Anda di halaman 1dari 10

Nama : Trisnawati Amalia

Kelas :C
NIM : 3351191538

UJIAN TENGAH SEMESTER

1. DEFENISI :
a. Sebutkan 4 (Empat) definisi Farmakoekonomi (dua diantaranya
menurut Lyle Bootman dan Tom Walley) !
Jawaban :
 Farmakoekonomi adalah deskripsi dan analisis tentang biaya obat dalam
sistem asuhan kesehatan dan dalam masyarakat (J. Lyle Bootman,1996).
 Ekonomi kesehatan adalah ilmu yang menganalisis permintaan dan pasokan
asuhan kesehatan dalam rangka menyusun kerangka pengambilan keputusan,
Farmakoekonomi adalah ilmu yang memakai metodologi Ilmu Ekonomi
Kesehatan untuk kebijakan obat. (Tom Walley,2004).
 Farmakoekonomi adalah proses identifikasi, pengukuran serta pembandingan
antara biaya dan resiko dengan keuntungan dari program, pelayanan atau
pengobatan. Dengan sumber daya yang dipakai dipilih alternatif dampak
kesehatan terbaik yaitu membandingkan alternatif biaya yang dikeluarkan
terhadap dampak yang diperoleh (Academy For Managed Care
Pharmacy,2016).
 Ilmu Farmakoekonomi merupakan cabang dari Ilmu Ekonomi Kesehatan
terutama yang menyangkut bahasan tentang Biaya-Kemanjuran dari
pengobatan dengan obat. (Alan Holmer,1998).

b. Dengan empat defenisi tersebut uraikan makna, maksud dan tujuan


dari Ilmu Farmakoekonomi !
Jawaban :
Memberikan solusi dari masalah-masalah tersebut, seperti masalah biaya
pengobatan, masalah yang timbul sejak penemuan obat baru sampai setelah obat
tersebut dipasarkan. Farmakoekonomi dapat memberikan pertimbangan
kemanjuran dengan biaya yang dikeluarkan. Sehingga kini banyak yang
mengaplikasikan metode dari Ilmu Farmakoekonomi tersebut. Yang paling
banyak digunakan ialah metode analis CEA ( Cost Effectiveness Analysis ).

2. ISTILAH :
a. Kenapa menggunakan istilah Farmakoekonomi, bukan Ekonomi
Farmasi atau Usaha Farmasi atau Upaya Farmasi atau Bisnis Farmasi ?
Jawaban :
Karena Farmakoekonomi mencakup Ekonomi Kesehatan yang dimana
memiliki fokus yang berbeda karena fokusnya bukan pada bisnis kesehatan atau
farmasi, tetapi pada pemilihan pengobatan atau obat yang sama ke-efektifannya
tetapi dengan biaya yang minimal hal tersebut dimaksudkan agar tidak boleh
mengorbankan efektivitas penyembuhan pasien.

b. Kenapa Ilmu Farmakoekonomi merupakan cabang ilmu dari Health


Economics bukan cabang ilmu dari Ilmu Ekonomi atau Ilmu Farmasi ?
Jawab dan Jelaskan !
Jawaban :
Ilmu Farmakoekonomi merupakan cabang ilmu dari Health Economics bukan
cabang ilmu dari Ilmu Ekonomi atau Ilmu Farmasi karena dalam melaksanakan
pelayanan kesehatan kefarmasian diharapakan supaya tersebar luas dan efektif
tetapi terjangkau maka menggunakan Metodelogi Ekonomi dimana penggunaan
Metodelogi Ekonomi dalam pelayanan Kesehatam (Help Economic yang
menyangkut obat adalah Farmakoekonomi). Farmakoekonomi menyangkut obat
salah satunya adalah memilih obat yang akan digunakan dalam pelayanan
kefarmasian dengan membandingkan manfaat dan biaya dan pemilihan obat yang
akan dimasukkan kedalam formularium.
3. Gambarkan dan jelaskan peran Ilmu Farmakoekonomi dalam Siklus
Hidup Obat menurut Lyle Bootman !
Jawaban :
Analisis farmakoekonomi diperlukan sejak sebelum obat ditemukan sampai
setelah obat dipasarkan. Hal ini bertujuan agar, riset dasar serta pengembangannya
tidak menjadi riset lanjutan yang sia-sia serta menghindari kegagalan maka
Analisis Farmakoekonomi diterapkan sejak awal proses. Adapun Analisis
Farmakoekonomi bermanfaat bagi Industri Farmasi dalam empat tahap, yaitu :
1. Tahap Pertama : Sebelum melakukan penemuan obat baru, terlebih dahulu
dipastikan wilaya terapi mana yang mau dituju.
2. Tahap Kedua : Analisis Farmakoekonomi pada waktu Uji Klinik Fase I,II
dan III.
3. Tahap Ketiga : Pada waktu akan dipasarkan dilakukan kajian ‘Bussines
Analysis and Marketing Decision’ dalam rangka memastikan pasar yang tepat
dengan sediaan yang sesuai.
4. Tahap Keempat : Setelah obat dipasarkan dilakukan kajian lanjutan anatara
lain Uji Klinik Fase IV.
Tahap Pertama, Therapeutic area targeted: hal ini dalam rangka menjamin
obat yang akan dikembangkan laku dipasaran maka terlebih dahulu harus
ditentukan wilayah/ kelas terapi yang dipilih atas dasar kajian
farmakoepidemiologi dimana untuk tiap negara/ wilayah berbeda satu sama
lainnya. Contoh: dari aspek farmakoepidemiologi ternyata populasi hipertensi dan
penyumbatan pembuluh darah banyak pada orang amerika yang disebabakan
karena pola konsumsi makanannya adalah daging dan susu. Sehingga selama 10
tahun lebih (masa hak paten) Pfizer mendapat laba besar dari penjualan Lipitor
(Atorvastatin) dan Norvask (amlodipine) dan selama itu Lipitor dan Norvask
menjadi obat paling laku di dunia nomor 1 dan 2 sebagai obat penurun kolesterol
dan hipertensi.
Tahap Kedua, Clinical Research: fase ini terbagi menjadi 3 fase, untuk
memastikan keamanan obat pada manusia.
 Uji klinik fase 1: untuk memastikan toksisitas obat dalam tubuh manusia
 Uji klinik fase 2: pada fase ini obat yang diteliti diberikan kepada sekelompok
sukarelawan dengan penyakit yang dimaksud, hal ini untuk melakukan
pemastian kemanjuran suatu obat memiliki efek farmakologi
 Uji klinik fase 3: pada fase ini memastikan obat yang lulus fase 2 benar benar
memiliki efek farmakologi yang diharapkan sehingga hasil percobaan dengan
sukarelawan yang diberi obat yang dimaksud dibandingkan dengan
sukarelawan yang diberi placebo. Bila ada perbedaan yang mencolok/
signifikan terhadap kelompok placebo, maka senyawa atau isolate tersebut
lulus keseluruhan uji klinik.
Tahap Ketiga , Business Analysis And Marketing Decision: pada waktu akan
dipasarkan dilakukan kajian ini dalam rangka memastikan pasar yang tepat
dengan sediaan yang sesuai. Sebagai contoh : Cursil dan Stimuno yang kurang
diminati masyarakat, bukan karena tidak efektif, tetapi karena kesadaran
kesehatan yang masih rendah. Obat Fitofarmaka tersebut, tidak tepat bila
dipasarkan ke kota kecil yang masyrakatnya sedikit dan perekonomiannya belum
maju. Karena pola pikir atau kesadaran dan pengetahuan masyarakat terbatas
sehingga kurang perhatian untuk melindungi hati (hepatoprotector) dan menjaga
daya tahan tubuh (immunomodulator).
Dan Tahap Keempat : Post Marketing Research: Analisis setelah obat
dipasarkan. Meliputi pengamatan, observasi, eksaminasi, mengawasi terus
menerus setelah obat berada dipasar merupakan kewajiban pemerintah dalam
rangka menjamin atau melindungi kepentingan dan keselamatan (surveillance).
Contohnya : Industri farmasi Bayer mempunyai produk aspirin yang merupakan
analgetik dan antipiretik yang cukup baik, namun karena efek samping yang
mengiritasi lambung maka dipasaran lebih dikuasai oleh produk yang berbasis
parasetamol. Akibatnya aspirin hampir punah (sirna) dari pasaran, oleh karena itu
Pharos membuat inovasi obat aspirin dengan cara salut, sehingga tidak dapat
mengiritasi lambung dengan nama Ascardia, belajar dari keberhasilan Pharos
maka bBayer Jerman memasarkan Asetosal dengan nama Cardioaspirin.
1. THERAPEUTIC AREA TARGETED

Discovery Research (Chemical/Biology/Technology Research)

Project Review

Not promising Promising

Development Research
(FurtherBiological,Toxicological, harmacokinetic Evaluation)

Not Ready Ready to investigate to human

Investigational new drug application to FDA

FDA Reject FDA Approved

2. Phase I,II,III Clinical Research Safety,


Efficacy And Pharmacokinetics

Unacceptable Acceptable

Pharmaceutical Development, Dosage Form


Development and Assay

New Drug Application

FDA Reject FDA Approved

3. Business Analysis And Marketing Decission

Product Marketing

4. Post Marketing Research


4. Apa persamaan dan perbedaan Metoda Analisis Farmakoekonomi
a. Cost-Minimization Analysis (CMA)
b. Cost-Benefit Analysis (CBA)
c. Cost-Effectiveness Analysis (CEA)
d. Cost-Utility Analysis (CUA)
Jawaban :
a. Cost Minimization Analysis (CMA): Analisis biaya termurah dilakukan
dengan membandingkan biaya pengobatan/ obat dengan golongan terapi yang
sama serta kemanjuran (effectiveness) yang sama pula.
Contoh : yaitu terapi dengan antibiotik generik dari pada dengan obat paten
dengan perbedaan harga yang sangat berbeda jauh tetapi memiliki efek terapi
yang sama.
b. Cost Effectiveness Analysis (CEA): Analisis yang membandingkan antara
biaya yang dikeluarkan dengan kemanjuran yang diperoleh.
Contoh: Reflux Esophagitis yang parah kita membandingkan banyaknya
biaya yang dikeluarkan antara penggunaan Proton Pump Inhibitor (PPI) dan
H2 Receptor Bloker.
c. Cost Utility Analysis (CUA): Merupakan analisis keuangan yang diapakai
sebagai pertimbangan dalam pemesanan atau penggunaan produk atau jasa.
Contoh: Seseorang minum satu gelas es teh manis di siang hari yang panas,
apa yang dirasakan orang tersebut. Ada kenikmatan, kenyamanan, kepuasan.
Utilitasnya mungkin sampai 100%.
d. Cost Benefit Analysis (CBA): Adalah analisis yang membandingkan anatara
biaya yang dikeluarkan dengan perolehan yang diadapat dimana satuannya
sama yaitu satuan moneter/ rupiah.
Contoh: Digunakan dalam membandingkan berbagai program kesehatan
untuk mencari yang paling mengutungkan bagi masyarakat ataupun
pemerintah. Misalnya pada perbandingan penggunaan vaksin dengan program
perawatan episode penyakit.
Perbedaan dan persamaan dari metode farmakoekonomi:

PERBEDAAN
Metode Biaya Dampak Fokus
CMA Rupiah Harus sama Efisiensi (kemanjuran tetap
terjamin dan diperoleh biaya
yang murah)
CBA Rupiah Rupiah Paling bermanfaat bila sumber
daya terbatas
CEA Rupiah Satuan Biaya termurah untuk
efektivitas mencapai tujuan yaitu
kemanjuran/efektivitas
CUA Rupiah Satuan utilitas Biaya termurah untuk
mencapai kualitas hidup
normal
PERSAMAAN
Biaya yang dikeluarkan satuannya sama sama dalam rupiah dan semuanya
focus pada penggunaan biaya termurah dampak yang didapat harus lebih
menguntungkan.

5. Apa persamaan dan perbedaan Cost-Minimization Analysis (CMA)


dengan Cost Analysis (CA) dan Effecticeness Analysis (EA).
Jawaban :

PERSAMAAN
Merupakan bagian dari Farmakoekonomi yang saling berkaitan satu sama
lain dan dapat digunakan sebagai metode analisis.
PERBEDAAN
Metode Fokus
Analisis biaya adalah, pemilihan yang
didasarkan hanya pada pertimbangan biaya (cost)
saja, tanpa mempertimbangkan biaya itu rendah
ataupun tinggi. Ada kalanya memilih biaya atau
harga yang rendah dan mengabaikan kualitas. Ada
Cost Analysis (CA) saat juga memilih dengan harga atau biaya yang
tinggi tanpa melihat kualitas, yang penting bagus dan
penampilannya menarik, itu lah yang dipilih. Seperti
contoh : Anak muda lebih tertarik dengan Vitamin C
pada “ You See 1000” karena adanya iklan daripada
dengan Vitacimin C “IPI” .
Pemilihan yang hanya didasarkan dengan
pertimbangan kualitas atau (kemanjuran) saja. Tanpa
mempertimbangakan biaya yang dikeluarkan, hal ini
tidak dapat disalahkan atau dibenarkan. Tetapi hal ini
dapat membentuk mindset masyarakat bahwa ‘yang
mahal pasti lebih bagus’ sehingga menyebabkan obat
generik atau obat berlogo menjadi kurang diminati.
Effectiveness Analisis Contoh : Dokter meresepkan beberapa obat branded/
(EA)
obat paten, ternyata saat menebus obat pasien tidak
mampu membeli semuanya, akhirnya ia hanya
membeli sebagian obat. Bisa jadi obat yang tidak
dibelinya, adalah obat kausal yang paling
memberikan efektifitas pengobatan. Maka dari itu
pengaplikasian Metode Farmakoekonomi sangat
diperlukan dalam hali ini.
Merupakan bagian dari metodologi
farmakoekonomi yang dimana, merupakan solusi
yang dapat dipilih karena CMA ialah metode yang
memilih obat berkualitas akan tetapi harganya
Cost Minimization
Analysis (CMA) murah. Contoh : yaitu terapi dengan antibiotik
generik dari pada dengan obat paten dengan
perbedaan harga yang sangat berbeda jauh tetapi
memiliki efek terapi yang sama.

6. Anda adalah seorang Apoteker penanggung jawab Divisi Riset dan


Pengembangan (Research and Development) Industri Farmasi yang
bertugas mengadakan penelitian terhadap pengembangan produk di
Industri Farmasi. Bagaimana pola seleksi obat baru yang dapat
dipertanggung-jawabkan ?
Jawaban :
Jika ada obat baru sebelum di pasarkan atau perdagangkan (diedarkan)
harus dibandingkan dengan obat dipasaran terlebih dahulu (yang telah beredar)
diperksa kemanjurannya (Effectiveness Analysis), maka hasilnya ada 3
kemungkinan yaitu; Obat baru lebih baik dari obat yang telah dipasarkan (Better
Outcomes), atau sama efektifnya dengan obat yang telah dipasarkan (Same
Outcomes) dan dapat pula obat baru kurang efektif (Lower Outcomes).
Bila terbukti obat tersebut kurang efektif (Lower Outcomes),
dibandingkan dengan yang sudah ada dipasaran, sebaiknya ditinggalkan tidak
diproduksi atau dipasarkan. Sedangkan untuk yang memiliki efektifitas sama
(Same Outcomes) apalagi lebih efektifitasnya (Better Outcomes), maka dapat
dilanjutkan dengan seleksi harga. Dimana biaya yang lebih mahal (Higher Costs)
lebih baik ditinggalkan, dan untuk yang lebih murah (Lower Costs) merupakan
Dominant Strategy, kelompok yang menarik untuk diproduksi.

7. Anda Adalah seorang Apoteker IFRS (Instalasi Farmasi Rumah Sakit)


yang juga bertugas sebagai Sekertaris KFT (Komite Farmasi dan Terapi)
dengan tugas pokok menyusun Formularium Rumah Sakit.
a. Apa itu Formularium Rumah Sakit
Jawaban :
Formularium rumah sakit merupakan pedoman suatu dokumen yang
secara terus menerus direvisi, memuat sediaan obat dan informasi penting lainnya
yang mereflesikan keputusan klinik mutakhir dari staf medik rumah sakit.
Tujuan Formulasium Rumah Sakit sebagai pedoman dalam penulisan
resep di rumah sakit untuk membantu meyakinkan mutu dan ketepatan
penggunaan obat di rumah sakit, sebagai bahan edukasi bagi staf medik tentang
terapi obat yang benar, dan memberi rasio manfaat yang tinggi dengan biaya yang
minimal

b. Metode analisis farmakoekonomi apakah yang anda pakai untuk


menseleksi obat supaya bisa masuk formularium ? sebut dan jelaskan
metoda metoda tersebut.
Jawaban :
IFRS dapat melakukan pengelolaan obat secara efektif dan efisien.
Penghematan terjadi karena IFRS tidak melakukan pembelian obat yang tidak
perlu. Oleh karena itu, rumah sakit mampu membeli dalam kuantitas yang lebih
besar dari jenis obat yang lebih sedikit. Apabila ada dua jenis obat yang indikasi
terapinya sama, maka dipllih obat yang paling Cost Effective.
Metode yang digunakan untuk menseleksi obat yang masuk formularium,
diantaranya ialah :
1. CEA (Cost Effectivenes Analysis)
Merupakan analisa farmakoekonomi dalam membandingkan cost-efektivitas
antara 2 pengobatan yang hasil atau outcomenya dinilai dari natural unit. Natural
unit bisa berupa tekanan darah, life-saving, kadar gula dalam darah, kolesterol dll.
Alat ukur yang digunakan disebut dengan ACER (an Avarage Cost Effektive
Ratio).
ACER : Health Care cost (dalam moneter) /Cinical out come (dalam natural
unit). Jika ternyata dalam ACER kedua obat yang dibandingkan hasilnya sama
atau terdapat pengobatan yang lebih baik maka dapat ditambahkan dengan
perhitungan ICER
ICER = Cost A – Cost B (dalam moneter) / Effect A – Effect B (dalam %)
2. CMA (Cost Minimization Analysis)
Membandingkan biaya total penggunaan 2 atau lebih obat yang khasiat dan
efek sampinya sama (ekuivalen) /obat me too yang beredar bisa juga misal
membandingkan obat inovator dengan branded atau generiknya. Menentukan
mana yang biaya pengobatannya lebih murah.