Anda di halaman 1dari 25

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

“10 PENYAKIT MENULAR”

OLEH

NUR ZAKIYAH ULFITRI

J1A1 18 086

KELAS A

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
Soal

Tuliska 10 penyakit menular disertai : mekanisme penularan, penyebab, cara masuk ke tubuh,
proses (langsung / tidak lagsung) atau keduanya

1. Tuberkulosis

Sumber penularan penyakit Tuberkulosis adalah penderita Tuberkulosis BTA positif


pada waktu batuk atau bersin. Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandungkuman dapat bertahan di udara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut
terhirup ke dalam saluran pernafasan.Setelah kuman Tuberkulosis masuk ke dalam
tubuh manusia melalui pernafasan, kuman Tuberkulosis tersebut dapat menyebar dari
paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas, atau
penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang
penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin
tinggi derajat positifhasil pemeriksaan dahak, makin menularpenderita tersebut. Bila
hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut
dianggap tidakmenular. Seseorang terinfeksi Tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi
droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan karena kuman
TB yaitu Myobacterium Tuberculosis. Mayoritas kuman TB menyerang paru, akan
tetapi kuman TB juga dapat menyerang organ Tubuh yang lainnya. Tuberkulosis
adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
Tuberculosis) (Werdhani, 2011)
Tuberkulosis menular secara tidak lansung, melalui kotak fisik (seperti berjabat
tangan) atau menyentuh peralatan yang telah terkonaminasi bakteri TB. Selain itu,
berbagi makanan atau minuman dengan penderita TB juga tidak menyebabkan
seseorang tertular penyakit ini.

2. DBD
Seseorang yang terkena DBD, di pembuluh darahnya terdapat virus dengue. Ketika
nyamuk biasa dari kedua jenis nyamuk perantara ini mengisap darah pada pasien
positif DBD, virus dengue tersebut juga ikut mengalir di dalam tubuh nyamuk tadi.
Dalam nyamuk yang tadi, virus dengue ini bisa hidup. Sehingga sewaktu-waktu saat
nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, virus dengue yang ada di dalam tubuh
nyamuk itu ikut ditinggalkan melalui air liur nyamuk. Dari situlah terjadi proses
penularan virus dengue yang dibawa dari pasien DBD sebelumnya. Untuk diketahui,
seekor nyamuk bisa menularkan lebih dari satu orang pasien DBD, inilah yang
disebut multiple bite.
Ada dua jenis nyamuk sebagai perantara penularan virus dengue terhadap
tubuh seorang manusia hingga menjadi penyakit DBD yaitu Aedes aegypti dan Aedes
albopictus.
Cara masuk ke dalam tubuh yaitu dengan perantara gigitan nyamuk.
Tidak dapat menular secara langsung namun melalui udara, cairan tubuh,
makanan, maupun minuman. Hal ini virus gengue tidak mampu bertahan hidup jika
berada di luar sel atau jaringan yang hidup. Virus dengue hidup dan menular dengan
bantuan nyamuk aedes aegypty, aedes albopictus atau aedes polynesiensis.

3. Campak

Campak merupakan penyakit menular dan dapat menyebabkan komplikasi


serius, terutama pada bayi dan anak-anak. Campak merupakan infeksi yang
disebabkan oleh virus. Campak disebabkan oleh paramiksovirus ( virus campak).
Kemunculan ruam di seluruh tubuh sebagai gejalanya dan sangat menular. Campak
sangat menular dan akan memunculkan ruam pada seluruh tubuh. Umumnya, sekitar
satu hingga dua minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh, gejala campak baru akan
muncul.
Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak.
Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam
kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada. Ketika menyerang tubuh, virus campak akan
memunculkan ruam kemerahan di seluruh tubuh akibat infeksi. Umumnya, kondisi ini
akan diikuti dengan batuk, pilek, dan demam. Selain itu, ada beberapa gejala lainnya
yang mungkin di alami pengidapnya.
Penularan campak terjadi secara langsung melalui percikan cairan yang
dikeluarkan oleh pengidap campak saat bersin dan batuk. Siapa pun yang menghirup
percikan cairan tersebut maka akan tertular campak. Virus campak sendiri bisa
bertahan selama beberapa jam dan bisa dengan mudah menempel pada benda-benda.
Jika seseorang menyentuh benda yang terlanjur dihinggapi virus campak, maka besar
kemungkinan dirinya akan tertular campak.
4. Kolera

Melalui makanan yang terjangkit V. Cholrare lewat serangga, air minum yang masih
mentah, makanan minuman yang terjangkit limbah, sanitasi yang kurang memadai,
system penyediaan air bersih yang buruk, sayuran dan buah-buahan yang belum di
kupas, serta susu yang belum di pasteurisasi
Bakteri Vibrio Cholerae. Namun, yang membuat penyakit ini menjadi
berbahaya dan bisa mengancam nyawa adalah keberadaan racun yang disebut ctx,
atau tosin kolera.
Cara masuk virus ke dalam tubuh yaitu melalui makanan dan minuman yang
kita konsumsi yang belum tentu bersih saat kita mengonsumsinya.
Proses kontaknya yaitu secara langsung dapat terjadi apabila penderita
bersentuhan langsung dengan orang lain. Secara tidak langsung dapat melalui
makanan atau minuman yang kita konsumsi yan gtelah terkontaminasi.

5. HIV/AIDS

Penularan HIV hanya dapat terjadi jika darah, air mani, cairan dari anus, air
susu ibu, atau cairan dari vagina penderita HIV masuk ke dalam tubuh orang lain.
Masyarakat umumnya mengetahui penularan HIV melalui jarum suntik dan
melakukan hubungan seksual.

Penularan HIV melalui jarum suntik biasanya terjadi di lingkungan pemakai


narkotika. Alat-alat yang digunakan untuk menindik ataupun membuat tato yang tidak
disterilkan juga dapat menjadi cara penularan HIV.

Selain itu, seseorang juga dapat terinfeksi virus HIV saat berhubungan seksual
dengan penderita HIV, terutama jika tidak menggunakan kondom. Bila air mani,
cairan dari vagina, atau cairan dari anus penderita HIV masuk ke dalam tubuh saat
berhubungan seksual, Anda dapat terinfeksi virus HIV.

Penyebab yaitu AIDS disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV).


HIV yang masuk ke dalam tubuh akan menghancurkan sel CD4. Sel CD4 adalah
bagian dari sel darah putih yang melawan infeksi. Semakin sedikit sel CD4 dalam
tubuh, maka semakin lemah pula sistem kekebalan tubuh seseorang.

Proses secara langsugnnya yaitu dengan melakukan hubungan seksual dengan


penderita AIDS, menerima donor darah dari penderita AIDS. Proses secara tidak
langsung yaitu menggunakan jarum suktik yang telah dipakai.

6. Ebola

Mekanisme penularannya yaitu:

a. Sekitar satu minggu setelah infeksi atau peradangan, virus mulai menyerang darah
dan sel hati.

b. Penyakit akan meyebar secara cepat keseluruh tubuh, virus akan menghancurkan
organ atau bagian tubuh yang penting seperti hati dan ginjal.

c. Infeksi virus Ebola akan menyebabkan atau mendorong terjadinya pedarahan


internal secara basar-besaran (masive).

d. Virus ebola akan menghambat kerja sistem pernapasan, yang dapat menyebabkan
kematian seketika pada pasien.

Penyebab virus Ebola ini yaitu, disebabkan oleh suatu viruss yang termasuk dalam
keluarga Filoviridae. Para ilmuan sudah mengidentifikasi empat jenis virus Ebola.
Tiga telah dilaporkan dapat menyebabkan penyakit pada manusia, yaitu virus
ebola zaire, virus Ebola Sudan, dan virus Ebola Ivory. Virus-virus ini telah
menyebabkan penyakit pada manusia dinegara-negara Afrika.

Cara masuk ketubuh dapat melalui kontak tidak langsung yaitu penyakit ebola
menyebar dan masuk kedalam tubuh host melalui berbagai macam cara antara lain
melalui jarum suntik, donor darah,dab melalui kontak langsung tangan
7. Malaria

Dimulai dengan dingin dan sering sakit kepala. Penderita menggigil atau gemetar
selama 15 menit sampai satu jam.

Dingin diikuti demam dengan suhu 40 derajat atau lebih. Penderita lemah, kulitnya
kemerahan dan menggigau. Demam berakhir serelah beberapa jam.

Penderita mulai berkeringat dan suhunya menurun. Setelah serangan itu berakhir,
penderita merasa lemah tetapi keadaannya tidak mengkhawatirkan.

Rasa sakit yang ditimbulkan sangat menyiksa si penderita. Tubuh yang sangat lemah,
sehingga tidak dapat bekerja seperti biasa. Malaria dapat menimbulkan kematian pada
anak-anak dan bayi. Perkembangan otak bisa terganggu pada anak-anak dan bayi,
sehingga menyebabkan kebodohan.

Penyakit malaria disebabkan oleh bibit penyakit yang hidup di dalam darah manusia.
Bibit penyakit tersebut termasuk binatang bersel satu, tergolong amuba yang disebut
Plasmodium.

Ada empat macam plasmodium yang menyebabkan malaria: Falciparum, penyebab


penyakit malaria tropika. Jenis malaria ini bisa menimbulkan kematian. Vivax,
penyebab malaria tersiana. Penyakit ini sukar disembuhkan dan sulit kambuh.

Malariae, penyebab malaria quartana. Di Indonesia penyakit ini tidak banyak


ditemukan.  Ovale, penyebab penyakit malaria Ovale. Tidak terdapat di Indonesia.

Kerja plasmodium adalah merusak sel-sel darah merah. Dengan perantara nyamuk
anopheles, plasodium masuk ke dalam darah manusian dan berkembang biak dengan
membelah diri.

Penularan penyakit malaria dari orang yang sakit kepada orang sehat, sebagian besar
melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit malaria dalam darah manusia dapat terhisap
oleh nyamuk, berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, dan ditularkan kembali
kepada orang sehat yang digigit nyamuk tersebut.
Beberapa vektor (perantara) malaria adalah
Anopheles sundaicus, nyamuk perantara malaria di daerah pantai. Anopheles
aconitus, nyamuk perantara malaria daerah persawahan. Anopheles maculatus,
nyamuk perantara malaria daerah perkebunan, kehutanan dan pegunungan.

8. Difteri
Difteri merupakan salah satu penyakit menular berbahaya yang perlu dihindari, difteri
disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae pada tenggorokan dan
sistem pernapasan atas.
Kuman difteri berdiam dan menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan, maka
cara penularan difteri adalah lewat percikan (droplet) air liur dan lendir pernapasan
dari penderita difteri sebelumnya. Ketika droplet pernapasan tersebut terhirup masuk
ke dalam tubuh orang yang tidak memiliki kekebalan, kemungkinan terjadinya infeksi
sangat tinggi. Difteri ini menyebar lewat percikan air liur. Jika bersin dan liurnya
keluar, bisa langsung menyebar ke orang lain. Adapun kalangan usia yang paling
sering tertular dan mengalami komplikasi adalah kelompok usia anak-anak.
Penularan difteri terjadi akibat kontak langsung dengan cairan yang keluar dari
saluran pernapasan dan pengelupasan luka kulit serta bisa menular melalui udara dan
bisa juga ditularkan secara tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi
bakteri juga bisa menyebabkan penularan penyakit.
9. Cacar air
Mekanisme penularannya yaitu, penularan penyakit cacar air paling sering terjadi
melalui saluran pernapasan, yaitu melalui selaput lendir yang terdapat pada mulut dan
hidung, berupa air liur, bersin, dan batuk
Penyebab cacar air yaitu Varicella simplex adlah virus varisela zoster.
Cara masuk ke dalam tubuh yaitu saat masuk ke tubuh manusia, virus akan
memperbanyak diri dan menyebar ke jaringan setempa melalui aliran darah dan aliran
getah bening. Virus memperbanyak diri kembali sehingga virus menyebar ke seluruh
tubuh terutama bagian kulit dan selapit lendir. Masa inkubasi virus yaitu, mulai
masuknya virus ke dalam tubuh sehingga munculnya gejala awal penyakit cacar
biasanya 2 sampai 3 minggu, hal ini bisa di tandai dengan badan yang terasa panas.
Prosesnya yaitu, virus ini dapat menular melalui kontan secara langsung dengan
penderita atau lewat percikan virus melalui bersin atau batuk.
10. ISPA (Infeksi Saluran Persapasan Akut)
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernafasan
akut yang meliputi saluran pernafasan bagian atas seperti rhinitis, fharingitis dan
otitis serta saluran pernafasan bagian bawah seperti laryngitis, bronchitis,
bronchiolitis dan pneumonia yang dapat berlangsung selama 14 hari. Infeksi Saluran
Pernafasan Atas disebabkan oleh beberapa golongan kuman yaitu bakteri, virus, dan
ricketsia yang jumlahnya lebih dari 300 macam. Pada ISPA atas 90-95% penyebabnya
adalah virus.
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya.
Terdapat faktor tertentu yang dapat memudahkan penularan. Bakteri dan virus
penyebab ISPA di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan
bagian atas, yaitu tenggorokan dan hidung. Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa
panas, kering dan gatal dalam hidung, yang kemudian diikuti bersin terus menerus,
hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan nyeri kepala. Permukaan
mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Akhirnya terjadi peradangan yang
disertai demam, pembengkakan pada jaringan tertentu hingga berwarna kemerahan,
rasa nyeri dan gangguan fungsi karena bakteri dan virus di daerah tersebut maka
kemungkinan peradangan menjadi parah semakin besar dan cepat. Infeksi dapat
menjalar ke paru-paru, dan menyebabkan sesak atau pernafasan terhambat, oksigen
yang dihirup berkurang. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan
sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya akan
berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis,
faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii, hingga bronchitis dan
pneumonia (Halim, 2000).
Penularan virus atau bakteri penyebab ISPA terjadi secara langsung melalui
kontak dengan percikan air liur orang yang terinfeksi. Virus atau bakteri dalam
percikan liur akan menyebar melalui udara, masuk ke hidung atau mulut orang lain.
Soal
10 penyakit menular disertai tingkat pencegahannya

1. DBD
a. Pencegahan Primer
Pemcegahan primer adalah tahap awal dari ketiga tahap pencegahan suatu
penyakit. Pada tahap ini dilakukan penyuluhan dan proteksi spesifik untuk
mengendalikan penyakit yang bersangkutan.
Indonesia adalah Negara yang mempunyai program tersendiri untuk
mengendalikan penyakit Demam Berdarah Dengue. Program itu bernama Gerttak
PSN (Gerakan Seretak Pembasmian Sarang Nyamuk). Mengingat keterbatasan
dana dan sarana yang dimiliki oleh Negara, maka kegiatan penyuluhan dan
penggerakkan masyarakat dalam PSN Demam Berdarah Dengue dilaksanakan
melalui kerja sama lintas sektor serta lintas program, termasuk LSMyang terkait
penyuluhan, bimbingan dan motivasi kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan
untuk mewujudkan kemandirian masyarakat dalam mencegah penyakit demam
berdarah dengue. Dalam rangka peningkatan penggerakkan masyarakat dalam
PSN Demam Berdarah Dengue secara intensif, pemerintah juga melakukan
pembinaan dan pemantapan terhadap Pokjanal/Pokja Demarn Berdarah Dengue
melalui orientasi secara berjenjang, dengan memperioritaskan Kecamatan endemis
Demam Berdarah Dengue.Tidak hanya PSN, pemerintah melalui Dinas Kesehatan
juga mempunyai tim khusus dalam bidang Surveilans DBD. Tim dengan lambing
sepatu bolong ini akan selalu siap untuk turun ke lapangan untuk memperoleh data
yang diinginkan. Surveilans untuk nyamuk Aedes aegypti ini sangat penting untuk
menentukan distribusi, kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor resiko
berdasarkan waktu dan tempat yang berkaitan dengan penyebaran dengue, dan
tingkat kerentanan atau kekebalan insektisida yang dipakai untuk memprioritaskan
wilayah dan musim untuk pelaksanaan pengendalian vektor. Data tersebut akan
memudahkan pemilihan dan penggunaan sebagian besar peralatan pengendalian
vektor, dan dapat dipakai untuk memantau keefektifannya. Salah satu kegiatan
yang dilakukan adalahsurvei jentik

b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini murupakan upaya manusia untuk mencegah orang
yang sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit, menghindarkan
komplikasi dan mengurangi ketidakmampuan. Pencegahan sekunder dapat
dilakukandengan cara mendeteksipenyakit secara dini dan pengadaan pengobatan
yang cepat dan tepat.Penemuan, pertolongan, dan pelaporan penderita DBD
dilaksanakan oleh petugas kesehatan dan masyarakat dengan cara :
a) Bila dalam keluarga ada yang menunjukkan gejala penyakit DBD, berikan
pertolongan pertama dengan banyak minum, kompres dingin dan berikan
obat penurun panas yang tidak mengandung asam salisilat serta segera
bawa ke dokter atau unit pelayanan kesehatan.

b) Dokter atau unit kesehatan setelah melakukan pemeriksaan/diagnosa dan


pengobatan segaera melaporkan penemuan penderita atau tersangka DBD
tersebut kepada Puskesmas, kemudian pihak Puskesmas yang menerima
laporan segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan pengamatan
penyakit dilokasi penderita dan rumah disekitarnya untuk mencegah
kemungkinan adanya penularan lebih lanjut.

c) Kepala Puskesmas melaporkan hasil penyelidikan epidemiologi dan


kejadianluar biasa (KLB) kepada Camat, dan Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten, disertai dengan cara penanggulangan seperlunya
diagnosis laboratorium

c. Pencegahan Tersier
Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan dan
mengadakan rehabilitasi.Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan :
a) Transfusi DarahPenderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti
hematemesis dan malena diindikasikan untuk mendapatkan transfusi darah
secepatnya.

b) Stratifikasi Daerah Rawan DBDMenurut Kemenkes RI, adapun jenis


kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan stratifikasi daerah rawan
seperti :
•Endemis
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus
DBD. Kegiatan yang dilakukan adalah fogging Sebelum Musim Penularan
(SMP), Abatisasi selektif, dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
•Sporadis
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD.
Kegiatan yang dilakukan adalah Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB), PSN
(Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan 3M, penyuluhan tetap dilakukan.
•Potensial
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir tidak ada kasus
DBD. Tetapi penduduknya padat, mempunyai hubungan transportasi
dengan wilayah lain dan persentase rumah yang ditemukan jentik > 5%.
Kegiatan yang dilakukan adalah PJB, PSN, 3M dan
penyuluhan.•BebasYaitu Kecamatan, Kelurahan yang tidak pernah ada
kasus DBD. Ketinggian dari permukaan air laut > 1000 meter dan
persentase rumah yang ditemukan jentik ≤ 5%. Kegiatan yang dilakukan
adalah PJB, PSN, 3M dan penyuluhan

2. Malaria

a. Pencegahan Primer
a) Promosi Kesehatan Promosi Kesehatan adalah suatu alat untuk menyampaikan
pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok dan individu. Dengan harapan
adanya pesan tersebut masyarakat, kelompok dan individu dapat memperoleh
informasi tentang kesehatan yang lebih baik. Dengan kata lain, adanya
promosi kesehatan ini dapat merubah perilaku atau gaya hidup masyarakat,
kelompok, dan individu menjadi lebih baik.Dengan memberikan brosur,
pamflet, dan poster kepada masyarakat, kelompok dan individu oleh tenaga
kesehatan ataupun yang ahli dibidang promosi kesehatan, harapannya supaya
masyarakat mengerti tentang adanya gejala, tanda malaria, cara penularan,
pengobatan penyakit malariadan tentunya memberikan informasi tentang cara
menghilangkan perindukan nyamuk malaria. Memberikan informasi kepada
setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis.
b) Proteksi SpesifikSeseorang seharusnya menghindari dari gigitan nyamuk
dengan menggunakan pakaian lengkap, tidur juga harus memakai kelambu,
memakai obat nyamuk (seperti autan) dan menghindari untuk mengunjungi
lokasi yang rawan terdapat penyakit malaria.

b. Pencegahan Sekuder

a) Deteksi DiniDeteksi Malaria sering melakukan tindakan yang tepat dari


penderita yang mengalami penyakit malaria tentang keluhan utama
(demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual,
muntah, diare, dan nyeri obat atau pegal-pegal), riwayat berkunjung dan
bertempat tinggal di daerah endemis malaria sekitar 1-4 minggu yang lalu,
riwayat sakit malaria, riwayat minum obat malaria 1 bulan terakhir, dan
riwayat mendapatkan transfusi darah.
b) Pengobatan TepatPengobatan untuk mereka yang terinfeksi malaria adalah
dengan menggunakan chloroquine terhadap P. Falciparum, P. Vivax, P.
Malariae dan P. Ovale yang masih sensitif terhadap obat tersebut. Untuk
pengobatan darurat bagi orang dewasa yang terinfeksi malaria dengan
komplikasi berat atau untuk orang yang tidak memungkinkan diberikan
obat peroral dapat diberikan obat Quinine dihydrochloride. Untuk infeksi
malaria P.Falciparum yang didapat di daerah dimana ditemukan strain
yang resisten terhadap chloroquine, pengobatan dilakukan dengan quinine.
Untuk mencegah adanya infeksi ulang karena digigit nyamuk yang
mengandung malaria P.Vivax dan P.Ovale berikan pengobata dengan
primaquine. Primaquine tidak dianjurkan pemberiannya bagi orang yang
terkena infeksi malaria bukan olh gigitan nyamuk (sebagai contoh karena
transfusi darah) oleh karena dengan cara penularan infeksi malaria
sepertiini tidak ada fase hati.

c. Pencegahan Tersier

a) Pencegahan KetidakmampuanBerbeda dengan penyakit-penyakit yang lain,


malaria tidak dapat disembuhkan meskipun dapat diobati untuk
menghilangkan gejala-gejala penyakit. Malaria menjadi penyakit yangsangat
berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup.
b) RehabilitasiPemulihan kondisi malaria, memberikan dukungan secara
langsung kepada penderita dan keluarga di dalam pemulihan dari penyakit
malaria, dan melakukan rujukan pada penderita yang memerlukan pelayanan
rujukan ke rumah sakit

3. Tuberculosis
a. Pencegahan Primer
1. Promosi kesehatan
penyuluhan dengan melibatkan pasien masyarakat dalam kampanye advokasi,
penyuluhan rencana pengendalian infeksi, Koleksi dahak Aman, penyuluhan Etika
batuk dan batuk yang higienis, penyuluhan pasien TB triase dilakukan untuk saluran
cepat atau pemisahan, penyuluhan mendiagnosis TB yang cepat dan pengobatan,
Meningkatkan ventilasi udara kamar, Melindungi pekerja perawat kesehatan,
Pengembangan kapasitas dan Memonitor praktek pengendalian infeksi(WHO)

2. Proteksi spesifik
Vaksinasi BCG secara signifikan yang bisa mengurangi risiko TB dan
penggunaan alat pelindung diri di tempat kerja yang berisiko terkena TB,Terapi
pencegahan isoniazid (IPT) dan Terapi antiretroviral (ART) untuk orang-orang
dengan HIV (WHO).

b. Pencegahan Sekunder
1. Deteksi dini
Skrining atau penemuan kasus baru yang benar-benar positif TB dengan
melakukan pemeriksaan dahak. melakukan diagnosis TB paru dengan memeriksa
semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam 2 hari, diagnosis TB ekstra
paru dengan gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku
kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran
kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB. Diagnosis TB pada Orang
Dengan HIV AIDS (ODHA) 1.TB Paru BTA Positif, yaitu minimal satu hasil
pemeriksaan dahak positif. 2.TB Paru BTA negatif, yaitu hasil pemeriksaan dahak
negatif dan gambaran klinis & radiologis mendukung Tb atau BTA negatif dengan
hasil kultur TB positif. 3.TB Ekstra Paru pada ODHA ditegakkan dengan
pemeriksaan klinis, 6 bakteriologis dan atau histopatologi yang diambil dari
jaringan tubuh yang terkena (KEMENKES RI,2011)

2. Pengobatan tepat
Pada tahap ini, pencegahan sekunder dilakukan dengan pengobatan tepat.
Pengobatan untuk penyakit TB yaitu mengonsumsi obat kombinasi pada orang
dengan TB aktif, dengan jadwal dosis pada anak-anak dan remaja dengan TB
aktif yang tepat, jadwal dosis pada orang dewasa dengan TB aktif yang tepat,
Lama pengobatan pada orang dewasa dengan TB paru aktif yang benar, Lama
pengobatan pada anak-anak dan remaja dengan TB paru aktif dengan benar,
Lama pengobatan pada penderita TB paru aktif dengan benar.

c. Pencegahan Tersier
a) Ketidakmampuan
Penggunaan kortikosteroid tambahan pada pengobatan TB aktif, Penggunaan
operasi tambahan pada orang dengan TB aktif serta Pengobatan TB aktif pada
orang dengan penyakit penyerta atau kondisi co-ada
b) Rehabilitasi
Pasien paru BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2, bila masih
positif TB maka hentikan pengobatan dan rujuk ke layanan TB-MDR.

4. Campak
a. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial dilakukan dalam mencegah munculnya faktor
predisposisi/resiko terhadap penyakit Campak.Sasaran dari pencegahan primordial
adalah anak-anak yang masih sehat dan belum memiliki resikoyang tinggi agar
tidak memiliki factor resiko yang tinggi untuk penyakit Campak. Edukasi kepada
orang tua anak sangat penting peranannya dalam upaya pencegahan primordial.
Tindakan yang perlu dilakukan seperti penyuluhan mengenai pendidikan
kesehatan, konselling nutrisi dan penataan rumah yang baik.
b. Pencegahan Primer
Sasaran dari pencegahan primer adalah orang-orang yang termasuk kelompok
beresiko, yakni anak yang belum terkena Campak, tetapi berpotensi untuk terkena
penyakit Campak. Pada pencegahan primer ini harus mengenal faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya Campak dan upaya untuk mengeliminasi faktor-
faktor tersebut. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a) Promosi kesehatan
Promosi kesehatan dapat dilakukan dengan memberikan edukasi campak,
pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan mengenai Campak. Disamping
kepada penderita Campak, edukasi juga diberikan kepada anggota
keluarganya, kelompok masyarakat beresiko tinggi dan pihak -pihak
perencana kebijakan kesehatan. Berbagai materiyang perlu diberikan kepada
pasien Campak adalah definisi penyakit Campak, faktor-faktor yang
berpengaruh pada timbulnya Campak dan upaya-upaya menekan Campak,
pengelolaan Campak secara umum, pencegahan dan pengenalan komplikasi
Campak.
b) Proteksi spesifik
Proteksi spesifik dapat dilakukan dengan pemberian vaksin. Vaksin diberikan
secara subkutan sebanyak0,5ml. Vaksin campak tidak boleh diberikan pada
wanita hamil, anak dengan TBC yang tidak diobati, penderita leukemia.
Vaksin Campak dapat diberikan sebagai vaksin monovalent atau polivalen
yaitu vaksin measles-mumps-rubella(MMR). Vaksin monovalen diberikan
pada bayi usia 9 bulan, sedangkan vaksin polivalen diberikan pada anak usia
15 bulan. Penting diperhatikan penyimpanan dan transportasi vaksin harus
pada temperature antara 2ºC - 8ºC atau ±4ºC, vaksin tersebut harus
dihindarkan dari sinar matahari. Mudah rusak oleh zat pengawet atau bahan
kimia dan setelah dibuka hanya tahan 4 jam.
c. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah atau menghambat timbulnya
komplikasi dengan tindakan-tindakan seperti tes penyaringan yang ditujukan
untuk pendeteksian dini Campak serta penanganan segera dan efektif. Tujuan
utama kegiatan-kegiatan pencegahan sekunder adalah untuk mengidentifikasi
orang-orang tanpa gejala yang telah sakit atau penderita yang beresiko tinggi
untuk mengembangkan atau memperparah penyakit. Pencegahan sekunder yang
dapat dilakukan dengan :
a) Deteksi dini
Deteksi dini dilaukan untuk menghindari terjadinya sakit, maka perlu upaya
sedini mungkin untuk mengenal kondisi, maka dari itu harap diketahui faktor-
faktor yang menimbulkan gangguan dan gejala-gejalanya sebagai bentuk
deteksi diagnosis. Deteksi yang biasa dilakukan ialah mengenali gejala-gejala
abnormalitas (ketidakwajaran) pada suatu penyakit. Pendekatan diagnosis ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya kekalutan yang lebih parah yang dapat
merusak kepribadian. Hal tersebut dapat membantu individu dalam
mengembangkan cara berfikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku yang
baik dan benar, sehingga eksistensi seseorang bisa diterima dan diakui dalam
lingkungan sosialnya sebagai sosok insan yang sehat secara sempurna.
b) Pengobatan Tepat
Penderita Campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan. Tidak ada obat yang
secara langsung dapat bekerja pada virus Campak. Anak memerlukan istirahat
ditempat tidur, kompres dengan air hangat bila demam tinggi. Anak harus
diberi cukup cairan dan kalori, sedangkan pasien perlu diperhatikan dengan
memperbaiki kebutuhan cairan, diet disesuaikan dengan kebutuhan penderita
dan berikan vitamin A 100.000 IU per oral satu kali. Apabila terdapat
malnutrisi pemberian vitamin A ditambah dengan 1500 IU tiap hari. Dan bila
terdapat komplikasi, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi komplikasi
yang timbul.
d. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan
kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tersier
yaitu:
a) Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak.
b) Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun
secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas
mereka.
5. HIV/AIDS
A. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan pencegahan garda terdepan dimana pencegahan ini
bertujuan untuk mengurangi insiden dari suatu penyakit. Pencegahan ini lebih
mensasar pada pendekatan perseorangan dan komunitas seperti promosi kesehatan
dan upaya proteksi spesifik (Porta 2008). Pencegahan ini hanya dapat efektif
apabila dilakukan dan dipatuhi dengan komitmen masyarakat dan dukungan
politik yang tinggiDalam permasalahan HIV/AIDS , pencegahan primer sangatlah
diharapkan untuk menjadi upaya terbaik dalam menekan peningkatan kejadian
kasus HIV/AIDS. Biasanya pencegahan primer lebih menitikberatkan pada
peningkatan pengetahuan,sikap dan perilaku seseorang dan komunitas terhadap
penyakit HIV/AIDS dan metode penularannya. Berikut contoh upaya pencegahan
primer untuk penyakit HIV/AIDS yang dapat dilakukan :
a. Promosi kesehatan
a) Penyuluhan Kesehatan menjadi upaya yang sering dilaksanakan dalam
pencegahan HIV/AIDS. Upaya ini sebagai upaya pencerdasan bagi sasaran
komunitas untuk memperbaiki pengetahuan dan persepsi tentang
penyakit,Faktor risiko,metode penularan dan pencegahan dari Penyakit
HIV/AIDS (Chin & Editor 2000). Kegiatan penyuluhan ini dilakukan pada
kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV yaitu anak-anak,
remaja, kelompok Penasun ( pengguna Narkoba dan suntik ), Kelompok
pekerja seks, berganti-ganti pasangan seks dan lain lain. Hampir seluruh
kelompok umur berisiko untuk penyakit ini. Akan tetapi sekitar 40%
kelompok yang berisiko adalah kelompok remaja usia 20 –29 tahun (K et
al. 2010).
b) Beberapa survei menyebutkan adanya pemahaman masyarakat yang masih
minim terkait penyakit HIV/AIDS, sehingga upaya penyuluhan ini
menjadi langkah awal dalam pengendalian penyakit HIV/AIDS.Metode
penyuluhan sangat bervariasi diantaranya melalui ceramah dengan media
poster dan leaflet, diskusi, Forum Group Discussion dan membentuk
KSPAN ( Kelompok Siswa Peduli HIV/AIDS ) pada tiap sekolah yang
dilatih dan dibina untuk menjadi edukator untuk melakukan penyuluhan
kepada teman-teman sekolah (S et al. 2012).
c) Pada negara afrika tepatnya di morogoro, ada sebuah program sosial yang
bersinergi dengan puskesmas setempat untuk memberikan penyuluhan
terkait penyakit HIV/AIDS kepada kelompok ibu-ibu khususnya ibu hamil
pada program Integrated maternal and newborn health care. Program ini
diimplementasikan oleh kementerian kesehatan dan keadilan sosial negara
melalui Jhpiego, dan seluruh 18 departemen kesehatan di 4 wilayah rural
dan peri-urban. Jadi program ini dilakukan pada daerah rural dan peri-
urban. Jadi program ini diintegrasikan dengan dilakukannya tes HIV dan
dilanjutkan pada upaya edukasi (An et al. 2015).
b. Proteksi spesifik
Penularan virus HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual dengan orang
yang berisiko, penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan bebarengan, dan
penularan dari ibu hamil ke janinnya. Adapun upaya proteksi spesifik yang
sudah direkomendasikan untuk pengendalian penyakit HIV/AIDS sebagai
berikut :
a) Menurut permenkes nomor 21 tahun 2013 telah dijelaskan
penanggulangan HIV/AIDS pada pasal 14 tentang pencegahan HIV/AIDS
melalui hubungan seksual dilakukan melalui :
1) Tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berisiko.
2) Setia dengan pasangan
3) Menggunakan kondom secara konsisten pada saat berhubungan
4) Menghindari penyalahgunaan obat atau zat adiktif narkoba
5) Melakukan pencegahan lain seperti melakukan sirkumsisi.
Dalam melakukan hubungan seksual, proteksi penularan HIV/AIDS dapat
efektif dilakukan untuk mengurangi risiko melalui (Men & Estimate
2015):
1) Mempunyai satu pasangan seks yang berisiko rendah
2) Pasangan seks sesama ODHA ( Orang dengan HIV/AIDS )
3) Dan tidak melakukan hubungan seks
b) Adapun proteksi penularan HIV/AIDS yang tidak melalui hubungan
seksual diantaranya pembuatan program layanan alat suntik steril dan tes
darah sebelum melakukan transfusi darah.
B. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder merupakan pencegahan lini kedua dari teori pencegahan
penyakit. Pencegahan sekunder bertujuan untukmengurangi dan meminimalisir
prevalensi penyakit dengan durasi waktu yang cukup singkat. Pencegahan
sekunder terdiri dari deteksi dini dan pengobatan tepat (Porta 2008). Berikut salah
satu contoh upaya pencegahan sekunder sebagai berikut :
a. Deteksi dini
Salah satu deteksi dini yang dapat diupayakan adalah perlindungan buruh
migran Indonesia khususnya BMI ( Buruh Migran Indonesia ) melalui upaya
deteksi dini di bandara dan pelabuhan. Deteksi dini yang dilakukan berupa
mencermati aktivitas oleh BMI ketika proses pemberangkatan dan kedatangan
di bandara dan pelabuhan di Surabaya Jawa timur. Pengamatan dilakukan
dengan pemberian pertanyaan terkait permasalahan kesehatan dan cek
kesehatan berdasarkan risiko HIV/AIDS yang ada. Selanjutnya hasil dari
pengamatan tersebut di laporkan oleh petugas di Gedung Pendataan
Kepulangan Khusus Tenaga Kerja Indonesia ( GPKTKI ). Harapannya hasil
dari pengamatan tersebut bisa menjadi dasa ran utama untuk intervensi dini
dan pengaturan langkah selanjutnya untuk pengobatan lebih dini (Kinasih et
al. 2015).
Contoh dalam upaya deteksi dini HIV/AIDS adalah pada sasaran kelompok
berisiko tinggi yaitu kelompok pekerja seks. Upaya yang dilakukan hampir
sama pada penjelasan sebelumnya. Beda nya dalam pemantauan ini , pihak
dari puskesmas setempat yang berwewenang untuk melakukan pengamatan.
Pengamatan dilakukan dengan mendata tempat-tempat yang digunakan
sebagai lokalisasi masyarakat (Kakaire et al. 2015).
b. Pengobatan tepat
Pengobatan yang spesifik merupakan upaya tepat setelah mendapatkan
pelaporan dari deteksi dini. Walaupun HIV/AIDS sampai saat ini belum
ditemukan obat paten untuk menyembuhkan HIV/AIDS, namun peranan obat
ini dapat menjadi penghambat dan memperpanjang perkembangan virus HIV
di dalam tubuh. Sebelum ditemukan pengobatan ARV ( Anti Retrovirus ) yang
ada saat ini, pengobatan yang ada hanya disasarkan pada penyakit
opportunistik yang diakibatkan oleh infeksi HIV. Berikut macam-macam
pengobatan yang digunakan :
1) Penggunaan TMP-SMX oral untuk profilaktif
2) Pentamidin aerosol untuk mencegah pneumonia P. Carinii.
3) Tes tuberkulin pada penderita TBC aktif.
Pada tahun 1999, telah ditemukan satu-satunya obat yang dapat mengurangi
risiko penularan HIV/AIDS perinatal dengan penggunaan AZT. Obat ini
diberikan sesuai dengan panduan yang sesuai. Akhirnya WHO
merekomendasikan untuk penggunaan Anti retroviral bagi para penderita
HIV/AIDS. Keputusan untuk memulai dan merubah terapi ARV harus
dipantau dengan memonitor hasil pemeriksaan lab baik plasma HIV RNA
( Viral load ) maupun jumlah sel CD4 + T (Rumah & Sanglah 2011).
C. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier merupakan lini terakhir dari tahap pencegahan penyakit.
Pencegahan tersier bertujuan untuk membatasi akibat dari penyakit yang dapat
terjadi pada jangka waktu yang relatif lama dan juga memperbaiki kualitas hidup
seseorang untuk bisa lebih membaik (Porta 2008).
Dalam topik penyakit HIV/AIDS hampir dipastikan orang yang terinfeksi
HIV/AIDS akan berujung pada kematian. Beberapa contoh yang bisa diterapkan
adalah penggunaan terapi ARV. Hingga sampai saat ini, hanya ARV yang masih
menjadi terapi efektif untuk menghambat perkembangan virus HIV dalam
menyerang CD4+T. Keterlambatan dalam penggunaan terapi ARV akan
meningkatkan mortalitas (Rumah & Sanglah 2011).

6. Difteri
a. Pencegahan primer
Imunisasi merupakan salah satu upaya yang cost effective dan efisien
dalam pencegahan penyakit, termasuk untuk mengendalikan penyakit Difteri.
Surveilans difteri juga dapat digunakan sebagai alat advokasi untuk mendapatkan
dukungan yang kuat dari pemerintah dalam program pengendalian difteri di
Indonesia. Melakukan pemberian vaksin difteri adalah cara terbaik untuk
mencegah penyakit ini. Di Amerika Serikat (AS), ada empat vaksin yang
digunakan untuk mencegah difteri, yaitu: DTaP, Tdap, DT, dan Td. Masing-
masing vaksin ini membantu mencegah difteri dan tetanus.

b. Pencegahan sekunder
melakukan pengobatan jika telah terinfeksi bakteri penyebab difteri ini
yaitu Untuk membunuh bakteri difteri dan mengatasi infeksi, dokter akan
memberikan antibiotik, seperti penisilin atau erythromycin. Antibiotik perlu
dikonsumsi sampai habis sesuai resep dokter, guna memastikan tubuh sudah bebas
dari penyakit difteri. Dua hari setelah pemberian antibiotik, umumnya penderita
sudah tidak lagi bisa menularkan penyakit difteri.

c. Pencegahan tersier
Setelah penderita dinyatakan sembuh maka harus meyakinkan kan pada
penderita agar selalu menjaga kesehatan tubuh untuk mencegah penyakit
menimbulkan kecacatan.

7. Cacar air
a. Pencegahan primer
Mengajak masyarakat untuk melakukan tindakan pencegahan cacar air
dengan melakukan imunisasi. Para ahli menyatakan bahwa imunisasi cacar air
sangat aman dan juga ampuh dalam memberikan perlindungan utuh dari virus
penyebab cacar air.

b. Pencegahan sekunder

Cacar air yang terjadi pada penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang
baik tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, untuk meringankan gejala yang
dialami penderita, beberapa upaya berikut ini dapat dilakukan di rumah, yaitu:

a. Banyak minum dan dan mengonsumsi makanan yang lembut dan tidak asin atau
asam, terutama jika ruam cacar tedapat pada mulut.
b. Jangan menggaruk ruam atau luka cacar air, karena meningkatkan risiko infeksi.
Guna mencegahnya, potong kuku hingga pendek atau kenakan sarung tangan,
terutama saat malam hari.
c. Kenakan pakaian berbahan lembut dan ringan.
d. Mandi dengan air hangat, 3-4 kali sehari, selama beberapa hari setelah
timbulnya ruam. Setelah itu, keringkan dengan cara tepuk-tepuk dengan handuk
hingga kering.
e. Kompres ruam atau luka dengan air dingin untuk meringankan gejala gatal.
f. Beristirahat cukup dan hindari kontak dengan orang lain untuk mencegah
penyebaran cacar air.
Di samping upaya mandiri di rumah, dokter juga dapat memberi salep
atau obat minum, seperti antihistamin, untuk mengurangi rasa gatal. Sedangkan
untuk meredakan demam dan nyeri, dokter dapat meresepkan paracetamol. Bila
terjadi infeksi bakteri sekunder, dokter dapat  memberi antibiotik yang
sebetulnya tidak perlu diberikan bila menderita cacar air tanpa infeksi sekunder.

Sedangkan untuk penderita cacar air yang berisiko mengalami


komplikasi, maka dokter dapat memberi obat antivirus, seperti acyclovir,
valacyclovir, atau famciclovir. Obat jenis ini tidak menyembuhkan cacar air,
tapi dapat menghambat aktivitas virus, sehingga gejala yang muncul lebih
ringan. Dengan demikian, sistem imunitas tubuh dapat memulihkan tubuh lebih
cepat.

c. Pencegahan Tersier
Setelah sembuh dari cacar air, virus Varicella zoster akan menetap di
dalam sel saraf dan dapat aktif kembali beberapa tahun kemudian dalam bentuk
penyakit herpes zoster. Kemunculan cacar ular ini dialami oleh orang dewasa
yang sudah terkena cacar air, terutama orang dengan sistem kekbalan tubuh yang
rendah. maka itu perlu peningkatan gizi para penderita cacar air yang telah
sembuh agar dapat meminimalisir kecacatan dan penyebaran.

8. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)


a. Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan orang
yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit.
Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan dalam pencegahan primer yaitu:
a) Penyuluhan kesehatan (health promotion), dilakukan oleh tenaga kesehatan
dimana kegiatan ini diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku
masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor risiko penyakit
ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA,
penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang
pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan rumah, penyuluhan
bahaya rokok.
b) Imunisasi terhadap patogen yang bertanggung jawab terhadap pneumonia
merupakan strategi pencegahan spesifik.
c) Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik.
d) Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
e) Menghindari bayi dan anak dari paparan asap rokok, polusi udara, dan tempat
keramaian yang berpotensi penularan.
f) Menghindari bayi dan anak dari kontak dengan penderita ISPA
g) Membiasakan pemberian ASI.
h) Program kesehatan ibu dan anak (KIA) saat melacak kesehatan neonatal,
membina bidan/dukun bayi dan memberi pelayanan imunisasi bagi ibu hamil.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan tingkat kedua merupakan diagnosa dini dan upaya manusia dalam
mengobati orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas
penyakit, menghindarkan komplikasi, dan mengurangi ketidakmampuan.
Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan dalam pencegahan sekunder yaitu:
a) Bukan pneumonia
Bukan pneumonia mencangkup kelompok pasien balita dengan batuk yang
tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi napas dan tidak menunjukkan
adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke arah dalam. Contohnya adalah
common cold, faringitis, tonsilitis, dan otitis. Jika anak sakit, anak tidak perlu
diberikan obat antibiotik tetapi cukup diberikan perawatan di rumah. Untuk
batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak
mengandung zat yang merugikan.
b) Pneumonia
Pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas.
Diagnosa gejala ini berdasarkan umur. Batas frekuensi napas cepat pada anak
berusia dua bulan sampai < 1 tahun adalah 50 kali per menit dan untuk anak
usia 1 sampai < 5 tahun adalah 40 kali per menit. Jika anak sakit sebaiknya
diberi obat antibiotik melalui mulut. Pilihan obatnya Kotrimoksasol, jika
terjadi alergi/tidak cocok dapat diberikan Amoksilin, Penisilin, Ampisilin.
c) Pneumonia berat
Pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas
disertai sesak napas atau tarikan dinding dada bagian bawah ke arah dalam
(chest indrawing) pada anak berusia dua bulan sampai < 5 tahun. Untuk anak
berusia < 2 bulan, diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya napas
cepat yaitu frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau
adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke arah dalam
(severe chest indrawing). Bila tanda-tanda diatas terjadi pada anak, anak
segera dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus, diberi
oksigen dan sebagainya.
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan dan
mengadakan rehabilitasi. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan dalam
pencegahan tersier yaitu:
a) Bukan pneumonia: Jika anak batuk berlangsung selama 30 hari, rujuk untuk
pemeriksaan lanjutan.
b) Pneumonia: Antibiotik diberikan selama 5 hari dan ibu dianjurkan untuk
kontrol anaknya setelah 2 hari atau lebih cepat bila keadaan memburuk.
c) Pneumonia berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloram
fenikol selama 48 jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan
kloksasilin ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia stafilokokus.

9. Flu
a. Pencegahan primer
Untuk pencegahan perimer influenza, bisa melakukan vaksin influenza setiap
tahun. Namun, selain vaksin dapat pula melakukan pencegahan
sekunder. "Pencegahan tetap vaksinasi influenza, pencegahan primer.

b. Pencegahan sekunder
Memakai masker, cuci tangan yang bersih, vitamin terutama vitamin C.

c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier Pencegahan tersier adalah segala usaha yang dilakukan
untuk membatasi ketidakmampuan. Pada kasus flu, upaya pencegahan tersier
yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengobatan intensif dan
rehabilitasi.
10. Ebola
a. Pencegahan primer
a) Mengurangi resiko penularan satwa liar ke manusia dari kontak
dengan kelelawar buah atau monyet/kera yang terinfeksi dan
konsumsi daging mentah mereka
b) Memasak produk hewani seperti daging sampai matang
c) Tidak kontak lansung terutama dengan cairan tubuh penderita
d) Menjaga kebersihan lingkungan
b. Pencegahan sekunder
a) Petugas kesehatan harus menggunakan alat pelindung diri (pelindung
wajah atau masker bedah atau kacamata) saat merawat pasien serta
menjaga kebersihan tangan
b) Pengawasan terhadap penderita ebola: melaporkan pada petugas
kesehatan setempat, disinfeksi serentak, pengobatan spesifik
c) Mengurangi jumlah dan dampak komplikasi, rehabilitasi, karantina.