Anda di halaman 1dari 37

1

PROPOSAL PENELITIAN

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PEMOTONGAN AYAM PEDAGING


PADA CV. ABU CHICKEN DI KECAMATAN POASIA, KOTA KENDARI

OLEH:

APRIANTO
L1A1 16 197

JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020
2

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Analisis Pendapatan Usaha Pemotongan


Ayam Pedaging pada CV. Abu Chicken
di Kecamatan Poasia, Kota Kendari
Nama : Aprianto
NIM : L1A1 16 197
Jurusan : Peternakan

Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ir. Takdir Saili M.Si. Musram Abadi, S.Pt., M.Si
NIP. 196902121994031003 NIP. 197901112006041010

Mengetahui,

Ketua Jurusan Peternakan

Dr. La Ode Arsad Sani, S.Pt., M.Sc.


NIP. 19731231 199903 1 005

ii
1
1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peternakan merupakan salah satu penyumbang perekonomian daerah

maupun nasional. Seiring dengan makin meningkatnya jumlah pendapatan

penduduk maka semakin meningkat pula kebutuhan bahan makanan, termasuk

bahan makanan yang berasal dari hewan terutama daging. Salah satu jenis ternak

yang menjadi sumber utama penghasil daging adalah ayam pedaging dengan

tingkat permintaan yang cukup tinggi dan daging pedaging sebagai sumber

protein hewani yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat.

Selain itu, perkembangan jumlah penduduk yang terus meningkat serta

adanya perbaikan taraf hidup masyarakat menyebabkan permintaan terhadap

kebutuhan daging ayam pedaging terus meningkat pula dengan adanya kesadaran

masyarakat akan pemenuhan pangan asal hewani yang bergizi. Protein hewani

sangat dibutuhkan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ayam pedaging merupakan hasil seleksi dan persilangan secara berulang-

ulang terhadap ayam-ayam yang memiliki keunggulan dalam bobot badan dan

warna bulu yang seragam. Permintaan daging ayam pedaging selalu meningkat

disebabkan harga daging pedaging yang cukup terjangkau, memiliki kualitas gizi

yang baik dan mudah diolah menjadi berbagai jenis olahan serta dapat menjadi

sumber pendapatan masyarakat.

Berdasarkan data populasi ayam pedaging dalam kurung waktu tahun 2015-

2018 di Kota Kendari yaitu pada tahun 2015 sebanyak 806.600 ekor, meningkat

pada tahun 2016 sebanyak 829.670 ekor dan pada tahun 2017 sebanyak 974.470

1
ekor, serta meningkat lagi pada tahun 2018 yang mencapi 995.276 ekor. Populasi

ayam pedaging ini cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini

membuktikan bahwa dalam kurung waktu empat tahun terakhir ini populasi ayam

pedaging di Kota Kendari mengalami peningkatan sebesar 5,40% (BPS Kota

Kendari, 2019).

Tingginya populasi ayam pedaging ini merupakan potensi untuk

mengembangkan usaha pemotongan ayam pedaging khususnya di Kota Kendari

sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara dengan jumlah penduduk sebanyak

289.966 jiwa (BPS Sultra, 2019).

Usaha pemotongan ayam pedaging merupakan suatu usaha yang dapat

memudahkan masyarakat untuk memperoleh daging ayam pedaging yang lebih

hygienis dalam bentuk karkas yang siap dipasarkan atau dimasak (ready to cook).

Usaha ini pula dapat menjadi sumber pendapatan dan lapangan kerja bagi pelaku-

pelaku usaha yang bergerak pada usaha pemotongan ayam pedaging. Salah satu

perusahaan yang bergerak pada usaha pemotongan ayam pedaging di Kota

Kendari adalah CV. Abu Chicken yang terdapat di Kecamatan Poasia, Kota

Kendari.

Sistem usaha pemotongan ayam pedaging CV. Abu Chicken dilakukan

secara by order yaitu dilakukan sesuai dengan pesanan, sehingga daging ayam

pedaging yang dihasilkan masih terjaga kesegarannya dan terjamin kebersihannya.

Sebagai suatu usaha, CV. Abu Chicken dalam menjalankan dan mengelolah

usahanya memberikan manfaat baik kepada mitra usahanya maupun kepada

konsumen.

2
Pendapatan usaha pemotongan ayam pedaging CV. Abu Chicken tidak

terlepas dari faktor-faktor produksi yang digunakan seperti biaya tenaga kerja,

pakan, plastik dan harga jual ayam pedaging ke konsumen yang terjadi secara

terus menerus.

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Analisis Pendapatan Usaha Pemotongan Ayam Pedaging

CV. Abu Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari”

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah:

1. Berapa besar biaya produksi yang dikeluarkan oleh usaha pemotongan ayam

CV. Abu Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari?

2. Berapa besar pendapatan yang diperoleh usaha pemotongan ayam CV. Abu

Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Menganalisis biaya produksi yang dikeluarkan oleh usaha pemotongan ayam

pedaging CV. Abu Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari.

2. Menganalisis besar pendapatan yang diperoleh usaha pemotongan ayam

pedaging CV. Abu Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari.

3
1.4. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dan manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan informasi dan landasan dalam mengelolah usaha pemotongan

ayam pedaging CV. Abu Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari.

2. Sebagai bahan masukan dalam menentukan kebijakan untuk pengembangan

usaha pemotongan ayam bagi pemerintah maupun instansi terkait di Kota

Kendari

3. Sebagai bahan tambahan informasi dalam menyusun penelitian yang sejenis

bagi para peneliti selanjutnya.

1.5. Kerangka Pikir Penelitian

Usaha peternakan ayam pedaging dapat dijadikan sebagai usaha dalam

meningkatkan taraf hidup masyarakat. Usaha ini sangat menguntungkan karena

memiliki prospek yang baik. Prospek yang baik tersebut ditandai dengan

meningkatnya pendapatan dari tahun ke tahun.

Kerangka pikir yang mendasari penelitian ini adalah bahwa biaya usaha

pemotongan ayam pedaging serta pendapatan yang diterima bertujuan untuk

mendapatkan pendapatan yang sebesar-besarnya dalam hal ini berkaitan dengan

biaya produksi, penerimaan dan pendapatan. Dimana ketiga (penerimaan, biaya

produksi dan pendapatan) variabel tersebut akan dianalisis menggunakan alat

analisis deskriptif untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan sehingga

dapat memberikan kesimpulan dan rekomendasi peningkatan pendapatan untuk

kesejahteraan usaha pemotongan ayam pedaging CV. Abu Chicken di Kecamatan

4
Poasia Kota Kendari. (DIATUR YANG BAIK KALIMATNYA AGAR

MAKSUDNYA DIMENGERTI)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema kerangka pikir penelitian

pada Gambar 1.1.

Usaha Ayam Pedaging

Usaha Pemotongan Ayam CV. Abu Chicken

Profil Usaha: Produksi:


Kepemilikan Usaha Biaya
Tenaga Kerja
Skala Usaha
Penerimaan
Modal

Pendapatan

Gambar 1.1. Kerangka Pemikiran

5
6

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Ayam Pedaging

Ayam pedaging adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya

teknologi yang memiliki sifat ekonomis, dengan ciri khas pertumbuhan cepat

sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada umur relatif

muda, serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak (Murtidjo, 2006).

Yuwanta (2004) menyatakan bahwa ayam pedaging dipelihara sampai umur 6-7

minggu dengan berat 1,5-2 kg dan konversi 1,9-2,25 (Yuwanta, 2004). Ayam

pedaging dimanfaatkan dagingnya sebagai sumber protein hewani. Sehubungan

dengan waktu panen yang relatif singkat maka jenis ayam ini mempersyaratkan

pertumbuhan yang cepat, dada lebar yang disertai timbunan lemak daging yang

baik, dan warna bulu yang disenangi, biasanya warna putih (Kartasudjana dan

Suprijatna, 2010).

Selain itu, Fadillah (2004) menyatakan bahwa pertambuhan berat badan

yang cepat pada ayam pedaging didukung oleh: (a) temperatur udara di lokasi

peternakan stabil dan ideal untuk ayam (23-26˚C); (b) kuantitas dan kualitas

pakan terjamin sepanjang tahun; (c) teknik pemeliharaan yang tepat guna

(dihasilkan produk yang memberikan keuntungan maksimal); dan (d) kawasan

peternakan terbebas dari penyakit.

Komoditas ayam pedaging memiliki prospek pasar yang besar karena

produknya bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat.  Selain itu, ayam

pedaging ini memiliki manfaat yang besar untuk kesehatan tubuh manusia karena

terdapat kandungan lemak, protein, dan kalori.  Daging ayam yang tidak

6
dikonsumsi bersamaan dengan kulitnya lebih rendah kolesterol dibandingkan

dengan daging sapi maupun kambing. Karena pangsa pasar dan peluangnya yang

begitu besar membuat bisnis ternak ayam pedaging ini menarik digeluti (MANA

LITERATURNYA???)

Selain menggunakan sistem mandiri, ada sistem kemitraan yang bisa dipilih

oleh peternak ayam pedaging. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan

oleh peternak yang menggunakan sistem kemitraan ini. Berikut adalah

keuntungan ternak ayam pedaging sistem kemitraan yang bisa didapatkan oleh

peternak:

1. Banyak Dibutuhkan

Keuntungan ternak ayam pedaging yang pertama adalah banyak

dibutuhkan. Coba lihat saat ini di hari-hari biasa maupun hari tertentu banyak

yang membutuhkan daging ayam potong untuk dikonsumsi pribadi atau

disajikan kepada orang banyak.

2. Peluang yang Lebar

Bisnis ternak ayam pedaging memiliki peluang yang lebar. Hal itu

dikarenakan banyak yang membutuhkannya dan banyak yang menyukainya.

Ayam pedaging banyak disukai oleh anak-anak maupun orang tua. Banyaknya

peminat ayam pedaging membuat bisnis ini sangat menggiurkan untuk digeluti.

Terlebih lagi mendekati puasa, permintaan akan ayam pedaging bisa meningkat

dengan drastis karena banyaknya acara buka puasa yang diselenggarakan.

7
3. Harga yang Fluktuatif

Sama dengan telur ayam negeri dimana harga ayam pedaging ini begitu

fluktuatif. Meski harganya mengalami penurunan namun hal tersebut tidak

akan bertahan lama karena akan menjadi naik kembali. Di saat harga jual ayam

pedaging naik pebisnis yang menggeluti ternak ayam pedaging ini akan

mendapatkan keuntungan yang menggiurkan karena pemasukan akan lebih

besar dibandingkan dengan biaya produksi.

4. Target Pasar yang Luas

Keuntungan ternak ayam pedaging yang bisa dipertimbangkan

selanjutnya adalah target pasar yang luas. Hal ini akan menguntungkan bagi

peternak ayam pedaging dikarenakan tidak akan kebingungan dalam

memasarkan hasil peternakannya. Ayam pedaging bisa dijual dimana saja dan

kepada siapa saja sehingga marketingnya tidak akan susah. Misalnya bisa

dijual di supermarket, pasar tradisional, dan lain sebagainya.

5. Lebih Cepat Panen

Dibandingkan dengan ayam kampung, ayam pedaging ini jauh lebih

cepat panen. Tidak dibutuhkan waktu lama untuk memanen ayam pedaging ini

sehingga cocok bagi yang ingin menggeluti bisnis dengan perputaran modal

yang cepat.

6. Mudah Membuka Cabang

Tidak hanya bisnis ternak ayam pedaging saja yang bisa digeluti. Peternak

yang sudah sukses dengan bisnis ternak ayam pedagingnya bisa menggeluti

cabang bisnis yang lain sebagai contohnya adalah rumah potong ayam. Tidak

8
hanya itu saja bisnis pengolahan daging ayam pun bisa digeluti sebagai cabang

bisnis dari ternak ayam pedaging. (ANDA INI BUKAN PENELITIAN

USAHA PRODUKSI AYAM PEDAGING, SEHINGGA TDK PERLU

PANJANG LEBAR UTARAKAN KEUNTUNGAN MEMELIHARA AYAM

PEDAGING).

2.2. Prospek Usaha Pemotongan Ayam Pedaging

Dalam kamus besar bahasa Indonesia prospek adalah peluang atau harapan,

pandangan (ke depan), pengharapan (memberi), harapan baik, kemungkinan.

Prospek merupakan gambaran umum tentang usaha yang kita jalankan untuk masa

yang akan datang. Keberhasilan suatu usaha tergantung dari faktor-faktor

pengusaha itu sendiri, baik dari dalam maupun dari luar. Faktor dari dalam seperti

pengelolaan, tenaga kerja, modal, tingkat tekhnologi, dan lain sebagainya.

Sedangkan faktor dari luarseperti tersedianya sarana trasportasi dan komunikasi

(Maryani, 2011).

Dalam ilmu ekonomi prospek merupakan gambaran untuk masa yang akan

datang, apakah usaha yang kita jalankan itu akan berjalan dengan lancar dan

mendapatkan keuntungan atau malah sebaliknya karena tidak adanya permintaan

atau tidak adanya promosi sehingga konsumen tidak mengetahui keberadaan

produk yang dihasilkan.

Cara mengukur peluang usaha adalah dengan melakukan analisis kekuatan,

kelemahan, peluang dan ancaman Indikator pengukur peluang usaha adalah

dengan melakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman Cara

mengukur peluang usaha adalah dengan melakukan analisis kekuatan, kelemahan,

9
peluang dan ancaman. Peluang itu mengandung keselarasan, keserasian, dan

keharmonisan antara siapa aku (SDM), bisnis apa yang akan dimasuki, pasarnya

bagaimana, kondisi, situasi, dan perilaku pasarnya (Hendro, 2011).

Kemudian ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merintis usaha

baru yaitu:

a. Bidang usaha dan jenis usaha yang akan dirintis

b. Bentuk dan kepemilikanusaha yang akan dipili

c. Tempat usaha yang akan dipilih

d. Organisasi usaha yang akan digunakan

e. Jaminan usaha yang mungkin diperoleh

f. Lingkungan usaha yang akan berpengaruh.

Untuk mengelolah usaha tersebutharus diawali dengan:

a. Perencanaan usaha

b. Pengelolaan keuangan

c. Aksi strategis usaha

d. Teknik pengembangan usaha.

Usaha pemotongan ayam dapat berbentuk tradisional maupun modern.

Usaha pemotongan ayam secara tradisional dapat dilakukan dengan modal yang

tidak terlalu besar dengan peralatan yang tradisional, sedangkan rumah

pemotongan ayam modern memerlukan modal yang lebih besar dengan peralatan

yang lengkap dan modern serta lebih mementingkan kebersihan (Dwitiya

Matharini, 2013).

10
Wahyu dkk. (2004) menyatakan bahwa berdasarkan bidang, atau sifat

usahanya, usaha pemotongan ayam pedaging dapat diklasifikasikan menjadi dua

macam, yaitu:

1. Usaha pemotongan ayam pedaging yang bergerak di bidang jasa pemotongan

ayam. Biasanya usaha ini hanya menyediakan jasa untuk memotong Ayam

sampai bersih dan siap untuk dikelola lebih lanjut oleh konsumen. Kegiatan

yang dilakukan mulai dari menyembelih ayam, membuang darahnya, beberapa

usaha ada yang mencabut sebagian bulu secara manual untuk dijual, merebus

Ayam beberapa menit, mencabut bulu ayam seluruhnya dengan mesin

pencabut bulu atau secara manual, mencuci ayam, mengeluarkan dan

membersihkan jeroan serta memotong karkas. Skala produksi usaha yang

bersifat jasa ini umumnya bisa mencapai ratusan ekor ayam bila menggunakan

mesin (semiotomatis). Selain itu, tenaga kerja yang dibutuhkan umumnya

berjumlah satu orang atau lebih.

2. Usaha pemotongan ayam pedaging yang bergerak di bidang penjualan daging

ayam. Usaha tersebut melakukan penjualan produk berupa daging ayam yang

telah dipotong dan dibersihkan secara langsung kepada konsumen di pasar-

pasar tradisional. Proses pengerjaannya dimulai dari menyembelih ayam,

membuang darahnya, beberapa usaha ada yang mencabut bulu tersisa secara

manual, mencuci karkas, mengeluarkan dan membersihkan jeroan kemudian

dijual di pasar sesuai keinginan konsumen. Peralatan yang digunakan masih

sangat sederhana dan biasanya dikerjakan sendiri oleh anggota keluarga, begitu

pula dengan proses penjualannya. Kelebihan dari usaha tersebut adalah

11
penjualan dilakukan perbagian dari daging ayam (karkas) sehingga lebih

fleksibel karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen saat itu. Selain

itu, dengan sistem penjualan tersebut keuntungan yang diperoleh semakin

besar.

Pemotongan ternak secara langsung dilakukan apabila ternak dinyatakan

sehat dan dapat disembelih pada bagian leher dengan memotong arteri carotis,

vena jugularis, oesophagus, dan tenggorokan. Pada saat penyembelihan, darah

harus keluar sebanyak mungkin. Jika darah dapat keluar secara sempurna, maka

beratnya 4 persen dari bobot tubuh. Proses pengeluaran darah pada ayam biasanya

berlangsung selama 50 sampai 120 detik, tergantung besar kecilnya ayam yang

dipotong (Dwitiya Matharani, 2013). Menurut Parry (1988) ayam pedaging

pertamakali diambil dari peternak dan mengalami transportasi ke tempat prosesing

untuk diproses menjadi karkas kemudian baru dipasarkan. Secara gari besar

prosesing ini meliputi penyembelihan, scalding, pencabutan bulu, eviserasi,

pendinginan, grading, pengepakan, penyimpanan dan pemasaran.

2.3. Konsep Produksi (PENELITIAN KAMU INI ADALAH TENTANG

JASA BUKAN BARANG, JADI UTAMAKAN PENJELASAN TTG

PRODUKSI JASA BUKAN PRODUKSI BARANG. CARI LITERATUR

TENTANG PRODUKSI JASA)

Penelitian ini berkaitan dengan konsep produksi yang menunjukkan

besarnya tingkat produksi rumput laut yang diperoleh petani. oleh karena itu

konsep produksi dijelaskan untuk memberikan definisi tentang produksi menurut

para pakar ekonomi. Secara umum produksi diartikan sebagai aktivitas untuk

12
menciptakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jadi produksi

adalah aktivitas yang menciptakan atau menambahkan utility suatu barang dan

jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Menurut Suto (2004) dalam ilmu ekonomi, produksi diartikan sebagai suatu

kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan barang dan jasa yang ditujukan

untuk memuaskan kebutukan orang lain melalui pertukaran atau perdagangan.

Produksi adalah suatu proses dimana beberapa barang dan jasa yang disebut input

diubah menjadi barang-barang dan jasa lain yang input proses Output disebut

output. Banyak jenis aktivitas yang terjadi dalam proses produksi, meliputi

perubahan bentuk, tempat dan waktu penggunaan hasil-hasil produksi. Output

perusahaan yang berupa barang-barang produksi tergantung pada jumlah input

yang digunakan dalam produksi. Hubungan antara input dan output ini dapat

diberi ciri dengan menggunakan suatu fungsi produksi. Fungsi produksi dalam

suatu hubungan matematis yang menggambarkan suatu cara dimana jumlah dari

hasil produksi tertentu tergantung pada jumlah input tertentu yang digunakan.

Menurut Aziz (2003) mengemukakan bahwa teori produksi dapat dibedakan

menjadi dua bagian yaitu yang pertama, teori produksi jangka pendek dimana

apabila seseorang produsen menggunakan faktor produksi maka ada yang bersifat

variabel dan yang bersifat tetap. Kedua, teori produksi jangka panjang apabila

semua input yang digunakan adalah input variabel dan tidak terdapat input tetap,

sehingga dapat diasumsikan bahwa ada dua jenis faktor produksi yaitu tenaga

kerja (TK) dan modal (M).

13
Sugiarto (2002) menjelaskan bahwa dalam usahatani, produksi diperoleh

melalui suatu proses yang cukup panjang dan penuh resiko. Panjangnya waktu

yang dibutuhkan tidak sama, tergantung pada jenis komoditas yang diusahakan.

Tidak hanya waktu, kecukupan faktor produksi ikut sebagai penentu pencapaian

produksi. Petani selalu berusaha untuk melakukan produksi secara efisien atau

dengan biaya yang paling rendah hingga petani tersebut dianggap telah berusaha

memaksimumkan laba ekonomis.

Miller dan Mainers (2000) mengemukakan bahwa secara umum istilah

produksi diartikan sebagai penggunaan atau pemanfaatan sumberdaya yang

mengubah suatu komoditi menjadi komoditi lainnya yang sama sekali berbeda

baik dalam pengertian apa dan dimana atau kapan komoditi-komoditi itu

dialokasikan maupun dalam apa yang dikerjakan oleh konsumen terhadap

komoditi itu, selanjutnya bahwa produksi merupakan konsep arus (flow concept)

yang dimaksud adalah kegiatan yang diukur sebagai tingkat-tingkat output

(keluaran) per unit periode waktu, sedangkan output sendiri senantiasa

diasumsikan konstan kualitasnya. Jadi bila berbicara mengenai peningkatan

produksi, berarti peningkatan tingkat output dengan mengasumsikan faktor-faktor

lain yang sekiranya berpengaruh tidak berubah sama sekali.

2.4. Konsep Biaya (PENELITIAN KAMU INI ADALAH TENTANG JASA

BUKAN BARANG, JADI UTAMAKAN PENJELASAN TTG

BIAYA/MODAL JASA BUKAN BIAYA/MODAL BARANG. CARI

LITERATUR TENTANG BIAYA/MODAL JASA)

14
Biaya adalah harga pokok yang telah memberikan manfaat dan telah habis

dimanfaatkan. Biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi baik

yang berwujud maupun tidak berwujud yang dapat ditukar dalam satuan uang,

yang telah terjadi atau akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Biaya

merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan harga pokok produksi dan

harga jual produksi Menurut Supriyono (2000), biaya adalah harga perolehan

yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau

revenue yang akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.

Sedangkan menurut Simamora (2000), biaya adalah kas atau nilai setara kas

yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat pada

saat ini atau di masa mendatang bagi organisasi. Serupa dengan hal tersebut

Mulyadi (2009) menyatakan bahwa pengertian biaya dalam artian luas adalah

“biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang,

yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu”.

Menurut Husen and Mowen (2009) menyatakan bahwa “biaya adalah aset

kas atau nonkas yang dikorbankan untuk barang dan jasa yang diharapkan

keuntungannya bagi perusahaan pada masa sekarang atau masa yang akan

datang”. Menurut Mulyadi (2009) biaya dapat digolongkan menjadi 5 golongan

besar yaitu:

1. Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran. Menurut cara penggolongan

ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya

nama objek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang

berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan bakar.”

15
2. Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur, ada

tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran dan fungsi

administrasi dan umum. oleh karena itu, dalam perusahaan manufaktur, biaya

dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:

g. Biaya produksi, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan

baku menjadi bahan produk jadi yang siap untuk dijual. Contohnya adalah

biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji karyawan baik langsung

maupun tidak langsung yang berhubungan dengan proses produksi. Biaya

produksi secara garis besar dibagi menjadi: biaya bahan baku, biaya tenaga

kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

h. Biaya pemasaran, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan

kegiatan pemasaran produk yang termasuk kedalam kegiatan pemasaran

adalah biaya iklan dan biaya promosi.

i. Biaya administrasi dan umum, merupakan biaya-biaya untuk kegiatan

produksi dan pemasaran produk. Contohnya yang termasuk ke dalam biaya

ini adalah biaya gaji karyawan.

3. Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.

Sesuatu yang dapat dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam

hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan

menjadi 2 golongan, yaitu:

a. Biaya langsung

Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya

karena adanya sesuatu yang dibiayai. Biaya langsung dapat dengan mudah

16
diidentifikasi dengan sesuatu yang dibiayai. Biaya produk langsung terdiri

dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

b. Biaya tidak langsung

Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya

disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam

hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak

langsung atau biaya overhead pabrik.

4. Penggolongan biaya menurut perlakuan dalam hubungannya dengan perubahan

volume aktivitas.

a. Biaya variabel

Biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan

volume kegiatan. Contoh: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung.

b. Biaya Semi variabel

Biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume

kegiatan. Biaya semi variabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur

biaya variabel.

c. Biaya semi fixed

Biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah

dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

d. Biaya tetap

Biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran volume kegiatan

tertentu. Contoh; gaji direktur produksi.

17
5. Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya jika dilihat menurut

jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi:

a. Pengeluaran modal

Biaya ini mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi.

Contoh pembelian aktiva tetap.

b. Pengeluaran pendapatan

Biaya ini hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadi

pengeluaran tersebut. Contoh biaya telepon, biaya iklan.

Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur

dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk

tujuan tertentu. Ada 4 (empat) unsur pokok dari defenisi biaya tersebut yaitu: (1)

biaya merupakan sumber ekonomi, (2) diukur dalam satuan uang, (3) yang telah

terjadi atau yang secara potensi akan terjadi, dan (4) pengorbanan tersebut untuk

tujuan tertentu (Mulyadi, 2009).

Menurut Muhammad (2004) menyatakan bahwa memproduksi suatu produk

tertentu dibutuhkan biaya tetap (fixed cost= FC) dan biaya keseluruhan (tot

ost=TC). Produksi yang dihasilkan dijual untuk mendapatkan penerimaan, maka

akan ditemukan total penerimaan dari hasil penjualan produk atau disebut total

revenue (TR). Hubungan antara FC, VC, TC dan TR dapat digambarkan dengan

grafik sebagai berikut:

18
Gambar 1. Hubungan Biaya, Penerimaan dan Jumlah Produksi

Selanjutnya ditegaskan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh produsen

dibedakan menjadi biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC). Fixed cost adalah

besarnya biaya yang dikeluarkan tidak mempengaruhi oleh beberapa banyak

output atau produk yang dihasilkan. Oleh karena itu garis FC digambarkan

sebagai garis horizontal. Variable cost adalah biaya yang besarnya ditentukan

langsung oleh berapa banyak output yang dihasilkan. Total cost (TC=FC+VC).

Total penerimaan (total revenue) adalah jumlah penerimaan yang diperoleh dari

penjualan produk yang dapat dijual. Berpotongan total penerimaan (TR) dan total

biaya (TC) disebut titik impas (Break Even= BE). Dimana pada posisi ini usaha

pemotongan ayam pedaging tidak mengalami untung dan tidak pula mengalami

kerugian.

Untuk mengetahui nilai penyusutan biaya tetap (FC) dalam satu kali proses

produksi maka Setiawan (2001) mengemukakan bahwa dalam ilmu akuntansi ada

3 metode perhitungan penyusutan yaitu metode garis lurus, metode saldo menurun

19
dan metode sum of year digit. Dari ketiga metode yang ada peneliti menggunakan

salah satu metode tersebut yaitu metode garis lurus.

Metode garis lurus mempunyai beberapa kelebihan yaitu mudah digunakan

dalam praktek dan lebih mudah dalam menentukan tarif penyusutan. Sedangkan

kelebihan dari metode garis lurus adalah beban pemeliharaan dan perbaikan

dianggap sama setiap periode. Manfaat ekonomis barang setiap tahun sama.

Beban penyusutan yang diakui tidak mencerminkan upaya yang digunakan dalam

menghasilkan pendapatan dan laba atau keuntungan yang dihasilkan setiap tahun

tidak menggambarkan tingkat pengembalian yang sesungguhnya dari umur

kegunaan barang.

2.4. Konsep Penerimaan

Suratiyah (2015) mengemukakan bahwa penerimaan atau pendapatan kotor

adalah seluruh pendapatan yang diperoleh dari usaha pemotongan ayam pedaging

selama satu periode diperhitungkan dari hasil penjualan atau hasil penaksiran

kembali. Pendapatan kotor = jumlah produksi (y) x harga persatuan (Py).

Terdapat dua hal dalam memproduksi suatu barang yang menjadi fokus

utama dari seorang pengusaha dalam rangka mendapatkan keuntungan yang

maksimum, yaitu ongkos (cost) dan penerimaan (revenue). Penerimaan adalah

jumlah uang yang diperoleh dari penjualan sejumlah output atau dengan kata lain

merupakan segala pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan hasil dari penjualan

hasil produksinya. Hasil total penerimaan dapat diperoleh dengan pengalihkan

jumlah satuan barang yang dijual dengan harga barang yang bersangkutan atau TR

= Q x P (Rahman, 2010).

20
Hernanto (2000) menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi besarnya

penerimaan adalah produkstivitas usaha pemotongan ayam pedaging, harga

persatuan produk, waktu pemasaran, dan kualitas hasil. Oleh karena itu untuk

meningkatkan penerimaan perlu meningkatkan hasil produksi usaha pemotongan

ayam pedaging, meningkatkan kualitas, dan harga pasar terjamin.

Rasyaf (2003) menyatakan bahwa bentuk umum penerimaan dari penjualan

yaitu TR = P x Q ; dimana TR adalah total revenue atau penerimaan, P adalah

price atau harga jual perunit produk dan Q adalah Quantity atau jumlah produk

yang dijual. Dengan demikian besarnya penerimaan tergantung pada dua variabel

harga jual dan variabel jumlah produk yang dijual.

Tuwo, A (2011) mengemukakan bahwa penerimaan usahatani dapat

berwujud tiga hal yaitu; pertama, hasil penjualan tanaman, ikan, atau produk yang

dijual. Kedua, produk yang dikonsumsi pengusaha dan keluarga selama

melakukan kegiatan produksi. Ketiga, kenaikan nilai investasi nilai benda-benda

inventaris yang dimiliki petani, berubah-ubah nilai pada awal tahun dengan nilai

akhir tahun perhitungan. Jika terjadi kenaikan nilai benda-benda inventaris yang

dimiliki petani maka selisih tersebut merupakan penerimaan usahatani.

2.5. Konsep Pendapatan

Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan

seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan masyarakat ini mencerminkan

kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Menurut Sukirno (2000), pendapatan

individu merupakan pendapatan yang diterima seluruh rumahtangga dalam

perekonomian dari pembayaran atas penggunaan faktor-faktor produksi yang

21
dimilikinya dari sumber lain. Selanjutnya menyatakan pada tahun 2006, bahwa

pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi

kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan maupun

tahunan. Kegiatan usaha pada akhirnya akan memperoleh pendapatan berupa nilai

uang yang diterima dari penjualan pokok yang dikurangi biaya yang telah

dikeluarkan.

Soekartawi (2002), menyatakan penerimaan adalah hasil kali antara

produksi yang diperoleh dengan harga jual. Selain itu, Pangandaheng (2012),

menyatakan pendapatan merupakan penerimaan yang dikurangi dengan biaya-

biaya yang dikeluarkan. Pendapatan seseorang pada dasarnya tergantung dari

pekerjaan di bidang jasa atau produksi, serta waktu jam kerja yang dicurahkan,

tingkat pendapatan perjam yang diterima.

Kriteria pendapatan yang ditetapkan dalam seminar pendapatan nasional dan

salah satu pokok adalah batasan tingkat pendapatan untuk tingkat pendapatan

untuk kriteria pendapatan rendah sedang dan tinggi sebagai berikut:

Menurut (Sinungan, 2003)

1. Kriteria untuk pendapatan rendah

a. Penduduk yang pendapatan rendah yaitu Rp.1.000.000-Rp.10.000.000.

pertahun atau rata-rata Rp.750.000 perkapita perbulan.

b. Tidak memiliki pekerjaan tetap

c. Tidak memiliki tempat tinggal tetap (Sewa)

d. Tingkat pendidikan yang terbatas

2. Kriteria untuk pendapatan sedang

22
b. Penduduk yang berpendapatan sedang yaitu Rp.10.000.000- Rp.25.000.000,

Rp.1.250.000.000 perkapita perbulan.

c. Memiliki pekerjaan tetap

d. Memiliki tepat tinggal yang sederhana.

e. Memiliki tingkat pendidikan.

3. Kriteria untuk pendapatan tinggi

a. Penduduk berpendapatan tinggi yaitu Rp.25.000.000 Rp.50.000.000 atau

rata-rata Rp.2.083.333 perkapita perbulan.

b. Memiliki lahan dan lapangan kerja.

c. Memiliki tempat tinggal tetap.

d. Memiliki tingkat pendidikan

Menurut Suratiyah (2015) menjelaskan bahwa pendapatan dan biaya

usahatani ini dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri

dari umur petani, pendidikan, pengetahuan, pengalaman, keterampilan, jumlah

tenaga kerja, luas lahan dan modal. Faktor eksternal berupa harga dan

ketersediaan sarana produksi. Ketersediaan sarana produksi dan harga tidak dapat

dikuasai oleh petani sebagai individu meskipun dana tersedia. bila salah satu

produksi tidak tersedia maka petani akan mengurangi penggunaan faktor produksi

tersebut, demikian juga dengan harga sarana produksi misalnya harga pupuk

sangat tinggi bahkan tidak terjangkau akan mempengaruhi biaya dan pendapatan.

2.6s. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang dianggap relevan dan dijadikan sebagai

pendukung terhadap penelitian ini adalah sebagai berikut:

23
Tugiyanto et.al (2013) menganalisis pendapatan dan efisiensi usaha ayam

ras petelur. Metode yang digunakan adalah analisis pendapatan, analisis efisiensi

ekonomi, analisis profitabilitas, pengaruh faktor produksi, jumlah pakan, jumlah

ternak satuan ekor, produksi telur, jam kerja, obat, vaksin, kimia terhadap

pendapatan dan efisiensi ekonomi pada usaha ayam ras petelur, dan analisis Break

Even Point (BEP). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata

pendapatan yang diperoleh peternak sebesar Rp 4.688.186,-/bulan. Efisiensi usaha

ayam ras petelur rata-rata sebesar 1,25. Rata-rata nilai profitabilitas usaha ayam

ras petelur di kabupaten Wonosobo sebesar 4,29%. Faktor produksi secara

serempak berpengaruh terhadap pendapatan dan efisiensi usaha ayam ras petelur.

Persamaan penelitian saya menganalisis variabel yang sama yaitu pendapatan,

analisis regresi berganda, analisis R/C Ratio, sedangkan perbedaannya tidak

menggunakan analisis efisiensi ekonomi dan analisis profitabilitas.

W.Roesali (2016) menganalisis variable biaya, jumplah produksi, dan

Duckday terhadap pendapatan dengan metode analisis kuantitatif. Hasil penelitian

usaha bebek di Kecamatam Banyubiru, Kabupaten Semarang layak untuk

dikembangkan ini dibuktikan dari profitabilitas rata-rata 31,94% lebih besar dari

tingkat bunga pada bank deposito 1 bulan (0,14%) secara signifikan. Perbedaan

dari penelitian ini adalah variabel yang digunakan untuk menganalisis terhadap

pendapat dan komoditas yang diteliti juga berbeda.

Dewanti dan Sihombing (2012) menganalisis besarnya pendapatan yang

diperoleh peternak ayam buras dan pengaruh faktor-faktor produksi terhadap

pendapatan usaha. Metode yang digunakan adalah analisis regresi berganda, uji F

24
dan uji t. Hasil penelitian adalah menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan bersih

dari penjualan ayam buras 89 ekor, feses dan telur yaitu Rp. 1.383.358,10 per

tahun/peternak. Analisis regresi linear berganda diperoleh dengan persamaan Ŷ =

20,947+0,620X1+0,003X2-0,996X3-0,869X4-0,015X5+0,845X6. Nilai koefisien

determinasi (R2) sebesar 0,646 berarti pendapatan ayam buras mampu dijelaskan

oleh biaya pembelian ayam, jagung, dedak, obat/vitamin, tenaga kerja, listrik

sebesar 64,6% sedangkan sisanya sebesar 35,4% dipengaruhi oleh variabel-

variabel di luar yang diteliti. Pada uji F, variabel independen berpengaruh secara

bersama terhadap variabel dependen dengan tingkat signifikan 0,05, berdasarkan

uji t faktor biaya pendapatan dipengaruhi oleh pembelian ayam dan biaya listrik

sedangkan biaya lainnya tidak berpengaruh terhadap pendapatan. Persamaan dari

penelitian ini adalah menggunakan metode analisis regresi berganda.

27

III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan April

2020 CV. Abu Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari. Pemiihan lokasi

dilakukan dengan sengaja (proposional).

3.2. Penentuan Lokasi dan Sampel

25
Penenuan lokasi dan sampel penelitian ditentukan secara purphosif

sampling (secara sengaja) yaiu pada usaha pemotongan ayam “CV. Abu Chicken”

di Kecamatan Poasia Kota Kendari, dengan pertimbangan bahwa CV. Abu

Chicken merupakan CV yang bergerak pada bidang usaha pemotongan ayam

broirel di Kecamatan Poasia dan telah memiliki izin usaha.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu data

primer dan data sekunder.

1. Data primer diperoleh dari hasil penarikan sampe hasil wawancara langsung

dengan responden di usaha pemotongan ayam CV. Abu Chicken,

2. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait yang berhubungan dengan

penelitian yaitu CV. Abu Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari, Dinas

Peternakan Kota Kendari, dan instansi yang terkait.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara dan observasi

berpedoman pada quesioner. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah:

1. Wawancara

Merupakan kegiatan tanya jawab atau komunikasi secara langsung

dengan responden atau pemilik usaha tersebut untuk memperoleh data yang

dibutuhkan dengan menggunakan quisioner yang telah ditentukan.

2. Observasi

26
Merupakan pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan

secara langsung pada obyek penelitian mengenai kondisi, tempat rumah potong

ayam, dan kegiatan sehari-hari pemilik usaha.

3.5. Variabel Penelitian

Variabel Penelitian ini adalah

1. Identitas responden meliputi: umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusaha

dan jumlah tanggungan keluarga.

2. Karakteristik usaha pemotongan ayam pedaging: profil usaha, tenaga kerja,

skala usaha dan modal usaha

3. Biaya produksi, penerimaan, harga ayam pedaging dan pendapaan

3.5. Analisis Data

Untuk menghitung biaya produksi dan pendapatan dalam usaha pemotongan

ayam digunakan pendekatan nominal tanpa menghitung nilai uang menurut waktu

tetapi yang dipakai adalah harga yang berlaku, sehingga dapat langsung dihitung

jumlah pengeluaran dan jumlah penerimaan dalam satu periode proses produksi.

Formulasi menghitung biaya produksi dan pendapatan adalah sebagai berikut:

(Suratiyah, 2015)

Rumus untuk menghitung biaya produksi dalam satu kali proses produksi:

(TC) = (FC) + (VC)

Biaya total = Biaya tetap + Biaya variabel

Soekartawi (2002), disebutkan bahwa usaha bisa diartikan sebagai ilmu

yang mempelajari bagaimana seseorang memanfaatkan sumber daya yang ada

secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada

27
waktu tertentu. Menurut Soekartawi dkk (2008) Pendapatan usaha merupakan

selisih antara penerimaan dan semua biaya atau dengan kata lain pendapatan xx

meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan pendapatan bersih.

Pendapatan kotor atau penerimaan total adalah nilai produksi komoditas secara

keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi. Pendapatan usaha dapatat

dirumuskan sebaga berikut:

Pd= TR- TC

TR= Y. Py

TC= FC+ VC

Dimana :

Pd = Pendapatan usaha pemotongan ayam pedaging

TR = Total penerimaan (total revenue)

TC = Total biaya (total cost)

FC = Biaya tetap (fixed cost)

VC = Biaya variabel (variable cost)

Y = Produksi yang dperoleh dalam suatu usahatani

Py = Harga y

Untuk mengetahui apakah usaha pemotongan ayam dalam melakukan

proses produksi mengalami keuntungan, impas dan rugi digunakan analisis R/C

yaitu perbandingan (nisbah) antara jumlah penerimaan dengan jumlah

pengeluaran selama proses produksi, yang diformulasikan sebagai berikut:

(Kartasapoetra, 1988)

TR
R/C =
TC

28
Keterangan :

R/C = Rasio revenue dengan cost

TR = Total Revenue atau total penerimaan

TC = Total Cost atau total biaya

Dengan kriteria:

R/C < 1, artinya usaha budidaya rumput laut tidak menguntungkan.

R/C = 1, artinya usaha budidaya rumput laut mengalami impas.

R/C > 1, artinya usaha budidaya rumput laut menguntungkan dan

penggunaan biaya produksi efisien

3.6. Konsep Operasional

1. Responden yaitu pelaku usaha pemotongan ayam pedaging di CV. Abu

Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari.

2. Jumlah anggota keluarga adalah orang yang kebutuhan hidupnya ditanggung

oleh responden (jiwa).

3. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti

oleh responden yang diukur dalam satuan tahun.

4. Pengalaman berusahatani adalah lamanya responden bekerja sebagai CV.

Abu Chicken di Kecamatan Poasia Kota Kendari yang diukur dalam satuan

tahun.

5. Produksi adalah hasil yang diperoleh responden usaha pemotongan dengan

satuan (Kg/ekor).

6. Harga jual adalah harga penjualan ayam pedaging di tingkat konsumen

dengan satuan rupiah per kilogram (Rp/kg).

29
7. Biaya bahan bakar adalah biaya yang dikeluarkan oleh usaha pemotongan

ayam dengan satuan rupiah (Rp).

8. Harga bahan baku (ayam pedaging) adalah biaya yang dikeluarkan untuk

membeli ayam pedaging dalam satuan rupiah per kilogram.

9. Upah tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga

kerja yang digunakan dalam usaha pemotongan ayam (Rp/bulan).

10. Pendapatan adalah penerimaan yang diperoleh CV. Abu Chicken di

Kecamatan Poasia Kota Kendari dengan satuan rupiah per proses produksi

(Rp/proses produksi).

11. TC (total cost) adalah jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam satu

kali produksi (Rp/proses produksi).

12. TFC (total fixed cost) adalah jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan

untuk pengadaan peralatan produksi seperti pengadaan mesin pencabut bulu,

tali, terpal, kandang, dan pisau (Rp/proses produksi).

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, 2003. Pengantar Mikro ekonomi. Aplikasi dan Manajemen. Banyumedia


Publishing. Malang.

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara, 2018. Luas Wilayah Kota


Kendari menurut Kecamatan, 2016.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.2017.Produksi Daging dari


tahun 2013−2017 (000 Ton)

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.2017.Produksi Daging,


Telur, Dan Susu Dari Tahun 2013−2017 (000 Ton).

Dwitiya Matharani, 2013. Model Kemitraan Inti Plasma Ayam pedaging. Studi
Kasus di Kabupaten Lamongan. Jurnal Ternak. 1 (1) : 1-11.

30
Hendro. MM, 2011. Dasar-Dasar Kewirausahaan. Penerbit Erlangga: Jakarta.

Kartasudjana, 2010Manajemen Ternak Unggas. Penebar. Swadaya, Jakarta.

Kartasapoetra, 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropika


Bina Aksara. Jakarta.

Miller, R.L. dan R.E. Mainers. 2000. Teori Ekonomi Intermedia. Edisi: III. Raja
Grafindo. Jakarta.

Muhammad, 2004. Ekonomi Sumberdaya Manusia dalam Prospek Pembangunan.


Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Mulyadi, 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia-Dalam Perspektif


Pembangunan. Penerbit PT.Rajagrafindo Persada. Jakarta.

, 2009. Akutansi Biaya. Edisi ke-5 Cetak Kesembilan. Penerbit UPP-STIM


YKPN. Yogyakarta.

Mutirdjo. 2006. Manajemen Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Pangandaheng, Yanti. 2012. Analisis Pendapatan Petani Kelapa di Kecamatan


Saliabu Kabupaten Talaud. Skripsi. Universitas Sam Ratulangi Manado.

Rahman, 2010. Strategi Dahsyat Marketing Mix For Small Business. Trans Media
Pustaka. Jakarta.

Rasyaf, 2003. Memasarkan Hasil Peternakan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sinungan, 2003. Produktivitas dan Pendapatan Masyarakat, Bumi Aksara,


Jakarta.

Soekartawi, 2002. Teori Ekonomi Pertanian. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sugiarto, 2002. Akutansi Mikro. Salemba Empat. Jakarta.

Sukirno, Sadono. 2000. Mikro Ekonomi Modern: Perkembangan Pemikiran dari


Klasik Sampai Keynesian Baru. Edisi 1.PR Raja Grafindo. Jakarta.

, 2006. Ekonomi Pembangunan: Proses Masalah dan Dasar Kebijakan.


Kencana Prenada. Media Group.

Suratiyah, 2015. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta

31
Suryana, 2008. Kewirausahaan, Pedoman Praktis,Kiat dan Proses Menuju
Sukses. Salemba Empat: Jakarta.

Supriyono, R.A. 2000. Akutansi Biaya: Perencanaan dan Pengendalian Biaya


Serta Pembuatan Keputusan, Edisi Kedua, BPFE. Yogyakarta.

Suratiyah, 2015. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suto, 2004. 4. Buku Ajar Ilmu Usahatani. Fakultas Pertanian. Universitas


Haluoleo. Kendari.

Tuwo, A. 2011. Ilmu Usahatani Teori dan Aplikasi. Unhalu Press. Kendari.

Wahyu, 2004. Manajemen Produksi dan Operasi. Fakultas Ekonomi Universitas


Indoenesia. Jakarta.

Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas.Kanisius: Yogyakarta.

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN..............................................................................
1.1. Latar Belakang................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah............................................................................ 4
1.3. Tujuan Penelitian............................................................................. 4
1.4. Kegunaan Penelitian......................................................................... 5
1.5. Kerangka Pikir Penelitian................................................................ 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................
2.1. Ayam Pedaging................................................................................ 7

32
2.2. Usaha Pemotongan Ayam Pedaging................................................ 8
2.3. Konsep Produksi.............................................................................. 10
2.4. Konsep Penerimaan ......................................................................... 18
2.5. Konsep Pendapatan.......................................................................... 19
2.6. Penelitian Terdahulu........................................................................ 21
BAB III. METODE PENELITIAN...............................................................
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian........................................................... 24
3.2. Jenis dan Sumber Data..................................................................... 24
3.3. Variabel Penelitian........................................................................... 24
3.4. Teknik Pengumpulan Data............................................................... 24
3.5. Analisis Data.................................................................................... 25
3.6. Konsep Operasional......................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

DAFTAR iii
GAMBAR

Kerangka Pikir.................................................................................................. 6

33
iv

34