Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA

SEDIAAN INTRAVENA (MONO DAN MULTI KOMPARTEMEN)

OLEH:
KELOMPOK II

1. Ni Kadek Indah Ary Kusuma Dewi 1909482010098


2. Ni Kadek Sukertiasih 1909482010106
3. I Wayan Eka Sugiantara Putra 1909482010108
4. I Made Agus Mahardika 1909482010109

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
2020
I. JUDUL PERCOBAAN
SEDIAAN INTRAVENA (MONO DAN MULTI KOMPARTEMEN)

II. TUJUAN PRAKTIKUM


1. Untuk memahami dan menganalisis: definisi dan perhitungan parameter- parameter
farmakokinetika.
2. Membandingkan antara model satu dan dua kompartemen sediaan intravena.

III. DASAR TEORI


Farmakokinetika dikhususkan untuk mempelajari bagian tentang pengaruh obat terhadap
organisme hidup. Farmakokinetik didefinisikan sbegai suatu perhitungan matematika dari
waktu proses absorsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dari obat didalam tubuh.
Faktor biologi, psikologi dan fisika- kimia yang dapat mempengaruhi proses perpindahan
obat di dalam tubuh juga dapat mempengaruhi tingkat dan kecepatan ADME obat dalam
tubuh. Sejauh ini aksi farmakologi banyak berhubungan dengan kadar obat di dalam plasma,
begitu pula dengan aksi toksikologi. Seperti yang dijelaskan di awal, Farmakokinetik
mencakup 4 proses, yakni proses absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi.
Metabolisme atau biotransformasi, dan ekskresi bentuk utuh atau bentuk aktif, merupakan
proses eliminasi obat (Setiawati, 2008).
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah.
Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (mulut
sampai dengan rectum), kulit, paru, otot, dan lain-lain (Setiawati, 2008). Laju dan jumlah
absorpsi obat dalam tubuh dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: luas permukaan
dinding usus, kecepatan pengosongan lambung, pergerakan saluran cerna dan aliran darah ke
tempat absorpsi. Laju absorpsi obat ini dapat digambarkan secara matematik sebagai suatu
proses order kesatu atau order nol. Dalam model farmakokinetik ini sebagian besar
menganggap bahwa absorpsi obat mengikuti order kesatu, kecuali apabila anggapan absorbsi
order nol memperbaiki model secara bermakna atau telah teruji dengan percobaan (Shargel
dan Yu, 2005).
Obat yang telah melalui hati bersamaan dengan metabolitnya disebarkan secara merata ke
seluruh jaringan tubuh proses ini sering disebut dengan proses ditribusi. Lewat kapiler dan
cairan ekstra sel (yang mengelilingi jaringan) obat diangkut ke tempat kerjanya di dalam sel
(cairan intra sel), yaitu organ atau otot yang sakit. Tempat kerja ini hendaknya memiliki
penyaluran darah yang baik, karena obat hanya dapat melakukan aktivitasnya bila
konsentrasi setempatnya cukup tinggi selama waktu yang cukup lama (Tjay dan rahardja,
2007)
Metabolisme obat terutama terjadi di hati. Tempat metabolisme yang lain adalah dinding
usus, ginjal, paru, darah, otak dan kulit, juga di lumen kolon (oleh flora usus). Tujuan
metabolisme obat adalah mengubah obat yang non polar menjadi polar agar dapat diekskresi
melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat aktif umumnya diubah menjadi
inaktif, tapi sebagian berubah menjadi lebih aktif, kurang aktif, atau menjadi toksik
(Setiawati, 2008). Reaksi metabolisme terjadi dari rekasi fase I dan rekasi fase II. Reaksi fase
I berfungsi untuk mengubah molekul lipofilik menjadi molekul yang lebih polar.
Metabolisme fase I bisa meningkatkan, mengurangi, atau tidak mengubah aktivitas
farmakologik obat (Mycek et al, 2001). Sedangkan, pada rekasi fase II terjadi reaksi
penggabungan (konjugasi). Disini molekul obat bergabung dengan suatu molkeul yang
terdapat didalam tubuh sambil mengeluarkan air, misalnya dengan zat-zat alamiah seperti
asetilasi, sulfatasi, glukuronidasi, dan metilasi (Tjay dan Rahardja, 2007)
Dalam tahap ekskresi organ terpenting adalah ginjal. Obat di ekskresi melalui ginjal
dalam bentuk utuh maupun bentuk metabolitnya. Ekskresi melalui ginjal melibatkan 3
proses, yakni filtrasi glomerulus, sekresi aktif di tubulus proksimal dan reabsorpsi pasif di
sepanjang tubulus (Anief, 2007). Selain itu ada pula beberapa cara lain yaitu melalui kulit
bersama keringat, paru-paru, empedu, air susu, dan usus (Tjay dan Rahardja, 2007)
Analisis model kompartemen adalah tahapan yang pertama dilakukan setelah didapatkan
data kadar obat tak berubah atau metabolitnya dalam urin. Badan dianggap suatu kumpulan
kompartemen (multi kompartemen) yang terpisah satu sama lain, untuk menyederhanakan
badan dianggap sebagai suatu system satu atau dua kompartemen terbuka.
Model satu kompartemen terbuka diasumsikan bahwa badan adalah kompartemen
tunggal seluruh komponen yang ada dianggap sentral. Komponen sentral didefinisikan
sebagai jumlah seluruh bagian badan (organ atau jaringan) dimana kadar obat dalam darah
atau plasma (ritschel, 1992). Pada model ini seolah – olah tidak terdapat fase distribusi.
Adanya fase distribusi hanya digambarkan dengan Vd- Kurva semiloggaritma hanya
menunjukkan kurva monfasik. Sedangkan pada model dua kompartemen terbuka tubuh
dibagi menjadi dua kompartemen, sentral dan perifer. Kompartemen sentral, meliputi darah,
cairan ekstraselular, dan jaringanjaringan dengan perfusi tinggi, kompartemen-kompartemen
ini secara cepat terdifusi oleh obat. Kompartemen perifer yang berisi jaringan-jaringan yang
berkesetimbangan secara lebih lambat dengan obat. Model ini menganggap obat dieliminasi
dari kompartemen sentral (Shargel dan Yu, 2005) Artinya terbuka mengacu pada kenyataan
bahwa obat yang semula masuk dalam badan pada artinya akan dikeluarkan kembali (pada
waktu tak hingga, sampai kadar obat sama dengan nol). Kompertemen perifer dianggap
sebagi jumlah seluruh bagian badan (organ, jaringan atau bagian darinya) tempat obat
akhirnya tersebar namun keseimbangan tidak segera tercapai (ritschel, 1992).
Parameter farmakokinetika adalah besaran yang diturunkan secara matematis dari model
berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh atau metabolitnya dalam darah, urin atau
cairan hayati lainnya. Fungsi dari penetapan parameter farmakokinetik suatu obat adalah
untuk mengkaji kinetika absorbsi, distribusi dan eliminasi didalam tubuh (Shargel dan Yu,
2005)
Secara umum parameter farmakokinetika digolongkan menjadi parameter primer,
sekunder dan turunan. Parameter farmakokinetik primer yaitu parameter yang nilainya
dipengaruhi secara langsung oleh perubahan fisiologi. Termasuk dalam parameter ini adalah
tetapan laju absorpsi (ka) fraksi obat yang diabsobsi (f); volume distribusi (Vd);
spembersihan renal (ClR) dan pembersihan hepatik (ClH).
Tetapan laju absorpsi ((ka) adalah fraksi obat yang diabsobsi tiap satuan waktu, karenanya
tetapan ini menentukan jumlah obat yang dipindahkan dari tempat absorpsinya ke dalam
darah tiap satuan waktu (Notari dkk, 1975, Ritschel, 1992).
Volume distribusi (Vd) adalah suatu model hipotetik yang digunakan untuk
memperkirakan jumlah obat yang terdistribusi di dalam cairan tubuh. Vd bukan merupakan
volume yang mewakili volume pada anatomi yang sebenarnya, melainkan hanya mewakili
dinamika distribusi obat antara plasma dan jaringan serta menerangkan kesetimbangan massa
obat dalam tubuh. Vd adalah salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam
memperkirakan jumlah obat dalam tubuh. Vd merupakan suatu parameter yang berguna
untuk menilai jumlah relatif obat di luar kompartemen sentral atau dalam jaringan (Shargel
dan Yu., 2005) Sifat Vd ini spesifik untuk tiap individu. Vdss hanya salah satu bentuk untuk
menyatakanvolume distribusi yang berkaitan dengan jumlah obat yang terdistribusi dalam
cairan tubuh pada kondisi kesetimbangan/tunak (steady-state). Besarnya Vd tergantung pada
faktor fisiologi seperti laju aliran darah pada berbagai jaringan, kelarutan dalam lemak,
koefisien partisi dan perbedaan tipe jaringan serta pH. Pada pemberian secara intravena (i.v.)
dengan model satu kompartemen Vd dapat ditetapkan segera setelah tejadi kesetimbangan
dengan membagi dosis yang diberikan (D) dengan konsentrasi obat mula-mula [C(0)].
Tujuan penetapan Vd adalah untuk menghubungkan kadar obat dalam plasma dengan total
jumlah obat yang terdapat dalam darah pada berbagai waktu.
Kliren menggambarkan volume darah atau plasma yang dibersihkan dari obat pada
kompartemen sentral persatuan waktu. Proses yang terjadi tidak hanya berupa ekskresi dari
injal namun juga semua jalur ekskresi termasuk metabolisme. Obat dapat dibersihkan dari
tubuh melalui berbagai jalur. Dua organ penting adalah ginjal (Cl R) dan hati(ClH). Jalur selain
ginjal dan hati (paru-paru, kulit, saliva, air susu, dll) biasanya diabaikan. Kliren dapat
diperoleh dari data dosis (D), bioavailabilitas absolut (f) dan AUC0 - µ .

Parameter sekunder adalah parameter farmakokinetika yang harganya bergantung pada


parameter primer. Contoh dari parameter sekunder adalah waktu paruh eliminasi (t1/2
eliminasi) dan Kecepatan eliminasi (Kel). Waktu paruh eliminasi adalah waktu yang
dibutuhkan obat untuk tereliminasi menjadi separuh dari harga awal. Besar kecilnya waktu
paruh eliminasi sangat menentukan lama kerja obat dan menjadi acuan untuk menentukan
dosis pada pemakaian berulang dalam terapi jangka panjang (Mutschler, 1999).
Parameter farmakokinetika turunan, nilai parameter ini tidak hanya tergantung pada
parameter farmakokinetika primer tetapi juga pada dosis seperti pada dijumpai pada kadar
obat dalam plasma dalam kondisi tunak (Css) dan luas daerah di bawah kurva kadar obat
dalam plasma lawan waktu (AUC), (Rowland & Tozer, 1995) contoh dari parameter turunan
adalah waktu mencapai kadar puncak (tmaks), kadar puncak (cpmaks) dan area under curve
(AUC). Kadar puncak adalah kadar tertinggi yang terukur dalam darah atau serum atau
plasma. AUC adalah permukaan dibawah kurva (grafik) yang menggambarkan naik turunnya
kadar plasma sebagai fungsi waktu. AUC dapat digunakan untuk membandingkan kadar
masing-masing plasma obat bila penentuan kecepatan eliminasinya tidak mengalami
perubahan (Tjay dan Rahardja, 2007)
Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan sebuah analisis data untuk melihat parameter-parameter
farmakokinetik suatu obat yang diberiken secara intravena. Analisis farmakokinetik
dilakukan dengan tujuan untuk mendapat parameter-parameter farmakokinetika. Tujuan dari
penyederhaan farmakokinetika diantaranya untuk menggabrkan suatu sistem biologis yang
kompleks berkaitan dengan pergerakan obat dalam tubuh dimana sebagian besar model
farmakokinetika menganggap bahwa konsentrasi obat dalam plasma mencerminkan
konsentrasi obat dalam tubuh secara global atau keseleruhan (Shargel., et al, 2012 : 11)
Parameter-parameter ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan misalnya menentukan laju
absorpsi, metabolisme dan ekskresi melalui urin; memperhtungkan bioavaibilitas suatu
produk; menghubungkan respon farmakologi dengan konsentrasi obat dalam plasma, cairan
tubuh lain atau jaringan; memprediksi kadar obat dalam darah setelah pemberian dosis
ganda; mengoptimalkan aturan dosis untuk obat-obat tertentu dan lain sebagainya (Shargel.,
et al, 2012 : 11). Untuk mempelajari analisis farakokinetika terlebuh dahulu harus dipahamu
model kompartemen, ordokinetika dan lain sebagainya.

Dalam praktikum ini pertama-tama dilakukan proses pembuatan persamaan regresi linier
untuk menentukan jenis kompartemen yang berpengaruh terhadap data yang diberikan, dari
hasil ini diperoleh persamaan garis yakni Y = -0,0076x + 6,8557 dengan nilai r2 sebersar
0,9983, karena nilai r2 yang diperoleh mendekati angka 1 maka dapat disimpulkan bahwa
data ini merupakan data termasuk kedalam monokompartemen. Zat yang melewati sistem
monokompartemen didalam tubuh, ketika ia masuk kedalam tubuh maka ia akan mengalami
distribusi dan sekaligus mengalami eliminasi. Pada model monokompartemen badan
manusia diasumsikan merupakan komponen tunggal, seluruh kompartemen yang ada
dianggap sebagai sentral (Ritschel, 1992). Model mono kompartemen terbuka menganggap
bahwa berbagai perubahan kadar obat dalam plasma mencerminkan perubahan yang
sebanding dengan kadar obat dalam jaringan. Tetapi, model ini tidak menganggap bahwa
konsentrasi obat dalam tiap jaringan tersebut adalah sama pada berbagai waktu (Shargel dan
Yu, 2005)

Setelah diketahui jenis kompartemen dalam data terseut selanjutnya dilakukan penetapan
ketetapan laju eliminasi (Ke) nilai Ke yang diperoleh sebesar 0,0076 jam -1, dengan ini
selanjutnya dapat ditentukan nilai waktu paruh obat (t ½ ) waktu paruh merupakan waktu
yang dibutuhkan oat untuk mencapai setengah konsentrasinya dalam data ini waktuparuh
obat yang diperoleh sebesar 91,18 meit. Besar kecilnya waktu paruh eliminasi sangat
menentukan lama kerja obat dan menjadi acuan untuk menentukan dosis pada pemakaian
berulang dalam terapi jangka panjang (Mutschler, 1999). Volume distribusi obat (Vd) dari
data ini ialah sebesar 210.686,79 ng/ml. vd ini merupakan suatu model yang digunakan
untuk memperkirakan jumlah obat yang terdistribusi didalam cairan tubuh. Vd bukan
merupakan volume yang mewakili volume pada anatomi yang sebenarnya, melainkan hanya
mewakili dinamika distribusi obat antara plasma dan jaringan serta menerangkan
kesetimbangan masa obat dalam tubuh. Sifat Vd ini spesifik untuk tiap individu, keterikatan
dalam darah, keterikatan dengan jaringan, partisi pada lemak, komposisi tubuh dan ukuran
tubuh mempengaruhi nilai Vd dari suatu obat (Rowland dan Tozer, 1995)

Nilai clearenc (Cl) merupakan parameter yang menggambarkan jumlah obat yang
dibersihkan dari kompartemen sentral persatuan waktu hasil yang diperoleh dari perhitungan
ini ialah 1.601,21 ng/ml/menit. Klirens merupakan parameter farmakokinetika yang
menggambarkan eliminasi obat yang merupakan jumlah volume cairan yang mengandung
obat yang dibersihkan dari kompartemen tubuh setiap waktu tertentu. Eliminasi tersebut
tidak dipermasalahkan bagaimanakah prosesnya (Mutschler, 1999) Nilai Cl salah satunya
dipengaruhi oleh kecepatan aliran darah dari kompartemen sentral ke tempat eliminasinya
karena itu juga merupakan fungsi kecepatan laju absorpsi. Kliren bukan hanya pada ginjal
saja melainkan semua jalur ekskresi termasuk metabolisme. Nilai AUC yang diperoleh pada
praktikum ini sebesar 124.905,54 ng/ml. nilai AUC menggambarkan jumlah obat yang
terukur dalam darah selama periode tertentu. AUC adalah permukaan dibawah kurva
(grafik) yang menggambarkan naik turunnya kadar plasma sebagai fungsi waktu. AUC dapat
digunakan untuk membandingkan kadar masing-masing plasma obat bila penentuan
kecepatan eliminasinya tidak mengalami perubahan (Tjay dn Rahardja., 2007)