Anda di halaman 1dari 25

MID TEST

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

OLEH :

UCHI FAUZIAH TOMBILI

J1A118089

REGULER “A”

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2020
Tuliskan 10 penyakit menular diserai mekanisme penularan, penyebab dan
cara masuknya ekdalam tubuh proses (langsung/tidak langsung) atau
keduanya?

1. Penyakit Influenza

Influenza atau yang lebih umum dikenal dengan flu adalah penyakit menular
yang paling umum diderita oleh orang-orang. Influenza ini disebabkan oleh virus.
Virus influenza adalah virus yang setiap waktunya bermutasi, sehingga sistem
imunitas tubuh sulit mendeteksi virus yang satu ini. Karena sulitnya sistem imun
tubuh mendeteksi virus influenza ini, maka tubuh cenderung lebih mudah terkena
flu. Bahkan tubuh dapat beberapa kali terkena flu dalam waktu yang berdekatan.

a) Mekanisme penularan penyakit influenza :

Virus influenza dapat menular antar manusia dalam tiga cara: (1) melalui
kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, (2) melalui kontak dengan benda
yang terkontaminasi (disebut fomites, seperti mainan, pegangan pintu), dan (3)
jika menghirup virus (serat aerosol). Kontribusi setiap cara penularan keseluruhan
influenza tidak diketahui. Namun, untuk mengendalikan penularan virus influenza
dalam pengaturan perawatan kesehatan mencakup langkah-langkah yang
meminimalkan penyebaran oleh aerosol dan mekanisme fomite.

b) Penyebab penyakit influenza:

Penyebab influenza atau common cold adalah virus. Sedikitnya ada 100


jenis virus yang dapat menyebabkan influenza. Namun di antara banyaknya jenis
virus tersebut, yang paling sering adalah rhinovirus. Virus tersebut sangat
menular. Virus penyebab influenza atau common cold mudah ditularkan melalui
ludah yang dibatukkan atau dibersinkan oleh penderitanya. Selain itu, tangan
ataupun benda- benda lain yang terkontaminasi virus juga dapat menjadi media
berpindahnya virus.

c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia :

1) Sehari - dua hari pertama


Ini adalah awal mula masuknya virus flu ke dalam saluran
pernapasan. Virus flu memasuki tubuh dengan berbagai cara: terhirup
saat orang lain bersin atau batuk, atau menyentuh barang yang
terkontaminasi virus flu dan tangan membawanya mendekati mulut,
hidung, atau mata. Sejak saat masuk, virus akan bergabung dengan sel
tubuh dan bereplikasi. Di hari pertama dan kedua sejak virus
memasuki tubuh, tubuh belum merasakan apapun. Namun demikian,
tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari sakit flu yang akan
datang sesaat lagi. Bukan hanya karena seseorang belum merasakan
sakit, tetapi juga karena virus flu sedang menuju puncak 'kejayaannya'
dalam tubuh.

2) Hari-hari selanjutnya, hingga satu minggu


Sel imun kini telah dikudeta virus flu. Mereka berreplikasi dan
imunitas tubuh menjadi turun seketika. Meski begitu, tubuh ternyata
tidak mudah mengalah. Tubuh memproduksi sel imun lebih banyak
dan memperbaikin sistem imun tubuh, agar tidak ada sel lain yang
terinfeksi virus flu.
Di saat inilah, tubuh baru merasa lemas, kepala pusing, kedinginan,
bahkan otot terasa pegal-pegal. Di saat ini Anda baru sadar, ternyata
Anda sedang sakit. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk
meredakan rasa sakit akibat flu, misalnya minum teh hangat dan
mengonsumsi obat flu.
Jika Anda rasa perlu, Anda bisa mengunjungi dokter dan meminta
obat yang lebih 'cespleng'. Namun, hal terbaik yang dapat Anda
lakukan adalah: istirahat. Beristirahatlah di rumah. Jangan paksakan
diri tetap beraktivitas, sebab selain kerja menjadi tidak optimal, Anda
juga berisiko menularkan flu pada rekan kerja Anda di kantor.
3) Hari-hari terakhir
Akhirnya! Sistem imun tubuh berangsur pulih, virus flu pun dapat
disingkirkan. Inflamasi yang terjadi selama masa flu, kini mereda dan
kembali sehat. Pada masa ini, masih ada rasa sakit yang tertinggal,
misalnya batuk-batuk dan sakit tenggorokan. Namun demam dan rasa
pegal-pegal sudah menyingkir dari tubuh.

2. Penyakit Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan


oleh bakteri basil. Bakteri basil yang menginfeksi adalah bakteri basil yang sangat
kuat. Akibtanya, akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengobati penyakit
ini. Bakteri ini 90% cenderung menginfeksi paru-paru jika dibandingkan dengan
organ-organ lainnya pada tubuh manusia. Penyakit ini biasanya ditandai dengan
batuk terus menerus.

a) Mekanisme penularan penyakit Tuberkulosis (TBC)


TBC adalah penyakit yang menyerang pernapasan. Maka penularannya
pun melalui pernapasan. Berdekatan dengan penderita TBC dapat memungkinkan
kita untuk tertular. Selain itu, ketika penderita TBC batuk pun, bisa jadi itu
merupakan  sarana penularan TBC.Selain itu, penggunaan barang pribadi secara
bergantian dengan penderita TBC aktif, seperti gelas dan sendok pun dapat
menjadi jembatan penularan TBC.

b) Penyebab penyakit Tuberkulosis (TBC)

TBC (tuberkulosis) disebabkan oleh infeksi kuman dengan nama yang sama,
yaitu Mycobacterium tuberculosis. Kuman atau bakteri ini menyebar di udara
melalui percikan ludah penderita, misalnya saat berbicara, batuk, atau bersin.
Meski demikian, penularan TBC membutuhkan kontak yang cukup dekat dan
cukup lama dengan penderita, tidak semudah penyebaran flu. Makin lama
seseorang berinteraksi dengan penderita TBC, semakin tinggi risiko untuk
tertular. Misalnya, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TBC.

Pada penderita TBC yang tidak menimbulkan gejala (TBC laten), kuman
TBC tetap tinggal di dalam tubuhnya. Kuman TBC dapat berkembang menjadi
aktif jika daya tahan tubuh orang tersebut melemah, seperti pada penderita AIDS.
Namun, TBC laten ini tidak menular. Seperti telah dikatakan sebelumnya,
penularan TBC tidak semudah flu, sehingga Anda tidak akan tertular TBC jika
hanya sekadar berjabat tangan dengan penderita TBC.
c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia :

Penyakit TBC dapat menyebab dan menyerang orang tubuh, ada beberapa
gejala yang dapat dilihat pada penderita antara lain:

1) Batuk lebih dari 3 minggu

2) Sakit di bagian dada

3) Batuk berdarah

4) Merasa kelelahan sepanjang waktu

5) Berkeringat dingin di malam hari

6) Menggigil

7) Demam
8) Kehilangan selera makan

9) Penurunan berat badan.

Jika Anda mengalami salah satu dari gejala-gejala di atas, tidak ada
salahnya untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan
salah satu jenis tes untuk menentukan langkah pengobatan jika memang Anda
menderita TBC.

3. Penyakit Tifus

Tifus adalah penyakit infeksi pada usus halus yang disebabkan oleh
bakteri salmonella.Biasanya ditandai dengan demam yang suhunya naik secara
bertahap hingga membuat pendeita menggigil. Biasanya demam terjadi di malam
hari dan mereda, kemudian akan naik lagi di malam berikutnya. Gejala yang lain
dapat berupa  sakit kepala, sakit di bagian perut, denyut jantung menurun, sampai
kehilangan nafsu makan.

a) Mekanisme penularan penyakit Tifus

1) Melalui makanan yang tercemar bakteri salmonella. Ini bisa terjadi


karena sumber makanan yang tidak sehat ataupun pembersihan yang
tidak baik sebelum bahan makanan tersebut dimakan. Bahkan pada
sebagian kasus, ada yang disebabkan menempelnya lalat pada
makanan yang sebelumnya hinggap di tinja atau kotoran milik
penderita tifus. Akhirnya lalat tersebut menjadi perantara penularan
tifus.

2) Melalui tangan dan kuku yang tidak bersih, sehingga tanpa kita sadari
bakteri salmonella yang bisa saja terdapat pada tangan dan kuku kita
masuk ke dalam mulut.

3) Melalui air yang digunakan untuk minum atau mencuci piring dan
gelas dan peralatan makan lainnya. Untuk itulah beberapa ahli
mengatakan bahwa bahaya air minum isi ulang wajib diwaspadai.

4) Melalui kulit. Bakteri ini dapat masuk lewat kulit yang terkoyak akibat
luka. Bisa luka bekas operasi, terjauth, atau luka lainnya.

5) Tifus juga dapat menular melalui lingkungan yang tidak bersih.

b) Penyebab penyakit Tifus


Tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii yang masuk ke dalam usus
manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri tersebut,
hingga berkembang biak di saluran pencernaan. Gejala-gejala seperti
demam, sakit perut, sembelit, atau diare akan timbul ketika bakteri ini
berkembang biak di saluran pencernaan.
Beberapa faktor risiko penyakit tifus, di antaranya:
1) Sanitasi buruk. Di negara seperti Indonesia, penyebaran
bakteri Salmonella typhii biasanya terjadi melalui konsumsi air yang
terkontaminasi tinja yang yang mengandung bakteri Salmonella typhii,
juga dari makanan yang dicuci dengan menggunakan air yang
terkontaminasi. Kondisi ini terutama disebabkan oleh buruknya sanitasi
dan akses air bersih.
2) Bakteri juga dapat menyebar jika orang yang telah terinfeksi tidak
mencuci tangan sebelum menyentuh atau mengolah makanan. Penyebaran
bakteri terjadi ketika ada orang lain yang menyantap makanan yang
tersentuh tangan penderita.
3) Mengonsumsi sayur-sayuran yang menggunakan pupuk dari kotoran
manusia yang terinfeksi.
4) Mengonsumsi produk susu yang telah terkontaminasi.
5) Menggunakan toilet yang terkontaminasi bakteri. Anda akan terinfeksi jika
menyentuh mulut sebelum mencuci tangan setelah buang air.
6) Melakukan seks oral dengan pembawa bakteri Salmonella typhii.
Jika tidak segera diobati, Salmonella typhii akan menyebar ke seluruh tubuh
dengan memasuki pembuluh darah. Gejala tifus akan diperburuk jika bakteri telah
menyebar ke luar sistem pencernaan. Selain itu, bakteri yang menyebar dapat
merusak organ dan jaringan, serta menyebabkan komplikasi serius. Kondisi yang
paling umum terjadi adalah perdarahan internal atau usus bocor.
c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia

Penyakit tifus ini tergolong penyakit yang mudah menular. Kita perlu
mengetahui bagaimana ciri-ciri dari penyakit tifus ini agar kita segera bisa
mendeteksinya sejak dini, dengan begitu kita akan bisa mengambil tindakan yang
cepat dan tepat. Gejala dari penyakit tifus yang bisa dideteksi adalah:

1) Diawali dengan demam tinggi


2) Seminggu kemudian disertai pusing dan nyeri di dada

3) Biasanya muncul bercak-cercak pada tubuh dan di tangan

4) Perut terasa nyeri dan merasa mual

5)  Demam tak kunjung turun hingga 2 minggu

Jika Anda sudah mengalami gejal tersebut maka secepatnya Anda lakukan
tindakan medis dengan membawanya ke klinik atau rumah sakit terdekat.
Biasanya Anda akan di rekomendasikan untuk menjalani rawat inap sampai
penderita sembuh total.

4. Penyakit Pneumonia

Pneumonia atau radang paru-paru adalah suatu peradangan yang


disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit lainnya. Peradangan terjadi pada
pulmonary alveolus (alveoli) yang seharusnya bertugas untuk menyerap oksigen
dari atmosfer. Akan tetapi karena terjadinya peradangan, organ ini menjadi terisi
cairan sehinggapenyerapan oksigen terganggu dan menyebabkan sulit bernapas.
Gejalanya dmulai dari demam, batuk, hingga mengalami kesulitan bernapas.

a) Mekanis penularan penyakit Pneumonia

Melalui udara yang tercemar oleh bakteri, virus, atau parasit penyebab
pneumonia. Begitu juga udara yang terpapar penyebab pneumonia yang berasal
dari penderita.

b) Penyebab penyakit Pneumonia

Virus dan bakteri penyebab pneumonia dapat dengan mudah keluar melalui
hidung atau mulut saat bersin dan kemudian menginfeksi tubuh yang lain. Pasalnya,
bakteri dan virus dapat dikeluarkan dengan mudah saat seseorang bernapas.

c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia

Gejala yang umum muncul jika Anda terkena penumonia (paru-paru basah),
antara lain:

1) Batuk terus-terusan, dengan disertai dahak


2) Demam

3) Berkeringat

4) Menggigil

5) Susah bernapas

6) Dada sakit

7) Nafsu makan menurun

8) Detak jantung terasa cepat

Sementara, gejala yang cukup jarang terjadi tetapi bisa tetap muncul seperti:

1) Kepala sakit

2) Lemas dan lelah

3) Mual dan muntah

4) Nyeri sendi dan otot

5) Batuk disertai dengan darah

Beberapa gejala tersebut umum dan sering terjadi pada orang yang mengalami
penyakit pneumonia dan akan berlangsung sekitar 24-48 jam. Namun, hal ini
tergantung juga dengan kondisi masing-masing individu. Bahkan penyakit
pneumonia pada anak juga dapat menimbulkan gejala yang berbeda. Berikut
adalah gejala yang akan muncul saat penyakit pneumonia pada anak terjadi:

1) Anak di bawah usia 5 tahun, bisa mengalami napas yang cepat dan tidak
teratur.
2) Bayi akan menunjukkan gejala muntah-muntah, lemas, tidak berenergi,
dan sulit makan serta minum.

5. Penyakit AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndorme)

AIDS adalah penyakit yang menyerang pada sel-sel darah putih yang
bertugas untuk membentuk kekebalan tubuh. Akibatnya, daya tahan tubuh
menjadi merosot dan sangat mudah dihinggapi berbagai macam penyakit. AIDS
dapat menyebabkan kematian.
a) Mekanisme penularan penyakit AIDS

Penularan atau penyebaran virus HIV yang terutama dan justru yang
paling harus diwaspadai adalah lewat hubungan intim. Seseorang yang menderita
atau sudah terkena infeksi virus HIV lalu kemudian berhubungan badan dengan
pasangannya, maka pasangannya pun akan berisiko tinggi terkena infeksi virus
yang sama.

Penularan virus lewat cairan dari organ intim sangat berbahaya dan kini
kasus-kasus seperti ini angkanya pun semakin meningkat. Bahkan media ini pun
juga dianggap yang paling gampang untuk menyebarkan virus HIV. Salah satu
penyebabnya jelas adalah karena saking banyaknya tempat-tempat prostitusi baik
itu yang sudah terang-terangan atau tempat yang terselubung.

b) Penyebab penyakit AIDS

HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Human


Immunodeficiency Virus. Adapun AIDS adalah kondisi yang terdiri dari
kumpulan gejala terkait pelemahan sistem imun ketika infeksi HIV sudah
berkembang parah dan tidak ditangani dengan baik.

c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia

Infeksi Human Immunodeficiency Virus pada umumnya tidak


menampakkan wujud yang jelas di awal masa paparan. Kebanyakan ODHA tidak
menunjukkan tanda atau gejala HIV/AIDS yang khas dalam beberapa tahun
pertama terinfeksi.

Jikalau mengalami gejala, kemungkinan intensitas yang dirasakan tidak


begitu jelas atau ciri-ciri yang muncul kerap disalahpahami sebagai penyakit lain
yang lebih umum. Anda mungkin juga sudah memiliki HIV tetapi masih terlihat
sehat, bugar, dan bisa berkegiatan normal selayaknya orang sehat lainnya.

Infeksi Human Immunodeficiency Virus umumnya memakan waktu


hingga 2 sampai 15 tahun sampai bisa memunculkan gejala pasti. HIV tidak akan
langsung merusak organ tubuh Anda. Virus tersebut perlahan menyerang sistem
kekebalan tubuh dan melemahkannya secara bertahap sampai kemudian tubuh
Anda menjadi rentan diserang penyakit, terutama infeksi.

6. DBD (Demam Berdarah Dengue)

DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang
dibawa oleh nyamuk Aedes aegeypti Betina. Gejala yang umum terjadi adalah
demam tinggi pada beberapa hari, sakit pada persendian, munculnya bintik-bintik
merah, turunnya trombosit secara drastis, dan bisa terjadi pendarahan.
a) Mekanisme penularan penyakit DBD
Ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegepty betina.

b) Penyeab penyakit DBD

Penyebab demam berdarah dengue adalah virus dengue yang disebarkan


lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Biasanya pergelangan
kaki dan leher menjadi bagian tubuh yang umum digigit nyamuk. Terdapat 4 virus
dengue, yaitu virus DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Setelah nyamuk
pembawa virus menggigit, virus akan masuk dan mengalir dalam darah manusia
kemudian menginfeksi sel-sel kulit terdekat yang disebut keratinosit.

Virus dengue juga menginfeksi dan berkembang biak di dalam sel


Langerhans, sel kekebalan khusus yang ada di lapisan kulit. Sel Langerhans
normalnya bekerja membatasi penyebaran infeksi secara terus-menerus. Namun,
sel yang sudah terinfeksi virus itu selanjutnya pergi ke kelenjar getah bening dan
menginfeksi lebih banyak sel sehat. Penyebaran virus dengue menghasilkan
viremia, yang merupakan tingkat tinggi dari virus dalam aliran darah.

c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia

Demam berdarah atau dengue hemorrhagic fever (DBD) merupakan


jenis penyakit yang disebabkan oleh virus dengue melalui perantara nyamuk
Aedes aegypti sebagai tempat hidup dan vektor utamanya. Nyamuk Aedes aegypti
menularkan virus penyebab demam berdarah tersebut melalui gigitan kecil ke
dalam kulit manusia.

Ketika masuk ke dalam tubuh manusia, virus dengue akan bereaksi


terhadap sistem kekebalan tubuh kita. Reaksi antara virus dan kompenen
kekebalan ini menimbulkan kerusakan pembuluh darah kapiler.

Pembuluh darah menjadi lebih rapuh, bahkan mengalami kebocoran


sehingga isinya 'merembes' ke jaringan sekitar. Kebocoran ini pun
memaksa trombosit untuk menutupinya, semakin banyak trombosit yang
digunakan hingga jumlahnya berkurang mencapai titik terendah. Jika sudah
demikian, maka tubuh tidak mampu lagi untuk menutup kebocoran tersebut
sehingga menimbulkan reaksi perdarahan spontan.

7. Penyakit Panu
Panu adalah infeksi pada kulit yang ditandai dengan munculnya bercak
putih hingga cokelat yang bersisik halus. Penyakit ini sering ditemukan pada
daerah tropis dan subtropis yang bersuhu hangat dan lembap. Orang dari semua
umur bisa terkena panu, terutama remaja. Cara mencegah panu adalah dengan
menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat dan hindari berbagi barang
pribadi dengan orang lain (seperti handuk, celana dalam, dan baju).

a) Mekanisme penularan penyakit Panu

penyebaran penyakit panu juga akan kami jelaskan disini. Pola penyebaran atau penularan
panu biasanya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak bersih. Biasanya kebiasaan orang
tersebutlah yang memicu munculnya panu. Panu menular dari kebiasaan-kebiasaan seperti
berikut: 

1) Keringat berlebih yang kemudian mengering di kulit sehingga mengakibatkan rasa


lengket pada kulit. Keringat adalah sisa metabolisme yang dikeluarkan oleh tubuh.
Keringat biasanya kotor dan apabila bercampur bakteri akan menimbulkan bau. Jangan
biarkan keringat terus menempel hingga mengering di kulit, karena hal ini ikut
menempelkan kotoran di pori-pori kulit.namun perlu anda ketahui bahwa keringat juga
memiliki manfaat, anda dapat membaca "Manfaat Keringat bagi Kesehatan Tubuh"

2) Kebiasaan jarang mandi atau kurang menjaga kondisi kebersihan badan. Idealnya setiap
orang mandi sehari 2 kali, itupun dengan cara mandi yang benar dan bersih. Jadi tidak
sekedar mengguyurkan air ke seluruh tubuh, namun dengan menggosok-gosok kulit agar
kotoran yang masih menempel dapat terlepas.

3) Tertular panu dari penderita lainnya melalui media seperti pakaian atau handuk yang
digunakan bersama.

b) Penyebab penularan penyakit Panu

Panu disebabkan oleh jamur Malassezia furfur. Jamur ini sebenarnya dapat


ditemukan pada kulit yang sehat. Namun, baru menyebabkan infeksi bila tumbuh
secara berlebihan. Pemicu tumbuhnya jamur secara berlebihan antara lain:

1) Kulit yang berkeringat dan berminyak

2) Cuaca yang panas dan lembap

3) Berusia remaja atau awal 20-an

4) Mengalami penurunan sistem imun tubuh

c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia

Masuknya panu didalam tubuh manusia Gejala yang ditimbulkan dari panu
antara lain:
1) Bercak yang berwarna lebih muda dari warna kulit sekitarnya pada orang
dengan kulit berwarna, atau tampak sebagai bercak lebih gelap pada orang
dengan kulit pucat.

2) Bentuknya bulat atau tidak beraturan, dapat berbatas tegas atau tidak tegas.

3) Jika diraba, terasa ada sisik halus dan tipis.

4) Bercak panu sering ditemukan pada kepala, muka, leher, bagian atas dada,
ketiak, lengan, perut, lipat paha, dan kaki. Biasanya muncul pada daerah
yang tertutup pakaian dan bersifat lembap.

Di samping itu, panu juga bisa menyebabkan gatal- gatal ringan, terutama saat
berkeringat.

8. Penyakit Rabies

Rabies atau yang dikenal juga dengan istilah “anjing gila” adalah infeksi
virus pada otak dan sistem saraf. Penyakit ini tergolong sangat berbahaya karena
berpotensi besar menyebabkan kematian. Pada tahun 2017, di Indonesia terdapat
lebih dari 25.000 kasus gigitan hewan penular rabies yang diberi vaksin anti
rabies, namun tetap ada 90 korban meninggal.

a) Mekanisme penularan penyakit Rabies

penyakit rabies bisa menular melalui tiga cara:

1. Penularan rabies dari hewan ke manusia, bisa melalui gigitan, jilatan (air
liur) pada selaput mukosa, luka terbuka, anus, dan genitalia.

2. Penularan rabies dari manusia ke manusia. Hal ini bisa terjadi ketika orang
yang sudah terinfeksi rabies berinteraksi atau melakukan kontak langsung
air liur dengan orang lain, misalnya lewat berciuman.

3. Penularan rabies dari orang ke orang. Ditjen P2P Kemenkes menyebut


bahwa transplantasi kornea mata pada pasien rabies juga mempertinggi
risiko penularan penyakit ini.  

Namun, tidak semua gigitan atau cakaran hewan liar/peliharaan akan


menyebabkan rabies. Penularan penyakit ini juga ditentukan oleh lokasi dan
tingkat keparahan gigitan. Dibutuhkan waktu yang relatif lama bagi virus rabies
untuk menuju saraf melalui sumsum tulang belakang, sebelum akhirnya sampai ke
otak. Oleh karena itu, pasien yang baru terkena gigitan anjing rabies masih punya
peluang besar untuk sembuh dengan menjalani terapi atau suntik anti rabies.
b) Penyebab penyakit Rabies
Virus penyebab rabies ditularkan oleh anjing melalui gigitan, cakaran, atau
air liur. Namun, terdapat pula hewan lain yang dapat membawa virus rabies dan
menularkannya ke manusia, seperti kucing, kera, musang, bahkan kelinci. Pada
kasus yang tergolong sangat jarang, penularan virus rabies juga dapat terjadi dari
manusia ke manusia, melalui transplantasi organ.
c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia
Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies dan menular pada manusia
lewat gigitan atau cakaran hewan penderita rabies atau dapat pula lewat luka yang
terkena air liur hewan penderita rabies. Walaupun jarang ditemukan, virus rabies
ini dapat ditularkan ketika air liur hewan yang terinfeksi mengenai selaput lendir
seseorang seperti kelopak mata, mulut atau kontak melalui kulit yang terbuka.
Penularan rabies dapat pula terjadi melalui pendedahan pada konjungtiva, selaput
lendir mulut, organ genital dan abrasi oleh air liur penderita rabies. Zinke tahun
1804 adalah orang pertama yang mendemonstrasikan virus rabies di dalam air liur
melalui transmisi buatan pada anjing. Uji coba pertama telah membuktikan bahwa
agen rabies pada orang dan anjing adalah sama, melalui karya Magendie dan
Breschet tahun 1813 yang berhasil menginfeksi anjing dengan air liur pasien
orang menderita rabies.

9. Penyakit Cacingan
Cacingan adalah penyakit yang masih marak di Indonesia. Hal ini dapat
disebabkan karena kurangnya kesadaran dalam menerapkan pola hidup sehat dan
sanitasi yang buruk. Pada penderita cacingan, akan ditemukan cacing pada
tubuhnya, biasanya cacing ini dapat dikeluarkan lewat buang air besar, ataupun
dari mulut dan hidung.
a) Mekanisme penularan penyakit Cacingan
proses penularan cacingan pada manusia itu sendiri adalah sebagai berikut :

 Penularan melalui daging hewan yang dikonsumsi sehari-hari seperti


daging sapi, kerbau dan babi. Ketiga hewan tersebut memang terbukti
mengandung larva cacing pita atau sistisekus.

 Makanan, minuman dan lingkungan yang tidak bersih dan memungkinkan


tercemar oleh telur cacing pita tersebut.

 Penularan terhadap penderita di mana tinjanya yang mengandung telur


cacing pita atau segmen tubuh (prolglotid).

Nah itulah penjelasan mengenai cara penularan cacing pita pada manusia. Setelah
mengetahui cara penularannya tersebut maka perlunya dilakukan pengendalian
supaya persebaran cacing pita pada diri manusia jumlahnya tidak semakin banyak.
Cara pengendaliannnya salah satunya adalah dengan memutuskan siklus hidupnya
dengan beberapa obat yang telah direkomendasikan oleh dokter yaitu Atabrin,
Librax dan Niclosamide. Sedangkan untuk pencegahan dari hewan itu sendiri
harus dilakukan vaksinasi pada ternak terutama pada babi.

b) Penyebab penyakit Cacingan

Ada berbagai cara cacing menginfeksi manusia hingga akhirnya menyebabkan


seseorang mengalami cacingan, seperti:

1) menyentuh objek yang memiliki telur cacing (terutama jika Anda tidak
mencuci tangan setelahnya)

2) menyentuh tanah, mengonsumsi makanan atau cairan yang


mengandung telur cacing

3) berjalan tanpa menggunakan alas kaki di atas tanah yang mengandung


cacing

4) makan makanan mentah atau kurang matang yang mengandung cacing.

c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia

Masuknya cacingan didalam tubuh manusia antara lain :

1. Menembus telapak tangan atau kaki. Umumnya, anak-anak bertelanjang


tangan dan kaki ketika mengeksplorasi lingkungannya. Masalahnya, larva cacing
tambang yang sangat kecil dapat masuk menembus telapak tangan dan kaki.

2. Tertular karena sentuhan.  Anak yang terinfeksi cacingan dapat menularkan


atau memindahkan larva cacing dari tubuhnya kepada anak lain melalui sentuhan.

3. Jajanan. Jajanan berisiko mengandung larva cacing karena terbawa angin dan
hingga di jajanan tersebut.

4. Tangan dan kuku yang kotor. Ingat selalu ya, Ma, kalau tangan yang kotor
serta kuku yang panjang dapat menjadi media masuknya cacing ke dalam tubuh.
Oleh karena itu, selalu perhatikan kebersihan kuku anak. Membersihkan dan
memotong kuku secara teratur harus dilakukan untuk mencegah cacingan.

Selain itu, anak juga disarankan minum obat cacing yang


direkomendasikan  dokter secara rutin tiap 6 bulan. Obat cacing dapat diberikan
mulai anak usia dua tahun, karena biasanya mereka sudah main keluar, bermain
tanah, atau bermain kotor-kotoran lainnya.
10. Penyakit Rubella

Rubella adalah campak Jerman yang disebabkan oleh virus rubella.


Umumnya penyakit ini menjangkiti anak-anak dan remaja. Gejala yang dialami
penderita rubella biasanya adalah demam, iritasi ringan pada mata, hidung
tersumbat, mual dan mntah, munculnya ruam di kulit yang menyebar,
membengkaknya kelenjar getah bening, sertanyeri sendi.

a) Mekanisme penularan penyakit Rubella

Menular melalui titik-titik air di udara yang berasal dari batuk atau bersin
penderita rubella.

b) Penyebab penyakit Rubella

Rubella disebabkan oleh infeksi virus yang menular dari satu orang ke


orang lain. Seseorang bisa terserang rubella ketika menghirup percikan air liur
yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin. Kontak langsung dengan benda
yang terkontaminasi air liur penderita juga memungkinkan seseorang mengalami
rubella. Selain melalui beberapa cara di atas, virus rubella juga dapat menular dari
ibu hamil ke janin yang dikandungnya, melalui aliran darah.
c) Cara masuknya kedalam tubuh manusia
Gejala masuknya rubella kedalam tubuh muncul 2 sampai 3 minggu sejak
terpapar virus, dan dapat berlangsung selama 1-5 hari. Gejalanya meliputi:
 Ruam merah yang bermula di wajah, lalu menyebar ke badan dan tungkai.
 Demam.
 Sakit kepala.
 Pilek dan hidung tersumbat.
 Tidak nafsu makan.
 Mata merah.
 Nyeri sendi, terutama pada remaja wanita.
 Muncul benjolan di sekitar telinga dan leher, akibat pembengkakan
kelenjar getah bening.

Gejala yang timbul akibat rubella biasanya ringan, sehingga sulit terdeteksi.
Namun begitu seseorang terinfeksi, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dalam
waktu 5-7 hari. Periode yang paling rentan untuk menularkan penyakit ini pada
orang lain adalah pada hari pertama sampai hari kelima setelah ruam muncul.
Mencari 10 penyakit menular disertai tingkat pencegahannya?

1. Penyakit Influenza

1. Pencegahan primer

Pencegahan primer dapat dilakukan dengan vaksinasi influenza.


Efektivitas vaksinasi influenza diklaim dapat memberikan perlindungan hingga 90
persen pada individu yang sehat berusia kurang dari 65 tahun. WHO pun
merekomendasikan vaksin dilakukan setahun sekali sesuai dengan tipe virus
influenza yang sedang beredar. " Vaksin dapat diberikan kapan pun asalkan
seseorang dalam keadaan sehat. Hanya saja kendala pada vaksin influenza adalah
biaya yang belum ditanggung pemerintah dan hanya tersedia di rumah sakit besar
saja," ujar Iris.

2. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan menggunakan masker,


mencuci tangan yang bersih dengan sabun, dan mengonsumsi vitamin, terutama
vitamin C. Iris menganjurkan agar semua hal itu dilakukan setiap hari. Semoga
dengan mengenali gejala influenza dan menerapkan langkah-langkah tersebut, kita
dapat tetap sehat dan bugar terhindar dari penyakit influenza.

2. Penyakit Tuberkulosis (TBC)


1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer Salah satu langkah untuk mencegah TBC
(tuberkulosis) adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin).
Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan
sebelum bayi berusia 2 bulan. Bagi yang belum pernah menerima vaksin BCG,
dianjurkan untuk melakukan vaksin bila terdapat salah satu anggota keluarga yang
menderita TBC.
TBC juga dapat dicegah dengan cara yang sederhana, yaitu mengenakan
masker saat berada di tempat ramai dan jika berinteraksi dengan penderita TBC,
serta sering mencuci tangan.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder Walaupun sudah menerima pengobatan, pada bulan-
bulan awal pengobatan (biasanya 2 bulan), penderita TBC juga masih dapat
menularkan penyakit. Jika Anda menderita TBC, langkah-langkah di bawah ini
sangat berguna untuk mencegah penularan, terutama pada orang yang tinggal
serumah dengan Anda:
 Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa, atau kenakan Apabila
menggunakan tisu untuk menutup mulut, buanglah segera setelah
digunakan.
 Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.
 Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya dengan
sering membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari
dapat masuk.
 Jangan tidur sekamar dengan orang lain, sampai dokter menyatakan TBC
yang Anda derita tidak lagi menular.

3. Penyakit Tifus

1. Pencegahan Primer

Cara mencegah penyakit tipes (tifus) sebenarnya sangat banyak sekali.


Mungkin anda semua sudah tahu kalau penyakit tipes dapat menular. Penularan
penyakit tipes bisa dari makanan, minuman atau kotoran yang sudah
terkontaminasi bakteri salmonella typhi. Ada beberapa hal yang harus anda
lakukan untuk mencegah penyakit tipes ini. Pertama jangan sembarangan makan
makanan atau jajan di pinggir jalan, karena kita tidak pernah tahu bagaimana
makanan tersebut diolah dan juga tentang kebersihannya. Ketika membeli
makanan diluar, coba lihatlah apakah tempat makan tersebut cukup higienis atau
tidak. Terkadang banyak makanan yang proses pengolahannya seperti
penggorengan atau masaknya kurang bersih. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor
pemicu dan penyebab penyakit tipes yang perlu anda hindari.

2. Pencegahan Sekunder

Cara mencegah penyakit tipes (tifus) yang kedua adalah dengan


mengurangi makan telur mentah atau setengah matang. Terkadang didalam telur
yang belum matang masih terdapat bakteri yang berbahaya. Makan makanan yang
bergizi, olahraga yang cukup, istirahat yang cukup, dan atur pola makan
sehat dengan baik dapat menurunkan resiko terkena penyakit tipes. Jika anda
melakukan hal-hal tersebut, ini sudah bisa membuat anda terhindari dari penyakit
tipes. Selain itu dengan daya tahan yang tinggi akan membuat anda terhindar dari
berbagai macam penyakit yang tentu saja tidak akan mengganggu segala bentuk
aktifitas anda. Langkah-langkah tersebut memang terlihat sederhana, namun jika
anda melakukannya dengan sungguh-sungguh tentu saja dapat membuat anda
terhindari dari penyakit tipes yang menyerang organ pencernaan ini.
4. Penyakit Pneumonia

1. Pencegahan Primer

Pencegahan pneumonia dapat kita lakukan dengan langkah-langkah


sederhana. Beberapa di antaranya:
 Menjalani vaksinasi. Vaksin merupakan salah satu langkah agar terhindar
dari pneumonia. Beberapa vaksin yang dapat diberikan untuk mencegah
pneumonia antara lain vaksin Hib dan vaksin PCV. Harap diingat bahwa
vaksin pneumonia bagi orang dewasa berbeda dengan anak-anak.
 Mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan
menjalankan pola hidup sehat, seperti cukup beristirahat, mengonsumsi
makanan bergizi, dan rutin berolahraga.
 Menjaga kebersihan. Contoh paling sederhana adalah sering mencuci
tangan agar terhindar dari penyebaran virus atau bakteri penyebab
pneumonia.
 Berhenti merokok. Asap rokok dapat merusak paru-paru, sehingga paru-
paru lebih mudah mengalami infeksi.
 Hindari konsumsi minuman beralkohol. Kebiasaan ini akan menurunkan
daya tahan paru-paru, sehingga lebih rentan terkena pneumonia beserta
komplikasinya.

2. Pencegahan Sekunder

Tidak ada cara untuk mencegah paru yang kolaps, meskipun risiko
kekambuhannya dapat dikurangi. Jika pasien pernah mengalami pneumonia,
kemungkinan lain akan terjadi dalam 2 tahun.

Beberapa tips untuk mencegah kekambuhan pneumothorax adalah:

 Berhenti merokok: Merokok meningkatkan risiko pneumotoraks, sehingga


pasien dianjurkan untuk berhenti.
 Hindari perjalanan udara sampai 1 minggu setelah resolusi lengkap telah
dikonfirmasi oleh rontgen dada.
 Harus berhenti melakukan olahraga menyelam menyelam secara permanen
kecuali strategi pencegahan definitif yang sangat aman telah dilakukan
seperti operasi.
 Tindak lanjuti dengan dokter Pasien. Jika memiliki gangguan pernapasan,
jadwalkan kunjungan rutin dengan dokter.

5. Penyakit AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndorme)

1. Pencegahan Primer

Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap
sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal
yang paling penting, terutama dalam merubah perilaku.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah upaya pencegahan
AIDS adalah dengan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi), yaitu memberikan
informasi kepada kelompok risiko tinggi bagaimana pola penyebaran virus AIDS
(HIV), sehingga dapat diketahui langkah-langkah pencegahannya. Ada 3 pola
penyebaran virus HIV, yakni :

1. Melalui hubungan seksual.

HIV dapat menyebar melalui hubungan seks pria ke wanita, wanita ke pria
maupun pria ke pria. Hubungan melalui seks ini dapat tertular melalui cairan
tubuh penderita HIV yakni cairan mani, cairan vagina dan darah.

Upaya pencegahannya adalah dengan cara, tidak melakukan hubungan


seksual bagi orang yang belum menikah, dan melakukan hubungan seks hanya
dengan satu pasangan saja yang setia dan tidak terinfeksi HIV atau tidak
berganti-ganti pasangan. Juga mengurangi jumlah pasangan seks sesedikit
mungkin. Hindari hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi menular
AIDS serta menggunakan kondom pada saat melakukan hubungan seksual
dengan kelompok risiko tinggi tertular AIDS dan pengidap HIV.

2. Melalui darah.

Penularan AIDS melalui darah terjadi dengan cara transfusi yang


mengandung HIV, penggunaan jarum suntik atau alat tusuk lainnya
(akupuntur, tato, tindik) bekas digunakan orang yang mengidap HIV tanpa
disterilkan dengan baik. Juga penggunaan pisau cukur, gunting kuku, atau sikat
gigi bekas pakai orang yang mengidap virus HIV.

Upaya pencegahannya dengan cara, darah yang digunakan untuk transfusi


diusahakan terbebas dari HIV dengan memeriksa darah donor. Pencegahan
penyebaran melalui darah dan donor darah dilakukan dengan skrining adanya
antibodi HIV, demikian pula semua organ yang akan didonorkan, serta
menghindari transfusi, suntikan, jahitan dan tindakan invasif lainnya yang
kurang perlu.

Upaya lainnya adalah mensterilisasikan alat-alat (jarum suntik, maupun


alat tusuk lainnya) yang telah digunakan, serta mensterilisasikan alat-alat yang
tercemar oleh cairan tubuh penderita AIDS. Kelompok penyalahgunaan
narkotika harus menghentikan kebiasaan penyuntikan obat ke dalam badannya
serta menghentikan kebiasaan menggunakan jarum suntik bersamaan. Gunakan
jarum suntik sekali pakai (disposable).

3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya.

Penularan dapat terjadi pada waktu bayi masih berada dalam kandungan,
pada waktu persalinan dan sesudah bayi dilahirkan serta pada saat menyusui.
ASI juga dapat menularkan HIV, tetapi bila wanita sudah terinfeksi pada saat
mengandung maka ada kemungkinan bayi yang dilahirkan sudah terinfeksi
HIV. Maka dianjurkan agar seorang ibu tetap menyusui anaknya sekalipun
HIV.

Bayi yang tidak diberikan ASI berisiko lebih besar tertular penyakit lain
atau menjadi kurang gizi. Bila ibu yang menderita HIV tersebut mendapat
pengobatan selama hamil maka dapat mengurangi penularan kepada bayinya
sebesar 2/3 daripada yang tidak mendapat pengobatan.

2. Pencegahan Sekunder

Infeksi HIV/AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara


progresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat
berakhir pada kematian. Sementara itu, hingga saat ini belum ditemukan obat
maupun vaksin yang efektif. sehingga pengobatan HIV/AIDS dapat dibagi dalam
tiga kelompok sebagai berikut :

1. Pengobatan suportif yaitu pengobatan untuk meningkatkan keadaan umum


penderita. Pengobatan ini terdiri dari pemberian gizi yang baik, obat
simptomatik dan pemberian vitamin.

2. Pengobatan infeksi opurtunistik merupakan pengobatan untuk mengatasi


berbagai penyakit infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS. 28
Jenis-jenis mikroba yang menimbulkan infeksi sekunder adalah protozoa
(Pneumocystis carinii, Toxoplasma, dan Cryptotosporidium), jamur
(Kandidiasis), virus (Herpes, cytomegalovirus/CMV, Papovirus) dan bakteri
(Mycobacterium TBC, Mycobacterium ovium intra cellular, Streptococcus,
dll). Penanganan terhadap infeksi opurtunistik ini disesuaikan dengan jenis
mikroorganisme penyebabnya dan diberikan terus-menerus.
3. Pengobatan antiretroviral (ARV), ARV bekerja langsung menghambat
enzim reverse transcriptase atau menghambat kinerja enzim protease.
Pengobatan ARV terbukti bermanfaat memperbaiki kualitas hidup,
menjadikan infeksi opurtunistik Universitas Sumatera Utara menjadi jarang
dan lebih mudah diatasi sehingga menekan morbiditas dan mortalitas dini,
tetapi ARV belum dapat menyembuhkan pasien HIV/AIDS ataupun
membunuh HIV.

3. Pencegahan Tersier

ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar


penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin

6. DBD (Demam Berdarah Dengue)

1. Pencegahan Primer
Adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit belum
mulai (pada periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar tidak terjadi proses
penyakit.
a) Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain
dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSM), Pengelolaan sampah padat,
modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan
manusia, dan perbaikan desain rumah
b) Biologis
Pengendalian Biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang) dan bakteri (Bt.H-14).
c) Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan: Pengasapan (dengan
menggunakan malathion dan Vention), berguna untuk mengurangi
kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan bubuk
abate (Temetphos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, Gentong
air, vas bunga, kolam, dsb. Cara yang paling efektif dalam mencegah
penyakit DBD adalanh dngan Mengkombinasikan cara-cara diatas, yang
disebut dengan ‘3M Plus’, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain
itu, juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan
jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur,
memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent,
memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dan lain-lain sesuai
dengan kondisi setempat.

2. Pencegahan Sekunder

Adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit


berlangsung namun belum timbul tanda/ gejala sakit (Patogenesis awal) dengan
tujuan proses penyakit tidak berlanjut. Diagnosis dini dan pengobatan segera
Diagnosa demam berdarah dengue adalah Diagnosa ditegakkan dari gejala klinis
dan hasil pemeriksaan darah :
1. Trombositopeni, jumlah trombosit kurang dari 100.000 sel/ mm3
2. Hemokonsentrasi, jumlah hematokrit meningkat paling sedikit 20% diatas rata-
rata.

3. Pencegahan Tersier

Adalah pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut


(akhir periode patogenesis) dengan tuuan untuk mencegah cacat dan
mengembalikan penderita ke status sehat.

Pengobatan penderita demam berdarah adalah dengan cara :

a) Pengantian cairan tubuh


- Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter sampai 2 liter dalam 24 jam.
- Gastroenteritis oral solution atau kristal diare yaitu garam elektrolid
( oralit kalau perlu 1 sendok makan setiap 3 sampai 5 menit )
b) Penderita sebaiknya dirawat di rumah sakit diperlukan untuk mencegah
terjadinya syok yang dapat terjadi secara tepat.

c) Pemasangan infus NaCl atau Ringer melihat keperluanya dapat


ditambahkan, Plasma atau Plasma expander atau preparat hemasel.

d) Antibiotik diberikan bila ada dugaan infeksi sekunder

7. Penyakit Panu

1. Pencegahan Primer

Berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan untuk meningkatkan


efektivitas pengobatan sekaligus mencegah kambuhnya penyakit panu:

1) Jangan menggunakan produk-produk perawatan kulit


yang mengandung minyak. Gunakan produk yang tidak mengandung
minyak (non-comedogenic).

2) Gunakan pakaian longgar. Hal ini bagus untuk mencegah keringat berlebih


saat cuaca panas dan lembab.
3) Lindungi kulit anda dari sinar matahari. Anda bisa menggunakan tabir
surya 20 menit sebelum bepergian ke luar rumah. Pastikan untuk
menggunakan tabir surya yang menawarkan UVA dan UVB, faktor
perlindungan matahari (SPF) 30 atau lebih, dan tidak
mengandung minyak (non-comedogenic).

4) Menggunakan sampo anti jamur (sampo selsun) setiap hari selama


beberapa hari, setiap sebelum terkena paparan sinar matahari.

5) Kenakan kain berpori-pori, seperti katun, untuk mengurangi keringat dan


kelembaban.

6) Jaga kebersihan kulit dengan mandi minimal 2 kali sehari.

7) Hindari makanan yang meningkatkan produksi keringat seperti makanan


pedas.

2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan kedua Meskipun penyakit panu bukan termasuk penyakit kulit


yang berbahaya, namun penyakit ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari
penderitanya. Penyakit ini juga bisa mengganggu penampilan jika area kulit yang
terkena adalah area yang terlihat jelas, misalnya panu di wajah, di lengan, atau
pundak yang akan menurunkan rasa percaya diri penderitanya. Oleh karena itu,
melakukan pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati. Lakukanlah hal-hal
yang bisa mencegah pertumbuhan jamur menjadi tidak terkontrol agar terhindar
dari penyakit kulit ini.

8. Penyakit Rabies

1. Pencegahan Primer

cara menangani penyakit rabies secara primer, vaksin apa dan bagaimana
kita mengobati sakit anjing gila akan diulas berikut ini: Penularan penyakit rabies
lewatcara gigitan sangat banyak terjadi, umumnya penularan melalui gigitan
hewan terinfeksi. Masa inkubasi atau periode waktu mulai dari terkena virus
rabies hinggamenimbulkan gejala dapat bervariasi pada setiap orang. Biasanya
berkisar antara 3-8 minggu, tetapi dapat juga menjadi sependek 9 hari ataupun
selama 7 tahun. Lamanya waktu inkubasi tersebut tergantung pada beberapa hal.
Seperti tingkat parahnya luka. Lokasi dari gigitan & kerentanan seseorang
terhadap infeksi. Orang yang daya tahan tubuhnya kurang kemungkinan besar
lebih rentan untuk mengalami rabies. Pada manusia, gejala penyakit rabies
biasanya ditandai dengan demam, batuk atau sakit tenggorokan. Dan dalam
jangka waktu beberapa hari diserta dengan gejala lain yang lebih berat seperti
halusinasi & kejang.

2. Pencegahan Sekunder

Cara yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penyakit rabies pada
manusia adalah dengan menghilangkan kemungkinan penyakit rabies pada anjing
melalui vaksinasi. Vaksinasi pada hewan (terutama anjing) telah mengurangi
angka kejadian penyakit rabies pada manusia di berbagai negara. Sampai saat ini
belum ada obat untuk penyakit rabies ketika gejala penyakit tersebut sudah
muncul, oleh karena itu pencegahan sangat penting untuk dilakukan.

9. Penyakit Cacingan
1. Pencegahan Primer
Pantat gatal, merupakan salah satu gejala untuk jenis cacing Enterobius
vermicularis. Pada spesies cacing ini, indung cacing keluar dari lubang anus,
biasanya di malam hari ketika kita tidur, dan meletakkan telurnya di daerah peri-
anal (sekeliling anus). Dengan menggunakan selotip, contoh telur-telur dapat
diambil dan dapat dilihat dengan bantuan mikroskop untuk diagnosa.
Penyakit cacingan sering dianggap sebagai penyakit yang sepele oleh
sebagian besar kalangan masyarakat. Padahal penyakit ini bisa menurunkan
tingkat kesehatan anak. Di antaranya, menyebabkan anemia, IQ menurun, lemas
tak bergairah, ngantuk, malas beraktivitas serta berat badan rendah. Gejala
penyakit cacingan pun akan sulit dideteksi, jika jumlah cacing yang bersarang
dalam tubuh masih sedikit.
2. Pencegahan Sekunder
Cara masuknya cacing ke dalam tubuh beraneka ragam. Cacing gelang
yang bersarang dalam tubuh dengan jumlah telur infektif 100.000-200.000 perhari
biasanya masuk melalui makanan. Untuk cacing cambuk, telur infektif yang ada
di dalam tubuh sebanyak 3000-5000 dalam waktu 3-6 minggu biasanya juga
masuk lewat makanan.
Sedangkan telur cacing tambang biasanya bisa berkembang dalam tubuh
lewat makanan dan kulit. Telur cacing cambuk yang infektif bisanya berjumlah
9000-10.000 dalam waktu 3 hari. Berkembangnya penyakit ini juga dipengaruhi
banyak faktor mulai dari faktor iklim tropis, kebersihan tubuh, sanitasi
lingkungan, sosial ekonomi dan kepadatan penduduk.
10. Penyakit Rubella

1. Pencegahan Primer
Rubella dapat dicegah dengan imunisasi Rubella. Di Indonesia, imunisasi
Rubella diberikan dalam bentuk imunisasi MMR atau MR. Jenis imunisasi ini
diberikan pada usia 15 bulan. Kemudian diulangi lagi pada usia 5 tahun.
Bila orang dewasa belum menerima imunisasi ini, imunisasi MR atau
MMR juga dapat diberikan pada orang dewasa asalkan tidak sedang hamil. Pada
wanita, sebaiknya tidak merencanakan kehamilan dalam 1 bulan setelah imunisasi
Rubella.
Selain dengan imunisasi, tindakan lain yang juga bisa dilakukan untuk
mencegah penyebaran Rubella adalah:
1) Menghindari kontak dengan penderita Rubella, khususnya jika Anda
belum pernah mendapatkan vaksin MMR atau MR
2) Menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan, misalnya saat Anda
pulang dari bepergian atau melakukan kontak dengan penderita Rubella

2. Pencegahan Sekunder
Setelah penderita rubella semakin banyak berjatuhan, dapat disimpulkan
bahwa penyakit ini tidak dapat diobati. Pengobatan yang diberikan kepada
penderita sayangnya hanya bersifat sementara. Namun, rubella bisa dicegah
dengan dilakukan imunisasi sejak usia dini.
Mengingat penyakit ini berasal dari virus RNA berbeda rantai, peneliti
menemukan kombinasi vaksin yang bisa mencegah seseorang dari tertularnya
virus ini. Vaksin tersebut disebut dengan Measles-Rubella atau MR.