Anda di halaman 1dari 13

Hal

DAFTAR ISI ............................. i

EXECUTIVE SUMMARY ............................. ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang ............................. 1

1.2 Visi ............................. 15

1.3 Misi ............................. 15

1.4 Tujuan ............................. 15

BAB II PENGELOLAAN 16

2.1 Aspek Kelembagaan/Keorganisasian ............................. 16

2.2 Aspek Produksi/Pelayanan .............................

2.3 Aspek Pemasaran .............................

2.4 Aspek Keuangan ............................. 18

BAB III ANALISIS SWOT 20

3.1 Matriks SWOT ............................. 20

PENUTUP 27
BAB IV

LAMPIRAN

Dokumentasi

Rangkuman Eksekutif

Semakin meningkatnya kebutuhan hidup rumah tangga perlu disertai dengan peningkatan
pendapatan. Beberapa hal yang dapat kita rasakan dari terus bertambahnya biaya hidup yaitu
bertambahnya biaya hidup sehari-hari dengan bertambahnya jumlah tanggungan (anak), biaya
pendidikan seiring bertambahnya usia anak, biaya kesehatan, dan lain-lain. Sedangkan dari sisi
makro yaitu naiknya biaya listrik, bensin, kebutuhan barang pokok.

Kondisi tersebut diatas seringkali membuat kita mengabaikan kebutuhan yang kurang dianggap
penting seperti misalnya biaya perawatan rumah, kebutuhan kebersihan lingkungan yaitu
pengelolaan air limbah dan sampah rumah tangga, biaya kebutuhan pencegahan kebakaran, biaya
pemeliharaan jalan lingkungan, drainase depan rumah serta kebutuhan pemeliharaan sumber air
bersih untuk memenuhi kecukupan air minum, mandi dan cuci yang suatu saat akan terus berkurang
bahkan habis jika kita tidak ada kepedulian untuk ikut serta dalam pemeliharaannya.

Sektor UKM yang berkembang di Desa Karangtawang membutuhkan perhatian lebih agar
eksistensinya terus bertahan sebagai mata pencaharian berkelanjutan dan mampu menjelma
menjadi ikon Desa yang mampu bertahan di era globalisasi saat ini.

Mendasari kebutuhan tersebut maka lahirlah sebuah perencanaan usaha skala kelurahan yang
harapannya mampu mengakomodir beberapa potensi di Desa Karangtawang dan dapat
dikembangkan menjadi sektor usaha potensial yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Penyusunan konsep awal adalah sebuah kegiatan usaha dengan modal kecil sekitar Rp. 500.000,-
sampai dengan Rp. 1.000.000,- untuk beternak lebah madu. Dengan sedikit pelatihan dan
bekerjasama dengan dinas terkait usaha tersebut tidak terlalu membutuhkan banyak waktu dalam
pengelolaannya. Sehingga pelaku bisa memiliki kegiatan usaha lain yang bisa dijalankan.

Konsep berikutnya adalah pelatihan pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Kemudian
membuat gerakan GEMA BUTA HEJO yaitu Gerakan Bersama Ibu-ibu Tanam Pohon Melinjo dan
jambu air. Penanamannya dimulai dari sekitar pekarangan rumah. Tujuannya adalah untuk
memfasilitasi kebutuhan hulu dari produksi emping melinjo dan tape ketan yang selama ini banyak
mengandalkan dari luar wilayah Desa Karangtawang.

Konsep perencanaan ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah kabupaten yang mencanangkan
kabupaten Kuningan sebagai kabupaten konservasi.

Perencanaan usaha skala kelurahan ini sebagai bentuk mewujudkan ketahanan UKM melalui
pemenuhan kebutuhan faktor produksi usaha masyarakat dan melakukan branding Desa sebagai
bentuk metode pemasaran untuk menarik konsumen dari luar daerah sehingga mampu
meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Semoga dapat bermanfaat dan menjadi perhatian dari pihak-pihak yang berkepentingan.
Wassalam

A. Bab I Pendahuluan
Latar Belakang
Visi pembangunan Kabupaten Kuningan yaitu: “Kuningan Mandiri, Agamis dan Sejahtera
tahun 2018”. Tahapan pembangunan yang tertuang dalam RPJMD 2014-2018 yaitu :
 Tahap 1 (2014) Pemantapan Sarana Prasarana Ekonomi :
Fokus pada peningkatan kualitas dan cakupan infrastruktur daerah yang menjadi pra-
syarat tumbuh kembangnya perekonomian sampai pelosok daerah.
 Tahap 2 (2015) Pemantapan Produktifitas Daerah: Fokus pada peningkatan
produktifitas sektor unggulan sebagai upaya mewujudkan kemandirian ekonomi
daerah. Setiap struktur ekonomi membutuhkan sektor unggulan yang memimpin
perkembangan dan memberikan daya ungkit bagi pencapaian visi dan misi
pembangunan. Sektor unggulan di Kabupaten Kuningan adalah pertanian dalam
kerangka besar agropolitan dan pariwisata berbasis wisata alam dan budaya.
 Tahap 3 (2016) Pemantapan Sumberdaya Manusia: Fokus pada peningkatan kualitas
SDM daerah untuk mewujudkan daya saing IPTEK, keunggulan budaya dan daya
kompetitif tenaga kerja produktif. Kemampuan pembangunan daerah akan ditentukan
oleh kualitas SDM terutama angkatan tenaga kerja produktif. Peningkatan kualitas
lembaga pendidikan dan pelatihan akan menjadi program unggulan.
 Tahap 4 (2017) Pemantapan Daya Saing Daerah: Fokus pada peningkatan
keunggulan produk barang dan jasa untuk meningkatkan daya saing daerah.
Keunggulan kompetitif daerah akan ditentukan oleh seberapa unggul produk barang
dan jasa yang dihasilkan oleh daerah. Produk-produk akan didorong untuk
mempunyai daya saing dan nilai jual yang tinggi.
 Tahap 5 (2018) Pemantapan Kesejahteraan Rakyat: Fokus pada peningkatan
pemerataan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat untuk mewujudkan
kesejahteraan yang berkeadilan.

Desa Karangtawang dikenal dengan industri rumah tangganya yaitu emping melinjo, karena
hampir di tiap RT ibu rumah tangga membuat keripik emping melinjo terutama pusatnya di
kampung Babakan. Kemasannya telah dibuat semenarik mungkin dan dengan pilihan
beraneka ragam rasa agar nilai jualnya bertambah. Emping tangkil atau emping melinjo, oleh
Pemkab Kuningan dianggap sebagai komoditi unggulan. Pasalnya telah mengharumkan nama
Kuningan dalam sektor ekonomi karena penjualan emping tangkil tidak hanya di pasar lokal
namun merambah juga ke pasar luar daerah seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan
Surabaya. Ada pula yang diekspor ke Malaysia serta Singapura. Penjualannya pun tidak hanya
di pasar tradisional, tetapi sudah merambah ke supermarket, toko serba ada (Toserba),
warung serba ada (Waserba) atau pun di Mall.

Wilayah Karangtawang cocok untuk pengembangan agrobisnis, terutama padi dan palawija.
Tanahnya yang subur, dan akses air yang melimpah menjadi keunggulan yang bisa
dimanfaatkan. Bahan dasar pembuatan tape ketan adalah salah satu produk yang tersedia
berlimpah disini.

Namun ada beberapa masalah yang perlu juga di selesaikan dengan cepat yaitu makin
berkurangnya lahan perkebunan khususnya untuk tanaman melinjo dan pengelolaan sampah
yang belum menjadi prioritas kebutuhan di masyarakat.

Memperhatikan kondisi tersebut, Desa Karangtawang membutuhkan sebuah perencanaan


usaha skala kelurahan yang secara bertahap mampu memanfaatkan semua potensi dan
sekaligus menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga berpengaruh kepada peningkatan
usaha/mata pencaharian penduduk setempat.
Setelah mengingat, melihat dan memperhatikan kondisi tersebut diatas maka kami memiliki
gagasan untuk melakukan sebuah konsep usaha berjenjang di Desa Karangtawang sebagai
media untuk menambah penghasilan, menjamin ketersediaan bahan baku usaha eksisting
masyarakat dengan memperhatikan potensi alam dan keahlian penduduknya.
Visi
Pengembangan jenis usaha dan memastikan ketersediaan bahan baku produk potensial
melalui konservasi dan pengelolaan sampah untuk menjamin keberlangsungan mata
pencaharian masyarakat yang berkelanjutan

Misi
1. Sosialisasi dan pelatihan usaha ternak lebah madu, pengembangan usaha dari buah
melinjo dan pengelolaan usaha tape ketan
2. Membuat kesepakatan bersama seluruh elemen pemerintah dan warga masyarakat desa
untuk membuat pilot kawasan usaha ternak lebah madu, pengelolaan sampah organik
menjadi kompos, penanaman pohon melinjo dan jambu air
3. Penyusunan konsep tahapan rencana pengelolaan usaha rumah tangga melalui
pemanfaatan pekarangan rumah untuk pengelolaan sampah organik dan penanaman
pohon
4. Membuat sistem pengelolaan, pengawasan dan pemanfaatan terpadu untuk usaha ternak
lebah madu, pengelolaan sampah organik menjadi kompos, penanaman pohon melinjo
dan jambu air
5. Memastikan potensi keberadaan KSM ekonomi sebagai pelaku dan pemanfaat dari
kegiatan perencanaan usaha skala kelurahan

Tujuan
1. Peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang ragam usaha baru sebagai
bentuk pengembangan potensi alam yang ada di wilayahnya.
2. a. Memperoleh dukungan dari pemerintah dalam hal kebijakan/aturan, lokasi pilot dan
pendanaan, serta mengurangi alih fungsi lahan untuk menjamin keberlanjutan mata
pencaharian masyarakat
b. Tersusunnya site plan pilot pengelolaan sampah, ternak lebah madu, penanaman
pohon melinjo dan jambu air
3. a. Memperoleh dukungan dari masyarakat/KSM untuk memanfaatkan pekarangan
sebagai media pengelolaan sampah organik dan penanaman pohon
b. Tersusunnya struktur pengelolaan di KSM sebagai penggerak dan pelaku kegiatan
4. Memaksimalkan peran LKM sebagai media sosialisasi, pengawasan dan membangun
kemitraan selama berjalannya kegiatan serta mengoptimalkan peran UPK sebagai manajer
untuk peningkatan kapasitas KSM dan menjamin sirkulasi hulu hilir untuk peningkatan
usaha dan pendapatan anggota KSM.
5. UPK dapat membuat KSM ekonomi mampu mengembangkan usaha dan menjamin
ketersediaan bahan bakunya secara mandiri sehingga dapat meningkatkan
pendapatannya secara simultan.

B. Bab II Pengelolaan
Aspek Kelembagaan/Organisasi
Pemenuhan unsur dalam struktur pengelolaan diantaranya dapat meliputi :
 Pemerintah Desa Karangtawang,
 LKM Mandiri Bahagia,
 Ibu-ibu Kader Posyandu,
 Kelompok Swadaya Masyarakat
 Pengasuh pondok pesantren,
 Karang taruna,

Sedangkan untuk diluar Desa Karangtawang diantaranya bisa berkoordinasi dengan :


 Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kab. Kuningan,
 Dinas Lingkungan Hidup Kab. Kuningan
 Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Kuningan
 Dinas Penataan Ruang, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kab. Kuningan,
 Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan Kab. Kuningan,
 Dinas Pertanian Kab. Kuningan,
 Dinas Kesehatan Kab. Kuningan,
 Universitas di Kuningan, STIKKU, Uniku

Struktur organisasi perencanaan, pengelolaan hingga pembinaan usaha tahap awal dapat
mencakup beberapa hal diantaranya :

Pembina : Kepala Desa Karangtawang Pembina


Penanggung jawab Utama : LKM Mandiri Bahagia
Sekretaris :
PJ Utama
Penanggung jawab operasional :
Bidang Keuangan :
Sekretaris
 Bagian administrasi dan keuangan
 Bagian logistik PJ operasional
Bidang Konservasi :
 Bagian tekhnik dan pengembangan Bid. Bid. Bid. SDM dan Bid.Sirkulasi Bid.
Bidang SDM dan kerjasama :
Keuangan Konservasi Kerjasama produk Pemasaran
 Bagian peningkatan kapasitas
Bidang Sirkulasi Produk :
 Bagian transportasi Bag. Admin Bag. Bag. Bag. Bag.
 Bidang administrasi
& keuangan tekhnik & Peningkatan transportasi Promosi &
Bidang Pemasaran :
 Bagian promosi dan pameran pengemb. kapasitas pameran

Bag.
Bag.logistik administrasi

Tugas dan tanggung jawab :


Pembina : Melakukan pembinaan agar program dan kegiatan sesuai
dengan visi misi dan aturan yang berlaku
Penanggung jawab utama : Menyusun perencanaan usaha dan melakukan sinkronisasi
dengan pemerintah setempat/pemangku kebijakan dan
elemen masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan
Sekretaris : Pengelolaan administrasi kepegawaian, kearsipan, surat
menyurat, notulen, rumah tangga dan kelengkapannya

Penanggung jawab operasional : Bertanggung jawab atas semua kegiatan operasional baik
tekhnis, administratif ataupun keuangan, yang dibantu oleh
5 bagian, yaitu :
Bidang Keuangan : Menyusun rencana anggaran dan program berdasarkan dokumen
perencanaan, meliputi sarana dan prasarana, kebutuhan
biaya, pengamanan kawasan, pengelolaan sampah
Bagian administrasi dan keuangan : Melaksanakan administrasi keuangan yang menyangkut seluruh
kegiatan
Bagian logistik : Melaksanakan pengadaan perlengkapan dan kebutuhan
lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan kegiatan
Bidang Konservasi : Menyusun rencana dan strategi untuk memenuhi kebutuhan
tekhnis dan pengembangan, pemeliharaan hingga
pemenuhan logistiknya
Bagian tekhnik dan pengembangan : Melaksanakan pengukuran, membuat design pengembangan
dan melaksanakan tindak lanjut pemeliharaan
Bidang SDM dan kerjasama : Menyusun perencanaan, pengembangan dan mengimplementasikan
strategi di bidang Kerjasama dan pengembangan SDM
Bagian peningkatan kapasitas : Melaksanakan pelatihan dan menyiapkan nara sumber
Bidang Sirkulasi Produk : Melaksanakan penyiapan target kebutuhan dan ketersediaan
barang, menjamin alur distribusi produk sesuai rencana
Bagian transportasi : Melaksanakan transportasi produk sesuai perencanaan
Bagian administrasi : Melaksanakan pencatatan sumber dan jumlah produk yang
didistribusikan
Bidang Pemasaran : Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang promosi dan pameran
Bagian promosi dan pameran : Melaksanakan penyusunan bahan dan pengembangan pada
bidang promosi, pameran dan sarana promosi

Aspek Produksi/Pelayanan
Dalam hal aspek pelayanan, jumlah SDM/tenaga kerja yang terlibat dalam hal perencanaan
tekhnis ada 16 orang sedangkan dalam hal pelaksanaan membutuhkan 7 sampai 15 orang
disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan dan kegiatan di lapangan.
Jenis pelayanan yang disediakan diantaranya dapat berupa :
 Pelatihan ternak lebah madu, pengembangan olahan melinjo, produksi tape ketan
 Penyediaan sarana dan alat ternak lebah madu, olahan melinjo dan tape ketan
 Jual beli madu, kompos, melinjo dan daun jambu air
 Pengelolaan sampah organik menjadi kompos,
 Penyediaan Nara sumber pelatihan,
 Pengolahan dan pengemasan produk
 Branding, bantuan promosi dan pemasaran

Aspek Pemasaran
Sistem pemasaran bisa dengan berbagai cara dan bentuk kerjasama, diantaranya adalah :
 Membuat display branding icon produk potensial tingkat desa
 Membuat starter / kerjasama melalui pemasaran digital
 Melalui perbedaan bentuk dan ukuran kemasan yang disesuaikan dengan target pangsa
pasar
 Mengadakan kerjasama dengan lokasi wisata dan sarana transportasi lokal

Konsep yang dilakukan adalah :


 Pilot lokasi kegiatan usaha ternak lebah madu tingkat desa,
 Pilot lokasi pengelolaan sampah organik tingkat desa,
 Pilot lokalisasi penanaman pohon melinjo dan jambu air tingkat desa
 Pilot kegiatan usaha ternak lebah madu untuk KSM
 Pilot pengelolaan sampah organik dan penanaman pohon melinjo dan jambu air di
anggota KSM
 Pengelolaan dan pemasaran terpadu hasil lebah madu,
 Pengelolaan dan pemasaran terpadu hasil buah melinjo,
 Pengelolaan dan pemasaran terpadu hasil olahan buah melinjo,
 Pengelolaan dan pemasaran terpadu hasil daun jambu air,
 Pengelolaan dan pemasaran terpadu hasil produksi tape ketan,
 Pengelolaan dan pemasaran terpadu hasil kompos,

Segmen pasar nya mulai dari produsen emping, produsen tape ketan, konsumen produk madu,
konsumen makanan olahan melinjo, konsumen produk madu, konsumen tape ketan, konsumen
kompos.

Wilayah pemasaran akan lebih dari hanya sekedar wilayah desa saja karena berada di pusat kota,
dan akan lebih cepat tersosialisasikan lewat sistem pemasaran digital dan promosi di tempat
wisata dan sarana transportasi perkotaan.

Omzet dan keuntungan diharapkan dapat meningkat dengan cepat karena pengelolaannya lebih
terstruktur dan terencana.

Aspek Keuangan
 Modal investasi
 Peralatan pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan usaha
 peralatan usaha ternak lebah madu,
 peralatan pengolahan buah melinjo ( emping, kerupuk kulit melinjo, teh kulit melinjo,
tepung melinjo, kue melinjo),
 peralatan pengolahan tape ketan,
 peralatan pengolahan sampah organik,
 Peralatan/perlengkapan penanaman dan perawatan pohon melinjo dan jambu air,
 Peralatan untuk kemasan hasil produksi,
 peralatan pemasaran, promosi dan sosialisasi,
 Peralatan penyimpanan hasil produksi
Biaya yang akan muncul adalah :
 Biaya rutin operasional
 Sewa tempat untuk produksi/pengemasan dan pemasaran produk (toko offline)
 Biaya tenaga kerja
 Biaya ATK
 Biaya transportasi dan komunikasi
 Biaya promosi dan digital marketing
 Biaya pajak, penyusutan peralatan

Modal awal relatif besar khususnya untuk penyediaan peralatan dan operasional awal sehingga
dibutuhkan kerjasama dan perhatian pemerintah dalam hal pembiayaannya. Khususnya dalam
hal pengelolaan sampah sudah masuk dalam rencana pendanaan di RPLP.

Total modal investasi dalam rangka penyediaan peralatan dan operasional awal dibutuhkan
anggaran kurang lebih sekitar 200 juta rupiah.

Dengan kebutuhan biaya operasional dalam sebulan yaitu :


 Sewa tempat Rp. 1.500.000,-
 2 orang karyawan toko Rp. 1.600.000,-
 Biaya listrik Rp. 200.000,-
 1 orang tenaga pemasaran Rp. 800.000,-
 Biaya transportasi dan komunikasi Rp. 300.000,-
 ATK Rp. 100.000,-
Total Rp. 4.500.000,-

Rencana menggunakan metode penjualan langsung, konsinyasi dan digital marketing


Produk potensial yang dijual yaitu :
1 botol madu Rp. 170.000,-
1 kg emping Rp. 65.000,-
1 ember tape ketan Rp. 65.000,-
150 gram tepung melinjo Rp. 80.000,-
100 gram teh kulit melinjo Rp. 10.000,-
1 loyang kue melinjo Rp. 60.000,-
Total Rp. 450.000,-

Wisata edukasi dan pelatihan yang ditawarkan yaitu :


Ternak lebah madu
Pengenalan tanaman melinjo dengan khasiatnya untuk awet muda
Kunjungan/belajar beragam cara pengolahan melinjo di KSM
Khasiat kulit melinjo mencegah asam urat

Misalkan estimasi dalam sebulan mampu mendatangkan 60 orang @ Rp. 40.000


Dengan asumsi biaya yang dikeluarkan per orang Rp. 20.000,-
Maka penghasilan bersih sebulan adalah Rp. 20.000 ( x ) 60 orang = Rp. 1.200.000,-

Jika dalam sehari mampu memasarkan :


2 botol madu Rp. 340.000,-
5 kg emping Rp. 325.000,-
5 ember tape ketan Rp. 325.000,-
150 gram tepung melinjo Rp. 80.000,-
100 gram teh kulit melinjo Rp. 10.000,-
1 loyang kue melinjo Rp. 60.000,-
Total Rp. 1.140.000,-

Total dalam sebulan Rp. 1.140.000,- ( x ) 30 hari kerja = Rp. 34.200.000,-


HPP 75% yaitu Rp. 855.000,- Laba Rp. 285.000,- ( x ) 30 hari kerja = Rp. 8.550.000,-
Laba bersih = Rp. 8.550.000,- ( - ) Rp. 4.500.000,- = Rp. 4.050.000,-
Ditambah Rp. 1.200.000,- sehingga total laba bersih Rp. 5.250.000,-
Sehingga dapat diketahui Return Of Invesmentnya adalah setelah 38 bulan.

C. Bab III Analisis SWOT

Matriks SWOT
STRENGTH (KEKUATAN) WEAKNESS (KELEMAHAN)

1. Potensi Sumber Daya Alam lahan pertanian yang 1. Minat investasi masih rendah
INTERNAL subur dan keahlian penduduk mengolah melinjo 2. UMK terendah di wilayah 3 cirebon
2. 67% penduduknya ada di usia produktif 3. Pengembangan SDA masih rendah
3. Wilayah pesantren yang didominasi oleh kyai NU 4. Pendidikan dan kemampuan wirausaha
4. Sektor pertanian bisa 3 kali panen dalam 1 tahun SDM yang masih rendah
5. Banyak Usaha Kecil Mikro dan Menengah 5. Ada alih fungsi lahan perkebunan
6. Banyak juga masyarakatnya yang menjadi TKI menjadi pemukiman penduduk tersisa
EKSTERNAL 7. Ada 2 jurusan angkot yang melalui Karangtawang sekitar 10%
8. Pusat produksi emping untuk wilayah kuningan 6. Manajerial dan inovasi dalam
9. Ada 150 unit industri kerajinan pengembangan usaha masyarakat yang
10. Ada 2 unit koperasi masih rendah
OPPORTUNITY STRATEGI S – O STRATEGI W – O
(KESEMPATAN)
1. Penataan pilot kawasan konservasi penanaman 1. Optimalisasi pemanfaatan, pengelolaan
pohon melinjo dan jambu air dan pemeliharaan Sumber Daya Alam
1. Khasiat melinjo belum banyak 2. Peningkatan kapasitas SDM agar lebih
dikenal luas 2. Mendorong UMKM melakukan diversifikasi olahan
bahan pangan berbahan baku lokal dengan inovatif produktif sehingga mampu
2. Pengolahan produk melinjo belum menghasilkan produk yang bermutu
banyak di pasaran sehingga harga penerapan HACCP (Hazard Analysis Critical Control
Point) untuk menghasilkan pangan yang aman, 3. Pengembangan metode pelatihan yang
masih relatif tinggi mendukung peningkatan keahlian dan
3. Keahlian masyarakat dalam bermutu dan bergizi seimbang
3. Mendorong investasi industri pengolahan kemampuan wirausaha masyarakat
olahan produk melinjo menjadi 4. Menciptakan sistem pemasaran yang
emping berbahan baku lokal
4. Mengintegrasikan konsep eduecotourism dan dapat meningkatkan penjualan produk
4. Olahan produk pertanian masih lokal dan memberi branding/ikon pada
sedikit mengembangkan wisata alam, agro dan budaya
5. Membangun system marketing untuk membangun kelurahan
5. Belum ada lokasi pilot project 5. Membuat forum komunikasi antar
penataan kawasan konservasi brand yang dikenal luas
6. Pesantren dapat menjadi motor penggerak lembaga untuk meningkatkan
yang mendukung kegiatan usaha partisipasi dalam pembangunan di
masyarakat setempat kelurahan, menyerap aspirasi dan
memberikan fasilitas peningkatan
kapasitas kelembagaan
THREAT (ANCAMAN) STRATEGI S – T STRATEGI W – T

1. Migrasi penduduk yang masuk 1. Meningkatkan koordinasi dengan elemen dalam 1. Membangun kerjasama dengan
berdampak pada perluasan lahan perencanaan pembangunan dalam rangka berbagai pihak untuk meningkatkan
pemukiman peningkatan peningkatan pendapatan masyarakat kompetensi masyarakat melalui
2. Harga bahan baku produk pasokan 2. Melakukan edukasi kepada masyarakat tentang standarisasi dan sertifikasi keahlian
dari luar daerah yang tidak stabil kemanfaatan penataan pilot kawasan konservasi atau mutu produk untuk menghadapi
3. Kebijakan pemerintah dan politik yang bermanfaat bagi masyarakat persaingan global
yang tidak mendukung iklim usaha 3. Membangun sentra pemasaran komoditas hasil 2. Peningkatan kesepahaman aparat
potensi lokal produksi masyarakat di jalur utama birokrasi terkait potensi, permaslahan,
4. Masuknya budaya dari luar daerah 4. Membangun system informasi harga bahan baku peluang dan ancaman dalam
dapat mempengaruhi kebiasaan komoditas produksi masyarakat untuk mencegah percepatan pembangunan ekonomi
masyarakat setempat permainan harga melalui sinkronisasi program dan
5. Membangun fungsi BDS (Business Development kegiatan guna mewujudkan integrated
Services) untuk melakukan pendampingan bagi economics
UMKM (Pelatihan, Perijinan, Pemasaran dll)

D. Bab IV Penutup
Salah satu solusi yang ditawarkan untuk peningkatan kualitas di wilayah kumuh selain
pembangunan sarana prasarana infrastruktur/fisik adalah peningkatan pendapatan masyarakat
melalui perencanaan usaha skala kelurahan. Potensi di Desa Karangtawang adalah produksi
pertanian dan usaha emping melinjo yang sudah terkenal meluas di seluruh masyarakat
kabupaten kuningan. Beberapa tahapan yang harus dilakukan adalah :
1. Menambah penghasilan masyarakat lewat usaha ternak lebah madu
2. Mensosialisasikan dan melaksanakan Gerakan Bersama Ibu-Ibu Tanam Pohon Melinjo dan
jambu air (GEMA BUTA HEJO) oleh masyarakat dan pemerintah desa sebagai sumber
makanan lebah madu di kawasan pilot konservasi yang selaras dengan program pemerintah
Kabupaten Kuningan sebagai salah satu Kabupaten Konservasi.
3. Pelatihan untuk memperkenalkan produk-produk olahan dari bahan dasar melinjo yang
mampu memperkaya ketrampilan masyarakat dan memperluas pasar (emping, kerupuk kulit
melinjo, teh kulit melinjo, tepung melinjo, kue melinjo)
4. Mengembangkan wisata pendidikan dan edukasi pengelolaan usaha yang berbasis potensi
lokal.
5. Membuka toko pusat penjualan produk olahan lokal sebagai media penjualan dan promosi
usaha masyarakat UKM/KSM.

Melalui tahapan kegiatan tersebut tujuan akhirnya adalah :


 Terbangunnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang konsep usaha livelihood
 Muncul perasaan bangga dan memiliki terhadap potensi yang ada di wilayahnya sehingga
tumbuh kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan.
 Mampu meningkatkan pendapatan masyarakat
 Dengan pengadaan bahan baku secara mandiri dapat menjaga stabilitas harga produk
dan keberlanjutan usaha
 Melalui wisata edukasi dapat memperkenalkan produk usaha lokal, membangun
kepercayaan konsumen dan meningkatkan perputaran ekonomi di wilayah desa
 Melalui keberadaan toko pusat penjualan produk lokal dapat memudahkan konsumen
untuk mendapatkan produk khas yang diinginkan
 dan dapat memberikan inspirasi untuk mereplikasi kegiatan serupa di tempat lain

Besar harapan kami agar visi dan tujuan ini dapat dipahami dan didukung oleh berbagai pihak
yang terkait dan berkepentingan. Sehingga tujuan akhir kami dalam rangka peningkatan
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di tingkat kelurahan dapat segera diwujudkan.

E. Lampiran-lampiran

Potensi Karangtawang
sebagai sentra produksi
emping melinjo dan Kondisi
beras ketan usaha
saat ini
Produk emping melinjo dari Desa Karangtawang
sudah dipasarkan hingga keluar kota bahkan di
ekspor ke malaysia dan singapura

Desa Karangtawang tidak mampu Pengolahan melinjo masih sebatas menjadi Perhatian pemerintah masih
memenuhi ketersediaan pohon melinjo emping, masih sedikit diversifikasi produk minim dalam hal pemenuhan
sebagai bahan baku utama produksi pengolahan lainnya dan beras ketan belum ada bahan baku, peralatan ataupun
emping melinjo pengolahan lanjutan misal tape ketan pemasaran

Dgn melaksanakan

Konsep wisata
ilustrasi edukasi pengelolaan
usaha livelihood

Melalui
Peningkatan pendapatan dari
pengembangan usaha melalui
Budidaya ternak lebah madu
diversifikasi olahan produk dan
sebagai usaha masyarakat untuk
pemanfaatan potensi
menambah penghasilan

Dan Memberikan edukasi pola


livelihood untuk masyarakat
setempat
Pengelolaan wisata edukasi melalui pilot
kawasan konservasi pohon melinjo dan Wisata edukasi akan
Diharapkan
jambu air untuk memenuhi pakan lebah meningkatkan pengetahuan
madu dan memenuhi dapat
ketersediaan bahan masyarakat tentang potensi
mendukung
baku usaha emping serta bungkus tape ketan produk lokal dan menunjang
promosi penjualan

Peningkatan kesadaran
masyarakat tentang
pengelolaan sampah