. Terbinanya kerjasama nasional maupun internasional guna meningkatkan
kompetensi luslusan di bidang keperawatan.
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi allah swt yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
dapat menyelesaikan laporan pandahuluan ini. Sholawat serta salam semoga selalu
tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW berserta keluarga,
sehingg saya dapat menyusun Laporan Pendahuluan dengan berjudul
“Infertilitas”, yang saya sajikan berdasarkan pengamatan sumber. Penulisan
menyadari bahwa dalam penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun semangat diharapkan demi
kesempuraan dalam penulisan selanjutnya.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi para
pembaca. Saya mengharaapkan kritik dan saran terhadap Laporan pendahuluan ini
agar kedepannya dapat saya perbaiki.

Cirebon, Juni 2019


DAFTAR ISI

Visi Dan Misi Fakultas Ilmu Kesehatan


Visi Dan Misi Program Studi Ilmu Keperawatan Dan Program Profesi Ners

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Infertilitas
B. Epidemiologi Infertilitas
C. Klasifikasi Infertilitas
D. Etiologi Dan Faktor-Faktor Resiko Infertilitas
E. Pathway Infertilitas
F. Tanda Gejala / Menifetasi Klinis Infertilitas
G. Komplikasi Penyakit Infertilitas
H. Pencegahan Infertilitas
I. Penatalaksanaan Medis Infertilitas
J. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul Tujuan Infertilitas
K. Intervensi Infertilitas

BAB III : PENUTUP


A. Kesimpulan................................................................................................................
B. Saran..........................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infertilitas merupakan suatu permasalahan yang cukup lama dalam dunia
kedokteran. Namun sampai saat ini ilmu kedokteran baru berhasil menolong ±
50% pasangan infertililitas untuk memperoleh anak. Di masyarakat kadang
infertilitas di salah artikan sebagai ketidakmampuan mutlak untuk memiliki anak
atau ”kemandulan” pada kenyataannya dibidang reproduksi, infertilitas diartikan
sebagai kekurangmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi
bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan.
Menurut catatan WHO, diketahui penyebab infertilitas pada perempuan di
antaranya, adalah: faktortuba fallopii (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%,
endometriosis 30%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 26%. Hal ini berarti
sebagian besar masalah infertilitas pada perempuan disebabkan oleh gangguan
pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.
Di Indonesia terdapat sekitar tiga juta pasangan suami istri yang tidak
mempunyai anak dan dikatakan sebagai pasangan yang mengalami kemandulan
atau infertilitas. Sebagian besar pasangan suami istri berpikir bahwa mereka akan
mudah memperoleh anak. Sebetulnya 1 diantara 10 pasang akan mengalami
hambatan untuk mempunyai anak. Sekitar 40 % kasus infertilitas disebabkan oleh
kemandulan wanita, 30 % disebabkan oleh kemandulan pria dan 30% oleh
keduanya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Dari Infertilitas ?
2. Bagaimana Epidemiologi Dari Infertilitas ?
3. Bagaimana Klasifikasi Dari Infertilitas ?
4. Bagaimana Etiologi Dan Faktor-Faktor Resiko Dari Infertilitas ?
5. Bagaimana Pathway Dari Infertilitas ?
6. Bagaimana Tanda Gejala / Menifetasi Klinis Dari Infertilitas ?
7. Bagaimana Komplikasi Penyakit Dari Infertilitas ?
8. Bagaimana Dari Pencegahan Infertilitas ?
9. Bagaimana Dari Penatalaksanaan Medis Infertilitas ?
10. Bagaimana Dari Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul Tujuan
Infertilitas ?
11. Bagaimana Dari Intervensi Infertilitas ?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Apa Pengertian Dari Infertilitas
2. Untuk Mengetahui Bagaimana Epidemiologi Dari Infertilitas
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Klasifikasi Dari Infertilitas
4. Untuk Mengetahui Bagaimana Etiologi Dan Faktor-Faktor Resiko Dari
Infertilitas
5. Untuk Mengetahui Bagaimana Pathway Dari Infertilitas
6. Untuk Mengetahui Bagaimana Tanda Gejala / Menifetasi Klinis Dari
Infertilitas
7. Untuk Mengetahui Bagaimana Komplikasi Penyakit Dari Infertilitas
8. Untuk Mengetahui Bagaimana Pencegahan Dari Infertilitas
9. Untuk Mengetahui Bagaimana Penatalaksanaan Medis Dari Infertilitas
10. Untuk Mengetahui Bagaimana Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin
Muncul Tujuan Dari Infertilitas
11. Untuk Mengetahui Bagaimana Intervensi Dari Infertilitas
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Infertilitas
Infertilitas adalah tidak terjadinya kehamilan setelah menikah 1 tahun atau
lebih dengan catatan pasangan tersebut melakukan hubungan seksual secara
teratur tanpa adanya pemakaian kontrasepsi.
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah sekurang-
kurangnya satu tahun berhubungan seksual sedikitnya empat kali seminggu tanpa
kontrasepsi (Heffner & schust, 2008 ). Adapula pengertian lain yaitu, infertilitas
adalah bila pasangan suami istri, setelah bersegama secara teratur 2-3 kali
seminggu, tampa memakai metode pencegahan belum mengalami kehamilan
selama satu tahun (susantha, 2008).
Menurut dokter ahli reproduksi, sepasang suami istri dikatakan infertil jika
tidak hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali
seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34 tahun.
Tidak hamil setelah enam bulan melakukan hubungan intim secara rutin dalam
kurun 1-3 kali seminggu dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur lebih dari
35 tahun serta perempuan yang bisa hamil namun tidak sampai melahirkan sesuai
masanya (37-42 minggu). Pada dasarnya infertilitas adalah ketidak mampuan
secara biologis dari seorang laki-laki atau seprang perempuan untuk menghasilkan
keturunan.

B. Epidemiologi Infertilitas
Diperkirakan 85-90% pasangan yang menikah dalam satu tahun
pernikahannya akan menjadi hamil, dimana 10-15 % pasangan tersebutakan
mengalami kesulitan untuk menjadi hamil dan mereka ini lah yang disebut sebagai
pasangan infertil. Prevalensi infertilitas yang tepat tidak diketahui dengan pasti,
sangat bervariasi tergantung keadaan geografis, budaya dan status sosial negara
tersebut.
Di Amerika serikat persentase wanita infertil meningkat dari 8,4 % pada
tahun 1982 dan 1988 menurut National Survey of Family Growth (NSFG)
menjadi 10,2 % (6,2 juta) pada tahun 1995. Menurut penelitian Stephen dan
Chandra diperkirakan 6,3 juta wanita di Amerika menjadi infertil dan
diperkirakan akan meningkat menjadi 5,4-7,7 juta pada tahun 2025.
Dalam suatu studi populasi dari tahun 2009-2012 diperkirakan akan
terdapat 12-24 % wanita infertil. Al Akour dkk melaporkan 155 (46,3%) wanita
dengan infertilitas primer dan 180 (53,7%) wanita dengan infertilitas sekunder. Di
Kuwait, Ommu dan Omu29 melaporkan data infertiltas primer 65,7% dan 34,3 %
wanita dengan infertilitas sekunder. Di Banglades, Akhter dkk30 dari 3184 wanita
infertil, 61,9 % wanita dengan infertilitas primer dan 38 % wanita dengan
infertilitas sekunder.

C. Klasifikasi
Infertilitas terdiri dari 2 macam, yaitu :
1. Infertilitas primer yaitu jika perempuan belum berhasil hamil walaupun
bersenggama teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama
12 bulan berturut-turut.
2. Infertilitas sekunder yaitu Disebut infertilitas sekunder jika perempuan penah
hamil, akan tetapi kemudian tidak berhasil hamil lagi walaupun bersenggama
teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan
berturut- turut.

D. Etiologi Dan Faktor-Faktor Resiko


1. Faktor-faktor Infertilitas pada perempuan (Istri) :
a. Faktor penyakit
 Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada
di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan
tumbuh di tempat lain. Endometriosis bisa terletak di lapisan tengah
dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut juga
adenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur,
atau bahkan dalam rongga perut. Gejala umum penyakit
endometriosis adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul
terutama pada saat haid dan berhubungan intim, serta -tentu saja-
infertilitas.
 Infeksi Panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran
reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran
telur, indung telur, atau dinding dalam panggul. Gejala umum infeksi
panggul adalah: nyeri pada daerah pusar ke bawah (pada sisi kanan
dan kiri), nyeri pada awal haid, mual, nyeri saat berkemih, demam,
dan keputihan dengan cairan yang kental atau berbau. Infeksi
panggul memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas fisik
yang berat, pemeriksaan panggul, dan pemasangan AKDR (alat
kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral).
 Mioma Uteriadalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan
otot yang ada di rahim. Tergantung dari lokasinya, mioma dapat
terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim.
Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan infertilitas adalah
mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium).
Mioma uteri biasanya tidak bergejala. Mioma aktif saat wanita
dalam usia reproduksi sehingga -saat menopause- mioma uteri akan
mengecil atau sembuh.
 Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang
biasanya diakibatkan oleh mioma uteri yang membesar dan teremas-
remas oleh kontraksi rahim. Polip dapat menjulur keluar ke vagina.
Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan
uterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh.
 Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput
(membran) yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur
tubuh manusia.Terdapat berbagai macam jenis kista, dan
pengaruhnya yang berbeda terhadap kesuburan. Hal penting lainnya
adalah mengenai ukuran kista. Tidak semua kista harus dioperasi
mengingat ukuran juga menjadi standar untuk tindakan operasi. Jenis
kista yang paling sering menyebabkan infertilitas adalah sindrom
ovarium polikistik. Penyakit tersebut ditandai amenore (tidak haid),
hirsutism (pertumbuhan rambut yang berlebihan, dapat terdistribusi
normal maupun tidak normal), obesitas, infertilitas, dan pembesaran
indung telur. Penyakit ini disebabkan tidak seimbangnya hormon
yang mempengaruhi reproduksi wanita.
 Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa
bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias
tidak terjadi kehamilan. Pemeriksaan yang dilakukan untuk
mengetahui saluran telur yang tersumbat adalah dengan HSG
(Hystero Salpingo Graphy), yaitu semacam pemeriksaan röntgen
(sinar X) untuk melihat rahim dan saluran telur.
 Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang
umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan
sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi
adalah sindrom ovarium polikistik. Gangguan ovulasi biasanya
direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki
siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama
haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita terjadi di luar itu
semua, maka sebaiknya beliau memeriksakan diri ke dokter.
b. Faktor fungsional
 Gangguan system hormonal wanita dan dapat di sertai kelainan
bawaan (immunologis) Apabila embrio memiliki antigen yang
berbeda dari ibu, maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon
terhadap benda asing. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan
pada wanita hamil.
 Gangguan pada pelepasan sel telur (ovulasi).Ovulasi atau proses
pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan
hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui
sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang
normal. Ovarium polikistik disebabkan oleh kadar hormon androgen
yang tinggi dalam darah. Kadar androgen yang berlebihan ini
mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam
darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan folikel
sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada
gilirannya ovulasi juga akan terganggu.
 Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran
telur) Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang
dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir
terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika
dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang
mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan
rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka
gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran
telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma.
Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka sperma tidak
bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya disebabkan
oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory
Disease) atau penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur
klamidia.Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh
malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus, mioma
uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan
suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus
berulang.Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan
adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma
tidak dapat bertemu.
 Gangguan implantasi hasil konsepsi dalam Rahim.Setelah sel telur
dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio,
selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium.
Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah,
cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini
disebabkan oleh antara lain karena struktur jaringan endometrium
tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai.
2. Penyebab Infertilitas pada laki-laki (suami)
a. Kelainan pada alat kelamin
 Hipospadia yaitu muara saluran kencing letaknya abnormal, antara
lain pada permukaan testis.
 Ejakulasi retrograd yaitu ejakulasi dimana air mani masuk kedalam
kandung kemih.
 Varikokel yaitu suatu keadaan dimana pembuluh darah menuju bauh
zakar terlalu besar, sehingga jumlah dan kemampuan gerak
spermatozoa berkurang yang berarti mengurangi kemampuannya
untuk menimbulkan kehamilan.
 Testis tidak turun dapat terjadi karena testis atrofi sehingga tidak
turun.
b. Kegagalan fungsional
 Kemampuan ereksi kurang.
 Kelainan pembentukan spermatozoa
 Gangguan pada sperma.
c. Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular).
Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis yang
bertugas mengeluarkan hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut
mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon testosteron, akibatnya
produksi sperma dapat terganggu serta mempengaruhi spermatogenesis
dan keabnormalan semen Terapi yang bisa dilakukan untuk peningkatan
testosterone adalah dengan terapi hormon
d. Gangguan di daerah testis (testicular).
Kerja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan
fisik, atau infeksi. Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak
berkembang dengan baik, sehingga produksi sperma menjadi terganggu.
Dalam proses produksi, testis sebagai “pabrik” sperma membutuhkan
suhu yang lebih dingin daripada suhu tubuh, yaitu 34 – 35 °C, sedangkan
suhu tubuh normal 36,5 – 37,5 °C. Bila suhu tubuh terus-menerus naik 2
– 3 °C saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu.
e. Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular).
Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat
disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu.
Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir, terkena infeksi penyakit
seperti tuberkulosis (Tb), serta vasektomi yang memang disengaja.
f. Tidak adanya semen.
g. Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju
vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada
ejakulasi).
h. Kurangnya hormon testosterone.
i. Kekurangan hormon ini dapat mempengaruhi kemampuan testis dalam
memproduksi sperma.
3. Penyebab Infertilitas pada suami istri
a. Gangguan pada hubungan seksual.Kesalahan teknik sanggama dapat
menyebabkan penetrasi tak sempurna ke vagina, impotensi, ejakulasi
prekoks, vaginismus, kegagalan ejakulasi, dan kelainan anatomik seperti
hipospadia, epispadia, penyakit Peyronie.
b. Faktor psikologis antara kedua pasangan (suami dan istri).
 Masalah tertekan karena sosial ekonomi belum stabil
 Masalah dalam pendidikan
 Emosi karena didahului orang lain hamil

E. Pathway

Pada Wanita Pada Pria

Gg. Hipoalamamus dan Disfungsi Hipotalamus dan


Hipofisis, Terpapar Hipofisis, Gaya hidup,Terpapar
Radiasi, Toksik, Gaya Radiasi, Toksik
Hidup
Ketidakseimbangan Hormonal
Mempengaruhi Hormon
dalam tubuh (Produksi
Hormon tidak seimbang)
Fungsi Testis Obstruksi Duktus Ketidakmampuan
& Tubulus untuk Koitus/
Pembentukan FSH
Ejakulasi
dan LH Produksi
Inflamasi
sperma
Mempengaruhi
Terjadi gg. Pada
faktor psikologis
pembentukkan folikel Bentuk sperma MK : Resiko
di ovarium menjadi abnormal
Cemas MK:

Gg. Bentuk anatomi Abnormalitas


sistem reproduksi Serviks

Bentuk tuba palopi Mempengaruhi


yang tidak sesuai proses pemasukkan
akibat cedera / infeksi

Sperma tidak dapat


lewat dan tidak terjadi
fertilisasi dari ovum
dan sperma

Hasil konsepsi tidak


berkembang normal

Tidak kunjung hamil Timbul rasa malu


dan tidak beruna
MK : Ansietas
Gg. Harga MK : HDR
F. Tanda gejala / menifetasi klinis
1. Pada wanita
 Terjadi kelainan system endokrin
 Hipomenore dan amenore
 Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat
menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau
aberasi genetic
 Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang
tidak berkembang,dan gonatnya abnormal
 Wanita infertil dapat memiliki uterus
 Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat
infeksi, adhesi, atau tumor
 Traktus reproduksi internal yang abnormal
2. Pada pria
 Riwayat terpajan benda–benda mutan yang membahayakan reproduksi
(panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
 Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
Riwayat infeksi genitorurinaria
 Hipertiroidisme dan hipotiroid
 Tumor hipofisis atau prolactinoma
 Disfungsi ereksi berat
 Ejakulasi retrograt
 Hypo/epispadia
 Mikropenis
 Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
 Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas
sperma)
 Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
 Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
 Abnormalitas cairan semen
G. Komplikasi penyakit
1. Kelainan kekebalan tubuh wanita yang terdapat kelainan adanya antibody,
anti sperma, akibatnya anti body tersebut mengancurkan sperma yang masuk
2. Penyakit genetic
3. Kncing manis (DM)
4. Penyakit kelenjar gondok
5. Kelainan hormone
6. Obesitas

H. Pencegahan
1. Berbagai macam infeksi diketahui menyebabkan infertilitas terutama infeksi
prostate, buah zakar, maupun saluran sperma. Karena itu, setiap infeksi di
daerah tersebut harus ditangani serius.
2. Beberapa zat dapat meracuni sperma. Banyak penelitian menunjukkan
pengaruh buruk rokok terhadap jumlah dan kualitas sperma.
3. Alkohol dalam jumlah banyak dihubungkan dengan rendahnya kadar hormon
testosteron yang tentunya akan menganggu pertumbuhan sperma.
4. Seringkali sebabkan oleh penyakit menular seksual, karena itu dianjurkan
untuk menjalani perilaku seksual yang aman guna meminimalkan risiko
kemandulan dimasa yang akan datang.
5. Imunisasi gondongan/mumps telah terbukti mampu mencegah gondongan
dan komplikasinya pada pria (orkitis). Kemandulan akibat gondongan bisa
dicegah dengan menjalani imunisasi gondongan.
6. Beberapa jenis alat kontrasepsi memiliki risiko kemandulan lebih tinggi
misalnya IUD. IUD tidak dianjurkan untuk dipakai pada wanita yang belum
pernah memiliki anak. (Ferrystoner, 2013).

I. Penatalaksanaan medis
1. Medikasi
a. Obat stimulasi ovarium (Induksi ovulasi) Klomifen sitrat
 Meningkatkan pelepasan gonadotropin FSH & LH
 Diberikan pd hari ke-5 siklus haid
 1 x 50 mg selama 5 hari
 Ovulasi 5 - 10 hari setelah obat terakhir
 Koitus 3 x seminggu atau berdasarkan USG transvaginal
 Dosis bisa ditingkatkan menjadi 150 - 200 mg/hari
 3 - 4 siklus obat tidak ovulasi dengan tanda hCG 5000 - 10.000 IU
b. Epimestrol
Memicu pelepasan FSH dan LH, Hari ke 5 - 14 siklus haid, 5 - 10
mg/hari.
c. Bromokriptin
 Menghambat sintesis & sekresi prolaktin
 Indikasi : Kdr prolaktin tinggi (> 20 mg/ml) dan Galaktore
 Dosis sesuai kadar prolaktin : Oligomenore 1,25 mg/hari
 Gangguan haid berat : 2 x 2,5 mg/hari.
 Gonadotropin
 HMG (Human Menopausal Gonadotropine)
 FSH & LH : 75 IU atau 150 IU
 Untuk memicu pertumbuhan folikel
 Dosis awal 75 - 150 IU/hari selama 5 hari dinilai hari ke 5 siklus
haid
d. HCG
 5000 IU atau 10.000 IU, untuk memicu ovulasi
 Diameter folikel17 - 18 mm dgn USG transvaginal
 Mahal, sangat beresiko
 Perlu persyaratan khusus
 Hanya diberikan pada rekayasa teknologi reproduksi
 Catatan : Untuk pria diterapi dengan FSH, Testosteron
e. Terapi hormonal pada endometriosis
Supresif ovarium sehingga terjadi atrofi Endometriosis
f. Danazol
 Menekan sekresi FSH & LH
 Dosis 200 - 800 mg/hari, dosis dibagi 2x pemberian
g. Progesteron
Desidualisasi endometrium pada Atrofi jaringan Endometritik
h. Medroksi progesteron asetat 30 - 50 mg/hari
i. GnRH agonis
 Menekan sekresi FSH & LH
 Dosis 3,75 mg/IM/bulan
 Tidak boleh > 6 bulan : penurunan densitas tulang
2. Tindakan Operasi Rekontruksi
Koreksi :
 Kelainan Uterus
 Kelainan Tuba : tuba plasti
 Miomektomi
 Kistektomi
 Salpingolisis
 Laparoskopi operatif dan Terapi hormonal untuk kasus endometriosis +
infertilitas
 Tindakan operatif pada pria : Rekanalisasi dan Operasi Varicokel.
3. Rekayasa Teknologi Reproduksi
Metode lain tidak berhasil
a. Inseminasi Intra Uterin (IIU)
Metode ini merupakan rekayasa teknologi reproduksi yang paling
sederhana. Sperma yang telah dipreparasi diinseminasi kedalam kavum uteri
saat ovulasi. Syarat : tidak ada hambatan mekanik : kebuntuan tuba Falopii,
Peritoneum/endometriosis.
Indikasi Infertilitas oleh karena faktor :
 Serviks
 Gangguan ovulasi
 Endometriosis ringan
 Infertilitas Idiopatik
 Angka kehamilan 7 - 24 % siklus
b. Fertilisasi Invitro (FIV)
Fertilisasi diluar tubuh dengan suasana mendekati alamiah. Metode
ini menjadi alternatif atau pilihan terakhir
Syarat :
 Uterus & endometrium normal
 Ovarium mampu menghasilkan sel telur
 Mortilitas sperma minimal. 50.000/ml
 Angka kehamilan : 30 - 35 % 3.
c. Intracytoplasmic Ssperm Injection (ICSI)
Injeksi sperma intra-sitoplasmik (intracytoplasmic sperm injection =
ICSI) merupakan teknik mikromanipulasi yang menyuntikkan satu
spermatozoon ke dalam sitoplasma oosit mature telah digunakan untuk
penanganan infertilitas pria sejak lebih dari satu dekade ini (Palermo et al,
1992).
Segera setelah itu diikuti dengan keberhasilan teknik ini pada pria
azoospermia dengan menyuntikkan spermatozoa dari testis dan epididymis.
Teknik ini memberikan harapan yang nyata pada pria infertil dengan oligo-
astheno-teratozoospermia berat maupun azoospermia, dengan penyebab
apapun. Dengan berkembangnya teknologi dimana ICSI dapat dilaksanakan
dengan tidak terlalu rumit, maka ketersediaan sarana yang melaksanakan
ICSI berkembang dengan sangat pesat (Hinting, 2009). Klinik-klinik
diberbagai tempat didunia berkembang terus melaksanakan ICSI dengan
angka keberhasilan yang memuaskan. Kurang dari 10% oocytes rusak
dengan prosedur ini dan angka fertilisasi berkisar antara 50-75%. Embryo
transfer dapat dilaksanakan pada lebih dari 90% pasangan dan
menghasilkan angka kehamilan berkisar antara 25-45%. Hasil-hasil ini tidak
berbeda antara sperma ejakulat, epididymis maupun testis (Palermo et al,
2001; Hinting et al, 2001).
J. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang akhir proses diagnostic
2. Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan gangguan
fertilitas
3. Berduka dan antisipasi berhubungan dengan prognosis yang buruk

K. Intervensi Infertilitas
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
keperawatan
1 Ansietas Setelah dilakukan 1. Jelaskan i. Menurunkan cemas
berhubungan tindakan asuhan tujuan test dan dan takut terhadap
dengan keperawatan prosedur diagnosis dan
ketidaktahuan selama 3x24 jm 2. Tingkatkan prognosis
tentang akhir diharapkan ekspresi 5. Biarkan pasien /
proses pasien membaik perasaan dan orang terdekat
diagnostic dengan takut, contoh : mengetahui ini
Kriteria hasil : menolak, sebagai reaksi yang
1. Klien depresi, dan normal Perasaan
mampu marah. tidak diekspresikan
mengungkapkan 3. Dorong dapat
tentang keluarga untuk menimbulkan
infertilitas dan menganggap kekacauan internal
bagaimana pasien seperti dan efek gambaran
treatmentnya sebelumnya diri
2. Klien 4. Kolaborasi : 6. Meyakinkan
memperlihatkan berikan bahwa peran dalam
adanya sedative, keluarga dan kerja
peningkatan tranquilizer tidak berubah
kontrol diri sesuai indikasi 7. Mungkin
terhadap diperlukan untuk
diagnosa infertile membantu pasien
3. Klien rileks sampai
mampu secara fisik mampu
mengekspresikan untuk membuat
perasaan tentang startegi koping
infertiltas adekuat

2 Gangguan Setelah dilakukan 1. Tanyakan 1. Menunjukan


konsep diri ; tindakan asuhan dengan nama kesopan santunan /
harga diri keperawatan apa pasien penghargaan dan
rendah selama 3x24 jm ingin pengakuan
berhubungan diharapkan dipanggil personal
dengan pasien membaik 2. Identifikasi 2. Memungkinkan
gangguan dengan orang terdekat privasi untuk
fertilitas Kriteria hasil : dari siapa hubungan personal
1. Klien pasien khusus, untuk
mampu memperoleh mengunjungi atau
mengekspresikan kenyaman dan untuk tetap dekat
perasaan tentang siapa yang dan menyediakan
infertile harus kebutuhan
2. Terjalin memberitahua dukungan bagi
kontak mata saat kan jika terjadi pasien
berkomunikasi keadaan 3. Menyampaikan
3. Klien bahaya perhatian dan dapat
mampu 3. Dengarkan dengan lebih
Mengidentifikasi dengan aktif efektif
aspek positif diri masalah dan mengidentifikasi
ketakutan kebutuhan dan
pasien maslah serta
4. Dorong strategi koping
mengungkapk pasien dan
an perasaan, seberapa efektif
menerima apa 4. Membantu pasien /
yang orang terdekat
dikatakannya untuk memulai
5. Diskusikan menerima
pandangan perubahan dan
pasien mengurangi
terhadap citra ansietas mengenai
diri dan efek perubahan fungsi /
yang gaya hidup
ditimbulkan 5. Persepsi pasien
dari penyakit / mengenai
kondisi perubahan pada
citra diri mungkin
terjadi secara tiba-
tiba atau kemudian

3 Berduka dan Setelah dilakukan 1. Berikan 1. kemampuan


antisipasi tindakan asuhan lingkungan komunikasi
berhubungan keperawatan yang terbuka terapeutik seperti
dengan selama 3x24 jm pasien merasa aktif
prognosis yang diharapkan bebas untuk mendengarkan,
buruk pasien membaik dapat diam, selalu
dengan mendiskusikan bersedia, dan
Kriteria hasil : perasaan dan pemahaman dapat
1. Klien masalah secara memberikan pasien
Menunjukan rasa realitas kesempatan untuk
pergerakan 2. Identifikasi berbicara secara
kearah resolusi tingkat rasa bebas dan
dan rasa berduka duka / berhadapan dengan
dan harapan disfungsi : perasaan
untuk masa penyangkalan, 2. Kecermatan akan
depan marah, tawar - memberikan
2. Klien menawar, pilihan intervensi
menunjukkan depresi, yang sesuai pada
fungsi pada penerimaan waktu induvidu
tingkat adekuat, 3. Dengarkan menghadapi rasa
ikut serta dalam dengan aktif berduka dalam
pekerjaan pandangan berbagai cara yang
pasien dan berbeda
selalu sedia 3. Proses berduka
untuk tidak berjalan
membantu jika dalam cara yang
diperlukan teratur, tetapi
4. Identifikasi fluktuasainya
dan solusi dengan berbagai
pemecahan aspek dari berbagai
masalah untuk tingkat yang
keberadaan muncul pada suatu
respon – kesempatan yang
respon fisik, lain
misalnya 4. Mungkin
makan, tidur, dibutuhkan
tingkat tambahan bantuan
aktivitas dan untuk berhadapan
hasrat seksual dengan aspek –
5. Kaji aspek fisik dari
kebutuhan rasa berduka
orang terdekat 5. Identifikasi dari
dan bantu masalah – masalah
sesuai berduka
petunjuk disfungsional akan
6. Kolaborasi : mengidentifikasi
rujuk sumber intervensi
– sumber induvidual
lainnya 6. Mungkin
misalnya dibutuhkan
konseling, bantuan tambahan
psikoterapi untuk mengatasi
sesuai rasa berduka,
petunjuk membuat rencana,
dan menghadapi
masa depan
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Infertilitas adalah ketidakmampuan secara biologis dari seorang laki-laki
atau seorang perempuan untuk menghasilkan keturunan. Penyebab infertilitas
dapat berbeda baik laki-laki maupun perempuan. Pada wanita, infertilitas dapat
disebabkan akibat masalah pada vagina, serviks ataupun uterus. Sedangkan pada
laki-laki, infertilitas dapat timbul akibat faktor pekerjaan, konsentrasi sperma
yang rendah ataupun masalah kelainan genetik maupun kekurangan hormon.
Akan lebih baik jika pasangan dapat mendeteksi dini gejala infertilitas
sehingga dapat melakukan tindakan yang lebih tepat. Begitu juga dengan proses
pencegahan maupun penanganan sebaiknya dikonsultasikan sehingga diagnosa
maupun pengobatan dapat berjalan secara optimal.

B. Saran
1. Bagi mahasiswa Sebaiknya mahasiswa, khususnya mahasiswa program studi
kesehatan masyarakat agar dapat lebih memahami informasi dan lebih sigap
dalam menyelenggarakan upaya promotif dan preventif mengenai infertilitas,
mengingat banyak faktor dari infertilitas yang dapat dicegah.
2. Bagi masyarakat Akan lebih baik jika pasangan suami istri sebelum menikah
memeriksakan keadaan reproduksinya. Lalu, perbanyaklah mengkonsumsi
makanan yang dapat menyuburkan alat-alat reproduksi dan juga melakukan
olahraga yang teratur serta waspada terhadap gejala infertilitas.
DAFTAR PUSTAKA

Nanda, 2013. Diagnosa Keperawatan Nanda. Jakaeta: Prima Medika


Daniel. 2008. Benarkah Infertilitas Disebabkan Gaya Hidup. Bandung
Elizabeth, 2005. Panduan kesehatan Bagi Wanita. Jakarta : PT. Prestasi Pustaka.
Andon Hestiantoro, Dr, SpOG(K). 2013. Konsensus Penanganan Infertilitas.
Jakarta
https://www.academia.edu/15164761/81049455-ASKEP-INFERTILITAS
https://www.academia.edu/8732428/ASUHAN_KEPERAWATAN_INFERTILIT
AS
https://www.academia.edu/28754350/INFERTILITAS
https://www.academia.edu/37915921/LAPORAN_PENDAHULUAN_INFERTIL
ITAS

Anda mungkin juga menyukai