Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

REPTILIA “SERPENTES”
(Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Zoologi Vertebrata)

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Revolson A. Mege, M.Si

Ernest H. Sakul. S.Pd, M.Si

Di Susun Oleh: Kelompok 6

Fidela Tandek (18 507 014)

Villa Mokodongan (18507003)

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan tuntunan-Nya kami

kelompok 6 dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Zoologi Vertebrata tentang materi

Reptilia “Serpentes”. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang pengertian, morfologi,

Habitat, penutup tubuh, macam-macam serta manfaat pada ular bagi manusia.

Semoga makalah ini dapat diberguna dan bermanfaat bagi para pembaca serta

menambah wawasan pengetahuan kita. Kritik dan saran terhadap penyempurnaan makalah ini

sangat kami harapkan. Sekian dan terima kasih .

Tondano, 15 April 2020

Kelompok 6

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………………….…i

Daftar Isi…………………………………………………………………………………….….ii

BAB I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang……………………………………………………………………….1

1.2. Rumusan Masalah……………………………………………………………………2

1.3. Tujuan………………………………………………………………………………...2

BAB II Pembahasan

2.1. Karakteristik Reptilia…………………………………………………..…….….……3

2.2. Pengertian Serpentes (Ular)….………………………………………………….…….4

2.3. Morfologi Serpentes (Ular)………,,………………………………………….……….5

2.4. Habitat dan Makanan………………………………………………………………….8

2.5. Penutup Tubuh……………...…………………………………………………………11

2.6. Pergantian Kulit…………………………………………………………………….…14

2.6. Macam-Macam Ular…….…………………………………………………………….15

2.7. Manfaat Ular…………………………………………………………………………..20

BAB III Penutup

3.1. Kesimpulan……………………………………………………………………………21

3.2. Saran…………………………………………………………………………………..21

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………...22

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Vertebrata merupakan subfilum dari Chordata yang memiliki anggota yang cukup besar
dan paling dikenal. Tubuh dibagi menjadi tiga bagian yang cukup jelas: kepala, badan, dan ekor.
Kepala dengan rangka dalam, cranium, di dalamnya terdapat otak, karena mempunyai cranium.
Vertebrata terbagi menjadi enam kelas, yaitu kelas Cyclostomata, kelas Pisces, Kelas Amfibi,
kelas Reptilia, kelas Aves, dan kelas Mamalia.

Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok
hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini
yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering
atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau
sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total maupun
sebagain. Pengelupasan secara total misalnya pada anggota sub-ordo ophidia dan pengelupasan
sebagian pada anggota sub-ordo lacertilia. Sedangkan pada ordo chelonia dan crocodilia sisiknya
hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada Reptil memiliki sedikit
sekali kelenjar kulit

Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada
beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada
serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya
memiliki 5 jari atau Pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada Reptilia
mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru.

Kelas Reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya: Tuatara),


Chelonia (contohnya: Penyu, Kura-kura, dan Bulus), Squamata (Contohnya: Serpentes,
Lacertilia, dan Amphisbaena) dan Crocodilia (contohnya: Buaya, Aligator, Senyulong, dan
Caiman).

1
1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik reptilia?

2. Apa yang dimaksud dengan pengertian serpentes (ular)??

3.Bagaimana morfologi serpentes (ular)

4. Bagaimana habitat dan makanan?

5. Bagaimana bemtuk penutup tubuh ular?

6. Bagaimana proses pergantian kulit pada ular?

7. Bagaimana macam-macam ular?

8. Apa saja manfaat Ular?

1.3. Tujuan

1. Untuk mengetahui karakteristik reptilian

2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan serpents (ular)

3. Dapat mengetahui morfologi serpentes (ular)

4. Untuk mengetahui habitat dan makanan pada ular

5. Dapat mengetahui penutup tubuh pada ular

6. Untuk mengetahui proses pergantian kulit pada ular

7. Untuk mengetahui macam-macam ular

8. Untuk mengetahu apa saja manfaat ular

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Karakteristik Reptilia

Reptilia (dalam bahasa latin, reptil = melata) memiliki kulit bersisik yang terbuat
dari zat tanduk (keratin). Sisik berfungsi mencegah kekeringan. Ciri lain yang dimiliki oleh
sebagian besar reptil adalah anggota tubuh berjari lima, bernapas dengan paru-paru, jantung
beruang tiga atau empat, menggunakan energi lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya
sehingga tergolong hewan eksoterm, fertilisasi secara internal, menghasilkan telur sehingga
tergolong ovipar dengan telur amniotik bercangkang.

Reptilia merupakan kelompok vertebrata yang beradaptasi untuk hidup di darat


yang lingkungannya kering. Adanya sisik dan kulit yang menanduk mencegah hilangnya
kelembaban tubuh dan membantu hewan untuk hidup di permukaan yang kasar. Nama kelas
Reptilia menunjukkan cara berjalan (latin: retum=melata). Reptilia tersebar baik di daerah
teropis maupun daerah subtropics. Pada daerah-daerah yang mendekati kutub dan tempat-
tempat yang lebih tinggi jumlah dan jenisnya makin sedikit. Reptile menempati macam-
macam habitat. Phyton misalnya terdapat di daerah-daerah tropis, hanya terdapat di rawa-
rawa, sungai atau sepanjang pantai. Penyu terbesar teradapat dilaut dan kura-kura darat
raksasa terdapat di kepulauan. Kadal dan ular umumnya terrestrial, tetapii ada yang
menempati karang-karang atau pohon.

Secara umum reptilia memiliki karakteristik sebagai berikut :

 Tubuh ditutupi kulit kering bertanduk (tidak licin), biasanya dilengkapi sisik atau
kuku, dan kelenjar dipermuakaan hanya sedikit.
 Memiliki dua pasang anggota badan, masing-masing dengan lima jari yang pada
bagian ujungnya terdapat cakar dan dapat digunakan untuk berlari, merayap atau
memanjat. Anggota badan menyerupai dayung pada penyu, memendek pada kadal,
dan tidak ada anggota badan pada beberapa jenis kadal dan semua jenis ular.
 Kerangka terdiri dari tulang keras, tengkorak dilengkapi rongga oksipital
 Jantung terdiri dari empat ruang yang belum terpisah sempurna, dua serambi dan
vertikel yang sebagian saling terpisah, satu pasang berkas aorta, sel darah merah oval
bikonkaf dengan inti.
 Resppirasi dengan paru-paru, pada kura-kura air dilengkapi dengan respirasi kloaka.
 Terdapat 12 pasang saraf cranial.
 Suhu tubuh berubah-ubah bergantung suhu lingkungan (poikilothermis).
 Fertilisasi internal, menggunakan organ kopulasi, telurnya besar mengandung kuning
telur yang terbungkus cangkang licin atau berkulit, biasanya telur ditetaskan tetapi
pada beberapa jenis ular dan kadal embrio berkembang didalam tubuh betina.

3
Hewan Reptilia lebih maju dibanding amphibi karena memiliki diantaranya:

 Penutup tubuh yang kering dan bersisik sebagai adaptasi terhadap kehidupan di
darat.
 Anggota tubuh memungkinkan hewan untuk berlari.
 Pemisahan darah bersih dan kotor di jantung.
 Skeleton terdiri dari tulang sejati.
 Telur dilengkapi dengan membrane dan cangkang sebagai pelindung embrio
sehingga memungkinkan untuk berkembang di darat.

2.2. Pengertian Serpentes (Ular)

Ular merupakan kelompok hewan Reptil melata yang tidak mempunyai tungkai,
memiliki sisik di seluruh tubuhnya, dan memiliki tubuh yang ramping memanjang. Ular
termasuk salah satu satwa yang berperan penting dalam rangkaian alur rantai makanan.
Ular adalah kelompok reptilia tidak berkaki dan bertubuh panjang yang tersebar luas di
dunia. Secara ilmiah, semua jenis ular dikelompokkan dalam satu subordo, yaitu Serpentes
dan juga merupakan anggota dari ordo Squamata (reptilia bersisik), bersama-sama dengan
kadal. Reptilia tersebut antara lain Serpentes (Ular modern), ular prasejarah, kadal tak
berkaki dan tak bertelinga, serta kadal-ular prasejarah, serta Titanoboa termasuk di
dalamnya.

Akan tetapi, ular (Serpentes) sendiri diklasifikasikan pada cabang (klade)


Ophidia, yaitu segolongan reptilia-reptilia dengan atau tanpa kaki, bertubuh panjang, dan
memiliki fisiologis yang sangat berbeda dengan kadal. Taylor dan O’shea (2004),
menyebutkan bahwa jumlah jenis ular di seluruh dunia mencapai 2.700 jenis, 250 jenis
diantaranya terdapat di Indonesia, dan 154 jenis dari 10 famili sudah ditemukan di Pulau
Kalimantan (Stuebing dan Inger, 1999 dalam Purbatrasila 2009). Purbatrapsila (2009) lebih
lanjut menyebutkan bahwa terdapat 14 jenis ular di Taman Nasional Tanjung Puting,
Kalimantan Tengah. Wiguna et al., (2009) mendapatkan 6 jenis ular di Desa Keliling
Benteng Ilir Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar.

Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang


seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui bahwa
semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah seluruh
anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata digantikan oleh
sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata yang
lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament elastis (Zug, 1993).

Keunikan lain yang dimiliki oleh subordo ini adalah seluruh organ tubuhnya termodifikasi
memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri umumnya vestigial atau
4
mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ) dan reseptor yang disebut Organ
Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang dilengkapi dengan Thermosensor. Ada sebagian
famili yang memiliki gigi bisa yang fungsinya utamanya untuk melumpuhkan mangsa
dengan jalan mengalirkan bisa ke dalam aliran darah mangsa (Zug, 1993).

Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes, yaitu :

 Aglypha : tidak memiliki gigi bisa. Contohnya pada Famili Pythonidae, dan Boidae.
 Proteroglypha : memiliki gigi bisa yang terdapat di deretan gigi muka (bagian depan).
Contohnya pada Famili Elapidae dan Colubridae.
 Solenoglypha : memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada saat tidak
dibutuhkan. Contohnya pada Famili Viperidae.
 Ophistoglypha : memiliki gigi bisanya yang terdapat di deretan gigi belakangnya.
Contohnya pada Famili Hydrophiidae
Sedangkan untuk bisa ular, terdapat 3 jenis bisa yang digunakan untuk melumpuhkan
mangsa, perlindungan diri ataupun untuk membantu pencernaannya, yaitu :
 Haemotoxin : bisa yang menyerang sistem peredaran darah yaitu dengan cara
menyerang sel-sel darah. Contoh famili yang memiliki bisa tipe ini adalah: Colubridae
dan Viperidae.
 Cardiotoxin : masih berkaitan dengan sistem peredaran darah, bisa jenis ini menyerang
jantung dengan cara melemahkan otot-otot jantung sehingga detaknya melambat dan
akhirnya dapat berhenti. Contoh Famili yang memiliki bisa jenis ini tidak spesifik.
Dalam arti, banyak famili yang sebagian anggotanya memiliki bisa jenis ini.
 Neurotoxin : bisa yang menyerang syaraf, menjadikan syaraf mangsanya lemah
sehingga tidak dapat bergerak lagi dan dapat dimangsa dengan mudah. Famili Elapidae
dan Hydrophiidae adalah contoh fam.

2.3. Morfologi Serpentes

Ciri-ciri utama ular adalah bertubuh panjang dan tidak memiliki kaki. Akan tetapi,
ciri-ciri tersebut juga dimiliki oleh beberapa jenis kadal (misalnya kadal-pensil Burton).
Ciri-ciri selanjutnya adalah, ular tidak memiliki indera pendengaran samasekali. Akan
tetapi, ular bisa merasakan getaran melalui rahang bawahnya saat menempel di tanah atau di
permukaan. Ular tidak memiliki kelopak mata yang dapat di buka-tutup, dan matanya selalu
terbuka selama hidupnya. Walaupun begitu, mata ular dilapisi oleh sisik bening yang
melindunginya dari kotoran. Ophidia diperkirakan berevolusi dari kadal tanah atau kadal
penggali liang pada sekitar periode Jurassic akhir (sekitar 112 juta tahun yang lalu) yang
menyesuaikan diri dengan kehidupan yang panas pada waktu itu. Diperkirakan ular-ular
prasejarah kemudian berevolusi selama zaman Pleistosen hingga menjadi ular modern
seperti yang kita kenal sekarang. Namun kekerabatan antara ular modern dengan ular
prasejarah masih belum diketahui sepenuhnya karena catatan fosil yang kurang memadai

5
Ciri utama lainnya adalah, lidah ular bercabang dua dengan masing-masing
cabangnya berukuran panjang dan runcing, dan dapat dijulurkan ke luar melalui rongga di
tengah bibirnya. Dengan kata lain, ular dapat menjulurkan lidahnya dalam keadaan mulut
tertutup rapat. Ular menjulurkan lidahnya untuk mendeteksi bau di udara, sementara hidung
ular hanya digunakan untuk bernafas.

Setiap cabang lidah ular dilengkapi dengan kelenjar yang dapat menangkap
partikel bau di udara, lalu ular akan menarik lidahnya kembali ke mulut. Selanjutnya,
partikel-partikel bau yang menempel di lidahnya itu disalurkan ke sebuah organ pengenal
bau yang terletak di langit-langit rahang atasnya. Organ tersebut disebut Organ Jacobson.
Setelah diidentifikasi, organ tersebut mengirimkan informasi ke otak ular. Otak akan
memprosesnya dan menentukan hal selanjutnya yang akan dilakukan oleh ular, berdasarkan
hasil identifikasi bau tersebut, misalnya memburu sumber bau yang berupa mangsanya.

Beberapa jenis ular memiliki organ khusus untuk mengidentifikasi temperatur


lingkungannya. Alat ini disebut Termoreseptor, dan berguna bagi ular untuk mengetahui dan
melacak keberadaan hewan berdarah panas seperti burung dan mamalia. Organ ini dapat
berupa sepasang lubang yang terletak di antara mata dan lubang hidung (misalnya pada ular-
ular Crotalidae), atau berupa lapisan yang terletak di sela-sela sisik bibir atas (misalnya pada
jenis-jenis Boidae dan Pythonidae).

Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes, yaitu :

 Aglypha : tidak memiliki gigi bisa. Contohnya pada Famili Pythonidae, dan Boidae.
 Proteroglypha : memiliki gigi bisa yang terdapat di deretan gigi muka (bagian depan).
Contohnya pada Famili Elapidae dan Colubridae.
 Solenoglypha : memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada saat tidak
dibutuhkan. Contohnya pada Famili Viperidae.
 Ophistoglypha : memiliki gigi bisanya yang terdapat di deretan gigi belakangnya.
Contohnya pada Famili Hydrophiidae
Sedangkan untuk bisa ular, terdapat 3 jenis bisa yang digunakan untuk melumpuhkan
mangsa, perlindungan diri ataupun untuk membantu pencernaannya, yaitu :
 Haemotoxin : bisa yang menyerang sistem peredaran darah yaitu dengan cara
menyerang sel-sel darah. Contoh famili yang memiliki bisa tipe ini adalah: Colubridae
dan Viperidae.
 Cardiotoxin : masih berkaitan dengan sistem peredaran darah, bisa jenis ini menyerang
jantung dengan cara melemahkan otot-otot jantung sehingga detaknya melambat dan
akhirnya dapat berhenti. Contoh Famili yang memiliki bisa jenis ini tidak spesifik.
Dalam arti, banyak famili yang sebagian anggotanya memiliki bisa jenis ini.
 Neurotoxin : bisa yang menyerang syaraf, menjadikan syaraf mangsanya lemah
sehingga tidak dapat bergerak lagi dan dapat dimangsa dengan mudah. Famili Elapidae
dan Hydrophiidae adalah contoh fam.
6
Karakteristik Ular

 Organ internal ular telah menyusut, ditumpuk satu sama lain dan dirancang dengan cerdik
agar sesuai dengan tubuh mereka. Kerangka mereka terdiri dari tulang punggung yang
fleksibel dan puluhan pasang tulang rusuk. Kulit mereka ditutupi oleh sisik dan umumnya
kering saat disentuh.
 Sebagian besar ular hanya memiliki satu paru-paru. Ini sangat panjang, mencapai jauh ke
dalam tubuh ular. Ketika paru-paru penuh dengan udara, tampaknya seolah-olah ular itu
menelan ular lain. Ular tidak memiliki otot diafragma untuk mendorong paru-paru mereka.
Otot-otot tulang rusuk mereka yang membentang di dada selama setiap napas juga
mendorong tubuh ke depan ketika ular itu bergerak.
 Sisik ular tidak tumbuh sehingga kulit harus dilepaskan ketika ular semakin besar. Ular
menumpahkan kulit mereka beberapa kali dalam setahun. Sebelum ini terjadi, warna kulit
mereka kusam dan mata mereka berwarna susu. Ular sebagian buta pada keadaan ini dan
biasanya mencoba untuk tetap tersembunyi. Beberapa hari sebelum menumpahkan kulit
dimulai, warnanya kembali ke kulit dan mata. Sekresi berminyak berkumpul di bawah kulit
tua dan mengendurnya, dan kulit pecah-pecah di bibir. Ular itu menggulung kembali
kulitnya, seringkali dengan bantuan batu, dan mulai merangkak keluar, menggulungnya ke
luar seperti sarung tangan saat ia bergerak keluar. Penutup mata ditumpahkan bersama
dengan kulit.
 Kulit dari kobra, ular sanca, kadal, ular air dan ular lainnya memiliki tekstur dan pola
yang indah. Mereka digunakan untuk membuat sepatu mahal, tas, koper, ikat pinggang dan
pakaian. Warna-warna cerah yang ditemukan pada beberapa ular beracun adalah peringatan
bagi pemangsa potensial bahwa ular itu berbahaya bagi mereka. Beberapa ular tidak beracun
memiliki pola yang meniru ular beracun, yang dimaksudkan untuk menakuti para pemangsa.
 Kadang-kadang Anda mendapatkan ular berbisa biru terang karena cacat genetik.
 Beberapa ular menggali lubang. Sebagian besar dari mereka yang melakukannya —
bersama dengan makhluk tanpa kaki lainnya yang menggali lubang — biasanya
mengandalkan kepala mereka untuk menggali atau memadatkan bumi. Ular hognose timur
memiliki tonjolan di kepalanya yang membantunya mengikis tanah dan memadatkannya,
Ular pinus Louisiana melonggarkan pasir dan tanah dengan “hidung” dan “cangkul” keluar
dengan menundukkan kepalanya ke bawah.

7
2.4.    HABITAT DAN MAKANAN

Habitat Ular dapat dibagi menjadi 5, yaitu :


1.      Ular Air (Aquatik)
Ular air adalah ular yang seluruh  hidupnya (melakukan segala aktifitasnya) di
dalam air. Contoh : Ular laut (Laticauda laticauda).  Ular air yang sesungguhnya
hanyalah ular laut.

Gambar. Laticauda laticauda


2.      Ular Setengah Perairan (Semi Aquatik)
Ular ini terkadang melakukan aktifitasnya di darat dan di air.  Contohnya :
Homalopsis buccata (ular Kadut)

Gambar. Homalopsis buccata (ular Kadut)

3.      Ular Darat (Terresterial)


Ular ini hidup di darat, dan melakukan  seluruh aktifitasnya di darat. Contoh :
Ptyas mucosus (Ular bandotan macan)dan Elaphe flavolineata (Ular Kopi).

Gambar. Ptyas mucosus (Ular bandotan macan)

8
4.      Ular Pohon (Arboreal)
Ular jenis ini melakukan seluruh aktifitasnya di pohon (arboreal). Biasanya ular
pohon ekornya prehensil (dapat untuk berpegangan / bergelantungan) Contoh : Boiga
dendrophila (cincin emas) dan Dryophis prasinus (Ular pucuk).

Gambar. Boiga dendrophila (cincin emas)


5.      Ular Gurun
Ular jenis ini melakukan seluruh aktifitasnya di gurun. Ular gurun biasanya
menyembunyikan diri di bawah pasir  untuk menghindari sengatan matahari. Contoh :
Crotalus artox, ular derik, rattle.

Gambar. Crotalus artox

Ular memangsa berbagai jenis hewan lebih kecil dari tubuhnya. Ular-ular perairan
memangsa ikan, kodok, berudu, dan bahkan telur ikan. Ular pohon dan ular darat memangsa
burung, mamalia, kodok, jenis-jenis reptil yang lain, termasuk telur-telurnya. Ular-ular besar
seperti ular sanca kembang dapat memangsa kambing, kijang, rusa dan bahkan manusia.

Ular memakan mangsanya bulat-bulat; artinya, tanpa dikunyah menjadi keping-keping


yang lebih kecil. Gigi di mulut ular tidak memiliki fungsi untuk mengunyah, melainkan sekedar
untuk memegang mangsanya agar tidak mudah terlepas. Agar lancar menelan, ular biasanya
memilih menelan mangsa dengan kepalanya lebih dahulu.

Beberapa jenis ular, seperti sanca dan ular tikus, membunuh mangsa dengan cara
melilitnya hingga tak bisa bernapas. Ular-ular berbisa membunuh mangsa dengan bisanya, yang
dapat melumpuhkan sistem saraf pernapasan dan jantung (neurotoksin), atau yang dapat merusak
peredaran darah (haemotoksin), dalam beberapa menit saja. Bisa yang disuntikkan melalui

9
gigitan ular itu biasanya sekaligus mengandung enzim pencerna, yang memudahkan pencernaan
makanan itu apabila telah ditelan.

Bisa yang dimiliki ular itu disuntikkan melalui gigitan yang mengandung enzim pencerna
yang memudahkan ular mencerna makananya setelah ditelan. Enzim pencerna ini dapat
melarutkan dan menyerap segala sesuatu, kecuali rambut dan cakar. Keduanya akan dikeluarkan
bersamaan dalam bentuk kotoran.

Makanan yang masuk ke perut ular, dicerna oleh usus yang bekerja terus menerus selama
kurang lebih 48 jam atau sekitar 2 hari. Setelah makan ular biasanya menjadi tidak aktif. Akan
tetapi proses pencernaan di dalam perutnya tetap berlangsung. Pada saat mencerna makanannya,
ular juga sangat peka dengan suhu udara di sekitarnya. Suhu yang ideal saat ular mencerna
makanannya adalah 30 derajat Celcius. Sehingga apabila tidak mendapatkan suhu yang ideal,
sering kali setelah menelan mangsanya, ular memuntahkannya lagi.

Gigi ular mempunyai tipe yang berbeda-beda diantaranya yaitu:


 
 
1.   Aglypha : Tidak memiliki taring bisa.
Contoh : Ptyas korros  (Ular kayu), Python reticulatus   (Ular sanca batik). Ular ini tidak
berbisa.

Gambar. Python reticulatus   (Ular sanca batik)

2.  Ophistoglypha  : Memiliki taring bisa pendek dan terletak agak ke belakang pada rahang atas.
Contoh : Boiga dendrophila. (ular cincin emas). Ular ini berbisa menengah.

Gambar. Boiga dendrophila. (ular cincin emas)

3.      Proteroglypha  : Memiliki taring bisa panjang dan terletak di bagian depan. Contoh : Naja
naja sputatrix  (ular kobra), Ophiophagus hannah(ular king kobra) Ular ini berbisa tinggi

10
Gambar. Ophiophagus hannah(ular king kobra)

4.      Solenoglypha  : Memiliki taring bisa sangat  panjang di bagian depan dan dapat dilipat.
Contoh :  Agkistrodon rhodhostoma (Ular tanah) Ular ini berbisa tinggi.

Gambar. Agkistrodon rhodhostoma (Ular tanah)

2.5. PENUTUP TUBUH

Ular, sebagaimana reptil lainnya, memiliki sisik-sisik yang menutupi kulitnya.


Tubuh ular tertutupi seluruhnya oleh sisik-sisik, yang memiliki beraneka bentuk dan ukuran,
tersebut. Sisik-sisik itu berfungsi untuk melindungi tubuh, membantu pergerakan ular,
mempertahankan kelembaban, berguna dalam kamuflase dan mengubah penampilan, dan
untuk beberapa kasus juga membantu dalam menangkap mangsa (misalnya pada ular kadut).
Sisik ular juga berevolusi dan berubah untuk melayani fungsi-fungsi tertentu, misalnya sisik
bening serupa kaca arloji yang melindungi mata ular. Serta yang paling aneh mungkin adalah
‘kerincingan’ di ekor ular derik Amerika Utara, yang terbentuk dari sisik-sisik mati yang
tertinggal ketika ular melungsung (berganti kulit).

1. Kegunaan sisik bagi ular

Sisik-sisik ular terutama berguna manakala ular bergerak, yakni untuk


mengurangi gesekan dengan substrat atau lingkungannya. Gesekan adalah sumber utama
kehilangan energi pada pergerakan (lokomosi) ular. Sisik-sisik ventral (perut), yang
berukuran besar dan lebar, licin dan minim friksi; sementara pada beberapa jenis ular pohon,
sisik-sisik ini memiliki lekuk atau lunas di tepinya yang berguna untuk ‘memegang’ cabang
dan ranting pepohonan.

Kulit dan sisik-sisik ular membantu mempertahankan kelembaban tubuhnya. Ular


juga dapat merasai getaran baik yang berasal dari tanah maupun dari udara, dan mampu

11
membedakannya dengan menggunakan sistem resonansi internal yang rumit, yang
kemungkinan melibatkan peranan sisik di dalamnya.

Sebagian ular-ular primitif seperti boa, dan juga ular-ular bandotan, memiliki
kepala yang tertutupi oleh sisik-sisik kecil tak beraturan. Namun kebanyakan ular memiliki
sisik-sisik besar yang menutupi kepalanya, yang disebut perisai (shields). Pola dan susunan
perisai-perisai ini berbeda-beda dari spesies ke spesies, sehingga dapat dimanfaatkan untuk
mengidentifikasi jenisnya.

2. Morfologi sisik

Sisik ular merupakan modifikasi dan diferensiasi dari lapisan kulit terluar atau
epidermis. Sisik-sisik ini terbuat dari keratin, bahan yang sama yang menyusun kuku dan
rambut. Tiap sisik memiliki permukaan luar dan dalam, sisik-sisik ini saling menutupi pada
pangkalnya, seperti susunan genting. Setiap individu ular menetas dengan jumlah sisik yang
tetap; sisik-sisik ini tidak bertambah atau berkurang sejalan dengan bertambahnya umur ular.
Meski demikian, sisik-sisik ini bertambah besar ukurannya, dan kadang-kadang berubah
bentuknya, setiap kali melungsung. Sisik-sisik ini tertancap sedemikian rupa di kulit di
sekitar mulut dan sisi tubuh, memungkinkan kulit itu mengembang sehingga ular dapat
menelan mangsa yang berukuran lebih besar dari diameter tubuhnya.

Contoh modifikasi yang lain adalah sisik tansparan yang menutupi mata ular.
Sisik yang serupa kaca arloji ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai brille atau spectacle.
Sisik ini dianggap sebagai kelopak mata yang menyatu, dan turut mengelupas ketika ular
berganti kulit. Beberapa variasi bentuk sisik itu, di antaranya:

 Membulat (sikloid), seperti sisik-sisik pada tubuh ular kawat dari suku Typhlopidae.
 Panjang meruncing dengan ujung lancip, misalnya pada ular gadung (Ahaetulla prasina).
 Lebar serupa bentuk daun, misalnya pada ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).
 Sama lebar dan panjangnya, misalnya pada ular jali (Ptyas korros)
 Berlunas kuat, seperti pada ular picung (Rhabdophis subminiatus) dan kerabatnya.
 Dengan dua ujung, seperti pada beberapa spesies ular Natrix.
 Serupa duri, bersusun sejajar. Contohnya pada ular lempe (Lapemis)
 Seperti kenop yang besar dan tak saling tumpang-tindih, misalnya pada ular-lumpur
Jawa (Xenodermus javanicus)

3. Susunan sisik

Sisik-sisik pada tubuh bagian atas atau punggung dikenal sebagai sisik dorsal atau
kostal (costal). Sisik-sisik ini tersusun sebagai genting, yang disebut susunan imbrikata
(imbricate), serupa dengan susunan sisik pada tubuh kadal dan bunglon. Sisik-sisik dorsal
tersusun berderet-deret di sepanjang tubuhnya, deretan berikutnya terletak sedikit bergeser,
sehingga sisik-sisik ini dari satu deret ke deret sebelahnya- nampak lurus pada garis diagonal.
12
Kebanyakan jenis ular memiliki deretan sisik yang ganjil jumlahnya, kecuali pada beberapa
spesies semisal ular sapi (Zaocys). Sementara, pada beberapa spesies ular laut dan ular-ular
akuatik lainnya, sisik-sisik ini berbutir-butir (granular) dan deretannya tak bisa dihitung.

Deretan sisik-sisik ini bervariasi banyaknya; biasanya dihitung pada kira-kira


tengah panjang tubuh ular. Terkadang dihitung pada tiga tempat, yakni beberapa jauh setelah
leher; tengah badan; dan beberapa jauh sebelum anus. Ular Spilotes pullatus memiliki
sepuluh deret sisik dorsal pada tengah badan, ular tangkai (Calamaria spp.) memiliki 13
deret, ular sanca antara 65–75 deret, dan ular kadut sekitar 130–150 deret. Kebanyakan ular
dari suku Colubridae, yakni suku ular yang terbesar, memiliki 15, 17, atau 19 deret sisik.

4. Tatanama sisik

Aneka sisik pada kepala dan tubuh ular ditunjukkan di bawah, dengan rujukan
pada foto ular rumput Amphiesma stolata yang telah diberi kode nama sisik.

 Sisik-sisik kepala

Mengenali sisik-sisik di kepala ular paling mudah dilakukan dengan


berpatokan pada nostril, yakni lubang hidung. Untuk ular-ular bandotan (Viperidae),
hati-hati, karena lubang hidung ini dapat tertukar dengan dekik pipi penghidu bahang,
yang letaknya lebih dekat ke mata. Lubang hidung biasa terletak di ujung
moncong.Nostril atau lubang hidung ini umumnya bertepikan dua sisik yang dinamai
perisai nasal. Perisai nasal yang sebelah muka dikenal pula sebagai pranasal (atau
prenasal), sedangkan yang belakang (ke arah mata) disebut postnasal. Di atas moncong
di sebelah depan, ada sepasang sisik yang menghubungkan perisai-perisai nasal di kanan
dan kiri; sisik-sisik ini disebut perisai internasal. Sedangkan di depan sekali, di ujung
bibir di antara pranasal kanan dan kiri, terdapat sisik yang dikenal sebagai perisai rostral
(rostrum, paruh).

 Sisik-sisik di badan

Sisik-sisik yang menutupi tubuh ular sebelah atas dikenal sebagai sisik-
sisik dorsal (dorsum, punggung) atau kostal. Ini adalah deretan sisik-sisik kecil mulai
dari belakang kepala (leher dan seterusnya) hingga sebelah atas dubur. Deretan yang
paling atas (apabila dilihat dari samping tubuh) atau yang paling tengah (dari kanan-kiri
tubuh), kadang-kadang membesar dan memiliki bentuk yang berbeda dengan deretan di
kanan kirinya; sisik-sisik yang demikian dikenal sebagai perisai vertebral karena terletak
tepat di atas tulang punggung (vertebrae). Lihat pula uraian pada bagian Susunan sisik di
atas. Pada ular-ular yang tergolong primitif, seperti ular kawat (Typhlops), ular kadut
(Acrochordus), ular kepala-dua (Cylindrophis) dan beberapa yang lain, sisik-sisik
ventral ini tidak berbeda bentuknya dari sisik-sisik dorsal.

5. Sisik-sisik ekor
13
Ekor ular adalah bagian yang terletak di belakang dubur (yang sebenarnya adalah
kloaka). Menutupi dubur ini dan tepat di belakang deretan perisai ventral, terletak perisai
anal (anus, dubur). Berbentuk serupa perisai ventral, perisai ini kadang-kadang tunggal dan
kadang-kadang berbelah dua atau sepasang; bergantung kepada spesiesnya.

Di sisi bawah ekor, di belakang dubur, biasanya terdapat deretan sisik-sisik besar
yang menyerupai dan menjadi kelanjutan dari perisai ventral. Perisai-perisai ini dinamai
subkaudal atau urosteges (cauda atau ura, ekor), dan sebagaimana perisai anal, perisai-
perisai ini kadang-kadang tunggal atau berpasangan atau kombinasi keduanya, bergantung
kepada spesiesnya. Ujung ekor amat bervariasi bentuknya, mulai dari meruncing biasa
sebagaimana umumnya ular; menyerupai duri seperti pada ekor ular adder (Acanthophis),
duri yang menulang seperti pada ular bandotan marga Lachesis, kerincingan kulit seperti
pada ular derik (Crotalus), atau memipih seperti dayung (pada ular laut).

2.6. PERGANTIAN KULIT (SHEDDING)

Shedding (Ecdysis) adalah proses dimana ular periodik membuang bagian terluar
dari kulit mereka. Kegiatan ini berada di bawah kontrol hormonal dan dikaitkan dengan
pertumbuhan. Kebanyakan ular berganti kulit mereka 4-8 kali per tahun. Frekuensi shedding
tergantung pada banyak faktor, termasuk suhu lingkungan, frekuensi makan, jumlah makan
di setiap makan, dan tingkat aktivitas. Ular muda pergantian kulit lebih sering dari yang
lebih tua karena pertumbuhannya relatif cepat dalam beberapa tahun pertama kehidupan.

Ular sehat biasanya mengalami sedikit kesulitan atau tidak sama sekali dengan
proses shedding dan cenderung untuk menumpahkan kulit mereka dalam keadaan utuh
secara keseluruhan. Pengecualian ini termasuk ular dengan luka pada kulit dan atau
timbangan yang mengakibatkan bekas luka, dan ular ditempatkan di kandang dengan suhu
sub-optimal dan atau relatif tingkat kelembaban. terkait Tekanan dengan shedding sangat
besar. Ular yang sakit atau tidak sehat, mereka yang menderita kekurangan gizi, Ular ini
cenderung untuk mengelupaskan kulit mereka di potong. Bahkan, banyak dari potongan-
potongan tetap menempel pada kulit yang mendasari mata (mata topi dipertahankan).

Proses shedding didahului oleh suatu periode tidak aktif. Periode ini biasanya
berlangsung 1-2 minggu, selama waktu tersebut penampilan mata mulai memperlihatkan
yaitu kusam putih kebiruan. Selama periode ini, visi ular terganggu, yang menyebabkan
mereka agak tak terduga dan terkadang agresif. Kulit selama periode ini cenderung memiliki
penampilan membosankan secara keseluruhan. Kulit baru yang mendasari adalah lembut
dan rentan terhadap kerusakan sementara lapisan luar mempersiapkan diri untuk mendesau
pergi.

Mata kembali menjadi transparan setelah 7-15 hari dan shedding dimulai. Seekor
ular akan menggunakan benda kasar atau permukaan dalam kandang untuk membantu
14
melepaskan kulit. Shedding dimulai dengan kulit kepala. Setelah ular telah melonggarkan
dan copot kulit di sekitarnya mulut dan hidung, itu kemudian melewati antara obyek kasar
yang dapat menjebak kulit longgar dan tahan seperti ular meluncur keluar dari kulit "lama".
Kulit tampak kering dan dibuang seperti tabung atau lembab dan kusut di gugurkan soliter.
Banyak ular buang air besar setelah proses shedding sukses, atau mengkonsumsi sejumlah
besar air.

2.7. MACAM-MACAM ULAR

Ular ada yang berbisa (memiliki racun, venom/venomous), namun banyak pula yang
tidak. Akan tetapi tidak perlu terlalu kuatir bila bertemu ular. Dari antara yang berbisa,
kebanyakan bisanya tidak cukup berbahaya bagi manusia. Lagipula, umumnya ular pergi
menghindar bila bertemu orang. Ular-ular primitif, seperti ular kawat, ular karung, ular kepala
dua, dan ular sanca, tidak berbisa. Ular-ular yang berbisa kebanyakan termasuk suku Colubridae;
akan tetapi bisanya umumnya lemah saja. Ular-ular yang berbisa kuat di Indonesia biasanya
termasuk ke dalam salah satu suku ular berikut: Elapidae (ular sendok, ular belang, ular cabai,
dll.), Hydrophiidae (ular-ular laut), dan Viperidae (ular tanah, ular bangkai laut, ular bandotan).
Beberapa jenisnya, sebagai contoh:

 suku Typhlopidae

 Indotyphlops braminus (ular kawat)

Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata
15
Subordo : Serpentes

Famili : Thyphlopidae

Genus : Indotyphlops

Spesies : Indotyphlops braminus


Typhlopidae adalah suku dari supersuku Typhlopoidea infraordo Scolecophidia. Ular ini
juga umum disebut ular kawat. Warna tubuh mereka hitam atau kecokelatan, ukuran
mereka juga beragam tergantung genus dan spesiesnya. Ular ini tersebar hampir di
seluruh penjuru tropis dan subtropis Oseania, Asia, Afrika, Eropa selatan, dan Amerika
tropis.

 Suku Cylindrophiidae

 u l a r k

Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo
: Serpentes

Famili : Cylindrophiidae

Genus : Cylindrophis

Spesies : C. ruffus

Ular kepala-dua atau ular-pipa ekor-merah adalah sejenis ular primitif penggali liang yang
menghuni tanah subur dan lembap di kawasan tropis Asia Tenggara. Ular ini disebut "ular
kepala-dua" karena bentuk ekornya yang tumpul dan lebar, nyaris mirip dengan bentuk kepala
aslinya. Perbedaannya, pada bagian bawah ekornya berwarna merah cerah, sedangkan bagian
bawah kepalanya berwarna keputihan.
 suku Pythonidae
 ular sanca kembang (Python reticulatus)
 ular peraca (P. curtus)
 ular sanca hijau. (Morelia viridis')

Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata

16
Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Famili : Cylindrophiidae

Genus : Cylindrophis

Spesies : C. ruffus

Sanca hijau(Morelia viridis') adalah sejenis ular Sanca pohon yang ditemukan di Pulau Papua
beserta kepulauan sekitarnya dan Semenanjung Tanjung York di Australia. Sanca hijau dicirikan
dengan tubuhnya yang relatif langsing. Ekornya yang relatif panjang terhitung sekitar 14% dari
panjang total hewan ini.

 suku Acrochordidae
 ular karung (Acrochordus javanicus)
 K lasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Famili : Acrochordidae

Genus : Acrochordus

Spesies : Acrochordus javanicus

 suku Xenopeltidae
 ular pelangi (Xenopeltis unicolor)

Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes
17
Famili : Xenopeltidae

Genus : Xenopeltis

Spesies : Xenopeltis unicolor

Ular pelangi adalah sejenis ular yang termasuk anggota suku Xenopeltidae. Ular ini diberi nama


demikian karena lapisan transparan pada sisiknya membiaskan warna-warni pelangi dari
cahaya matahari. Dalam bahasa Inggris ia disebut dengan nama sunbeam snake atau iridescent
earth snake. Sementara nama ilmiahnya adalah Xenopeltis unicolor, merujuk pada keistimewaan
sisik-sisiknya (xeno: aneh, ajaib; peltis: perisai)

 suku Colubridae
 ular siput (Pareas carinatus)
 ular-air pelangi (Enhydris enhydris)
 ular kadut belang (Homalopsis buccata)
 ular cecak (Lycodon capucinus)
 ular gadung (Ahaetulla prasina)
 ular cincin mas (Boiga dendrophila)
 ular terbang (Chrysopelea paradisi)
 ular tambang (Dendrelaphis pictus)
 ular birang (Oligodon octolineatus)
 ular tikus atau ular jali (Ptyas korros)
 ular babi (Elaphe flavolineata)
 ular serasah (Sibynophis geminatus)
 ular sapi (Zaocys carinatus)
 ular picung (Rhabdophis subminiata)
 ular kisik (Xenochrophis vittatus)

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Subordo : Serpentes

Famili : Pareatidae

Genus : Pareas
Spesies :  Pareas carinatus
Ular siput (Pareas carinatus) adalah spesies ular Pareidae yang terdapat di Asia
Tenggara. Dinamakan demikian karena ular ini memangsa beberapa jenis Moluska,
terutama siput atau bekicot. Nama umumnya dalam bahasa Inggris adalah keeled slug-
snake atau keeled slug-eating snake, mengacu pada sisik-sisik punggung atasnya
(vertebra) yang berlunas (keeled).
18
 suku Elapidae
 ular cabai (Maticora intestinalis)
 ular weling (Bungarus candidus)
 ular sendok (Naja spp.)
 ular king-cobra (Ophiophagus hannah)

Klasifikasi :
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Subfilum: Vertebrata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Subordo: Serpentes
Famili: Elapidae
Genus: Bungarus
Spesies: B. candidus

Ular Weling (Bungarus candidus) atau ular belang adalah sejenis ular berbisa dari suku Elapidae
yang bisa ditemukan di Asia Tenggara. Ular Weling merupakan salah satu ular yang dikenal
umum di Indonesia terutama di Jawa dan Bali.Ular Weling memiliki karakteristik warna yang
khas yaitu berwarna belang hitam putih sehingga sering juga disebut ular belang.
 suku Viperidae
 ular bandotan puspo (Vipera russelli)
 ular tanah (Calloselasma rhodostoma)
 ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris)

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Subordo : Serpentes
Famili : Viperidae
Genus : Trimeresurus
Spesies :  Trimeresurus albolabris
Ular bangkai laut biasa juga dikenal dengan
sebutan viper Hijau adalah sejenis ular berbisa yang berbahaya. Memiliki nama ilmiah
Trimeresurus albolabris. Ular ini juga dinamai ular hijau karena warna tubuhnya.

2.8. MANFAAT ULAR

19
Bisa ular secara garis besar dapat kita kategorikan dalam dua jenis, yaitu neurotoxin dan
hemotoxin. Neurotoxin adalah racun yang melumpuhkan sistem pernafasan dan merusak otak
korban. Adapun hemotoxin adalah racun yang merusak sel-sel hingga darah menggumpal dan
berujung pada kematian. Bisa ular juga mengandung berbagai enzim berbahaya, namun bisa pula
sangat berguna. Sedikitnya terdapat 20 jenis enzim pada bisa ular. Komposisi masing-masing
enzim berbeda-beda, tergantung jenis ularnya. Salah satu enzim yang terdapat dalam bisa ular
adalah proteinase.

Gigitan ular yang mengeluarkan bisa yang mengandung proteinase akan menyebabkan
jaringan kulit dan otot mati secara cepat. Tapi, menurut sebuah penelitian di Australia, dalam
dosis tertentu enzim proteinase dapat mengobati kanker. Enzim lain yang cukup populer ada
pada bisa ular adalah cholin esterase. Enzim ini biasanya menyerang sistem saraf dan membuat
otot menjadi kendur.Enzim cholin esterase dapat digunakan untuk mencegah serangan jantung
dan stroke.

Norbert Zimmermann, seorang ahli pengobatan dari Bottrop Jerman, melakukan riset
terhadap bisa ular untuk mengobati alergi. Caranya, memasukkan alergen yang ada dalam bisa
ular ke dalam tubuh pasien secara bertahap dalam dosis ringan. Lalu, dosisnya akan terus
dinaikkan hingga tubuh pasien menciptakan kekebalan atau antibodi terhadap zat berbahaya
yang masuk ke dalam tubuhnya. Cara ini akan meningkatkan kekebalan dalam tubuh.[10] Selain
itu kulit ular dijadikan bahan baku untuk kerajinan tas, sabuk, dompet, dan sepatu.

BAB III

PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ular merupakan kelompok hewan Reptil melata yang tidak mempunyai tungkai, memiliki
sisik di seluruh tubuhnya, dan memiliki tubuh yang ramping memanjang. Ular termasuk salah
satu satwa yang berperan penting dalam rangkaian alur rantai makanan. Ular adalah kelompok

20
reptilia tidak berkaki dan bertubuh panjang yang tersebar luas di dunia. Secara ilmiah, semua
jenis ular dikelompokkan dalam satu subordo, yaitu Serpentes dan juga merupakan anggota dari
ordo Squamata (reptilia bersisik), bersama-sama dengan kadal. Reptilia tersebut antara lain
Serpentes (Ular modern), ular prasejarah, kadal tak berkaki dan tak bertelinga, serta kadal-ular
prasejarah, serta Titanoboa termasuk di dalamnya.

Ciri-ciri utama ular adalah bertubuh panjang dan tidak memiliki kaki. Akan tetapi, ciri-
ciri tersebut juga dimiliki oleh beberapa jenis kadal (misalnya kadal-pensil Burton). Ciri-ciri
selanjutnya adalah, ular tidak memiliki indera pendengaran samasekali. Akan tetapi, ular bisa
merasakan getaran melalui rahang bawahnya saat menempel di tanah atau di permukaan. Ular
tidak memiliki kelopak mata yang dapat di buka-tutup, dan matanya selalu terbuka selama
hidupnya. Walaupun begitu, mata ular dilapisi oleh sisik bening yang melindunginya dari
kotoran. Ophidia diperkirakan berevolusi dari kadal tanah atau kadal penggali liang pada sekitar
periode Jurassic akhir (sekitar 112 juta tahun yang lalu) yang menyesuaikan diri dengan
kehidupan yang panas pada waktu itu.

Habitat Ular dapat dibagi menjadi 5, yaitu :


1.      Ular Air (Aquatik)
2.      Ular Setengah Perairan (Semi Aquatik)
3.      Ular Darat (Terresterial)
4.      Ular Pohon (Arboreal)
5.      Ular Gurun

3.2. Saran
Dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui apa yang di maksud dengan serpentes (ular),
dan semoga para pembaca dapat memahami materi ini, seperti habitat ular, karakteristik, macam-
macam serta manfaat ular.

DAFTAR PUSTAKA
Kurniati, tuti dkk. 2009. Zoologi Vertebrata. HMPB Painting. Bandung

Djarubito, mukayat brotowijoyo.2004.Zoologi Dasar Universitas Jilid 2.Universitas Gajah Mada


Press: Yogyakarta

Amin M. 2009. Biologi SMA/MA Kelas X. Jakarta : PT. Bumi Aksara

21
ularindonesia.com/wp-content/uploads/.../makalah-sioux-2009.pdf

http://id.wikipedia.org/wiki/Ular

Brotowijoyo, Djarubito Mukayat. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga

Campbell, N. A., Jane, B. Reece., dan lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi Jilid II. Jakarta:
Erlangga

Hickman, P. Hickman, Jr. 2008. Integrated Principles Of Zoology, Fourteenth Edition. New
York: McGraw-Hill

Jasin, Maskoeri. 1984. Sistematik Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Surabaya: Sinar Jaya

Kutniati, Tuti dkk. 2009. Zoologi Vertebrata. Jakarta: UIN Sunan Gunung Djati

Sukiya. 2005. Zoology Vertebrata. Malang: UM Press

http://www.siouxindonesia.org/?page_id=35

http://binatangpoerba.wordpress.com/2011/09/27/macam-macam-bisa-ular/

http://id.wikipedia.org/wiki/Sisik_ular

http://id.wikipedia.org/wiki/Ular

22