Anda di halaman 1dari 2

Nama : Ni’matur rohmah

Nim : 1711B0052

A. Latar belakang
Gizi untuk bayi yang paling sempurna dan paling murah bagi bayi adalah Air
Susu Ibu (ASI). Manfaat ASI saat ini sudah tidak dapat diragukan lagi dan pemerintah
juga telah menggalakkan pemberian ASI secara eksklusif.(2) Pada kenyataannya, kaum
ibu khususnya di kota-kota besar, dewasa ini cenderung memilih memberikan susu
formula baik sebagai pengganti ataupun pendamping ASI dalam memenuhi kebutuhan
gizi bagi bayi mereka.(Isnaini, 2015)
Menurut Kemenkes RI (2014), secara nasional cakupan pemberian ASI ekslusif
pada bayi 0-6 bulan berfluaktif dan belum mencapai target nasional 80%, yaitu tahun
2012 sebesar 46,2%, tahun 2013 sebesar 54,3% dan tahun 2014 sebesar 52,3%. Jenis
makanan prelakteal yang paling banyak diberikan kepada bayi baru lahir yaitu susu
formula sebesar 79,8%, madu 14,3%, dan air putih 13,2% yang meliputi susu non
formula, madu, air gula, air tajin, pisang halus, kopi, teh manis, air putih, nasi halus,
bubur halus. Makanan prelakteal ini sangat berbahaya jika diberikan terlalu dini kepada
bayi karenatidak mengandung enzim sehingga penyerapan pada makanan akan
tergantung pada enzim yang terdapat di usus bayi. Menurut Kemenkes RI (2015),
pemberian susu formula atau tambahan ASI yang terlalu dini dapat menganggu
pemberian ASI ekslusif serta meningkatkan angka kesakitan (morbiditas). (Oktova, 2017)
Membeli susu formula sering kali dianggap wajib bagi keluarga yang mempunyai
bayi baru, seperti membeli popok dan baju bayi. Saat ASI belum lancar keluar, semakin
menguatkan alasan bahwa ASI nya kurang, tanpa usaha untuk memperlancar ASI (seperti
berkonsultasi ke dokter, memijat payudara, atau memperbanyak minum susu), sebagian
ibu langsung memutuskan untuk menyambung dengan susu formula. Pikiran negative
(pesimistis) dengan jumlah ASI yang diperoleh akan menghambat otak untuk
memerintahkan produksi ASI, ditambah dengan intensitas penyusuan yang berkurang
(karena bergantian dengan botol susu formula), akan membuat ASI pun semakin sedikit
keluar. (Isnaini, 2015)
Ibu memberikan susu formula kepada bayi di usia 0-6 bulan karena ibu kurang
mendapatkan dukungan dari suami dan keluarganya. Keputusan yang diambil orang tua
bayi untuk memberikan susu formula tanpa memikirkan kesehatan bayi. Keluarga lainnya
tidak dilibatkan dalam memutuskan bayi diberikan susu formula sehingga keluarga lain
seperti nenek bayi hanya ikut-ikutan saja bayi diberikan susu formula. oleh karena itu
diharapkan agar ditingkatkannya tenaga konselor ASI agar advokasi dan promosi untuk
meningkatkan pemberian ASI Eksklusif semakin menyebarluas di masyarakat yang
dikemas dengan menarik dan masyarakat diharapkan ikut mengawasi pemasaran susu
formula di tempat-tempat yang mudah dijangkau dan bersikap tegas kepada orang tua
bayi agar terus memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan. (Nugraheni, Pangestuti and
Fitriana, 2015)
Daftar Pustaka
Isnaini, N. (2015) ‘Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian susu formula pada bayi
umur 0-6 bulan di BPS Agnes Way Kandis Bandar Lampung Tahun 2013’, Jurnal Kebidanan,
1(1), pp. 1–4.
Nugraheni, S., Pangestuti, D. and Fitriana, K. (2015) ‘Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Ibu
dalam Pemberian Susu Formula pada Bayi Usia 0-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Rowosari Kecamatan Tembalang Semarang Tahun 2014’, Jurnal Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro, 3(2), p. 18535.
Oktova, R. (2017) ‘Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Susu Formula pada
Bayi 0-6 Bulan’, Jurnal Kesehatan, 8(3), p. 315. doi: 10.26630/jk.v8i3.503.