Anda di halaman 1dari 15

TUGAS INDIVIDU

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

PENYAKIT MENULAR DAN TINGKAT PENCEGAHAN

NAMA :FITRIYANI

NIM :(J1A119032)

KELAS :Reguler A (2019)

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

2020
Soal :

1. Tulis dan jelaskan 10 penyakit menular, mekanisme penularan, cara penularan secara
langsung atau tidak langsung ataupun keduanya !

Jawab :

1. 10 Penyakit menular :
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Infeksi saluran pernapasan dapat menyerang hidung, tenggorokan, saluran napas
dan paru-paru. ISPA diawali dengan panas disertai dengan di sertai salah satu atau lebih
gejala tenggorokan sakit atau telan,batuk kering atau berdahak dan pilek. Kondisi ini
sering kali disebabkan oleh virus, namun bisa juga disebabkan oleh bakteri. ISPA yang
disebabkan oleh inveksi virus biasanya akan membaik dalam waktu 3-14 hari. ISPA
dapat dicegah dengan berperilaku hidup bersih dan sehat, membiasakan cuci tangan.
Perhatikan pula etika batuk dan bersin, serta gunakan masker agar virus dan bakteri tidak
menular ke orang lain.
Mekanisme penularan
ISPA mudah sekali menular melalui udara yang mengandung virus yang tersebar
ketika penderita bersin atau batuk, atau melalui kontak dengan benda yang dipegang
oleh tangan penderita yang mengandung virus. Maka disarankan untuk selalu mencuci
tangan dengan sabun bila sedang mengalami ISPA.
Cara penularan
Secara langsung dan tidak langsung.

2. Diare
Diare merupakan gangguan buang air besar (BAB). Penyakit ini ditandai dengan
BAB lebih dari tiga kali sehari, disertai rasa mulas, dengan konsistensi tinja cair, dan
dapat diserta dengan darah atau lender. Diare mungkin dianggap sepele padahal dapat
berpotensi kematian, terutama pada balita. Pada umumnya, diare disebabkan karena
makanan yang masuk kedalam tubuh tidak bisa dicerna sehingga bisa menyebabkan
iritasi pada usus, lambung dan saluran pencernaan lainnya.
Mekanisme penularan
Diare menular melalui air, tanah, atau makanan yang terkontaminasi virus,
bakteri, atau parasite.
Cara penularan
Tidak langsung

3. TB
Penyebab tuberkolosis adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini
menyebar di antara manusia melalui percikan ludah yang dilepaskan ke udara melalui
batuk dan bersin.TB (tuberkolosis) masih menjadi pembunuh terbanyak diantara
penyakit menular. Berdasarkan data WHO tahun 2017, diperkirakan ada 1 juta kasus TB
Indonesia. TB disebabkan oleh bakteri yang menyerang paru-paru, namun bakteri
tersebut bisa juga menyerang bagian tubuh lain seperti tulang dan sendi, selaput otak
(meningitis TB), kelenjar getanh bening (TB kelenjar), dan selaput jantung. Bakteri ini
ditularkan melalui udara saat penderita batuk atau bersin. TB dapat dicegah melalui
pemberian vaksin BCG.
Mekanisme penularan
Penularan TBC bisa terjadi jika sesorang dengan TB aktif yang batuk, bersin,
berbicara atau meludah. Jika udara yang terkontaminasi bakteri TBC terhirup, maka
kemungkinan besar akan terinfeksi.
Cara penularan
Secara langsung.

4. Demam Dengue
Demam dengue merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus
dengue. Virus ini menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus. Demam dengue merupakan penyakit musimam yang umum terjadi di
Negara beriklim tropis. Di Indonesia, penyakit menular ini lebih banyak terjadi di saat
musim hujan. Demam dengue dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat yaitu
demam berdarah dengue (DBD).
Mekanisme penularan
Virus DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi,
terutama Aedes aegypthi. Virus yang telah menginfeksi nyamuk akan berkembang di
midgut nyamuk, lalu menginfeksi kelenjar ludah dan jaringan tubuh sekitarnya,
kemudian menggigit manusia.
Cara penularan
Secara tidak langsung

5. Cacingan
Cacingan yaitu disebabkan oleh cacing tambang, cacing pita, dan cacing kremi
yang menginfeksi usus. Cacingan dapat mengakibatkan anemia (kurang darah) lemas
dan mengantuk, sehingga prodiktifitas menurun. Hal ini karena cacingan menyerap
nutrisi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat dan protein. Pada wanita hamil,
cacingan dapat mengakibatkan berat bayi lahir rendah dan masalah pada persalinan.
Mekanisme penularan
Cacingan menular melalui kontak langsung, misalnya saat tangan yang kotor
dimasukkan kedalam mulut, atau secara tidak langsung saat anda menyentuh makanan
atau benda yang mengandung telur cacing.
Cara penularan
Secara langsung
6. Penyakit kulit
Kudis dan kurap menjadi penyakit kulit menular yang banyak diderita oleh
masyarakat Indonesia. Penularan penyakit ini terkait dengan kebersihan diri dan
lingkungan. Selain itu, kusta juga masih diderita oleh sebagian masyarakat Indonesia.
Gejalanya berupa bercak putih atau merah di kulit yang mati rasa. Kusta dapat menular
melalui percikan air liur, bersin, maupun kontak melalui kulit yang luka. Penyakit ini
dapat menyebabkan cacat permanen jika tidak diobati sejak dini.
Mekanisme penularan
Kurap adalah penyakit infeksi jamur yang berkembang di tempat lembab dan
hangat, misalnya pada sela-sela jari kaki. Jamur ini sangat menular, terutama bila
memakai handuk atau kaus kaki yang sama dengan penderita kurap.
Cara penularan
Secara langsung dan tidak langsung.

7. Malaria
Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasite dan juga
ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penderita malaria umumnya menunjukkan gejala
demam, menggigil, sakit kepala, berkeringat, nyeri otot, disertai mual dan muntah.
Malaria termasuk penyakit endemic dengan daerah yang masih memiliki kasus yang
tinggi berada di wilayah Indonesia timur. Penduduk yang tinggal di wilayah endemik
malaria memiliki resiko tertinggi tertular penyakit ini.
Mekanisme penularan
Penularan penyakit malaria dari orang yang sakit kepada orang yang sehat,
sebagian besar melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit malaria dalam darah manusia
dapat terhisap oleh nyamuk, berkembang biak didalam tubuh nyamuk, dan ditularkan
kembali kepada orang sehat yang digigit nyamuk tersebut.
Beberapa vector (perantara) malaria adalah Anopheles sundaicus, nyamuk perantara
malaria di daerah pantai. Anopheles aconitus, nyamuk perantara malaria daerah
persawahan. Anopheles maculatus, nyamuk perantara malaria daerah perkebunan,
kehutanan dan pegunungan. Penularan yang lain adalah melalui tranfusi darah, namun
kemungkinannya sangat kecil.
Cara penularan
Secara tidak langsung

8. Difteri
Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri yang memiliki efek serius
pada selaput lender hidung dan tenggorokan, bakteri penyebab penyakit ini yaitu
Corynebacterium diphtheria, mampu menghasilkan racun yang merusak jaringan pada
manusia, terutama pada hidung dan tenggorokan. Gejalanya berupa demam dan
peradangan pada selaput saluran pernapasan bagian atas, hidung, serta kulit. Pada tahun
2017, difteri pernah menjadi kasus luar biasa di Indonesia. Kondisi ini terjadi karena
diduga terdapat kelompok yang mudah tertular difteri akibat tidak mendapatkan
vaksinasi atau status vaksinasinya tidak lengkap.
Mekanisme penularan
Penularan difteri bisa melalui droplet (partikel air kecil dari dalam tubuh yang keluar
saat bersin atau batuk), baik dari penderita maupun dari orang-orang yang hidup
disekitarnya. Menurut dr. Dyah Novita Anggraini, penyebaran bakteri ini paling sering
terjadi melalui partikel udara.
Cara penularan
Secara langsung.

9. Tifus
Tifus merupakan penyakit menular yang terjadi karena infeksi bakteri salmonella typhi
yang menyebar melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Tifus dapat
menular dengan cepat. Meski biasa terjadi pada anak-anak, penyakit tifus juga bisa
menyerang orang dewasa sekalipun. Ketika mengalami tifus, biasanya seseorang akan
beberapa hari menginap di rumah sakit dan diberi antibiotic.
Mekanisme penularan
Tifus menular melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi sejumlah kecl
tinja yang mengandung bakteri dan terkena urine yang terinfeksi bakteri.
Cara penularan
Tidak langsung.

10. Campak
Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus campak golongan
Paramixovirus. Gejala awal campak adalah kondisi seperti demam, pilek, pusing, dan
lesu. Gejala yang paling umum muncul adalah ruam kulit berwarna kemerahan yang
muncul 7-14 hari setelah paparan dan dapat bertahan selama 4-10 hari. Sebelum
imunisasi digalakkan, campak adalah salah satu penyakit endemic yang menyebabkan
kematian setiap tahunnya.
Mekanisme penularan
Campak disebabkan oleh virus dalam keluarga Paramyxovirus yang biasanya ditularkan
melalui kontak langsung dengan penderita atau lewat udara. Virus menginfeksi saluran
pernapasan dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Pada anak-anak, penyakit ini bisa
menyebabkan komplikasi serius yang mematikan jika tidak ditangani dengan baik.
Cara penularan
Secara langsung.
2. Tulis dan jelaskan 10 penyakit menular , kemudian sebutkan tingkat pencegahannya
(primer/sekunder/tersier) !
Jawab :
1. Campak
a. Pencegahan Primer
Sasaran dari pencegahan primer adalah orang-orang yang termasuk kelompok beresiko,
yakni anak yang belum terkena campak, tetapi berpotensi untuk terkena penyakit
Campak. Pada pencegahan primer ini harus mengenal factor-faktor yang berpengaruhh
terhadap terjadinya Campak dan unpaya untuk mengeliminasi factor-faktor tersebut.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah atau menghambat timbulnya
komplikasi dengan tindakan-tindakan seperti tes penyaringan yang di tunjukan untuk
pendeteksian dini campak serta penanganan segera dan efektif. Tujuan utama kegiatan-
kegiatan pencegahan sekunder adalah untuk mengidentifikasi orang-orang tanpa gejala
yang telah sakit atau penderita yang beresiko tinggi untuk mengembangkan atau
memperparah penyakit. Memerikan pengobatan penyakit sejak awal sedapat mungkin
dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi. Edukasi dan
pengelolaan campak memegang peran penting untuk meningkatkan kebutuhan pasien
berobat.
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah semua upaya untuk mencegah kecacatan akibat komplikasi.
Kegiatan yang dilakukan antara lain mencegah perubahan dari komplikasi menjadi
kecacatan tubuh dan melakukan rehabilitasi sedini mungkin bagi penderita yang
mengalami kecacatan. Dalam upaya ini diperlukan kerja sama yang baik antara pasien-
pasie dengan dokter maupun antara dokter-dokter yang terkait dengan komplikasinya.
Penyuluhan juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi pasien untuk
mengendalikan penyakit campak.

2. Diare
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada factor penyebab, lingkungan dan
factor pejamu. Untuk factor penyebab dilakukan berbagai upaya agar mikroorganisme
penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air bersih dan sanitasi lingkungan, perbaikan
lingkungan biologis dilakukan untuk memodifikasi lingkungan. Untuk meningkatkan
daya tahan tubuh dari pejamu maka dapat dilakukan peningkatan status gizi dan
pemberian imunisasi.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini ditujukan kepada seseorang yang telah menderita diare
atau terancam akan menderita yaitu dengan menentukan diagnose dini dan pengobatan
yang cepat dan tepat, serta untuk mencegah terjadinya akibat samping dan komplikasi.
Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit (rehidrasi)
dan mengatasi penyebab diare. Diare dapat disebabkan oleh banyak factor seperti salah
makan, bakteri, sampai radang. Pengobatan yang diberikan harus disesuaikan dengan
klinis pasien. Obat diare dibagi menjadi tiga, pertama kemoterapeutika yang
memberantas penyebab diare seperti bakteri atau parasite, obstipansia untuk
menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang membantu menghilangkan kejang
perut yang tidak menyenangkan. Sebaiknya jangan mengonsumsi golongan
kemoterapeutika tanpa resep dokter. Dokter akan menentukan obat yang disesuaikan
dengan penyebab diare misal bakteri, parasite. Pemberian kemoterapeutika memilki efek
samping dan sebaiknya diminum sesuai petunjuk dokter.
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami kececetan
dan kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahanp ini penderita diare diusahakan
pengembalian fisik, psikologis semaksimal mungkin. Pada tingkat ini juga dilakukan
usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dari penyakit diare. Usaha
yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengonsumsi makanan bergizi dan menjaga
keseimbangan cairan. Rehabilitasi juga dilakukan terhadap mental penderita dengan
tetap memberikan kesempatan dan ikut memberikan dukungan secara mental kepada
penderita.

3. TB
a. Pencegahan Primer
Meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara :
1. Makan makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna
2. Usahakan setiap hari tidur cukup dan teratur
3. Lakukan olahraga ditempat-tempat yang mempunyai udara segar
4. Meningkatkan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG.
Kebersihan lingkungan :
1. Lengkapi perumahan dengan fentilasi yang cukup
2. Memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan
3. Pemberantasan serta manfaat penegakan diagnose dini
4. Mengurangi dan menghilangkan kondisi sosial yang meningkatkan resiko terjadinya
infeksi, misalnya kepadatan hunian.
b. Pencegahan sekunder
1. Case finding : X foto toraks yang dikerjakan secara massal, uji tuberculin secara
mauontoux, dan bag imigran yang dating dari Negara-negara dengan prefalensi TB
Paru yang tinggi dilakukan skrining dengan foto toraks, tes PPD, pemerksaan BTA
dan kultur, bekerjasama dengan WHO.
2. Perawatan khusus penderita dan mengobati penderita.
Penderita tuberkolosis yang baru diagnose, di berikan Obat Anti Tuberkolosisi
(OAT) yang mempunyai efek sterilisasi sekaligus mempunyai efek yang dapat
mencegah pertumbuhan kuman-kuman resisten seperti isoniazid (H), rifampisis (R)
dan pirazinamid (Z).
c. Pencegahan tersier
1. Membuat strategi menyembuhkan penderita TB Paru yaitu pemberian paduan obat
efektif dengan konsep Directly Observed Treatment Short-course (DOTS).
2. Penderita dengan initial drug resintace yang tinggi terhadapINH diberi obat
etambutol karena jarang initial resintace terhadap INH. Stretpomisin dapadt dipakai
pada populasi tertentu untuk meningkatkan complance pengobatan.
3. Memberi pengobatan secara teratur dan supervise yang ketat dalam jangka waktu 9-
12 bulan pada acquired resistance (penderita kambuh setelah pengobatan).
4. Demam Tifoid
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar
tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer dapat
dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksi yang dibuat dari strain Salmonella typhi
yang dilemahkan
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa. Untuk mendiagnosa
demam tifoid perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ada 3 metode untuk
mendiagnosis penyakit demam tifoid, yaitu :
- Diagnosis klinik
- Diagnosis miktobiologi/pembiakan kuman
- Diagnosis derologik
Pencegahan sekunder dapat berupa :
- Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui peningkatan usaha
surveilans demam tifoid.
- Perawatan umum dan nutrisi yang cukup
- Pemberian anti mikroba (anti biotik) segera diberikan bila diagnose telah dibuat pada
wanita hamil terutama pada trimester III karena dapat menyebabkan partus
premature, serta janin mati dalam kandungan. Oleh karena itu obet yang paling aman
diberikan pada wanita hamil adalah ampisilin atau amoksilin.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi keparahan akibat
komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit demam tifoid sebaiknya
tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas tubuh tetap terjaga dan data
terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada penderita demam tifoid yang carier perlu
dilakukan pemeriksaan laboratorium pasca penyembuhan untuk mengetahui kuman
masih ada atau tidak.

5. Difteri
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer meruakan tindakan pencegahan yang dilakukan pada periode pre-
patogenesis. Dimana penyakit tersebut seolah-olah belum terjadi,meskipun kontak atau
interaksi antar host dan agent sudah ada atau selalu terjadi. Tindakan pencegahan primer
bertujuan untuk mengantisipasi agar penyakit tersebut tidak sampai terjadi. Sasaran dari
pencegahan primer adalah seluruh masyarakat yang masih sehat dan masih memiliki
resiko tinggi terjangkit penyakit difteri.
Upaya yang dapat dilakukan adalah :
1. Promosi kesehatan
Promosi kesehatan difteri dapat dilakukan melalui beberapa upaya umum seperti :
a. Pemberian makanan bergizi
b. Penyediaan sanitasi lingkungan yang baik
c. Kebersihan perorangan
d. Pemeriksaan kesehatan secara berkala
e. Melakukan kegiatan penyuluhan
f. Melakukan imunisasi aktif secara luas (massal)
g. Mengatur jadwal imunisasi
2. Melakukan upaya khusus
Upaya khusus perlu dilakukan terhadap mereka yang terpapar dengan penderita
seperti kepada para petugas kesehatan dengan cara memberikan imunisasi dasar
lengkap dan setiap setahun sekali diberikan booster.
b. Pencegahan sekunder
Upaya pencegahan sekunder merupakan upaya pencegahan yang dilakukan saat proses
penyakit sudah berlangsung namun belum timbul tanda/gejala sakit (pathogenesis awal)
dengan tujuan agar proses penyakit tidak berlanjut. Selain itu tujuan lain dari upay aini
adalah untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut sertauntuk mencegah
komplikasi. Bentuk dari upaya encegahan sekunder dapat berupa deteksi dini dan
pemberian pengobatan yang tepat. Sasaran diagnosis dini dapat dilkukan pada kelompok
masyarakat yang tinggal dilingkungan yang tidak terawatt dan memiliki kemungkinan
beresiko difteri tinggi. Masyarakat id daerah ini dapat secara rutin memeriksakan diri ke
dokter untuk pencegahan.
Selain itu upaya pencegahan sekunder dapat dilakukan melalui :
a. Laporan kepada petugas kesehatan setempat
b. Isolasi
c. Desinfeksi serentak
d. Karantina
e. Manajemen kontak
f. Investigasi kontak dan sumber infeksi
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dapat dilakukan setelah system ditangani dengan strategi-strategi
pencegahan sekunder. Pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali kea rah
stabilitas system klien secara optimal. Tujuan utamanya adalah untuk
memperkuatresistensi dan mencegah reaksi timbul kembali atau regresi, sehingga dapat
mempertahankan energy. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali pada kondisi
yang sehat. Sasaran pencegahan tersier adalah para pasien yang sudah terkena difteri dan
sudah mendapatkan pengobatan.

6. Malaria
a. Pencegahan primer
1. Tindakan terhadap manusia14
- Edukasi adalah faktor terpenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada
setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis. Materi utama
edukasi adalah mengajarkan tentang cara penularan malaria, risiko terkena
malaria, dan yang terpenting pengenalan tentang gejala dan tanda malaria,
pengobatan malaria, pengetahuan tentang upaya menghilangkan tempat
perindukan.
- Melakukan kegiatan sistem kewaspadaan dini, dengan memberikan penyuluhan
pada masyarakat tentang cara pencegahan malaria.
- Proteksi pribadi, seseorang seharusnya menghindari dari gigtan nyamuk dengan
menggunakan pakaian lengkap, tidur menggunakan kelambu, memakai obat
penolak nyamuk, dan menghindari untuk mengunjungi lokasi yang rawan malaria.
- Modifikasi perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah mulai senja
sampai subuh di saat nyamuk anopheles umumnya mengigit.
2. Kemoprofilaksis (Tindakan terhadap Plasmodium sp)
Walaupun upaya pencegahan gigitan nyamuk cukup efektif mengurangi paparan
dengan nyamuk, namun tidak dapat menghilangkan sepenuhnya risiko terkena
infeksi. Diperlukan upaya tambahan, yaitu kemoprofilaksis untuk mengurangi risiko
jatuh sakit jika telah digigit nyamuk infeksius. Beberapa obat-obat antimalaria yang
saat ini digunakan sebagai kemoprofilaksis adalah klorokuin, meflokuin (belum
tersedia di Indonesia), doksisiklin, primakuin dan sebagainya. Dosis kumulatif
maksimal untk pengobatan pencegahan dengan klorokuin pada orang dewasa adalah
100 gram basa. Untuk mencegah terjadinya infeksi malaria terhadap pendatang yang
berkunjung ke daerah malaria pemberian obat dilakukan setiap minggu; mulai
minum obat 1-2 minggu sebelum mengadakan perjalanan ke endemis malaria dan
dilanjutkan setiap minggu selama dalam perjalanan atau tinggal di daerah endemis
malaria dan selama 4 minggu setelah kembali dari daerah tersebut. Pengobatan
pencegahan tidak diberikan dalam waktu lebih dari 12-20 minggu dengan obat yang
sama. Bagi penduduk yang tinggal di daerah risiko tinggi malaria dimana terjadi
penularan malaria yang bersifat musiman maka upaya pencegahan terhadap gigitan
nyamuk perlu ditingkatkan sebagai pertimbangan alternatif terhadap pemberian
pengobatan profilaksis jangka panjang dimana kemungkinan terjadi efek samping
sangat besar.
3. Tindakan terhadap vector
a. Pengendalian secara mekanis = Dengan cara ini, sarang atau tempat berkembang
biak serangga dimusnahkan, misalnya dengan mengeringkan genangan air yang
menjadi sarang nyamuk. Termasuk dalam pengendalian ini adalah mengurangi
kontak nyamuk dengan manusia, misalnya memberi kawat nyamuk pada jendela
dan jalan angin lainnya.
b. Pengendalian secara biologis = Pengendalian secara biologis dilakukan dengan
menggunakan makhluk hidup yang bersifat parasitik terhadap nyamuk atau
penggunaan hewan predator atau pemangsa serangga. Dengan pengendalian
secara biologis ini, penurunan populasi nyamuk terjadi secara alami tanpa
menimbulkan gangguan keseimbangan ekologi. Memelihara ikan pemangsa jentik
nyamuk, melakukan radiasi terhadap nyamuk jantan sehingga steril dan tidak
mampu membuahi nyamuk betina. Pada saat ini sudah dapat dibiakkan dan
diproduksi secara komersial berbagai mikroorganisme yang merupakan parasit
nyamuk. Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri yang banyak
digunakan, sedangkan Heterorhabditis termasuk golongan cacing nematode yang
mampu memeberantas serangga. Pengendalian nyamuk dewasa dapat dilakukan
oleh masyarakat yang memiliki temak lembu, kerbau, babi. Karena nyamuk An.
aconitus adalah nyamuk yang senangi menyukai darah binatang (ternak) sebagai
sumber mendapatkan darah, untuk itu ternak dapat digunakan sebagai tameng
untuk melindungi orang dari serangan An. aconitus yaitu dengan menempatkan
kandang ternak diluar rumah (bukan dibawah kolong dekat dengan rumah).
c. Pengendalian secara kimiawi = Pengendalaian secara kimiawi adalah
pengendalian serangga mengunakan insektisida. Dengan ditemukannya berbagai
jenis bahan kimiayang bersifat sebagai pembunuh serangga yang dapat diproduksi
secara besar-besaran, maka pengendalian serangga secara kimiawi berkembang
pesat.
b. Pencegahan sekunder
1. Pencarian penderita malaria
Pencarian secara aktif melalui skrining yaitu dengan penemuan dini penderita
malaria dengan dilakukan pengambilan slide darah dan konfirmasi diagnosis
(mikroskopis dan /atau RDT (Rapid Diagnosis Test)) dan secara pasif dengan cara
malakukan pencatatan dan pelaporan kunjungan kasus malaria.
2. Diagnose dini
3. Pengobatan yang tepat dan adekuat
Berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain, malaria tidak dapat disembuhkan
meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Malaria
menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh
manusia seumur hidup. Sejak 1638, malaria diobati dengan ekstrak kulit tanaman
cinchona. bahan ini sangat beracun tetapi dapat menekan pertumbuhan protozoa
dalam darah. Saat ini ada tiga jenis obat anti malaria, yaitu Chloroquine,
Doxycyline, dan Melfoquine. Tanpa pengobatan yang tepat akan dapat
mengakibatkan kematian penderita. Pengobatan harus dilakukan 24 jam sesudah
terlihat adanya gejala.
c. Pencegahan tersier
1. Penanganan akibat lanjut dari komplikasi malaria
2. Rehabilitasi mental/psikologis.

7. ISPA
a. PencegahanPrimer
Pencegahan primer adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit
belum mulai (pada periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar tidak terjadi proses
penyakit. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA pada
anak antara lain memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua tentang kebersihan,
sanitasi, penyakit ISPA dan pencegahannya meliputi :
- Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya dengan cara
memberikan makanan kepada anak yang mengandung cukup gizi.
- Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh
terhadap penyakit baik.
- Rumah dengan ventilasi yang sempurna, sirkulasi udara lencar dan tanpa asap
tungku di dalam rumah yang dapat mengganggu pernapasan.
- Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.
- Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara adalah
memakai penutup hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota
keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit ISPA.
- Pemberian vitamin A dan ASI pada bayi.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit
berlangsung namun belum timbul tanda/ gejala sakit (Patogenesis awal) dengan tujuan
proses penyakit tidak berlanjut. Pada pencegahan ini meliputi dini dan pengobatan
segera, yaitu meliputi ada tidaknya penyakit ISPA dalam diri anak. Diagnosa awal ini
dapat berupa pemeriksaan ada tidaknya gejala-gejala yang muncul seperti ada tidaknya
batuk, pilek dengan atau tanpa demam, kecepatan pernapasan, ada tidaknya nafas
menciut-ciut, bercak kemerahan sesak dan lain-lain. Pemeriksaan sederhana seperti
denyut nadi, pernapasan, suhu, dan kondisi fisik. Diagnosa ditegakkan dari gejala klinis
dan pemeriksaan lanjutan.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier adalah pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut
(akhir periode patogenesis) dengan tuuan untuk mencegah cacat dan mengembalikan
penderita ke status sehat. Pada pencegahan tersier ini meliputi pengobatan. Pengobatan
penderita ISPA adalah dengan cara :
1. Pemberian oksigenasi bila mengalami sesak napas.
2. Penahisapan suction.
3. Penderita sebaiknya dirawat di rumah sakit diperlukan untuk mencegah terjadinya
syok yang dapat terjadi secara tepat.
4. Pemberian obat penurun panas jika disertai demam.
5. Pemberian nutrisi yang cukup.
6. Pemberian vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh
menurun/asupan makanan berkurang.
7. Berikan sirkulasi udara yang cukup.

8. DBD
a. Pencegahan primer
Penanganan primer adalah aktifitas perawat dalam menjaga kesehatan masyarakat
sebelum terjangkit DBD. Pencegahan primer adalah usaha sungguh-sungguh untuk
menghindari suatu penyakit atau tindakan atau kondisi kesehatan yang merugikan
melalui kegiatan promosi kesehatan dan tindakan perlindungan. Pencegahan primer
mencakup area penanganan yang sangat luas, termasuk nutrisi, kebersihan, sanitasi,
vaksinasi, perlindungan lingkungan dan pendidikan kesehatan umum. Pencegahan DBD
dapat dilakukan dengan cara :
1. Menghindari gigitan nyamuk disepanjang siang hari (bukan malam hari), hal tersebut
dapat dilaksanakan dengan menghindari berada dilokasi-lokasi yang banyak
nyamuknya disiang hari, terutama di daerah yang ada penderita DBDnya.
2. Gunakan krim/lotion anti nyamuk (mosquito repelland)yang banyak dijual di took-
toko, pada bagian badan yang tidak tertutup pakaian.
3. Terapkan pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melakukan
(3M) Mengubur, Menguras dan Menutup.
4. Menguburkan atau menimbun benda-benda tidak berguna yang menampung air, atau
simpan sehingga tida menampung air. Mengawasi lingkungan didalam rumah dan
dihalaman rumah agar terhindar dari sampah dan lain-lain.
5. Menguras bak mandi dan tempat penampungan air lainnya paling kurang seminggu
sekali, membersihkan parit/selokan didalam dan disekitar rumah, terutama bila
selokan itu airnya tidak/kurang mengalir.
6. Menutup bak mandi atau kolam agar nyamuk tidak tidak bisa bertelur, serta
menyemprot bagian-bagian rumah dan halaman yang merupakan tempat berkeliaran
nyamuk, dengan obat semprot nyamuk.
7. Pencegahann secara massal dilingkungan setempat melalui kerja sama dengan
RT/RW/kelurahan dengan puskesmas setempat dilakukan dengan pembersihan
sarang nyamuk (PSN), fogging, atau memutuskan mata rantai pembiakan Aedes
Aegyti dengan abatisasi.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah deteksi dini dan pengobatan terhadap kondisi kesehatan
yang merugikan. Pencegahan sekunder mungkin saja berhasil mengatasi penyakit yang
tidak dapat diobati pada tahap akhir, mencegah komplikasi dan kecacatan, serta
membatasi penyebaran penyakit menular.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dilakukan jika penyakit atau kondisi tertentu telah menyebabkan
kerusakan pada individu. Tujuan pencegahan tersier adalah membatasi kecacatan dan
merehabilitasi atau meningkatkan kemampuan masyarakat semaksimal mungkin.

9. HIV/AIDS
a. Pencegahan primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau
mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal yang paling
penting, terutama dalam merubah perilaku. Pencegahan primer mengutamakan pada
penguatan flexible lines of defense dengan cara mencegah stress dan mengurangi faktor-
faktor resiko. Intervensi dilakukan jika resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi
sebelum reaksi terjadi. Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk
mencegah penyebaran virus HIV yaitu ada 3 pla :
1. Melalui hubungan seksual.
HIV dapat menyebar melalui hubungan seks pria ke wanita, wanita ke pria maupun
pria ke pria. Hubungan melalui seks ini dapat tertular melalui cairan tubuh penderita
HIV yakni cairan mani, cairan vagina dan darah. Upaya pencegahannya adalah
dengan cara, tidak melakukan hubungan seksual bagi orang yang belum menikah,
dan melakukan hubungan seks hanya dengan satu pasangan saja yang setia dan tidak
terinfeksi HIV atau tidak berganti-ganti pasangan. Juga mengurangi jumlah pasangan
seks sesedikit mungkin. Hindari hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi
menular AIDS serta menggunakan kondom pada saat melakukan hubungan seksual
dengan kelompok risiko tinggi tertular AIDS dan pengidap HIV.
2. Melalui darah
Penularan AIDS melalui darah terjadi dengan cara transfusi yang mengandung HIV,
penggunaan jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, tindik) bekas
digunakan orang yang mengidap HIV tanpa disterilkan dengan baik. Juga
penggunaan pisau cukur, gunting kuku, atau sikat gigi bekas pakai orang yang
mengidap virus HIV.
Upaya pencegahannya dengan cara, darah yang digunakan untuk transfusi
diusahakan terbebas dari HIV dengan memeriksa darah donor. Pencegahan
penyebaran melalui darah dan donor darah dilakukan dengan skrining adanya
antibodi HIV, demikian pula semua organ yang akan didonorkan, serta menghindari
transfusi, suntikan, jahitan dan tindakan invasif lainnya yang kurang perlu. Upaya
lainnya adalah mensterilisasikan alat-alat (jarum suntik, maupun alat tusuk lainnya)
yang telah digunakan, serta mensterilisasikan alat-alat yang tercemar oleh cairan
tubuh penderita AIDS. Kelompok penyalahgunaan narkotika harus menghentikan
kebiasaan penyuntikan obat ke dalam badannya serta menghentikan kebiasaan
menggunakan jarum suntik bersamaan. Gunakan jarum suntik sekali pakai
(disposable).
3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
Penularan dapat terjadi pada waktu bayi masih berada dalam kandungan, pada waktu
persalinan dan sesudah bayi dilahirkan serta pada saat menyusui. ASI juga dapat
menularkan HIV, tetapi bila wanita sudah terinfeksi pada saat mengandung maka ada
kemungkinan bayi yang dilahirkan sudah terinfeksi HIV. Maka dianjurkan agar
seorang ibu tetap menyusui anaknya sekalipun HIV.
Bayi yang tidak diberikan ASI berisiko lebih besar tertular penyakit lain atau
menjadi kurang gizi. Bila ibu yang menderita HIV tersebut mendapat pengobatan
selama hamil maka dapat mengurangi penularan kepada bayinya sebesar 2/3
daripada yang tidak mendapat pengobatan.
WHO merencanakan empat strategi untuk mencegah penularan vertikal dari ibu
kepada anak yaitu dengan cara mencegah jangan sampai wanita terinfeksi
HIV/AIDS, apabila sudah terinfeksi HIV/AIDS mengusahakan supaya tidak terjadi
kehamilan, bila sudah hamil dilakukan pencegahan supaya tidak menular dari ibu
kepada bayinya dan bila sudah terinfeksi diberikan dukungan serta perawatan bagi
ODHA dan keluarganya.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan internal lines of resistance,
mengurangi reaksi dan meningkatkan faktor-faktor resisten sehingga melindungi struktur
dasar melalui tindakan-tindakan yang tepat sesuai gejala. Langkah-langkah yang
dilakukan untuk pencegahan sekunder yaitu :
1. Pengobatan suportif yaitu pengobatan untuk meningkatkan keadaan umum penderita.
Pengobatan ini terdiri dari pemberian gizi yang baik, obat simptomatik dan
pemberian vitamin.
2. Pengobatan infeksi opurtunistik merupakan pengobatan untuk mengatasi berbagai
penyakit infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS. 28 Jenis-jenis
mikroba yang menimbulkan infeksi sekunder adalah protozoa (Pneumocystis carinii,
Toxoplasma, dan Cryptotosporidium), jamur (Kandidiasis), virus (Herpes,
cytomegalovirus/CMV, Papovirus) dan bakteri (Mycobacterium TBC,
Mycobacterium ovium intra cellular, Streptococcus, dll). Penanganan terhadap
infeksi opurtunistik ini disesuaikan dengan jenis mikroorganisme penyebabnya dan
diberikan terus-menerus.
3. Pengobatan antiretroviral (ARV), ARV bekerja langsung menghambat enzim reverse
transcriptase atau menghambat kinerja enzim protease. Pengobatan ARV terbukti
bermanfaat memperbaiki kualitas hidup, menjadikan infeksi opurtunistik Universitas
Sumatera Utara menjadi jarang dan lebih mudah diatasi sehingga menekan
morbiditas dan mortalitas dini, tetapi ARV belum dapat menyembuhkan pasien
HIV/AIDS ataupun membunuh HIV.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien
secara optimal. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali pada pencegahan primer.
Pencegahan tersier yaitu memberi dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita
dapat melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin. Misalnya :
1. Memperbolehkannya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan
perasaannya.
2. Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau
mengenang masa lalu yang indah.
3. Menerima perasaan marah, sedih, atau emosi dan reaksi lainnya.
4. Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat mengendalikan diri dan
tidak menyalahkan diri atau orang lain.
5. Selain itu perlu diberikan perawatan paliatif (bagi pasien yang tidak dapat
disembuhkan atau sedang dalam tahap terminal) yang mencakup, pemberian
kenyamanan (seperti relaksasi dan distraksi, menjaga pasien tetap bersih dan kering,
memberi toleransi maksimal terhadap permintaan pasien atau keluarga), pengelolaan
nyeri (bisa dilakukan dengan teknik relaksasi, pemijatan, distraksi, meditasi, maupun
pengobatan antinyeri), persiapan menjelang kematian meliputi penjelasan yang
memadai tentang keadaan penderita, dan bantuan mempersiapkan pemakaman.

10. Influenza
a. Pencegahan primer
Infeksi virus influenza dapat memberikan kekebalan terhadap infeksi dari virus yang
sejenis. Tetapi karena virus ini dapat bermutasi dengan mudah mengakibatkan seseorang
dapat mengalami influenza berulang-ulang. Salah satu pencegahan adalah dengan
menggunakan vaksin influenza yang mengandung virus A dan B dan disebutkan dapat
mengurangi terjadinya infeksi yang disebabkan oleh virus H5N1 atau flu burung dan
juga pencegahan flu pada usia 5 – 50 tahun.
b. Pencegahan sekunder
Golongan yang memerlukan vaksini ini antara lain usia > 65 th, memiliki penyakit
kronis lainnya (paru-paru, jantung, darah dan ginjal, Deabetes Melituss), memiliki
gangguan sistem pertahanan tubuh, dan petugas kesehatan. Dianjurkan untuk
memberikan vaksin sebelum musim dingin atau musim hujan. Selain itu perubahan
perilaku masyarakat dengan gaya hidup yang sehat dapat mengurangi terjadinya
penyakit influenza ini.
c. Pencegahan tersier
Vaksinasi dalam jangka waktu lama untuk menurunkan kemungkinan terjadinya sindrom
Reye. Petugas perawatan kesehatan dan anggota keluargadi rumah adalah mereka yang
mempunyai resiko, yang dianjurkan untuk menerima vaksin untuk menurunkan resiko
penularan terhadap mereka yang rentan terhadap influenza. Kampaye vaksin di antara
petugas perawatan kesehatandan pasien harus diintensifitas pada saat terbukti adanya
penyakit influenza di komunitas.
Pasien yang dirawat dengan perkiraan atau terbukti menderita influenza harus
ditempatkan di ruangan tersendiri atau ruangan dengan pasien yang terbukti menderita
influenza. Untuk kemungkinan yang luas, ruangan harus dipilih yang menyediakan
tekanan udara yang negatif terhadap jalur udara. Petugas yang melakukan perawatan
untuk pasien harus menggunakan masker.