Anda di halaman 1dari 11

BAB VIII

STRUKTUR MODAL
(CAPITAL STRUCTURE)

Pendahuluan
Materi Struktur Modal (Capital Structure) akan menjelaskan mengenai
pengertian dan pentingnya struktur modal, jenis-jenis pendekatan dalam struktur
modal, serta bagaimana penggunaan pendekatan struktur modal dalam menilai
suatu kebijakan pendanaan yang dilakukan oleh CFO. Sebagaimana telah
diketahui bahwa ketika perusahaan membutuhkan dana untuk dibelanjakan
(dialokasikan) pada kegiatan investasi, baik pendanaan jangka pendek maupun
pendanaan jangka panjang, baik pendanaan yang memiliki beban finansial yang
bersifat tetap (utang dan saham preferen) maupun yang bersifat tidak tetap (saham
biasa). Apakah keputusan pendanaan (financing decision) yang akan dilakukan
oleh CFO akan diputuskan begitu saja tanpa perhitungan ? Tentunya tidak!
Materi Struktur Modal dimaksudkan sebagai bekal bagi mahasiswa untuk
melaksanakan tugas-tugas dalam menilai rencana pendanaan atas suatu investasi
yang akan dilakukan perusahaan. Oleh karena itu, dengan mengikuti materi ini
mahasiswa dapat membantu CFO dalam menilai kebijakan pendanaan dari suatu
rencana investasi yang akan dilakukan oleh perusahaan sesuai kondisi yang
dihadapi.

8.1 Pengertian Struktur Modal


Struktur Modal (Capital Structure) adalah perbandingan antara jumlah
modal sendiri dengan modal pinjaman yang digunakan oleh perusahaan.
Sedangkan Struktur Keuangan (Financial Structure) adalah perbandingan antara
jumlah aktiva dengan jumlah pasiva. Struktur Modal Optimal menunjukkan
Struktur modal yang meminimumkan biaya modal sehingga nilai perusahaan
maksimum dan akhirnya memaksimumkan kemakmuranpemegang saham.

Bab 8. Struktur Modal 100


8.2 Risiko Keuangan Struktur Modal
Risiko yang ditimbulkan oleh Struktur Modal yang menggunakan modal
pinjaman (utang) sebagai berikut:
1. Risiko tidak mampu membayar kewajiban-kewajiban finansial
Meningkatkan modal pinjaman (utang) atau saham preferen di dalam struktur
modal mengakibatkan meningkatnya biaya tetap, seperti biaya bunga,dll.
2. Risiko semakin kecilnya deviden
Meningkatkan modal pinjaman (utang) akan meningkat beban tetap (bunga)
yang akhirnya mengakibatkan semakin kecilnya laba yang akan dibagikan
sebagai deviden.

8.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal


Besarnya struktur modal bagi suatu perusahaan dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain:
1. Tingkat bunga (biaya modal)
Apabila dari sumber dana memiliki tingkat bunga relatif kecil, maka
perusahaan cenderung memilih sumber-sumber dana tersebut. Sebaliknya,
apabila sumber dana memiliki tingkat bunga relatif besar, maka perusahaan
cenderung tidak memilih sumber dana tersebut.
2. Stabilitas dari Perolehan Laba
Apabila perolehan laba suatu perusahaan relatif stabil, maka perusahaan
cenderung memilih sumber dana pinjaman. Sebaliknya, apabila perolehan laba
relatif tidak stabil, maka perusahaan cenderung memilih modal sendiri.
3. Struktur Aktiva
Apabila perusahaan sebagian besar modalnya dalam bentuk aktiva tetap, maka
perusahaan cenderung menggunakan modal sendiri dan modal pinjaman
sebagai pelengkap. Sebaliknya, apabila sebagian besarnya modalnya dalam
bentuk aktiva lancar, maka perusahaan cenderung menggunakan modal
pinjaman dan modal sendiri sebagai pelengkapnya.

Bab 8. Struktur Modal 101


4. Tingkat Risiko Aktiva
Apabila tingkat risiko aktiva perusahaan relatif besar, maka perusahaan
cenderung dibiayai dari modal sendiri. Sebaliknya, apabila tingkat risiko
aktiva relatif kecil, maka sebaliknya dibiayai dari modal pinjaman.
5. Sifat Manajemen
Apabila seorang manajer optimis akan prospek usahanya maka perusahaan
cenderung menggunakan modal pinjaman. Sebaliknya, apabila manajemen
pesimis, maka cenderung memilih modal sendiri.
6. Besarnya Jumlah Kebutuhan Modal
Apabila kebutuhan modal relatif kecil, maka sebaiknya menggunakan satu
sumber dana. Sebaliknya, apabila kebutuhan modal relatif besar, maka sumber
modal dapat diperoleh lebih banyak.

8.4 Pendekatan dalam Struktur Modal


Dalam menganalisis Struktur Modal terdapat lima pendekatan yaitu
Pendekatan Laba Bersih, Pendekatan Laba Operasi, Pendekatan Tradisional,
Pendekatan MM, dan Pendekatan EBIT – EPS. Secara umum, konsep yang
mendasari perhitungan Struktur Modal secara matematis ditunjukkan pada
Persamaan 8.1 dan Persamaan 8.2 sebagai berikut:
 E   E 
ko  ke    k1  (8.1)
ED E D
EBIT
ko  , diamana V = E + D (8.2)
V
Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam menganalisis Struktur Modal
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pedekatan Net Income (NI)
Pada pendekatan ini, sebagian laba atas pemegang saham dikapitalisasi
dengan suatu tingkat kapitalisasi yang konstan yaitu ke (biaya modal sendiri)
Asumsi yang mendasari pendekatan Net Income adalah:
1) Biaya utang (kl) dan biaya modal sendiri (ke) adalah konstan waupun
struktur modal berubah.
2) Biaya utang sebelum pajak (kd) lebih rendah dari biaya modal sendiri (ke)

Bab 8. Struktur Modal 102


Secara grafis ditunjukkan pada Gambar 8.1.
Biaya Modal (%)

ke

ko

ki

0 D/E Ratio
___________________________________
Gambar 8.1. Pendekatan Laba Bersih

2. Pendekatan Net Operating Income (NOI)


Pada Pendekatan Net Operating Income (NOI), tingkat biaya modal rata-rata
tertimbang (ko) adalah konstan. Asumsi yang mendasari pendekatan ini adalah
biaya utang (kl) dan biaya modal keseluruhan (ko) konstan. Pada pendekatan
NOI, perubahan struktur modal, tidak mempengaruhi nilai total perusahaan
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 8.2.
Biaya Modal (%)

ke

ko

ki

0 D/ERatio
___________________________________
Gambar 8.2. Pendekatan Laba Bersih Operasi

3. Pendekatan Tradisional
Pada pendekatan ini, mengaggap bahwa biaya modal sendiri (ke) akan naik
apabila ratio utang meningkat dan biaya utang (kl) akan meningkat apabila
melebihi tingkat ratio utang tertentu. Hal ini sebagaimana ditunjukkan pada
Gambar 8.3.

Bab 8. Struktur Modal 103


Biaya Modal (%)

ke

ko

ki

0 D/ERatio
___________________________________
Gambar 8.3. Pendekatan Laba Bersih

4. Pendekatan Modigliani-Miller (MM)


Pendekatan Modigliani-Miller beranggapan bahwa nilai perusahaan
independen (tidak dipengaruhi)oleh struktur modal dalam pasar modal yang
sempurna dan tidak ada pajak penghasilan. Asumsi yang mendasari
pendekatan ini adalah:
1) Informasi yang tersedia bagi semua investor dan
dapat diperoleh tanpa biaya
2) Tidak ada biaya transaksi
3) Investor dapat melakukan diversifikasi investasi
surat berharga secara sempurna.
4) Semua investor bersikap dan bertindak rasional.
5) Perusahaan beroperasi dalam kondisi yang sama
dan risiko yang sama.
6) Tidak ada pajak penghasilan.

5. Pendekatan EBIT-EPS
Pendekatan EBIT-EPS menentukan hubungan antara laba per lembar saham
(earning per share = EPS) dengan laba sebelum bunga dan pajak (earning
before interest and tax = EBIT) pada beberapa alternatif pembelanjaan yang
berbeda-beda dan titik kesamaan (indifference points) masing-masing
alternatif pembelanjaan tersebut.

Bab 8. Struktur Modal 104


Untuk menentukan titik (indifference point) digunakan Persamaan 8.3 sebagai
berikut:
( EBIT1, 2  I1 )(1  t )  PD1 ( EBIT1, 2  I 2 )(1  t )  PD2
 (8.3)
NS1 NS 2

Keterangan:
EBIT1,2 adalah EBIT pada titik kesamaan (indifference point)
I1, I2 adalah besarnya bunga
PD1, PD2 adalah dividen saham preferen
t adalah tarif pajak
NS1, NS2 adalah jumlah lembar saham biasa yang beredar

Untuk mengoperasikan Pendekatan EBIT – EPS dapat digunakan pola


sebagaimana ditunjukkan pada Skema 8.1.

EBIT = XXXXXXXXX
(-) INTEREST EXPENSE (I) = XXXXXXXXX
(=) EBT = XXXXXXXXX
(-) TAX = XXXXXXXXX
(=) EAT = XXXXXXXXX
(-) PD = XXXXXXXXX
(=) EACS = XXXXXXXXX
(:) NS = XXXXXXXXX
(=) EPS = XXXXXXXXX

Contoh 8.1.

PT MENTARI mempunyai modal sebesar Rp 10.000.000,00 yang terdiri atas


modal sendiri seluruhnya. Saat ini, pihak perusahaan melakukan ekspansi
usaha dan memerlukan tambahan dana sebesar Rp 5.000.000,00. Tiga
alternatif pembelanjaan sebagai berikut:
1) Mengeluarkan saham biasa dengan harga Rp 5.000,00 per lembar.
2) Menggunakan utang dengan bunga sebesar 9% per tahun.
3) Mengeluarkan saham preferen dengan deviden 10% dari kebutuhan
modal.
Saat ini, EBIT sebesar Rp 1.400.000,00, tarif pajak sebesar 22% dan saham
biasa yang telah beredar sebanyak 200.000 lembar saham dengan harga
sebesar Rp 5.000,00 per lembar. Tentukan:

Bab 8. Struktur Modal 105


1. Besarnya EPS masing-masing alternatif apabila EBIT diestimasi sebesar
Rp 2.000.000,00.
2. Tentukan besarnya Indifference Point. Kemudian jelaskan hasil
perhitungan di atas.

Penyelesaian:

Langkah 1. Buat Deskripsi Pendanaan


Deskripsi pendanaan diperlukan untuk mempermudah perhitungan EBIT –
EPS sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 8.1.
Tabel 8.1. Deskripsi Pendanaan
Plan Saham Biasa Utang Saham Preferen
Saham Modal 15 juta Modal 0 Modal 0
Biasa Lembar 3.000 Bunga 0 Dividen 0
Utang Modal 10 juta Modal 5 juta Modal 0
Lembar 2.000 Bunga 450.000 Dividen 0
Saham Modal 10 juta Modal 0 Modal 5 juta
Preferen Lembar 2.000 Bunga 0 Dividen 500.000

Langkah 2. Hitung EPS dengan Pola EBIT – EPS


Berdasarkan Skema 8.1 di atas dapat dihitung Pola EBIT – EPS sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel 8.2.
1) Sebelum Ekspansi
Tabel 8.2. Hasil Perhitungan Pola EBIT – EPS (sebelum ekspansi)
EBIT (Rp) Rp 1.400.000
Interest Expense (Rp) 0
EBT (Rp) 1.400.000
Tax 22% (Rp) 308.000
EAT (Rp) 1.092.000
PD (Rp) 0
EACS (Rp) 1.092.000
NS (lembar) 2.000
EPS (Rp/lembar) 546

Berdasarkan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa sebelum PT


Mentari melakukan ekspansi besarnya EPS yang diperoleh adalah Rp
546,00 per lembar.

Bab 8. Struktur Modal 106


2) Setelah Ekspansi
Berdasarkan Skema 8.1 di atas dapat dihitung Pola EBIT – EPS
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 8.3.
Tabel 8.3. Hasil Perhitungan Pola EBIT – EPS (setelah ekspansi)
Plan A. Plan B. Plan C.
Saham Biasa Utang Saham Preferen
EBIT (Rp) Rp 2.000.000 2.000.000 2.000.000
Interest Expense (Rp) 0 450.000 0
EBT (Rp) 2.000.000 1.550.000 2.000.000
Tax 22% (Rp) 440.000 341.000 440.000
EAT (Rp) 1.560.000 1.209.000 1.560.000
PD (Rp) 0 0 500.000
EACS (Rp) 1.560.000 1.209.000 1.060.000
NS (lembar) 3.000 2.000 2.000
EPS (Rp/lembar) 520 604,5 530

Berdasarkan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa sumber


pendanaan yang memberikan hasil yang paling baik adalah Utang oleh
karena menghasilkan EPS yang paling besar yaitu Rp 604,50 per lembar.
Dan EPS ini lebih besar jika dibandingkan sebelum ekspansi yang hanya
menghasilkan EPS sebesar Rp 546,00 per lembar.

Langkah 3. Hitung Indifference Point


Dengan menggunakan Persamaan 8.3 dapat dihitung indifference point
sebagai berikut:
1) Indifference Point antara Plan A vs Plan B
( EBITAB  0)(1  22%)  0 ( EBITAB  450.000)(1  22%)  0

3.000 2.000
0,78EBITAB 0,78EBITAB  351.000

3.000 2.000
1.560 EBITAB  2.340EBITAB  1.053.000.000
EBITAB  1.350.000

Berdasarkan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa apabila


Perusahaan Mentari menggunakan pendanaan Saham Biasa atau Utang
maka EPS akan sama apabila EBIT sebesar Rp 1.350.000,00.

Bab 8. Struktur Modal 107


2) Indifference Point antara Plan A vs Plan C
( EBITAC  0)(1  22%)  0 ( EBITAC  0)(1  22%)  500.000

3.000 2.000
0,78EBITAC 0,78EBITAC  500.000

3.000 2.000
1.560 EBITAC  2.340EBITAC  1.500.000.000
EBITAC  1.923.077

Berdasarkan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa apabila


Perusahaan Mentari menggunakan pendanaan Saham Biasa atau Saham
Preferen maka EPS akan sama apabila EBIT sebesar Rp 1.923.077,00.
3) Indifference Point antara Plan B vs Plan C
( EBITBC  450.000)(1  22%)  0 ( EBITBC  0)(1  22%)  500.000

2.000 2.000
0,78EBITBC  351.000 0,78EBITBC  500.000

2.000 2.000
1.560 EBITBC  702.000.000  1.560EBITBC  1.000.000.000
EBITBC  N / A

Berdasarkan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa apabila


Perusahaan Mentari menggunakan pendanaan Utang atau Saham Preferen
maka tidak mempunyai indifference point.

8.5 Penutup
1. Kesimpulan
Pembahasan Struktur Modal di atas telah memberikan gambaran tentang
kegunaan struktur modal, serta bagaimana melakukan penilaian terhadap
kebijakan pendanaan yang dilakukan oleh Chief Financial Officer (CFO).

2. Tes Umpan Balik


1) Jelaskan pengertian Struktur Modal?
2) Jelaskan perbandingan berbagai jenis pendekatan dalam analisis struktur
modal?
3) Jelaskan bagaimana melakukan penilaian aspek keuangan terhadap
struktur modal?

Bab 8. Struktur Modal 108


3. Studi Kasus
Kasus 8.1
PT AULIA mempunyai utang sebesar Rp 3.000.000,00 dengan bunga sebesar
5% per tahun. Perkiraan laba usaha setiap tahun sebesar Rp 1.000.000,00
dengan tingkat kapitalisasi modal sendiri (ke) sebesar 10%. Hitunglah biaya
modal keseluruhan (ko). Apabila perusahaan menambah utangnya menjadi Rp
6.000.000,00 dengan bunga 5% per tahun dan tambahan utang tersebut untuk
membeli saham yang beredar. Hitunglah besarnya nilai perusahaan.

Kasus 8.2
PT AUDINA mempunyai uitang sebesar Rp 3.000.000,00 dengan bunga
sebesar 5% per tahun. Perkiraan laba usaha setiap tahun adalah Rp
1.000.000,00 dengan tingkat kapitalisasi perusahaan (ko) sebesar 10%. Apabila
perusahaan tersebut menambah utangnyamenjadi Rp 6.000.000,00 dengan
bunga 5% per tahun. Tentukan besarnya nilai perusahaan sebelum dan sesudah
penambahan utang.

Kasus 8.3
PT ANANDA mempunyai utang sebesar Rp 3.000.000,00 dengan bunga 5%
per tahun. Perkiraan laba usaha setiap tahun sebesar Rp 1.000.000,00 dengan
tingkat kapitalisasi modal sendiri (ke) sebesar 11%. Apabila perusahaan
tersebut menambah utangnya menjadi Rp 6.000.000,00 dengan tingkat bunga
6% per tahun dan biaya modal sendiri (ke) sebesar 14%. Tentukan besarnya
nilai perusahaan.

Kasus 8.4
PT NITA dan PT NINA beroperasi pada kondisi yang sama. PT NITA tidak
memiliki utang sedangkan PT NINA memiliki obligasi 12% sebesar Rp
300.000,00. laba operasi bersih masing-masing Rp 100.000,00. biaya modal
sendiri (kS) masing-masing PT NITA sebesar 15% dan PT NINA sebesar 16%.
Tentukan besarnya nilai perusahaan masing-masing perusahaaan.

Bab 8. Struktur Modal 109


Kasus 8.5.
Cybernauts, Ltd., is a new firm that wishes to determine an appropriate capital
structure. It can issue 16 percent debt or 15 percent preferred stock. The total
capitalization of the company will be $5 million, and common stock can be
sold at $20 per share. The company is expected to have a 50 percent tax rate.
Four possible capital structures being considered are as follows:
Plan Debt Preferred Equity
1 0% 0% 100%
2 30% 0% 70%
3 50% 0% 50%
4 50% 20% 30%

a. Construct an EBIT-EPS for the four plans. (EBIT is expected to be $1


million).
b. Compute the indifference point between plans 1 and 3 and between plans 3
and 4.
c. Which plan is best? Why?

Bab 8. Struktur Modal 110