Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN GIGI DAN MULUT MASYARAKAT


“Perumusan Masalah Dan Penentuan Prioritas Masalah”

Oleh :

DELINA

P27825119041

POLITEKNIK KEMENKES SURABAYA

PRODI D IV ALIH JENJANG JURUSAN

KEPERAWATAN GIGI

2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulilah atas kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga makalah kami yang berjudul Perumusan Masalah dan Penentuan
Prioritas Masalah yang Berhubungan dengan Asuhan Keperawatan Gigi dan Mulut
Masyarakat dapat terselesaikan dengan baik. Tak lupa sholawat serta salam kami hanturkan
kepada baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Dengan terselesainya makalah ini kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan diharapkan pula
dapat menambah pengetahuan tentang Perumusan Masalah dan Penentuan Prioritas Masalah

Kami ucapkan banyak terima kasih pada pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini kami mulai dari pencarian refrensi pembelajaran hingga penyusunan
makalah ini. Selain itu kami menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari sempurna
sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.

Surabaya, April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………..………………………….. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………..…………..……….. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………...…………………………………… 1
B. Rumusan Masalah ……………………….……………………………………… 2
C. Tujan …………………………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Perumusan Masalah Kesehata.... ……………………………………………… 3

B. Penentuan Prioritas Masalah Kesehatan………………………………………. 4

C. Langkah Langkah Menentukan Priorotas Masalah …………………………… 4


BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………………………. 15
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..…………

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang `

Menetapkan prioritas dari sekian banyak masalah kesehatan di masyarakat saat


ini merupakan tugas yang penting. Manager kesehatan masyarakat sering dihadapkan
pada masalah yang semakin menekan dengan sumber daya yang semakin terbatas.
Metode untuk menetapkan prioritas secara adil, masuk akal, dan mudah dihitung
merupakan perangkat manajemen yang penting. menurut pengertiannya manajemen
masalah kesehatan didefinisikan sebagai suatu proses dan upaya untuk mengoptimalkan
sumber daya melalui pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen yaitu, perencanaan (P1),
penggerakan dan pelaksanaan (P2), serta pengawasan, pengendalian, dan penilaian (P3)
untuk mengatasi kesenjanganantara apa yang diharapkan dengan apa yang menjadi
kenyataan d i  bidang kesehatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan
kepuasan pelanggan/klien dalam rangka mencapai tujuan organisasi layanan kesehatan
(Sulaeman, 2015)
Penentuan prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang dilakukan oleh
sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu untuk menentukan urutan
masalah dari yang paling penting sampai dengan kurang penting. Penetapan prioritas
memerlukan perumusan masalah yang baik, yakni spesifik, jelas ada kesenjangan yang
dinyatakan secara kualitatif dan kuantitatif, serta dirumuskan secara sistematis.
Oleh sebab itu, cara perumusan masalah yang baik adalah kalau perumusan
masalah tersebut jelas menyatakan adanya kesenjangan. Kesenjangan tersebut
dikemukakan secara kualitatif dan dapat pula secara kuantitatif. Identifikasi dan prioritas
masalah kesehatan merupakan bagian dari proses perencanaan harus dilaksanakan
dengan baik dan melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk masyarakat. Sehingga
masalah yang ditetapkan untuk ditanggulangi betul-betul merupakan masalah dari
masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan untuk menanggulangi masalah
kesehatan yang ada, masyarakat dapat berperan aktif didalamnya. 
Masalah itu sendiri adalah terdapatnya kesenjangan antara harapan dengan
kenyataan. Oleh sebab itu, cara perumusan masalah yang baik adalah bila rumusan
tersebut jelas menyatakan adanya kesenjangan. Kesenjangan tersebut dikemukakan

1
secara kualitatif dan dapat pula secara kuantitatif. Menurut Siklus manajemen masalah
kesehatan terdiri dari berbagai tahap siklus yang meliputi analisis situasi, identifikasi
masalah dan penyebabnya,  penentuan prioritas masalah, penetapan tujuan, alternatif
pemecahan masalah dan prioritas pemecahan masalah, pembuatan rencana
operasional,  penggerakan dan pelaksanaan (aktuasi), serta pemantauan, pengendalian
dan penilaian (sulaeman, 2015)
Penetapan prioritas dinilai oleh sebagian besar manager sebagai inti proses
perencanaan. Langkah yang mengarah pada titik ini dapat dikatakan sebagai suatu
persiapan untuk keputusan penting dalam penetapan prioritas. Sekali prioritas ditetapkan,
langkah berikutnya dapat dikatakan merupakan gerakan progresif menuju pelaksanaan.

B. Rumusan Masalah
Menjelaskan Perumusan Masalah dan Penentuan Priorita Masalah.
C. Tujuan
1. Memahami perumusan masalah.
2. Memahami Penentuan Priorita Masalah.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perumusan Masalah Kesehatan


Perumusan masalah kesehatan masyarakat bertujuan untuk mengetahui masalah
yang menjadi prioritas untuk ditangani setelah sebelumnya dilakukan indentifikasi
masalah. Identifikasi masalah dilakukan dengan melihat hasil pengolahan data yang
berupa informasi dari masing-masing kelompok masalah yang digali tentang status
kesehatan masyarakat. Informasi tentang status kesehatan tersebut lalu disusun dalam
suatu table, lalu dinilai berdasarkan kegawatan apabila tidak segera ditangani (Urgent),
keseriusan dampak/akibatnya (Serious), dan kecepatan penyebarannya (Growth) dengan
rentang 1 sampai 5 (1=tidak penting, 2=kurang penting, 3=cukup penting, 4=penting,
5=sangat penting). Hasil penilaian dari setiap kondisi kemudian dikalikan sehingga
menghasilkan skor untuk setiap masalah. Masalah yang mendapatkan skor tertinggi akan
mendapatkan prioritas pertama, begitu seterusnya sampai masing-masing masalah
memiliki urutan prioritas. Kemudian masalah yang telah di urutkan berdasarkan prioritas
di sandingkan dengan informasi tentang tingkat pengetahuan, perilaku/ kebiasaan/ sikap/
persepsi masyarakat tentang kesehatan yang menjadi informasi tentang kemungkinan
penyebab masalah kesehatan gigi dan mulut tersebut disertai alternatif pemecahan
masalahnya.

Umumnya perumusan masalah dilakukan dengan menentukan prioritas masalah


kesehatan yang telah diidentifikasi melalui proses pengolahan data hasil survey.
Selanjutnya peru di identifikasi kemungkinan penyebab masalah menggunakan informasi
yang diperoleh dari proses pengolahan data hasil wawancara yang menunjukkan tingkat
pengetahuan, perilaku/kebiasaan/sikap/persepsi masyarakat tentang kesehatan. Dengan
demikian dapat di identifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah yang sesuai.
1. Contoh perumusan masalah kesehatan pada kesehatan gigi dan mulut
masyaraka
Tabel 2.1.
Tabel Perumusan Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut Masyarakat
Urutan
MASALAH Urgent Serious Growth Skor Prioritas

3
60% masyarakat memiliki
oral hygiene/ kebersihan gigi 3 5 4 60 I
dan mulut yang belum baik
Setiap warga masyarakat
pernah memiliki karies/ gigi 2 4 5 40 II
berlubang lebih dari satu
gigi
80% masyarakat memiliki
jaringan 4 3 3 36 III
periodontal/penyangga
gigi yang tidak sehat

B. Penentuan Prioritas Masalah


Memilih topik atau menetapkan permasalahan penelitian merupakan langkah
paling awal dari keseluruhan kegiatan penelitian, Sehingga sebenarnya permasalahan
penelitian dapat dicari pada semua aspek kehidupan baik yang menimpa pelaksana
kesehatan maupun obyek dari pelaksana bidang kesehatan. Menurut Abraham. L.
masalah adalah terdapatnya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Oleh sebab
itu, cara perumusan masalah yang baik adalah apabila rumusan tersebut jelas menyatakan
adanya kesenjangan. Kesenjangan tersebut dikemukakan secara kualitatif dan dapat pula
secara kuantitatif. Identifikasi dan prioritas masalah kesehatan merupakan bagian dari
proses perencanaan harus dilaksanakan dengan baik dan melibatkan seluruh unsur
terkait, termasuk masyarakat. Sehingga masalah yang ditetapkan untuk ditanggulangi
betul-betul merupakan masalah dari masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan
untuk menanggulangi masalah kesehatan yang ada, masyarakat dapat berperan aktif
didalamnya.
Penetapan prioritas masalah menjadi bagian penting dalam proses pemecahan
masalah dikarenakan dua alasan. Pertama, karena terbatasnya sumber daya yang tersedia,
dan karena itu tidak mungkin menyelesaikan semua masalah. Kedua, karena adanya
hubungan antara satu masalah dengan masalah lainnya, dan karena itu tidak perlu semua
masalah diselesaikan
 Dalam penentuan prioritas, aspek penilaian dan kebijaksanaan banyak diperlukan
bersama-sama dengan kecakapan  unik untuk mensintesis berbagai rincian yang relevan.
Namun, penetapan prioritas mungkin dapat jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan
langkah-langkah lain bila dibuat eksplisit dan menjadi tindakan yang ditentukan secara
jelas. Ketrampilan utama yang diperlukan dalam penentuan prioritas adalah
menyeimbangkan variabel-variabel yang memiliki hubungan kuantitatif yang sangat
berbeda dan dalam kenyataannya terletak dalam skala dimensional yang berbeda pula
4
sehingga mengurangi terjadinya kesalahan timbul akibat memberikan penekanan terlalu
banyak pada satu dimensi.         
Terdapat perbedaan dari cara penetepan prioritas pada seorang ahli epidemiologi,
administrator dan ahli hukum. Seorang ahli epidemiologi cenderung untuk menilai
penetapan prioritas terutama sebagai suatu masalah penentuan mortalitas dan
mortabiditas relatif dari masalah-masalah kesehatan tertentu. Pendekatan ini
dipakai  secara berlebihan dalam versi pertama “Metode Amerika Latin” dalam
perencanaan kesehatan. Para administrator cenderung mengkaji prioritas terutama dalam
hubungannya dengan yang disebut oleh metode perencanaan kesehatan Amerika Latin
sebagai “kerawanan” masalah-masalah  kesehatan tertentu. Perhatiannya ada pada
ketersediaan metode teknis untuk mengendalikan penyakit-penyakit atau kondisi-kondisi
yang memerlukan perhatian. Sedangkan para ekonom memberi penekanan khusus pada
biaya. Hal ini biasanya merupakan kendala akhir yang menentukan apa yang akan
dilakukan. Kebijakan penting dalam menyeimbangkan ongkos perencanaan kesehatan
umumnya adalah menyediakan pelayanan kesehatan ke masyarakat secara maksimum
dari pada memberikan pelayanan dengan mutu tertinggi kepada sekelompok kecil
masyarakat.  
Agar dapat melakukan pendekatan perencanaan yang seimbang maka
perencanaan kesehatan harus mengembangkan ketrampilan dalam semua disiplin ilmu.
Yang terutama diperlukan adalah indeks-indeks tertentu yang valid di dalam informasi
baik kualitatif maupun kuantitatif yang digunakan dalam penilaian ini. Perencana harus
bersandar pada elemen-elemen kebijaksanaan yang tak pasti berdasarkan pengalaman
atau evaluasi rencana-rencana sebelumnya dalam membuat keputusan akhir.    

C. Langkah-Langkah Menentukan Prioritas Masalah


Memilih masalah untuk diteliti merupakan tahap yang penting dalam melakukan
penelitian, karena pada hakikatnya seluruh proses penelitian yang dijalankan adalah
untuk menjawab pertanyaan yang sudah ditentukan sebelumnya. Memilih masalah juga
merupakan hal yang tdiak mudah karena tidak adanya panduan yang baku. Sekalipun
demikian dengan latihan dan kepekaan ilmiah, pemilihan masalah yang tepat dapat
dilakukan. 
Menurut Abraham. L Bagaimana peneliti mencari masalah yang akan dikaji,
beberapa panduan pokok di bawah ini akan mempermudah bagi kita menemukan
masalah:

5
1. Masalah sebaiknya merumuskan setidak-tidaknya hubungan antar dua variable
atau lebih
2. Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda dan pada
umumnya diformulasikan dalam bentuk kalimat tanya.
3. Masalah harus dapat diuji dengan menggunakan metode empiris, yaitu
dimungkinkan adanya pengumpulan data yang akan digunakan sebagai bahan
untuk menjawab masalah yang sedang dikaji.
4. Masalah tidak boleh merepresentasikan masalah posisi moral dan etika. 
Untuk dapat menetapkan prioritas masalah ini, ada beberapa hal yang harus
dilakukan, diperhatikan:

1.  Melakukan pengumpulan data


Untuk dapat menetapkan prioritas masalah kesehatan, perlu tersedia data
yang cukup. Untuk itu perlulah dilakukan pengumpulan data. Data yang perlu
dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan lingkungan, perilaku, keturunan,
dan pelayanan kesehatan, termasuk keadaan geografis, keadan pemerintahan,
kependudukan, pendidikan, pekerjaan, mata pencaharian, sosial budaya, dan
keadaan kesehatan.
2.  Pengolahan Data
Apabila data yang telah berhasil dikumpulkan, maka data tersebut harus
diolah, maksudnya adalah menyusun data yang tersedia sedemikian rupa
sehingga  jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh masing-masing data tersebut. Cara
pengolahan data yang dikenal ada tiga macam, secara manual, elektrikal dan
mekanik.
3.  Penyajian Data
Data yang telah diolah perlu disajikan, ada tiga macam penyajian data yang
lazim dipergunakan yakni secara tekstular, tabular dan grafikal.
4. Pemilihan Prioritas Masalah
Hasil penyajian data akan memunculkan berbagai masalah. Tidak semua
masalah dapat diselesaikan. Karena itu diperlukan pemilihan prioritas masalah,
dalam arti masalah yang paling penting untuk diselesaikan.        
Penentuan prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang dilakukan
oleh sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu untuk menentukan
urutan masalah dari yang paling penting sampai dengan kurang penting. Penetapan

6
prioritas memerlukan perumusan masalah yang baik, yakni spesifik, jelas ada
kesenjangan yang dinyatakan secara kualitatif dan kuantitatif, serta dirumuskan secara
sistematis.
Dalam  menetapkan prioritas masalah ada beberapa pertimbangan yang harus
diperhatikan, yakni :
1.      Besarnya masalah yang terjadi
2.      Pertimbangan politik
3.      Persepsi masyarakat
4.      Bisa tidaknya masalah tersebut diselesaikan.         
Dalam menetapkan prioritas sebelumnya kita menentukan kriteria untuk
menetapkan prioritas, anda dapat menggunakan salah satu dari tiga metode, yaitu: dot
voting, weighted voting atau consensus voting – tergantung waktu, sumber dan sifat
kelompok.
1. Dot Voting
Berikan masing-masing anggota kelompok sejumlah ‘votes’ dengan
menggunakan stiker titik-titik warna. Aturan mainnya adalah, masing-masing orang
mendapat sejumlah titik yang menunjukkan VA dari jumlah item. Pemilahan dan
penggabungan ide-ide dapat ditunda sampai selesainya voting, jadi waktu tidak akan
terbuang percuma untuk mendiskusikan item-item dengan prioritas rendah. Voting
ulang dapat dilakukan beberapa kali bersamaan dengan pemilihan dan
pengklasrifikasian ide. Dot voting ini merupakan metode dengan visualisasi tinggi
dan sederhana. Kekurangannya adalah metode ini mengambil opini mayoritas dan
menyingkirkan kelompok minoritas yang dapat merusak interaksi kelompok di masa
yang akan datang.
2. Weighted Voting
Poin diberikan pada ranking individu. Contohnya, jika anggota diharuskan
meranking lima pilihan teratas, maka 5 suara dapat memilih pilihan pertama, 4 suara
untuk pilihan kedua, 3 suara untuk pilihan ketiga dan seterusnya. Seluruh nilai
individu untuk tiap item kemudian ditotal dan item dapat diranking (diurutkan)
berdasarkan nilai total kelompok. Metode ini lebih akurat dibandingkan dengan
straight voting dalam mengukur pilihan anggota. Metode ini juga dapat dilakukan
dan dijumlahkan atau ditotal antara pertemuan, sehingga kelompok tidak
menghabiskan waktunya hanya untuk menyelesaikan tugas ini.
3. Consensus decision

7
a. Metode ini paling banyak menyita waktu, namun penting karena implementasi
keputusan membutuhkan penerimaan dan komitmen dari seluruh anggota
kelompok. Aturan dasar untuk membangun konsensus adalah Meminta seluruh
anggota kelompok berdiskusi.
b. Hindari argumentasi.
c. Nyatakan seluruh kekhawatiran/masalah/isu (terutama pandangan- pandangan
minor).
d. Dengarkan seluruh kekhawatiran/masalah/isu. Ajukan pertanyaan klarifikasi, dan
paraphrase kekhawatiran/masalah/isu (mengulangi pernyataan
kekhawatiran/masalah/isu tersebut dengan bahasa anda sendiri).
e. Catat pro dan kontra masing-masing posisi dalam suatu chart.
f. Jika ada dua posisi yang bertentangan (konflik), carilah yang ketiga untuk
mengatasi perbedaan.
g. Dapatkan ekspresi dukungan dari seluruh anggota kelompok sebelum membuat
keputusan final.
5. Menentukan bobot masalah
Menentukan bobot masalah adalah suatu proses pemberian nilai terhadap
kriteria yang telah dipilih. Hal ini mempunyai tujuan agar dapat membandingkan
antara satu kriteria dengan kriteria lainya yang dilihat dari nilai bobot tersebut.
Langkah-langkah dalam menetapkan bobot masalah:
a. Kriteria yang sudah ditetapkan dikaji dan di bahas secara rici sehingga
kesahihannya (validitas) setiap kriteria diterima oleh semua anggota.
b. Masing-masing anggota menentukan, memberikan bobot terhadap kriteria
yang ada. Biasanya bobot yang diberikan berkisar antara 1-5 atau 1-10 apabila
ingin memperoleh variasi nilai yang cukup luas.
 Kriteria yang sangat penting : Skor 5
 Kriteria yang penting : Skor 4
 Kriteria yang cukup penting : Skor 3
 Kriteria yang kurang penting : Skor 2
 Kriteria yang tidak penting : Skor 1
c. Bobot yang telah ditentukan pada masing-masing kriteria dijumlahkan untuk
mendapatkan nilai rata-ratanya sehingga didapatkan bobot sebenarnya.

8
d. Menetapkan skor permasalahan yang dihadapi atas dasar kriteria yang telah
ditentukan. Caranya dengan menjumlahkan skor dari setiap kriteria, sehingga
didapatkan skor total bagi setiap masalah yang ada. Dari total inilah diperoleh
urutan atau prioritas masalah kesehatan

dengan menentukan prioritas masalah kesehatan yang telah diidentifikasi melalui


proses pengolahan data hasil survey. Selanjutnya peru di identifikasi kemungkinan
penyebab masalah menggunakan informasi yang diperoleh dari proses pengolahan data
hasil wawancara yang menunjukkan tingkat pengetahuan,
perilaku/kebiasaan/sikap/persepsi masyarakat tentang kesehatan. Dengan demikian dapat
di identifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah kesehatan yang sesuai.
Penentuan prioritas masalah berawal dari pendekatan kualitatif guna untuk
mengumpulkan informasi tentang invetarisasi determinan prioritas. Penentuan metode
dalam mengidentifikasi masalah kesehatan adalah analisis kekuatan dan kelemahan.
Metode mana yang tepat untuk digunakan. Metode yang memungkinkan untuk dilakukan
Metode yang ada adalah item atau substansi yang memiliki nilai tertinggi dan issu yang
penting dalam masyarakat. Berkolaborasi dengan kalangan profesionalisme, penguna
pelayanan, dan pengambil kebijakan. Adanya assessment, inventarisasi determinan dan

9
sumber-sumber daya Alternative berbagai tawaran pemecahan masalah seperti

6. Contoh Penentuan Priuoritas Masalah Kesehatan Pada Kesehatan Gigi dan


Mulut
2.1 Analisa Situasi

2.1.1 Gambaran Umum

Pelaksanaan Promoai Kesehatan Gigi dan Mulut pada anak usia


sekolah dilakukan pada siswa kelas 5A SDN Kertajaya V Surabaya yang
berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 10 hingga
11 tahun. Dengan jumlah responden sebanyak 20 siswa.

2.1.2 Hasil Pengumpulan Data


2.1.2.1 Masalah yang Ditemukan pada Setiap Assesment

a. Distribusi Hasil Kuesioner Social Assesment


No Uraian Ya Skor Tidak Skor

10
1 Apakah anak pernah 14 70% 6 30%
mengalami sakit gigi?
Jumlah 14 70% 6 30%
Hasil analisa tentang social assesment ditemukan masalah sosial :

Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa 20 responden dominan


pernah mengalami sakit gigi sebesar 70

b. NAMA JK DMF-t def-t Distribusi Hasil


H L 2 4
Kuesioner
I L 3 5
MR L 3 4 Epidemiology
R L 4 3 Assesment
F L 2 4
SB P 3 6
P L 2 5
D P 2 4
RS L 1 6
RSH P 3 5
DP P 3 4
RE L 3 5
A L 3 4
N P 2 4
D P 1 5
B L 2 5
J P 1 5
AB P 1 4
11
U L 3 6
NA P 3 4
Jumlah 47 92
Rata-rata 2,35 4,6
Berdasarkan tabel epidemiological assesment dari hasil pemeriksaan diperoleh rata-rata
DMF-T sebesar 2,35 dengan katagori rendah, def-t sebesar 4,6 dengan katagori tinggi.

c. Distribusi Hasil Kuesioner Behavior Assesment


Cara menyikat gigi
No Uraian Benar Skor Salah Skor
1 Cara menyikat gigi pada bagian 11 55% 9 45%
yang digunakan untuk menguyah
2 Cara menyikat gigi pada bagian 13 65% 7 35%
yang menghadap bibir
3 Cara menyikat gigi pada bagian 5 25% 15 75%
yang menghadap langit-langit
4 Cara menyikat gigi pada bagian 0 0% 20 100%
yang menghadap lidah
5 Cara menyikat gigi pada bagian 8 40% 12 60%
yang menghadap pipi

12
Jumlah 57 185% / 5 63 315% / 5
37 % = 63%

Pola makan
No Uraian Ya Skor Tidak Skor
1 Kebiasaan makan sayur 7 35% 13 65%
2 Kebiasan makan buah-buah 9 45% 11 55%
3 Kebiasan makan makanan yang 13 65% 7 35%
manis dan lengket
4 Menggosok gigi setelah makan 8 40% 12 60%
makanan yang manis
5 Membersihkan dengan sikat gigi pd 6 30% 14 70%
makanan yang maenempel di gigi
Jumlah 68 215% / 5 32 285% / 5
= 43% = 57%
Hasil analisa tentang behavior assesment diketahuinya masalah: Dari hasil
analisis data menunjukkan bahwa 20 responden dominan tidak mengetahui
perilaku tentang menggosok gigi dengan benar sebesar 63% dan dominan tidak
mengetahui perilaku tentang diet pola makan sehat sebesar 57%

d. Distribusi Hasil Kuesioner Education Assesment


No Uraian Benar Skor Salah Skor
1 Apakah yang dimaksud dengan 16 80% 4 20%
karies gigi/gigi berlubang?
2 Tanda awal dari karies 7 35% 13 65%
gigi adalah?
3 Bagaimana urutan 11 55% 9 45%
terbentuknya karies gigi?
4 Bagaimana cara 6 30% 70%
mencegah terbentuknya
karies gigi?
5 Tindakan medis yang 7 35% 13 65%
dapat dilakukan untuk
mencegah gigi berlubang
adalah ?
Jumlah 83 232% / 5 29 265% / 5
= 46,4% = 53 %

13
Hasil analisa tentang education assesment diketahuinya masalah: Dari
hasil analisis data menunjukkan bahwa 20 responden dominan tidak
mengetahui pengetahuan tentang karies gigi sebesar 53%

e. Distribusi Hasil Kuesioner Policy Assesment


No Uraian Ya Skor Tidak Skor
1 Melaksanakan kegiatan 2 40% 3 60%
gosok gigi bersama,
minimal 1 bulan sekali
2 Penyuluhan kesehatan gigi 1 20% 4 80%
dan mulut
3 Kader gigi 2 40% 3 60%
Jumlah 5 100% / 3= 10 200% / 3=
33,33 % 66,67%
Hasil analisa tentang policy assesment diketahuinya masalah : Dari hasil
analisis data menunjukkan bahwa tenaga kesehatan tidak menjalankan program
kesehatan gigi dan mulut sebesar 66,67

2.2 Perumusan Masalah

1. Social Assesment
Berdasarkan hasil survei pada 11 Agustus 2020
ditemukan siswa kelas 5A SDN Kertajaya V Surabaya sebesar
70% siswa pernah mengalami sakit gigi.
2. Epidemiological Assesment
Berdasarkan hasil pemeriksaan intra oral pada 11
Agustus 2020 ditemukan siswa kelas 5A SDN Kertajaya V
Surabaya didapatkan rata-rata DMFT sebesar 3,8.
3. Behavioral and Environtment Assesment
Berdasarkan hasil survei pada 11 Agustus 2020
ditemukan siswa kelas 5A SDN Kertajaya V Surabaya dominan
tidak mengetahui perilaku tentang menggosok gigi dengan benar sebesar 63%
Berdasarkan hasil survei pada 11 Agustus 2020 ditemukan

14
siswa kelas 5A SDN Kertajaya V Surabaya dominan tidak
mengetahui perilaku tentang diet pola makan sehat sebesar 57%
4. Educational and Administration Assesment

Berdasarkan hasil survei pada 11 Agustus 2020


ditemukan siswa kelas 5A SDN Kertajaya V Surabaya dominan
tidak mengetahui pengetahuan tentang karies gigi sebesar 53%

5. Policy and Regulacy Assesment


Berdasarkan hasil survei pada 11 Agustus 2020 di
temukan tenaga kesehatan tidak menjalankan program kesehatan gigi dan
mulut sebesar 66,67 %.
2.3 Penentuan Prioritas Masalah Dan Jalan Keluar
2.3.1 Penentuan Prioritas Masalah
Parameter
1= Rendah 2= Sedang 3= Tinggi
No Nilai Kriteria
Masalah Jumlah
. U S G
1 Banyak responden yang sering 3 3 2 18
mengalami sakit gigi
2 DMF-T 3 3 2 18
3 Perilaku menyikat gigi 2 2 2 8
4 Diet makanan sehat 2 2 2 8
5 Pengetahuan tentang karies gigi 3 3 3 27
6 Program kesehatan gigi dan mulut 2 3 2 12
Tabel 3.1 Hasil Prioritas MasalahKeterangan :

U : Urgency
S : Seriousness
G : Growth
Jadi, prioritas masalah pada angka kesakitan pada siswa kelas 8A di SMP X Surabaya adalah
“Pengetahuan tentang karies gigi” sebesar 27.

15
BAB III

KESIMPULAN

Umumnya perumusan masalah dilakukan dengan menentukan prioritas masalah


kesehatan yang telah diidentifikasi melalui proses pengolahan data hasil survey. Selanjutnya
peru di identifikasi kemungkinan penyebab masalah menggunakan informasi yang diperoleh
dari proses pengolahan data hasil wawancara yang menunjukkan tingkat pengetahuan,
perilaku/kebiasaan/sikap/persepsi masyarakat tentang kesehatan. Dengan demikian dapat di
identifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah kesehatan yang sesuai.

16
DAFTAR PUSTAKA
Azwar A. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta : Bina Rupa Aksara
Depatemen Kesehatan RI. 2018. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional
2018. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Junaidi, At All.2018. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gigi Dan Mulut II dan III.
Cetakan pertama, Agustus

Mannheim, Jennifer.2010. Usia Anak Sekolah. Diakses dari


http://translate.googleusercontent.com/translate_c?
depth=1&ei=xXStUKnoO47yrQehkYEg&hl=id&langpair=en
%7Cid&rurl=translate.google.co.id&u=http://www.nlm.nih.gov/medlin
eplus/ency/article/002017.htm&usg=ALkJrhiFoK3GlkFZF9h3IbdTSLY
Y2eJBxw diakses 22 November 20

17
NACCHO. 2010. Priorization Summaries. NACCHO. 2010. available from
http://chfs.ky.gov/NR/rdonlyres/B070C722-31C1-4225-95D5-
27622C16CBEE/0/PrioritizationSummariesandExamples.pdf
Nangi, Moh.Guntur. Problem Solving Kesehatan Masyarakat. 2010. Available from : :
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBQQFjAA&url=http
%3A%2F%2Fmohamadguntur.files.wordpress.com
%2F2010%2F03%2Fproblemsolving-kes

Sulaeman. 2015. Problem Solving Kesehatan Masyarakat . Jakarta : Bina Rupa Aksara

18