Anda di halaman 1dari 12

Hal

DAFTAR ISI .................................. i

EXECUTIVE SUMMARY .................................. ii

BAB
PENDAHULUAN 1
I
1.1 Latar Belakang .................................. 1

1.2 Visi .................................. 15


1.3 Misi .................................. 15

1.4 Tujuan .................................. 15


BAB PENGELOLAAN
16
II
2.1 Aspek Kelembagaan/Keorganisasian .................................. 16

2.2 Aspek Produksi/Pelayanan ..................................


2.3 Aspek Pemasaran ..................................
2.4 Aspek Keuangan .................................. 18
BAB 20
ANALISIS SWOT
III
3.1 Matriks SWOT .................................. 20
27
BAB
IV PENUTUP

LAMPIRAN
Dokumentasi

Rangkuman Eksekutif

Peternakan sapi merupakan salah satu potensi yang ada di Kelurahan Cigugur selain peternakan ayam dan
babi. Ternak sapi yang ada condong pada pengelolaan sapi perah untuk di manfaatkan susu nya dan dijual
ke koperasi yang ada di wilayah terdekat.

Rata-rata peternak belum bisa memanfaatkan susu sapi sebagai bahan baku olahan. Sebagian masyarakat
di sekitar wilayah peternakan sudah pernah mengolah susu sapi menjadi permen susu atau kerupuk susu
namun banyak menemukan kendala dalam hal ketahanan produk olahan dan pemasaran.
Limbah kotoran sapi dan ternak lainnya juga menjadi salah satu permasalahan di Kelurahan Cigugur. Sungai
geureung menjadi salah satu tempat pembuangan limbah yang mengganggu masyarakat lain hingga ke
beberapa Desa/Kelurahan di sepanjang aliran sungai.

Berdasarkan potensi dan permasalahan tersebut munculah gagasan untuk memanfaatkan susu sapi
menjadi bahan baku produk lanjutan yaitu sabun susu yang masa kadaluarsanya lebih panjang, mudah
dalam pembuatan dan harganya terjangkau sehingga mudah dalam memasarkan.

Selain itu untuk memberi edukasi masyarakat dalam hal pengelolaan limbah ternak adalah melalui
budidaya cacing dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak. Hasil cacing dan kascingnya dapat dijual
atau dimanfaatkan menjadi pakan ikan/ternak dan kascingnya bisa menjadi kompos.

Khususnya dalam hal pemanfaatan kompos akan dilakukan konsep rumah pangan lestari untuk mendukung
kemandirian pangan rumah tangga.

Kunci murah dan mudah untuk dapat hidup sehat sangatlah sederhana jika setiap orang mau meluangkan
waktu untuk melakukan pengolahan dalam pekarangan rumah. Jika dikelola dengan baik pekarangan
rumah dapat memberikan manfaat bagi kehidupan keluarga seperti : tempat bermain, tempat rekreasi,
sumber pangan dan juga sebagai sumber pendapatan.

Usaha pemanfaatan pekarangan sebagai penyuplai gizi keluarga saat ini tersentuh oleh pemerintah melalui
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan yang mulai gencar merintis model Kawasan Rumah Pangan Lestari
(KRPL) yang di fokuskan dewilayah pedesaan yang memiliki luas pekarangan berkisar antara 1-4 Bata..
Diantaranya budidaya tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, tanaman obat keluarga, pemeliharaan
ternak dan ikan serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.

Pada tahap pertama hasil dari budidaya tersebut adalah untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga,
setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi akan dikembangkan pemasaran dan pengolahan hasil untuk
menjadi produk olahan dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga.

Perencanaan usaha ini hanya sebuah konsep sederhana dari sebuah keinginan besar yang ingin
diwujudkan. Dalam realisasinya akan membutuhkan peran serta dukungan banyak pihak yang
berkompeten. Harapan dari perencanaan usaha ini dapat memberikan efek berganda kepada sektor
ekonomi lokal dan menjadi pilot penataan kawasan wilayah perkotaan.

Semoga dapat bermanfaat dan menjadi perhatian dari pihak-pihak yang berkepentingan.
Wassalam

A. Bab I Pendahuluan
Latar Belakang
Visi pembangunan Kabupaten Kuningan yaitu: “Kuningan Mandiri, Agamis dan Sejahtera tahun
2018”. Tahapan pembangunan yang tertuang dalam RPJMD 2014-2018 yaitu :
 Tahap 1 (2014) Pemantapan Sarana Prasarana Ekonomi :
Fokus pada peningkatan kualitas dan cakupan infrastruktur daerah yang menjadi pra-syarat
tumbuh kembangnya perekonomian sampai pelosok daerah.
 Tahap 2 (2015) Pemantapan Produktifitas Daerah: Fokus pada peningkatan produktifitas
sektor unggulan sebagai upaya mewujudkan kemandirian ekonomi daerah. Setiap struktur
ekonomi membutuhkan sektor unggulan yang memimpin perkembangan dan memberikan
daya ungkit bagi pencapaian visi dan misi pembangunan. Sektor unggulan di Kabupaten
Kuningan adalah pertanian dalam kerangka besar agropolitan dan pariwisata berbasis wisata
alam dan budaya.
 Tahap 3 (2016) Pemantapan Sumberdaya Manusia: Fokus pada peningkatan kualitas SDM
daerah untuk mewujudkan daya saing IPTEK, keunggulan budaya dan daya kompetitif tenaga
kerja produktif. Kemampuan pembangunan daerah akan ditentukan oleh kualitas SDM
terutama angkatan tenaga kerja produktif. Peningkatan kualitas lembaga pendidikan dan
pelatihan akan menjadi program unggulan.
 Tahap 4 (2017) Pemantapan Daya Saing Daerah: Fokus pada peningkatan keunggulan
produk barang dan jasa untuk meningkatkan daya saing daerah. Keunggulan kompetitif
daerah akan ditentukan oleh seberapa unggul produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh
daerah. Produk-produk akan didorong untuk mempunyai daya saing dan nilai jual yang tinggi.
 Tahap 5 (2018) Pemantapan Kesejahteraan Rakyat: Fokus pada peningkatan pemerataan
kesejahteraan dan pendapatan masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan yang
berkeadilan.

Kegiatan mata pencaharian masyarakat dimulai dari sebuah usaha dalam memenuhi kebutuhan
rumah tangga yang di awali dari memanfaatkan potensi alam yang ada di sekitar lingkungan.

Sejarah masa lalu sebagai rintisan awal masyarakat melakukan kegiatan usaha masih melekat kuat
karena terhubung erat dengan sisi pengetahuan dan keahlian yang dimiliki.

Potensi alam yang dahulu dimanfaatkan seiring perjalanan waktu akan semakin menyusut karena
eksploitasi dan kerusakan ekosistem.

Peran pemerintah dan kesadaran kita sebagai masyarakat yang memanfaatkan secara langsung
potensi alam tersebut harus segera ditumbuhkan. Selain itu juga harus sudah mulai di sosialisasikan
edukasi tentang pola mata pencaharian masyarakat yang berwawasan lingkungan untuk mendukung
keberlanjutan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat.

Setelah mengingat, melihat dan memperhatikan kondisi tersebut diatas maka kami memiliki gagasan
untuk melakukan penataan pola mata pencaharian masyarakat untuk meningkatkan penghasilan dan
meningkatkan ketahanan pangan melalui pengolahan lanjutan bahan baku susu sapi dan pengolahan
limbah kotoran sapi.

Visi
Peningkatan penghasilan lewat diversifikasi olahan susu sapi dan penguatan ketahanan pangan
dalam memenuhi asupan kebutuhan gizi masyarakat

Misi
1. Meningkatkan kemampuan dan keahlian masyarakat tentang diversifikasi olahan bahan baku
susu sapi menjadi sabun susu
2. Membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pengolahan limbah sapi sehingga
dapat memberikan keuntungan berganda
3. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya asupan gizi dan ketersediaan pangan
yang sehat dan murah
4. Meningkatkan kemudahan pemasaran produk potensial lokal

Tujuan
1. Peningkatan penghasilan masyarakat melalui penjualan produk barang jadi yang sudah dikemas
dan memiliki daya saing.
2. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pengolahan limbah serta kegiatan
usaha yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan
3. Membangun pilot kawasan rumah pangan lestari yang mampu memenuhi asupan gizi dan
kebutuhan pangan yang sehat serta murah
4. Terwujudnya ikon produk khas kelurahan untuk meningkatkan penjualan produk lokal

B. Bab II Pengelolaan
Aspek Kelembagaan/Organisasi
Pemenuhan dalam struktur pengelolaan diantaranya dapat meliputi :
 Pemerintah Kelurahan Cigugur,
 LKM Karya Bhakti Mandiri,
 Ibu-ibu Kader Posyandu,
 Karang taruna,
 Sundawani,
 Jangkar,
 Majelis adat sunda

Sedangkan untuk diluar Kelurahan Cigugur diantaranya bisa berkoordinasi dengan :


 Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kab. Kuningan,
 Dinas Penataan Ruang, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kab. Kuningan,
 Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan Kab. Kuningan,
 Dinas Pertanian Kab. Kuningan,
 Dinas Kesehatan Kab. Kuningan,
 Universitas di Kuningan, STIKKU, Uniku

Struktur organisasi perencanaan, pengelolaan hingga pembinaan usaha tahap awal dapat mencakup
beberapa hal diantaranya :

Pembina : Kepala Kelurahan Cigugur


Pembina
Penanggung jawab Utama : LKM Karya Bhakti Mandiri
Sekretaris :
Penanggung jawab operasional : PJ Utama
Bidang Keuangan :
Sekretaris
 Bagian administrasi dan keuangan
 Bagian logistik PJ operasional
Bidang Konservasi :
 Bagian konservasi dan pengelolaan lingkungan Bid. Bid.
Bid.
Keuangan Konservasi Pemasaran
 Bagian tekhnik dan pengembangan
Bidang Pemasaran :
 Bagian bimbingan dan penyuluhan
 Bagian promosi dan pameran Bag. Admin Bag.
Bag.
& keuangan Promosi &
tekhnik &
pameran
pengemb.

Bag.logistik

Tugas dan tanggung jawab :


Pembina : Melakukan pembinaan agar program dan kegiatan sesuai dengan visi
misi dan aturan yang berlaku
Penanggung jawab utama : Menyusun perencanaan usaha dan melakukan sinkronisasi dengan
pemerintah setempat/pemangku kebijakan dan elemen masyarakat
dalam perencanaan dan pelaksanaan
Sekretaris : Pengelolaan administrasi, kearsipan, surat menyurat, notulen, rumah
tangga dan kelengkapannya
Penanggung jawab operasional : Bertanggung jawab atas semua kegiatan operasional baik tekhnis,
administratif ataupun keuangan, yang dibantu oleh 5 bagian, yaitu :
Bidang Keuangan : Menyusun rencana anggaran dan program berdasarkan dokumen perencanaan,
meliputi sarana dan prasarana, kebutuhan biaya, pengamanan
kawasan, pengelolaan limbah, dan rehabilitasi kawasan yang
mengalami kerusakan
Bagian administrasi dan keuangan : Melaksanakan administrasi keuangan yang menyangkut seluruh kegiatan
Bagian logistik : Melaksanakan pengadaan perlengkapan dan kebutuhan lainnya
Bidang Konservasi : Menyusun rencana dan strategi untuk memenuhi kebutuhan tekhnis
dan pengembangan, pemeliharaan hingga pemenuhan logistiknya
Bagian tekhnik dan pengembangan : Melaksanakan pengukuran, membuat design pengembangan dan
melaksanakan tindak lanjut pemeliharaan
Bidang Pemasaran : Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan
dan pelaksanaan di bidang promosi dan pameran
Bagian promosi dan pameran : Melaksanakan penyusunan bahan dan pengembangan pada bidang
promosi, pameran dan sarana promosi

Aspek Produksi/Pelayanan
Dalam hal aspek pelayanan, jumlah SDM/tenaga kerja yang terlibat dalam hal perencanaan tekhnis ada
15 orang sedangkan dalam hal pelaksanaan membutuhkan 3 sampai 55 orang disesuaikan dengan
kebutuhan pelayanan dan kegiatan di lapangan.
Jenis pelayanan yang disediakan diantaranya dapat berupa :
 Pelatihan pengolahan susu sapi menjadi sabun susu
 Pelatihan budidaya cacing menggunakan media kotoran sapi
 Pilot lokasi pengadaan bibit tanaman pangan yang mudah di budidaya di pekarangan
 Kawasan rumah pangan lestari
 Pusat pemasaran produk lokal khas Kelurahan Cigugur

Aspek Pemasaran
Sistem pemasaran bisa dengan berbagai cara karena berada di kawasan perkotaan dan dalam lalu lintas
sarana transportasi kota, diantaranya adalah :
 Membuat display branding produk yang ditampilkan
 Membuat sarana publikasi untuk produk yang akan dipasarkan
 Mengadakan lomba untuk memperkenalkan produk lokal
 Tempat/toko untuk pemasaran online dan offline
Konsep yang disajikan adalah :
 Mengajak kerjasama dengan peternak sapi perah lokal, produsen kascing, produsen tape ketan,
koperasi susu,
 Penetapan lokasi pilot KRPL
 Sewa tempat pembibitan tanaman pangan dan tempat produksi sabun susu
 Sewa tempat penjualan produk khas Kelurahan Cigugur

Segmen pasar nya mulai dari wisata edukasi untuk siswa sekolah atau perguruan tinggi dan penikmat
makanan dan produk khas lokal. Serta bisa bekerjasama dengan hotel/penginapan dan tempat wisata
dalam setiap pembelian tiket.
Wilayah pemasaran akan lebih dari hanya sekedar wilayah kelurahan saja karena berada di pusat kota.
Selain itu juga lewat pemasaran online bisa menjangkau konsumen dari luar wilayah Kabupaten
Kuningan.
Omzet dan keuntungan khusus untuk penawaran produk lokal harus ditunjang oleh kemampuan
pengusaha tersebut dalam hal penyajian, cita rasa, kualitas bahan dan memiliki daya tarik atas produk
yang ditawarkan. Sehingga ada sisi pembinaan dari pengelola terhadap pengusaha lokal yang ikut
bekerja sama.

Aspek Keuangan
Modal investasi peralatan dan perlengkapan mulai dari proses produksi – kemasan – hingga pemasaran
pembuatan sabun susu, fermentai dan budidaya cacing, budidaya dan pembibitan tanaman pangan.
Biaya yang akan muncul adalah :
 Biaya rutin operasional
 Biaya sewa tempat pembibitan, produksi sabun susu dan pemasaran
 Biaya tenaga kerja
 Biaya ATK
 Biaya transportasi dan komunikasi
 Biaya kebersihan dan pemeliharaan
 Biaya pajak, penyusutan peralatan

Sedangkan modal operasional dalam rangka pembuatan sabun susu, fermentai dan budidaya cacing,
budidaya dan pembibitan tanaman pangan dibutuhkan anggaran kurang lebih sekitar 300 juta rupiah.
Dengan kebutuhan biaya operasional dalam sebulan yaitu :
Biaya sewa tempat Rp. 1.000.000,-
Biaya upah/gaji 3 orang Rp. 1.800.000,-
Biaya listrik dan ATK Rp. 200.000,-
Biaya transportasi dan komunikasi Rp. 300.000,-
Biaya pemeliharaan Rp. 200.000,-
Total Rp. 3.500.000,-

Rencana menggunakan metode penjualan langsung, konsinyasi dan digital marketing


Jika dalam sehari mampu memasarkan :
50 pc sabun susu @ Rp. 2.000,- Rp. 100.000,-
10 kg cacing @ Rp. 16.000,- Rp. 160.000,-
10 karung kascing @Rp. 3.000,- Rp. 30.000,-
10 ember tape ketan@ Rp. 60.000,- Rp. 600.000,-
Total Rp. 890.000,-

Wisata edukasi dan pelatihan yang ditawarkan yaitu :


Pembuatan sabun susu
Olahan kotoran sapi dan budidaya cacing
Pembuatan tape ketan
Rumah pangan lestari

Misalkan estimasi dalam sebulan mampu mendatangkan 60 orang @ Rp. 40.000


Dengan asumsi biaya yang dikeluarkan per orang Rp. 20.000,-
Maka penghasilan bersih sebulan adalah Rp. 20.000 ( x ) 60 orang = Rp. 1.200.000,-

Total dalam sebulan Rp. 890.000,- ( x ) 30 hari kerja = Rp. 26.700.000,-


HPP 60% yaitu Rp. 534.000,- Laba Rp. 356.000,- ( x ) 30 hari kerja = Rp. 10.680.000,-
Laba bersih = Rp. 10.680.000,- ( - ) Rp. 3.500.000,- = Rp. 7.180.000,-
Ditambah Rp. 1.200.000,- sehingga total laba bersih Rp. 8.380.000,-
Sehingga dapat diketahui Return Of Invesmentnya adalah setelah 35 bulan.

C. Bab III Analisis SWOT

Matriks SWOT

STRENGTH (KEKUATAN) WEAKNESS (KELEMAHAN)

1. Potensi Sumber Daya Alam sungai sebagai sumber 1. Minat investasi masih rendah
INTERNAL air bagi lahan pertanian dan perikanan 2. Agama yang dianut sanagt beragam
2. 71% penduduknya ada di usia produktif 3. Pendidikan dan kemampuan wirausaha
3. Adanya lembaga lokal yang peduli lingkungan SDM yang masih rendah
4. Sektor pertanian bisa 3 kali panen dalam 1 tahun 4. Limbah ternak dan RT yang belum
5. Banyak Usaha ternak sapi, babi, ayam dan domba ditangani dengan baik
EKSTERNAL 6.
7.
Memiliki ragam seni dan budaya
Ada usaha tape ketan yang cukup terkenal
5. Manajerial dan inovasi dalam
pengembangan usaha masyarakat yang
8. Ada hotel 1 unit masih rendah
9. Kelompok pertokoan terbanyak se kecamatan dan 6. Tidak ada pasar
ada 2 unit pasar swalayan 7. Ternak babi dianggap lebih murah
10. Ada koperasi susu sapi biaya operasional daripada sapi
11. 41% lahan masih belom produktif
OPPORTUNITY STRATEGI S – O STRATEGI W – O
(KESEMPATAN)
1. Penguatan institusi dan lembaga lokal untuk dapat 1. Optimalisasi pemanfaatan, pengelolaan
melembagakan kebiasaan masyarakat yang dan pemeliharaan Sumber Daya Alam
1. Kelurahan cigugur sebagai pintu 2. Peningkatan kapasitas SDM agar lebih
berwawasan lingkungan
gerbang wisata kabupaten inovatif produktif sehingga mampu
2. Mendorong UMKM melakukan diversifikasi olahan
Kuningan menghasilkan produk yang bermutu
bahan baku lokal untuk meningkatkat value added
2. Visi misi kabupaten Kuningan 3. Mendorong investasi industri pengolahan 3. Pembangunan institusi/lembaga yang
bertumpu pada potensi wisata berbahan baku lokal mendukung peningkatan pendidikan
dan kawasan konservasi 4. Mengintegrasikan konsep eduecotourism dan dan kemampuan wirausaha masyarakat
3. Belum ada produk pengolahan mengembangkan wisata alam dan agro 4. Menciptakan sistem pemasaran yang
susu sapi menjadi sabun susu 5. Membangun system marketing untuk membangun dapat meningkatkan penjualan produk
4. Ada program rumah pangan lestari brand yang dikenal luas lokal dan memberi branding/ikon pada
di pemkab Kuningan kelurahan
5. Membuat forum komunikasi antar
lembaga untuk meningkatkan
partisipasi dalam pembangunan
THREAT (ANCAMAN) STRATEGI S – T STRATEGI W – T

1. Kebijakan pemerintah kurang 1. Meningkatkan koordinasi dengan elemen dalam 1. Membangun kerjasama dengan
berpihak pada pengembangan perencanaan pembangunan dalam rangka berbagai pihak untuk meningkatkan
potensi lokal peningkatan peningkatan pendapatan masyarakat kompetensi masyarakat melalui
2. Issu rasis dan konflik antar agama 2. Melakukan edukasi kepada masyarakat tentang standarisasi dan sertifikasi keahlian
3. Pembauran dengan budaya luar kemanfaatan penataan potensi daerah dan untuk menghadapi persaingan global
saat potensi wisata dikembangkan menyusun skema pengolahan limbah ternak yang 2. Peningkatan kesepahaman aparat
4. Banyak sampah dari pengunjung bermanfaat bagi masyarakat birokrasi terkait potensi, permaslahan,
lokasi wisata 3. Membangun sentra pemasaran komoditas hasil peluang dan ancaman dalam
5. Perebutan lahan produksi masyarakat di jalur utama percepatan pembangunan ekonomi
usaha/kepemilikan usaha 4. Membangun system informasi komoditas hasil melalui sinkronisasi program dan
produksi masyarakat untuk mencegah permainan kegiatan guna mewujudkan integrated
harga dari pemilik modal economics
5. Membangun fungsi BDS (Business Development
Services) untuk melakukan pendampingan bagi
UMKM (Pelatihan, Perijinan, Pemasaran dll)

D. Bab IV Penutup
Potensi kondisi alam pada awalnya menjadi sumber mata pencaharian penduduk. Seiring peningkatan
laju pertambahan penduduk maka berkembanglah jenis mata pencaharian masyarakat untuk memenuhi
kebutuhannya. Sarana dan prasarana infrastruktur pendukung pun terus dibangun. Dampak yang
ditimbulkan dari laju pertumbuhan penduduk dan pembangunan tersebut adalah berkurangnya
perhatian terhadap pengelolaan dan pemeliharaan potensi alam.

Memperhatikan kondisi tersebut lahirlah konsep livelihood sebagai penunjang keberlanjutan kegiatan
mata pencaharian masyarakat yang berpihak pada kearifan lokal.
Konsep livelihood yang mendasari penyusunan rencana usaha skala kelurahan Cigugur ini memiliki visi
yaitu Peningkatan pendapatan lewat diversifikasi olahan susu sapi dan penguatan ketahanan pangan
dalam memenuhi asupan kebutuhan gizi masyarakat

Beberapa tujuan diantaranyanya adalah :


 Peningkatan penghasilan masyarakat melalui penjualan produk barang jadi yang sudah dikemas
dan memiliki daya saing.
 Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pengolahan limbah serta kegiatan
usaha yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan
 Membangun pilot kawasan rumah pangan lestari yang mampu memenuhi asupan gizi dan
kebutuhan pangan yang sehat serta murah
 Terwujudnya ikon produk khas kelurahan untuk meningkatkan penjualan produk lokal membuat
fasilitas sistem pemasaran terpadu dalam satu wilayah kelurahan,
 memfasilitasi peningkatan kapasitas kewirausahaan SDM dan mutu produk UKM dengan
metode branding di tingkat Kelurahan,
 meningkatkan ketahanan pangan dengan mempertahankan/tidak merubah fungsi lahan
pertanian sebagai sumber mata pencaharian penduduk,
 dan dapat memberikan inspirasi untuk menstimulasi kegiatan serupa di tempat lain.

Besar harapan kami agar visi dan tujuan ini dapat dipahami dan didukung oleh berbagai pihak yang
terkait dan berkepentingan. Sehingga tujuan akhir kami dalam rangka peningkatan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat di tingkat kelurahan dapat segera diwujudkan.

E. Lampiran-lampiran

Potensi peternakan
sapi perah di
Kelurahan Cigugur Kondisi
saat ini
Peternak sapi perah kebanyakan dilakukan oleh
masyarakat secara turun temurun dan sapi dijadikan
asset saat membutuhkan biaya besar utk pendidikan

Peternak sapi perah menjual susu ke Limbah kotoran sapi cenderung dialirkan atau Ngagobyag day pesta rakyat ala
koperasi dan belum mengolah susu ke dibuang ke sungai untuk mengurangi warga cigugur dlm mewujudkan
produk lain karena tidak memiliki waktu pencemaran udara di sekitar kandang yang ketahanan pangan MBR belum
yang cukup utk diolah lebih lanjut dekat dengan permukiman disikapi serius

Dgn melaksanakan

Diversifikasi olahan
ilustrasi susu sapi dan pilot
rumah pangan lestari

Melalui
Peningkatan pendapatan
masyarakat lewat diversifikasi
Pengolahan lanjutan susu sapi
dan pengolahan lanjutan hasil
menjadi produk sabun susu yang
produksi susu sapi perah
lebih tahan lama

Dan Peningkatan keahlian peternak


sapi dan masyarakat sekitar ttg
Akan
pengolahan susu sapi
menduk
Pengolahan limbah sapi menjadi
kompos melaluiung
budidaya cacing Peningkatan kesadaran dan
pemahaman tentang
pengolahan limbah ternak bagi
pemenuhan kebutuhan asupan
gizi masyarakat

Peningkatan ketahanan pangan


masyarakat setempat