Anda di halaman 1dari 20

Tugas MID

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

OLEH

Nama : ERFIN SEKARWATI

Nim : J1A118010

Kelas : A (2018)

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

U NIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
1. Tulisakn 10 penyakit menular disertai mekanisme penularan, penyebab, cara masuk
ketubuh manusia (proses langsung atau tidak langsung) atau keduanya.
Jawab :
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah radang akut saluran pernapasan atas
atau bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun riketsia
tanpa atau disertai radang parenkim (Alsagaff dan Mukty, 2006).
a. Mekanisme Penularan
Bibit penyakit ISPA berupa jasad renik ditularkan melalui udara. Jasad renik yang
berda di udara akan masuk kedalam tubuh melalui saluran pernapasan dan
menimbulkan infeksi
b. Penyebab
ISPA dapat disebabkan banyak hal . antaranya :
a. Menurut Nelson (2002, 1455 – 1457), virus penyebab ISPA meliputi virus
parainfluenza, adenovirus, rhinovirus, koronavirus, koksakavirus A dan B,
streptokokus dan lainnya.
b. Perilaku invidu seperti sanitasi fisik rumah, dan kurangnya ketersediaan air
bersih (Depkes RI, 2005:30).
c. Cara masuk ke tubuh manusia ( secara langsung/tidak langsung atau keduanya)
Penularan virus atau bakteri penyebab ISPA dapat terjadi melalui kontak dengan
percikan air liur orang yeng terinfeksi. Virus atau bakteri dalam percikan air liur
akan menyebar melalui udara dan masuk ke hidung atau mulut orang lain. Selain
kontak kontak langsung dengan percikan air liur penderita, virus juga dapat
menyebar melalui sentuhan dengan benda yang terkontaminasi atau berjabat tangan
dengan penderita.

Diare
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih
cair dari biasanyadan terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam. Sementara untuk bayi
dan anak – anak diare didefenisikan sebagai pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam,
sedangkan rata – rata pengeluaran tinja bayi yang norml adalah 5 – 10 kg/24 jam
(Juffrie,2010).
Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses
selain dari frekuensi uang air besar. Seseoranf dikatakan diare bila feses lebih berair dari
biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar berairtapi
tidak berdadar dalam waktu 24 jam ( Depkes, 2009).
a. Mekanisme penularan Diare
Diare bisa menular jika penyebabnya adalah infeksi virus , bakteri, atau parasit. Cara
penularannya adalah melalui feses penderita diare, akibat kontamiansi kuman -
kuman tersebut. Kuman pada feses dapat mengontaminasi tangan, makanan, air dan
perlengkapan makan, hinggaakhirnya masuk kedalam saluran cerna orang lain
melalui mulut. Ujung – ujungnya penularan diare dari satu orang ke orang lain tak
lagi bisa dihindari. Salah satu bukti bahwa diare bisa menular adalah adanya wabah
diare pada suatu wilayah. Keadaan tersebut menjadi akibat kebersihan lingkunagan
yang tidak terjaga dengan baik atau sumber air yang terkontaminasi oleh kuman
penyenab diare.
b. Penyebab diare
Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines 2005, etilogi
diare dibagi atas emapat penyabab :
1. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Colli, Gol. Vibrio, Basillus cereus,
Clostridium perfringes, Stafilokokus aureus, Camplylobacter aeromanas
2. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus
3. Parasit : Protozoa, Entamoeba Histolytica, Giardia Lamblia, Balantidit Colli,
Trichuris trichiura, Cryptosporidium pervum, Strogyloides stercoralis
4. Non infeksi : malabdopsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilas,
imunodefisiensi, kesulitan makanan, dan lain – lain ( Nelson, 2000)
c. Cara masuk ketubah manusia ( secara langsung/tidak langsung atau keduanya).
Penularan secara langsung : penyakit diare dapat ditularkan dari ornag satu ke orang
lain secara langsung melalui fecal – oral dengan media penularab utama adalah
makanan atau minuman yang terkontaminasi agen penyebab diare. Penderita diare
berat akan mengerlauarkan kuman melalui tinja, jika pembuangan tinja tidaj
dilakuan pada jamban tertutup maka akan terkontaminasi sebagai sumber penularan.
Sedangkan penularan secara tidak langsung melalui air. Air yang tercemar kuman,
bila digunakan ornag untukkeperluan sehari – hari tanpa direbus atau dimasak
terlebih dahulu, maka kuman akan masuk ke tubuh orang yang memakainya,
sehingga ornag tersebut dapat terkena diare.
Tuberculosis (TBC)
Tuberculosis adalah oenyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkab oleh bakteri
basil. Bakteri basil yang menginfeksi adalah bakteri basil yang sangat kuat. Akibatnya,
akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengobati penyakit ini. Bakteri ini 90 %
cenderung menginfeksi paru – paru jika dibandingkan dengan organ – organ lainnya
pada tubuh manusia. Penyakit ini biasanya ditandai dengan batuk terus menerus.
a. Mekanisme Penularan
Saat batuk atau bersin, pendrita TBC dapat menyebarkan kuman yang terdapat
dalam dahak ke udara. Dalam sekali batuk, penderita TBC dapat mengekuarkan
sekitar 3000 percikan dahak. Bakteri TB yang berada di udara bisa bertahan berjam
– jam, terutama jika ruangan gelap dan lembab. Umumnya penularan terjadi dalam
ruangan diman percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Meski demikian,
pada dasarnya penularan TBC tidak semudah yang di bayangkan. Tidak semua
ornag yang menghirup udara yang mengandung bakteri TB akan langsung menderita
TBC. Pada kebanykan kasus, bakteri yang hidup ini akan berdiam di paru – paru
tanpa menimbulkan penyakit atau menginfeksi orang lain. Bakteri tetap ada di dalam
tubuh sambil menunggu saat yang tepat untuk menginfeksi yaitu ketika dya tahan
tubuh sedang lemah.
b. Penyebab TBC
Penyakit TBC adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh baktei Mycobacterium
tuberculosis. Bakteri ini berebtuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal
sebgai Batang Tahan Asam (BTA).
c. Cara masuk ke tubuh manusia (secara langsugn/tidak langsung atau keduanya)
Penyakit TB tidak menular melalui kontak fisik (seperti berjabat tangan) atau
menyentuh peralatan yang telah terkontaminasi bakteri TB. Selain itu, berbagi
makanan atau minuman dengan penderita TB juga tidak menyebabkan seseorang
tertular penyakit ini.

Cacar Air

Varicella ( cacar air ) merupakan salah satu dari penyakit kulit yang disebabkan oleh
virus Zoster (VZV). Varicella yang akut merupakan penyakit yang sangat menular dan
infeksi primer yang erjadi pada anak – anak. Penyakit ini ditandai dengan gejala
prodromal dan efloresensi yang polimirf pada kulit.
a. Mekanisme penularan
Masuknya virus biasanya melalui mukosa saluran pernapasan bagian atas dan
oropharing. Penyebaran virus dapat melalui darah dan limfa ( viremia primer). Virus
ini dipindahkan oleh sistem retikuloendotelial yanf dapat terjadi replikasi virus
selama masa inkubasi terjadi.
b. Penyebab Cacar air
Cacar air disebabkan oleh virus Varicella Zoster yang bisa menular sangat mudah
dan cepat.
c. Cara masuk ke tubuh manusia (secara langsung/tidak langsung atau keduanya)
Infeksi virus ini bisa menyebar melalui udara saat penderita batuk atau bersin, dan
kontak langsung dari lendir, air ludah, atau cairan dari luka lepuh. Penularan ini
terjadi dua hari sebelum ruam muncul hingga seluruh kerak kering pada luka hilang.

Rabies

Rabies (penyakit anjing gila) menrupakan penyakit menular akut yang menyerang
susunan safar pusat pada manusia dan hewan berdarah panas yang disebabkan oleh virus
rabies, ditularkan melalui saliva (aning, kera, dan kucing) yang kena rabies dengan jalan
gigitan atau melalui luka terbuka.

a. Mekanisme penularan
Sumber penularan dari penyakit rabies adalah anjing sebagai sumber penularan
utama. Daya serang virus rabies dimulai setelah virus rabies masuk kedalam tubuh
manusia melalui gigitan hewan, selama sekitar dua minggu virus akan tetap tinggal
ditempat masuk. Selanjutnya virus akan bergerak mencapai ujung – ujung serabut
saraf posterior tanpa menunjukkan perubahan fungsinya. Sepanjang perjalanan
keotak virus rabies akan berkembang biak atau membelah diri (re[plikasi) sampai
diotak dengan jumlah virus maksimal, kemudia menyebar luas kesemua bagian
neuron. Setelah memperbanyak diri pada neuron – neuron sentral maka virus rabies
akan bergerak keseluruh organ dan jaringan tubuh untuk berkembang biak.
b. Penyebab Rabies
Penyebab rabies adalah virus yang bernama rhadovirus pada air liue hewan yan telh
terinfeksi. Hewan yang telah terinfeksi dapat menyebarkan virus dengan menggit
hewan lain atau manusia. Penyakit ini dapat menyebar sat air liur yang terinfeksi
masuk kedalam luka terbuka atau membran mukosa seperti mulut atau mata.
c. Cara masuk ke tubuh manusia (secara langsung/tidak langsung atau keduanya)
Penularan infeksi dapat melalui kontka langsung air liur dengan membran mukosa
atau luka serta dapat melalui gigitan atau cakaran dari hewan yang terinfeksi rabies.

Tifus

Tifus (tipes) atau demam tifoid adalah penyakit yang terjadi karena infeksi bakteri
salmonella tiphy yang menyebar melalui makanan dan minuman yang telah
terkontaminasi.

a. Mekanisme penularan
Tifus dapat menular dengan cepat. Infeksi demam tifoid terjadi ketika seseorang
mengomsumsi makanan atau mianuman yan telah terkontaminasi sejumlah kecil tinja
yang mengandung bakteri. Pada kasus yang jarang terjadi penularan juga bisa
terjadiakibat terkena urine yang terinfeksi bakteri.
b. Penyebab Tifus
Demam tifoid diakibatkan oleh infeksi bakteri salmonella tiphy dan sebagian kecil
juga dapat diakibatkan oleh salmonella para tiphy A,B, dan C.
c. Cara masuk ketubuh manusia (secara langsung/tidak langsung atau keduanya)
Penulan tifus secara tidak langsung melalui makanan yang tercemar bakteri
salmonella. Ini bisa terjadi karena sumber makanan yang tidak sehat atau kebrsihan
yang tidak diperhatikan sebelum bahan makan tersebut diolah. Pada sebagian kasus
ada yang disebabkan karena lalat hinggap pada makanan yang sebelumnya hinngap
di tinja atau kotoran penderita tifus. Dapat juga memlaui tangan dan kuku yang tidak
bersih, melalji air yang digunakan untuk minum atau mencuci piring dan gelas serta
perlatan makan lainnya. Sedangkan secara tidak langsung dapat melalui kulit yang
terbuka akibat luka. Tifus juga dapat menular melaluilingkungan yang tidak bersih

Campak

Campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang termasuk ke dalam
golongan paramixovirus. Campak sangat menular. Biasanya gejalanya berupa naiknya
suhu tubuh, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri otot, hingga ruam pada kulit. Gejala ini
muncul sekitar 7-14 hari setelah terinfeksi virus. Campak merupakan jenis-jenis penyakit
kulit yang pada umumnya menyerang seseorang sekali seumur hidup. Hal ini
dikarenakan setelah mengalami penyakit campak, antibodi tubuh akan terbentuk dengan
baik sehingga kebal pada penyakit campak tersebut. Namun ada kasus bahwa ada
seseorang yang mengalami campak 2-3 kali dalam hidupnya, penyebabnya bukan karena
ia tertular oleh penderita campak lain tapi karena sistem kekebalan dalm tubuhnya
sedang bermasalah.

a. Mekanisme penularan
Campak menular melalui cairan ludah dari penderita ketika batuk ataupun bersin.
Selain mengandung virus yang bisa menularkan penyakit flu, cairan adan udara yang
keluar melalui bersin bisa menularkan penyakit campak pada orang lain. Apalagi
jika orang tersebut menderita campak, dan buruknya lagi cara penularan ini tidak
mengenal usia entah anak-anak atau orang dewasa.
b. Cara masuk ke tubuh manusia (secara langsung /tidak langsung atau keduanya)
Sebenarnya tidak ada salahnya ketika kita bersalaman, berbicara atau berkontak
fisik dengan penderita campak, namun hal yang paling berbahaya adalah cipratan
cairan yang keluar dari mulut atau udara melalui pernafasan penderita yang tidak
sengaja kita hirup. Jika memang tangan penderita bersih dari cairan ketika kita
bersalaman mungkin tidak akan jadi masalah. Cara ini adalah cara penularan yang
paling jarang terjadi. Karena penderita tidak bergairah terhadap hal-hal yang sifatnya
seksual, menahan tubuh dengan rasa nyeri di tubuhnya saja sudah sakit apalagi jika
harus melakukan aktifitas seks seperti berciuman dengan pasangan. Seseorang yang
sehat harusnya sadar dan mawas diri bahwa akan dangat berbahaya jika berciuman
akan meninggalkan penyakit campak pada tubuhnya. Cara penularan campak dapat
terjadi dengan mudahnya bahkan hanya melalui udara saja, dan sering tidak disadari
bahwa diri kita telah melakukan kontak dengan si penderita. Pada anak-anak, tingkat
penyebarannya cenderung rendah dibandingkan orang dewasa. Karena anak-anak
akan senantiasa dijaga oleh orang tuanya dan tidak keluar rumah dalam kondisi
apapun. Tapi berbeda halnya dengan orang dewasa yang masih berkutik pada dunia
kerja dan terkadang tidak mengenal kondisi sendiri. Inilah mengapa orang dewasa
mudah tertular campak dengan mudah dibanding anak-anak. Kemudian yang perlu
diingat adalah jika salah satu anggota keluarga mengalami penyakit campak, maka
bukan tidak mungkin penyakit akan menular ke anggota keluarga yang lain
meskipun tidak kontak fisik. Karena lingkungan yang sama, kamar mandi dan wc
yang sama juga bisa menularkan penyakit campak walau tidak separah melalui udara
dan cairan bersin.

Sifilis

Sifillis atau yang disebut raja singa adalah suatu infeksi menular seksual (IMS). penyakit
ini dapat menjangkit siapapun melalui kontak seksual. sifillis merupakan salah satu
penyakit yang tidak boleh diremehkan karena akan dapat menyebabkan kematian bila
tidak diberikan pengobatan yang pantas.

a. Mekanisme penularan sifilis


1. Stadium Dini
pada sifillis yang didapat T.pallidium masuk ke dalam kulit melalui
mikrolesi atau selaput lendir, biasanya melalui senggama. kuman tersebut
membiak, jaringan bereaksi dengan membentuk infitrat yang terdiri atas sel-sel
limfosit dan sel-sel limfosit dan sel-sel plasma, terutama di perivaskuler,
pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi di kelilingi oleh T. pallidium dan
sel-sel radang. Treponemma tersebut terletak diantara endotelium kapiler dan
jaringan perivaskuler di sekitarnya. Kehilangan pendarahan akan menyebabkan
erosi, pada pemeriksaan klinis tampak sebagai SI. Sebelum SI itu terlihat kumsn
telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan membiak.
Pada saat itu terjadi pula penjalaran hematogen dan menyebar kesemua jaringan
dibadan, tetapi manisfestasinya akan tampak kemudian. multifikasi ini diikuti
oleh reaksi jaringan sebagai SII, yang terjadi 6-8 minggu sesudah SI. SI kan
perlahan-lahan sembuh karena kuman di tempat tersebut jumlahnya berkurang,
kemudian terbentuklah fibrollas-fibrollas dan akhirnya sembuh berupa sikatriks,
SII juga mengalami regresi perlahan-lahan dan lalu menghilang. Tibalah stadium
luten yang tidak disertai gejala, meskipun infeksi yang aktif masih terdapat.
sebagai contoh pada stadium ini seorang ibu dapat melahirkan bayi dengan sifillis
kongenetia.. Kadang-kadang proses imunitas gagal mengontrol infeksi sehingga
T.pallidium membiak lagi pada tempat SI dan menimbulkan lesi rekuren atau
kuman tersebut menyebar melalui jaringan menyebabkan reaksi serupa dengan
lesi rekuren SII, yang terakhir ini lebih sering terjadi daripada yang terdahulu.
Lesi menular tersebut dapat berulang-lang, tetapi pada umumnya tidak melebihi
dua tahun . Sifillis tersebut terdapat pada penderita dengan daya tahan tubuh yang
rendah.
2. Stadium lanjut
Stadium laten dapat berlangsung bertahun-tahun, rupanya treponemma dalam
keadaan dorman. Meskipun demikian antibodi tetap ada dalam serum
penderita.Keseimbangan antara trenomma dan jaringan dapat sekonyong-
konyongnya berubah, sebabnya belum jelas, mungkin trauma merupakan salah
satu faktor prespitasi. Pada saat itu muncullah SIII berbentuk gumma. Meskipun
pada gumma tersebut tidak dapat ditentukan T. pallidium, reaksinya hebat karena
bersifat deskruptif dan berlangsung bertahun-tahun setelah mengalami masa laten
yang bervariasi gumma tersebut timbul di tempat-tempat lain. Treponemma
mencapai sistem kardiovaskuler sistem syaraf pada waktu dini, tetapi keruskan
terjadi perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun tahun untuk
menimbulkan gejala klinis. Penderita dengan gumma biasanya tidak mendapat
gangguan syaraf dan kardiovaskuler, demikian pula sebaiknya. Kira-kira 2/3
kasus dengan stadium laten tidak memberi gejala.
b. Penyebab Sifilis
Pada tahun 1905 penyebab sifillis ditemukan oleh schadium dan Hoffman ialah
Treponemma pallidium yang termasuk dalam ordo Spirochaetales, familly
spirochaetacea, dan genus Treponemma. Bentuknya spiralteratur, panjangnya antara
6,15um, lebar 0,15um,terdiri atas delapan sampai dua puluh empat lekukan.
c. Cara masuk ke tubuh manusia (secara langsung/tidak langsung atau keduanya)
penularan penyakit sifillis ini terjadi secara langsung. karena sifillis terjadi jika
melakukan kontak fisik dengan penderita, melalui kontak dengan cairan tubuh seperti
urine dan darah. diman sifillis ini tidak menular jika menyentuh sesuatu yang
berkaitan dengan pengidap sifillis.

Difteri

memberikan motivasi bagi para penderita yang telah sembuh dari penyakit ini sehingga
mereka tidak dikucilkan dan asingkan oleh sesamnya dan menjadikan mereka berdaya
guna. memberikan asupan gizi yang baik pada penderita agar dapat mencegah efek
samping dari pengobatan

a. Mekanisme Penularan
Corynebacterium dyphtheriae akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel
sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati
inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di
samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan
merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.
b. Penyebab Difteri
Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae, yang dapat menular
melalui partikel di udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang terkontaminasi,
serta menyentuh luka yang terinfeksi kuman difteri.
c. Cara masuk ke tubuh manusia (secara langsung/tidak langsung)Penyakit difteri dapat
di tularkan melalui kontak langsung seperti mealui batuk, bersin serta berbicara.
Sedangkan kontak tidak langsungnya dapat melalui benda-benda yang
terkontaminasi. Serta Sentuhan langsung pada luka borok akibat difteri di kulit
penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan
yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Demam Berdarah

Demam berdarah adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus Dengue yang
masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, seperti
Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor penyakit Demam
Berdarah Dengue (DBD) yang paling banyak ditemukan. Nyamuk dapat membawa virus
dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa
inkubasi virus di dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat
mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitannya (Najmah,
2016).

a. Mekanisme Penularan
Jika orang digigit nyamuk Aedes aegypti maka virus dengue masuk bersama darah
yang diisapnya. Di dalam tubuh nyamuk itu, virus dengue akan berkembang biak
dengan cara membelah diri dan menyebar di seluruh bagian tubuh nyamuk. Sebagian
besar virus itu berada dalam kelenjar liur nyamuk. Dalam tempo 1 minggu jumlahnya
dapat mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu sehingga siap untuk
ditularkan/dipindahkan kepada orang lain. Selanjutnya pada waktu nyamuk itu
menggigit orang lain, maka alat tusuk nyamuk (probosis) menemukan kapiler darah,
sebelum darah itu diisap, terlebih dulu dikeluarkan air liur dari kelenjar liurnya agar
darah yang diisap tidak membeku. Bersama dengan liur nyamuk inilah, virus dengue
dipindahkan kepada orang lain.
b. Penyebab DBD
edes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue
penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, A. aegypti juga merupakan
pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini
sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa
virus dengue, A. aegypti merupakan pembawa utama (primary vector) dan bersama
Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota. Mengingat
keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus mampu mengenali dan
mengetahui cara-cara mengendalikan jenis ini untuk membantu mengurangi
persebaran penyakit demam berdarah.
Terjadinya penularan virus Dengue tidak dapat dilepaskan dari keberadaan
vektornya, karena tanpa adanya vektor tidak akan terjadi penularan. Ada beberapa
vektor yang dapat menularkan virus Dengue tetapi yang dianggap vektor penting
dalam penularan virus ini adalah nyamuk Aedes aegypti walaupun di beberapa
negara lain Aedes albopictus cukup penting pula peranannya seperti hasil penelitian
yang pernah dilakukan di pulau Mahu Republik Seychelles (Metsellar, 1997).
Untuk daerah urban Aedes albopictus ini kurang penting peranannya
(Luft,1996). Selain kedua spesies ini masih ada beberapa spesies dari nyamuk Aedes
yang bisa bertindak sebagai vektor untuk virus Dengue seperti Aedes rotumae, Aedes
cooki dan lain-lain. Sub famili nyamuk Aedes ini adalah Culicinae, Famili Culicidae,
sub Ordo Nematocera dan termasuk Ordo diptera (WHO, 2004).

c. Cara masuk ke tubuh manusia (secara langsung/tidak langsung atau keduanya)


secara tidak langsung yaitu melalui gigitan nyamuk. kerena penyakit ini tidak
seperti flu yang langsung menularkan kepada orang lain tanpa perantara. Sedangkan
demam berdarah penularanya melalui perantara gigitan nyamuk.
2. Tingkat pencegahan dari 10 penyakit yang telah disebutkan
Jawab :
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Pencegahan Tingkat Pertama (primary prevention)
Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan dan
pencegahan khusus terhadap penyakir tersebut meliputi:
a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan
dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal – hal yang dapat
meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA.
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka
kesakitan ISPA.
c. Usaha dibaidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi.
d. Program KIA yang menangani kesegatan ibu dan anak berat badan lahir rendah.
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP)yang menangani masalah
polusi di dalam maupun di luar rumah.

Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)

Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan diagnosa


sedini mungkin. Dalam pelaksanaan P2 ISPA seorang balita keadan penyakitnya
termaksud dalam klasifikasi bukan penumonia apabila ditandai dengan batuk serak,
pilek, panas, atau demam (suhu tubuh lebih dari 37* celcius), maka dianjurkan untuk
segera diberikan pengobatan. Uapay yang dilakukan terhadap klasifikasi ISPA adalah
tanpa pemberian obat anti biotik dan diberikan perawatan di rumah. Adapun
beberapa hal yang perlu diperhatikan ibu untuk mangatasi anaknya yang menderita
ISPA adalah:

a. Mengatasi panas (demam), untuk balita demam diatasi dengan memberikan


dengan parasetamol atau dengan kompres dengan menggunakan kain bersih,
celupkan pada air.
b. Pemeberian makanan dan minuman. Memberikan makanan yang cukup tinggi
gizi sedikit – sedikit tetapi seiring; memberi ASI lebih sering; usahakan
emberikan caira (air putih atau air buah) lebih banyak dari biasanya.
Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)

Tingkat pencegahan ditujukan kepada balita yang memiliki penyakit ISPA agar tidak
menjadi lebih parah dan mengakibatkan kecacatan dan berakhir kematian. Upaya
yang dilakukan pada pencegahan penyakit ISPA pada bayi dan balita yaitu
perhatikan apabila timbul gejala ISPA seperti nafas menjadi sesak, anak tidak mampu
minum dan sakit menjadi parah, agar tidak bertambah bawalah anak kembali pada
petugas kesehatan dan pemberian perawatan yang spesifik di rumah dengan
memperhatikan asupan gizi dan lebih sering memberikan ASI.

2. Diare
Pencegahan Primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada faktor penyebab, lingkungan,
dan faktor pejamu. Untuk faktor penyebab dilakukn berbagai uapay agar
mikroorganisme penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air bersih dan sanitasi
lingkungan, biologis dilakukan untuk memodifikasi lingkungan.untuk meningkatkan
daya tahan tubuh dari penjamu maka dapat dilakuan peningkatan status gizi dan
diberikan harus pemberian imunisasi.

Pencegahan Sekunder
Pencegahan ditngkat kedua ini ditujukan kepada sianak yang telah mendrita diare
atau yang terancam akan menderita yaitu dengan mementukan diagnosa dini serta
pengobatan yang cepat dan tepat, serta untuk mencegah terjadinya akibat samping
dan komplikasi. Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan
pemberian oralit (rehidrasi) dan mengaatsi penyebab diare. Diare daoat disebabkan
oleh banyak faktor seperti salah makan, bakteri, parasit, sampai radang. Pengobatab
yang disesuaikan dengan klinis pasien. Obat diare dibagi menjadi tiga, pertama
kemoperaupetika yang memberantas penyebab diare seperti bakteri atau parasit,
obstipansia untuk menghilangkan gejala diare spasmolitik yang membantu
menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan.

Pencegahan Tertier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami
kecacatan atau kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahap ini penderita diare
diusahakan untuk pengembalian fngsi fisik dan psikologi semaksimal mungkin.
Usaha yang dapat dilakukan yaitu denagn terus mengkomsumsi makanan bergizi dan
menjaga keseimbangan cairan. Rehabilitasi juga dilakukan terhadap mental penderita
dengan tetap memberikan kesempatan dan ikut memberikan dukungan secara mental
kepada anak. Anak ynag mendrita diare selain diperhatikan kebutuhan fisik juga
kebutuhan psikologi harus di penuhi dan kebutuhn sosial dalam berinteraksi atau
bermain dalam pergaulan dengan teman sepermainan.

3. Tuberculosis (TBC)
Fase primer
Pada fase ini di lakukan upaya seperti mempromsikan kesehatan terkait tuberculosis
dan proteksi spesifk seperti vaksinasi BCG secara signifikan yang bisa mengurangi
resiko TB dan penggunaan alat pelindung diri di temapt kerja yang beresiko terkena
TB, terapi pencegahan inosiazid (IPT) dan terapi antiretroviral (ART)

Fase Sekunder
Pada fase ini dilakukan dengan skrining atau penemuan kasus baru yang benar –
benar positif TB dengan melakukan pemeriksaan dahak, diagnosis TB ekstra paru
dengan gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena.

Fase tersier
Pencegahan tersier biasanya berupa upaya rehabilitasi dan paliatif pada penderita Tb
yang umumnya sudah stadium lanjut dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup dan mencegah komplikasi penyakit.

4. Cacar Air
Pencegahan Primer
Pencehan yang meliputi segala kegiatab yang dapat menghentikan kejadian atau
penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Pencegahan primer terdiri dari Health
Promotion (peningkatan kesehatan) berupa melakukan penyuluhan atau penyebaran
leaflet mengenai varicella zoster, dan pengendalian lingkunan seperti higiene
perorangan, imunisasi, penangan dari faktor resiko, dan pengendalian diri dari
lingkungan.

Pencegahan Sekunder
Pencegahan yang ditunjukkan pada invidu dalam keadan sakit yang akan terancam
menderita penyakit komplikasi. Pada tahap ini dilakukan upaya:
Early Diagnose dan Prompt Treatment( diagnosis dini dan pengobatan) yaitu:
a. Diagnosis pemeriksaan laboratorium
Diagnosis laboratorium diperlukan penderita yang dicurigai terkena varicella atau
herpes zoster serta terapi antivirus yang sesuai.
b. Pemberian obat analgesik ( rasa sakit)
c. Memberkan anti virus

Disability lmitation (pembatasab gangguan) yaitu:

a. Pencegahan komplikasi
b. Terapi lanjutan
c. Tidak menyentuh atau menggaruk ruam
d. Memcuci tangan
e. Hindari kontak dengan ibu hamil yang belum terkena cacar atau yang belum
diberi vaksian
f. Kompres basah, Lotin kalamin, dan mandi dengan oatmeal koloid untuk
meringankan gatal

Pencegahan tersier

Upaya pemulihan atau rehabilitasi untuk mencegah bertambah beratnya penyakit atau
kecectan lebih lanjut;

a. Istrahat yang cukup


b. Mengikuti anjuran minum obat
c. Nutrisi ditingkatkan
d. Memberikan dukungan moral
e. Menjauhi tekana dan stres

5. Rabies
Pencegahan primer
Upaya yang dilakukan pada tahap ini :
a. Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing dan hewan
sebangsany didaerha bebas rabies.
b. Memusnahkan aning, kucing, kera dan sebangsanya yang masuk tanpa izin di
daerah bebas rabies.
c. Dilarang melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies ke dareh – daerah
bebas rabies.
d. Melaksankan vaksinasi terhadap aning dan sebangsanya.
e. Pemberian tanda bukti atau pening terhadap setiap hewan yan telah divaksinasi.
f. Mengurangi jumlah populasi anjnig liar tak bertuan dengan jalan pembunuhan
dan pencegahan perkembangbiakkan.
g. Anjing peliharaan tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran harus didaftarkan ke
kantor kepala desa atau petugas dinas peternakan setempat.
h. Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari dua
meter.
i. Menangkap dan melaksanakan obsevasi hewan tersangka penderita rabies,
selama 10 – 14 hari terhadap hewan yang mati selama observasi maka harus
diambil spesimen untuk dikirim ke laboratorium terdekat untuk diangnosa.
j. Mengawsi dengan ketat lalulintas anjing yang bertemapt sehalaman dengan
hewan tersangka rabies.
k. Mebkar dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies sekurang-
kurangnya 1 meter.

Pencegahan Sekunder

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko


tertularnya rabies adalah mencuci luka gigitan dengan sabun atau dengan detergen
selama 5 – 10 menit dibwa air mengalir. Kemudian luka diberi alkohol 70 %atau
yodiumtincture. Setelah itu pergi secepatnya kepuskesmas atau dokter yang terdekat
untuk mendapat pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi
hewan.

Resiko yang dihadapi oleh orang yang mengidap rabies sangat besar. Oleh
karena itu, setiap orang yang digigit oleh hewan tersangka rabies harus sedini
mungkinmendapat pertolongan setelah terjadinya gigtan sampai dapat dibuktikan
bahwa tidak benar adanya infeksi rabies.
Pencegahan Tersier

Tujuan dari tiga tahap pencegahan adalah membatasi atau menghalangi


perkembangan ketidakmampuan, kondisi, atau gangguan sehingga tidak berkembang
ketahap lanjut yang membutuhkan perawatan intensif yang mencakup pembatan
terhadap ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi. Apa bila hewan yan
dimaksud ternyata menderita rabies berdasarkan pemeriksaan klinis arau lab. Dari
dinas peternakan, maka ornag yang digigit atau dijilati tersebut harus segera
mendpatan pengobatan khusus di ubit kesehatan yang mempunyai fasilitas
pengobatan anti rabies dengan lebgkap.

6. Tifus
Pencegahan primer
Melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar selalu menjaga kebersihan diri dan
lingkugan. serta melakukan imunisasi dalam pemberian vaksin tifus bagi anak. meski
demikian vaksin tifoid tidak menjamin 100 persen kebal terhadap bakteri penyebab
tifus.

Pencegahan sekunder

Penyakit ini bisa diatasi dengan antibiotik. Salah satu obat tifus yang sering
diresepkan dokter adalah antibiotik tetracycline seperti doxycycline. Pengobatan
menggunakan antibiotik ini biasanya sudah dimulai sebelum hasil tes darah atau
biopsi diketahui. Obat tifus ini bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan
bakteri penyebab infeksi. Obat ini tidak bekerja untuk infeksi virus (seperti pilek, flu).
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, berlebihan, atau tidak diperlukan dapat
memengaruhi efektivitas obat. Minum obat tifus sesuai anjuran dokter, biasanya
sekali sehari dengan atau tanpa makanan. Minum banyak air saat menggunakan obat
tifus kecuali bila anjuran dokter berbeda. Dosis obat tifus dan lama pengobatan akan
bergantung pada kondisi kesehatan dan respon Anda terhadap pengobatan. Untuk
anak-anak, dosis obat tifus dapat juga berdasarkan berat badan.

Antibiotik bekerja dengan baik saat jumlah obat di tubuh Anda tetap dalam kadar
yang konstan. Jadi, gunakan obat tifus ini dengan interval yang kurang lebih sama.
Kebanyakan orang mulai merasa lebih baik dalam 48 jam (2 hari) setelah memulai
perawatan. Namun, penting untuk tetap melanjutkan penggunaan obat ini hingga
yang diresepkan habis, bahkan jika Anda merasa gejala tifus menghilang setelah
beberapa hari. Menghentikan obat terlalu cepat dapat membuat bakteri lanjut
berkembang, yang akhirnya kembali terinfeksi. Beri tahu dokter jika kondisi Anda
tidak membaik atau justru malah semakin memburuk. Ikuti aturan yang diberikan
oleh dokter atau apoteker sebelum memulai pengobatan. Jika Anda memiliki
pertanyaan, konsultasikanlah pada dokter atau apoteker Anda. Dokter mungkin
meresepkan obat lain untuk meredakan gejala seperti paracetamol untuk menurunkan
demam. Dalam kasus yang parah, orang yang terinfeksi penyakit ini mungkin perlu
dirawat di rumah sakit. Dokter akan menentukan perawatan terbaik yang sesuai
dengan kondisi Anda. Perlu dipahami bahwa makin cepat penyakit ini terdiagnosis,
maka proses pemulihannya pun juga akan semakin cepat

Pencegahan Tersier

Gaya hidup sehat yang disarankan adalah selalu steril terhadap setiap
makanan yang dikonsumsi. Hindari kondisi rawan risiko seperti konsumsi seafood,
sayuran, susu, maupun toilet yang terkontaminasi kotoran manusia/bakteri tipes.

7. Campak
Pencegahann Primer
Pada pencegahan primer d lakukan bebrapa cara yaitu :
a. Mengenal lebih dalam mengenai penyakit campak.
b. Menjaga kondisi fisik dan menghindari strees.
c. Menjaga mutu gizi dan kondisi badan agar tetap sehat.
d. Pencegahan dengan vaksinasi menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan
pada usia 15 bulan setelah kelahiran.

Pencegahan Sekunder
Pada tahap ini dilakukan pengobatan dengan antibiotic, Tidak ada pengobatan khusus
untuk campak.Anak sebaiknya menjalani istirahat.Untuk menurunkan demam,
diberikan asetaminofen atau ibuprofen.Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan atibiotik
Pencegahan Tersier
Pada pendrita campak untuk menghindari bertamabh parahny atau suatu kecacatan,
penderita sebaiknya berdiam diri d rumah.

8. Sifilis
Pencegahan tingkat pertama (primary prevention)
Melakukan kegiatan promosi kesehatan tentang penddikan sex yang baik dan tidak
berganti-ganti pasangan penggunan kondom.

Pencegahan tingka kedua ( secondary prevention)


selalu melakukan pemeriksaan atau skrining terhadap penyakit sifilis atau yang perlu
dilakukan secara rutin pada orang-orang yang memiliki faktor risiko tinggi
mengalami penyakit ini.

Pencegahan tingkat tiga (tertier prevention)


memberikan motivasi bagi para penderita yang telah sembuh dari penyakit ini
sehingga mereka tidak dikucilkan dan asingkan oleh sesamnya dan menjadikan
mereka berdaya guna. memberikan asupan gizi yang baik pada penderita agar dapat
mencegah efek samping dari pengobatan.

9. Difteri
Pencegahan tingkat pertama

Imunisasi merupakan salah satu upaya yang cost effective dan efisien dalam
pencegahan penyakit, termasuk untuk mengendalikan penyakit Difteri. Surveilans
difteri juga dapat digunakan sebagai alat advokasi untuk mendapatkan dukungan yang
kuat dari pemerintah dalam program pengendalian difteri di Indonesia. Melakukan
pemberian vaksin difteri adalah cara terbaik untuk mencegah penyakit ini. Di
Amerika Serikat (AS), ada empat vaksin yang digunakan untuk mencegah difteri,
yaitu: DTaP, Tdap, DT, dan Td. Masing-masing vaksin ini membantu mencegah
difteri dan tetanus.

Pencegahan tingkat kedua


melakukan pengobatan jika telah terinfeksi bakteri penyebab difteri ini yaitu
Untuk membunuh bakteri difteri dan mengatasi infeksi, dokter akan memberikan
antibiotik, seperti penisilin atau erythromycin. Antibiotik perlu dikonsumsi sampai
habis sesuai resep dokter, guna memastikan tubuh sudah bebas dari penyakit difteri.
Dua hari setelah pemberian antibiotik, umumnya penderita sudah tidak lagi bisa
menularkan penyakit difteri.

Pencegahan tingkat ke tiga

Setelah penderita dinyatakan sembuh maka harus meyakinkan kan pada penderita agar
selalu menjaga kesehatan tubuh untuk mencegah penyakit menimbulkan kecacatan.

10. Demam Berdarah


Pencegahan primer
Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit belum mulai (pada
periode pre-patogenesis) agar tidak terjadi proses penyakit yang bertujuan untuk
mengurangi insiden penyakit dengan cara mengendalikan penyebab penyakit dan
faktor risikonya. Tingkat pencegahan primer ini adalah upaya yang dilakukan adalah
untuk memutus mata rantai infeksi.

Pencegahan sekunder

Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah berlangsung


namun belum timbul tanda/gejala sakit (patogenesis awal) agar proses penyakit
tidak berlanjut. Tujuannya adalah untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut
dan mencegah komplikasi. Bentuknya berupa deteksi dini dan pemberian
pengobatan (yang tepat).

Pencegahan Tertier

Pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut (akhir periode
patogenesis) untuk mencegah gangguan fisik dan mengembalikan penderita ke status
sehat/awal. Tujuannya adalah menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil
penderitaan dan membantu penderita-penderita untuk melakukan penyesuaian
terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi