Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu tuntutan yang muncul terutama bagi organisasi adalah


agar organisasi dapat meningkatkan kualitas laporan keuangannya sehingga
pertanggungjawaban perusahaan kepada publik dan para pemegang saham
semakin transparan dan laporan keuangan tersebut diharapkan dapat
mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya. Peningkatan
kualitas laporan keuangan tersebut dapat dipenuhi dengan audit laporan
keuangan yang hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang profesional
dalam bidang audit dan disebut sebagai akuntan publik atau auditor
eksternal.
Tugas auditor sebagai pemeriksa laporan keuangan menyebabkan
seorang auditor tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan bantuan
auditor lainnya yang tergabung dalam Kantor Akuntan Publik (KAP)
tertentu agar pekerjaannya lebih efektif dan efisien. Akan tetapi, sebelum
memeriksa laporan keuangan suatu perusahaan dan memberikan opini atas
laporan keuangan perusahaan tersebut, auditor perlu untuk melakukan
prosedur-prosedur penerimaan penugasan audit. Penerimaan penugasan
audit yang dimaksud dalam hal ini adalah penerimaan perikatan audit oleh
auditor (dalam jabatannya sebagai Partner) untuk melakukan audit atas
laporan keuangan perusahaan (dalam hal ini disebut sebagai klien).
Seorang partner membutuhkan berbagai pertimbangan dalam
menerima suatu perikatan audit karena terdapat banyak risiko di dalam
mengaudit dan mengeluarkan opini atas suatu laporan keuangan.
Penerimaan perikatan audit adalah tahap awal dari audit laporan keuangan
yang melibatkan suatu keputusan untuk menerima (atau menolak)
kesempatan untuk menjadi auditor dari klien baru atau untuk melanjutkan
sebagai auditor bagi klien yang sudah ada. Petunjuk penerimaan perikatan
audit yang dimaksud dapat dilihat pada Standar Audit (SA) dan Sistem

1
Pengendalian Mutu Nomor 1 (SPM1).
Pada SA 210 menjelaskan bahwa tujuan auditor adalah untuk
menerima atau melanjutkan perikatan audit hanya bila basis yang melandasi
pelaksanaan audit telah disepakati melalui penetapan apakah terdapat
prakondisi untuk suatu audit, dan penegasan bahwa ada pemahaman yang
sama tentang ketentuan perikatan audit antara auditor, manajemen, dan jika
relevan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola entitas.
Banyaknya risiko yang akan dihadapi KAP dari suatu perikatan audit
menyebabkan setiap KAP harus berhati-hati dalam memilih kliennya.
Apabila KAP menerima suatu perikatan audit, maka KAP tersebut harus
mampu menanggung segala risikonya. Oleh sebab itu, dibutuhkan kepatuhan
terhadap SPAP yang telah diterbitkan dan diberlakukan di seluruh Indonesia
agar setiap KAP dapat meminimalkan risiko yang dapat terjadi ketika
mengaudit suatu klien.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penerimaan Perikatan Audit

Perikatan (engagement) adalah kesepakatan dua pihak untuk


mengadakan suatu ikatan perjanjian. Klien yang memerlukuan jasa auditing
mengadakan suatu ikatan perjanjian dengan auditor. Dalam ikatan perjanjian
tersebut, klien menyerahkan pekerjaan audit atas tersebut berdasarkan
kompetensi profesionalnya. Langkah awalnya berupa pengambilan
keputusan untuk menerima atau menolak perikatan dari calon klien untuk
melanjutkan atau menghentikan perikatan audit dari klien berulang.

Di dalam memutuskan apakah suatu perikatan audit dapat diterima


atau tidak, auditor menempuh suatu proses yang terdiri dari enam tahap:

1. Mengevaluasi integritas manajemen.

a. Pertimbangan atas hal-hal signifikan yang mungkin timbul dan


implikasinya dalam melanjutkan hubungan perikatan.

b. Komunikasi dengan pemberi jasa akuntansi profesional kepada klien,


baik yang sekarang maupun yang terdahulu.

c. Meminta keterangan dari personil KAP atau pihak ketiga lainnya.

d. Pencarian latar belakang melalui berbagai sumber.

2. Mengidentifikasi kondisi khusus dan risiko yang tidak biasa.

a. Menilai apakah terdapat kondisi yang memerlukan revisi terhadap


ketentuan perikatan audit dan apakah perlu untuk mengingatkan

3
antitas yang bersangkutan tentang ketentuan perikatan audit yang
masih berlaku.

b. Mengidentifikasi apakah terdapat alasan yang memadai untuk


melakukan perubahan dalam ketentuan perikatan audit.

c. Mengidentifikasi apakah kerangka pelaporan keuangan yang akan


diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan dapat diterima.

d. Memperoleh persetujuan dari manajemen bahwa manajemen


mengakui dan memahami tanggung jawabnya.

e. Mengidentifikasi apakah terdapat pembatasan ruang lingkup audit


oleh manajemen.

f. Menilai apakah terdapat pertimbangan lainnya dalam penerimaan


perikatan audit.

3. Menilai kompetensi untuk melaksanakan audit.

a. Pemahaman dan pengalaman praktik atas perikatan audit.

b. Pemahaman standar profesi serta ketentuan hukum dan peraturan


yang berlaku.

c. Keahlian teknis (bidang teknologi dan informasi) dan keahlian


tertentu (bidang akuntansi atau audit).

d. Pengetahuan industri yang relevan dengan bidang usaha klien.

e. Kemampuan menggunakan pertimbangan professional.

f. Pemahaman tentang kebijakan dan prosedur pengendalian mutu


KAP.

4. Menilai independensi.

a. Memperoleh informasi yang relevan untuk mengidentifikasi dan


mengevaluasi hubungan yang menciptakan ancaman terhadap
independensi.

4
b. Mengevaluasi informasi tentang pelanggaran yang teridentifikasi
apakah menciptakan pelanggaran terhadap independensi.

c. Melakukan tindakan yang tepat untuk menghilangkan atau


menguranginya ke tingkat yang dapat diterima

5. Keputusan untuk menerima atau menolak.

a. Perubahan atas ketentuan perikatan audit dapat diterima atau tidak


terdapat perubahan ketentuan perikatan audit.

b. Tidak terdapat pembatasan ruang lingkup audit.

c. Kerangka pelaporan keuangan klien yang diterapkan dalam


penyusunan laporan keuangan diterima.

d. Manajemen menyetujui tanggung jawabnya.

e. Pertimbangan lainnya dalam penerimaan perikatan telah disetujui


bersama manajemen atau tidak terdapat pertimbangan lainnya dalam
penerimaan perikatan.

6. Membuat surat perikatan audit.

Tujuan dibuatnya surat perikatan adalah untuk mengurangi salah


pengertian sehingga harus dibuat secara tertulis. Surat perikatan adalah
kesepakatan antara KAP dengan klien, isi dari surat tersebut adalah
menyatakan batasan dari penugasan, batas waktu, bantuan akan
diberikan atau daftar rincian yang perlu disiapkan untuk auditor, serta
honorariuran.

2.2 Analisis Risiko


Risiko kesimpulan audit tidak tepat secara material tentang hal
pokok yang diaudit. Auditor berupaya menekan risiko ke-tingkat serendah
mungkin sebagai risiko dapat diterima auditor, sepanjang masuk akal. Risiko
audit dengan keyakinan terbatas lebih besar dari risiko keyakinan memadai.

5
Keyakinan terbatas minimum adalah berbentuk kesimpulan negatif dari
auditor berdasar sifat/jenis bukti, saat pemerolehan bukti, dan luas prosedur
pengumpulan bukti asuransi.
Risiko perikatan hukum (kontrak) audit diproksi oleh risiko salah
saji material (yaitu risiko inheren, rentan risiko karena kendali internal tidak
ada dan risiko pengendalian yang selalu ada karena risiko inheren) dan
risiko deteksi, yaitu risiko salah saji material laporan keuangan tak terdeteksi
auditor. Jenis / sifat bukti, saat perolehan bukti, dan luas prosedur
pengumpulan bukti audit untuk setiap perikatan adalah unik & berbeda.
Tugas auditor adalah melakukan komunikasi secara baik berbagai aspek
perikatan, agar tidak masuk ke dalam risiko perikatan.
Hindari biaya audit yang lebih besar dibanding penurunan risiko
asurans melalui pengujian selektif dan mewakili populasi untuk hal pokok
yang diaudit, audit terhadap wilayah lemah kendali internal. Waspadai tanda
tanda manajemen bereputasi buruk, organisasi laporan keuangan berisiko
bangkrut dan laporan keuangan perpotensi sesat saji dengan strategi
menghindari kontrak audit berisiko audit atau lakukan mitigasi risiko setiap
kontrak dengan prosedur tambahan.
Untuk audit laporan keuangan, analisislah tata kelola calon klien
yaitu integritas manajemen, indipendensi Audit Komite, kualitas kendal
internal, SOP, teknologi kerja, sejarah kinerja kepatuhan kepada hukum,
kualitas integritas pemegang saham utama dan partisipasi pemegang saham
utama dalam laporan keuangan, hubungan keuangan pemegang saham
utama dengan perusahaan teraudit, transaksi pihak berelasi, kondisi kurang
modal, tak ada perumusan strategis jangka panjang atau masa depan, posisi
sebagai emiten atau entitas privat, standar akuntansi yang digunakan,
ketergantungan pada produk/jasa tertentu, daur hidup (life cycle) dan
pengaruhnya pada going concern, perkembangan teknologi dunia, pola
bisnis, pola arus kas, stabilitas arus kas, kepastian usaha, sejarah
penyimpangan/pelanggaran standar akuntansi, rating, misalnya blue chip

6
company.
1. Risiko Bawaan
Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan
transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak
terdapat pengendalian yang terkait. Risiko salah saji demikian adalah
lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu
dibandingkan dengan yang lain. Sebagai contoh, perhitungan yang rumit
lebih mungkin disajikan salah jika dibandingkan dengan perhitungan
yang sederhana. Uang tunai lebih mudah dicuri daripada sediaan batu
bara. Akun yang terdiri dari jumlah yang berasal dari estimasi akuntansi
cenderung mengandung risiko lebih besar dibandingkan dengan akun
yang sifatnya relatif rutin dan berisi data berupa fakta. Faktor ekstern
juga mempengaruhi risiko bawaan. Sebagai contoh, perkembangan
teknologi mungkin menyebabkan produk tertentu menjadi usang,
sehingga mengakibatkan sediaan cenderung dilaporkan lebih besar. Di
samping itu, terhadap faktor-faktor tersebut yang khusus menyangkut
saldo akun atau golongan transaksi tertentu, faktor-faktor yang
berhubungan dengan beberapa atau seluruh saldo akun atau golongan
transaksi mungkin mempengaruhi risiko bawaan yang berhubungan
dengan saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Faktor yang terakhir
ini mencakup, misalnya kekurangan modal kerja untuk melanjutkan
usaha atau penurunan aktivitas industri yang ditandai oleh banyaknya
kegagalan usaha.
2. Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material
yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi
secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. Risiko ini
merupakan fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalian intern
untuk mencapai tujuan entitas yang relevan dengan penyusunan laporan
keuangan entitas. Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena

7
keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern.
3. Risiko Deteksi
Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak dapat
mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko
deteksi merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan penerapannya
oleh auditor. Risiko ini timbul sebagian karena ketidakpastian yang ada
pada waktu auditor tidak memeriksa 100% saldo akun atau golongan
transaksi, dan sebagian lagi karena ketidakpastian lain yang ada,
walaupun saldo akun atau golongan transaksi tersebut diperiksa 100%.
Ketidakpastian lain semacam itu timbul karena auditor mungkin memilih
suatu prosedur audit yang tidak sesuai, menerapkan secara keliru
prosedur yang semestinya, atau menafsirkan secara keliru hasil audit.
Ketidakpastian lain ini dapat dikurangi sampai pada tingkat yang dapat
diabaikan melalui perencanaan dan supervisi memadai dan pelaksanaan
praktik audit yang sesuai dengan standar pengendalian mutu.
4. Hubungan Antar Risiko
Risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko
deteksi. Kedua risiko yang disebut terdahulu ada, terlepas dari dilakukan
atau tidaknya adit atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi
berhubungan dengan prosedur audit dan dapat diubah oleh keputusan
auditor itu sendiri. Risiko deteksi mempunyai hubungan yang terbalik
dengan risiko bawaan dan risiko pengendalian. Semakin kecil risiko
bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini oleh auditor, semakin
besar risiko deteksi yang dapat diterima. Sebaliknya, semakin besar
adanya risiko bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini auditor,
semakin kecil tingkat risiko deteksi yang dapat diterima. Komponen
risiko audit ini dapat ditentukan secara kuantitatif, seperti dalam bentuk
persentase atau secara nonkuantitatif yang berkisar, misalnya, dari
minimum sampai dengan maksimum.
Pada saat auditor menetapkan risiko bawaan untuk suatu asersi

8
yang berkaitan dengan saldo akun atau golongan transaksi, ia
mengevaluasi berbagai faktor yang memerlukan pertimbangan
profesional. Dalam melakukan hal tersebut, auditor tidak hanya
mempertimbangkan faktor yang secara khusus berhubungan dengan
saldo akun atau golongan transaksi tersebut, tetapi juga faktor-faktor lain
yang terdapat dalam laporan keuangan secara keseluruhan, yang dapat
mempengaruhi risiko bawaan yang berhubungan dengan saldo akun atau
golongan transaksi itu. Apabila auditor berkesimpulan bahwa usaha yang
dibutuhkan untuk mengevaluasi risiko bawaan suatu asersi akan
melebihi pengurangan potensial dalam luasnya prosedur audit sebagai
akibat pengandalan terhadap hasil penetapan tersebut, auditor harus
menetapkan risiko bawaan pada tingkat yang maksimum pada saat
merancang prosedur audit.
Auditor juga menggunakan pertimbangan profesional dalam
menetapkan risiko pengendalian untuk suatu asersi yang berhubungan
dengan suatu saldo akun atau golongan transaksi. Penetapan risiko
pengendalian didasarkan atas cukup atau tidaknya bukti audit yang
mendukung efektivitas pengendalian dalam mencegah dan mendeteksi
salah saji asersi dalam laporan keuangan. Apabila auditor yakin bahwa
pengendalian intern tidak ada kaitannya dengan asersi tersebut atau tidak
efektif, atau jika ia yakin bahwa evaluasi terhadap efektivitas
pengendalian intern tidak efisien, ia akan menentukan risiko
pengendalian untuk asersi tersebut pada tingkat yang maksimum.
Auditor dapat melakukan penetapan risiko bawaan dan risiko
pengendalian secara terpisah atau secara gabungan. Apabila auditor
menganggap risiko bawaan dan risiko pengendalian, baik secara terpisah
maupun secara gabungan, adalah kurang dari maksimum, ia harus
mempunyai dasar yang cukup. Dasar ini dapat diperoleh, misalnya
melalui kuesioner, checklist, instruksi, atau alat serupa yang berlaku
umum lainnya. Khusus mengenai risiko pengendalian, auditor harus

9
memahami pengendalian intern dan melaksanakan pengujian
pengendalian yang sesuai. Namun, diperlukan pertimbangan profesional
untuk menafsirkan, menerapkan, atau memperluas alat serupa yang
berlaku umum tersebut agar sesuai dengan keadaan.
Risiko deteksi yang dapat diterima oleh auditor dalam
merancang prosedur audit tergantung pada tingkat yang diinginkan
untuk membatasi risiko audit suatu saldo akun atau golongan transaksi
dan tergantung atas penetapan auditor terhadap risiko bawaan dan risiko
pengendalian. Apabila penetapan auditor terhadap risiko bawaan dan
risiko pengendalian menurun, risiko deteksi yang dapat diterimanya akan
meningkat. Namun, auditor tidak boleh sepenuhnya mengandalkan
risiko bawaan dan risiko pengendalian, dengan tidak melakukan
pengujian substantif terhadap saldo akun atau golongan transaksi, yang
didalamnya mungkin terkandung salah saji yang mungkin material jika
digabungkan dengan salah saji yang ada pada saldo akun atau golongan
transaksi yang lain.

2.3 Sumber Daya Manusia


Penetapan strategi audit secara keseluruhan perlu dilakukan. Hal ini
dikarenakan, melalui strategi audit secara keseluruhan dapat membantu
auditor dalam menentukan:
1. Sumber daya yang dialokasikan untuk area audit tertentu, seperti
penggunaan anggota tim dengan pengalaman yang tepat untuk area
berisiko tinggi.
2. Jumlah anggota sumber daya yang dialokasikan untuk area audit
tertentu, seperti menentukan jumlah anggota tim yang ditugasi untuk
mengamati perhitungan fisik persediaan yang sifatnya material.
3. Kapan sumber daya tersebut dialokasikan.
4. Bagaimana sumber daya tersebut dikelola, diarahkan dan disupervisi,
seperti kapan akan dimulai dan diakhiri sebuah rapat tim.

10
Berikut adalah penetapan strategi audit secara keseluruhan yang
harus dilakukan oleh auditor ketika akan melakukan audit, antara lain:
1. Mengidentifikasi karateristik perikatan yang mendefinisikan ruang
lingkupnya. Contohnya adalah mengidentifikasi kerangka pelaporan
keuangan yang menjadi dasar penyusunan informasi atas laporan
keuangan yang diaudit; mengidentifikasi cakupan audit yang diharapkan,
termasuk jumlah dan lokasi komponen yang dicakup; dan sifat segmen
bisnis yang diaudit.
2. Memastikan tujuan pelaporan perikatan untuk merencanakan waktu
audit dan sifat komunikasi yang disyaratkan. Contohnya adalah
memastikan jadwal pelaporan entitas, seperti pelaporan interim dan
pelaporan final; dan melakukan pembahasan dengan manajemen tentang
komunikasi yang diharapkan atas status pekerjaan audit selama perikatan
berlangsung.
3. Mempertimbangkan faktor-faktor yang menurut pertimbangan
profesional auditor signifikan dalam mengarahkan usaha tim perikatan.
Contohnya adalah penentuan tingkat materialitas; dan cara auditor
menekankan kepada anggota tim perikatan tentang kebutuhan untuk
selalu memiliki sikap kritis dalam berpikir serta menggunakan skeptisme
profesional dalam mengumpulkan dan mengevaluasi bukti audit.
4. Memastikan sifat, saat, dan luas sumber daya yang diperlukan untuk
melaksanakan perikatan. Contohnya adalah penanggaran perikatan,
termasuk pertimbangan yang tepat atas lamanya waktu yang dibutuhkan
untuk area yang mengandung risiko kesalahan penyajian material yang
lebih tinggi.

2.4 Penggunaan Spesialis Dalam Proses Audit


Dalam mempertimbangkan perikatan audit dari calon klien, auditor
kemungkinan akan menghadapi masalah yang mungkin memerlukan
pekerjaan spesialis:

11
1. Penilaian (misal: karya seni, obat-obatan khusus, dan restricted
securities).
2. Penentuan karakteristik fisik yang berhubungan dengan kuantitas yang
tersedia/kondisi (misal: cadangan mineral/tumpukan bahan baku yang
ada di gudang).
3. Penentuan nilai yang diperoleh dengan menggunakan teknik/metode
khusus (misal: beberapa perhitungan aktuarial).
4. Penafsiran persyaratan teknis, peraturan/persetujuan (misal: pengaruh
potensial suatu kontrak/dokumen hukum lainnya, atau hak atas properti).
Jika menurut pertimbangan auditor, ia akan menjumpai situasi yang
memerlukan pengetahuan khusus, ia perlu melakukan konsultasi dengan
spesialis. Contoh: ahli geologi, penasihat hukum, penilai(appraiser), dan
aktuaris. Auditor dapat menghadapi dua kemungkinan keadaan berikut:
1. Spesialis ditunjuk oleh klien/badan berwenang dan auditor
menggunakan hasil pekerjaan spesialis tersebut sebagai salah satu dasar
untuk menilai kewajaran asersi yang dicantumkan oleh klien dalam
laporan keuangan auditan.
2. Spesialis dipilih oleh auditor untuk menilai asersi tertentu yang
dinyatakan oleh klien dalam laporan keuangan auditan.
Dalam keadaan kedua, auditor harus memperoleh keyakinan
mengenai persyaratan profesional dan reputasi spesialis melalui pengajuan
pertanyaan/prosedur lain. Auditor harus mempertimbangkan hal-hal berikut
ini:
1. Sertifikat profesional, lisensi, atau pengakuan kompetensi dari spesialis
dalam bidangnya.
2. Reputasi dan kedudukan spesialis dimata para rekan sejawat dan pihak
lain yang mengenal kemampuan atau kinerjanya.
3. Hubungan, jika ada, antara spesialis dengan klien.
Umumnya, auditor harus mengusahakan untuk memperoleh spesialis
yang independen dari klien. Pekerjaan spesialis yang tidak berkaitan dengan

12
klien biasanya akan memberikan tingkat keyakinan lebih tinggi bagi auditor
mengenai keandalan hasil kerja spesialis, karena objektivitas spesialis
menjadi tinggi.
Diantara auditor, klien, dan spesialis harus memiliki kesamaan
pengertian mengenai sifat pekerjaan yang harus dilakukan oleh spesialis.
Sebaiknya pengertian tersebut didokumentasikan dan harus meliputi hal-hal
berikut:
1. Tujuan dan lingkup pekerjaan spesialis.
2. Pernyataan spesialis berkenaan dengan hubungannya, jika ada, dengan
klien.
3. Metode atau asumsi yang digunakan.
4. Perbandingan antara metode atau asumsi yang harus digunakan sekarang
dengan yang digunakan tahun lalu.
5. Pemahaman spesialis mengenai penggunaan temuan spesialis oleh
auditor sebagai pendukung dalam hubungannya dengan penyajian
laporan keuangan.
6. Bentuk dan isi laporan spesialis yang akan memungkinkan auditor
melakukan evaluasi.

2.5 Surat Perikatan Audit


Surat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang
berfungsi untuk mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor
atas penunjukan oleh klien, tujuan dan lingkup audit, lingkup tanggung
jawab yang dipikul oleh auditor bagi kliennya, kesepakatan tentang
pembuatan laporan keuangan auditan, serta bentuk laporan keuangan yang
akan diterbitkan oleh auditor. Baik auditor maupun klien berkepentingan
terhadap pendokumentasian surat perikatan audit, sehingga dapat dicegah
terjadinya kesalahpahaman yang mungkin timbul antara auditor dengan
kliennya. Secara singkat, surat perikatan ini berfungsi menunjukkan adanya
pemahaman yang sama antara auditor dan klien.

13
Hal-hal yang harus diperhatikan auditor sebelum menerima suatu
perikatan audit agar tidak timbul kesalahan interpretasi akan pekerjaan audit
baik dari pihak auditor, klien maupun pihak lain yang berkepentingan, maka
auditor perlu memperhatikan beberapa hal penting seperti yang diatur dalam
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) SA Seksi 310 (PSA No. 05).
Dalam paragraf 05 diatur bahwa auditor harus membangun pemahaman
dengan klien tentang jasa yang akan dilaksanakan untuk setiap perikatan.
Pemahaman tersebut mengurangi risiko terjadinya salah interpretasi
kebutuhan atau harapan pihak lain, baik di pihak auditor maupun klien.
Adapun pemahaman yang harus dibangun auditor harus mencakup
tujuan perikatan, tanggung jawab manajemen, tanggung jawab auditor dan
batasan perikatan. Auditor harus mendokumentasikan pemahaman tersebut
dalam kertas kerjanya, lebih baik dalam bentuk komunikasi tertulis dengan
klien. Jika auditor yakin bahwa pemahaman dengan klien belum terbentuk,
ia harus menolak untuk menerima atau menolak untuk melaksanakan
perikatan.
1. Mengatur mengenai hal-hal yang secara umum harus tercakup dalam
proses pemahaman dengan klien tentang audit atas laporan keuangan:
Tujuan audit adalah untuk menyatakan suatu pendapat atas laporan
keuangan.
2. Manajemen bertanggung jawab untuk membangun dan mempertahankan
pengendalian intern yang efektif terhadap pelaporan keuangan.
3. Manajemen bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan menjamin
bahwa entitas mematuhi peraturan perundangan yang berlaku terhadap
aktivitasnya.
4. Manajemen bertanggung jawab untuk membuat semua catatan keuangan
dan informasi yang berkaitan tersedia bagi auditor.
5. Pada akhir perikatan, manajemen akan menyediakan suatu surat bagi
auditor (surat representasi kien) yang menegaskan representasi tertentu
yang dibuat selama audit berlangsung.

14
6. Auditor bertanggung jawab untuk melaksanakan audit berdasarkan
standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
7. Suatu audit mencakup pemahaman atas pengendalian intern yang cukup
untuk merencanakan audit dan untuk menentukan sifat, saat, dan luasnya
prosedur audit yang harus dilaksanakan.
Dalam praktik, hal-hal tersebut biasanya tercakup dalam surat
perikatan yang diberikan oleh auditor kepada klien. Selain hal-hal tersebut
diatas, pemahaman pekerjaan audit dengan klien juga mencakup hal-hal lain
seperti berikut ini:
1. Pengaturan mengenai pelaksanaan perikatan (contohnya waktu, bantuan
klien berkaitan dengan pembuatan jadwal pelaksanaan pekerjaan audit,
dan penyediaan dokumen).
2. Pengaturan tentang keikutsertaan spesialis atau auditor intern, jika
diperlukan.
3. Pengaturan tentang keikutsertaan auditor pendahulu.
4. Pengaturan tentang fee dan penagihan.
5. Adanya pembatasan atau pengaturan lain tentang kewajiban auditor atau
klien, seperti ganti rugi kepada auditor untuk kewajiban yang timbul dari
representasi salah yang dilakukan dengan sepengetahuan manajemen
kepada auditor.
6. Kondisi yang memungkinkan pihak lain diperbolehkan untuk melakukan
akses ke kertas kerja auditor.
7. Jasa tambahan yang disediakan oleh auditor berkaitan dengan
pemenuhan persyaratan badan pengatur.
8. Pengaturan tentang jasa lain yang harus disediakan oleh auditor dalam
hubungannya dengan perikatan.
Bentuk dan isi surat perikatan audit dapat bervariasi di antara klien,
namun surat tersebut umumnya berisi:
1. Tujuan audit atas laporan keuangan.
2. Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan.

15
3. Lingkup audit, termasuk penyebutan undang-undang, peraturan,
pernyataan dari badan profesional yang harus dianut oleh auditor.
4. Bentuk laporan atau bentuk komunikasi lain yang akan digunakan oleh
auditor untuk menyampaikan hasil perikatan.
5. Fakta bahwa karena sifat pengujian dan keterbatasan bawaan lain suatu
audit, dan dengan keterbatasan bawaan pengendalian internal, terdapat
risiko yang tidak dapat dihindari tentang kemungkinan beberapa salah
saji material tidak dapat terdeteksi.
6. Akses yang tidak dibatasi terhadap catatan, dokumentasi, dan informasi
lain apa pun yang diminta oleh auditor dalam hubungannya dengan
audit.
7. Pembatasan atas tanggung jawab auditor.
8. Komunikasi melalui e-mail.

2.6 Pengelolaan Perikatan


Auditor tidak boleh menyepakati perubahan dalam ketentuan
perikatan audit jika tidakada alasan yang memadai untuk melakukan
perubahan tersebut. Jika sebelum penyelesaian perikatan audit, maka auditor
diminta untuk mengubah perikatan audit tersebut ke perikatan yang
menyebabkan auditor memperoleh tingkat asurans yang lebih rendah,
auditor harusmempertimbangkan apakah terdapat dasar yang wajar untuk
melakukan perubahan tersebut. Jika ketentuan perikatan audit diubah,
auditor dan manajemen harus sepakat atas ketentuan baru tersebut dan
menuangkannya dalam suatu surat perikatan baru atau bentun
perjanjiantertulis lainnya yang tepat. Kemudian, jika auditor tidak dapat
menyepakati perubahan dalam ketentuan perikatan audit dan manajemen
tidak mengiinkan auditor untuk meneruskan perikatan audit semula, maka
auditor harus:
1. Menarik diri dari perikatan audit (jika dimungkinkan) sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan

16
2. Menentukan apakah ada kewajiban, baik secara kontrak maupun dalam
bentuk lainnya, untuk melaporkan kondisi tersebut kepada pihak lain,
seperti pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola entias, pemilik,
atau badan pengatur.
Standar pelaporan keuangan yang ditetapkan oleh suatu organisasi
penyusun standar yang berwenang atau diakui diberi ketentuan tambahan
oleh peraturan perundang-undangan. Auditor harus mempertimbangkan
apakah ada benturan antara standar pelaporan keuangan dan ketentuan
tambahan tersebut. Jika terjadi benturan, auditor harus membahas dengan
manajemen sifat ketentuan tambahan tersebut dan harus menyepakati
apakah ketentuan tambahan tersebut dapat dipenuhi dengan menambahkan
pengungkapan dalam laporan keuangan, dan deskripsi kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku dalam laporan keuangan dapat diubah sesuai dengan
ketentuan tambahan tersebut.

2.7 Pengendalian Mutu


Sistem pengendalian mutu merupakan suatu konsep yang
mensyaratkan bahwa suatu KAP diharuskan untuk mentaati peraturan dan
standar yang berlaku serta harus menggunakan kemahiran profesinya
secara sungguh-sungguh dalam memberikan jasanya sehingga KAP
tersebut dapat memenuhi tanggung jawab profesinya.
Konsep pengendalian mutu bagi suatu kantor akuntan dapat
dijelaskan seperti berikut: “Quality Control is the procedures used by CPA
firm that help it meet those standars consistenly on every engagemen.”
Oleh karena itu Quality Control memiliki tujuan yaitu mengendalikan,
menseleksi, menilai kualitas terhadap produk (barang/jasa) yang tidak
sesuai dengan standar mutu yang diinginkan secara terus menerus, sehingga
perusahaan tidak mengalami kerugian dan konsumen merasa puas.
Total Quality Control adalah berbagai kegiatan di dalam
penyelidikan dan pengembangan, produksi, penjualan, dan pelayanan purna

17
jual dengan cara rasional untuk mencapai kepuasan tingkat yang paling
ekonomis. Pengendalian kualitas adalah tehnik-tehnik pemakaian dan
kegiatan-kegiatan untuk mencapai, memperpanjang dan memperbaiki mutu
produk ataupun pelayanan.
KAP wajib mempertimbangkan setiap unsur pengendalian mutu
yang akan dibahas, sejauh mana akan diterapkan dalam pratiknya, dalam
menentukan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu lainnya. Unsur-
unsur pengendalian mutu berhubungan satu samalain, oleh karena itu,
praktik pemekerjaan KAP memengaruhi kebijakan pelatihannya dan praktik-
praktik lainnya. Untuk memenuhi ketentuan yang dimaksud, KAP wajib
membuat kebijakan dan Prosedur pengendalian Mutu mengenai:
1. Independensi yaitu meyakinkan semua personel pada setiap tingkat
organisasi harus mempertahankan independensi.
2. Penugasan Personel yaitu meyakinkan bahwa perikatan akan
dilaksanakan oleh staf profesional yang memiliki tingkat pelatihan dan
keahlian teknis untuk perikatan dimaksud.
3. Konsultasi yaitu meyakinkan bahwa personel akan memperoleh
informasi memadai sesuai yang dibutuhkan dari orang yang memiliki
tingkat pengetahuan, kompetensi, pertimbangan dan wewenang
memadai.
4. Supervisi yaitu meyakinkan bahwa pelaksanaan perikatan memenuhi
standar mutu yang ditetapkan oleh KAP.
5. Pemekerjaan yaitu meyakinkan bahwa semua orang yang dipekerjakan
memiliki karakteristik semestinya, sehingga memungkinkan mereka
melakukan penugasan secara kompeten.
6. Pengembangan profesional yaitu meyakinkan bahwa setiap personel
memiliki pengetahuan memadai sehingga memungkinkan mereka
memenuhi tanggung jawabnya. Pendidikan profesional berkelanjutan
dan pelatihan merupakan wahana bagi KAP untuk memberikan
pengetahuan memadai bagi personelnya untuk memenuhi tanggung

18
jawab mereka dan untuk kemajuan karier mereka di KAP.
7. Promosi yaitu meyakinkan bahwa semua personel yang terseleksi untuk
promosi memiliki kualifikasi seperti yang disyaratkan untuk tingkat
tanggung jawab yang lebih tinggi.
8. Penerimaan Dan Keberlanjutan Klien yaitu menentukan apakah
perikatan dari klien akan diterima atau dilanjutkan untuk
meminimumkan kemungkinan terjadinya hubungan dengan klien yang
manajemennya tidak memiliki integritas berdasarkan pada prinsip
pertimbangan kehati-hatian.
9. Inspeksi yaitu meyakinkan bahwa prosedur yang berhubungan dengan
unsur-unsur lain pengendalian mutu telah diterapkan dengan efektif.
Setiap unsur-unsur dalam pengendalian mutu memiliki kebijakan
dan prosedur yang harus diterapkan oleh KAP. Secara umum, kebijakan dan
prosedur tersebut dalam SPM dapat dijelaskan dalam table berikut ini:
Unsur Ikhtisar Pernyataan Contoh Prosedur
Tanggung jawab Perusahaan harus Program pelatihan
kepemimpinan atas mutu. mempromosikan budaya perusahaan menekankan
internal dan harus pentingnya kerja
menetapkan kebijakan berkualitas.
serta prosedur yang
mendukung budaya
tersebut.
Ketentuan etika profesi Seluruh personel yang Setahun sekali setiap
yang berlaku. bertugas harus partner dan pegawai harus
mempertahankan menjawab kuesioner
independensi, integritas independensi.
dan objektivitasnya.
Penerimaan dan Kebijakan dan prosedur Sebuah formulir penilaian
keberlanjutan hubungan harus ditetapkan untuk klien harus disiapkan
dengan klien. memutuskan apakah akan untuk setiap klien baru
menerima atau sebelum penerimaan.
melanjutkan hubungan
dengan klien.
SDM. Kebijakan dan prosedur Setiap profesional harus
harus ditetapkan untuk dievaluasi atas setiap
memberi KAP kepastian penugasan dengan
yang wajar bahwa semua memakai laporan penilaian

19
Unsur Ikhtisar Pernyataan Contoh Prosedur
personel baru memiliki penugasan individu dari
kompetensi, pekerjaan KAP yang bersangkutan.
diserahkan kepada
personel yang kompeten,
pendidikan dan
pengembangan profesi
bagi semua personel,
promosi berdasarkan
kualifikasi dan kinerja.
Pelaksanaan perikatan. Kebijakan dan prosedur Direktur akuntansi dan
harus memastikan bahwa auditing KAP siap
pekerjaan yang memberikan konsultasi
dilaksanakan oleh serta harus menyetujui
personel penugasan semua penugasan sebelum
memenuhi standar profesi penugasan itu diakhiri
yang berlaku, persyaratan
peraturan, dan standar
mutu KAP itu sendiri
Pemantauan. Harus ada kebijakan dan Partner bagian
prosedur untuk pengendalian mutu harus
memastikan bahwa unsur menguji prosedur
pengendalian mutu pengendalian mutu
lainnya diterapkan secara setidaknya setahun sekali
efektif. untuk memastikan
kepatuhan KAP.

2.8 Perlunya Pengendalian Mutu


Keberadaan Sistem Pengendalian Mutu mutlak dibutuhkan bagi
Kantor Akuntan Publik dalam upaya menjaga sekaligus mengendalikan
kualitas audit. Standar Pengendalian Mutu memberikan panduan bagi kantor
akuntan publik di dalam melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang
dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi berbagai standar sebagaimana
Standar Profesional Akuntan Publik yang diterbitkan oleh Institut Akuntan
Publik Indonesia. Quality control atau Sistem Pengendalian Mutu
merupakan suatu proses yang dilakukan untuk memastikan bahwa suatu
output dapat memenuhi tujuan dan spesifikasi yang telah ditetapkan
sebelumnya yang diwujudkan dengan mengunakan pedoman atau standar

20
yang telah ditetapkan.
Kasus pelanggaran Standar Profesional Akuntan Publik kembali
muncul. Kementerian Keuangan memaparkan tiga kelalaian Akuntan Publik
(AP) dalam mengaudit laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero)
Tbk tahun 2018. Hal itu akhirnya berujung sanksi dari Pusat Pembinaan
Profesi Keuangan (PPPK). Adapun, laporan keuangan tersebut diaudit oleh
AP Kasner Sirumapea dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanubrata,
Sutanto, Fahmi, Bambang, dan Rekan. Sebelumnya, laporan keuangan
Garuda Indonesia menuai polemik. Hal itu dipicu oleh penolakan dua
komisaris Garuda Indonesia, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria untuk
mendatangani persetujuan atas hasil laporan keuangan 2018. Keduanya
memiliki perbedaan pendapat terkait pencatatan transaksi dengan Mahata
senilai US$239,94 juta pada pos pendapatan. Pasalnya, belum ada
pembayaran yang masuk dari Mahata hingga akhir 2018. Sekretaris Jenderal
Kemenkeu Hadiyanto merinci ketiga kelalaian yang dilakukan. Pertama, AP
bersangkutan belum secara tepat menilai substansi transaksi untuk kegiatan
perlakuan akuntansi pengakuan pendapatan piutang dan pendapatan lain-
lain. Sebab, AP ini sudah mengakui pendapatan piutang meski secara
nominal belum diterima oleh perusahaan. Sehingga, AP ini terbukti
melanggar Standar Audit SA 315. Kedua, akuntan publik belum sepenuhnya
mendapatkan bukti audit yang cukup untuk menilai perlakuan akuntansi
sesuai dengan substansi perjanjian transaksi tersebut. Ini disebutnya
melanggar SA 500. Ketiga, AP juga tidak bisa mempertimbangkan fakta-
fakta setelah tanggal laporan keuangan sebagai dasar perlakuan akuntansi, di
mana hal ini melanggar SA 560. Tak hanya itu, Kantor Akuntan Publik
(KAP) tempat Kasner bernaung pun diminta untuk mengendalikan standar
pengendalian mutu KAP. Sebelumnya, Kemenkeu menjatuhkan dua sanksi
kepada Akuntan Publik (AP) Kasner Sirumapea dan Kantor Akuntan Publik
(KAP) Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan terkait dengan
polemik laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk tahun

21
buku 2018. Tidak hanya itu, KAP yang mengaudit laporan keuangan Garuda
Indonesia juga dikenakan peringatan tertulis disertai kewajiban untuk
melakukan perbaikan terhadap Sistem Pengendalian Mutu KAP dan
dilakukan reviu oleh BDO International Limited kepada KAP Tanubrata,
Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan.
Oleh karena itu, upaya yang dilakukan untuk peningkatan kualitas
jasa audit/profesionalnya adalah dengan menerapkan Sistem Pengendalian
Mutu KAP. Hal ini menyatakan bahwa setiap KAP wajib menerapkan
Sistem Pengedalian Mutu yang menjelaskan unsur-unsur pengendalian mutu
serta hal-hal yang terkait dengan implementasi secara efektif pada sistem
tersebut. Standar Pengendalian Mutu berisi panduan bagi Kantor Akuntan
Publik dalam melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan oleh
kantornya. Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik, mencakup
kebijakan dan prosedur pengendalian mutu, penerapan tanggung jawab,
komunikasi dan pemantauan.

2.9 Kepemimpinan
Berdasarkan SPM No. 1 Tahun 2013 dalam unsur tanggung jawab
kepemimpinan KAP atas mutu, KAP harus menetapkan kebijakan dan
prosedur yang dirancang untuk mendukung budaya internal. Kebijakan
dan prosedur tersebut mengharuskan pimpinan KAP sebagai pihak yang
bertanggung jawab atas mutu KAP secara keseluruhan. Selain itu, setiap
KAP juga harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang mengharuskan
pihak yang menerima tanggung jawab operasional atas sistem
pengendalian mutu dari pimpinan KAP memiliki pengalaman, kemampuan
yang cukup dan tepat, serta wewenang yang diperlukan untuk
melaksanakan tanggung jawab tersebut.
KAP yang menetapkan kebijakan dan prosedur “tone at the top”
yaitu perilaku dan penyampaian pesan oleh rekan kepada staf dimana
setiap rekan mengambil keputusan atas semua hal penting yang terkait

22
dengan KAP dan praktik profesionalnya. Kebijakan ini bertujuan untuk
mewujudkan tanggung jawab KAP dalam mengembangkan budaya
internal yang berfokus pada kendali mutu. Kebijakan tersebut mewajibkan
rekan untuk memberikan dukungan yang kuat terhadap pekerjaan dan
budaya pengendalian mutu yang berkualitas.
Rekan bertanggung jawab untuk memimpin dan mengembangkan
budaya pengendalian mutu dalam KAP, menyediakan dan memelihara
pedoman pengendalian mutu KAP, semua piranti praktis lainnya yang
diperlukan, serta pedoman yang diperlukan untuk mendukung mutu
perikatan. Komitmen rekan terhadap tujuan ini merupakan suatu keharusan
agar berhasil mengembangkan dan memelihara pengendalian mutu. Rekan
juga bertanggung jawab untuk menetapkan struktur pengoperasian dan
pelaporan KAP.
Secara tahunan atau basis waktu yang lainnya, rekan dapat
menunjuk di antara mereka atau staf lainnya yang memenuhi persyaratan
sebagai pihak yang bertanggung jawab atas unsur- unsur sistem
pengendalian mutu. Pihak yang melaksanakan tanggung jawab dan tugas
yang khusus tersebut wajib merupakan pihak yang paling memenuhi
persyaratan dan memiliki pengalaman dalam pemenuhan kewajiban
profesional dan regulasi. Rekan yang akan mendelegasikan wewenangnya
dipersyaratkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Pertimbangan komersial KAP tidak boleh mengorbankan mutu.
2. Evaluasi kinerja, kompensasi, dan promosi menunjukkan keutamaan
mutu.
3. Sumber daya yang memadai dialokasikan untuk mengembangkan,
mendokumentasikan, dan mendukung kebijakan dan prosedur
pengendalian mutu.

23
BAB III
KESIMPULAN

Perikatan adalah kesepakatan dua pihak untuk mengadakan suatu


ikatan perjanjian. Dalam perikatan audit, klien yang memerlukan jasa
auditing mengadakan suatu ikatan perjanjian dengan auditor. Dalam ikatan
perjanjian tersebut, klien menyerahkan pekerjaan audit atas laporan
keuangan kepada auditor dan auditor sanggup untuk melaksanakan
pekerjaan audit tersebut berdasarkan kompetensi profesionalnya.
Tujuan utama dari audit laporan keuangan adalah untuk memberikan
suatu pendapat atas laporan keuangan manajemen. Jadi, penting bagi auditor
untuk menerima suatu perikatan audit hanya apabila terdapat keyakinan
yang memadai bahwa manajemen klien dapat di percaya. Bila manajemen
kurang memiliki integritas, terdapat kemungkinan kekeliruan (error) yang
material dan ketidakberesan (irregularities) akan terjadi dalam laporan
keuangan yang di buat. Sehingga, keberhasilan penyelesaian perikatan audit
sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan audit yang dibuat oleh auditor.
Surat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang
berfungsi untuk mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor
atas penunjukan oleh klien, tujuan dan lingkup audit, lingkup tanggung
jawab yang dipikul oleh auditor bagi kliennya, kesepakatan tentang

24
reproduksi laporan keuangan auditan, serta bentuk laporan yang akan
diterbitkan oleh auditor.

DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A., Rondal J. Elder, dan Mark S.Beasley. 2014. Auditing and
Assurance Services An Integrated Approach. Fifteenth Edition.
Pearson. Kendallville. Terjemahan Herman Wibowo. 2015. Auditing
dan Jasa Assurance Pendekatan Terintegrasi Jilid 1. Edisi ke-15.
Jakarta: Erlangga.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2017). Standar Audit (SA). Jakarta: Ikatan
Akuntan Indonesia.
Institut Akuntan Publik Indonesia. (2013), Standar Pengendalian Mutu
(SPM) No. 1. Jakarta: Institut Akuntan Publik Indonesia.
International Standard On Auditing. (2018), International Auditing and
Ansurance Standards Board (IAASB), International Federation Of
Accountants.
Mulyadi. (2002). Auditing. Jakarta: Salemba Empat.

25

Anda mungkin juga menyukai